RSS

28/12/14 – Pendekar Tongkat Emas: Mengulas Sepiring Nasi Goreng

 
 

Tak ada bioskop di kota tempat saya tinggal. Jika ingin menonton bioskop, saya harus ke kota sebelah yang jaraknya 30 kilometer. Ketika saya sudi melakukannya, artinya saya telah memiliki ekspektasi besar terhadap film yang akan saya tonton. Baru-baru ini, film yang berhasil memancing saya untuk menempuh jarak itu adalah Pendekar Tongkat Emas. Bagi saya, itu memang film yang harus ditonton. Mengapa?

Kapan terakhir kali sineas Indonesia membuat film silat klasik, film berisi pendekar-pendekar kuno dengan jurus-jurus yang dinamai secara epic? Saya sampai lupa kapan. Sudah lama sekali rasanya. Setelah begitu lama genre silat klasik mati suri di kancah perfilman Indonesia, tiba-tiba muncullah judul ‘Pendekar Tongkat Emas’. Film silat baru ini muncul dengan menjanjikan banyak effort. Itu bisa dinilai berdasarkan nama-nama jaminan mutu yang berkiprah dalam film ini, seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Ifa Isfansyah, Jujur Prananto dan Christine Hakim. Ditambah lagi dukungan bujet yang sangat fantastis menurut ukuran film Indonesia, ekspektasi saya pun melambung tinggi, tak ayal menetapkan film ini harus saya tonton di layar lebar!

Sebelum saya menontonnya sendiri, saya sudah menyimak cerita dari beberapa kawan–dan juga review di media masa–tentang bagusnya film ini. Rata-rata mereka memuji keindahan pemandangan Sumba Timur yang dijadikan setting pembuatan film ini. Mereka juga memuji akting para pelakonnya yang natural dan total. Saya sengaja tak bertanya tentang bagaimana kualitas cerita, sebab saya takut mendapat spoiler. Seorang penikmat film sejati mengharamkan spoiler dalam bentuk apapun. Mendengar pujian yang bagus dari kawan-kawan saya, tanpa jalan cerita yang bocor, minat saya kian tinggi untuk menontonnya. Saya buktikan pujian-pujian itu. Ketika tiba saatnya saya menonton dengan mata sendiri, wow… saya pun tercengang! Oleh indahnya pemandangan di film ini, juga oleh akting Christine Hakim yang memukau!

Adegan dibuka dengan sorotan pada pemandangan bebukit Sumba Timur, yang saya tak pernah melihat sebelumnya bahwa Indonesia memiliki panorama seelok itu. Pemandangan itu dipadu dengan sosok Cempaka (diperankan Christine Hakim) yang tengah bernarasi, menceritakan esensi ilmu silat menurut pandangannya. Menguasai ilmu silat bagiku bukan untuk mencari kesempurnaan, tetapi untuk menolong orang-orang yang lemah. Apa gunanya kesempurnaan jika tidak bisa menolong sesama manusia? Begitu kira-kira perkataan pendekar tua itu, berdasarkan yang saya ingat. Filosofi semacam itu sebetulnya cukup klise, sangat biasa dalam cerita-cerita tentang pendekar. Namun dalam film ini, kata-kata itu menjadi terdengar begitu bernyawa, tak lain karena penokohan yang sangat kuat oleh Christine Hakim.

Dibuka oleh prolog yang mengesankan, ditutup oleh epilog yang mengesankan pula: bahwa pembalasan dendam laksana roda karma, yang bergulir membawa kita ke dalam lorong panjang yang gelap; meski suatu saat nanti lorong itu akan bertemu cahaya pada muaranya, siapa yang tahu kapan kita akan ditusuk dari belakang, oleh maut yang mengintai di balik kegelapan? Itulah harga yang harus siap dibayar oleh seorang pendekar. Hmm, saya suka filosofi itu, pahit tetapi realistis. Pemilihan yang saya rasa tepat bagi film silat ini.

Penyuguhan sosok Cempaka (ketika ia tua) sangat menarik dan kuat dalam segi visual maupun verbalnya. Jika hanya sekilas mengamati, wujud sosok Cempaka akan membuat Anda mengira ia adalah Mak Lampir: berambut panjang, agak bungkuk, dan bertongkat. Namun begitu mendengar ia berbicara, Anda akan langsung tahu sosok seperti apa yang sedang Anda lihat: pendekar luhur yang penuh kharisma dan bijaksana; dalam diri seorang guru ia juga memiliki jiwa seorang ibu–jauh sekali dari karakter Mak Lampir. Akting Christine Hakim memang selalu jempolan. Di film ini, meskipun porsinya tidak banyak, ia sangat menjiwai dan betul-betul menghadirkan sosok seorang pendekar uzur yang telah kenyang pahit-manisnya dunia persilatan. Dengan porsi penampilan yang tak banyak, ia mampu menjadi nyawa dalam film ini. Salut untuk beliau.

Akting para pelakon yang lebih muda di film ini juga layak dipuji. Reza Rahardian, Nicholas Saputra, Eva Celia, dan Tara Basro, mereka berakting dengan bagus. Mereka menunjukkan buah kerja keras dalam menguasai gerakan-gerakan laga untuk film ini, khususnya jurus-jurus tongkat. Kita tahu bahwa mereka bukan pemeran yang identik dengan film laga, tetapi mereka telah membuktikan dengan baik bahwa mereka mampu ‘berlaga’. Pada adegan laga pamungkas, terasa sekali aura kemarahan mereka saling beradu. Saya salut dan kagum pada mereka.

Namun jika harus membandingkan, menurut saya Nicholas Saputra bermain lebih baik dari Reza Rahardian. Nicholas Saputra, yang biasanya tampil sebagai sosok modern yang cenderung flamboyan dan romantis, di film ini ia berhasil menghadirkan sosok pendekar bernama Elang, yang tangguh, terampil, dan misterius. Meski pemilihan visualisasi fisik tokoh Elang ini mirip dengan pemuda Mongolia kekasih Zhang Ziyi di film Crouching Tiger Hidden Dragon, saya tak terganggu. Setidaknya ia mirip karakter di film bermutu, bukan tipikal jagoan di film Korea yang dipoles make up serta berbaju modis. Sosok Elang–dan tokoh lainnya–ditampilkan dalam visualisasi fisik yang natural. Itu keputusan yang saya suka.

Reza Rahardian sebetulnya juga berakting dengan bagus. Dia juga terlihat tangguh, suaranya garang, posturnya gagah. Namun, sebagai sosok villain auranya kurang keji. Sebagai sosok yang tega meracuni gurunya sendiri, tega menganiaya dan mencelakai adik seperguruan, ia kurang memancarkan kebengisan. Sebagai sosok yang tega mengkhianati kepercayaan dari perguruan yang menampungnya, lalu mengambil alih perguruan itu secara curang, sosok Biru yang diperankan Reza Rahardian ini kurang memancarkan jiwa yang licik.

Menariknya, Tara Basro berhasil menampilkan apa yang kurang pada penokohan sosok Biru. Tara Basro yang notabene belum memiliki trivia akting sebanyak Reza Rahardian, justru berhasil menyuguhkan sosok Gerhana yang culas dan ambisius. Sorot matanya seperti agak ngantuk, tetapi di saat yang sama memancarkan isi hatinya yang dingin dan kejam. Untuk Eva Celia yang memerankan Dara, dia melakukannya dengan baik. Aktingnya natural, meskipun belum brilian. Jujur saja, rasa simpati saya belum cukup terpancing untuk menyukai sosok Dara sebagai protagonis yang dilanda fitnah. Menurut saya Eva Celia belum berhasil mencuri perhatian, meski aktingnya tidak buruk. Di mata saya, Tara Basro bermain lebih meyakinkan darinya.

Saya juga ingin memuji pemeran Angin. Sebagai aktor cilik pendatang baru, dia bermain sangat percaya diri. Sosok Angin yang lincah, setia, dan memiliki masalah dalam berbicara, diperankan dengan sangat natural. Salut untuknya!

Pemandangan oke, narasi oke, akting oke, lantas bagaimana dengan isi cerita?

Pengembangan plot, detail cerita, nah… dari sinilah kekecewan saya timbul. Jujur, saya benci harus mengatakan ini: di luar prolog dan epilog yang bagus, menurut saya penataan cerita Pendekar Tongkat Emas agak timpang. Ini memberikan cukup banyak kekecewaan bagi saya.

Di bagian awal film, penonton disuguhi narasi Cempaka yang begitu berkharisma dan penuh nilai filosofi. Alunan bicara Christine Hakim juga sangat bernyawa dalam narasinya. Ia bercerita tentang empat orang murid, yang tak lain adalah anak-anak dari para musuh yang telah dibunuhnya. Ia mengangkat mereka menjadi murid sebagai penebusan dosa atas rasa bersalahnya. Dalam narasi, seolah-olah para orang tua dari keempat murid Cempaka itu memang para pendekar yang keji, sehingga layak dibasmi.

Bagi saya, ketimpangan terjadi ketika tak ada sedikit pun adegan yang menyuguhkan aksi Cempaka dalam membasmi para penjahat itu. Padahal, untuk memerankan Cempaka muda, aktris jempolan Prisia Nasution telah mengambil slot itu. Namun kenyataannya, adegan Cempaka muda hanyalah diisi drama semata tentang hubungannya dengan sang kekasih, tak ada laga sama sekali. Hei, ini cerita silat! Drama sepasang kekasih tidak salah, tetapi saya berekspektasi sosok Cempaka yang disegani ini juga perlu menyuguhkan aksi laganya. Sehingga menjadi kuat alasan mengapa dia disegani. Ada adegan Cempaka tua berlaga, tapi itu pun melawan murid-muridnya sendiri, dalam rangka latihan. Ada satu adegan laga lagi yang melibatkan dirinya, dan dia dalam keadaan sudah payah. Saya jadi agak merasa, cerita kehebatan Cempaka yang disegani pendekar-pendekar sejawatnya itu setengah omong kosong saja. Hampir tak ada bukti mengapa dia begitu pantas disegani. Masa hanya karena dia dapat bertutur secara penuh penghayatan? Ayolah, ini film silat, action!

Mengingat tidak optimalnya penokohan Cempaka ini, saya jadi terhubung pada ingatan tentang sosok Pei Mei di film Kill Bill, dan ini menjadi penegas mengapa saya betul-betul kecewa. Di dalam Kill Bill, kebuasan sosok legendaris Pei Mei tidak hanya diceritakan, tetapi juga digambarkan. Sang Pembantai perguruan Shaolin itu tak terkalahkan ketika bertarung melawan The Bride; dia tega membetot mata muridnya sendiri; ia berbicara setajam pedang, dan sebagainya; saya puas sekali dengan penokohannya yang singkat tetapi efektif. Juga di film Wu Xia, jika ada pertanyaan: mengapa klan 72 Demons pantas disegani dan ditakuti? Alasannya jelas: mereka tak kenal ampun terhadap musuh; klan itu membantai secara sadis sebuah keluarga, orang tua maupun anak-anak; Sang Master juga ditampilkan begitu dingin, kejam, angker, mampu membunuh orang dalam sekali pukul, tak dapat terlukai senjata tajam, hanya kekuatan petir yang sanggup membunuhnya.

Jika film laga Hollywood maupun Mandarin dianggap sebagai pembanding yang terlalu jauh, baiklah, kita bisa bandingkan dengan film silat jadul Indonesia: Saur Sepuh. Mengapa Lasmini begitu disegani? Jelas, dengan Ajian Cipta Dewa dia telah mengalahkan banyak lawan. Mantili yang memiliki senjata super Pedang Setan dan Pedang Perak, dikalahkan oleh Lasmini hingga hampir tewas. Jangankan Mantili, Guru Besar perguruan pemilik Ajian Waringin Sungsang saja tewas dihabisi oleh Lasmini. Padahal Ajian Waringin Sungsang lebih hebat dibanding Ajian Serap Jiwa milik Brama Kumbara. Jika Lasmini harus disegani, itu wajar, ada aksi dan bukti di film itu.

Begitulah, film-film itu menuangkan segala alasan mengapa suatu tokoh layak disegani, melalui adegan aksi yang efektif, tak cukup hanya narasi. Sehingga kharisma tokoh yang digambarkan tersebut kemudian juga memberikan sensasi tersendiri, membekas kuat di ingatan penonton. Saya tak menemukan sensasi itu di Pendekar Tongkat Emas. Cempaka tak terlihat bertarung melawan siapa-siapa, selain muridnya sendiri. Biru dan Gerhana juga tak pernah terlihat bertarung menghadapi lawan sepadan, selain adik seperguruan sendiri (ditambah Elang, di akhir film). Ketua Perguruan Sayap Merah yang seharusnya potensial dijadikan lawan tangguh, matinya cuma diracun, tanpa perlawanan. Ini bukan kelemahan Christine Hakim, Prisia Nasution, ataupun pemeran lainnya, sebab akting mereka sangat bagus; saya rasa ini adalah masalah skenario yang tak memberi porsi secara ‘pantas’, untuk membuktikan kependekaran tokoh-tokoh itu. Sekali lagi, ini film silat, penonton butuh sesuatu yang lebih beraksi, tak cukup hanya narasi.

Kekecewaan saya yang lain, adalah tak adanya pembuktian dari jurus pusaka di film ini. Jurus yang menjadi pusaka dalam film ini adalah Tongkat Emas Melingkar Bumi. Saya suka namanya, terdengar epic sebagaimana layaknya jika kita ingin menamai sebuah jurus hebat. Namun, saya lagi-lagi tak menemukan penjelasan yang meyakinkan mengapa jurus tersebut menjadi jurus paling hebat di dunia persilatan. Cempaka dan gurunya hanya mengklaim bahwa Tongkat Emas Melingkar Bumi adalah jurus silat yang tak ada tandingannya dan harus diwariskan kepada orang yang tepat, titik. Untuk memproklamirkan bahwa ia adalah jurus terhebat, semestinya ada perbandingan dengan jurus lainnya, bukan? Misalnya, ia pernah menang ketika diadu dengan jurus Tombak Perak Menusuk Langit; pernah menang melawan jurus Pedang Giok Membelah Samudra; pernah menang melawan Pisau Daging Membelah Bakpao, atau jurus-jurus lainnya yang bisa kita namai secara epic. Suatu kehebatan–apalagi nomor wahid–sangat perlu pembuktian. Jika tak ada pembuktian, berarti cuma klaim sepihak.

Jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi, sama seperti reputasi Cempaka sebagai pendekar kelas wahid, saya rasakan cuma klaim sepihak saja. Memang ada pengakuan dari perguruan lain, yaitu dari Perguruan Sayap Emas, tetapi lagi-lagi tak ada adegan yang menguatkan. Perguruan Sayap Emas menyatakan mengakui kehebatan Cempaka dan jurus andalannya, sudah begitu saja. Alih-alih ada pembuktian, ketika ada adegan lomba antarpendekar, Cempaka dan para muridnya malah memilih menjadi penonton saja. Kok gitu, ya?

Kekecewaan saya yang lain lagi, adalah soal signature. Coba ingat-ingat lagi jika Anda pernah menonton film Saur Sepuh. Dalam Saur Sepuh, tokoh protagonis utamanya adalah Brama Kumbara. Ia memiliki jurus sakti andalan, bernama Ajian Serap Jiwa dan Ajian Lampah Lumpuh. Perhatikan, atau ingat-ingat, tiap kali Brama mengeluarkan jurus itu, dia akan membuat kuda-kuda atau gerakan yang menjadi ciri khas jurus tersebut. Gerakan untuk Ajian Serap Jiwa adalah sedemikian rupa, begitu pula Ajian Lampah Lumpuh punya gerakan kuda-kuda yang beda lagi. Sehingga, seandainya Brama tak menyebut nama jurusnya pun, penonton sudah dapat menebak jurus apa yang sedang dia kerahkan. Wong Fei Hung, dalam Once Upon A Time in China, juga menunjukkan gerakan Tendangan Tanpa Bayangan itu seperti apa. Yaitu tendangan melayang secara bertubi-tubi. Itu membuat kita bisa mengingat gerakan jurus itu dengan baik, dan membedakannya dari jurus tendangan yang lain.

Gerakan-gerakan khas, seperti yang diulas di atas, tak ada di film Pendekar Tongkat Emas. Mungkin sebetulnya gerakan kuda-kuda itu dimaksudkan ada, tetapi tak tereksekusi secara matang, sehingga saya tak bisa melihat seberapa khas dan istimewa gerakan jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi–yang diklaim sebagai jurus paling hebat itu. Silat tanpa kuda-kuda itu kesannya garing. Gangnam Style saja ada kuda-kudanya, lho.

Selain tak memiliki signature, jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi juga tak dijelaskan asal mulanya. Memangnya penting? Bagi saya, salah satu sensasi dunia persilatan–selain nama-nama yang epic–adalah sejarah jurus-jurus yang ada di dalamnya. Sejarah jurus-jurus tersebut biasanya dihubungkan pada inspirasi tertentu. Mari kembali membandingkannya dengan film silat/laga yang lain. Di film The Grandmaster arahan Wong Kar Wai misalnya, ada penjelasan mengenai sejarah jurus-jurus yang ditampilkan: Bagua adalah jurus tangan kosong yang mengadopsi gerakan pedang; Xing Yi adalah jurus tangan kosong yang mengadopsi gerakan tombak; sejarah Wing Cun seperti apa, itu dijelaskan secara efisien tetapi efektif.

Bahkan di film The Karate Kid yang dilakoni Jackie Chan dan Jaden Smith, dalam segala tipikal Hollywood-nya ia tetap tak lupa menjelaskan tentang esensi jurus Ular yang dilihat Dre di Gunung Wudang. Bahwa ularlah yang ‘berkaca’ pada ketenangan jiwa si pendekar, bukan pendekar yang menjiplak gerakan ular. Hal-hal filosofis dan inspiratif seperti inilah yang membuat film silat/kung fu menjadi tak sekadar seni baku hantam, tetapi juga tentang keindahan serta kedalaman ilmu bela diri itu sendiri. Itulah sensasi yang selalu saya nantikan ketika menonton film silat/kung fu. Aduh, itu tak ada juga di film Pendekar Tongkat Emas. Jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi itu, mengapa dinamai demikian, ia diciptakan oleh siapa, jawabannya betul-betul kabur. Ia hanya dijelaskan sebagai jurus berpasangan. Namun mengapa juga harus berpasangan? Mengapa ‘Melingkari Bumi’ harus berpasangan? Sebagai jurus yang dikultuskan, ia tak memiliki riwayat yang jelas.

Detail cerita, menurut saya, juga kurang tereksplorasi. Contohnya, ketika Perguruan Sayap Merah diakuisisi dan diubah namanya secara sepihak, sama sekali tak ada murid yang melawan secara serius. Semuanya diam dan menurut. Memang, ada satu yang mau protes, tetapi langsung dihajar (dengan sekali pukul, irit sekali adegannya). Apakah masuk akal jika semua murid perguruan itu di-plot untuk tunduk begitu saja? Sayap Merah adalah perguruan jawara lomba persilatan, tentu saya akan membayangkan ia memiliki murid-murid dengan prideness tinggi dan militan, bukan yang langsung mengkeret hanya karena satu kawannya dihajar. Mengapa film ini tak menengok pada realita perguruan silat yang ada di Indonesia? Satu kawan dihajar, mereka berani rame! Perguruan Sayap Merah yang hebat itu sesungguhnya perguruan silat, ataukah DPR era Orde Baru?

Ada pula soal Dewan Datuk, yang berkedudukan sebagai juri dalam perlombaan silat. Saya tentu membayangkan Dewan Datuk ini adalah orang-orang sakti juga. Jika mereka didapuk sebagai juri silat, maka logikanya mereka itu juga orang-orang yang mumpuni dalam ilmu silat. Namun kenyataannya tidak ada pembuktiannya. Dewan Datuk hanyalah orang-orang tua yang dengan mudahnya dibantai oleh murid-murid Perguruan Tongkat Emas. ‘Adegan’ pembantaian itu pun bahkan tidak dalam bentuk adegan yang frontal, sebab hanyalah adegan sekelompok orang menyerang saat malam lalu terdengar suara mengerang, sudah itu saja. Ternyata Dewan Datuk yang membina dunia persilatan itu hanya segitu saja, kalah oleh penyerang selevel murid? Adegan yang irit, dan ironis sekali.

Adegan pertarungan final juga lagi-lagi membuat detail yang ambigu. Ketika empat pendekar itu saling tantang, jelas sekali lokasinya adalah di arena depan markas Perguruan Tongkat Emas (sesuai namanya yang baru). Ada banyak penduduk dan murid perguruan di situ. Namun di tengah adegan pertarungan–yang saya akui sangat seru–setting adegan tersebut mendadak berubah. Setting-nya berubah menjadi gubuk Cempaka yang sudah usang. Memang, sekilas ada percakapan antara Dara dengan Gerhana, yang mengisyaratkan mereka hendak memindah lokasi pertarungan. Namun, di awal film, ada adegan ketika Cempaka mengamati perlombaan di arena tersebut, tampak bahwa arena itu ada jauh di bawah sana. Dengan demikian, asumsi saya, jarak antara gubuk Cempaka dengan arena itu cukup jauh. Maka menjadi sesuatu yang mengganjal ketika lokasi pertarungan pamungkas itu tiba-tiba telah berpindah sedemikian cepat. Mungkin para pendekar itu terlalu sakti, gerakannya lebih cepat dari Quicksilver? Atau mata saya yang kurang jeli?

Sudah kekecewaan saya? Belum. Menurut saya, yang paling saya sayangkan dari semua kelemahan film ini, adalah seringnya teknik pengambilan gambar secara close up pada saat adegan laga. Adegan silat yang seharusnya bisa dinikmati setiap geraknya, menjadi hampir tak terbaca karena di-shoot terlalu dekat. Berbeda sekali dengan pengambilan gambar adegan laga di film The Raid atau Merantau, yang bisa sedemikian detail, memukau, dan memorable. Di Pendekar Tongkat Emas tak ada gerakan-gerakan laga yang memorable, karena kebanyakan gerakan hampir tak terbaca, saking dekatnya jarak pengambilan gambar.

Jujur saja, ketika saya pergi jauh-jauh ke bioskop untuk menonton film arahan Ifa Isfansyah ini, saya didorong oleh kerinduan hadirnya film silat klasik yang telah lama hilang dari perfilman Indonesia. Inginnya saya menonton, lalu memberikan nilai 9. Sebab dengan mempertimbangkan nama-nama seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Ifa Isfansyah, Jujur Prananto, Erwin Gutawa, Christine Hakim, lalu ditunjang setting yang eksotis serta bujet yang sangat besar, saya melamunkan film Pendekar Tongkat Emas dapat menjadi berhala baru bagi perfilman Indonesia, tonggak bagi bendera genre silat klasik agar kembali berkibar. Rupanya, setelah menontonnya, hmmm….

Pendekar Tongkat Emas adalah sebuah karya kolosal, diisi bintang-bintang berbakat, berakting bagus, serta penuh dedikasi. Latar belakang pemandangan di film ini juga sungguh luar biasa. Properti yang digunakan memiliki detail yang baik, representatif, anggun dalam segala kesahajaannya. Sayang, detail yang baik itu tidak tertuang ke dalam aspek lainnya yang bagi saya lebih penting, yaitu jalan cerita dan eksekusinya. Ia bagai sepiring nasi goreng, dengan bahan nasi dan daging pilihan yang harganya mahal, lalu disajikan dengan begitu cantik dan memukau mata; begitu dimakan, ternyata ia kurang garam, kurang saus, kurang bawang, dan sebagainya. Usaha yang serius dan penuh pertaruhan, tetapi hasilnya tak sebaik ekspektasi saya. Mungkin sayalah yang salah, karena berekspektasi terlalu tinggi.

Nilai 9 untuk pemandangan Sumba Timur, nilai 8 untuk pemilihan pemain, nilai 8 untuk pemilihan properti, dan nilai 5 untuk ceritanya. Hasilnya, saya ‘hanya’ bisa memberi score 7,5 untuk film ini.

Semoga film-film silat Indonesia berikutnya semakin baik.

 
 

~Noel Solitude~

26 Desember 2014

 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: