RSS

11/01/15 – Grup (dan film) ‘Cowok Rasa Apel’

 
 

Ada sebuah grup di Facebook yang namanya menyitir judul salah satu cerita buatan saya. Nama grup itu adalah ‘Cowok Rasa Apel’, berisi para pembaca dengan berbagai tujuan yang kaitannya tidak jauh-jauh dari cerita buatan saya itu. Ada yang ingin sekadar saling kenal dengan pembaca lainnya, kemudian membicarakan isi cerita ‘Cowok Rasa Apel’ (sekaligus menggosip tentang penulisnya), memperkenalkan gambar-gambar ilustrasi versi mereka, dan… pada saat-saat tertentu menggunakan grup itu untuk berbagi password demi bisa membaca bab-bab yang sengaja saya segel.

 

Sudah lama saya memantau grup ini, dari saat jumlah anggotanya baru puluhan hingga kini menjadi ratusan. Saya kadang tertawa sendiri memantau celoteh mereka. Terlebih ketika di grup itu mereka menggosipkan bahwa saya adalah seorang ayah yang telah memiliki seorang anak. Kadang saya merasa jengkel juga. Namun saya tak sampai hati untuk melarang-larang. Saya ambil sisi positifnya saja; saya senang melihat para pembaca cerita saya dapat saling kenal dan ber-‘masyarakat’ di dunia maya.

 

Ada nuansa narsistik di ulasan saya ini? Jelas. Saya memang sedang ingin mengekspresikan lagi ‘Ajian Membesarkan Kepala’ yang sudah lama tak saya amalkan. Terus terang isu terbaru yang dicelotehkan di grup itu memang telah memancing kembali kesombongan saya. Yaitu isu tentang apabila cerbung ‘Cowok Rasa Apel’ diangkat menjadi film layar lebar. Hampir tembus seratus komentar yang mengekor di kolom pengangkat isu itu. Dari membahas calon pemainnya hingga calon sutradaranya.

 

Saya, sebetulnya, lebih condong sebagai seorang penikmat film daripada penikmat buku (novel). Saya lebih tahu soal film dibandingkan soal buku. Saya tahu siapa-siapa sutradara Indonesia yang baik dan yang buruk. Ketika ada pembaca yang menginginkan ‘Cowok Rasa Apel’ diangkat sebagai film, dengan penegasan ‘yang penting dibuat film’, saya agak merinding–oleh dua hal. Yang pertama, kerinduan pembaca akan hadirnya film ‘Cowok Rasa Apel’ membuat saya haru; kedua, penegasan ‘yang penting dibuat film’ secara logis memberi implikasi bahwa siapapun sutradaranya tidak masalah. Sebagai penikmat film, jujur saja, saya tidak yakin akan menonton film ‘Cowok Rasa Apel’ jika sutradaranya adalah KK Dheeraj. Namun, mengingat untuk membuat film tersebut tentunya harus dengan persetujuan saya terlebih dahulu–yaaa, sebetulnya tak akan mungkin film ‘Cowok Rasa Apel’ dibikin oleh KK Dheeraj, sebab saya tak mungkin mengijinkannya. Jelasnya, lebih baik tak ada film ‘Cowok Rasa Apel’ jika sutradaranya tidak bermutu.

 

Saya bersyukur, di antara para pembaca yang sedang merumpi soal film ‘Cowok Rasa Apel’ itu ada yang pemikirannya sejalur dengan saya. Mereka yang sejalur dengan saya ini tak setuju jika sutradaranya sembarangan. Mereka lantas saling melempar ide siapa sutradara yang cocok menurut mereka. Saya senang ketika ada yang menyebut nama Mira Lesmana dan Riri Riza, meskipun menurut saya tak ada yang lebih tepat selain Joko Anwar.

 

Mereka juga menggunjingkan siapa pemeran yang cocok. Saya senang ketika ada yang menyebut nama Rasya untuk memerankan Dimas/Denis, meskipun bagi saya itu terlalu cakep untuk memvisualkan sosok Si Kembar. Dalam pikiran saya, Dimas/Denis tidak secakep itu, sebab jika secakep anak Tamara Blezinsky maka merekalah yang sepatutnya menjadi idola di sekolah mereka–bukan Erik. Ada yang menyebut Aliando untuk memerankan Fandy, saya merengut. Ada yang menyebut Stefan William untuk memerankan Fandy, saya berbunga-bunga. Ada yang menyebut nama Verrel untuk memerankan Erik; oke, sebetulnya itu pilihan yang baik sebab secara fisik Verrel memang cukup merepresentasikan Erik, hanya saja saya tak suka pada bintang iklan minuman suplemen itu. Erik adalah karakter yang saya sendiri suka, saya ingin ia diperankan oleh aktor yang saya juga suka.

 

Jadi, saya harus ikut menentukan para pemeran film ‘Cowok Rasa Apel’ ini? Oh, jelas! Maka, sesungguhnya, saya lebih setuju jika para pemeran film ini adalah hasil audisi dengan peserta yang belum menjamah popularitas. Singkatnya: aktor-aktris yang benar-benar baru. Saya senang sekali juga, ketika ada pembaca yang lagi-lagi sejalur dengan pemikiran saya: Audisi Pemeran ‘Cowok Rasa Apel: The Movie’! Saya akan menjadi salah satu penyeleksi, dan sudah pasti saya akan sangat ketat dalam memilih. Tak hanya menimbang kemampuan akting, saya juga akan menimbang aspek kemiripan dengan sangat detail. Misalnya, Denis punya lesung pipit, maka pemerannya juga harus memiliki lekuk itu. Fandy tak terlalu berbulu, untuk itu saya tak akan menerima peserta audisi yang terlalu berbulu untuk peran Fandy–modus yang asyik sekali. Hehehe, bercanda kok.

 

Untuk tiket filmnya nanti, adakah bagi-bagi tiket gratis? Untuk sepuluh pembeli pertama novel saya mungkin? Tidak usah. Bagaimana dengan pembaca yang telah melemparkan ide pembuatan film ini, bukankah perlu diberi tiket gratis? Tidak usah juga. Sombong kalau tidak sekalian pelit, kurang seru. Pembaca sudah selayaknya menghibur saya, sebab saya lebih dulu menghibur mereka dengan cerita saya.

 

Ya, lebih baik mereka berceletuk apa saja yang bagus dan menghibur, daripada memplagiat, menyalin lalu menempel cerita saya di blog lain secara tanpa ijin, apalagi mengganti judulnya dengan versinya sendiri dan mengakui sebagai hasil karyanya. Jika memang belum mahir menulis cerita, memang tak perlu memaksakan diri. Tulis saja rumpian ngalor-ngidul sekenanya; tak kenal alur atau skenario, tetapi mampu menghibur dan memancing daya imajinasi serta inspirasi, itu jauh lebih baik daripada plagiat sebagus apapun. Sebab, sesungguhnya, memang tidak semua orang ditujukan untuk pandai menulis cerita. Meski tak dapat menjadi penulis cerita, seseorang tetap dapat menjadi pemberi inspirasi bagi orang lain–juga memberi bahan untuk tersenyum.

 

Begitulah saya mengapresiasi obrolan para penghuni grup ‘Cowok Rasa Apel’, yang sudah cukup menghibur saya. Dengan menyimpan kembali ‘Ajian Membesarkan Kepala’, di paragraf terakhir ini saya akan berganti mengamalkan ‘Ajian Merendahkan Diri’, melalui pesan ini: Kesempurnaan adalah milik Tuhan semata, sedangkan saya hanya manusia biasa yang sedang belajar, dan masih banyak salah; maafkan apabila saya pernah sombong atas karya-karya yang masih banyak kurangnya ini. Kepada para penghuni grup ‘Cowok Rasa Apel’, teruskanlah setiap tujuan baik kalian di grup itu–ataupun di luar grup itu–dan… jangan nakal! Sekian.

 
 
 

 

20 responses to “11/01/15 – Grup (dan film) ‘Cowok Rasa Apel’

  1. Yusro

    12 Januari 2015 at 06:08

    Sangat setuju kalau diangkat menjadi film bang

     
  2. Leo

    12 Januari 2015 at 09:44

    kalau CRA di filmkan Aku setuju pake audisi untuk para pemerannya. Agar natural, seperti film laskar pelangi, pemerannya juga adalah anak2 yang tinggal disana, biar benar2 menjiwai karakter cerita itu sendiri, nggak kebayang pemeran laskar pelangi Esa Sigit dkk? Ouch, ada juga yg ngasih usul Esa Sigit jadi Fandy, menurut ku dia lebih mirip karakter Dimas, kalau masalah terlalu cakep, nggak masalah hahahaha. Bagus kk Noel yg usul Audisi Pemeran ‘Cowok Rasa Apel, bisa di cari yang sekelas sama pemainnya, di Indonesia banyak juga anak2 SMA yg bisa akting, tampang lumayan, kan agak aneh juga klw liat Film2 Indonesia, Rafi Ahmad, Ricky Harun masih dikasih baju SMA, Semoga aja terlaksana Filmnya, Amin.

     
  3. ark

    12 Januari 2015 at 14:31

    semoga bisa ketularan ajian yang terakhir. yang ajian awal itu, besok-besok aja kalo ada yang disongongin.

    aku minta maap ya mas, banyakan tulisan mas cuma aku baca, setelah itu close tanpa ninggalin jejak. mungkin lain cerita kalo permintaan pertemanan di fb dikonfirm. *loh kok* enggak.

    ga ada maksud ngrendahin nih, karyanya mas kan ga tiap hari aku cek. mungkin kalo stalking twitternya mas ada isu tanggal sekian keranjang ini udah bisa dibaca, baru deh tanggal itu + satu hari ngecek. kenapa ga komen? malu.

    soal cra dibuat film, dukung dong. karena aku tipenya manja, jadi ya ga ikut pusing mau disutradarai siapa, diperanin siapa, itu haknya yang bikin. kan ceritanya penikmat, kalo ga nikmat palingan ngomel di fb atau twitter atau dimana gitu.

    nah salah satu yang aku suka dari mas ini realis. kan banyak tuh penulis, yang di blog, yang di buku tapi patungan (namanya apa yak? cie akuarel), yang dibukukan atas nama sendiri (cie cowok rasa apel), yang dibikin film (cie madre. eh, bukan ya. -_-), dan yang yang yang lain. dan masing-masing kan punya keinginan yang lebih. ga sedikit juga loh temennya temenku yang pada ngefans sama penulis X yang pengen lihat apa yang dibaca di internet dibaca di buku cetak, atau malah diperanin manusia beneran.

    tapi, tetep semangat ya buat mas. semangat berkarya.
    maap lagi.

     
  4. Celine Dion

    12 Januari 2015 at 17:00

    Aku suka banget cerita ini. Tapi, jujur, menurutku, lebih bagusan heartbreak ricky.😦 kenapa gak dilanjut? Menurutku cowok rasa apel lebih cocok dibuat sinetron. Kalo heartbreak ricky, itu menurutku, kayak ada apa dengan cinta, titanic, brokeback mountain, film yg bisa bikin terbawa bawa penontonnya sampe rumah, pengen cek ini itunya, jadi BIG gitu. Kalau cowok rasa apel, menurutku, kalo film ya kayak, Shelter tahun 2007, bagus simple sweet, tapi kayak film2 bagus lain yg udah bagus, ganti cari yg lain. mending sifat2, quote2, dan keunikkan2 cra yg ditaruh ke hbr. Kalau heartbreak ricky, itu yg video youtube lagu apa kak? jawab jawab jawab
    Aku sih pengen soundtracknya irish2 ala2 titanic (tapi yg gak terlalu slow, contoh lagu celine dion je lui dirai), juga kayak instrumen2 di brokeback mountain. Aktornya Al ghazali sebagai ricky, terus dika rizky nazar, cewek2nya ratu2 alay yg cocok nikita willy, tatjana, ariel tatum, sama dea imut😀 .
    Soundtracknya juga banyak2 model2 lagu2 celine dion kak, bukan yg hits, tapi yg unknown, banyak banget di 30albumnya.
    Sutradara joko anwar, atau riri (doyan banget bikin film tema gini kan).
    Kalo boleh sih ikutan bikin skenarionya (saya punya cerita sendiri si kak, ada yg cinta segitiga cowok bisu polos unyu sama cerewet kocak sama super cool introvert, ada juga horror adaptasi kisah nyata ilmu sihir mulan dhani maia, bisa digabung) sama pemainnya😀 sama costumnya sama bikin lagunya sama kameranya (format 3d 360derajat film, i can)
    sebenernya aku suka banget cara penulisan kak noel, dan aku yg bilang kak noel punya anak😀

     
  5. Aaron Steve

    13 Januari 2015 at 18:27

    Ikutan audisi donk
    Pengen jadi Dika saja hahahaha
    #berkhayaltingkatdewa

     
  6. emyu

    16 Januari 2015 at 13:19

    wow. boleh nih ikut audisi jadi si kembar. btw, itu yang punya lesung pipi cuma Denis, ya? trus kalo beneran jadi film, apakah pemeran Dimas-Denis satu orang? atau dua orang yang berbeda bukan saudara kembar tapi mirip? atau bener-bener dicari yang saudara kembar dengan salah satunya berlesung pipi?

     
    • noelapple

      20 Januari 2015 at 14:17

      Lebih asyik kalau dua orang yg berbeda tetapi mirip. Akan lebih interaktif, dan chemistry-nya lebih hidup karena interaksinya secara ‘live’, bukan manipulasi digital.

       
      • emyu

        27 Januari 2015 at 07:00

        wah.. berarti bener-bener-bener harus dicari, ya itu
        ikutan ah kalo beneran ada. jadi Dimas tapi *tambal lesung pipi* #eh xDa

         
  7. sid80

    18 Januari 2015 at 12:19

    numpang kasih catatan kak noel.
    1.sikembar jg cakep spt erik lho..buktinya denis pacaran dng cewek idola sekolah.dan dimas jg
    bikin kakak klas ceweknya patah hati pas dia ktahuan gay.itu bukti mereka jg keren loh..mungkin erik lbih eksis aja di skolah dibanding si kembar
    2.klau bikin film sikembar pemainnya gg pantas kyak dicky smash,aliando atau bintang film top lainya…CRA tuh menangnya di karakter yg kuat bukan phisik…bagusnya di audisi dari pelajar smu biar natural dan fresh….memang benar sih dari segi pengambaran dan karakter agak mirip aliando syarih yg tengil,jahil,pintar gitar dan jago beladiri ….

     
    • noelapple

      20 Januari 2015 at 14:15

      1. Ketika Leah menerima Denis jd pacarnya, tak ada deskripsi bahwa Leah menerimanya karena tampan. Leah lbh terpikat pada karakter Denis yg lucu dan pede aja.

      2. Dimas/Denis tidak mirip Aliando. Tak bermaksud SARA, tetapi dengan deskripsi bhw Dimas/Denis berdarah Jawa-Menado(plus Sunda), tentunya Aliando yg berdarah Arab tidak representatif.

       
  8. kazekage

    19 Januari 2015 at 07:46

    Knp ga hanung bramantyo? Kalo ga nia dinata. Menurutku cowok rasa apel tuh butuh drama yg dalam, dengan dialog2 yang mantep sampe nusuk. Hanung jago tuh bikin film yang dialognya bagus. Setauku drama2 yang bagus ya hanung jagonya. . Atau ngga nia dinata, selain film nya bagus2, juga dia itu fujoshi kalo ga salah. Pasti keren tuh filmnya. Atau ngga rudi soejarwo, filmnya natural, cowok rasa apel juga kan alur ceritanya natural. Aku kurang suka joko anwar. Sedikit terlalu dibuat2 kalo bikin film. Hehe

     
    • noelapple

      20 Januari 2015 at 14:10

      Dalam catatan saya, film terbaik dari Hanung adl Catatan Akhir Sekolah. Yang lain medioker aja. Saya tak yakin dia sutradara yg cocok, apalagi utk tema gay. Film terbaik Rudi Soejarwo jg cuma AADC, yg lain tidak menarik bahkan sinematografinya sering lemah. Nia Dinata bagus, beliau brilian, tapi setahu saya beliau lebih fokus pada film bertema feminis. Joko Anwar, dari Janji Joni dan Kala, saya menilai dia punya sentuhan artistik yg tinggi, sense of humor yg kuat, dan mampu mengatur alur cerita secara rapi. Joko Anwar jg terbukti mampu membahasakan skenario dengan penuh twist. Saya tak terlalu suka dgn Modus Anomali, tetapi Janji Joni dan Kala bagi saya adl dua film terbaik yg pernah dibuat oleh sineas Indonesia pasca tahun 2000.

       
      • kazekage

        21 Januari 2015 at 11:39

        Ohh iya deh Janji Joni. Keren, hahaaa. Modus Anomalia itu bukannya ga bagus, cuma menurutku terlalu lebay aja, terlalu kebarat2an. Aku kurang suka. Semua jga film kebarat2an, tp ini terlalu condong kesana. Film drama aku tetep megang Hanung sih, sama nia dinata, atau Riri riza. Khususnya hanung, ga cuma dialognya, Hanung bisa bikin drama yang mainstream, dengan cerita yg rumit tapi alurnya nyambung dan jelas. Aku suka karena dengan cerita yg rumit, maksud dari ceritanya berikut semua rasa yang mau disampein dr sutradaranya sampe kepenontonnya. Walaupun aku ga tau CRA bakal bagus atau ngga jika dimasukin gaya filmnya hanung.
        Tetep lebih cocok nia dinata deh, atau Riri riza. Lebih bagus lagi kalo Film sama novel nya itu mirip. Ga ada yang dipotong2. Semua cerita yang ada dimasukin ke film.. Itu baru seru, ga kayak yang lain2nya.

         
  9. Androgenic

    19 Januari 2015 at 13:03

    Sblm ini, sambil ngikutin CRA.. smpt kebayang jg cerita ini masuk bioskop.
    Sambil ngebayangin jg waktu beli tiketnya, masuk studionya.. kira2 spt apa penonton2nya.
    1. Cowo sendirian : udah pasti gay.
    2. Cowo berdua : couple
    3. Cowo rame2 : gank maho
    4. Cewe sendirian : mgkn slh 1 pembaca setia disini, mgkn tertarik judulnya, atau mgkn mmg tertarik genre ini karena…
    5. Cewe berdua : bisa tmn akrab di sekolah, bisa couple
    6. Cowo cewe berdua : couple atau ‘couple’ (sm2 gay)😀
    Dst..
    Hahhaha.. itu prediksi konyol saya sendiri aja wkt ngebayangin #GayThink.
    Stlg bayangin itu, Skrg jd berpikir, gmn caranya cowo gay yg pgn ntn CRA tanpa ‘coming out’.. hoalah..
    Hahaha…

    Yg pst saya bakal jd slh 1 cewek yg jd penonton di hari pertama atau kedua klo CRA tayang di bioskop :*

     
  10. Ari

    5 April 2015 at 10:42

    Kalau produser film “3 Hari Untuk Selamanya” siapa ya . .itu film kece abis . .ngalir

     
  11. ozzhtmin

    14 April 2015 at 16:50

    Menurut bang Noel apa CRA dapat di terima dengan baik di Indonesia? Ceritanya bagus, alurnya asik, dan semuanya berjalan dengan lembut, tapi Indonesia belum terbiasa dengan film-film yg bertema LBGT kan? Apa itu tetap memungkinkan film ini dapat di terima dengan bijak di Indonesia?

    Trims.

     
    • noelapple

      16 Mei 2015 at 14:29

      Film LGBT di Indonesia sudah cukup banyak kok.

       
  12. TitikMerah

    25 Mei 2015 at 09:27

    setuju pakek banget Lά̲̣̣̣̥ªªàáh kalo di angkat jd film ..
    walaupum pastii akan ada pro dan kontra..
    biasalah indonesia …
    hehehehe

     
  13. Gading

    15 Januari 2016 at 01:42

    Sepertinya saya sudah pernah komentar agar dijadikan film saja, dan mas noel membalas komen saya , dan sekarang akhirnya kejadian juga mau djadikan film😀, tp kalo bener dijadikan film dan mengikuti alur novel, set lokasi yang berada di novel kan banyak mas, seperti di bali,ubud, manahan, sragen, belum juga pemeran pembantu lainya seperti ortu dimas denis, mbok marni, mas awan, bu kamti, pak solikhul, bang togar, dll. Jdi sepertinya proses nya akan lama ya mas? Kalo masalah pemeran si kembar kenapa nggak rizkiridho aja mas? Tau kan mas? Bhaak .:D, (celetuk) terlintas aja difikiran kalo yang kembar2

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: