RSS

Pengumuman Karung 10

 
 

Sebelumnya, kuucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca yang sudah berpartisipasi dalam permainan tebak gambar kemarin. Dan, aku mohon maaf jika pengumuman pemenang harus diundur sampai 12 jam. Sebab semalam kotaku dalam kondisi hujan lebat dari sore hingga menjelang pagi, jadi tak ada kesempatan untuk mempublikasi Karung 10 sesuai jadwal yang kujanjikan.

Saat ini Karung 10 sudah kupublikasikan. Tapi masih dalam kondisi tersegel oleh password. Dalam permainan kemarin aku mengatakan bahwa para penjawab yang benar akan mendapatkan password-nya. Setelah aku cek, banyak sekali yang menjawab dengan benar. Meski banyak juga yang salah. :) Nah, kali ini aku lempar satu twist sekali lagi:

Password Karung 10 adalah nama alat musik di gambar itu! :)

Asal tahu, alat musik yang ditampilkan dalam gambar kemarin adalah instrumen yang namanya terdiri dari dua kata. Nah, ketik nama tersebut dengan huruf non-kapital. Tanpa ada spasi!

Jadi silakan masukkan jawaban kalian kemarin ke kolom password, jika kalian memang telah menjawab dengan benar, maka itulah hadiah buat kalian.

Sekedar tambahan, bagi para pemenang silakan tentukan sendiri hak istimewa kalian untuk membaca Karung 10. Kalau kalian ingin menikmati hak istimewa lebih lama, tak perlu bocorkan password itu ke siapapun, tak perlu menyebarnya ke group di FB atau mana pun. Tapi jika kalian tak ingin menikmati hak kemenangan kalian lebih lama, ya beritahu saja password itu ke teman kalian. Para pemenang memang akan selalu menjadi harapan bagi yang belum beruntung. :)

That’s my twist! ;)

 
 

 
8 Komentar

Posted by pada 8 Maret 2014 in Cowok Rasa Apel

 

Komentar Terbaik dan KARUNG 8

Seperti kata saya sebelumnya bahwa hak istimewa kepada para pemenang akan berakhir hari ini, maka kesempatan bagi para pembaca lainnya untuk membaca Karung 8 akan saya buka saat ini juga. Tapiiiii… Hehehe…. Seperti biasa, saya bikin kuis lagi. Nggak sulit, kok. Cuma nge-twist pertanyaan-pertanyaan yang kemarin saja.

Jika kemarin pertanyaannya adalah ‘berapa kode area telepon’ dan ‘sungai apa yang disebut dalam prasasti’, maka kali ini saya twist menjadi: apa nama kota, dan apa nama prasasti yang kita bahas kemarin itu? Jadi formasinya: nama kota+nama prasasti, ditulis dalam huruf non-kapital dan tanpa pemisah.

Contoh: bandunglinggajati

Bagi yang kemarin memecahkan password dengan usaha sendiri, pasti kali ini tidak akan menemui kesulitan. Karena clue-nya pada dasarnya tetap sama. Tetapi, bagi yang kemarin dapat password-nya secara nebeng alias tanya-tanya ke teman entah di Twitter ataupun group FB, dipastikan akan kelabakan lagi. Tapi mungkin ujungnya juga tanya-tanya lagi.

Pesan saja, nih, jika saya saja begini sering mengerjai kalian dengan password, kenapa sekali-sekali kalian juga nggak balik kerjain teman kalian yang suka tanya-tanya itu? Hehehe… Kasih password palsu, atau apalah. Usil itu asyik, lho. Kan, sekaligus dapat pengetahuan. Hehehe…

Selamat membaca.

_______________________________________________________________________________________

Pengumuman pemenang kuis Komentar Terbaik,

Berikut adalah para pemenangnya, yaitu user/reader atas nama:

1. Syai

2. Daniel

3. Aaron Steve

4. Dodhisayandas

5. Gabriel

Adapaun reward yang saya berikan adalah berupa hak untuk membaca Karung 8 secara lebih awal dari pembaca lain. Kunci untuk Karung 8 telah saya kirim melalui email masing-masing, sesuai yang didaftarkan ketika meninggalkan komentar. Jika ada kesalahan alamat email, itu bukan tanggung jawab saya, karena sudah saya kirim sesuai email yang dicantumkan. Saya ucapkan selamat kepada kalian.

Bagi para pembaca yang tidak terpilih sebagai komentator terbaik, kalian tetap bisa membaca Karung 8. Tetapi kalian perlu menunggu hingga Selasa besok, yaitu 18 Februari 2014. Jadi, hak baca lebih awal bagi para pemenang hanya berlaku secara efektif untuk dua hari ke depan.

Dengan diumumkannya hal ini, otomatis kuis Komentar Terbaik untuk Karung 7 sudah ditutup.

Terima kasih atas partisipasinya selama ini. Salam.

 
29 Komentar

Posted by pada 16 Februari 2014 in Cowok Rasa Apel, Gay Teenlit, Uncategorized

 

Tentang Karung 7

Hai, semua.

Maaf, ya, kalau kelanjutan karung-karung CRA 3 agak tersendat akhir-akhir ini. Banyak sinkronisasi yang harus dilakukan atas naskah-naskah tersebut, selain karena factor kesibukan di luar menulis, yang membuat update blog ini jadi melambat. Tapi kali ini kelanjutan CRA 3 sudah siap untuk diluncurkan, kok.

Mengenai Karung 7 ini, seperti biasa, aku adakan kuis lagi, ya? Hehehe…. Tapi kali ini aku membuat sedikit modifikasi permainan. Menurut jadwal yang kujanjikan via Twitter dan Facebook kemarin, Karung 7 akan dirilis pada tanggal 14 Februari 2014. Dan, sorry, Karung 7 itu akan disegel dengan password lagi. Hehehe…. Tapi pertanyaan-pertanyaan sebagai clue-nya akan dirilis saat ini juga. Artinya, kali ini kalian akan mencari terlebih dahulu password tersebut, lalu simpan dulu jika kalian sudah yakin password kalian itu benar. Kalian bisa menguji password yang kalian dapatkan tersebut pada tanggal 14 Faberuari nanti, di kolom password yang menyegel Karung 7. Jika password yang kalian simpan itu benar, tentu Karung 7 akan terbuka. Hehehe….

Berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi clue password Karung 7.

1. Kita membicarakan sebuah kota. Kota ini berada di Bali. Pernah menjadi ibukota untuk wilayah yang mencakup tak hanya Pulau Bali, tapi juga pulau-pulau di luar Bali. Twist-nya, yang menjadi bagian password bukan nama kota ini, melainkan kode area telepon dari kota ini. Yaitu berupa empat digit angka!

2. Kita membicarakan sebuah prasasti. Ada sebuah kerajaan yang amat tua di Jawa Tengah, lebih tua dari kerajaan yang membangun Borobudur. Kerajaan tersebut meninggalkan sebuah prasasti di sekitar lereng Merapi. Prasasti tersebut menyinggung nama sebuah sungai besar. Sungai apakah yang dimaksud?

Seperti biasa, formasi password ditulis secara berurutan tanpa tanda pemisah, dan tanpa huruf kapital. Contohnya seperti ini: 0271ciliwung

Eittt, tunggu dulu! Masih ada satu kuis lagi. Tapi tenang, kali ini bukan password kok. Melainkan pemilihan komentar terbaik! Jadi setelah kalian berhasil membuka dan membaca Karung 7, silakan meninggalkan komentar di kolom seperti biasa. Akan dipilih tiga komentar terbaik dalam waktu yang akan ditentukan nanti. Kriteria penilaian: cara penulisan yang baik dan isi yang berbobot. Panjang-pendek tidak menjadi prioritas. Tapi syaratnya, ketika kalian men-submit komentar pakailah alamat email yang tidak fiktif, alias masih aktif. Karena hadiahnya akan dikirim ke email kalian. Apakah hadiahnya? Masih rahasia dong, ah! :D

Semangat ya! ;)

 
24 Komentar

Posted by pada 12 Februari 2014 in Uncategorized

 

Kuis Iseng CRA#3

 
 
Sial buat saya. Kuis ini berhasil tertebak sehari sebelum deadline! Untungnya si penjawab menjawab di saat saya sudah tidur. Baru pagi ini saya cek jawabannya, jadi hari ini saya harus posting Karung 2. Kalian harus berterima kasih kepada David, si penjawab itu. Dia cuma menjawab satu kali dan langsung benar. Salut!
 
Jadi, kuis ini resmi ditutup. Tunggu Karung 2 sore nanti!
 
 
 
***
 
 
 
Hai, Kawans.
 
Sudah baca CRA#3 kan? Saat ini baru dipublikasi sampai Karung 1. Nah, aku bikin kuis iseng buat kalian. kalau ada satu saja di antara kalian yang dapat menjawab dengan benar, maka Karung 2 akan langsung aku publikasikan hari itu juga. Silakan jawab sesuka hati kalian di kolom komentar yang tersedia di bawah postingan ini.
 
Pertanyaannya: Apakah judul Karung 2? (tebaklah sesuka hati kalian) :D
 
Ingat, judul Karung 2 ini hanya satu kata saja. Bermainlah dengan imajinasi kalian. Andaikanlah diri kalian yang akan menulis Karung 2. Kalian tentu sudah membaca Karung 1, nah… sekarang kalian imajinasikan sendiri apa yang ingin kalian angkat di Karung berikutnya dan judul apa yang menurut kalian cocok untuk Karung 2 tersebut.
 
Ketik jawaban kalian dengan formasi:
CRA#3 Karung 2: (jawaban kalian, dengan huruf kapital)
 
Buat iseng saja, tidak usah serius-serius amat. :) Kalau ada yang menjawab dengan cocok, maka Karung 2 langsung dipublikasi. Kalau tidak ada, ya tunggulah sampai Jumat pekan depan untuk membaca Karung 2. :) Kuis ini berlaku sampai hari Rabu besok ya! Biar lebih seru dan imajinasi kalian lebih fokus, jawaban-jawaban yang sudah masuk tidak akan ditampilkan untuk sementara waktu. Tapi tidak menutup kemungkinan jika sudah menumpuk banyak dan belum ada yang cocok, maka jawaban-jawaban tersebut akan di-share agar bisa kalian baca bersama. ;)
 
Selamat iseng! ;)
 
 
 

 
97 Komentar

Posted by pada 21 Desember 2013 in Uncategorized

 
Gambar

CRA #3

CRA 3 Rumah Pohon

 
34 Komentar

Posted by pada 19 November 2013 in boys love, Cowok Rasa Apel, fujoshi, Gay Teenlit

 

Tag:

ELANG MUDA, dan GUNUNG YANG BERSERU!

Masa tak pernah berhenti, Kawan. Ia sambung-menyambung. Dari lukisan di gua yang dalam, tulisan di atas lontar, foto hitam putih hingga yang kaya warna, lalu bergerak di layar bioskop, televisi, komputer… Cerita-cerita menyeberang ke benak kita. Berkecamuk lagi di dalam hati kita meski masanya sudah jauh di belakang sana. Mungkin begitu juga kali ini, Kawan. Cerita ini hadir, mengajakmu meloncati waktu…

Tunda dulu kantuk dan laparmu. Kemarilah, bergabung ke tahun-tahun dimana lumbung-lumbung terbakar hangus oleh kobaran revolusi. Bantal dan tikar ikut menjadi tajam oleh gigitan kutu pinjal penghisap darah, dan juga oleh bau apak keringat perjuangan. Tetapi, cita-cita dan untaian doa tak pernah padam. Hanya itu yang bisa dilambungkan tinggi-tinggi, tentu, jauh melampaui cerobong-cerobong pabrik gula yang telah diduduki serdadu Belanda. Sejak dua bulan lalu mereka menyergap lagi, ke negeri yang tiga setengah tahun sebelumnya sudah memproklamasikan kemerdekaan. Penjajah tak tahu malu! Mulut rakusnya telah ketagihan untuk terus menghisap, dengan lebih ketamakan dan kekejian.

Kota di cerita ini, adalah sebuah kota kecil di timur Surakarta. Sragen, yang jantungnya ikut porak-poranda tatkala pasukan kolonialis Belanda datang menyerbu. Ya, Belanda telah bangkit kembali setelah sempat dikebiri oleh tentara Jepang. Hari-hari para pribumi dilalui dengan amarah, sebab rakyat sudah kenyang oleh pahitnya tiga setengah abad penjajahan. Kenyang itu berubah menjadi muak. Sayang, tak semua amarah mampu ditembakkan dalam keberanian. Sebaliknya, tak sedikit yang terpaksa menyembunyikannya di balik ketundukan. Bekerja di kantor-kantor yang sudah dikuasai Belanda, mencelupkan wajah ke dalam air ludah demi mendapat nafkah. Nyatanya, dijajah memang bukan hal yang mengejutkan lagi bagi mereka. VOC, Inggris, Jepang, sudah khatam. Lagipula orang-orang Jawa memang pandai menghibur diri. Di tengah penindasan pun masih mereka temukan kesenggangan untuk pergi ke arena judi di pasar. Dadu, kartu, sabung ayam. Jika uang habis dan tempayan kosong, mereka masih memiliki pepatah: “Mangan ra mangan, kumpul”. Baiklah, tentu tak semuanya begitu. Ada juga yang lebih suka mengisi kesenggangan dengan berkumpul di radio umum yang didirikan di sebuah kampung bernama Cantel, satu kilometer dari pabrik gula yang ada di pusat kota. Pesawat radio adalah barang mahal, hadirnya radio umum itu bisa menghibur rakyat dengan siaran dari RRI Solo entah itu berita, kethoprak, keroncong, atau klenengan. Sayangnya, itu adalah beberapa waktu lalu. Sekarang, radio umum sudah lumpuh. Kota-kota besar yang memiliki stasiun radio sudah jatuh ke tangan Belanda. Kalaupun ada satu dua penduduk yang memiliki pesawat radio, mereka tak akan berani menyalakannya. Karena suaranya akan memberi tanda kepada para maling dan garong bahwa ada rumah yang cocok untuk disatroni.

Itu adalah masa yang sulit, Kawan. Kota telah senyap. Suara-suara hiburan rakyat telah lenyap. Kembali kepada suasana angker, seperti yang ada di dalam dongeng orang-orang tua Jawa. Genderuwo yang suka menyentil kemaluan orang yang buang hajat sembarangan; Wewe yang menggondol bocah ke atas pohon; Wedon yang meludahi orang hingga kulit melepuh. Tanah Jawa yang penuh hantu. Ah, mungkin daerah lain juga begitu. Tapi, Kawan…, peluru serdadu Belanda lebih mematikan. Mereka menggondol masa depan anak-anak yang menjadi yatim piatu karena perang. Mereka meludahi harga diri para gadis pribumi yang mereka perkosa. Hanya sebagian orang yang berani melawan, yaitu para gerilyawan yang bersembunyi di desa-desa, di hutan-hutan angker dimana jin dan hantu-hantu rupanya tak lagi menakuti. Sebaliknya, malah melindungi, dan mungkin juga bekerja sama untuk mengusir para penjajah yang sombong itu. Para dedemit lebih suka bersahabat dengan manusia Jawa, yang sopan dan rajin berbagi rejeki lewat sajen-sajen di bawah pohon besar. Atau, mungkin di daerah lain juga begitu.

Tentang perang melawan penjajah, di Sragen yang kecil dan angker ini terdapat beberapa markas gerilyawan. Salah satunya, di sebuah desa di tapak kaki Gunung Lawu sebelah utara. Desa Guworejo, tiga kilometer di barat daya pusat kota, markas gerilyawan yang dipimpin oleh Letnan Priambodo. Dari sinilah sesungguhnya dongeng ini akan dimulai, Kawan.

Siang itu, suasana di markas seketika tegang. Karena baru datang laporan dari seorang perempuan muda. Ia adalah seorang juru ketik di kantor pabrik gula, tempat yang telah menjadi sarang tentara Belanda. Ia membocorkan informasi tentang situasi yang amat genting.

“Lokasinya benar-benar sudah diketahui, Pak,” terang perempuan muda itu. “Saya mendengarkan percakapan mereka, bahwa seorang pengkhianat perjuangan telah membocorkan lokasi pengungsian Kiai Menda di Jenawi.”
Raut muka Letnan Priambodo merah padam, geram. “Apa lagi yang kamu dengar, Sri? Adakah rencana dari Londo-Londo itu untuk melakukan operasi ke sana?”

Informan gerilya bernama Sri itu mengangguk. “Berita baiknya, mereka tidak akan melakukan operasi hari ini. Tapi besok pagi. Berita buruknya, saya menangkap rencana mereka untuk berkoordinasi dengan Solo.”

Tangan Letnan Priambodo mengebrak meja. “Asu! Kalau benar, nasib markas di Jenawi bisa seperti markas di Tawang Mangu dulu… Dibombardir dari udara! Besok pagi? Besok pagi itu singkat, Sri!”

“Saya rasa mereka sudah menyusun rencananya sejak beberapa hari kemarin, Pak. Tapi baru hari ini saya mengetahuinya,” jelas Sri. Dengan raut menyesal bercampur dongkol karena tak bisa mengetahui situasi itu lebih dini.

“Tapi kita masih punya waktu untuk menyelamatkannya, Pak,” timpal Sersan Joko, di sebelah sang Letnan.

“Masih! Secepatnya kita utus orang untuk melaporkan situasi ini ke markas batalion di Karang Pandan,” tandas Letnan Priambodo. “Tapi tak kalah penting, kita juga harus mengabari markas di Jenawi supaya mereka bisa mempersiapkan diri sedini mungkin. Jika ternyata situasi semakin gawat, mereka sudah siap untuk menyelamatkan Kiai Menda.”

“Saya sanggup untuk ke Jenawi, Pak!” seorang laki-laki belia menyahut lantang. Seorang remaja.

Kerut dahi Sersan Joko meragu. “Kau baru dari Wonosido kemarin. Kau tak butuh istirahat, Paksi?”

Remaja bernama Paksi itu menyahut tanpa keraguan. “Satu malam sudah lebih dari cukup untuk istirahat, Pak. Saya sudah pernah ke sana, saya hapal jalannya. Saya bisa ke sana secepatnya.”

Letnan Priambodo berdiri, mendekat ke hadapan Paksi. Ia menepuk-nepuk pundak remaja itu. “Kiai Menda adalah salah satu kunci penting perjuangan kita. Kita juga akan mengabari markas di Batu Jamus dan Bayanan agar siaga. Tapi, markas di Jenawi kupercayakan kepadamu. Laksanakan tugasmu dengan baik!”

“Siap, Pak!”

Paksi. Dialah lakon di dongeng ini, Kawan. Seorang belia bermata sedikit sipit, tapi sorotnya setajam mata elang. Kulitnya tak mewarisi gelapnya kulit Jawa. Ia sedikit lebih terang. Tidak tinggi, hanya sepundak rata-rata prajurit Belanda. Dengan perawakannya yang sedang itu, ia mampu bergerak setangkas seekor rusa. Seorang remaja yang bergabung ke barisan tentara pelajar, mengabdikan semangat mudanya untuk ikut memperjuangkan negeri.

Siang itu juga Paksi berangkat menjalankan tugasnya, menuju markas gerilyawan di Jenawi. Ia berangkat sendiri mendului utusan yang lain, karena ingin bisa sampai ke sana secepatnya. Dua puluh kilometer jarak yang harus dicapainya. Hanya dengan kaki untuk menempuh. Kepala untuk menyimpan pesan, mulut untuk menyampaikan kepada yang seharusnya. Pastinya bukan kepada serdadu Belanda, meski mereka tak pernah segan menyiksa sampai mati. Paksi tak gentar, walau tanpa senjata. Ya, itulah pilihannya. Tugas seorang kurir memang bukan membunuhi musuh. Namun tetap, dapat menentukan menang-kalah dalam perang!

Matahari setinggi kening, Paksi baru menempuh sepertiga jarak perjalanannya. Jenawi ada di pinggul Lawu, ia baru di lututnya. Ia menempuh rute lewat hutan karet Kedawung, hingga tibalah di sebuah desa bernama Sambirejo. Di situ ia berhenti untuk beristirahat sejenak. Ia melepas lelah di regol, depan sebuah rumah yang nampak tak berpenghuni.

Regol, gerbang berbentuk pondok kecil dengan serambi di dua sisi saling berhadapan. Kelak rumah-rumah Jawa akan melupakan satu unsur dalam arsitekturnya ini. Sebuah gerbang dimana selalu diletakkan kendi berisi air di situ, perwujudan nyata pepatah Jawa: “Urip iku mung mampir ngombe”. Hidup adalah singgah untuk minum. Di situ pula biasanya akan diletakkan air kembang setaman pada hari-hari tertentu, rejeki untuk makhluk-makhluk tak kasat mata, para lelembut. Sungguh terlalu baik orang Jawa, menambah nafsu para penjajah untuk tak mau cukup hanya mampir, mereka ingin mereguk sebanyak dan selama mungkin apa yang dimiliki oleh tuan rumah. Bisa dilihat, kendi di dalam regol itu sudah kering. Hanya diisi debu dan menjadi sarang kalajengking.

Paksi membawa sendiri minumannya di sebuah botol tanah, meneguknya separuh. Melepas kain pengikat pinggangnya, untuk mengusap keringat. Melepas caping, mengipaskannya untuk mendinginkan badan. Ya, atribut pakaian orang desa. Meski sebenarnya ia berasal dari keluarga kota yang berkecukupan, dan ia juga seorang terpelajar. Ia meninggalkan keluarga yang ia sayangi, Sang Ibu yang suka menjahit sendiri baju untuknya, juga Eyang Putri yang dongeng-dongengnya membuat kangen. Ia meninggalkan rumah demi bergabung dengan laskar gerilya. Dan demi tugasnya sebagai kurir, ia tak boleh berpenampilan menyolok. Nampak sebagai orang desa biasa, itu pantas.

Dipandangnya desa yang sepi itu. Ada kehidupan, tapi tampak mengasing. Bersembunyi di dalam rumah-rumah gubuk yang jarang. Sawah mau menguning. Tapi ladang-ladang tampak semrawut, kelihatannya telah dipanen sebelum waktunya. Di masa yang sulit itu, alih-alih berpesta untuk panen raya, malahan jadi sasaran para penjarah. Tak hanya jadi mangsa Belanda, tapi juga sesama pribumi yang lebih memilih memakan saudara sendiri daripada mati kelaparan. Ya, perampok, pengkhianat, kutu pinjal pribumi. Lebih buruk dari Genderuwo yang bahkan masih membayar sate gagak yang dijajakan orang. Lebih rendah dari Lelepah yang suka makan manusia, tapi tidak memakan sesamanya sendiri. Dada Paksi geram membayangkannya. Perjuangan tak boleh kalah!

Paksi merasa sudah cukup dengan istirahatnya. Tatkala baru beranjak dari regol itu, ia berpapasan dengan seseorang. Seorang pria yang jika dilihat dari busananya bukan Jawa ataupun Cina. Berpakaian serba putih, memanggul buntalan bekal di pundaknya, dan memegang tongkat kecil dari bambu. Belum terlalu tua, mungkin baru awal empat puluhan, tapi rambut hitamnya digelung seperti cara berdandan orang tua. Nampaknya ia seorang pengelana dari jauh.

Sampeyan akan ke atas?” pengelana itu menyapa sambil menunjukkan tongkatnya ke arah gunung. ‘Sampeyan’ adalah bahasa Jawa. Tapi ia tak terdengar Jawa. Seperti belum lama mengenal kata itu.

“Betul. Sampeyan sepertinya datang dari jauh? Hendak ke mana?” Paksi melayani ramah tamah pengelana itu.

“Saya dari Bali,” jawab pengelana itu. Sambil menuju regol, ia menunjuk gunung lagi. “Saya juga akan ke sana. Tapi mungkin perlu istirahat semalam di sini.”

Dari Bali? Jauh sekali. Sosok pengembara itu membuat Paksi tertarik. “Mendengarkan barang beberapa menit, aku masih punya segudang waktu untuk sampai di Jenawi,” begitu pikir Paksi. Ia pun kembali lagi ke regol. Menuruti rasa ingin tahunya yang tinggi.

“Ada tujuan apa jauh-jauh dari Bali kemari?” tanya Paksi, tanpa sungkan menunjukkan rasa penasarannya.

Ditanya soal tujuan, pengembara itu tersenyum penuh arti. Sebelum menjawab, ia balik bertanya, “Apakah Sampeyan suka mendengar dongeng?”

Paksi membalas tersenyum sedikit canggung. “Orang Jawa selalu menyukai dongeng.”

“Nama saya Bagus Kaja,” pengembara itu menyebut namanya. Lalu bertutur panjang. “Gunung selalu menjadi tempat perlindungan. Saat peradaban baru datang mendesak, masyarakat Majapahit yang merasa terancam menjadi tercerai-berai. Yang tak bisa meninggalkan Tanah Jawa, memilih mencari tempat yang aman di pegunungan. Bromo, Lawu, dan yang lainnya. Yang berhasil menyeberang ke Bali, menguasai tempat yang baru itu. Maka, serupa dengan yang terjadi di Jawa, masyarakat asli Bali yang merasa terancam menyingkir ke pegunungan. Saya adalah bagian dari silsilah yang tercerai itu. Saya mencari jejak moyang yang telah mokswa. Di puncak Lawu…”

Gunung, tempat berlindung? “Dan kini para gerilyawan juga membangun markas-markas di pegunungan…” batin Paksi menanggapi. Merenungkan benang merahnya sendiri atas kisah itu. “Tapi kami berlindung bukan tanda menyerah, kami berlindung untuk menyusun perlawanan!”

“Nama asli Lawu adalah Mahendra. Dari kata Maha Indra, salah satu Dewa yang kami muliakan. Penghulu sorga, penguasa hujan dan halilintar. Dewa Perang Yang Adil,” tutur Bagus Kaja meneruskan kisahnya. Ia semakin memperjelas tujuan perjalanannya. “Di kedua dada Lawu, ada candi. Yang di barat memuja lahirnya manusia, yang di timur adalah kematian. Di timur itulah terpapar sebuah jalur purba untuk mencapai puncak Lawu. Dongeng orang Jawa menyebutnya Puncak Arga Dumilah, Kahyangan tempat Dewa Kematian bermukim. Tapi barangsiapa mampu menang dari kematian, maka ia telah mencapai puncak tertinggi yang sesungguhnya: mokswa. Berpulang ke sorga.”

Mendengar tutur itu, Paksi tercenung dan mencerna baik-baik. Otaknya yang terpelajar, membuat ia bertanya-tanya atas dasar pemikirannya sendiri, “Kematian? Bukankah timur adalah tempat lahirnya fajar? Dan fajar adalah awal sebuah hari? Awal kehidupan?”

“Itu karena bumi yang berpusar di sumbunya. Ketika bumi menjemput fajar di satu tempat, di saat yang sama di tempat lain ia menyambut senja. Begitu juga kematian, tak lain hanyalah menyambut kehidupan berikutnya. Fajar, senja, siang dan malam hanyalah selubung, cara manusia menandai waktu. Di dalamnya, lahir dan mati adalah perputaran.”
Paksi merenung kian jauh. Ia melihat keadaan negerinya. Isi dadanya mulai menggugat. “Jadi, apakah penjajahan dan perjuangan hanyalah sandiwara yang tak perlu digulatkan? Apakah kemerdekaan akan datang dengan sendirinya? Apakah pahlawan mati karena layak mati, penjajah menjajah karena layak menjajah?”

Bagus Kaja berdiam sesaat menghadapi tanggapan Paksi. Ia dapat membaca ucapan Paksi yang terasa memanas itu, meski nadanya tidak tinggi.

“Bukan, Saudara. Jika dharma-mu adalah seorang Ksatria, maka di tanganmulah ada panggilan untuk melawan, untuk memutar roda negeri ini agar lahir kembali sebagai bangsa yang merdeka. Karena membebaskan penderitaan meski hanya di dunia, tetaplah mulia. Yang ber-dharma Brahmana sepertiku, biarlah menaburkan doa sembari melangkah mencari pulang.”

Mata hati brahmana itu kiranya sungguh tajam dan mampu membaca segala hal yang tersirat. Batin Paksi tergugah ketika mendengar tuturnya. Ia paham apa yang selayaknya ia jalankan. Serta merta ingat dan sadar bahwa di tempat itu sesungguhnya ia sedang menunda tugas. Seketika ia malu akan dirinya sendiri.

“Saya melihat ada beban di pundakmu,” ujar Bagus Kaja, melihat yang tak kasat. “Bolehkah saya, untuk bisa mengingat namamu setelah kau pergi?”

“Nama saya Paksi.”

Brahmana itu tersenyum, mengawali satu dongeng lagi. “Candi-candi di dada Gunung Lawu mengabadikan satu cerita. Tentang Garuda yang perkasa. Sang Garuda dengan gagah berani mengalahkan para Dewa dan Ashura demi mendapatkan Air Kehidupan, agar dapat ditukar dengan pembebasan ibunya dari perbudakan. Karena kegigihannya, Hyang Indra memberikan hormat kepadanya. Ia seperti para pejuang, yang rela menukar hidupnya untuk memerdekakan Ibu Pertiwi. Paksi, ingatlah kisah ini seperti kau mengingat namamu sendiri. Paksi, Burung Perkasa. Si Elang Jawa…!”

Paksi hampir tak bisa berkata. Ia tertunduk. “Andai sekarang saya tak menunda tugas, akankah saya pernah mendengar cerita ini?” ucapnya pelan. Dibubuhi perasaan beruntung, tapi sekaligus malu.

“Maka sudah saatnya kau lanjutkan.”

Tapi masih ada satu kecamuk di batin Paksi. “Apakah bagi seorang brahmana memang tak ada hasrat untuk berada di baris perlawanan? Jika soal pulang, bukankah kami juga ingin pulang? Jika bisa memilih, siapa yang akan memilih perang?”

“Kita tidak memilih perang. Tetapi kita menjawab perang dengan jalan yang berbeda…” Sesaat sorot mata brahmana itu tampak suram. “Ketika terjadi puputan di Badung, saat itu saya lahir dari rahim yang sekarat. Ketika terjadi puputan di desa Marga, saya di sana melantunkan doa untuk pahlawan-pahlawan yang berpulang. Terlalu banyak darah yang sudah saya lihat…”

Keduanya hening. Kini giliran Paksi melihat, bahwa brahmana itu pun merasakan beban-beban yang pahit dalam hidupnya. Kiranya semua makhluk memang akan mencari jalan pulang ke Penciptanya. Tapi tak semua menempuh jalan yang sama.

“Kiranya, Hyang Indra akan menurunkan hujan keadilan, karena darah sudah banyak ditumpahkan sebagai sesajinya…” Brahmana itu lalu berdiri mendekat. Ia mengulurkan tongkat bambunya. Diberikan kepada Paksi. “Tujuanku sudah dekat. Bawalah, agar kau ingat bahwa kau pernah mendengar dongeng dari pengelana yang memberimu ini…”

Paksi menerima tongkat bambu itu, meski sejujurnya ia merasa sungkan. Tak elok jika menampik pemberian yang diulurkan dengan harapan baik.

Paksi bangkit. “Saya akan ingat perjumpaan ini, meski mungkin kita tak akan bertemu lagi. Terima kasih. Saya harus meneruskan perjalanan.”

Perjumpaan itu disudahi. Di persinggahan itu, dua penempuh perjalanan akhirnya berpisah. Pesan brahmana itu terngiang kuat di telinga Paksi, “Meski takdir sulit diterka, tapi percayalah kepadanya…”

Paksi menyambung perjalanan mengemban amanat. Ia selipkan tongkat bambu yang kokoh itu pada kain pengikat pinggangnya, melintangi punggung seolah sebanding dengan senapan berpeluru. Langkahnya berlipat lebih gegas. Membayar waktu yang telah ia buang. Meski tak terbuang sia-sia. Karena di tempat ia membuangnya, di situ ia telah memungut pelajaran berharga.

Jalan pegunungan yang tak rata, berbukit dan berjurang, sudah seperti makanan ringan saja baginya. Matahari memang sudah sepinggang, tak lagi panas. Malah sebaliknya gunung kian mendingin. Napas sang angin berhinggapan di antara pepohonan penghuni hutan, berbisik ngeri seperti memedi yang mengintip mangsa. Tapi tak mempan lagi untuk menggertak nyali Paksi. Ia tak akan menyurutkan langkah, dalam misi untuk menyelamatkan kunci penting perjuangan: Kiai Menda.

Mengapa Kiai Menda menjadi sedemikian penting?

Kawan, pada masa dimana kita sedang membaca kisah ini, yang kita tahu tentang ‘kiai’ adalah gelar yang diberikan untuk para ulama. Tapi ketika kita meloncati waktu dan mendarat pada dongeng ini, kita berada pada masa dimana sebutan ‘kiai’ tidak hanya disandang oleh para ulama. Jika engkau bisa membayangkan, betapa jumlah pasukan Belanda begitu besar dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap, maka perlawanan yang dilakukan oleh laskar pribumi terasa sebagai kenekatan yang tak masuk akal, mungkin. Jadi tak perlu heran, jika kekuatan para pribumi seringkali datang dari tempat yang di luar nalar. Tak perlu kaget apalagi tersinggung, jika ketidaknalaran itu kemudian tercermin pada kenyataan bahwa gelar ‘kiai’ tak hanya diberikan untuk jenis manusia saja. Tombak Kiai Plered, Meriam Kiai Amuk, Kereta Kiai Paksi Naga Liman, dan…, orang Jawa juga memanggil harimau dengan sebutan ‘kiai’.

Lalu siapa Kiai Menda?

Kita kembali dulu ke perjalanan yang ditempuh Paksi. Ketika ia telah menjangkau separuh perjalanannya, sekonyong-konyong muncul sesuatu yang mengusiknya. Membuatnya gentar, meski tak membuatnya mundur. Di kejauhan, dilihatnya dua jeep patroli Belanda sedang bergerak menuruni tanjakan. Menuju ke arahnya. Mereka akan berpapasan dalam waktu kurang dari satu menit! Langkah Paksi terhenti, dadanya terkesiap bersamaan desiran darah yang seketika menjadi miris.

“Gawat!” decak Paksi tertahan.

Tapi ia cepat menguasai diri. Dia tahu bagaimana harus bertindak. Yaitu seolah tak terjadi apa-apa. Bersikap saja selayaknya penduduk desa yang habis pulang dari ladang. Jangan tergesa-gesa seperti orang yang takut ketahuan. Karena sudah pasti malah akan ketahuan! Jangan mendongak, karena itu berarti menantang. Tenang, jangan gugup!

Dua jeep patroli itu telah berada sepuluh langkah di depan Paksi. Lebih jelas terlihat bahwa para penumpangnya membawa senapan. Jelas tentara! Dan sekarang mereka tepat berpapasan! Paksi seperti rencananya, tetap tak menghentikan langkah. Ia berjalan dengan tenang. Dan, jeep-jeep itu melewatinya begitu saja, seperti melewati orang desa yang baru pulang dari ladang… Mereka berlalu. Syukurlah! Paksi lega dalam hati, karena situasi telah berjalan seperti apa yang diharapkannya.

Tapi keadaan berubah dalam waktu lima detik. Deg! Jantung Paksi menendang keras tatkala didengarnya jeep-jeep di belakangnya itu berhenti. Tanpa diduga…

Dooorrrr…!

Paksi merasakan timah panas menusuk keras ke punggungnya. Kuat, hingga tubuhnya terpelanting ke depan. Jatuh tertelungkup menimpa tanah. Basah punggungnya oleh darah segar! Remaja malang, ia tak mampu bangkit dari robohnya…

Terdengar suara tawa tentara Belanda di sore yang mencekam itu. Tawanya terumbar lebih menakutkan dari suara momok. Nadanya busuk dan bengis! Lalu mereka berdebat singkat dalam bahasa mereka…

“Kau lakukan hal yang tak penting!”

Si penembak menyahut kawannya. “Anak itu sangat tenang di depan kita. Lagipula ini sudah mau gelap. Bisa saja dia orang gerilya!”

“Dia hanya bocah. Harga kepalanya tak ada satu sen. Tapi kau membuang peluru seharga tiga puluh lima sen!”

Serdadu-serdadu itu tertawa lagi. Jeep mereka melaju, berlalu. Meninggalkan perhentian yang mematikan itu, seolah barusan mereka hanya membunuh seekor tikus. Suara mesin menjauh teratur.

Perlahan, Paksi mengangkat tubuhnya. Nyeri dan perih menyebar ke penjuru saraf. Bukan main sakitnya! Saat bersusah payah berdiri, seketika itu malah otaknya lumpuh. Ia roboh lagi. Pingsan…

Saat matanya terbuka dan kesadarannya terkumpul, ia sudah berada di suatu tempat. Paksi terbaring telungkup di atas dipan. Di sampingnya ada meja dengan lampu teplok, menerangi rumah gedek itu dengan cahaya remang. Ada seuntai rangkaian bunga kenanga yang disampirkan pada dinding gedek, menebar wangi lembut yang terasa menenangkan. Ia menyadari tubuhnya tak berbaju. Dan terasa ada yang menempel di punggungnya, menyejukkan kulit yang meradang oleh luka tembak. Ia mencoba bangkit, tapi rupanya saraf-sarafnya masih terasa sangat nyeri. Ia ambruk lagi dan mengerang pelan, menahan ngilu.

“Lukamu tak terlalu dalam. Tapi sebaiknya jangan dipaksa. Istirahat saja dulu,” suara seorang laki-laki, muncul dari dapur yang bersebelahan dengan bilik itu. “Aku sudah keluarkan pelurunya. Kau beruntung peluru itu tak sampai menembus dadamu.”

Paksi sedikit tercengang mengamati laki-laki yang duduk di sebelah dipannya. Dengan cahaya yang temaram ia bisa menangkap sosok laki-laki penolongnya itu. Ia sepantar dengannya. Masih belia. Terkesan terlalu muda untuk mampu memahami cara mengobati luka tembak.

“Ini di mana?” tanya Paksi.

“Di rumahku. Desa Kluwung, tak jauh dari tempat aku menemukanmu.”

Paksi menghela nafas dengan berat. Lega karena selamat. Tapi tetap berontak terhadap nasib. Kenapa ia harus tertembak? Kenapa ia harus cedera sengilu itu hingga kini kesusahan untuk bangkit? Sekarang bagaimana ia akan melanjutkan tugasnya? Bisakah…?

“Bukankah tembakan itu seharusnya mampu membunuhku?”

Si penolong mengulurkan sesuatu kepadanya. “Ini. Tongkat bambumu ini sepertinya menahan peluru itu.”

Paksi ternganga. Ia meraih tongkat pemberian Bagus Kaja itu. Tongkat dari bambu yang memang lebih kokoh dari bambu lainnya. Tapi tetaplah sukar untuk dipercaya jika sebatang bambu bisa menahan lesatan sebuah peluru! Tongkat itu sudah patah, meski tidak tanggal. Sebagian batangnya melesak, terlihat serat-seratnya yang sebagian tercerabut dan sebagian lagi masih tertaut. Itulah yang meredam laju peluru, hingga membuat timah panas itu tak terlalu dalam bersarang di punggung Paksi. Bambu yang lebarnya hanya tiga senti berhasil menjaring peluru yang ditembakkan oleh seorang serdadu yang tentunya terlatih dalam menembak. Betapa kecil kemungkinannya? Kenapa bisa pas? Ajaib.

“Memang sudah takdirmu selamat,” ucap penolong itu.

“Takdir sulit diduga, tapi percayalah kepadanya…” kata-kata Bagus Kaja terngiang lagi di telinga Paksi. Bagaimanapun, ia bersyukur atas nyawanya. Berkatalah dia kepada penolong itu, “Terima kasih, bagaimanapun kau adalah bagian dari takdir yang menyelamatkanku. Namaku Paksi. Siapa namamu?”

“Namaku Gendhis.”

“Obat apa yang kau gunakan ini?”

“Daun ‘singkong Genderuwo’. Biar lukamu tidak menanah.”

‘Singkong Genderuwo’, jenis singkong yang pahit untuk dimakan. Maka dijuluki dengan nama ‘genderuwo’ karena mungkin hanya makhluk itu yang doyan memakannya. Tapi Paksi baru tahu bahwa daunnya bisa dijadikan obat.

“Dari mana kamu mempelajarinya? Dengan siapa kamu menolongku?” tanya Paksi heran.

“Pengetahuan turun-temurun. Aku tahu dari bapakku,” cerita Gendhis. Ia menyiratkan bahwa ia melakukannya sendiri. “Bapak dan ibuku sudah meninggal. Sudah dua tahun aku tinggal sendiri di sini.”

Paksi merasa terenyuh. “Orang tuamu meninggal dua tahun lalu?”

“Ibuku meninggal saat melahirkan aku. Bapakku meninggal dua tahun lalu. Kata Tuan Wilhelm karena terkena malaria.”

“Tuan Wilhelm?”

“Dokter dari Belanda. Beliau suka meneliti tanaman, selama beberapa tahun tinggal di komplek pabrik teh Kemuning. Beliau baik, tapi tak mampu menolong Bapak karena persediaan obat kina sedang habis.”

Paksi menyimak. Sesaat kemudian menjadi sedikit sinis. “Tidak semua orang Belanda jahat. Tapi bagaimanapun juga, yang menembakku adalah Belanda. Yang menembak mati bapakku, adalah Jepang. Tak ada penjajah yang baik.”

Gendhis tersenyum samar. “Bagaimana dengan Cina?”

Paksi mendengus masam oleh sahutan Gendhis yang blak-blakan itu.

“Maaf, aku hanya gojek,” sambung Gendhis seraya tertawa pahit. “Toh orang Jawa pun banyak yang menjadi tentara KNIL, dan banyak yang masih setia kepada Londo. Menyebut gerilyawan sebagai pemberontak, padahal sama-sama pribumi. Tak semua orang yang dijajah merasa dijajah. Maaf…, aku berkata begini bukan bermaksud tak menghormati bapakmu yang ditembak penjajah…”

Paksi turut tertawa pahit. “Kau sendiri termasuk orang yang tak merasa dijajah?”

Gendhis menggeleng seraya melempar mukanya ke arah lain. “Aku tidak tahu. Aku hanya merasa bahwa tanah kelahiranku sudah lama terjajah sebelum aku lahir.”

“Dan nyatanya, tak semua orang Belanda adalah jahat…” batin Paksi, kali ini menyembunyikan kesinisannya. Ia tersenyum miris. Getir. Tapi di samping itu ia juga kagum, karena sepertinya Gendhis bukan orang desa yang bodoh. Tutur halusnya terdengar pintar. Meski bukan berarti sikapnya bisa disetujui.

Paksi memaksa dirinya untuk bangkit. Menolak dijajah oleh rasa sakit! Gendhis membantunya dengan sabar. Paksi meraih kain ikat pinggangnya yang ditemukannya di atas meja.

“Tolong bebatkan kain ini, untuk membalut obatmu. Aku harus melanjutkan perjalanan malam ini juga. Di mana bajuku?”

Gendhis tampak keberatan melihat Paksi yang tergesa-gesa. “Kau akan nekat pergi?”

“Harus!”

Tapi saat Paksi melihat raut wajah penolongnya itu, samar-samar mulai tersadari olehnya. Bahwa rasa keberatan Gendhis tampaknya bukan semata-mata mencemaskan lukanya. Oleh cahaya yang temaram, Paksi melihat raut wajah seorang remaja yang sepi hidupnya. Ada jiwa yang gersang, di balik sosok penolong yang sebatang kara itu…

Gendhis menuju ke lemari kayu di sudut ruangan. Lalu kembali lagi bersama selembar baju, diulurkan kepada Paksi. “Bajumu kotor oleh tanah dan darah. Kau bisa pakai ini.”

Paksi menerima baju pemberian Gendhis. Remang ruangan menyamarkan warna dan rupa baju itu. Tapi tangan Paksi bisa meraba kainnya yang halus. Paling tidak, pasti kain kelas menengah. Tapi bisa jadi adalah baju terbaik yang dimiliki Gendhis, anak desa yang yatim piatu itu. Paksi terharu. Ia memakainya, baju dengan aroma loro setu yang wanginya alami, bersahaja tapi tak kalah wibawa dengan parfum-parfum hasil ramuan industri Barat.

Gendhis menyiapan sekedar minuman. Jamu yang diramu dari beras dan rempah, ia suguhkan ke tamunya yang terluka itu. Paksi meminumnya hingga gelas tanah itu kosong, lalu menyibukkan diri mencerna sosok tuan rumah yang sebaya dengannya itu. Gendhis yang sederhana, telaten, paham tentang jamu dan obat, dan juga telah memberinya pakaian ganti yang layak. Pribadi yang patut dikenal…

“Bagaimana caramu hidup seorang diri, Gendhis?”

“Aku menjadi buruh di pabrik karet. Selain mengurus ladangku sendiri yang tak seberapa, peninggalan Bapak…”

“Apakah kau sekolah?”

Gendhis mengangguk. “Aku sempat ingin meneruskan ke SMP. Tapi bagaimana mungkin dengan keadaan seperti ini? Baru-baru ini aku mendengar sekolah-sekolah ditutup. Sekarang aku berpikir, bersekolah tidak membuat orang lepas dari masalah. Jadi, pentingkah untuk orang sepertiku?”

Paksi tersenyum pahit. Ia turut berkisah. “Sejak Belanda kembali menduduki kota, sekolah-sekolah terpaksa ditutup. Beberapa guru dan pelajar bergabung dengan gerilyawan. Termasuk aku. Padahal seharusnya tahun ini aku sudah lulus dari SMP. Tapi aku tetap tak menyesalinya. Berjuang bukan hal yang harus disesali.”

Gendhis memperlihatkan senyum seolah dia sempat menebak sesuatu, dan kini tebakannya benar. “Saat menemukanmu, aku sudah yakin bahwa kau anggota gerilya. Jika tidak, untuk apa Belanda menembakmu?”

“Kau agak keliru. Kadang tentara Belanda sengaja menembak siapa saja. Agar orang-orang takut dan tunduk, tidak coba-coba membantu gerilyawan,” tutur Paksi, meluruskan. Sekarang ia menyadari kebodohannya sendiri. Harusnya dia bersembunyi saat berjumpa dengan jeep-jeep Belanda itu. Rakyat biasa saja bisa ditembak, apalagi jika dicurigai sebagai gerilyawan?

“Lalu kenapa kau mengaku kepadaku, bahwa kau gerilyawan?”

“Karena aku tak mencurigai orang yang sudah berani menolongku.”

Kemudian percakapan hening. Suara binatang malam di luar rumah mengiringi pertautan antara Paksi dan Gendhis, yang baru sekali itu bertemu tapi mendapati kisah-kisah yang bisa mereka bagi. Kisah-kisah yang sekilas tak sejalan, tapi sesungguhnya membuat masing-masing merasa dilengkapi.

“Kau bilang, kau akan melanjutkan perjalanan?” tiba-tiba Gendhis mengingatkan, meski rautnya masih berat hati. Ia meraih sebuah benda kotak dari atas lemari. Ia bawa mendekat ke lampu teplok. Itu sebuah jam berbingkai kayu yang sudah tampak usang, tapi jarumnya masih bergerak.

Sudah pukul tujuh malam, dan amanat belum tiba di tujuan. Paksi tak mengira bahwa ia pun kini merasakan hati yang berat untuk pergi. Seolah sakitnya luka menjadi tak seberapa ketika ia merasa telah menemukan seorang kawan… Pertemuan yang membuatnya enggan untuk cepat-cepat berpisah. Setidaknya, ia masih ingin berbagi waktu sedikit lagi…

“Kenapa orang tuamu memberi nama ‘Gendhis’?”

Gendhis tak menduga akan dibalas dengan pertanyaan itu. “Aku lahir di pasaran Legi. Orang tua lainnya mungkin akan menamaiku ‘Legi’. Tapi bapakku tidak.”

“Bapakmu memberimu nama yang lebih berderajat. Gendhis, gula. Legi. Manis… Di saat bapakmu kehilangan ibumu, dia memberimu nama itu. Tentu ada cita-cita untukmu?”

Gendhis menjawab dengan mata menerawang. “Tentu agar aku bisa menyandang nama itu selama mungkin, karena orang yang dicintainya tinggal aku. Anak satu-satunya…”

“Apakah itu membuatmu tidak ingin bergabung dengan barisan pejuang, yang harus berani mati setiap saat?”

Gendhis mencerna kata-kata itu, lalu menahan diri untuk tidak tersinggung. “Di saat aku tak punya siapa-siapa lagi, di saat aku tak punya cita-cita setinggi langit, di saat masa sulit datang silih berganti…, aku tidak mencari mati. Aku berani untuk tetap hidup!”

“Berani mati bukan berarti memilih mati. Berani mati adalah hidup dengan lebih gigih.”

Gendhis bisu termangu mendengar ucapan itu. Paksi menepuk-nepuk pundaknya, seperti rasa tenang yang diulurkan oleh seorang saudara.

“Aku tidak sedang memaksamu. Juga tidak bermaksud membuatmu tersinggung…”

Gendhis tersenyum sayu. Gilirannya kini bertanya. “Jika kau memang masih ada waktu di sini, bisakah kau ceritakan tentang namamu? Atau keluargamu, jika kau tak keberatan…?”

“Setelah ini aku harus pergi,” ucap Paksi, tak keberatan untuk membagi kisahnya. “Mata sipitku dari Bapak. Kulit gelapku dari Ibu. Tapi Eyang Putri selalu bilang aku tak terlalu sipit, juga tak terlalu hitam. Ibuku selalu membantu Eyang berdagang kain, seringkali ke Solo untuk mengambil barang. Bapakku adalah Cina perantauan, bekerja sebagai juru tulis di Gereja Katolik Purbayan. Di lokasi yang sekarang menjadi kantor RRI Solo, di depannya ada sebuah warung, di situ kedua orang tuaku berkenalan. Setahun kemudian, menikah…”

“Kau Katolik?”

“Bapakku Katolik. Ibuku seperti umumnya orang Jawa. Aku mungkin keduanya…” Lalu Paksi meraih kembali tongkat bambunya. Ia melihat lantai tanah yang pekat, hitam kecoklatan. Ia menggoreskan dua aksara dengan tongkatnya, bukan Latin ataupun Jawa. “Pei Shih, nama yang diberikan Bapak kepadaku. Oleh lidah Ibu, menjadi: Paksi.”

Gendhis begitu tertarik menyimaknya. “Apakah arti nama yang diberikan bapakmu?”

Paksi mengamati tongkatnya dengan sorot mata penuh makna. “Artinya, Rakit Bambu Yang Kuat…”

Lalu ia berdiri, tegar mengabaikan pedih luka di punggungnya.

“Kemana tujuanmu?” tanya Gendhis.

“Jenawi. Dan aku harus pergi sekarang, Gendhis.”

Gendhis tampak tak kaget dengan tujuan Paksi. Ia tak ingin membebani tamunya lagi. Paksi menerima botol airnya yang telah diisi penuh. Juga sebatang obor untuk penerang jalan. Dan…, sebonggol singkong rebus untuk bekal, yang diberikan Gendhis dalam keadaannya yang pas-pasan. Paksi benar-benar terharu atas bantuannya.

“Biarpun ‘Rakit Bambu’ hanya untuk sungai yang datar, kau masih punya nama dari ibumu…, untuk mencapai tempat yang kau tuju. Karena kau menuju ke tempat yang tinggi,” ujar Gendhis di muka pintu.

“Lagipula muara sudah dikuasai musuh. Yogyakarta, ibukota negara sudah jatuh. Gunung-gunung menjadi tempat para pejuang untuk berlindung. Tapi nama pemberian bapakku tetap mengajariku satu keyakinan: bambu menjadi rakit karena disatukan. Disatukan dan menjadi kuat!”

Gendhis mengantar hingga pertigaan, di muka jalan utama yang menuju ke Jenawi. Sekali lagi Paksi mengulurkan harapannya.

“Bergabunglah…?”

Gendhis tak sanggup mengangguk. “Semoga kau selamat. Dan suatu saat kita berjumpa lagi…” Hanya doa itu yang bisa ia jadikan jawaban.

Paksi menjadi sedih. “Besok pagi, Belanda akan melakukan serangan. Jalur ini mungkin akan mereka lewati. Jaga dirilah baik-baik.”

Kali ini Gendhis mengangguk.

Paksi memberikan tongkat bambunya. “Simpanlah. Jika aku selamat, aku akan ingat bahwa aku memberikan ini kepada orang yang telah menolongku. Terima kasih atas kebaikanmu…”

Dua remaja itu berpisah. Sosok-sosok belia yang mekar di tengah revolusi. Seperti bunga-bunga yang mekar melawan semak-semak. Selalu ada yang menyembul. Selalu ada yang tersembunyi. Yang menyembul mahkotanya, akan siap dipetik kapan saja oleh tangan-tangan peperangan. Yang tersembunyi, mungkin tak akan dikenal. Keduanya, mungkin akan dilupakan… Tapi hati yang suci memang tak pernah menuntut untuk dirayakan. Meski jerih payah telah tertumpah, meruah bersama nyawa-nyawa yang melayang.

Malam menjadi kawan perjalanan. Malam memang penuntun para gerilya. Pejuang-pejuang yang tak kenal takut mementang jejak, di antara bukit-bukit suram dan jejurang yang kelam. Terang berada di hati mereka karena semangat yang tak pernah padam. Itulah yang bergetar di dada Paksi. Mengabaikan rasa sakit dan dingin yang menggigit tubuhnya. Cahaya obor adalah sekedar pemandu agar kakinya tak terantuk batu. Tak perlu takut diketahui Belanda, karena mereka tak akan berani keluar malam di tengah gunung. Yang melihat cahaya obor itu hanyalah penduduk desa di balik jendela-jendela. Mereka akan mengira nyala api itu adalah Banaspati atau Kemamang, maka mereka akan segera menutup jendela lalu memilih cepat tidur berkerudung selimut. Memang, hanya yang tangguh yang berani berjalan di garis para pejuang. Bekas peluru di punggung, akan menjadi kisah yang bisa diceritakan dengan bangga kepada anak cucu.

Konon, darah seorang pemberani akan tercium dengan mudah ketika ia berjalan menembus malam. Makhluk-makhluk tak kasat mata menghirup aromanya, lalu mereka akan keluar sarang. Mereka tak mau kalah, mereka akan memamerkan kemampuan mereka, menjadikan medan gerilya sebagai sirkus astral yang tak semua mata mampu melihat. Raksasa Kala Rahu akan menunda melahap rembulan, agar jalan-jalan menjadi terang di saat malam. Wedon akan menyaru sebagai kabut putih yang mengambang di atas jurang, agar dapat ditengarai bahwa di situ ada sebuah jurang dan tak ada yang terperosok. Wewe Putih yang bermukim di atas pohon akan menjatuhkan buah yang dapat dimakan, orang sering mengira tawanya hanyalah suara burung malam. Genderuwo akan membuat perapian kecil untuk memanggang makanannya, dengan begitu jalanan akan bersih dari ular karena ular-ular menghangatkan diri di dekat perapian. Akan ada syukur di hati pejuang yang menempuh perjalanannya bersama malam. Tapi hanya mata ketiga yang bisa melihat, ada apa di balik tanda-tanda Sang Malam.

Dan malam telah hinggap di pukul sepuluh. Paksi tiba di Desa Balong, sebuah desa yang memiliki pendamping berupa bukit-bukit sebesar raksasa Kala Mercu. Desa itu adalah pusat wilayah Jenawi. Ya, Paksi telah tiba dengan selamat di tempat tujuannya. Tapi ia telah kehabisan tenaga. Berkurangnya darah akibat luka tembak membuatnya melemah. Napasnya kepayahan, tapi tak hilang semangat untuk melambaikan obornya. Berayun, api menari membentuk pertanda di pekat malam. Terbaca oleh orang-orang penghuni bukit. Harapan Paksi terjadi. Tiga orang turun dari bukit, menyambutnya…

“Saya Paksi, membawa berita dari markas Guworejo…”

Lalu, remaja pemberani itu pun roboh…

***

Cerita ini hanyalah penggalan. Nantikan cerita lengkapnya, di sebuah antologi yang rencananya akan dibukukan bersama kawan-kawan penulis lainnya. Terima kasih sudah membaca…

 
14 Komentar

Posted by pada 17 Agustus 2013 in Cerpen

 

Cowok Rasa Apel 3

 
 
 

APA YANG MEMBUAT BUAH JATUH DARI POHONNYA?
BEBERAPA KARENA ANGIN YANG MENGHEMPAS TERLALU KENCANG.
TAPI KADANGKALA… ITU ADALAH TANDA BAHWA BUAH ITU TELAH MATANG…

 
 
 

 
 
 

APEL ITU TERJATUH LAGI…

 
 
 

 
 
 

— 2013 —

 
 
 

 
89 Komentar

Posted by pada 15 Juni 2013 in Cowok Rasa Apel, Gay Teenlit

 

Tag: