RSS

Setelah membaca….

 
 

CENTHINI, Kekasih yang Tersembunyi – Ambisi yang Ketahuan

 
 
 

Karya Elizabeth D. Inandiak ini bukanlah versi otentik Serat Centhini, melainkan prosa baru yang mengabdi pada esensi tuannya: Sang Kitab yang disusun oleh tiga Pujangga Agung Keraton Surakarta pada tahun 1814 atas perintah Pangeran Anom Hamengkunegara III. “Centhini, Kekasih yang Tersembunyi”—selanjutnya akan saya singkat CKT—merupakan sejilid kisah yang disari dengan prinsip kehematan ala Inandiak, merangkum poin-poin paling penting dan paling perlu dari Serat Centhini. Ini bukanlah langkah yang naif, mengingat naskah asli Serat Centhini memiliki ketebalan 4.200 halaman—yang tentunya tak sembarang orang tangguh membacanya—dan ditulis dalam bahasa yang mulai diabaikan oleh sukunya sendiri: Jawa. Ia adalah kitab sastra kuno masyhur yang diancam lupa dan punah. Itikad dan ikhtiar Inandiak sebagai sastrawan yang bukan orang Jawa ini pantas diapresiasi, bahkan bagi saya pribadi mengharukan.

Meskipun CKT adalah versi ringkas, Inandiak tak menghapus napas estetik yang dimiliki Serat Centhini, ia justru ingin menyegarkan keindahan Sang Tuan yang sudah demikian tua itu. Caranya? Beginilah: ia mengundang teks-teks dan kisah-kisah dari sumber lain yang dianggapnya memiliki kedalaman nilai sejajar. Dengan demikian keindahan kitab tua itu tampil dalam wajah baru yang lebih ringkas, tetapi juga lebih luas. Akibatnya memang batas-batas untuk menandai manakah bagian yang asli dari Serat Centhini dan yang bukan, menjadi sangat kabur. Namun, pada dasarnya esensi Serat Centhini, saya pikir, masih sangat jelas di CKT ini. Sebetulnya memalukan bahwa saya malah belum membaca Serat Centhini, Sang Tuan itu. Namun saya percaya bahwa esensi itu masih asli dan tajam di kitab yang jauh lebih muda ini. Saya percaya pada kejujuran rendah hati Inandiak di bukunya: “… aku di situ telah mengabdikan tulisanku kepada karya yang lebih besar dariku.”

Garis besar Serat Centhini yang diwakili oleh CKT sebetulnya sangat sederhana: seorang putra mahkota terusir dari kerajaan sang ayah karena serbuan kerajaan lain yang lebih ganas; mengembara dengan harapan menemukan kembali dua adiknya yang tercecer oleh perang; menemukan guru-guru dan ilmu-ilmu spiritual; memperistri anak dari salah satu gurunya; menemukan adik-adiknya; lalu menuntaskan urusan yang belum selesai dengan raja yang dulu menghancurkan kerajaan ayahnya. Putra Mahkota itu bernama Amongraga. Nama itu dijulukkan padanya sebagai sebuah simbol atau bahkan nubuat, bahwa artinya adalah “Ia yang Memikul Raganya”. Dengan plot klasik yang di zaman sekarang sudah tidak istimewa lagi itu, Serat Centhini—yang diwakili oleh KCT—mengeksekusinya dengan cara istimewa yang membuat saya tak heran lagi mengapa karya ini menjadi legenda sastra.

Sebagai sastra Jawa Klasik, sebetulnya tak mengherankan jika isi Serat Centhini penuh dengan nilai-nilai mistisisme khas Jawa, yang tak lain adalah perkawinan antara Tantrayana dan Sufisme. Tantrayana adalah sekte dari Hindu, sedangkan Sufisme adalah sekte dari Islam—mohon dimengerti bahwa saya tak mengartikan “sekte” sebagai “berarti otomatis sesat”, tetapi cuma sebagai penandaan saja bahwa ajaran tersebut memiliki kekhasan tersendiri jika dibandingkan dengan agama induknya secara umum. Mistisisme Jawa sendiri, yang disebut Kejawen, lahir sebagai respons politis-religius-kultural manusia Jawa pada saat agama Islam merambah dan menggeser pengaruh Hindu-Buddha di Jawa; orang Jawa ingin merengkuh Islam, tapi juga tak ingin menceraikan Hindu-Buddha dari jiwanya. Dan infiltrasi maupun sinkretisme spiritual ini digambarkan secara jamak di dalam Serat Centhini, dengan kelugasan ataupun metafora. Tak terkecuali melalui tokoh utamanya yang seorang putra mahkota itu: Amongraga, yang berasal dari Giri Kedathon—Kekhalifahan Islam yang amat legendaris di Tanah Jawa.

Tantrayana percaya bahwa untuk menemukan yang batin maka yang batil harus dikuasai dahulu. Yang kotor adalah ciptaan Tuhan juga, maka mengapa harus dijauhi? Ibaratnya, dalam perut orang suci pun ada kotoran juga, yang jika dibuang ke sungai akan menjadi makanan ikan, lalu ikan ditangkap dan dimakan oleh manusia lagi. Maka persetubuhan bebas pun, bagi Tantrayana, dapat menjadi bagian dari usaha mencapai penyucian. Sedangkan dalam Islam itu adalah zinah, bahkan bagi aliran Sufi pun. Namun Sufi dan Tantrayana memiliki cita-cita sama: melepaskan roh dari raga untuk mencapai penyatuan abadi dengan Tuhan Semesta—dalam Hindu disebut Mokswa. Maka jika Tantrayana kawin dengan Sufi, hasilnya ya yang terlihat di Serat Centhini. Santri-santri yang taat mengaji pada saat tertentu akan berpesta seks; seorang pria saleh, pada suatu kesempatan demi “kebaikan”, menggilir tiga gadis bersaudara yang bahkan salah satunya masih di bawah umur; dan Amongraga sendiri, yang seorang penganut Sufi, meski tak mempraktekkan seks bebas, ia tak melarang ketika para pengikutnya melakukan itu. Semua “penyimpangan” itu hanyalah ikhtiar menuju kesempurnaan, katanya. Ngomong-ngomong, seks bebas yang ditampilkan itu di antaranya adalah homoseksual.

Nuripin menutup iring-iringan itu, ia jalan menundukkan kepala sehingga menabrak Kulawirya dan jatuh ke lumpur. Sang paman bergegas menolongnya, mereka keduanya tenggelam, sama-sama kotor.

Memanfaatkan becek menutupi tubuh mereka, Kulawirya mencengkeram Nuripin di pinggangnya dan menyusupkan tongkatnya yang licin ke duburnya. Nuripin berontak pura-pura untuk lebih menikmati perkosaan itu, keduanya hilang sejenak di kubangan kenikmatan.

Kalian ada yang bernama Nuripin?

Inandiak mengatakan di salah satu bab yang paling mesum, bahwa ia sudah berusaha menerjemahkan ke dalam tutur yang lebih santun. Namun versi yang “lebih santun” itu pun bahkan sudah sanggup menggoda libido pembaca, lantas bagaimana dengan teks aslinya? Hanya saja, kelemahan yang terasa bagi saya, kerapkali adegan tebar syahwat itu menjadi tempelan semata. Seringkali tak penting—padahal Inandiak berkata bahwa ia hanya merangkum yang penting. Kisah Cebolang misalnya, yang tiga per empatnya adalah petualangan seksual. Cebolang sesungguhnya tak punya hubungan apa-apa dengan tokoh utama (baik itu Amongraga, Tambangraras istri Amongraga, maupun Centhini si abdi). Hubungan konkretnya cuma satu: Cebolang akhirnya memperistri adik perempuan Amongraga. Selebihnya, kisah Cebolang seperti cerita tersendiri yang bercokol di dalam satu cerita utama yang panjang.

Apakah seharusnya fragmen Cebolang dihilangkan saja? Hmm, sayang juga, sih. Sebab bagaimanapun Cebolang adalah salah satu bagian yang telah membuat Serat Centhni melegenda, meski keberadaannya tak menyokong plot utama.

Bagaimana ia tak menjadi legenda? Budaya Jawa adalah dunia yang mengenal kata “saru”, yang artinya “tabu”. Dalam kehidupan sehari-hari, menceritakan adegan seksual pada orang lain adalah saru. Membahas piranti-piranti kelamin juga saru. Tapi fragmen Cebolang justru mengeksploitasi semua itu. Dia seorang pemuda single, bermata magnet, berpostur sedang tetapi trengginas, dan dalam saat-saat tertentu ia juga lembut. Dalam istilah modern, mungkin ia adalah apa yang disebut “androgini”. Cowok cantik. Dia bersama ketiga kawannya berkelana mencari pengalaman hidup sebagai sekawanan tukang drama dan sulap. Dia memikat banyak penonton. Di satu kesempatan ia membuat sekelompok penonton menjadi terangsang, lalu saling bersetubuh di tengah khalayak. Di kesempatan lain, ia menyetubuhi orang-orang yang terpikat padanya, tak peduli itu janda, warok, selir, bahkan adipati sekalipun. Ia membagi-bagikan maninya dengan bebas dan bangga, bahkan seringkali ia juga berbagi dan bergiliran dengan kawan-kawan seperjalanannya. Setelah puas bermesum ria, subuh pun tiba, lalu salatlah mereka, berdoa dengan menyebut asma Allah—tanpa dijelaskan bahwa mereka berdoa untuk mohon ampun. Apa pun agama Anda, jika Anda tergolong taat sekaligus konservatif, Anda bisa darah tinggi membaca buku ini. (Dan kalau Anda memang ingin merasakan darah tinggi, beli saja bukunya. Dijual bebas, kok.)

Fragmen Cebolang usai, cerita mulai terarah lagi ke kisah pengembaraan Amongraga. Ia adalah tokoh yang secara laku sehari-hari lebih saleh dan santun dibandingkan Cebolang dkk. Mungkin karena ia seorang pangeran Khalifah Giri—yang kerajaannya telah diruntuhkan seorang megalomaniak Jawa bernama Sultan Agung. Ia dididik dalam puritanitas Islam yang lebih condong ke akar aslinya daripada ke Tantrayana. Dan hatinya juga terlalu lesu untuk foya-foya seksual. Kisah Amongraga sesungguhnya menarik. Namun, karena sebelumnya pembaca telanjur disuguhi polah Cebolang yang mahamesum, kisah Amongraga yang suci-saleh menjadi seolah-olah datar. Tidak greget. Tidak berani. Tidak provokatif.

Sesungguhnya, benang merah Cebolang dan Amongraga bisa ditarik juga berdasarkan esensi spiritualitas yang ingin dipantulkan oleh Serat Centhini. Dengan meminjam pola pikir Tantric dan Sufisme, saya merasakan bahwa Cebolang adalah bayangan dari Amongraga. Cebolang adalah berkas hitam di belakang tubuh Amongraga ketika ia berjalan menuju cahaya. Namun ketika cahaya itu kemudian berada di atas melingkupi tubuh Amongraga, bayangan hitam sirna. Amongraga menjadi jelas dalam cahaya, sedangkan Cebolang sirna dalam cahaya. Amongraga masih mewujud, sedangkan Cebolang mokswa. Sesungguhnya di sinilah saya temukan derajat tinggi falsafah spiritual dalam Serat Centhini. Mengapa Amongraga yang saleh itu tidak bisa mokswa, sedangkan Cebolang yang bejat justru bisa?

Mokswa yang saya bahas di paragraf sebelumnya bukanlah dalam konsep aslinya. Mokswa dalam konsep yang asli berarti betul-betul raga lenyap, roh menyatu langsung dengan Tuhan. Sedangkan mokswa yang dialami Cebolang lebih kepada konteks metafora. Kisah-kisah bejatnya seperti kemudian lenyap begitu saja, sejak ia bertemu dengan roh sejati di Gunung Meru—roh yang memiliki hakikat sama dengan Dewa Ruci. Ia memang pada akhirnya lelah menjalani kebejatannya, dan rindu memberikan ketenangan batin bagi kedua orang tuanya. Cebolang adalah pria bejat yang mengakui segala kebejatannya. Kejujuran itu membungkus rasa rindunya pada orang tua yang dulu telah ia patahkan hatinya. Sepertinya hal itu membuatnya berjodoh dengan “kasampurnan”, yaitu suatu kondisi yang bisa mengantar seseorang pada mokswa. Namun “mokswa” yang dialami Cebolang bukanlah lenyap menuju Tuhan, melainkan lenyap dari semua kebejatannya. Sebab akhirnya ia telah menemukan ketenangan hidup bersama orang yang kemudian menjadi istri sahnya, dan membuat hati kedua orang tuanya tidak lagi menanggung malu karena memiliki anak semata wayang yang bejat.

“Cebolang, kulihat dari pakaianmu kau telah diwejang ilmu luhur suci. Lepaslah pakaian itu sebelum ternoda rasa bangga. Lupakan semua dan jalankan ilmu yang paling mendasar yang akan mengantarmu ke semua lainnya.”

“Ayahnda, ilmu apa itu?”

“Cinta.”

Begitulah, konon, Cebolang menikahi Rancangkapti. Walau putri raja, ia tidak cantik, bahkan dibilang canggung, tapi Cebolang mencintainya segenap rahim dan hati sehingga membuatnya bercahaya.

Nasib baik Cebolang itu sama dengan Centhini. Ya, Centhini, seorang abdi yang namanya justru dipakai sebagai judul kitab itu. Centhini hanyalah seorang pelayan yang hidupnya didedikasikan untuk menjaga Tambangraras. Tambangraras adalah anak perempuan satu-satunya Ki Panurta, seorang kiai berilmu tinggi dari desa Wanamarta. Amongraga diutus gurunya, Ki Karang, untuk pergi ke Wanamarta demi menemukan seseorang yang akan menjadi jodohnya, yang tak lain adalah Tambangraras. Betul, Amongraga dan Tambangraras akhirnya menikah. Namun mereka tak bersetubuh hingga malam ke empat puluh sejak pernikahan mereka. Selama empat puluh malam itu, meskipun keduanya sudah saling telanjang di tempat tidur, yang dilakukan Amongraga justru memberikan wejangan kepada Tambangraras tentang ajaran-ajaran hakikat hidup yang khas Sufi-Kejawen.

Fragmen itu dirangkum dalam risalah khusus yang diberi judul “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan”. Namun saya ingin menambahi judul itu: “Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, dan Semuanya Membosankan”. Selama empat puluh malam itu wejangan-wejangan dijabarkan sambil telanjang, menggunakan kata-kata syair penuh diksi mistik dan metafora-metafora bersayap. Dalam CKT, empat puluh malam itu ditulis menjadi empat puluh bab pula—kalau tak salah hitung. Padahal, menurut catatan belakang Inandiak sendiri, versi Serat Centhini yang otentik malah hanya membaginya dalam lima belas bab saja. Inandiak beralasan bahwa dengan meluaskannya menjadi empat puluh bab akan dapat memberikan sentuhan yang lebih detail tentang ajaran Tassawuf Jawa—yang menurutnya sangat dalam sekaligus tinggi. Namun yang terjadi pada saya justru rasa bosan. Saya justru bisa menerima seandainya alasan Inandiak adalah memang untuk membuat pembaca bosan. Tepatnya: memberikan pembaca sebuah tantangan, yaitu rasa bosan.

Konon, tantangan terberat seseorang ketika mengaji ilmu memang rasa bosan. Bosan menimbulkan kantuk. Makanya, kadang orang mengaji pun diam-diam mengantuk, sebab sebetulnya ia bosan. Kalau bosan tapi malu untuk terlihat mengantuk, maka biasanya ia akan pilih usil. Melontarkan peluru kertas, menggambar kartun di manalah, memegang anu temannya yang lagi khusuk, dsb. Bosan adalah iblis yang tak kelihatan tetapi ada. Kalau bosan, berarti tinggal menunggu kata “nyerah”. Kalau sudah nyerah, berarti kalah. Saya juga sering kalah ketika mengikuti doa syafaat di gereja. Dan dalam membaca bab penuh wajangan itu, saya juga kalah. Lebih tepatnya mengalah. Sebab sejatinya saya memang tak terobsesi pada ajaran-ajaran mistik, kecuali jika cara mengemasnya menarik. Bab itu tidak menarik.

Konon, yang diwejangkan di bab membosankan itu adalah sari-sari kehidupan dalam bentuk kata-kata; barangsiapa memahami dan menguasainya maka akan mencapai “kasampurnan”. Centhini, sang abdi yang senantiasa menjaga tuannya, mendengar wejangan-wejangan itu dari balik tirai. Mungkin sebetulnya Centhini juga bosan menyimaknya, tetapi statusnya mewajibkan dirinya untuk selalu berada tak jauh dari sang tuan. Meskipun wejangan itu sendiri tak menarik, rupanya posisinya di dalam cerita itu tetap penting, sebab kelak akan menjadi semacam cermin untuk merenungkan nasib sang pewejang di akhir cerita. Kelak, nasib Amongraga nan saleh dan pintar mewejang itu justru akan seperti Resi Drona.

Dalam kisah klasik pewayangan terdapat lakon “Dewa Ruci”. Resi Drona, guru para Pandawa dan Kurawa, menunjukkan kepada Bima teka-teki yang jawabannya akan menjadi jalan untuk bertemu roh sejati: Dewa Ruci. Bima berhasil, di saat sang resi justru tak pernah mencapainya. Kelak Bima terangkat ke Nirwana, sedangkan sang resi justru masih harus bereinkarnasi menjadi kuda. Begitu pula Amongraga, dan bahkan Tambangraras pula, kelak justru gagal mencapai kesempurnaan. Sedangkan Centhini sang pelayan yang mendapat ilmu itu secara tersembunyi, justru kelak ia mokswa. Lihatlah, nasib Centhini serupa dengan Cebolang. Bedanya: jika Cebolang hanya “mokswa kecil”, maka Centhini sungguh-sungguh mokswa seutuhnya—menurut si pencerita juga, sih. Inandiak menulis, “Dalam riang pertemuan, Montel si pelayan, menikahi Centhini si abdi. Tetapi di malam pengantin, Centhini sirna.”

Mokswa-nya Centhini menjadi pelajaran spiritual tersembunyi sekaligus paling esensial dari Serat Centhini—menurut Inandiak. Pelajaran itu dapat dimengerti melalui pertanyaan ini dulu: mengapa justri Centhini yang mokswa, sedangkan Amongraga dan Tambangraras yang lebih tahu ilmu itu malah gagal? Jawabannya: sebab Centhini merengkuh ilmu itu dalam kerendahhatiannya. Ia tak pernah meminta ketika ilmu itu datang ke telinganya, yang ia tahu adalah ia hanya menjalankan kewajiban menjaga Tambangraras. Ketika Tambangraras hendak diperkosa para penyamun, Centhini maju menyerahkan tubuhnya ke para penyamun demi memberi Tambangraras kesempatan untuk selamat; ia mengerti bahwa tuannya ingin menjaga kesucian sebagai seorang istri, dan kesucian itu digadang-gadang untuk menjadi bekal meraih kesempurnaan. Maka Centhini rela berkorban demi kesucian tuannya. Centhini tak mabuk kesempurnaan, ia tak terobsesi pada kesucian. Ia seperti Cebolang, jujur menyadari apa adanya dirinya, bahwa ia hanyalah seorang abdi. Rupanya, justru keikhlasan dan kerendahhatian inilah kunci tersembunyi yang mampu membuka pintu kesempurnaan manapun. Mokswa-lah ia setelah purna menjalankan semua kewajiban, tepat di hari bahagia: malam pengantin. Itulah mengapa pada akhirnya karya sastra yang bernama asli “Suluk Tambangraras” ini justru lebih dikenal sebagai “Serat Centhini”.

Amongraga, yang membimbing Tambangraras istrinya, sesungguhnya hampir mencapai kesempurnaan. Kurang apa dia? Mewarisi kemurnian ilmu Tauhid dari ayahnya yang seorang Khalifah di Giri Kedathon; mewarisi ilmu Kejawen dari Ki Karang, gurunya; mengalahkan ilmu Ki Panurta yang bahkan sempat dikatakan lebih hebat dari gurunya; peri-peri telanjang tak bisa menggoyahkan tapanya; bahkan ketika badai mengamuk di Gunung Lawu, ia sesakti Yesus: membuat badai itu tunduk dan berhenti. Kurang apa dia? Sesungguhnya, nama “Amongraga” mengandung kutuk, menurut saya. “Ia yang Mengemban Raganya”, begitulah maknanya. Sesungguhnya yang dicari Amongraga adalah kematian, sebab ia merasa yakin bahwa kedua adik yang selama ini dicarinya telah mati. Untuk bertemu mereka, ia pun harus mati. Maka ia mencari cara mati yang mulia dan luhur: mokswa. Namun rohnya seolah-olah terus terikat di dalam tubuhnya. Rohnya terus mengemban raganya, tak dapat terpisah, meski ilmu kesempurnaan sudah ia kuasai sepenuhnya.

Usut punya usut, mokswa itu tak datang-datang karena kedua adiknya ternyata belum mati. Takdir kadang memang melucu. Takdir kemudian juga berpihak: bertemulah para kakak-beradik itu. Karena kedua adiknya ternyata masih hidup, maka tujuan spiritual dalam diri Amongraga mulai menjadi absurd. Ia masih mengharap mokswa, sebab bagaimanapun itu adalah cara mati—atau hidup abadi—paling luhur. Namun kali ini mokswa—yang disebutnya sebagai “jihad besar”—telah berubah motivasinya. Jika sebelumnya ia ingin mokswa karena ingin bertemu orang-orang yang dicintainya, kini ia ingin mokswa semata-mata sebagai pembuktian kesempurnaannya. Bagian ini dikisahkan secara tersirat di CKT dalam risalah “Pulau Besi”. Pulau Besi adalah tempat di mana Amongraga dan istrinya mengeksklusifkan diri, hidup berdua dalam spiritualitas demi mencapai mokswa. Inandiak menyebut ini sebagai “kesombongan rohani”. Maka datanglah roh Endrasena, kakak angkat Amongraga, mengingatkan si adik bahwa jihad besar tak dapat dipisahkan dari jihad kecil. Ibaratnya jihad besar adalah sapu, jihad kecil adalah lidi—analogi sapu lidi ini saya reka sendiri. Tak menjadi sapu jika tak ada lidi. Endrasena mengingatkan: masih ada satu lidi yang tercecer. Masih ada satu jihad kecil yang belum tuntas.

Peringatan itu sebetulnya adalah pedang bermata dua: ia bisa menjadi jembatan, sebaliknya bisa juga menjadi sandungan. Jihad kecil itu adalah dendam yang belum diselesaikan, yaitu dendam terhadap raja megalomaniak yang dulu menghancurkan Giri Kedathon: Sultan Agung, Raja Besar Mataram. Endrasena tak menjelaskan bagaimana dendam itu harus dituntaskan, sepenuhnya ia serahkan pada Amongraga. Di situlah ujiannya.

Amongraga menyerahkan dirinya kepada Sultan Agung, dan mengetahui bahwa ternyata sang raja adalah sosok yang memiliki ilmu waskita dan kebijaksanaan amat tinggi, jauh lebih tinggi darinya. Bahkan mungkin lebih tinggi pula dari ayahnya: Raja Giri. Menghadapi Sang Sultan yang memiliki kewaspadaan sempurna, Amongraga memilih jujur saja: ia ingin menjadi raja. Sebab ia terlahir sebagai pewaris takhta Giri. Jika ia terpenuhi menjadi raja, maka artinya kerajaan Giri yang telah hancur telah berdiri lagi—dengan demikian segala dendam bisa dijadikan masa lalu. Namun jika Sang Sultan tak bisa menjadikannya raja, maka berikan saja kematian. Sebab lebih baik seorang pewaris takhta mati sekalian jika kerajaannya memang sudah tak dapat didirikan lagi. Kira-kira begitu jalan pikiran Amongraga yang bisa saya tangkap.

Maka Sultan yang pandai itu memberikan keduanya: takhta sekaligus kematian; kematian sekaligus takhta. Sultan Agung menyarankan agar Amongraga dan Tambangraras mengikhlaskan diri menjadi dua ekor ulat, masing-masing akan dimakan oleh Sang Sultan dan Pangeran Pekik (adik ipar Sultan). Lalu mereka akan bercinta dengan istri masing-masing. Bayi yang lahir dari masing-masing pemakan ulat itu kelak akan dijodohkan: Amongraga dan Tambangraras dalam raga mereka yang baru. Dengan raga dan nama barunya kelak, Amongraga akan menjadi raja Mataram, menggantikan ayahnya: Sultan Agung. Tentu itu ide yang musykil secara akal sehat, sebab tak ada jaminan bahwa yang lahir kelak pasti akan laki-laki dan perempuan, sehingga tak ada jaminan pula dapat dijodohkan. Bagaimana bila ternyata setelah makan ulat—lalu bercinta—istri Sang Sultan tidak hamil, dan demikian pula dengan istri Pangeran Pekik? Namun bagaimanapun inilah sastra klasik Jawa dengan segala pernak-pernik mistisisme yang dikandungnya—sebagai pembaca Anda percaya sajalah, sebagaimana saya juga pura-pura percaya.

Amongraga setuju. Tambangraras setuju. Mereka menitis dalam kehidupan baru sebagai bangsawan Mataram. Amongraga menjadi anak Sultan Agung bernama Raden Mas Rangkah. Kelak ia menjadi raja pengganti Sultan Agung. Ia bergelar Amangkurat. Menurut saya, nama itu pun sebuah kutuk. Saya menerjemahkan Amangkurat berarti “Mengemban Darah”. Bisa berarti darah Sang Sultan yang megalomaniak, bisa jadi darah Raja Giri yang kental oleh dendam. Nyatanya, Anda bisa baca di catatan sejarah, Amangkurat I adalah raja Jawa paling kejam dan brutal yang pernah ada. Ia membuat program kerja paksa terhadap para petani, laki-laki dan perempuan, untuk membangun benteng istana yang baru di tepi Kali Opak. Ia membantai setiap penentangnya, bahkan termasuk Pangeran Pekik dan adik bungsunya sendiri—kepala mereka dipenggal dan dibawa ke istana sebagai tanda kemenangan. Ia menyembelih lima ribu ulama di seluruh pelosok Mataram. Ia menculik istri siapa pun untuk dijadikan pemuas nafsunya. Suatu ketika ada seorang gadis hendak ia sunting; tetapi anaknya sendiri yaitu Pangeran Anom kedapatan juga jatuh cinta pada gadis itu; ia menyuruh si anak membunuh gadis itu. Kelak Pangeran Anom, si anak itu, mengobarkan perlawanan terhadap sang ayah. Amangkurat I terusir dari istananya, lari terlunta-lunta, harta bendanya digarong di perjalanan, lalu mati dan dikubur di Tegalwangi.

Kakak saya pernah bercerita bahwa dulu sekali dia pernah ziarah ke Tegalwangi, dan bertemu dengan peziarah lainnya yang pernah ke situ di saat pusara makam masih berupa peti kaca. Katanya, jasad Amangkurat I seperti jenglot berukuran manusia—rambut dan kukunya memanjang.

Mengapa Amongraga menitis ke dalam pribadi yang begitu kontradiktif? Amongraga saleh dan cinta damai; Amangkurat bejat dan brutal. Inandiak membuat analisa filsafati: ilmu kasampurnan yang dimiliki Amongraga sudah cukup untuk membuatnya mokswa, tetapi ia masih memiliki satu “lidi” terakhir yang mengikat tubuhnya, yaitu dendam. Maka ketika ia menerima tawaran Sultan Agung, dia dimakan dan lalu mati, sesungguhnya saat itulah semua “lidi” menjadi terbebas, kembali ke Yang Mahakuasa, kecuali “lidi” terakhir yang penuh dendam itu. Amangkurat adalah penjelmaan dari dendam yang tak dapat lebur itu—dendam yang tertinggal di dunia ketika segala yang suci telah sirna dalam mokswa. Semua yang ada di dalam diri Amangkurat adalah kebencian yang mengental itu—sisi gelap Amongraga. Risalah pamungkas dan pendek yang menggambarkan kekejian Amangkurat itu, Inandiak memberinya judul dengan amat tepat dan cantik: “Nafsu Terakhir”.

Saya sebenarnya tergerak dan lalu membuat kesimpulan sendiri: begitulah karma menghukum Sultan Agung dan kerajaannya. Saya menyebutnya megalomaniak—Inandiak tak pernah menyebutnya begitu di CKT. Sultan Agung berambisi menaklukkan semua kerajaan di Jawa di bawah panji Mataram. Surabaya dan Giri dia tumbangkan. Entah mengapa dia kini disebut sebagai Pahlawan Nasional. Hanya karena pernah memerangi VOC di Batavia? Tetapi dia memerangi sesama pribumi Nusantara juga. Dia memerangi VOC sebetulnya karena sakit hati ajakan kerjasamanya ditampik. Kerjasama untuk apa? Untuk menyerang Banten! Sultan Agung ingin menundukkan Kasultanan Banten. Masalahnya, untuk tiba di Banten pasukannya mesti melewati Batavia. Maka diajaklah VOC di Batavia untuk bekerjasama menyerang Banten. VOC tidak mau, sebab VOC merasa masih mampu menundukkan Banten sendirian. Peranglah Mataram versus VOC. Mataram keok, urunglah menguasai Banten. Banten kelak disikat sendiri oleh VOC. Negeri asal VOC kelak ganti disikat oleh Perancis, tapi itu soal lain, mari kita fokus lagi soal Sultan Agung dan Amongraga di paragraf berikutnya.

Saat Amongraga berhadapan langsung dengan Sultan Agung, ia tahu bahwa ilmu Sang Sultan ada di atasnya. Dia akan kalah jika melancarkan dendam secara frontal. Maka dia pilih mengikuti apa pun solusi yang ditawarkan Sang Sultan. Sultan Agung pasti berpikir bahwa dengan mengubah fisik Amongraga dan Tambangraras sebagai ulat adalah sebuah kemenangan. Bukankah kemenangan yang gemilang bisa membuat musuh menjadi dua ekor ulat, lalu memakannya? Sultan Agung bermanis kata supaya Amongraga mau menerima solusi itu, dengan dalih itu akan membuat zat mereka bersatu dalam daging, lalu benih dari Sang Sultan kelak akan menjadi anak yang tubuhnya bisa menjadi wadah bagi roh titisan Amongraga. Ketika Amongraga setuju, Sultan Agung tak mengira bahwa diam-diam Amongraga telah membuat spekulasi mistiknya sendiri: titisannya itulah yang kelak akan menghancurkan kerajaan Sang Sultan dari dalam! Dan benarlah. Amangkurat menjadi noda hitam tebal dalam sejarah Mataram, mendegradasi kewibawaan Imperium itu sampai ke titik harga diri paling rendah! Mataram dibuatnya porak-poranda dari dalam, dan gelar agung seorang raja diubahnya menjadi setara momok menjijikkan bagi kaum manapun.

Membaca “Centhini, Kekasih yang Tersembunyi” adalah sebuah perjalanan imajinasi untuk mengenali Jawa itu sendiri. Tentang akar-akarnya, manusia-manusianya, langit-langitnya, dan juga takdirnya mungkin. Jawa adalah sebuah kehidupan yang sejak semula senantiasa terbuka, tapi di saat yang sama juga tertutup. Pada yang tersurat ada yang tersirat. Yang saru tak selalu saru. Yang suci tak selalu suci. Ketika memeluk Hindu, Jawa tetap Animisme. Ketika memeluk Islam, Jawa tetap Hindu dan tetap Animisme. Yang menang tak selalu betul-betul menang, begitu juga yang kalah. Keagungan dimiliki raja-raja dan keturunannya, tetapi kesempurnaan kadang justru milik mereka yang rendah. Ajaran itu diteruskan hingga kini, meski mungkin hanya tinggal orang Jawa tertentu yang memahaminya, yakni pepatah ini: “Ojo dumeh.” Jangan mentang-mentang. Kau boleh suci, kau boleh agung, tetapi kebaikan akan lebih menyertai mereka yang ikhlas dan rendah hati.

Inandiak menggubah ulang kitab kuno “Serat Centhini” dalam tutur yang lebih ringkas tetapi tetap bernas. Dia paham bahwa menghilangkan diksi-diksi saru dalam kisah ini laksana menyajikan sayur loncom tanpa sambal. Dia hanya akan menghadirkan kesejukan, padahal manusia juga ada saatnya butuh dihangatkan, bahkan dipanaskan! Kitab sekuno Centhini saja sudah paham formula itu, bukankah kitab yang lebih mutakhir seharusnya tak kalah paham? Maka dari itu, saya salut Inandiak berani mempertahankan “kesaruan” itu di tengah zaman yang penuh sensor ini. Hanya saja saya jadi penasaran juga: Inandiak berkata bahwa dia telah memberikan kesantunan atas bagian-bagian cabul itu, tetapi kenapa tetap tak terasa santun? Kenapa tetap cabul juga? Seperti ini misalnya: “Jayengraga merasa tubuhnya menegang, ia muncrat di perut panas Banem, air maninya meluber dan membasahi jembutnya.” Dan seperti ini pula: “Punyamu tak ada separo punyanya tapi lebih cocok bagi selera hatiku. Lagi pula, seandainya punyamu lebih besar, ia akan menjebol silitku!” Astaghfirullah.

Saya rasa tak ada gunanya Inandiak berkata “sudah lebih santun”. Ia tak perlu mengingkari ambisinya yang ingin melanggengkan kevulgaran dan kesomplakan “Serat Centhini”, di samping esensi moralnya yang memikat. Ambisinya itu sudah ketahuan, sama seperti ambisi Amongraga yang masih ingin menjadi raja dan membalas dendam di akhir cerita. Inandiak mungkin tidak dendam terhadap siapa-siapa, tetapi gubahannya itu dapat dijadikan olok-olok yang menyegarkan dan jenaka bagi zaman yang serba sensor ini. Lagi pula ia kecabulan yang baik hati: egaliter dan tak memaksakan.

Sayurnya agak membosankan. Tapi sambalnya nendang! Anyway, terima kasih untuk sajiannya, Bu Inandiak. Lain kali gubah ulang “Suluk Gatoloco” juga, ya, Bu. Di buku yang ini ia mampir terlalu singkat. Kita tahu Gatoloco adalah legenda yang lebih gila dari Cebolang. Begitulah Jawa menjadi misteri yang memikat!

 
 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: