RSS

Sebuah cerpen

04 Mar

CINTA YANG JATUH DI JALAN

Warga desa menyebut hantu itu “Si Tua”. Siapakah sesungguhnya hantu itu—apakah dia dulunya orang yang pernah hidup, ataukah sejak awal memang sudah tercipta sebagai hantu—tak ada riwayat historis yang jelas. Maka ia pun lebih tepat disebut sebagai dongeng. Dari dongeng, ia pun menjadi mitos. Kau mungkin tak percaya pada dongeng ataupun mitos, tetapi kautahu bahwa pernah ada masanya ketika dongeng dan mitos menjadi sebuah kebenaran.

Ia dijuluki “Si Tua” oleh sebab dalam penampakannya selalu mewujud sebagai sesosok kakek tua. Ia disebut-sebut suka muncul di pagi buta, dan dalam kemunculannya itu ia selalu berjalan tergopoh-gopoh di sepanjang jalan yang menuju ke kali. Tak ada penjelasan mengapa hantu itu tidak terbang saja, sebab biasanya hantu diceritakan bisa terbang, malah banyak yang percaya bahwa sebetulnya yang namanya hantu pasti tidak menginjak tanah. Bahkan Si Tua ini sepertinya bukan hanya satu-satunya hantu yang menginjak tanah, tetapi ia juga satu-satunya hantu yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan tahi di mana pun di jalan yang ia lewati—mungkin itulah alasannya mengapa ia lebih baik jalan kaki saja, tidak terbang, setidaknya tahinya tak akan menjatuhi orang. Gara-gara tabiat yang aneh itu, beberapa pendongeng lain menyebut hantu itu “Si Berak Berjalan”.

Mitos berkata—entah siapa yang pertama kali berkata, mungkin saja seorang dukun pada zaman itu—bahwa siapa pun yang bisa menggendong Si Tua sampai di kali sebelum tahinya bobol di jalan, maka kelak dia akan berhasil menggapai cita-cita dalam hidupnya. Orang dewasa mana pun yang berfisik kuat, atas nama kebaikan dan budi pekerti luhur, semestinya tak akan keberatan menggendong kakek renta yang kebelet buang hajat ke kali. Namun tentunya selama kakek itu bukan hantu. Memang itulah masalahnya.

Kautahu bahwa pagi adalah waktu yang paling baik untuk membuang sampah dalam perut, atau setidaknya kebanyakan orang berpikir begitu. Orang-orang di desa itu pun berpikir sama: pagi adalah waktu yang tepat untuk buang hajat. Hanya saja, mereka tidak ke kali sepagi orang-orang dari desa lain—mereka berbeda desa, tetapi memberaki kali yang sama. Di desa yang memelihara dongeng tentang Si Tua, orang-orangnya terpaksa menunggu sampai pagi betul-betul terang, lalu barulah mereka berbondong-bondong untuk buang hajat ke kali. Alasannya jelas karena hantu itu. Bertemu saja mereka tak sudi, apalagi menggendong. Lebih tepatnya: tak berani.

Namun, dongeng pun mengenal pengecualian, bukan? Semua penghuni desa itu berharap tak pernah bertemu Si Tua, kecuali satu orang, yaitu pemuda bernama Wahid.

Wahid adalah seorang pemuda yang menjadi sebatang kara sejak umur 16 tahun, tepatnya sejak kedua orang tuanya dibantai oleh tentara Nippon; ibunya hendak diculik segerombolan tentara kate untuk dijadikan Jugun Ianfu, dan si ayah melawan, maka ujungnya suami-istri itu mendapat nasib yang sama: leher mereka ditebas dengan katana. Konon itu memang masa yang penuh krisis; konon dijajah Belanda masih lebih mendingan dibandingkan dijajah Jepang. Tentara Jepang alias Nippon itu kalau bicara kedengaran seperti mengejan, dan mereka memperlakukan orang-orang pribumi dengan perlakuan yang lebih buruk dari kotoran.

Sedemikian kejamnya tentara Jepang, sehingga, mungkin, banyak orang di masa itu berpikir bahwa masih dapat hidup saja sudah untung; mereka tak sempat memikirkan soal cita-cita, jadi untuk apa pula repot-repot mencegat dan menggendong Si Tua? Sebaliknya, orang-orang yang tetap memiliki optimisme untuk bercita-cita sebetulnya juga masih ada, hanya saja mereka terlalu terpelajar untuk percaya bahwa cara untuk menggapainya adalah dengan menggendong hantu yang suka berak. Mungkin ada juga yang percaya, tetapi tak berani menempuh cara itu. Sekali lagi, Wahid menjadi pengecualian. Bukankah tokoh utama sebaiknya memang istimewa? Wahid memiliki empat hal yang tidak dimiliki kawan-kawannya pada masa itu: cita-cita, keyakinan, keberanian, dan ketidaknalaran. Namun untuk menyatukan keempatnya butuh waktu sampai ia berusia 19 tahun.

Ketika Wahid memasuki umur 19 tahun, tentara Nippon sudah minggat dari bumi Nusantara, dan “Indonesia” sudah menjadi nama sebuah negara yang mengaku merdeka. Namun toh tidak serta-merta rakyat yang semula miskin langsung menjadi lebih makmur. Wahid masih kere, sama seperti kebanyakan orang pada masa itu. Akan tetapi, seperti yang sudah disinggung di kalimat terakhir paragraf sebelumnya, Wahid pada saat itu telah menemukan tekad untuk mewujudkan cita-citanya dan ia bukan penakut seperti orang lain yang ada di desanya. Tiap pagi buta dia menunggu munculnya si hantu di tempat yang menurutnya paling sepi di desa itu. Tekadnya, jika hantu itu muncul maka dia akan menggendongnya sampai ke kali. Itu adalah syarat agar cita-citanya tergapai.

Hantu itu muncul di hari penantian yang keempat puluh. Bukan saat pagi buta, tapi pada saat petang remang, ketika Wahid hendak buang hajat di kali—memang, pagi adalah waktu yang lebih tepat untuk berak, tetapi tak ada larangan juga untuk melakukannya di sore hari. Wahid awalnya tak mengira bahwa itu adalah hantu yang selama ini sudah dinantinya sampai bosan. Hantu itu kelihatan seperti orang tua lumrah saja, tak tampak menakutkan sama sekali sebagai hantu, bahkan wajahnya mirip dengan salah seorang tetangga sehingga Wahid tak mencurigainya sebagai hantu. Wahid membantunya turun ke tepi kali, lalu menempatkannya pada sebuah batu besar yang bisa dijadikan pijakan untuk berak. Pada saat itulah Wahid menemukan selembar cucian hanyut yang tersangkut pada batu. Dia memungut kain hanyut itu, dan rupanya itu menjadi kesempatan bagi si kakek untuk menghilang begitu saja. Seketika itu Wahid baru sadar bahwa kakek tadi adalah hantu yang telah dinantinya selama 40 hari.

Pakaian hanyut yang ditemukan Wahid menjadi pengubah nasibnya. Sudah pasti itu baju milik orang kaya; kainnya bagus, tetapi yang lebih meyakinkan adalah kancing-kancingnya terbuat dari emas. Dengan girang gembira Wahid mempereteli kancing-kancing itu, lalu menjualnya ke seorang priyayi di kota. Wahid dapat uang banyak dari penjualan barang hanyut itu. Lalu dia gunakan uang itu untuk modal berdagang kain di kota. Awalnya dia hanya menjual beberapa lembar batik secara keliling. Di tahun berikutnya dia mulai sanggup menyewa lapak, tahun berikutnya lagi dia mampu membangun kios sendiri. Dalam waktu yang terbilang singkat dia menjadi makmur.

Begitulah Wahid memenuhi nubuat mitos Si Berak Berjalan. Ada yang bilang dia seorang pemberani dan gigih; ada yang bilang dia hanyalah yatim piatu dungu yang bernasib mujur.

Namun, apakah menjadi kaya memang tujuan Wahid ketika memburu hantu itu? Tentunya siapa pun memang akan senang bila menjadi kaya. Namun, bagi Wahid, sesungguhnya kekayaan adalah cita-cita nomor dua. Baginya, ada hal yang lebih membahagiakan daripada kekayaan. Sebagian dari kita mungkin juga sepakat dengannya. Yang sedang kita bicarakan kali ini adalah: cinta.

Dengan menjadi makmur, Wahid tak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga menolong orang yang selama ini dicintainya. Orang itu adalah Sahid, seorang pemuda dari desa tetangga yang kondisi hidupnya tak jauh beda dari Wahid. Sahid juga anak tunggal. Bedanya, Sahid masih memiliki ibu, sedangkan ayahnya mati saat menjadi Romusha—betul, oleh perlakuan penjajah yang suka mengejan itu. Mereka berdua kenal di pasar; ketika itu Wahid masih menjadi kuli panggul, sedangkan Sahid adalah penjual sayur ala kadar. Setelah sukses menjadi pedagang kain, Wahid menawari Sahid untuk bekerja padanya. Wahid meyakinkan bahwa upah bekerja di tempatnya akan lebih baik dibandingkan laba menjual sayur. Pada masa itu orang-orang masih gemar menanam sayuran dan tetanaman lainnya di pekarangan sendiri, sehingga tak terlalu bergantung pada pedagang sayur. Sedangkan para priyayi dan pejabat pribumi—di negara yang baru merdeka itu—sedang menemukan semangat baru dalam berbudaya, termasuk dalam berpenampilan, dan mereka menggemari batik. Dengan pertimbangan itu, Sahid pun setuju, demi nasib yang akan sedikit lebih baik.

untuk kisah lengkapnya, silakan baca di: http://ceritasolitude.blogspot.co.id/2015/12/sebuah-cerpen.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: