RSS

Sebuah dongeng

04 Mar

ELANG MUDA, dan GUNUNG YANG BERSERU!

Waktu tak pernah berhenti, Kawan. Ia sambung-menyambung. Direkam oleh dongeng-dongeng tua, lukisan-lukisan di gua yang dalam, aksara-aksara di atas rontal, foto-foto dari yang hitam putih hingga yang kaya warna, lalu bergerak di layar bioskop, televisi, komputer, dan sekarang menjelma pada layar kecil di tanganmu. Cerita-cerita menyeberang ke benak kita, berkecamuk lagi di dalam hati kita, meski masanya sudah jauh di belakang sana. Begitu pula kali ini, Kawan, cerita ini hadir dan mengajakmu meloncati waktu.

Tunda dulu kantuk dan laparmu, marilah bergabung ke tahun-tahun ketika lumbung-lumbung terbakar hangus oleh kobaran revolusi. Bahkan bantal dan tikar pun ikut menjadi tajam oleh gigitan kutu pinjal pengisap darah, juga oleh bau apak keringat perjuangan. Meski demikian, cita-cita dan untaian doa tetap tak padam—hanya itu yang bisa dilambungkan tinggi-tinggi, tentu, jauh melampaui cerobong-cerobong pabrik gula yang telah diduduki serdadu asing. Dua bulan sebelumnya para serdadu dari negeri bawah laut itu memang telah menyergap lagi, mencaplok negeri yang tiga setengah tahun sebelumnya sudah memproklamirkan kemerdekaan. Penjajah tak tahu malu! Mulut rakusnya telah ketagihan untuk terus mengisap—mengisap secara lebih keji dan lebih tamak.

Kota di cerita ini adalah sebuah kota kecil di timur Surakarta: Sragen, yang jantungnya ikut porak-poranda tatkala pasukan kolonialis Belanda datang menyerbu. Ya, Belanda telah bangkit kembali setelah sempat dikebiri oleh Jepang. Hari-hari para pribumi dilalui dalam amarah, sebab rakyat sudah kenyang oleh pahit-asam tiga setengah abad penjajahan. Kenyang itu berubah menjadi muak. Namun, tak semua amarah mampu ditembakkan dalam keberanian. Sebaliknya, tak sedikit yang terpaksa menyembunyikannya di balik ketundukan; para pribumi bekerja di kantor-kantor yang sudah dikuasai Belanda, mencelupkan wajah ke dalam air ludah demi mendapat nafkah. Nyatanya, dijajah memang bukan hal yang mengejutkan lagi di negeri ini. VOC, Inggris, Jepang, sudah khatam.

Lagi pula, orang-orang pribumi—yang dalam kisah ini diwakili oleh orang-orang Jawa—memang pandai menghibur diri. Di tengah penindasan pun masih mereka temukan kesenggangan untuk pergi ke arena judi di pasar; dadu, kartu, sabung ayam dan sebagainya. Jika uang habis dan tempayan kosong, mereka masih memiliki pepatah “mangan ra mangan, kumpul”.

Baiklah, tentu tak semua pribumi suka berjudi. Ada juga yang lebih suka mengisi kesenggangan dengan berkumpul di radio umum yang didirikan di sebuah kampung bernama Cantel, satu kilometer dari pabrik gula yang ada di pusat kota. Pesawat radio adalah barang mahal pada masa itu, sehingga hadirnya radio umum itu bisa menghibur rakyat—dengan siaran dari RRI Solo, entah itu berita, kethoprak, keroncong, atau klenengan. Sayangnya, itu adalah beberapa waktu lalu. Sejak serdadu Belanda menyerang lagi, radio umum pun lumpuh, sebab kota-kota besar yang memiliki stasiun radio banyak yang jatuh ke tangan Belanda. Kalaupun ada satu-dua penduduk yang memiliki pesawat radio, kini mereka pun tak akan berani menyalakannya, sebab suaranya akan memberi tanda kepada para maling dan garong bahwa ada rumah yang cocok untuk disatroni.

Kota telah senyap. Suara-suara hiburan rakyat telah lenyap. Kehidupan kembali pada suasana angker, seperti yang ada di dalam dongeng orang-orang tua Jawa: Genderuwo yang suka menyentil kemaluan orang yang buang hajat sembarangan; Wewe yang menggondol bocah ke atas pohon; Wedon yang suka meludahi orang hingga kulit melepuh. Tanah Jawa yang penuh hantu! Ah, mungkin daerah lain juga begitu.

Namun, Kawan, sesungguhnya peluru serdadu Belanda adalah kisah yang lebih mematikan. Mereka menggondol nyawa para pejuang, merenggut masa depan anak-anak yang menjadi yatim piatu karena perang, dan meludahi harga diri perempuan-perempuan pribumi yang mereka perkosa. Hanya sebagian orang yang berani melawan, yaitu para gerilyawan yang bersembunyi di desa-desa, di hutan-hutan angker di mana jin dan hantu-hantu rupanya tak lagi menakuti. Sebaliknya, hantu-hantu itu mungkin malah melindungi, dan mungkin juga bekerja sama untuk mengusir para penjajah yang sombong itu. Konon, para dedemit lebih suka bersahabat dengan manusia Jawa yang sopan dan rajin berbagi rejeki lewat sajen-sajen di bawah pohon besar. Atau, mungkin di daerah lain juga begitu?

Di Sragen yang kecil dan angker ini terdapat beberapa markas gerilyawan. Salah satunya adalah di sebuah desa di tapak kaki Gunung Lawu bagian utara, yaitu Desa Guworejo yang jaraknya tiga kilometer dari pusat kota. Ini adalah markas gerilyawan yang dipimpin oleh Letnan Priambodo, dan dari sinilah sesungguhnya dongeng ini dimulai.

Siang itu suasana di markas seketika tegang, karena baru datang sebuah laporan dari seorang perempuan muda yang sehari-hari menjadi juru ketik di kantor pabrik gula. Ketahuilah, pabrik gula itu adalah salah satu pos terbesar tentara Belanda, dan perempuan muda tadi membocorkan sebuah informasi kepada para gerilyawan.

“Lokasinya benar-benar sudah diketahui, Pak,” terang perempuan muda itu. “Saya mendengarkan percakapan mereka bahwa seorang pengkhianat perjuangan telah membocorkan lokasi pengungsian Kiai Menda di Jenawi.”

Raut muka Letnan Priambodo merah padam, geram. “Apa lagi yang kamu dengar, Sri? Adakah rencana dari Londo-Londo itu untuk melakukan operasi ke sana?”

Juru ketik yang juga informan gerilya bernama Sri itu mengangguk. “Berita baiknya, mereka tidak akan melakukan operasi hari ini. Tapi besok pagi. Berita buruknya, saya menangkap rencana mereka untuk berkoordinasi dengan Solo.”

Tangan Letnan Priambodo menggebrak meja. “Asu! Kalau benar, nasib markas di Jenawi bisa seperti markas di Tawang Mangu dulu, dibombardir dari udara! Besok pagi? Besok pagi itu singkat, Sri!”

“Saya rasa mereka sudah menyusun rencananya sejak beberapa hari kemarin, Pak. Tapi baru hari ini saya mengetahuinya,” jelas Sri, dengan raut menyesal bercampur dongkol karena tak bisa mengetahui situasi itu lebih dini.

“Tapi kita masih punya waktu untuk menyelamatkannya, Pak,” timpal Sersan Joko, di sebelah sang Letnan.

“Masih! Secepatnya kita utus orang untuk melaporkan situasi ini ke markas batalion di Karang Pandan,” tandas Letnan Priambodo. “Tapi yang tak kalah penting, kita juga harus mengabari markas di Jenawi supaya mereka bisa mempersiapkan diri sedini mungkin. Jika ternyata situasi semakin gawat, mereka sudah siap untuk menyelamatkan Kiai Menda.”

“Saya sanggup untuk ke Jenawi, Pak!” seorang laki-laki belia menyahut lantang. Seorang remaja.

Kerut dahi Sersan Joko meragu. “Kau baru dari Wonosido kemarin. Kau tak butuh istirahat, Paksi?”

Remaja bernama Paksi itu menyahut tanpa keraguan. “Satu malam sudah lebih dari cukup untuk istirahat, Pak. Saya sudah pernah ke Jenawi, saya hapal jalannya. Saya bisa ke sana secepatnya.”

Pak Pri—panggilan sang Letnan—bangkit berdiri dan kini sorot matanya tak menampakkan keraguan. Ia mendekat ke hadapan Paksi, menepuk-nepuk pundak remaja itu. “Kiai Menda adalah salah satu kunci penting perjuangan kita. Kita juga akan mengabari markas di Batu Jamus dan Bayanan agar siaga. Tapi, tugas ke markas di Jenawi kupercayakan kepadamu. Laksanakan tugasmu dengan baik!”

“Siap, Pak!”

Paksi. Dialah lakon di dongeng ini. Dia adalah seorang remaja yang bergabung dengan barisan tentara pelajar; seorang belia bermata sedikit sipit, tapi sorotnya setajam mata elang. Kulitnya tak mewarisi gelapnya kulit Jawa, ia sedikit lebih terang. Tidak tinggi, hanya sepundak rata-rata prajurit Belanda. Dengan perawakannya yang sedang itu, ia mampu bergerak setangkas seekor rusa. Tak berlama-lama, siang itu juga Paksi berangkat menjalankan tugasnya, menuju markas gerilyawan di Jenawi.

Ia berangkat sendiri mendahului utusan yang lain, karena ingin bisa sampai ke tujuan secepatnya. Dua puluh kilometer jarak yang harus dicapainya. Hanya dengan kaki untuk menempuh, kepala untuk menyimpan pesan, dan mulut untuk menyampaikan kepada yang seharusnya. Pastinya bukan kepada serdadu Belanda, meski mereka tak pernah segan untuk menyiksa sampai mati. Paksi tak gentar, walau tanpa senjata. Tugas seorang kurir memang bukan membunuhi musuh, tetapi tetap bisa menentukan menang-kalah sebuah peperangan.

untuk kisah selengkapnya, silakan baca di: http://ceritasolitude.blogspot.co.id/2016/01/sebuah-dongeng.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2016 in Cerpen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: