RSS

Karung 18

 
 

Karung 18

Maya

 
 
 

Dia datang jam empat kurang sedikit, di Kafe Nagari sesuai kesepakatan. Aku yang duduk di serambi sempat terpaku melihat kedatangannya. Dia sudah beralih penampilan, tak lagi memakai pakaian tadi pagi yang berkesan cewek masa kini. Sekarang dia memakai semacam kebaya gaya Bali, putih berajut-rajut di bagian tepinya, dan bagian pinggangnya dililit kain. Bagian bawahnya bercelana setinggi setengah betis (aku menyebutnya celana peri). Kurasa memang cocok jika seorang penari berjiwa modis dan eksotis, seperti dirinya. Tapi yang tak kalah mengejutkan, tadinya kukira dia berambut lurus, ternyata… sekarang kulihat sendiri ketika dia tak lagi menggelung rambutnya. Rambut hitam sepunggung itu terurai agak mengombak, berkibar…, diterpa hembusan angin yang turut menggugurkan bunga-bunga kamboja di halaman.

Hampir seperti adegan iklan shampo, minus adegan keramas dan ngibasin rambut.

“Hai,” dia menyapaku dengan suaranya yang ringan.

Aku masih duduk terpaku. “Halo…,” balasku sedikit gugup.

Dia mengulurkan tangan. “Kok, sendirian saja?”

“Mas Dika sibuk di dalam. Semua sedang sibuk,” jawabku seraya membalas tangan Maya.

“Fandy?”

Hmmm, dia mengingat nama Fandy juga rupanya.

“Dia sedang istirahat di rumah,” jawabku. Sebenarnya, Fandy sudah berangkat nonton gulat bugil. Masa perlu aku omongin ke Maya?

Dia duduk di sebelahku, “Kalau kamu? Tidak letih?” mengajak basa-basi.

“Badanku nggak terlalu capek. Pikiranku yang agak capek, butuh refreshing. Kita berangkat sekarang saja, gimana?”

Dia tak butuh menimbang lebih lama. Langsung mengangguk.

“Tapi…,” aku agak malu mengungkapkannya, “kita bisa boncengan saja? Dengan motormu? Soalnya… Mas Dika sebenarnya minjamin motor, sih, tapi dibawa Fandy pulang buat istirahat.” Padahal motor itu dibawa pergi buat nonton Mepantigan. Sialan banget tuh anak!

Ternyata Maya juga langsung setuju saja. Plus dengan senyumnya yang simpul tapi… o my God, kuakui penggemarnya Dimas ini memang manis!

“Tapi Bli yang nyetir, ya?”

“Ya iyalah, aku yang depan. Lucu kalau cowok yang diboncengin!” selorohku, bersikap lebih akrab. “Eh, kok manggilnya masih ‘Bli’?”

“Oh,” dia menempelkan telapaknya di bibir, menutupi tawanya yang renyai. “Maaf…, masih terbawa manggilnya! Dulu waktu saya pertama kenal Dimas juga pakai ‘Bli’. Sudah jadi adat di sini.”

“Gitu, ya? Kalau yang dipanggil cewek, misalnya aku manggil kamu, apa bisa pakai ‘Bli’ juga?” tanyaku, melayani ramah-tamahnya.

“Bukan. Kalau memanggil perempuan yang sebaya atau sedikit lebih tua, pakai panggilan ‘Mbok’.”

Waduh? Panggilannya ‘Mbok’? Masa aku manggil Maya kayak manggil Mbok Marni? Bisa cemburu Mbok Marni!

“Malah kurang akrab, ah. Terlalu formal,” cetusku beralasan. “Aku panggil kamu Maya, kamu panggil aku Denis. Begitu lebih enak.”

Dia tertawa simpul. “Oke.”

“Aku pamit ke Mas Dika dulu,” kataku sambil bangkit berdiri.

Kutinggalkan Maya sejenak. Aku masuk ke dalam kafe, menemui Mas Dika yang sedang sibuk mengurus berkas-berkas di sebuah meja. Dia menyambut sebelum aku sempat menyapa.

“Maya sudah datang, tha?”

“Sudah, Mas. Aku pamit mau ke Kuta, boncengan sama dia,” terangku.

“Oke. Tapi kalau kamu nanti mau pulang, hubungi saya dulu, ya. Malam ini saya ada pertemuan, mungkin saya pulang ke rumah agak malam. Jadi kalau nanti kamu atau Fandy mau pulang duluan, saya bisa beri kunci rumah.”

Aku mengangguk, seraya berucap simpul, “Iya, Mas. Makasih.” Huaduh, Mas Dika baik amat, sih? Baru semalam kenal udah ngasih kunci rumah. Aku malah jadi tambah sungkan.

Kutemui Durus sebentar untuk meminjam helm. Dia mau meminjami, tapi senyumnya agak menyebalkan. Dia tahu bahwa aku akan pergi bersama Maya. Tapi aku senang Si Jempol Kejepit itu tak banyak komentar. Kuhampiri lagi Maya yang menunggu di serambi, langsung mengajaknya cabut. Ke Pantai Kuta!

“Ini,” Maya menyerahkan kunci motornya padaku.

“Aku yang nyetir, kamu yang tunjukin arahnya,” cetusku sambil menyalakan motor.

Maya duduk di belakangku. Tangannya sempat memegang pundakku saat dia menyamankan duduknya. Cuma sebentar, sih. Tapi, secara aku jarang disentuh cewek, jadi agak deg juga. Maksudku, cewek selain Misha dan Leah. Maklum, aku ini bukannya nggak laku, aku cuma bukan playboy aja.

Suasana perkotaan di Kabupaten Badung memang sempat melencengkan bayanganku tentang Bali. Kota ini begitu padat oleh lalu lintas dan bangunan modern. Tapi setelah kuperhatikan lagi selama perjalanan, ternyata tak melenceng terlalu jauh juga. Mungkin karena kemarin aku memperhatikan kota ini dalam keadaan malam, mataku tak menangkap cukup detail. Sekarang, di sore yang masih terang, dapat kulihat bahwa kekhasan Bali tetap tampak pada wajah kota ini. Ornamen-ornamen seperti kain kotak-kotak hitam-putih, payung kayu, arca etnik, dan ukiran pada dinding tampak menghiasi banyak bangunan, yang arsitekturnya modern sekalipun. Pohon-pohon kamboja terlihat hampir di tiap pekarangan. Begitu juga unsur bangunan yang kemarin sempat disinggung Fandy, yaitu altar berbentuk tugu kecil sebagai tempat sembahyang, kulihat hampir selalu ada di depan tiap rumah.

“Altar di depan rumah itu apa namanya?” tanyaku, mencari bahan obrolan selagi di perjalanan.

Merajan. Memangnya ada apa?”

“Semua rumah di Bali pasti punya itu, ya?”

“Kalau rumah keluarga Hindu pasti punya, Den. Meskipun kadang dibangun secara sederhana saja. Kalau di Jawa bagaimana?”

Aku tertawa. “Kalau di Jawa nggak ada yang seperti itu. Soalnya orang Jawa mayoritas Muslim. Tapi kadang ada, sih, tiap malam Jumat di depan rumah diberi sesajen, bunga-bunga gitu. Itu bagi yang masih memelihara tradisi lama.”

“Bunga apa?”

“Mawar, kenanga… apa lagi, ya? Nggak begitu tahu, sih. Yang pasti nggak ada bunga kamboja.” Aku tertawa lagi. “Aku kaget juga waktu lihat di sini pohon kamboja ditanam di depan tiap rumah. Di Jawa, pohon kamboja tempatnya di kuburan. Jarang yang menanamnya di depan rumah.”

Maya tak menanggapiku. Mungkin topik ini kurang menarik.

“Memangnya kamu belum pernah ke Jawa?” tanyaku, memutar objek obrolan.

“Belum. Tak ada keluarga yang di sana,” jawabnya kalem.

“Aslinya kamu dari daerah mana?” kuulik lagi soal asal-usulnya, karena aku masih belum mengingatnya secara jelas.

“Bangli.”

“Seberapa jauh dari sini?”

“Sekitar tiga puluh kilometer.”

“Wow, lumayan jauh juga. Kenapa pilih sekolah yang jauh-jauh?”

“Karena di Badung aku bisa lebih berkembang. Di Bangli tak begitu ramai, Den. Orang-orang di sana mayoritas petani. Beda dengan Badung, sanggar dan pertunjukan tari ramai sekali.”

“Memangnya cuma Badung saja yang ramai? Dengar-dengar, daerah Ubud juga terkenal, tuh?”

“Iya, yang ramai sebetulnya banyak. Ubud, Denpasar, Singaraja… tapi, di Badung aku punya saudara, jadi tidak perlu tinggal sendiri.”

Dia mulai berhenti memakai ‘saya’. Sekarang mulai memakai ‘aku’. Itu lebih nyaman untuk pergaulan, terdengar lebih santai. Perkembangan yang baik.

“Aku dengar dari Dimas, katanya kamu pernah tinggal lama di Medan?” Maya ganti menanyaiku.

“Iya, aku sempat tinggal di Medan.”

“Terus, apa yang membuat kamu pulang lagi ke Jawa?”

Emhhh. Kenapa itu yang dia tanyakan? Bukankah lebih kronologis kalau dia bertanya: apa yang membuatmu tinggal di Medan? Mungkin karena Dimas sudah menceritakan padanya tentang kenapa kami dipisah? Bisa jadi.

“Aku pilih pulang dan tinggal lagi di Solo, karena… agak mirip dengan alasanmu tinggal di Badung: ada saudara. Dimas itu satu-satunya saudara kandungku. Aku pingin aja ketemu dan tinggal sama dia lagi. Karena aku dan dia sebaya, jadi seru aja… punya saudara sekaligus teman main.”

“Ooo…. Tapi, Dimas cerita kalian sering bertengkar?”

“Hahahaha…!” aku kelepasan tawa. “Memang, itulah yang bikin seru!”

Cccttttt…! Mendadak harus kurem laju motor, karena ada motor lain yang menyeberang secara tiba-tiba dari arah berlawanan. Motor itu juga terhenti di depanku. Pengendaranya seorang lelaki yang kelihatan seumuran denganku tapi lebih dekil. Dia menatapku tajam, kelihatan marah. Dia mengucapkan kata-kata yang aku nggak paham, tapi kedengarannya seperti sumpah serapah!

“Ngomong apa? Aku nggak ngerti!” aku balik menukasnya. “Lu yang nyeberang seenaknya, ya, nggak usah marah-marah! Masih untung lu nggak ketabrak! Udah cepat minggir, ini di tengah jalan!”

Dia tambah melotot dan masih ngomong dengan bahasa yang aku nggak paham.

Sedangkan tangan Maya kurasakan kembali memegangi pundakku, kali ini lebih erat. “Den, sudah tak usah digubris, terus saja…,” bisiknya, terdengar cemas.

Sedangkan klakson kendaraan di belakangku mulai ribut.

“Kalau mau ngajak panjang urusan bilang aja, ayo di mana?! Kalau nggak cepat minggir!” kugertak lagi penyetir kampret itu.

Karena bunyi klakson juga kian ribut, akhirnya lelaki dekil sok preman itu minggir. Aku segera tancap gas lagi.

“Nyeberang nggak pakai aturan!” gumamku, meneruskan perjalanan sambil menggerutu. “Dia tadi ngomong apa, sih?”

“Yaa… intinya omongan kasar, Den. Kenapa juga kamu layani?” sahut Maya.

“Dia yang harusnya tahu diri, dong! Dia yang salah. Nggak cepat-cepat minggir malah maki-maki?”

“Tapi tak usah ngajak berantem juga. Kalau dia serius bagaimana?”

“Kalau dia berani ya udah, berantem beneran! Nyatanya dia nggak berani, kan? Jual lagak aja dia tadi.”

Tak kuduga, tangan Maya kembali menjamah pundakku… menepuk-nepuk, setengah memijit. “Tak usah emosian. Dimas saja tak pernah emosian, kok,” ujarnya menasihatiku.

“Oh, ya? Berarti ada perkembangan, dong, selama dia di sini?” selorohku sambil tertawa sinis. “Dia itu emosian juga, kok. Cuma dia jago di mulut. Sedangkan aku di bagian berkelahi.”

Kudengar Maya tertawa. “Kok, kedengarannya kamu bangga, ya?”

“Lho? Memangnya kalau Dimas cerita soal aku, dia nggak pernah banggain aku?”

Tawa Maya terdengar tambah geli. “Pernah dia banggain kamu. Tapi bukan soal berkelahi…”

“Terus?”

“Soal masak!”

“Owhhh… hehehe,” aku ikut tertawa. “Keren, kan, cowok bisa masak? Makanya lama-lama Dimas juga ikutan belajar masak!”

“Iya, tha?”

“Dia bisa masak nasi goreng karena aku yang ngajarin. Bikin omlet, juga aku yang ngajarin. Begitu dia bisa, tiap masak aku nggak pernah dikasih. Dia kasihkan ke cowoknya! Nyebelin, kan?”

Kukira Maya bakal tertawa lagi, ternyata tidak. Dia tak menimpali omonganku, dia cuma memberi arahan ke mana aku harus berbelok.

Setelah jeda agak lama, “Dimas sering, ya, sama pacarnya itu?” dia melanjutkan obrolan tadi dengan nada agak lain.

“Maksudnya, sering dalam hal apa?”

“Yaa… seperti umumnya orang pacaran? Malam mingguan? Atau kencan ke mana?” Nada suara Maya jadi terdengar enggan saat memperjelas pertanyaannya itu.

“Biasa aja, sih. Paling nonton bioskop, nonton band, futsal. Aku juga malas, lah, mengawasi jalannya kencan mereka. Secara… ehmm, mereka cowok sama cowok.”

Kali ini Maya tertawa. Tapi tak selepas tadi. Agak masam, begitu kedengarannya. Atau cuma perasaanku saja? Dia juga tak menyambung topik itu lagi. Sekali lagi dia menunjukkan ke mana aku harus mengarahkan motor. Sudah masuk ke kawasan Pantai Kuta, kata dia.

 

 

Jam setengah lima sore, motor sudah terparkir di tempatnya. Kakiku sudah menyentuh pasir pantai, bertelanjang tanpa alas. Sandalku kutinggalkan di locker motor, atas saran Maya. Dia juga melepas alas kakinya. Bersamanya, aku berbaur ke tengah keramaian.

“Kayaknya sudah hukum alam, tempat yang indah pasti akan dibanjiri wisatawan. Lama-lama keindahannya jadi berkurang, karena kumuh dan riuh,” ucapku, penilaian atas Pantai Kuta yang baru pertama kali kukunjungi ini.

“Kamu tak suka dengan suasana ramai?”

“Bukan begitu juga, sih. Cuma, aku lebih suka pantai yang tenang. Banyak pohon kelapa, bukan banyak gedung. Sinar sunset jadi cahaya yang utama, nggak disaingi oleh sorot lampu-lampu. Itu baru pantai yang asyik!”

Maya tertawa pelan. “Mungkin hampir semua pantai yang bagus di Bali sudah jadi tempat yang ramai. Tak hanya pantai. Desa-desa, hutan, pura, semuanya jadi sasaran wisatawan.”

Kupandangi Maya sekilas. Terlihat seperti agak sendu saat dia mengucapkan itu. Dia meneruskan bercerita…

“Dari cerita orang-orang tua, dulu pantai-pantai di sini sangat tenang. Legian, Jimbaran, Kuta, dulunya adalah desa nelayan. Dulu nelayan di atas perahu sambil meniup suling, menyanyi, berlatih tari Kecak di pantai, suaranya jernih… tetap bisa terdengar sampai di kejauhan biarpun bersaing dengan suara ombak. Sekarang tidak lagi. Suaranya kalah oleh bisingnya musik dari kafe-kafe, kalah oleh suara turis-turis yang suka membuat pesta di tepi pantai. Bahkan ada beberapa yang dijadikan pantai tertutup, dibeli untuk kepentingan hotel-hotel mewah, hanya bisa dinikmati oleh tamu-tamunya saja. Para nelayan masih ada, tapi perahu-perahunya juga sudah berubah. Menjadi perahu dan kapal mesin yang sama bisingnya.”

Aku tak tahu harus berkomentar apa. Seperti ada rasa sedih di balik kata-katanya itu.

“Bagaimana dengan penilaianmu sendiri? Kecewa?” tanyaku.

Dia tertawa datar dan singkat. “Bisa dikenal di seluruh dunia, orang Bali tentu bangga. Di satu sisi kami dapat keuntungan, tapi di sisi lain ada yang semakin hilang. Aku sendiri pindah ke Badung agar bakatku bisa lebih tersalur, bisa dilihat lebih banyak orang. Jika orang lain kagum kepada kita, kita pasti bangga, kan?”

Kalimat dilema. Antara satu hal yang bisa dipilih, dan banyak hal yang pasti terjadi tanpa perlu dipilih. Aku tak ingin menguliknya lebih jauh. Sudah mengerti intinya.

“Bukankah Dimas juga begitu, Den?” Maya, secara tak kuduga, mengaitkan dilema itu dengan Dimas. “Saat dia menentukan pilihannya, seperti yang kita tahu, pasti juga ada yang hilang darinya, kan?”

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab, “Ya. Tapi dia tetap berusaha meraihnya lagi. Tidak semua berhasil diperoleh kembali, tapi setidaknya dia tetap berhasil meraih beberapa. Yang terpenting adalah: dia tak kehilangan keluarga. Kami ingin dia cepat pulang.”

Sambil menapaki pasir pantai, sedikit bermain dengan percikan ombak, Maya menceritakan padaku. Bahwa Dimas telah menceritakan padanya: tentang teman-teman yang pernah mengolok-olok dia; tentang perselisihan dengan seorang guru; hingga tentang Mama. Satu lagi, tentang aku juga…

“Kamu adalah orang yang selama ini paling menguatkan dia, Den. Dia mengakui itu.”

Kakiku terhenti. Diam terpekur, memandangi matahari yang akan terbenam… bulat keemasan seperti permen jeruk raksasa, siap ditelan ufuk barat. Dua belas jam menampakkan diri di langit, waktu terindah untuk melihatnya hanya beberapa menit saja, cuma ketika fajar dan senja. Tapi, fajar dan senja tetap selalu datang tiap hari, tak pernah absen.

Rasa galau mengusikku.

“Tak mungkin aku. Aku punya batas, May. Kesabaranku tetap akan habis juga jika dia terus bersikap seperti sekarang,” tandasku, membagi isi hati kepada Maya. “Jujur saja, aku ragu ada kasih sayang yang tanpa pamrih. Setelah kurasa-rasa, setiap kasih sayang pasti punya pamrih, punya harapan terhadap orang yang disayangi. Sebenarnya harapanku pada Dimas nggak rumit, aku cuma ingin dia mengerti bahwa dia disayangi. Aku berharap dia berhenti memperpanjang masalah ini, berhenti membuat kami cemas. Segera pulang, dan melihat bahwa keluarganya sudah menanti.”

“Dan sampai detik ini kamu masih ada di sini… demi dia?”

Hanya perasaanku saja, ataukah Maya memang menilaiku terlalu mulia? Rasanya aneh. Membuatku menertawai diriku sendiri. “Ini tetap kulakukan dengan pamrih, May,” ucapku.

“Pamrih yang seperti apa, aku masih tak paham?”

Kehela napas. Meniupnya lepas-lepas. “Aku sudah berkorban untuk Dimas sejak kecil. Kamu mungkin sudah dengar ceritanya dari Dimas, bahwa aku diadopsi oleh Tante di Medan sejak umur sepuluh tahun. Kenapa aku, bukan Dimas? Karena orang tuaku percaya bahwa aku lebih kuat untuk dipisahkan dari orang tua. Ya, aku memang baik-baik saja selama di Medan. Tapi apakah berarti aku lebih memilih tinggal di sana dibandingkan tinggal dengan keluarga kandungku sendiri? Karena aku kuat, aku tinggal di sana. Tapi itu bukan pilihanku. Begitu besar, akhirnya aku kembali lagi ke Jawa. Kali ini, itu adalah pilihanku. Aku tinggal bersama Dimas lagi, dan belajar menerima dia apa adanya. Membelanya dari kawan-kawannya yang usil, bahkan membelanya waktu Mama marah padanya. Aku ingin dia mengerti itu. Aku ingin… dia juga peduli padaku! Aku marah karena dia pergi tanpa kabar, tanpa sepengetahuanku… seolah-olah selama ini aku tak pernah mendukungnya!”

Aku tertawa meresapi ceritaku sendiri.

“Aku marah karena aku nggak mau kehilangan, May. Aku nggak mau dukunganku selama ini dijadikan alasan olehnya untuk bertindak semaunya. Dia juga harus peduli!”

Maya menatapku sedikit lama. Perlahan dia tersenyum.

“Kalau itu bisa disebut sebagai pamrih, setidaknya itu pamrih yang baik, Den.”

Dia berjalan mendahuluiku. Menembus gulungan ombak kecil, lebih dekat ke bibir air. Ia mencandai air laut dengan telapak kakinya. Rambutnya yang cukup panjang itu menjadi mainan angin pantai, membuatnya tampak agak kerepotan. Berulangkali ia membenahinya. Akhirnya, dengan cekatan ia mengemas rambutnya itu. Tak perlu waktu lama, dia telah kembali menjadi Maya yang tadi pagi: Si Gadis Bergelung. Tapi kali ini cahaya sudah remang, dia sudah menjadi setengah siluet, maka lekuk tubuhnya yang ramping itu kian kentara saja….

Dia menoleh lagi padaku, “Jadi menurutmu Dimas tak peduli bahwa kamu menyayanginya?” lontarnya. Meskipun remang, masih dapat kubaca ada senyum di bibirnya.

Senyum seorang gadis yang sedang penasaran pada perasaan seorang laki-laki? Tapi, yang dia tanyakan bukan tentang perasaanku padanya. Hahaha…. Terasa konyol juga aku membicarakan ini dengannya.

“Dia kurang peduli. Kurang mengerti,” jawabku sambil mendekat padanya.

“Kurasa dia mengerti, Den,” dia menyanggahku.

Kutatap Maya agak lama, ingin mendengar lebih banyak darinya. Tapi, raut manis itu berubah agak sayu saat dia menyambung ucapannya…

“Setiap dia bercerita tentang dirimu, aku bisa menangkap bahwa dia juga sangat menyayangi saudaranya: kamu. Meskipun tak segamblang dirimu.”

“Tak segamblang aku?” aku mengernyit, menarik senyum ragu.

Maya tertawa renyai. “Dia tak pernah langsung menyatakan kata sayang. Dia hanya menceritakan betapa kamu sangat perhatian padanya. Kata ‘sayang’ adalah kesimpulanku sendiri. Berbeda denganmu, kamu terang-terangan menyatakan sayang padanya.”

Dia tertawa lagi.

“Kenapa sepertinya itu jadi lucu buatmu?” tukasku, menyembunyikan sedikit kesal.

“Bukan lucu, tapi… mengejutkan.”

“Apanya yang mengejutkan?”

Maya memandangku sesaat. “Kamu sangat terbuka. Sangat jujur. Bahkan ketika marah, kamu tak menahannya.”

Kali ini akulah yang tertawa. “Adakalanya aku sangat jujur. Tapi nggak selalu, kok. Aku juga bukannya nggak bisa menahan emosi…”

“Bagaimana dengan yang di jalan tadi?” Maya membalik ucapanku dengan mengingatkan insiden kecil yang terjadi saat di perjalanan tadi.

“Yaaa… yang tadi itu karena aku nggak kenal dia. Dia ngawur, ya aku ajak berantem. Nggak urusan dengan perasaannya. Tapi kalau sama orang yang sudah kenal baik, ya aku pasti lebih toleran,” kelitku panjang.

Dia tertawa lagi. “Tapi, kalau laki-laki gampang emosian memang tak terlalu mengejutkan. Yang mengejutkan adalah: keterbukaanmu saat membicarakan saudaramu.”

“Kenapa mengejutkan? Apakah itu istimewa?”

Dia mengulum senyumnya. “Sesama saudara laki-laki biasanya tak saling peduli. Karenanya, sikapmu yang perhatian… itu istimewa.”

Pengakuan darinya, itu malah agak memalukanku. Aku dipuji hanya karena menyatakan kepedulianku kepada saudara, bukankah agak aneh? Bukankah wajar dan masuk akal jika aku mencari saudaraku yang minggat? Kenapa harus dipuji? Kenapa harus dianggap istimewa?

Aku lebih senang jika dia memujiku dalam hal yang lain. Aku lebih cakep dari Dimas, misalnya. Aku punya lesung pipit, badanku sedikit lebih berotot, penampilanku lebih gaul, dan aku lebih pemberani. Kenapa dia tak membicarakan itu saja?

“Boleh aku bertanya, May?”

“Apa?”

“Bagaimana kamu mengenal Dimas?”

Dia sedikit mengerutkan kening. “Maksudnya? Bagaimana aku bisa kenal dia, atau bagaimana aku menilainya?”

Aku tersenyum menanggapi kehati-hatiannya. “Dua-duanya.”

Dia tertawa tipis, canggung. Tak langsung menjawab. Dia menarik langkahnya untuk menepi. Aku mengikuti. Ketika telah tiba di tepi, barulah dia bercerita…

“Durus itu kakak teman semejaku di sekolah. Setiap band-nya latihan atau perform, aku dan temanku sering ikut menonton. Waktu Dimas bergabung, dari situlah aku mulai mengenalnya. Sebagian temanku juga mengenalnya.”

“Seakrab apa kamu mengenalnya?”

Dia tersenyum agak ternganga mendengar pertanyaanku, seolah pertanyaanku itu mengejutkan. Atau, mungkin terlalu frontal. Senja sudah telanjur gelap, aku tak bisa memastikan apakah rona wajahnya juga ikut berubah.

“Seakrab… yaa, teman sewajarnya…,” jelasnya, menghindari pandanganku. “Dia teman yang easy going, jadi yaa… akrab saja.”

Yang kutahu, Dimas tak terlalu easy going dengan perempuan. Dan, nada bicara Maya terlalu nervous.

“Kamu bilang, kalian juga pernah kemari?” singgungku.

“Ya. Dan membuatnya kehilangan HP,” jelasnya, dengan suara terdengar canggung. “Aku masih tak enak padanya. Itu benda kesayangannya. Lagu-lagu yang dia sukai dia simpan di sana. Aku minta beberapa, dia sudah berjanji akan membaginya. Tapi… malah hilang.”

“Padahal dia orangnya pelit,” celetukku.

Maya tertawa menimpaliku. “Tidak juga.”

“Dia nggak pernah memberi tanpa mengomel dulu. Kalau sama aku, sih. Mungkin sama kamu enggak.”

“Ah, dia bilang kamu juga begitu. Katanya kamu juga suka ngomel kalau uangmu dipinjam.”

Jleb!

“Kayaknya dia cerita banyak ke kamu, ya?” kelitku. Terus memancing.

Dia sedikit menerawang. “Banyak yang dia ceritakan,” ucapnya, seolah sengaja menyamarkan banyak maksud di balik kalimatnya itu.

“Termasuk hubungannya dengan Fandy, dia sendiri yang menceritakannya padamu?”

Dia mengangguk, tak mengucap.

“Bagaimana kamu menilainya, May?”

Dia tercenung agak lama.

“Itu pilihannya,” tandasnya datar. “Biarpun terdengar mengecewakan, itulah pilihannya.”

“Mengecewakan? Bagi siapa?” ulikku cepat-cepat. Apakah Maya telah kelepasan bicara soal perasaannya?

“Maksudku, siapapun yang mengenalnya mungkin kecewa saat mendengar pilihannya itu. Siapa yang ingin dia punya pilihan seperti itu, Den? Dia menjalani hubungan cintanya dengan… sama-sama laki-laki. Kamu ingin dia seperti itu?” dia balik bertanya dengan nada sedikit lebih tergesa. Nervous.

Aku menggeleng. “Aku kecewa. Tapi aku setuju bahwa itu adalah haknya. Dia yang menjalani.”

Kurasa, Maya memang kecewa.

“Sebenarnya cukup mengejutkan dia mau jujur padamu, untuk masalah yang sedemikian pribadi,” ulasku hati-hati. “Saat terakhir dia menemuimu, apakah nggak ada hal penting yang bisa kamu sampaikan untukku, May?”

“Apa?”

“Apa saja. Mungkin dia nggak ngomong secara gamblang, tapi bisa kamu simpulkan sendiri… siapa tahu bisa jadi petunjuk dia ada di mana saat ini? Atau… hal apapun yang menurutmu penting untuk kudengar?”

Ayolah, May. Aku nggak mau menelanjangi perasaanmu bahwa kamu suka kepada Dimas, tentu kamu akan malu… tapi, cukup katakan saja apa yang kamu tahu tentang dia. Bantu aku.

Dia masih terpekur. Entah sedang mencari ingatan yang ingin dia sampaikan padaku, ataukah hanya ingin berusaha menutupi perasaannya.

“Kamu sudah mengerti bahwa aku kemari demi dia, May. Aku bingung mencarinya,” desakku, menandaskan keluh kesahku.

“Aku benar-benar tak tahu dia ada di mana sekarang,” Maya menjawabku agak gugup. “Tapi, dia pernah berkata… dia pasti akan pulang pada saatnya, Den.”

“Tapi kapan?”

“Dia tak menjelaskan. Tapi saat dia mengatakannya, seolah itu tidak lama lagi.”

“Jika memang tak lama lagi, seharusnya dia bisa menyebut dengan lebih pasti: kapan. Kedengaran kalau sepertinya dia belum sungguh-sungguh berencana pulang. Dia tak sungguh-sungguh memikirkan rumah,” dengusku, membuang napas lesu.

“Den, percayalah, dia peduli padamu. Dia peduli pada kalian.”

“Dia sendiri yang membuat kepercayaanku semakin menipis.”

Maya berhenti menyahutku. Aku sendiri merasa menemui pembicaraan yang buntu. Kami terdiam. Di antara maraknya suasana senja, terbaur tapi tidak larut. Mulut membisu, tapi hati masih bertengkar sendiri dengan gundah masing-masing. Ya, aku yakin Maya pun pasti memendam sesuatu di hatinya. Sengaja dia sembunyikan. Aku sangat yakin. Tapi tak akan kuusik.

“Pulang?” itulah yang dikatakannya setelah kami sama-sama lama terdiam.

Aku mengangguk. Merasa sudah cukup.

Kami meninggalkan Pantai Kuta. Salah satu maskot wisata Pulau Dewata, katanya. Jika harus jujur, bagiku pantai di Pura Rambut Siwi jauh lebih eksotis. Dan mungkin, setelah meninggalkan tempat ini, hal pertama yang akan kuingat tentang sore ini bukanlah Pantai Kuta. Tetapi Maya. Si Gadis Bergelung yang, aku menduga kuat, telah menjadi sudut ketiga di antara Dimas dan Fandy. Sayang sekali, dia tak mungkin berhasil.

Perjalanan pulang tak seberkesan ketika berangkat. Langit sudah gelap, cahaya lampu kembali menyamarkan wajah kota Badung, menjadi tak ubahnya Medan atau Solo malam hari. Nggak ada kejutan penyeberang jalan yang ugal-ugalan. Nggak ada percakapan seakrab sebelumnya. Mungkin Maya telah merasa bahwa aku mulai membaca apa yang dia tutupi. Dia menjadi rikuh. Aku semakin paham, begitulah seorang perempuan ketika memiliki perasaan. Tak hanya suka menunggu, tapi juga menyembunyikannya.

Aku tak menyalahkan Maya.

Aku juga tak menyalahkan Misha.

Semua berhak punya perasaan. Termasuk aku sendiri. Jika aku tak menguraikannya, bukan karena aku malu, tapi karena ini bukan saat yang tepat untuk membicarakannya.

Tiba-tiba saja aku jadi ingat bahwa Dimas pernah berkata padaku…

“Hari ini bukan saat yang tepat. Tapi besok mungkin kamu sudah terlambat.”

Ya, dia ada benarnya. Buktinya, aku gagal jadian dengan Misha gara-gara terlalu lama menunda pernyataan. Tapi… ah, nggak terlalu penting juga. Gue bukan Dimas yang 60% otaknya cuma buat mikirin pacar!

Apalagi Fandy dengan teori kurvanya itu! Jika aku mengikuti teorinya, ya, mungkin saja aku akan menghasilkan gambar kurva menyerupai bentuk hati itu. Tapi, aku menggambarnya dia atas trapesium.

Bohong kalau aku bilang Maya tidak cantik! Tapi… aku harus menjadi sudut keempat?

Posisi yang sangat tidak menarik!

Kami sudah tiba lagi di Kafe Nagari. Maya tak berniat singgah, dia langsung pamit. Tapi sebelum pergi, dia mengungkapkan sesuatu padaku.

“Den, setelah aku pikir, sebaiknya aku memang harus bilang ini padamu…,” dia berucap dengan raut resah.

Aku tak menyela, mendengarkan dengan seksama ucapannya.

“Sebetulnya Dimas menemuiku di Bangli untuk memperbaiki masalah di antara kami. Ada kesalahpahaman antara aku dengan dia. Dia menitipkan laptop sebagai semacam tanda… kalau kami masih berteman. Kuharap kamu mengerti kalau aku inginnya tak berterus-terang begini….”

Aku mengangguk. Aku mengerti perasaan perempuan.

Dia tersenyum pahit. “Tapi aku egois jika tetap diam saja, padahal aku tahu sesuatu yang mungkin penting untuk kalian,” ujarnya, seraya menuliskan sesuatu di secarik kertas. Lalu memberikannya padaku.

Aku menerima dan membacanya. Mataku berbinar. Aku langsung tahu apa maksudnya.

“Biarpun dia memberiku kepercayaan, tapi aku sungkan untuk mengorek isinya. Mungkin kamu lebih jeli, Den. Siapa tahu memang ada petunjuk di sana.”

Thanks, May. Ini akan sangat berguna,” ucapku, menahan kejut sekaligus sedikit haru.

“Kuharap begitu,” ucapnya simpul, mengamini kejutannya di ujung perjalanan kami petang ini.

Hmmm. Gadis Cantik Bergelung, akhirnya dia memilih untuk membuka apa yang dia sembunyikan. Meski tak gamblang, aku sudah mengerti intinya. Tak perlu memintanya lebih dari ini.

Dia berpamitan. Pulang. Nice to meet you, May.

Aku bergegas menuju ke kafe untuk mencari Mas Dika. Fandy yang sedang bersantai di serambi menyambutku dengan ocehannya.

“Yang ikut Mepantigan kebanyakan om-om,” ocehnya tanpa ditanya. “Pantai Kuta gimana?”

“Mas Dika masih di dalam?” tanyaku, tanpa menggubris ocehannya.

“Masih meeting dengan boss-nya. Kenapa buru-buru begitu?”

“Aku sudah menduga Maya tahu sesuatu!” tukasku, sambil menunjukkan secarik kertas yang diberikan Maya padaku. “Dia memberiku kata sandinya!”

Fandy mau merebut kertas di tanganku, tapi aku lebih dulu mengamankannya.

“Ayolah!” dia merengek.

Aku tersenyum sinis. “Kamu nggak berhak tahu! Karena bibirmu sudah selingkuh dengan bule Perancis, dan matamu sudah selingkuh dengan pemain gulat bugil! Tahu nggak, aku nggak rela Dimas bikin password kayak gini!”

“Makanya, memangnya apa password-nya? Sini bagi!”

Aku tetap menolak. Jika Fandy kuberi tahu, dia jelas akan besar kepala! Aku sendiri mengumpat dalam hati mengetahui betapa lebay-nya Dimas membuat kata sandi.

Canon-in-F!

Dipikir aku nggak tahu ceritanya?

Ohhh, dasar pasangan sok unyu!

 
 
 
 

 bersambung…

 
 
 
 

 

56 responses to “Karung 18

  1. noelapple

    18 September 2014 at 10:53

    Selamat membaca dan menikmati musiknya.🙂

     
    • titan

      20 September 2014 at 22:03

      aku suka sama cerita sambungan nya yang terakhir😄
      dan aku suka bangeet sama lagunya yag begitu indah di dengar sambil membaca cerritanya yanng membawa suasana bali di kepala ku ketika dibaca!
      ah…bang noel hebat bikin ceritanya!! sunguh,,,, aku fans pembaca berattnnya abang!
      ceritanya kreatif dan terkadang ingin baca ceritanya berulang kali!

       
    • dontbesyai

      21 September 2014 at 23:18

      Noel, kasih contekan arti lagunya dong! Cuma tahu kata-kata bercumbu mesra doang.

      By the way, lagunya agak senada (bukan mirip lho) dengan lagu Gending Sriwijaya. Mungkin Bali ama Sriwijaya masih punya hubungan sejarah kali ya?

       
  2. Walter

    18 September 2014 at 12:59

    Akhirnya keluar!!😀 thanks wejangannya, Bang Noel Apple :p

     
  3. blackshappire

    18 September 2014 at 20:59

    huaaaa merinding denger lagu yg ada di video atas tu….
    baru pertama kali denger tp langsung sukaa

    jadi inget lagu lembayung bali nya Saras Dewi, kental bgt nuansa bali nya

    thanks bang Noel uda update🙂

     
  4. Walter

    18 September 2014 at 21:34

    Bang,, itu lagunya lagu bali kah??

     
  5. Arif Haris

    18 September 2014 at 22:37

    Di tunggu lagi lanjutannya..😀

     
  6. Anonymous

    19 September 2014 at 00:14

    Selalu ya, di balik pertemuan dan sikap selalu ada rahasia yang terpendam. Jadi penasaran ‘meluruskan’ masalah apa itu antara Dimas dan Maya haha. Tapi beruntung juga Denis bisa ngorek, kan gimana-gimana juga Maya baru kenal Denis. Dan passwordsnya… speechless(?) Dimas sama Fandy emang cinta mati ya haha. Terima kasih atas chapter yang menyenangkan tapi tegang ini yaa ^^

     
  7. Zaq Roman

    19 September 2014 at 16:24

    terahirnya bikin kesel euyy,. ngingetin lagi ke masa masa saat dimas nembak fandy pake lagu yang sumpah lebay bangat haha

     
  8. kim juliant

    19 September 2014 at 21:16

    Keren mas noel…
    Udah mulai terang jlan menuju dimas…
    Thanks mas noel unyu..

     
  9. royakhinu

    19 September 2014 at 22:05

    bagus bang

    favoritku saat membaca kalimat yang berbelit2 dan menyimpulkan sendiri maksudnya . itu keren •﹏•

     
  10. kazekage

    20 September 2014 at 11:31

    Lebih pendek dari yg kmrn.. Tapi bagus mas. Denis jd cowok bgt ngajakin berantem penyebrang jalan. Uhh maya pasti kesemsem tuh mas.. Hahahaaaaa

    Lagunya ga bisa denger krna pake hp jelek.. Heheeee.. Ditunggu kelanjutan. Terimakasih

     
  11. teyo

    21 September 2014 at 01:03

    Untung maya gak di ajak adu argumen hahaha😀

     
  12. yanz

    21 September 2014 at 11:12

    hahahaa ” pasangan sok unyu ”

     
  13. dontbesyai

    21 September 2014 at 23:13

    Oh Tuhan! Segelnya baru terbuka karung depan? Berasa pengen jambak Noel dan kasih bunga Kamboja di kupingnya seakar-akarnya sekalian. Gemes.

     
  14. uta

    22 September 2014 at 01:03

    Ceritanya bikin penasaran,,,, bikin pembaca serasa ikut main di dlm cerita…. ouh iya mas noel boleh koreksi dikit yah,,,, kan karaker fandy kuat bgt,,.. dnn bubuhn nakal di tokoh itu membuat sang tokoh jd kurng greget lg

     
    • noelapple

      22 September 2014 at 22:24

      yg kau maksud bukan koreksi, tp lbh tepat disebut kritik. oke gpp.

      greget tidak greget, itulah adanya Fandy.

       
  15. shin wardoyo

    22 September 2014 at 18:31

    kirain saya chapter ini masih sama dengan 2 chapter sebelumnya yang masih banyak banding argumen antara fandy dan denis, ternyata chapter kali ini sudah mengganti tokoh lawan bicara denis dan itu membuat saya gajadi bosen. kalo saya pikir chapter ini masih sama sama 2 chapter sebelumnya ini bakal membosankan sekali. ternyata bang noel pinter juga baca situasi😉

     
  16. suanto syahputra

    22 September 2014 at 22:51

    kalo boleh tahu, judul lagunya apa?

     
    • noelapple

      23 September 2014 at 17:32

      Tinggal klik link Youtube-nya.

       
  17. ara

    23 September 2014 at 00:10

    Kaciaann ya Maya,,,, sakitnya tuch pasti d sini *nunjuk dengkul #eh.
    Ngerasain bgt deh apa yg d kecewain ama Maya rasanya pasti berkali” lipet dari orang yg kita sukain udh punya pacar doang…
    harus berjiwa besar banget buat nerima dan cuman bisa berharap org yg kita sukain akan bahagia dg apapun pilihannya…. *poor maya
    Poor juga buat Denis,,,, patah untuk kesekian kalinya apalagi ini harus saingan ama Dimas..huhuhuhuhu…. *peyuk peyuk Denis
    Tapi salut buat Denis ttp fokus dg tujuannya dtang ke bali.
    Makin keceh deh mas Noel dialog”nya tajem bgt buat ngebelek” pikiran … Hehehe…
    Sukses trus buat Mas Noel ^_^

     
  18. Alvinlee Haikal Loveprincezztillthelastbreathe

    23 September 2014 at 10:41

    CERITA GAY YANG AMAN DI BACA??? HMMMM…JADI PENASARAN PENGEN BACA SESUATU YANG DIANGGAP TABU DGN RACIKAN YANG BERBEDA ARTINYA…YA EMANG DAPET….ROMANNYA…..G PORNO….BAGUS…..WLO CUMA AGAK LEBAY CH…ANAK SMU BICARANYA HIGH CLASS BANGEDD…….TAPI OVERALL…NICE STORY…I LIKE IT NOEL

     
    • noelapple

      23 September 2014 at 17:29

      Lain kali nggak usah di-capslock, ya.

       
    • Obipopobo

      25 Oktober 2014 at 11:19

      Baca SKO nya Obi bang🙂 , siapa tau seperti apa yang abang inginkan🙂 , makasih bang🙂

       
  19. Lukman-A dicky

    24 September 2014 at 10:50

    kira2 surprisenya kayak apaan yak

     
  20. babayz

    26 September 2014 at 20:53

    Gak sengaja ngecek taunya udah updet, huhuy..postingannya makin cepet dan gak lama nunggunya, thanx banget! Part cerita ini makin bikin deg2an,penasaran apa isi lappynya dimas, dan pengen tau apa sih artinya Cannon-in-F itu bang Noel?

     
    • noelapple

      1 Oktober 2014 at 19:12

      Canon In F adalah inti dari CRA 2 – Kantong 39. Yang sudah baca pasti tahu.

       
      • babayz

        4 Oktober 2014 at 09:44

        Bang Noel Canon In F ini ada di CRA 2 kantong 39, tapi diblog dan WP gak ada ya? Apa cuma versi novelnya? Saya belum baca nih, boleh beri tau linknya..😦

         
      • noelapple

        4 Oktober 2014 at 17:59

        ke ceritasolitude.blogspot saja.

         
      • gad

        2 November 2014 at 20:50

        bang noel, nyari kantong 39 susah lohhhh,,,,,,😥

         
      • noelapple

        3 November 2014 at 21:56

        ah masa?

         
  21. gayakunet

    28 September 2014 at 20:40

    Buat saya cerita ini mendidik. Saya banyak mengambil nasehat dari cerita ini. Saya punya buku diary karena cerita ini. Adakah cinta seperti ini di pelangi yang nyata? Pelangi telah menjadi bagian mewarnai bumi.

     
  22. HamidPrasetya

    29 September 2014 at 01:28

    cerita pencarian si Dimas oleh Denis semakin seru aja……..ayo Den,Semangat kami akan suport .THANKZ for Mas Noel dan Tul;isanx.

     
  23. Riko Febrian

    5 Oktober 2014 at 22:42

    Mas Noel, please dong ada unsur sex-nya antara Dimas sama Fandy. Masa udah sampe season 3 gini ga ada. Dah ga sabaran nih. Padahal aku imajinasinya udah ke mana-mana..:/

     
    • noelapple

      6 Oktober 2014 at 10:56

      Tidak mau!

       
      • Riko Febrian

        7 Oktober 2014 at 17:40

        Jiah, tapi di spin off sebelumnya udah sampe ceritain penis segala tuh Mas.. -_-
        Ga perlu sampe ml kok Mas..

         
      • noelapple

        8 Oktober 2014 at 10:21

        Nha kalo nggak perlu sampai ML kan harusnya udah puas juga tuh, kemarin2 ngomongin seks kan juga udah sering. Nggak perlu harus over.

         
      • Lorenzo Alfredo

        9 Oktober 2014 at 19:10

        Bener tuh mas..unsur explicitnya ditambah dikit aja.

         
      • Riko Febrian

        11 Oktober 2014 at 01:29

        Belum puas lah Mas. Sampe muncrat lah, hehe.. :p
        Kissing n isap2an-nya juga ga ada tuh.. :p

         
      • noelapple

        12 Oktober 2014 at 23:05

        bikin cerita sendiri ajah,,,

         
      • Lorenzo Alfredo

        14 Oktober 2014 at 05:45

        Ya udah gapapa klo gk ada unsur sex-nya lagian juga cerita ini udh bagus bgt koq mas noel.

         
  24. Yoonaagnes Aroonyan FreyaArisastevenlupheyoun Vany

    12 Oktober 2014 at 13:40

    bagus bagt ,ceritannya . . . gue nyesel bgt padahal suka ,beli atau pinjem novel teenlit tp ru baca novel cowok rasa apel 3 hari lalu.. gue suka bgt cerita nya apalagi yg ada anak kembr thu. . . .

    ceritanya aman dibaca,udh gini aja dah bgs ,ngk ush ada unsur 2 kesn ..kn kasian lau yg baca cewek .

     
  25. Yoonaagnes Aroonyan FreyaArisastevenlupheyoun Vany

    14 Oktober 2014 at 12:45

    kira2 kpn lanjutnya yah…
    ngk sabar pingin baca cos fujoshi sih #hehe

    semga kak noel bnyk dpt mood buat nulis kelanjtnya lg …

     
  26. Gilang

    15 Oktober 2014 at 14:38

    Ceritanya cuma berhenti sampai karung 18 kah ? Lanjutannya mana ? Ceritamu bagus, Noel, detail dan hidup banget. Nungguin kelanjutan ceritanya. Good luck.

     
  27. asa

    15 Oktober 2014 at 15:23

    judul lagunya apa tuh mas noel? hehee

     
  28. si Boy

    16 Oktober 2014 at 16:03

    nih kapan direalese edisi karung 19 nya yah bang Noel ?? ^_^

     
  29. Nandi Julian Putra

    18 Oktober 2014 at 19:35

    min kapan dilanjutinnya ke karun 19 , ,

    penasaran minn😀

     
    • noelapple

      21 Oktober 2014 at 11:22

      Iya, kapan ya, Min?

       
      • alvian reymond

        25 Oktober 2014 at 11:01

        jawaban kampret😀

         
  30. Galih

    22 Oktober 2014 at 12:54

    Keren . .makin cinta da sama cerita ini . .sayang baca nya lewat hp ngak dr warnet atau modem . .ngak bisa dengar lagu nya . .bang Noel sukses selalu . .aku org pertama yg mengharapkan kehadiran Karung 19 . .hehehehe

     
  31. Galih

    22 Oktober 2014 at 13:16

    Baru nyadar . .ketika liat komen paling atas udah di post dr bulan lalu tanggal 18 . .lah kenapa saya baru tauh . .wah parah . .parah banget ini ma . .bang Noel biasa nya kalau mau update koar2 di twitter la kenapa saya ngak tauh coba . .apa mungkin ketutup ya . . Berharap di bulan ini Karung 19 nongol . .

     
  32. HamidPrasetya

    25 Oktober 2014 at 01:29

    Demam CRA,,,,klo udah open internet pasti nyari karung 19>heheheheheh>>>>>>,,,,,,mas Noel kpan lnjutanx ??????? (ga mao ketinggalan) !!!!!

     
  33. muhamad sobani

    3 November 2014 at 18:51

    bang noel di twitter kata.y hari ini karung 19 di liris, ga sabar nih:)

     
  34. TitikMerah

    24 Mei 2015 at 08:48

    αρα maksudnya canon-in-f?????
    seruuuuunya sumpahhhh bikin ketagihan

     
  35. purie

    4 September 2015 at 22:50

    oh dasar pasangan sok unyu…lol
    wkwkwwk

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: