RSS

Sebuah ulasan film (SPOILER)….

 

Dawn of Justice : Megah, Dramatis, Tanpa Bobot

 
 

Nama Zack Snyder pada masa-masa awal debut penyutradaraannya adalah sebuah jaminan mutu. “Dawn of the Dead” dan “300” adalah karya yang gemilang. Sayang, dua karyanya yang kental dengan elemen visual stylist itu sepertinya menggodanya untuk semakin mengeksploitasi visual, hingga akhirnya membuatnya lupa betapa penting peranan plot dalam sebuah cerita. “Watchmen”, “Sucker Punch”, “Man of Steel” dan yang terkini adalah “Batman vs. Superman: Dawn of Justice” menjadi bukti proses pendangkalan cerita pada film-film Zack.

Dawn of Justice” membangun premisnya melalui trauma Bruce Wayne terhadap kematian orang-orang yang dicintainya; dimulai dari kematian kedua orang tua, hingga kemudian para staf yang berkerja di bawah payung perusahaannya. Dia melihat duel antara Superman melawan Zod membawa implikasi tak hanya menyelamatkan bumi, tapi juga menyeret beberapa (baca: banyak) tumbal manusia akibat kekuatan para makhluk Kripton itu. Bruce melihat bahwa kekuatan Superman terlampau besar dan tak ada jaminan kekuatan itu bisa selalu dikendalikan. Terlebih lagi faktanya kekuatan yang dimiliki Superman, meski secara tak sengaja, ikut andil dalam peristiwa masif yang menewaskan banyak orang. Bruce geram, lalu beritikad memusnahkan kekuatan Superman. Premis ini sangat jelas: Bruce ingin melenyapkan Superman.

Sebenarnya menarik bahwa niat Bruce Wayne melenyapkan Superman bukan serta-merta menjadi suatu niat jahat. Ingat, Bruce Wayne adalah Batman. Batman adalah pembela kebenaran, bahkan demi menegakkan kebenaran itu dia selalu berusaha melumpuhkan para penjahat tanpa harus membuat mereka terbunuh. Di balik kostumnya yang seram dan kemampuannya yang sebenarnya bisa sangat mematikan bagi siapa pun, Batman percaya pada penegakan kebenaran melalui cara yang terkendali. Maka dia berusaha menghentikan Superman, yang kekuatannya berpotensi “menggila”. Bagi saya ini premis yang sangat menarik. Namun sayang sekali eksekusi yang dilakukan Zack Snyder justru menghasilkan terlalu banyak lubang, hingga premis itu tak terkembang secara cantik. Tak secantik elemen visual dari film ini—ya, inilah kelebihan sekaligus kelemahan sang sutradara: terlalu visual.

Dalam durasi 2,5 jam—yang mana terbilang panjang untuk sebuah film—Zack terlalu banyak menghadirkan adegan tak penting. Dan ironisnya adegan tak penting itu seringkali memakai ritme yang lamban, hampir slow motion. Ya, slow motion juga menjadi salah satu ciri khas Zack Snyder. Adegan Clark Kent mimpi naik gunung dan bertemu ayah angkatnya, misalnya (atau bisa jadi sebetulnya bukan mimpi, melainkan halusinasi). Bruce Wayne mimpi dikeroyok pasukan Superman, misalnya. Pentingkah mimpi semacam itu? Oke, mimpi itu memang ada artinya; mimpi Clark Kent mengembalikan motivasinya untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, sedangkan mimpi Bruce Wayne menggambarkan rasa takutnya terhadap potensi Superman menjadi tiran di bumi. Namun mengapa film ber-genre aksi kelam dan tanpa humor sedikit pun ini sibuk mempertebal pesan cerita dengan mimpi-mimpi? Oke, siapa pun bisa bermimpi, tapi ayolah, cerita superhero ini boleh saja diambil dari komik anak/remaja, tetapi sudah jelas bahwa genre yang diambil oleh filmnya bukanlah “segala umur”. Ini film dewasa. Film yang kelam. Elemen visualnya juga menunjukkan warna kelam itu. Tidak keren kalau superhero-superhero yang berkelahi secara brutal ini ternyata begitu lugunya ditimpa mimpi-mimpi. Tidak matching dengan jiwa film itu sendiri. Terlalu unyu.

Selain adegan mimpi atau halusinasi yang bagi saya tak penting, “Dawn of Justice” juga menggelar adegan-adegan realistik yang sama mengganggunya. Mengganggu bukan karena adegan itu tidak penting, tapi karena berjalan terlalu lamban. Terlalu banyak bicara, tetapi pembicaraan yang dimuat seringkali tidak efektif. Terlalu bermaksud sophisticated, tetapi lupa bahwa ini adalah film, bukan novel. Di novel, kita bisa membaca ulang dialog atau narasi yang rumit supaya lebih paham. Tapi di film, belum selesai kita mencerna dialog yang barusan, dialog yang lain sudah menyusul. Tak bisa disetop, kecuali kita nonton di DVD player. Dialog yang berat sah-sah saja di film, tapi semestinya disajikan dalam ritme yang mendukung. Dan, dialog yang berat itu jangan terlalu semu juga. Bukan terpukau pada dialog yang “cerdas”, tapi jadinya malah ngantuk. Sebagai contoh adalah dialog antara Lex Luthor dan Senator Finch. Semu dan mbulet. Padahal maksudnya sangat sederhana. Intinya Lex Luthor menjebak Superman agar seolah-olah menjadi ancaman bagi umat manusia—khususnya di mata Batman. Se-simple itu. Tapi untuk memahaminya harus lewat dialog dan adegan yang bertele-tele. Boring.

Saking sibuknya menjelimetkan diri, lupalah menuntup lubang-lubang cerita. Peristiwa reportase Lois Lane dan aksi Superman di Afrika, kronologis uang santunan staf Bruce Wayne yang jadi “pengantin”, bagaimana Bruce Wayne berhasil membuntuti Wonder Woman, mengapa Superman tiba-tiba menghadang saat Batman melacak penyelundupan Kriptonit—dan banyak lagi lubang yang tak tertutup dengan rapi di film ini. Bahkan motivasi Lex Luthor pun absurd sekali; ia sudah memiliki adegan (baca: kesempatan) untuk menjelaskan motivasinya pada Superman, tapi lagi-lagi film ini terlalu ingin menjadi sophisticated, hasilnya malah kabur. Superman cuma menyimpulkan satu hal untuk Lex Luthor: psikopat. Tapi, hei, Joker juga psikopat, dan di “The Dark Knight” ia bisa menjelaskan motivasinya pada Batman secara lugas dan terang. Mengapa “Dawn of Justice” tidak? Oke, seharusnya Christoper Nolan memang jangan hanya jadi produser di sini, tapi penulis skenarionya juga—dan sutradaranya sekalian, mungkin?

Dari segi penokohan, sudah lumayan pas, sih. Pastinya yang paling memikat adalah Gal Gadot sebagai Wonder Woman. Cantiknya tak berlebihan, tapi karismanya pas. Desain kostum dan senjatanya keren! Henry Cavill seperti di film yang sebelumnya, terlalu serius dan kelam. Secara persona dia cocok sebagai Superman, tapi kurang pas sebagai Clark Kent. Sebagai Clark Kent seharusnya dia bisa memberi sentuhan yang lebih charming, manusiawi, meski situasi dalam film ini memang dilematis. Batman yang lebih kelam saja bisa menjadi sedikit humoris dan perayu ketika tampil sebagai Bruce Wayne. Ben Affleck menurut saya memang pas untuk menghadirkan sosok Bruce Wayne yang sudah mulai tua dan lebih rapuh untuk tetap berpolah sebagai superhero.

Ya, di saat penokohan mereka sudah cukup pas, sialnya Zack Snyder kurang memberi sentuhan humor untuk karakter mereka. Zack berhasil membuat film ini kelam, tapi bukankah sebetulnya yang kelam pun bisa dikemas secara segar? Lagi-lagi “The Dark Knight” contohnya; kurang kelam apa sosok Joker, tapi dia bisa bertingkah lucu juga dalam gesture yang natural—salut untuk mendiang Heath Ledger! Jesse Eisenberg menurut saya juga sudah pas sebagai Lex Luthor: eksentrik, cerdas dan “sakit”—sangat potensial untuk menghadirkan sentuhan humor melalui peran ini. Tapi sayangnya sentuhan humor yang dia berikan tak ada yang berhasil. Lagi-lagi termakan oleh “keinginan terdengar cerdas”, sophisticated, jadinya malah luput. Zack Snyder kurang berhasil mengarahkan? Atau kurang berhasil menerjemahkan skenario? Mungkin dua-duanya. Ah, entahlah.

Ada keluputan lainnya di film ini, entah salah sutradara ataukah sejak semula skenarionya memang bermasalah. Kali ini menyangkut prinsip karakter Batman yang selama ini dikenal sebagai “penegak kebenaran tanpa membunuh”. Di “Dawn of Justice” bisa dilihat aksi Batman tebar peluru dan hajaran maut! Bahkan ketika dia berhadapan dengan Superman, tampak sekali ia amat bernafsu membunuh Si Manusia Super. Wow, ke manakah sosok yang anti membunuh itu? Atau sayakah yang terlalu naif menuntut Zack Snyder harus sama dengan Christoper Nolan—menghadirkan Batman yang pantang membunuh? Namun dalam pandangan saya memang Zack Snyder terlalu “haus darah” sejak dulu—kecuali di film “Legend of the Guardians” tentunya. Pertarungan antara Batman dan Superman sungguh brutal di sini. Di satu sisi memang asyik bisa melihat Si Manusia Super ternyata memiliki keterbatasan juga begitu menghadapi Si Ninja Kelelawar—penggemar Batman pasti puas sekali melihatnya. Namun di saat yang sama eksekusi ini justru mereduksi jiwa asli sang superhero. “Dawn of Justice” merusak sisi simpatik dalam diri Batman—ini akan sangat mengesalkan bagi penggemar Batman.

Setelah penyajian karakter yang melenceng dalam duel akbar, saya kembali merasa zonk saat mendapati begitu mudahnya motivasi Batman untuk membunuh Superman lenyap. Sejak semula premisnya jelas: Batman ingin membunuh Superman karena menganggapnya ancaman bagi bumi; tapi saat tinggal sedetik saja bagi Batman untuk melunasi nyawa Superman, tiba-tiba semua motivasinya sirna hanya karena Superman memohon agar nyawa ibunya diselamatkan. Oke, sebagai seorang penegak kebenaran tentu sah dong kalau Batman ingin menyelamatkan ibu siapa pun, tapi yang mengganjal adalah: mengapa tiba-tiba dia langsung lupa dengan motivasinya yang sebelumnya demikian menggebu? Oke, bisa jadi karena nama ibu Superman dan ibu Batman ternyata sama (Wow?!), dan Batman melihat pada diri Superman rasa kehilangan yang sama dengan kehilangannya akan sosok seorang ibu. Simpati muncul. Boleh saja, sih, cuma… mengapa setelahnya jalan cerita harus menjadi amnesia terhadap premisnya? Seolah-olah jalan adegannya begini:

 

Batman: “Aku bunuh kau, Man! Kau ancaman bagi bumi dan umat manusia!”

Superman: “Tolong, Kakak, selamatkan Martha!”

Batman: “Bah, kenapa kau sebut nama ibuku?!”

Lois datang: “Martha itu nama ibunya Superman, Kakak!”

Batman, dalam hati: “Lho, kok sama dengan nama ibuku?”

Superman: “Dia diculik si Lex, baru bisa bebas kalau aku bunuh kamu, Kakak Batman!”

Batman: “Oh, gitu, ya? Aku ngerti, Dek. Aku juga pernah kehilangan ibu. Ya sudah, ayo kita selamatkan ibumu.”

 

Mereka baikan. Suasananya hampir mirip momen Idul Fitri, cuma tak ada maaf-maafan verbal. Langsung bahu-membahu melacak Lex Luthor. Premis “ancaman bagi bumi” langsung punah “hanya” karena Superman ternyata punya ibu yang harus diselamatkan. Seharusnya ada dialog yang lebih mencerahkan bagi masing-masing karakter (dan penonton) yang akhirnya dapat memberikan alasan logis tentang batalnya Batman membunuh Superman. Saya sendiri tentu tak ingin superhero saling bunuh. Saya cuma mengharapkan penyampaian pesan yang efektif saja, yang betul-betul setimpal, sebab jujur saja dua superhero itu sudah telanjur berkelahi dengan amat brutal. Masa langsung semenit kemudian mereka akur dan saling cucok? Nggak seru, ah. Bahasa Jawanya: Ora sumbut!

Dengan eksekusi yang gampangan maka tajuk “Batman vs. Superman” menjadi sekadar versus-versusan belaka, tak ada pesan yang lebih serius dari itu. Cuma penarik duit semata. Sama seperti film Indonesia “Pocong vs. Kuntilanak”. Hanya bedanya film Zack Snyder ini berbiaya super dan berteknologi duper, itu saja. Saya lebih sreg seandainya film ini cukup diberi judul “Dawn of Justice” saja, dengan demikian ia hanya akan menjadi “film yang gagal mutu”, bukan “film sensasional yang gagal mutu”. Sudah bikin judul sensional, eh mutu ceritanya buruk, lebih malulah!

Tapi… jangan ngambek ya, Om Zack, dari segi aksi film-mu sangat keren, kok! Saya berani bilang, suguhan aksi dalam “Dawn of Justice” lebih seram dan menggidikkan dibandingkan film Marvel manapun. Koreolaga dalam film-film Marvel memang lebih cantik dan indah, tapi belum ada yang lebih destruktif dan brutal dari laga di “Dawn of Justice”. Brutal tetapi megah—sebetulnya itulah yang mengobati saya dari perasaan rugi membeli tiket. Saat menyaksikan Doomsday mengamuk, saya betul-betul ngeri. Loki dan Ultron tak ada apa-apanya! Mungkin hanya akan tersamai oleh Apocalypse di film X-Men terbaru nanti.

Saya pikir, sepertinya memang corak kelam “Dawn of Justice” ini menjadi style yang telah dipilih untuk film-film DC Comics berikutnya. Aksi fun dan laga indah sudah menjadi corak bagi film-film Marvel, maka sah-sah saja—bahkan pintar—jika DC Comics membawa jajaran superhero-nya ke dalam nuansa yang berbeda, yang lebih kelam. Namun saya berharap film-film DC Comics berikutnya, terutama “Justice Leage”, akan lebih berkiblat pada Trilogi Batman versi Christoper Nolan. Meskipun sama-sama kelam, formula realistik ala Nolan terbukti lebih efektif dalam mengangkat mutu, dibandingkan formula Zack Snyder yang lebih menonjolkan kemasan visual. Untuk musiknya, saya rasa Hans Zimmer tetap dipertahankan sajalah, sebab dialah salah satu yang paling berjasa dalam membuat banyak adegan di film ini menjadi mendebarkan! Bukan adegan laga pun bisa menjadi sedemikian mendebarkan ketika score dari Hans Zimmer mengiringi, misalnya di setiap aksi Superman menyelamatkan orang-orang. Film menjadi megah dan dramatis!

At least, meskipun masih tetap dalam ritme lamban, adegan-adegan di akhir film ini cukup menyentuh saya. Sampai di titik ini “Dawn of Justice” akhirnya memberikan sentuhan yang adil terhadap Superman. Saya sebelumnya tak begitu tertarik pada superhero ini, tapi dengan nilai manusiawi yang diberikan padanya—oleh film ini—saya jadi bersimpati padanya. Dan merasa sedih juga jadinya. Bagi Anda yang sudah nonton, saya anggap Anda sudah tahu “nilai manusiawi” apakah yang saya maksud. Saya sengaja tak menggamblangkannya. Saya anggap Anda juga sudah tahu alasannya mengapa tak perlu digamblangkan. Yang pasti bukan karena ingin sophisticated. ￿

 
 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: