RSS

Audio Solitude

Audio Solitude?

Yup, sebuah halaman baru untuk blog ini. Berangkat dari aspek musikal yang sulit dipisahkan dari keseharianku (dan keseharian kamu juga, kurasa, walau mungkin selera kita berbeda), dimana musik merupakan teman setia yang tak pernah komplain ataupun curhat seakan pendengarnya adalah tempat sampah. Sebaliknya, musik adalah teman yang berbagi untuk menghias suasana jiwa, entah sedang sedih ataupun senang. Dengan melodi, ritme. Harmoni. Dan syair, kadang-kadang. Musik apa saja yang suka aku dengarkan, mungkin di sinilah aku perlu berbagi juga dengan kamu, kalian.🙂

Aku mulai menyukai musik dalam kronologis yang tak terlalu jelas di bagian awal. Tapi yang pasti, musik yang aku dengar mulai spesifik dan aku benar-benar memberi feedback kepada musik yang kudengarkan, itu dimulai pada waktu aku SMA. Tak perlu aku jelaskan apa alasannya kenapa aku tiba-tiba mengikuti musik, yaitu musik rock saat aku SMA. Karena di halaman ini aku tak akan bicara banyak soal rock. Tapi musik rock menjadi awal langkah yang penting, karena dari musik rock aku tahu betapa pentingnya pemujaan terhadap alat musik bernama: gitar.

Suatu ketika temanku (yang biasanya main musik rock) memainkan musik dengan gitarnya di hadapanku. Tapi bukan musik rock. Meski begitu, aku merasa sangat familiar dengan musik itu dan aku menyukainya. Dia hanya menyebut, ini lagunya Beethoven. Tapi dia tak tahu judulnya. Pulang dari rumah temanku, aku langsung menuju toko kaset. Aku langsung beli albumnya Beethoven. Kaset pita, bukan CD, buatan RCA Record. Di rumah aku putar, dan ternyata lagu yang dimainkan temanku tadi ada di album itu. Fur Elise, judulnya. Meski yang ada di kaset itu instrumennya bukan gitar, tapi piano, suaranya terdengar sangat memikat. Aku mulai merasakan sendiri, bahwa tak hanya gitar yang permainannya menyihir pendengaran. Tapi piano, biola, flute, menunjukkan sensasinya yang tak kalah hebat, dan itu sangat komplit di musik klasik! Ternyata hampir semua track di album itu aku merasa familiar. Yah, yang ini aku pernah dengar di iklan, yang itu aku pernah dengar di sebuah film, begitulah. Baru aku sadari lagu klasik ternyata ada dimana-mana tanpa kita kenal, dan tanpa sengaja kita menyimpannya di memori kita. Itu kurasakan sebagai sensasi! Sejak itu, aku jadi maniak lagu klasik! Aku jadi kolektor kaset pita lagu-lagu klasik. Dari Bach, Handel, Mozart, Vivaldi, Chopin, Beethoven, aku punya kaset-kasetnya. Masih aku simpan sampai sekarang, meski sudah sangat jarang kuputar secara sekarang jamannya CD dan Mp3, bukan kaset pita lagi.

Nah, musik klasik yang kudengar waktu itu sebagian besar adalah musik tanpa lagu. Dari penggemar rock, aku mulai berkembang menjadi pendengar musik instrumental pula. Dari vokal jerit-jerit, bergeser ke musik mendayu-dayu (meski sampai sekarang aku juga masih mendengarkan musik rock). Suatu ketika aku mulai menyadari bahwa musik yang ‘sejenis klasik’, yang instrumental, bukan hanya musik yang dibuat oleh komposer-komposer kuno itu. Ada komposer-komposer baru! Suatu ketika aku melihat ada iklan kaset (dulu kaset pita diiklanin di TV woy!) musik instrumental, dengan artis gondrong berkumis, bernama Yanni. Aku dengar sekilas musiknya bagus. Maka aku beli. Dan bisa ditebak, aku mulai menyukai musik Yanni ini. Bahkan VCD konsernya di Acropolis benar-benar membuka mataku, bahwa ternyata konser musik ‘sejenis klasik’ ini bisa sama gaharnya dengan konser musik rock!

Aku melihat iklan di TV lagi, tentang album musik (kaset pita lagi) kompilasi yang (tampaknya) berisi lagu-lagu instrumental. Judulnya ‘Inspirational Moments’. Aku tancap gas lagi ke toko kaset. Aku beli kaset itu! Ada fakta unik ketika aku membeli album yang satu ini. Sejak aku mengenal Yanni, aku tahu ada komposer lain yang musiknya ‘sejenis Yanni’, bernama Kitaro. Aku sering lihat kasetnya dipajang di banyak toko kaset. Dengar-dengar dia juga misisi instrumental. Tapi entah kenapa aku belum tertarik untuk membelinya.

Nah, saat aku membeli album ‘Inspirational Moments’ (sekitar tahun 2000), ada nama Kitaro di track nomor urut 2. Tapi di nomor urut 5, ada nama Yanni. Track nomor 1 adalah Enigma yang waktu itu musiknya masih belum nyantol di kepalaku. Terus terang, aku agak meremehkan waktu track mau menuju ke nomor 2. “Kayak apa sih musik Kitaro ini? Kok kata orang bagus? Masa sih bisa lebih bagus dari Yanni?” pikirku. Begitu track Kitaro berputar… My GOD! Isi kepalaku tiba-tiba seperti ditiup… syuttt! Dan memori bahwa Yanni lebih baik dari Kitaro, langsung hilang! Kitaro LEBIH HEBAT! Sekali dengar, aku langsung mengulangnya lagi sampai lebih dari dua kali! Seperti disihir, lagunya yang berjudul Silk Road itu adalah salah satu melodi terindah yang pernah aku dengar!

Lalu akhirnya aku melewati track nomor 3 dan 4. Mendekati track 5, Yanni, aku berpikir, “Hmm… Apa bisa menandingi Kitaro nih Yanni?” Dan… dueeengg… Saat track Yanni bermain, ternyata aku disihir lagi! Hatiku langsung direbut lagi dari persepsi bahwa Kitaro sudah mengalahkan Yanni. Belum! Ternyata Yanni yang selama ini aku puji-puji memang bukanlah musisi cemen! Sesaat aku meragukannya, dia langsung meyakinkanku lagi. Yanni dan Kitaro, keduanya adalah komposer kontemporer yang tak bisa kusangkal lagi. Dua-duanya hebat! Aku menyukai keduanya.

Ada banyak lagu bagus di album ‘Inspirational Moments’. Memang sensasinya tidak muncul bersamaan. Contohnya, ada artis di album itu yang aku sukai agak belakangan, dan anehnya aku menjadi fanatis juga terhadapnya. FYI, album ‘Inspirational Moments’ yang aku beli itu sebenarnya adalah volume 3. Itulah yang aku lihat di iklan. Dan karena aku merasa album ini bagus, maka aku memburu yang volume sebelumnya. Album ‘Inspirational Moments 2’ aku beli di toko kaset. ‘Inspirational Moments 1’ aku beli di kaki lima, barang sortiran tapi masih bersegel. Dari album-album kompilasi ini, selain Yanni dan Kitaro aku juga mulai mengenal group asal Norwegia, Secret Garden. Tracknya yang berjudul ‘Nocturne’ (ada di volume 2) sukses membuatku jatuh cinta dengan group ini! Aku memborong tiga albumnya, dan semuanya memuaskan! Aku ingat saat Josh Groban mencetak hit lewat lagu ‘You Raise Me Up’, euforianya sangat buset! Orang langsung banyak yang gandrung dengan lagu itu. Tapi, sebelum orang-orang gandrung dengan Josh Groban karena ‘You Raise Me Up’, aku justru merasa biasa saja. Karena jauh sebelum Josh Groban populer, aku sudah khatam menyanyikan ‘You Raise Me Up’. Lagu itu dibuat oleh duo Secret Garden, nongol di album ‘Once In Red Moon’ keluaran tahun 2002.

Dari album kompilasi ini, aku mulai mencari tahu tentang artis-artis yang ada di dalamnya. Akhirnya aku juga tercerahkan oleh nama sebuah genre musik. Genre musik yang diikuti Yanni, Kitaro, Enya, Enigma, Secret Garden, dkk. Genre bernama NEW AGE. Inilah yang dulu kusebut sebagai ‘sejenis klasik’, karena musiknya sering pakai orkestra. Usut-usut, ternyata genre new age sendiri punya banyak sub genre. Kitaro adalah Japanese New Age. Yanni Pop New Age. Enigma Trance/Ambient New Age. Secret Garden Celtic/Nordic New Age. Adiemus Chant/African New Age. Dan belakangan… aku juga mulai dapat referensi tentang sub genre Indonesian New Age, seperti Viky Sianipar, Krakatau, dan Sambasunda.

New Age sendiri akhirnya sering berbaur dengan konsep World Music. Bedanya, yang aku tahu, New Age lebih berorientasi pada eksperimental, eksplorasi elektronik, sentuhan etnik hanya dipakai sebagai pemerkaya. Sedangkan World Music lebih menitikberatkan pada konsep etnik, dan lebih bermisi pada promosi budaya etnik. Yanni, Sens, Enya, Enigma, Maksim, Vangelis, bisa dibilang menghasilkan musik New Age yang tak terlalu dilekati oleh sentuhan etnik, hanya kadang-kadang saja. Sedangkan nama-nama seperti Viky Sianipar, Lebo M, Clannad, sangat menonjol identitas etnik di musik yang mereka mainkan, jadi lebih dekat pada World Music.

Nah, artis yang sangat pandai membaurkan New Age dan World Music, adalah salah satu artis di list album ‘Inspirational Moments’ yang lagunya aku sukai agak belakangan. Setelah mulai merasakan hasrat untuk ‘move on’ dari Yanni dan Kitaro, aku mulai hijrah ke lagu-lagu milik Deep Forest. Di ‘Inspirational Moments’ aku mengenal superhit dari group asal Prancis ini, yaitu ‘Sweet Lullaby’. Awalnya aku merasa lagu ini biasa saja. Tapi lama-lama aku mulai suka. Dan belakangan aku baru tahu bahwa ternyata lagu ini punya banyak versi remix. Diam-diam, lagu ‘Sweet Lullaby’ ini sangat legendaris! Musik dari Deep Forest sendiri memiliki ciri khas unik, yaitu ethnic beat! Group ini suka membuat lagu-lagu bernuansa etnik tapi nge-beat. Peta referensi etniknya sangat masiv, dari Africa, Commoro Island, Hongarian Gypsi, Hawaii, Japanese, dan Sunda! Di bagian Sunda ini, ada di lagunya yang berjudul ‘Deep Blue Sea’ yang mana melibatkan Anggun sebagai vokalis. Saat aku bertanya ke Viky Sianipar lewat diskusi di forumnya, siapa saja artis yang telah memberinya pengaruh besar. Dia jawab, salah satunya adalah Deep Forest. Deep Forest punya lima album official, aku borong semuanya!

Sekarang aku masih dengar rock dan metal. Tapi sudah tak lagi fanatik seperti jaman SMA. Sekarang justru lebih sering bersentuhan dengan musik-musik yang aku kenal setelah rock itu. Klasik, New Age, World Music. Karena itu aku ingin berbagi di sini, tentang Klasik, tentang New Age, tentang World Music. Rock? Saat ini tak terpikir.🙂

Lewat halaman ini aku akan coba bagikan musik-musik yang aku sukai ini lewat slide video. Tapi aku akan buat cuplikannya saja. Bukan versi full, hanya supaya kalian bisa menilai saja apakah musik yang aku bagikan juga enak di telinga kalian. Karena aku tak mau blog ini dianggap mengajak pembacanya membajak musik. Jadi, kalau di telinga kalian enak, silakan cari sendiri versi full-nya. Yang pasti bukan di blog ini. Okey?🙂

Sebelum mengakhiri tulisan, mungkin perlu aku jelaskan satu hal lagi. Kenapa ‘Audio Solitude’? Anggap saja, inilah tentang dunia audio-ku. Atau… audio yang biasa menemaniku di saat nglangut, saat melamun, saat tiduran, saat jalan-jalan, saat bersepedaan… yang biasanya memang aku lakukan sendirian. Musik kesepian? Hehehe… Sendiri itu nggak selalu sepi lho!🙂

Salam!

😉

clip:


(Silk Road – Adagio In C Minor – Nocturne)

 

13 responses to “Audio Solitude

  1. herdana

    23 September 2012 at 00:23

    lebih dulu suka yanni ya Mas?, kebalikan ama aku, lebih duluan suka Kitaro daripada Yanni. kesemua dari Kitaro aku suka, ada semacam ciri khas juga dari kitaro, suara gemericik air sudah tentu Kitaro,suara angin sudah tentu karya Kitaro, dan dinamika suara rendah dan tinggi juga hampir selalu ada di musik Kitaro. Kalo Yanni paling suka yg judulnya Playing by Heart, never too late, sama Rainmaker. dulu sempat bikin karya tari sewaktu masih kuliah, memakai musik mereka berdua,hehehhehehehe.

     
    • noelapple

      23 September 2012 at 00:32

      Semua lagu Yanni yg kamu sebut itu dari album ‘Rites Of Passage’, album dimana Yanni mulai sedikit bereksperimen dengan konsep World Music. Nice album anyway. Tapi soal sentuhan etnik, belum ada yg mengalahkan Deep Forest. Menurutku.

       
      • herdana

        25 September 2012 at 01:53

        hehehehee.. kemaren sempat tanya teman waktu kuliah, musik apa yg pernah kami pakai waktu bikin karya bareng sewaktu kuliah. Ternyata dari Deep Forest, jiaaaahhh padahal punya album kopiannya, malah engga tahu kalo itu album deep forest. hehehe musik yg bernuansakan Thailand-Vietnam yg pernah kupakai dulu. bener kandamu kang Noel,lebih etnik Deep Forest, tp lebih merasuk ke jiwa kalo kitaro.

         
      • noelapple

        26 September 2012 at 00:34

        Lanjutkan!

         
  2. L.J

    23 September 2012 at 00:29

    cuman kenal ama kitaro n deep forest.. hehehe..
    Sempet kaget juga dulu nonton PV-nya Deep Blue Sea di MTV.. Acaranya Most Wanted tapi kok nyetel lagu Indo, hihi..

     
    • noelapple

      23 September 2012 at 00:52

      Tapi Deep Forest kan group asal Prancis. Anggun juga sudah jadi warga negara Prancis. Lagu Deep Blue Sea itu laku kok di luar sono.

       
  3. Louizio

    23 September 2012 at 00:35

    maaaaassss……. aku suka lagunya! <3……. Ini lagunya sering aku denger di Gramedia, hahahaha.
    Saat mendengar lagu Secret Garden di bagian akhir video, aku merasakan kesunyian, namun dibalut dengan semacam gairah yang aku gak bisa mendeskripsikannya. Apa nama perasaan ini ya?
    Oke, noted! makasih atas referensi artis-artisnya ya maas😀

     
    • noelapple

      23 September 2012 at 00:52

      Yang sering kamu dengar di Gramed yg mana?

       
      • Louizio

        23 September 2012 at 00:58

        Gramedia Semarang, Gramedia Jogja juga kayaknya, lupa aku. Tapi kayaknya cuman diputerin pas tahun-tahun lalu gitu, mas :s

         
      • noelapple

        23 September 2012 at 01:01

        maksudku yg lagunya siapa? Secret Garden? atau

         
  4. Louizio

    23 September 2012 at 01:19

    yang Secret Garden dan Kitaro

     
  5. t.prasetyo

    23 September 2012 at 08:35

    yg dulu pertama pernah gw denger kitaro mas…
    yg silk road…
    antara yanni n kitaro menurut gw kok lbh unik kitaro ya…
    coz dia memasukkan unsur2 suara alam yg sering kita denger dlm musik2nya… dengerin kitaro itu serasa menyatu dgn alam…
    kayanya emang japanese new age emang diwarnai oleh filosofi Zen jg ya..?
    klo yanni emang gw baru tau jauh setelah gw favoritin kitaro.

    btw kalo kuartet gesek kaya Bond itu masuknya classic apa new age ya…?

     
    • noelapple

      24 September 2012 at 12:29

      Bond, Yanni, Vanessa Mae, Sens, Maksim, masuknya di Clssical Contemporer, bisa juga Pop New Age.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: