RSS

Salah satu cerita remaja gay/LGBT terpopuler di Indonesia

02 Mar

“Rumah bukanlah tentang tempat yang diberikan kepadamu. Bukan tentang di mana kau dilahirkan. Bukan tentang di mana kau dibesarkan. Takdir menggiringmu untuk memilih. Maka kau memilih takdirmu. Rumah adalah tempat yang kau pilih, tempat di mana kau dapat merasakan bahwa takdir menjadikanmu: DIRIMU.

Kehidupan menjulang kian tinggi. Takdir memberiku pilihan: lari, atau hadapi! Aku memilih jawaban, “Ya, baiklah. Akan kupanjat dahan-dahan terjal itu, akan kusambut terpaan angin layaknya uluran tangan.”

Kini aku tinggal di sebuah rumah yang tak semua orang memilikinya, karena tak semua orang berani menemukannya. Tegak memandang kepada kehidupan. Aku merasa terhormat. Aku merasa pulang.

Tapi aku sedih karena kau tak bersamaku….”

cra-3-rumah-pohon

***

Dimas Di Mata Gue….

Dia saudaraku. Kakakku. Delapan belas tahun lalu, di saat yang sama selama sembilan bulan, aku berbagi rahim dengannya. Tidak identik, tapi banyak yang mengira begitu karena wajah kami mirip. Jelas saja mirip, bagaimanapun kami sedarah. Tapi untuk satu hal, sudah pasti aku dan dia nggak mirip:

Dia gay.

Aku bukan!

Memang aneh, cowok suka cowok. Kok, bisa gitu, ya? Tapi guys, setelah aku lihat sendiri pada dirinya, ternyata gay nggak seaneh yang kupikirkan selama ini. Bahwa ada yang bilang homo itu bisa menular, itu juga bullshit! Kurang apa coba, aku sembilan bulan berdua dengan dia di perut Mama, bukankah seharusnya aku sudah tertular? Nyatanya: No, gue nggak homo.

Lalu apa pendapatnya soal dirinya sendiri sebagai gay? Dia sendiri yang bilang, jadi gay tak otomatis menjadikannya cowok inferior, ataupun (apalagi) superior. Dia tak asal-asalan mengikuti jargon: I’m gay & I’m proud! Menjadi gay bukan soal malu atau bangga. Sebab gay bukan prestasi. Gay adalah identitas. Aku menyetujuinya.

Bertanya apakah kau bangga jadi gay, sama dengan bertanya apakah kau bangga jadi cowok. Kenapa bangga jadi cowok, memangnya jadi cewek memalukan? Oke, kau mungkin akan bilang bahwa kau bangga menjadi ‘cowok normal’. Jadi, gay itu bukan ‘cowok normal’? Hei, aku sudah melihat sendiri bahwa seorang gay sama ‘normal’nya dengan orang lain. Dalam arti, dia punya sifat-sifat yang kita juga bisa temukan pada orang lain, tapi dalam paket uniknya sendiri.

Yaaa, ada yang bilang: everybody is unique! Seunik apa saudara kembarku itu? Se’normal’ apa?

Inilah penilaianku. Dia cowok delapan belas tahun yang periang, humoris, sedikit lebay, tapi kadang cenderung penyendiri. Disiplin soal kerapian dan kebersihan, tapi bukan metroseksual. Berjiwa musikal, pintar main gitar, bersuara lumayan bagus, bisa menulis puisi. Nah, kalau dia bukan homo mungkin ceweknya sudah segudang.

Tapi daya tarik itu mungkin tak akan berlaku di mata cewek yang lebih suka faktor fisik dan maskulinitas. Kenapa? Dia nggak suka olah raga, dan nggak suka sayur. Pernah coba-coba ikut Wushu, tapi menyerah pada bulan kedua. Mengendarai motor dengan kecepatan tak bisa lebih dari 70 km/jam. Pernah belajar menyetir mobil, pada hari ketiga menabrak kandang ayam tetangga. Soal hantu? Yes, dia takut hantu. Payah, kan? Tapi ada catatan: kalau kau mau kerahkan segala jenis serangga dari yang menjijikkan sampai yang menakutkan, nggak akan mempan buat menakut-nakuti dia. Dia satu-satunya orang yang, pernah aku lihat dengan mata kepala sendiri, berani menangkap kecoa dan orong-orong dengan tangan kosong. Aku tiga tahun belajar Karate, tetap saja nggak berani! Tapi kembali lagi ke soal maskulin, apakah menangkap kecoa dengan tangan kosong adalah sebuah jurus maut di mata cewek (ataupun cowok)? Big no! Ngondek sih enggak, tapi tetap susah dibilang macho!

Tapi dia tergolong pintar. Dengan catatan: bukan untuk menghadapi angka dan rumus IPA. Dia logis cenderung nyeleneh. Dia brilian dengan caranya sendiri. Salah satunya menangkap kecoa dengan tangan kosong itu, mungkin.

Pintar bukan berarti tak pernah jadi pecundang. Dia pernah ketiban sial dalam urusan cinta. Dia jadi korban kebohongan seorang cowok bernama Erik, idola sekolah yang dia puja-puja sejak masuk SMA. Alih-alih diterima cintanya, rahasia bahwa dia gay malah diungkap ke teman-teman satu sekolah. Jadinya, dia coming out secara terpaksa. Cintanya memang kepedean, sih. Jatuh tertimpa tangga, ketiban sarang tawon pula. Ditolak sang idola, jadi sasaran bullying pula! Iya memang, setiap kejadian ada hikmahnya. Tapi jujur aja, deh… lu mau digebukin anak satu geng demi mencari hikmah?

Sad but true, homoseksual memang realita. Begitu juga homophobia. Aku berani taruhan, dia akan menang kalau berdebat. Kalau sudah bicara, dia pembicara yang tangguh. Guru BP saja puyeng berdebat dengan dia. Tapi dia nggak bisa disuruh berkelahi. Pasti keok! Pada titik itu, akulah yang maju menghajar orang-orang yang mengerjai dia. Aku nggak bohong, itu pernah kulakukan.

Ya. Aku sayang Dimas. Aku menerima dia apa adanya, normal ataupun tidak.

Aku kukuh meninggalkan Medan, meninggalkan keluarga dan teman-teman sepermainan di sana, demi melengkapi dirinya. Aku nggak ge’er, karena aku yakin Dimas memang butuh aku. Aku saudara satu-satunya. Perjalanan sembilan bulan dalam kandungan tak bisa diingkari, biarpun kami juga sudah lupa kayak gimana rasanya di dalam sana. Tentu kami nggak berantem, adu mulut, perang guling, seru-seruan di dalam perut Mama. Mungkin cuma tidur sepanjang hari di sana. Tapi, ffhhh… sulit diuraikan dalam kata-kata, tentang bagaimana aku merasa terhubung dengannya. Sebagai dua bersaudara, kami dipisahkan selama bertahun-tahun (karena suatu hal yang aku tak tertarik mengungkitnya). Ketika kami bertemu lagi, sangat terasa bahwa selama ini ada bagian yang hilang dari diriku. Kurasa, nggak cuma dia yang butuh aku. Aku juga butuh dia.

Terdengar romantis? Jangan berpikir macam-macam! Aku nggak pacaran dengan saudara kembarku! Memangnya dunia sudah kehabisan cewek?

Kenapa aku bilang aku butuh dia? Hei, aku merasa punya saudara kembar gay itu lucu! Seru…! Kita bisa mengusili sesama cowok dengan cara yang nggak biasa, karena mencomblangi cowok dengan cewek itu sudah biasa! Sebenarnya, awalnya aku cuma bermaksud mengusili Dimas yang sedang patah hati gara-gara ditolak Erik. Ternyata, keusilanku malah membawa nikmat bagi Dimas. Dia beneran mendapat boyfriend: Fandy, seorang adik kelas yang berasal dari desa, berjiwa sastra, pintar, tampan, dan segudang pujian lainnya yang selalu disebut Dimas secara bergantian (aku sampai bosan mendengarnya).

Ada manis-pahit tentang perjuangannya mendapatkan Fandy, tapi aku tak mau berpanjang-panjang menceritakannya. Soal hubungan mereka, aku cuma ingin bilang, sejauh ini Fandy bisa memberi efek yang positip. Dimas tetap se’normal’ sebelumnya. Cuma lebih bahagia, lebih bersemangat, hari demi hari sampai setahun lebih hubungan mereka berjalan. Dan itu bagian dari jasaku, sebaiknya dia selalu ingat itu!

Itulah maksudku, kenapa aku butuh dia. Kita tak bisa merasakan diri kita sebagai orang yang berarti jika kita tak berada di antara siapa-siapa. Kita selalu butuh orang lain. Dan Dimas adalah satu-satunya saudaraku. Aku merasa memiliki arti lebih saat bisa melakukan sesuatu buat dia. Aku tak menjadi saudara yang sia-sia, dan dia sendiri memberiku warna baru yang sebelumnya tak pernah kupikirkan. Ya, seru!

Aku tahu, tak semua orang bisa menerima gay. Pada Dimas aku belajar memahami, dan kesimpulanku: dia tak butuh dibenarkan, hanya butuh diberi kesempatan. Dia berhak menjalani hidup sesuai keyakinan hatinya, karena kita semua juga mau begitu. Perasaan tertolak hanya akan menyandungnya, menghalangi prestasi-prestasi positip yang sebenarnya bisa dia capai. Sebab, kalau aku harus membanggakan dia, aku akan membanggakan saudara kembarku karena dia punya prestasi. Bukan karena dia homo. Aku tak akan menghalangi jika dia memang suka cowok. Kecuali kalau dia berani towel-towel gue, gue ajak berantem!

Aku mendukung apa yang dia yakini sebagai pilihan terbaik.

Tapi…

Fffhhh…. Hidup memang nggak selalu mulus, ya? Suatu ketika, akhirnya aku mulai waswas juga terhadap Dimas. Terutama soal hubungannya dengan Fandy. Guys, semua ceritaku nanti akan dimulai dari situ.

Aku benar-benar cemas waktu itu. Beberapa bulan lalu, waktu itu aku meminjam HP milik Dimas untuk mengirim SMS. Setelahnya, iseng-iseng aku buka foto-foto di dalam memori HP-nya. Kutemukan satu buah foto yang membuatku kaget…!

Mas, serius kamu simpan foto beginian?! kutunjukkan foto itu ke Dimas.

Dia langsung merebut HP-nya dan protes. Apaan, sih? Ngapain kamu buka-buka segala?

Nah, itu dia yang bakal jadi masalah! Kamu nggak tahu kapan orang lain akan lihat foto itu. Dilihat oleh orang yang salah, kamu dapat masalah! nasihatku waktu itu.

Aku nggak pernah sembarangan meminjamkan ponsel ke orang lain.

Kamu nggak tahu kapan orang lain akan lihat foto itu! tandasku lagi. Dia nggak bodoh. Tapi suka ceroboh!

Aku cuma menciumnya, gumamnya, melihat foto itu dengan senyum tenang. Masa, sih, akan jadi masalah?

Lu nggak tahu kapan itu akan jadi masalah!

Dia malah tertawa. Kalaupun iya, nggak akan jadi masalah besar. Aku cuma menciumnya di pipi. Bukan di tempat yang lain.

Di pipi? Ya, memang. Pipi yang hampir menyerempet bibir!

Oke, aku sudah cukup memperingatkannya. Bersikap cerewet, apalagi cowok, itu memang terdengar menyebalkan. Tapi seharusnya dia mengerti, bahwa untuk hal yang satu itu aku serius menasihatinya. Akhirnya, aku cuma bisa berharap apa yang kucemaskan tak akan terjadi.

Tapi…

Hmmhhh…. Sial. Yang kucemaskan itu terjadi!

Aku Denis, saudara Dimas, ingin menceritakan apa yang telah terjadi. Guys, semua tak baik-baik saja.

***

 

5 responses to “Salah satu cerita remaja gay/LGBT terpopuler di Indonesia

  1. Lorenzo Alfredo

    3 Maret 2016 at 07:10

    Akhirnya lu balik lagi bang…

     
  2. Blue Star

    4 Maret 2016 at 07:07

    Kau memang tidak pernah berhenti membuat imajinasi seseorang mati bukan? kau tidak pernah berusaha membuat ceritamu buruk,semua sangat baik,aku menyukainya,mereka menyukainya

     
  3. Agil

    5 Maret 2016 at 07:34

    Rangkuman yg pendek
    Tapi membuatku teringat perjalanan panjang seorang Dimas dari CRA 1
    CRA1 yg dmn pahitnya perjalanan Dimas
    CRA2 pahit manis dan keharuan ttg Dimaa sampe dapetin Fandy
    Bernostalgia dg cerita cerita lalu

     
  4. rere

    5 Maret 2016 at 14:38

    gua suka sm dimas sayangnya dimas gay ah… patah hati gw
    karung 24 kapan dipost bang????

     
  5. bryanandrewcho

    13 Juli 2016 at 10:42

    cerita singkat tentang nostagia seorang Dimas
    meski entah kenapa tetep ngarep Dimas sama Erik
    maaf ya Fandi
    Dennis ap kabar kamu? ap masih jomblo??

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: