RSS

Karung 23

 
 

KARUNG 23

Di Tempat Para Dewa, Kami tak Mencari Dewa

 
 
 

Perjalanan ke timur, menuju ke Karangasem, menjadi perjalanan yang sama sekali berbeda dari rute-rute sebelumnya. Bisa saja kubicarakan tentang suasana perkotaan yang jauh lebih sepi dari Badung atau Ubud, yang dengan begitu justru menampakkan pemandangan khas Bali yang lebih asli dan sebetulnya aku sangat suka itu. Apalagi setelah melewati Semarapura, jalan raya membentang bersebelahan dengan pesisir selatan. Tapi, tidak, aku tak mau membicarakan lagi secara bertele-tele tentang pemandangan, yang kujumpai sepanjang rute Gianyar – Klungkung – Karangasem. Menceritakan soal pemandangan sudah terlalu sering kuulas di karung-karung sebelumnya; jalan raya di dekat pantai sudah kuulas ketika di Jembrana, begitu pula suasana pedesaan sudah pernah kuceritakan ketika singgah di rumah Mas Awan. Kalian akan bosan kalau aku bercerita lagi soal pemandangan yang mirip dengan sebelum-sebelumnya itu. Kalau begitu, lantas apa yang membuat perjalanan kali ini menjadi “berbeda dari rute-rute sebelumnya”? Ini yang membuatnya berbeda: suasana hatiku.

“Dimas ada di Pura Lempuyang,” kata-kata Mas Angga yang menegaskan kebenaran mimpi Fandy terngiang tak hanya sekali dua kali di telingaku. Berkali-kali! Dan selalu disambung dengan peringatannya yang di luar pemahamanku, “Ada beberapa pantangan untuk ke sana. Yang melanggarnya bisa celaka—bahkan tak bisa pulang.”

Bagaimana kalau Dimas tak bisa pulang…? Bagaimana kalau aku, Fandy dan Erik nanti juga tak bisa pulang?

Itu menggangguku. Mengganggu suasana hatiku. Masalah keluarga, gangguan mistis, dan—yang membuatku kesal pada diriku sendiri—berucap tanpa kendali, semua itu termasuk sebagai pantangan untuk ke tempat itu. Berita buruk: aku sudah melanggar pantangan-pantangan itu. Berita baiknya? Aku ke sana tak sendirian, itu saja berita baiknya. Ada Si Cowok Enerjik dan Si Unyu. Kami bertiga. Dan kalian tahu bahwa tiga adalah angka ganjil. Konon, angka ganjil tidak baik untuk perjalanan. Jadi, berita yang kupikir baik ini pun bisa jadi sebetulnya tak baik-baik amat.

Lihat, barengan sama Fandy selama beberapa hari saja berhasil membuatku jadi percaya pada mitos-mitos seperti itu! Aku nggak habis pikir, biasanya yang percaya mitos-mitos begituan adalah Dimas; dia mudah sekali terpengaruh begitu mendengar yang namanya mitos. Tapi… berani sekali dia ke pura itu? Nekat banget? Apakah kebetulan dia tak tahu soal mitos itu?

Baiklah, sejak berada di Bali, kurasa Dimas memang sudah menjadi pribadi yang berubah dalam beberapa hal, di antaranya adalah dalam hal keberanian. Dan dalam hal itu rupanya pembelaan Fandy benar, bahwa tak seharusnya aku meremehkan Dimas. Menyuil yang pernah diucapkan Fandy: di balik sosoknya yang cenderung pemalas dalam hal-hal yang menyangkut tantangan fisik, sesungguhnya Dimas menyimpan jiwa seorang fighter. Dimas membuktikan itu selama di Bali, dan itu kuketahui setelah membaca catatan-catatannya. Si Unyu benar.

Dan aku memiliki kekesalan tersendiri ketika ucapan kekasih Dimas itu terbukti benar. Aku kesal karena dalam hal tertentu ternyata Fandy mengenal Dimas secara lebih baik dariku. Padahal aku dan Dimas adalah saudara kembar; kupikir tak ada yang lebih mengerti dia selain aku. Rupanya kedudukan seorang pacar memang nggak bisa disepelekan. Hmm, padahal dulu aku sampai bertengkar dengan Fandy gara-gara “memperebutkan” siapa yang lebih memahami Dimas—kalian mungkin masih ingat tanpa harus membaca ulang: pertengkaran itu terjadi waktu kami singgah di rumah Mas Awan. Mulai sekarang aku tak akan meremehkan pendapat Fandy lagi, dalam hal-hal tertentu—di antaranya termasuk hal-hal gaib, sebab dia seorang “Lavender”. Aku juga tak akan meremehkan pendapatnya jika suatu saat menurunkan wahyu tentang cara mengusir nyamuk, sebab lavender adalah tanaman pengusir nyamuk.

Kalimat terakhirku di paragraf sebelumnya boleh kalian anggap sebagai humor yang jayus. Tetapi bahwa diriku yang sekarang adalah Denis yang terpengaruh pada mitos, kutandaskan bahwa itu benar. Sepertinya memang aku sendirilah yang sudah menyerahkan diri untuk mempercayai mitos-mitos tertentu—pada cara berpikir yang jauh dari rasionalitas itu. Selain karena pengalaman mistis yang kujumpai semalam, juga karena pikiranku betul-betul sudah lelah. Capek. Dan, sebetulnya, selama ini aku bukannya nggak percaya hal-hal berbau gaib; aku pernah bilang di kesempatan yang lalu bahwa jika kau percaya Tuhan, maka dengan sendirinya kau juga tak bisa menyangkal eksistensi hal-hal gaib. Aku percaya Tuhan, jadi aku percaya adanya hal-hal gaib. Hanya saja, kali ini aku lebih merinding dibanding sebelum-sebelumnya, itu saja.

Dimas menjadi pribadi yang berubah selama di sini, maka bukan nggak mungkin jika aku pun begitu. Hanya saja perubahan kami mungkin bukan di hal-hal yang sama. Kali ini betul kata Ben: perjalanan ini akan menjadi petualangan yang mengubah diri kami.

Jangan-jangan Ben juga “Lavender”?

Apa pun yang berkembang atau berubah dalam diri kami, dan apa pun yang akan kami alami, aku hanya berharap semoga setelah melewati semua ini kami akan baik-baik saja. Kami akan tetap ke Lempuyang! Dan semoga Dimas kami temukan juga dalam keadaan baik-baik saja, dan dia mau pulang, dengan cara sukarela ataupun dipaksa. Itu akan membuat pencarian yang melelahkan tenaga dan pikiran ini menjadi setimpal. Soal mitos yang berkata bahwa kami tak boleh membawa masalah ke sana? Well, aku akan pegang wejangan Papa ketika kami berpisah di stasiun: “Kita memang punya masalah. Tapi kita datang untuk menyelesaikannya.” Itikad baik, itulah yang menjadi kekuatan kami.

Erik adalah penyetir yang mahir. Dia bisa mengendalikan kemudi sambil melakukan hal lain, tanpa kehilangan presisi atas laju mobil. Tangan kanannya tetap memegang setir, sedangkan tangan kirinya bisa sambil merogoh-rogoh tas, laci, bahkan membuka bungkus permen—dia menawarkan permen stroberi padaku, tapi aku menolak karena diary Dimas bikin aku trauma. Aku bisa menyetir mobil, tapi belum berani menyetir dengan cara begitu. Meski demikian, sebetulnya aku merasa kurang tenggang rasa kalau harus dia terus yang menyetir. Aku sudah menawarinya untuk kugantikan, tapi dia menolak. Ya sudah. Rute juga tak terlalu jauh, sih. Sedangkan Si Unyu tiduran saja sepanjang perjalanan, mengonggokkan diri di jok tengah seperti jemuran jatuh. Mungkin dia memang yang paling capek di antara kami bertiga, karena semalam dia berantem melawan Celuluk. Bahkan dia hampir kesurupan.

Nasib Dimas memang aneh, ya. Dia itu takut hantu, tapi siapa sangka dia kemudian pacaran dengan orang yang ternyata bisa lihat hantu? Fakta lainnya: dia punya saudara kembar straight, yaitu aku, tapi kok dia bisa jadi homo? Memang, sih, meskipun kembar bukan berarti nggak mungkin ada perbedaan. Tapi, straight dan gay menurutku perbedaan yang terlalu dramatis untuk sepasang saudara kembar. Yang bikin aku rada nggak ikhlas: sesusah-susahnya hidup sebagai gay, nyatanya dia berhasil dapat pacar. ‘Pacar’ setia lagi, sampai bela-belain ikut cari dia ke seberang laut, padahal status mereka sudah ‘putus’. Nha aku? Dapat Leah, dan dia selingkuh. Nembak Misha, keduluan si semprul Amos.

Ngomong-ngomong… sebetulnya Maya menarik juga, sih…. Tapi, nanti LDR, dong—long distance relationship. Lagian, dia awalnya naksir Dimas. Kalau aku naksir ke cewek yang gagal macarin Dimas, berarti aku kalah derajat dari Dimas. Sialan lu, Mas!

Jadi pengin tukar nasib sama Dimas. Bukan orientasi seksualnya yang ditukar—gue ogah ah jadi homo. Pengin tukar sama keberuntungan dia saja: dapat pacar setia dan nggak perlu LDR. Tapi aku ogah juga kalau dapat cewek “Lavender”. Ngeri. Oke, sepertinya aku mulai ngelantur meratapi nasib. Paragraf berikutnya kembali ke fokus utama!

Satu setengah jam dari Ubud, kami tiba di Candidasa. Bukan di area wisatanya, tapi di sekitaran yang nggak begitu jauh juga. Aku menelepon Komang yang nomornya kudapat dari Mas Angga. Aku minta gambaran letak rumahnya. Ternyata cukup ribet. Beruntung, dia meminta kami untuk menunggu saja di tempat kami berhenti, lalu dia akan jemput kami. Sepakat. Kira-kira sepuluh menit kemudian kulihat seorang pengendara motor bebek kuno berhenti di depan mobil kami. Helm-nya bermodel pilot dengan kacamata dibiarkan terangkat ke atas, dan rambut gondrongnya menjalar keluar dari balik helm. Lengannya penuh tato. Gesture-nya menyelidik ke mobil kami, seperti ingin memastikan bahwa memang kamilah rombongan yang sedang menunggunya.

“Jangan-jangan dia preman?” Si Unyu yang baru bangun dari jok berceletuk—atau mungkin mengigau.

Aku turun dari mobil untuk menyambut orang itu. “Mas Komang?” sapaku.

Dia melepas helm-nya seraya turun dari jok motor. “Adi mirip sekali dengan Dimas, ya,” dia membalas sapaku dengan komentar itu. Penampilannya sangar, tapi ternyata suaranya lembut. Kami bersalaman. Dia langsung memakai helm-nya lagi. “Ikuti di belakang saya, ya. Jalannya memang susah.”

Tak ada banyak basa-basi. Kami langsung jalan lagi. Kami mengikuti Mas Komang dari belakang, masuk ke jalan yang lebih kecil, berbelok beberapa kali, hingga sampailah kami di rumahnya. Rumah dan pekarangannya tak terlalu besar. Tidak tradisional, meski nuansa Bali tetap ada: bau dupa dan pernak-pernik untuk sembahyang. Dia sudah berkeluarga, istri dan anaknya menyambut kami dengan baik. Semuanya ramah. Siapa tadi yang bilang “jangan-jangan dia preman”? Si Cenayang Lavender yang baru bangun dari tidur seribu tahunnya.

Aku tak akan bertele-tele pula menjelaskan basa-basi yang sempat kami lalui di awal penyambutan. Langsung saja ke pokok masalah. “Dimas pamit pergi kemarin pagi. Yaa… pagi menjelang sianglah. Beberapa barangnya masih di sini,” terang Mas Komang. “Dia pamit ke Lempuyang. Katanya cuma jalan-jalan. Tapi saya tak tahu kalau dia ternyata pergi dari rumah meninggalkan masalah.”

“Dia menjelaskan akan berapa hari di sana, Mas?” tanyaku.

Mas Komang tampak agak ragu. “Katanya cuma secukupnya saja. Kesannya tidak sampai berhari-hari. Saya pikir juga mestinya hari ini dia sudah pulang dari sana. Tapi siapa tahu, begitu sampai di sana ternyata dia belum ingin pulang sekarang. Tempatnya memang bagus.” Lalu dia menunjuk piring di meja, “Cerorot?”

Kami bertiga menahan diri dengan cara masing-masing: mendadahkan tangan, menggeleng, mengangguk. Kesamaannya: tak ada yang mencomot makanan yang ditawarkan. Bungkusannya terlihat agak dekil.

“Apakah memang bisa kalau mau berhari-hari di sana? Maksud saya, apakah ada tempat untuk menginap?” selidikku.

“Kalau mau ya bisa saja. Cukup banyak penginapan di sekitar sana. Kalau tidak dapat penginapan, menginap di bale pun bisa. Tapi, saya tetap sangsi, kalau dia mau di sana sampai berhari-hari. Kalau hanya jalan-jalan tak perlu sampai berhari-hari.”

Kami bertiga—aku dan kedua temanku—saling berpandang-pandangan. Buntu. Memang sudah kuduga. Nggak kaget lagi.

Mas Komang menunjuk lagi, “Cerorot?”

Kami masih menolak lagi.

“Kami berencana mencarinya ke sana, Mas,” kataku.

Mas Komang mencegah. “Lebih baik tunggu saja di sini. Siapa tahu dia sore ini pulang. Ditunggu saja. Ada tempat di sini….”

“Kalau dia sudah pulang kemari saat kami mencarinya di sana, Mas Komang tinggal hubungi kami saja,” potongku—dengan sopan. “Tapi tolong jangan sampai Dimas tahu. Termasuk bahwa kami sudah kemari, jangan sampai dia tahu. Kami takut dia sengaja menghindari kami.”

“Sebetulnya… kenapa dia pergi dari rumah?” Mas Komang jadi mau tahu.

Aku enggan. Fandy dan Erik juga, tak mengambil peluang untuk menjawabnya.

“Dia tampaknya baik?” sambung Mas Komang dengan ragu, masih ingin jawaban.

“Masalah yang ‘sangat keluarga’, Mas. Jadi maaf, kami tak bisa menyampaikannya,” jawabku menutupi. “Yang pasti, secara kepribadian, dia memang baik, dalam arti bukan orang jahat atau kriminal. Ini soal kesalahpahaman saja dengan anggota keluarga yang lain, dan bisa diselesaikan dengan baik jika dia segera pulang.”

Mas Komang terkekeh, mendongak ke langit-langit sambil membelai-belai rambutnya sendiri. “Masalahnya, Pura Lempuyang itu besar sekali, Adi. Setidaknya ada tiga, atau empat jalur untuk mencapainya. Kalian akan kesulitan mencarinya.”

Aku menelan ludah.

Ada empat jalur?

Makin puyeng!

“Apakah Dimas bilang dia akan menempuh jalur yang mana?” Erik ganti menyelidik. Dia akhirnya mencomot cerorot di meja. Aku dan Fandy menyusul bersamaan.

Mas Komang mengingat-ingat. “Dia sempat minta petunjuk sebelum berangkat. Saya merekomendasikan jalur umum saja, yang paling ramai, dengan alasan keamanan. Tapi tak ada jaminan dia tak mencoba jalur yang lain setibanya di sana.”

“Kalau begitu kami akan mulai dari jalur itu saja. Tapi kami tetap butuh gambaran tentang jalur-jalur lainnya yang ada di sana, Mas,” kataku, mengharap bantuan.

Aku tak minta Mas Komang menemani kami ke sana, sebab itu pasti akan merepotkannya. Aku cukup diberi penjelasan saja, dan tanpa keberatan Mas Komang memberikannya: membuatkan coretan denah sederhana, beserta keterangan yang diperlukan.

“Saya tetap menyarankan kalian tak perlu ke sana. Apalagi sebentar lagi sore. Terlalu riskan,” saran Mas Komang, masih merasa tidak sreg dengan rencana kami.

“Justru karena terlalu riskan itulah, kami tak bisa membiarkan Dimas sendirian di sana,” kali ini Fandy yang berkata. “Syukur kalau nanti dia sudah pulang kemari. Berarti dia selamat. Mas Komang tinggal hubungi kami.” Dia mencomot cerorot yang kedua.

“Sebetulnya ada situasi lain yang seharusnya juga perlu kalian pertimbangkan: bagaimana kalau Dimas sudah meninggalkan Pura Lempuyang, tapi dia sengaja tidak langsung pulang kemari? Mau berapa lama kalian mencarinya di Lempuyang?”

Kami bertiga terdiam. Buntu lagi. Fandy pun, yang punya bakat dalam mendapatkan ilham gaib, kali ini juga hanya terdiam. Mulutnya pilih sibuk mengunyah.

“Kalau Dimas tahu diri, dia tak akan menitipkan barang di rumah orang lama-lama,” tiba-tiba Erik mencetus, dengan pandangan mengarah padaku. “Katakanlah, tiga hari cukup untuk dia pergi jalan-jalan. Entah dia ke Lempuyang, atau ke tempat lain, bagaimanapun dia pasti akan kembali lagi kemari.”

Mas Komang mengangguk. “Betul. Maka dari itu, sebetulnya kalian cukup menunggu di sini saja. Tak perlu ke mana-mana.”

“Kurasa mencari di Lempuyang pun tak ada salahnya dicoba,” Fandy kembali bicara. “Kita cari semampu kita. Sebab, kurasa situasi sudah mengerucut dalam dua kemungkinan: bertemu Dimas di Lempuyang, atau di sini. Kalau bisa menemukannya di Lempuyang hari ini juga—siapa tahu—maka kenapa tidak? Kalau kita tak bisa menemukannya di sana, kita bisa kembali kemari. Setidaknya kita benar-benar sudah berusaha. Dari Solo kemari sudah banyak waktu dan tenaga kita kerahkan, kita tak usah tanggung-tanggung untuk mengerahkannya sedikit lagi. Sedikit lagi!”

Di saat-saat tertentu, dalam hal kemauan, Fandy memang bisa lebih keras dibanding siapa pun. Mirip Dimas. Mirip aku juga. Tapi aku nggak bisa lihat makhluk gaib. Dan aku juga bukan homo.

“Aku sepakat dengan Fandy,” kataku.

“Aku mendukung apa pun itu, selama kalian memang mantap,” kata Erik.

Mas Komang tak bisa mencegah kami lagi. Akhirnya dia merestui saja apa yang sudah menjadi tekad kami. Dan, karena dia baik, dia menawari kami tempat untuk beristirahat sejenak, untuk sekadar merenggangkan otot-otot kaki dan punggung. Dia membawa kami ke kamar yang dipakai Dimas selama dia di sini: ruangan dengan luas kira-kira 3×3 meter, hanya berisi kasur busa tanpa dipan, dan satu meja kecil tanpa kursi. Kamar lesehan. Istri Mas Komang membawakan piring baru berisi cerorot lagi, seolah-olah sedang menerima tiga tamu gaib yang memerlukan sesajen. Tak hanya itu, kami juga disuguhi kopi yang amat pahit.

Hal pertama yang kulakukan adalah: membongkar barang milik Dimas yang disimpan di kamar ini. Barang yang ditinggalkan Dimas adalah sebuah tas. Berisi pakaian. Itu saja. Dan, yang kemudian menjadi pemandangan aneh adalah: Fandy menciumi beberapa baju Dimas.

“Ngapain?” tukasku. “Itu yang ada bau laundry, bukan baunya Dimas.”

Erik tertawa.

“Ini bau parfumnya,” kata Fandy. “Aku kenal aroma parfumnya.”

“Iya, iya, aku ngerti kamu kangen,” sindirku.

“Dia selalu pakai parfum yang sama, tak pernah gonta-ganti,” gumam Fandy cuek, seperti orang mengigau. “Tapi, kenapa botol parfumnya tak ada di tas ini?”

Aku melongo mengamati tingkah Fandy yang mengapa-apakan tas Dimas, demi sebuah parfum. “Dia bawa pergi mungkin?” sahutku. “Penting?”

“Kalau pergi bawa parfum, sabun, sikat gigi, dan semacamnya, berarti dia memang punya rencana untuk pergi selama beberapa hari, ‘kan?”

“Iya. Dan bukankah kita sudah tahu soal itu?” tandas Erik.

“Mungkin habis dari Lempuyang, dia mau pergi ke pesta siapa, jadi bawa parfum dan perlengkapan mandi,” tambahku, asal-asal saja, mencibir tingkah pacar Dimas yang makin unyu saja itu. “Mungkin dia juga sudah menyiapkan tuxedo.”

Tapi kagetlah aku, saat Fandy menunjukkan padaku apa yang berhasil ditemukannya di salah satu saku tas Dimas. Dia menjereng selembar kertas petunjuk penggunaan dari sebuah produk. Dia berucap sambil menunjuk gambar pada kertas itu, “Inilah benda yang kulihat di mimpi. Benda yang dipegang Dimas saat dia mendaki jalan menuju pura. Staff lamp.”

Sebuah tongkat dari alumunium, dengan ujung menyerupai kepala obor dan di dalamnya terdapat lampu LED. Obor elektrik bertenaga batere. Bergaya seperti tongkat sihir. Buatan Taiwan. Harganya bisa untuk mentraktir tiga orang makan di Pizza Hut.

“Kukira, yang kulihat di mimpi itu obor betulan, dengan api betulan. Ternyata ini,” gumam Fandy. Lalu dia menukas, “Yakin, Dimas akan membawa tongkat beginian di pesta orang?”

“Kalau pesta Halloween mungkin iya,” sahut Erik.

“Masalahnya, Dimas nggak mungkin ke pesta Halloween,” timpalku. “Dia alergi sama hantu.”

“Dan bulan Oktober juga masih lama,” sambung Erik.

Pada intinya, aku dan Erik speechless. Aku tak peduli Dimas betulan akan ke pesta atau tidak, yang pasti aku tetap akan mencarinya ke Lempuyang. Tapi fakta-fakta yang disodorkan Fandy dari luar nalar seperti kali ini tetaplah membuatku kaget, lagi dan lagi! Itulah kenapa aku nggak mau punya cewek “Lavender”—jangan-jangan suatu saat dia meramal kematianku.

“Jadi, dia benar-benar bisa melihat yang ‘begitu-begituan’?” Erik minta penjelasan padaku, perihal bakat yang dimiliki Fandy.

“Nggak, ah. Itu cuma kebetulan,” tukasku. Skeptis. By the way, aku tahu istilah “skeptis” dari Dimas.

Fandy terus nyerocos. “Sudah jelas, Dimas cuma punya satu tujuan: Pura Lempuyang, entah dengan niat apa. Ini adalah bukti bahwa dia sudah mempersiapkan rencananya dengan matang. Alat penerangan ini bukti bahwa bisa jadi dia akan melewatkan malam di sana, entah selama berapa malam. Dan aku merasa yakin dia tak akan singgah ke tempat lain setelah dari sana.”

“Ya. Berarti dia juga bawa tenda,” sahutku.

“Dia bisa tidur di bale, atau mungkin cari homestay di sana,” tukas Fandy membalas cibiranku. Oke, tidur di bale, Mas Komang juga bilang begitu, sih.

“Untuk ke pura, memangnya parfum betul-betul penting untuk dibawa, ya?” lontar Erik, entah bertujuan mencibir atau serius bertanya.

“Bukan begitu. Di rumah pun Dimas suka pakai parfum. Kamarnya saja diberi wangi-wangian aromatherapy,” beberku. “Makanya Si Unyu ini betah dua tahun sama dia. Cowok-cowok wangi.”

Point-nya bukan soal parfum!” Fandy mulai kesal. Lalu dia menegaskan lagi soal lampu obor yang sudah dilihatnya dalam mimpi.

Aku menyikut Erik. “Kita terima kenyataan sajalah. Kita memang membawa seorang dukun.”

Kali ini gantian Erik yang skeptis. “Dia calon Bantara. Seharusnya dia sudah Bantara, kalau mau. Tapi dia tidak mau. Tak perlu harus dihubungkan dengan mistik, karena pada dasarnya dia memang punya bakat yang bagus dalam melacak jejak. Ya, gitulah.”

Fandy sepertinya ngambek. “Terserah dengan kalian. Kalian bebas mem-bully-ku. Tapi kalian tak bisa menyangkal fakta-fakta tadi!” Lalu dia meninggalkan kamar.

“Fan, kita percaya, kok…! Jangan ngambek, dong…!” seruku. Lalu aku dan Erik cekikikan.

Kemudian Erik mulai cemas juga. “Dia beneran marah?”

Aku menggeleng. “Akhir-akhir ini dia memang sensitif dan haus perhatian. Dan makin manja. Tapi percayalah, dia sudah pintar mengatasi perasaannya.”

“Sepertinya kamu sangat mengerti perasaan dia.”

“Maksud omonganmu apa?”

Kutinggalkan mantan gebetan Dimas itu.

“Woi, kok jadi ikutan ngambek?” dia berseru-seru.

***

Kami bertiga menuju ke Lempuyang. Mas Komang tidak mengantar, sebab dia punya kepentingan sendiri yang sejak semula memang tak sepantasnya kami intervensi, dan karena itu aku juga tak meminta padanya untuk menemani. Kami sudah terbantu dengan keterbukaannya atas kedatangan kami. Kuhargai informasi yang sudah dia berikan soal Dimas dan Pura Lempuyang, meski manfaatnya tak terlalu signifikan juga. Informasi yang dia berikan kurang lebih sama dengan yang dikatakan Mas Angga.

Aku juga sudah minta persetujuan Papa soal pencarian ke Lempuyang ini. Sebetulnya Papa keberatan jika kami mencari terlalu jauh. Terlalu berisiko, kata Papa. Apalagi dengan mobil sewaan, pasti akan membengkakkan biaya. Tapi aku berhasil meyakinkan Papa setelah kubeberkan petunjuk-petunjuk yang kudapat dari teman-teman Dimas—kecuali cerita-cerita gaib yang berasal dari Fandy. Papa lalu memberi syarat: aku harus menghentikan pencarian jika besok siang Dimas masih belum ditemukan di Lempuyang. Papa hanya akan membayar sewa mobil untuk maksimal 36 jam—untuk itu Erik sudah menelepon kantor rental untuk perpanjangan sewa. Ini bukan berarti Papa lebih sayang duit daripada Dimas, melainkan soal pengelolaan saja: mobil sewaan dikembalikan dulu, lalu kami meneruskan pencarian semaksimal mungkin, dengan sebisa mungkin tak memboroskan uang.

Sebetulnya, Papa lebih setuju kalau kami, atau sebagian dari kami, menunggu saja di rumah Mas Komang—sama seperti saran Mas Angga dan Mas Komang sendiri. Itu namanya rasional. Terukur. Terkoordinir. Tapi, kalau dipikir-pikir, memangnya siapa di antara kami bertiga yang mau ditinggal di rumah Mas Komang, sementara yang lain ke Lempuyang? Lebih tepatnya: ini memang bukan soal rasionalitas, tapi solidaritas. Solidaritas kadang memang nggak rasional, ‘kan?

Pukul setengah tiga, menurut Waktu Indonesia Tengah, kami tiba di Desa Purwa Ayu. Menurut petunjuk dari Mas Komang, di sinilah jalan masuk paling ramai untuk mendaki ke Pura Lempuyang. Lempuyang sendiri adalah nama gunung tempat pura ini berada; nama lainnya adalah Bukit Bisbis, berketinggian sekitar 1000 meter. Di gunung ini terdapat banyak pura, dan Pura Lempuyang Luhur adalah yang letaknya paling tinggi, oleh sebab itu ialah yang paling dikeramatkan.

Sedangkan Desa Purwa Ayu adalah satu dari beberapa desa di Gunung Lempuyang yang menjadi pintu masuk bagi rute pendakian menuju Pura Lempuyang. Jalur masuk melalui Purwa Ayu ini menjadi paling ramai karena pendakian akan diawali dari Pura Penataran Agung yang bangunannya sangat megah. Dan rupanya pura inilah yang dilihat Fandy dalam mimpi.

“Naga,” desisku, memandangi patung-patung ular yang merambat sepanjang tangga, dari atas ke bawah. Dan di atas itu, tiga gerbang besar berdiri dan memancarkan pemandangan yang terasa agak menggidikkan. “Semua berwarna putih….”

“Aku sekarang benar-benar melihatnya, secara nyata,” Fandy berbisik sendiri di sebelahku. Kulirik dan kudapati sorot matanya sedang termangu ke arah yang jauh, seolah-olah dia kembali melihat pemandangan-pemandangan yang tak terjamah mata biasa.

“Kabut turun,” Erik berucap.

Pemandangan memucat. Patung-patung naga dan arca-arca dewa dan setiap lekuk pura berubah seperti bayang-bayang. Aroma wangi menelusup bersama hawa dingin; wangi dupa bercampur bunga-bunga dan makanan-makanan sesajen yang menjelang basi—aku kini menyebutnya “Aroma Bali”. Elemen-elemen itu membentuk atmosfer mistis yang terasa begitu kuat, hingga seakan-akan aku tak perlu terkejut lagi jika arca-arca itu kemudian mendadak hidup seperti adegan di kuil Shambala dalam game Tantra, atau patung hidup dalam film Tomb Raider: the Cradle of Life.

Aku tak berlama-lama terpana. Kuarahkan langkah kakiku menuju ke pos jaga. Fandy dan Erik mengikutiku. Selain mengisi buku tamu, aku juga minta izin untuk memeriksanya. Karena ada pantangan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak benar, maka kukatakan pada penjaga pos bahwa kami ingin mencari kawan yang ke sini kemarin siang. Kami ingin memastikan bahwa dia betul-betul telah tiba duluan di sini. Fakta itu bukan bohong, meski tak kukatakan bahwa Dimas minggat dari rumah—tak mengatakan sesuatu atau hanya mengatakan sebagian dari sesuatu tidak bisa dianggap kebohongan. Penjaga pos mengizinkan kami, dan untungnya dia juga tak mengejar dengan banyak pertanyaan.

Berita baik lainnya: kutemukan nama Dimas dan tanda tangannya di salah satu halaman buku tamu yang lembek karena hawa lembap. Aku mengenali tanda tangan itu memang milik saudara kembarku. Berarti benar, dia mendaki melalui jalur ini! Namun, ini bukanlah berita baik yang cukup signifikan untuk menjamin kami bisa menemukan Dimas di sini. Belum menjamin. (Ngomong-ngomong, sudah berapa kali aku memakai kata “signifikan”?)

“Karena kami dengar ada rute lainnya, apakah ada larangan semisal kami naik melalui rute ini kemudian turun melewati rute lain?” tanyaku ke penjaga.

“Tak ada larangan itu, kalau tujuannya hanya sekadar berwisata,” jelas Bapak Penjaga. “Tapi sebaiknya jangan memaksa sampai atas kalau sudah gelap. Kompleks Lempuyang ini sangat besar, tapi tidak seramai pura lainnya.”

Betul. Pura ini, bahkan di rute yang katanya paling ramai, terlihat tidak ramai. Cukup sepi. Hebat sekali Dimas berani kemari sendirian? Dan, sialnya, aku tak mendapati batang hidungnya di sekitar sini. Belum.

Erik minta dijelaskan soal kondisi rute. Pak Penjaga memberikan penjelasan: setelah Pura Penataran Agung, pendakian akan tiba di pura selanjutnya yaitu Telaga Mas, setelah itu makin ke atas lagi akan tiba di Pura Pasar Agung. Setelah Pura Pasar Agung, barulah Pura Lempuyang Luhur. Perjalanan ke atas akan menghabiskan waktu sekitar 2 – 3 jam. Anak tangga yang dilalui berjumlah ribuan; ada yang mengatakan 1.750, ada yang mengatakan 1.800, ada yang mengatakan jumlah lainnya. Baru mendengarnya saja sudah membuatku lemas.

 

Komplek Lempuyang

 

“Sebetulnya ini sama dengan naik gunung,” desahku, ketika meninggalkan pos jaga.

“Menyerah?” Erik mencibirku.

“Nggak!” tukasku. “Aku cuma semakin nggak ngerti sama Dimas. Kemarin dia juga habis dari Gunung Batur…!”

“Oh, ya?” Erik tak terlihat kaget. “Kamu pasti nggak mau kalah, ‘kan?”

Kucueki celoteh Erik.

“Aku melihatnya, tangga-tangga itu,” Fandy menggumam pelan. Seperti mengigau lagi. “Di mimpi itu Dimas mendakinya, pagi-pagi sekali, masih agak remang sehingga dia menyalakan obornya….”

Aku menelan ludah. Kusikut Erik sambil berbisik, “Kamu nggak ngeri kalau dia mulai meramal seperti itu?”

Erik mengangkat bahu. “Entahlah. Kalau semacam déjà vu, bukankah banyak orang kadang mengalaminya juga?”

Aku tak berniat melanjutkan obrolan soal itu. Tapi Fandy mencetus lagi, “Kata Mas Komang, Dimas berangkat kemarin siang. Berarti, kira-kira dia tiba di sini juga sesore ini. Lalu, bisa jadi, dia tak langsung mendaki ke atas, mungkin dia menginap dulu semalam di sekitar sini. Baru pagi harinya dia mendaki. Itu artinya tadi pagi. Bisa jadi sekarang dia masih di atas.”

Aku dan Erik termanyun berdua. Erik yang lebih dulu melontarkan pendapat, “Kalau begitu kita tanya saja Pak Penjaga, apakah dia mengingat orang-orang yang menginap di sekitar sini.”

Ide yang tak ada salahnya dicoba, meski kupikir tak akan terlalu membantu, sebab toh tak kulihat batang hidung saudara kembarku di sekitar sini. Dia jelas sudah berada di lokasi lain, dan lokasi lain itulah yang belum kami ketahui. Dan dugaanku betul; ketika kami kembali lagi ke pos untuk bertanya, Pak Penjaga Pos tidak tahu siapa saja yang semalam menginap di sekitar pura ini, apalagi ke mana perginya orang-orang yang menginap itu sekarang. Sebab yang kemarin berjaga di pos adalah petugas yang berbeda.

Kesimpulanku: berarti kami harus coba mencari—mendaki—ke atas. Huuhhh…. Membayangkan kakiku harus mendaki ribuan anak tangga, aku tak tahu bakal secapek apa. Seingatku aku belum pernah mendaki sesuatu hingga setinggi itu. Kami boleh menginap di sekitar Pura Penataran ini, yang tak jauh dari permukiman, dan kebetulan juga terdapat balai yang bisa digunakan untuk istirahat. Atau kami bisa menyewa penginapan. Tapi kami tidak disarankan mendaki hingga Lempuyang Luhur hari ini, sebab waktu sudah sore. Memang ada yang di sana sampai malam, tapi untuk tujuan keagamaan. Kalau hanya untuk berwisata, kunjungan malam hari ke sana tidak diperbolehkan. Mencari orang minggat jelas bukanlah acara keagamaan ataupun wisata. Tapi kami tetap akan ke atas!

Kukatakan, “Kami sudah telanjur tiba di sini, jadi kami mau naik ke atas, sejauh yang memungkinkan saja.” Pak Penjaga mempersilakan saja. Dia hanya menegaskan sekali lagi: yang penting kami sudah turun lagi sebelum gelap. Maka kuyakinkan, “Kami mengerti ini adalah tempat beribadah. Kami akan menghormati ketentuannya.”

Meski kami kemari tidak mencari Para Dewa….

“Lagi pula sore di sini begitu indah,” Fandy menyahut. Dia mengambil langkah meninggalkan pos mendahului kami. Kudengar dia menggumam lagi, “Rasanya seperti memanggil….”

Saat dia berkata begitu, baru kusadari bahwa kabut sudah pupus. Dia berjalan sendiri membelakangi kami, menuju ke gapura depan yang letaknya berseberangan dengan gerbang bertangga naga. Aku mengikuti, dan terhenti ketika mendapati pemandangan satu poros lurus ke arah barat: Fandy yang menjadi setengah siluet – gapura besar dengan dua sisi menjulang – Gunung Agung dengan awan-awan dan jilatan sinar mentari sore. Satu poros lurus. Bening. Jernih. Aku terdiam dan hanya terus menatap ke sana, mengabaikan belaian angin sepoi yang dingin dan membawa aroma-aroma Bali. Kucoba ikut mendengarkan panggilan itu….

Ketenangan….

Kerinduan….

Takdir.

 
lempuyang
 

“Apa yang kaurasakan?” Erik menyusul di sampingku.

Aku masih lama terdiam.

“Sedih,” kataku kemudian.

“Oleh sebab apa?”

Tiba-tiba, napasku menjadi terasa perih. “Menyadari bahwa aku sudah sejauh ini dikarenakan kehilangan seseorang. Dan tempat yang begini indah hanyalah mengingatkanku bahwa sesungguhnya aku sedang mencari yang hilang itu… di sini. Aku takut tak berhasil menemukannya…. Andai jalan cerita ini adalah suatu pilihan, seindah apa pun tempat ini, aku tetap memilih dia tak pernah pergi dengan cara begini.”

Aku melangkah maju. Menyebelahi Fandy di mulut gapura.

“Kita sudah sejauh ini, apa yang kaupikirkan jika Dimas tetap tak ditemukan?” Fandy bertanya padaku, tanpa menggeser arah memandangnya ke Gunung Agung yang jauh.

“Pulang. Aku harus mengisi kekosongan yang ditinggalkan Dimas di rumah, Fan.”

“Aku begitu ingin bisa sepertimu, yang mencintai keluarga dengan begitu besar. Andai saja mencintai adalah suatu pilihan.”

“Kamu nyesel mencintai Dimas?”

Dia menggeleng. “Aku sedih mencintainya harus dengan mengorbankan yang lain.” Kini dia menengok padaku, menyandarkan punggung di gapura, dan tertawa pendek tersengal. “Tapi aku tetap mencintainya.”

Aku ikut tertawa pendek. “Sampai kapan?”

“Sampai cinta itu berhenti sendiri.”

“Memangnya apa yang bisa membuatnya berhenti?”

Dia menggeleng.

“Mati?”

“Mungkin,” sahutnya. Tersenyum. “Tapi bukan di sini.”

“Sebetulnya aku juga iri padamu, Fan. Aku salah pernah menganggap bahwa kau tak lebih tahu soal Dimas dibanding aku. Dalam hal tertentu ternyata kau lebih mengerti dia.”

“Tapi itu bukan berarti cintaku lebih besar. Kita sama-sama memberikan cinta terbesar padanya. Kamu mencintainya sebagai saudara. Aku mencintainya sebagai… kau tahu sendirilah.”

“Hei,” Erik kudengar berseru.

Aku dan Fandy sama-sama menoleh. Krkk! Erik menjepretkan kamera ke arah kami. Lalu mengacungkan jempolnya.

“Aku akan minta fotonya,” Fandy mengucap. “Lalu ku-edit dengan dekorasi yang bagus. Lalu kupasang di Facebook.” Lalu tiba-tiba dia menarikku ke dalam rangkulannya dan dia berseru, “Rik, sekali lagi!”

Aku mendorongnya dan pergi sebelum momen ini menjadi abadi di kamera Erik. “Kita naik sekarang. Sebelum gelap!”

“Den, ayolah!” Erik berseru sambil tertawa. “Cobalah sekali-sekali di posisi Dimas!”

Kunaiki tangga naga. Mereka berdua kutinggalkan di belakang. Mereka di sana masih sibuk dengan foto. Nggak penting. Tapi setidaknya Fandy sudah mulai akur dengan Erik. Aku sudah di ujung tangga naga, kulihat mereka masih di bawah sana. Aku tak berteriak. Cuma berkacak pinggang. Barulah mereka menyusulku.

Saat mereka tiba di atas, barulah aku ingat sesuatu, “Bukankah penjelasan penjaga tadi sebetulnya sebuah petunjuk? Kalau kunjungan malam hari tidak diperbolehkan, berarti Dimas tak mungkin berada di Pura Luhur waktu malam hari. Dia nggak mungkin menginap di sana. Jadi, kalau firasat Fandy benar bahwa Dimas naik tadi pagi, maka bisa jadi saat ini dia sedang dalam perjalanan turun ke bawah.”

Kedua temanku termangu menatapku.

“Sempatkah kalian bayangkan, kita akan berpapasan dengannya…?”

Erik menggeleng. “Masalahnya, apakah dia akan turun lewat rute yang sama? Tak ada yang bisa menjamin. Ingat, ada tiga rute lainnya.”

Aku berpikir lagi. “Apakah memungkinkan kalau masing-masing dari kita mengambil satu rute yang berbeda, supaya lebih efisien? Apakah kita siap?”

Erik menggeleng lagi. “Terlalu berisiko. Kita tak tahu medan di rute lainnya seperti apa, posisi-posisinya seperti apa. Ini terlalu sore untuk memutuskan berpencar. Beberapa jam lagi sudah gelap.”

“Sudahlah. Yang penting kita telusuri dulu sejauh yang kita bisa, sebatas situasi masih memungkinkan. Bersama-sama! Kalau sudah tak memungkinkan, kesorean, ya balik lagi ke bawah. Malam ini kita tetap harus istirahat. Entah di mobil atau di balai, atau di rumah penduduk. Kita kemari untuk berusaha semaksimal mungkin, tapi tetap harus masuk akal. Kalau tak berhasil menemukannya di sini, ingat: bagaimanapun Dimas akan kembali ke rumah Mas Komang.” Begitu Fandy mewejang. Kali ini dia terdengar logis. Rasional. Tidak gaib. Juga tidak lebai.

“Ya. Kita kemari untuk berikhtiar mencarinya. Jika bisa menemukannya di sini, baguslah. Jika tidak, kita tetap akan menemukannya di tempat lain,” sahut Erik. “Percayalah.”

Aku mengangguk. “Baiklah.”

“Lagi pula ini sore yang indah untuk mendaki bukit,” ujar Erik menambahi.

Sore yang indah? Dia mungkin belum tahu rasanya kehilangan saudara. Dia mungkin belum tahu rasanya kehilangan kekasih. Tapi, Fandy yang kehilangan kekasih nyatanya memang bilang begitu juga, sih: sore yang indah. Dan sebetulnya memang benar. Sore yang indah. Sekarang seolah-olah ada bisikan di telingaku, entah dari mana datangnya: “Cari saja dengan ikhlas, tanpa beban, meski kau sungguh takut kehilangan.”

Fandy juga pernah mengatakan sesuatu ketika kami membicarakan saudaranya yang sudah meninggal. Kata-katanya itu kembali menyusun diri, lalu membisik ke dalam kepalaku, “Dalam hidup ini kita memiliki orang-orang yang kita sayangi, dan orang-orang yang menyayangi kita. Mereka disediakan untuk kita, tapi bukan berarti milik kita. Kita bisa menyebutnya takdir. Kita bisa menyebutnya jodoh. Apa yang kita lakukan atasnya, adalah mencari tahu. Apa yang kita lakukan atasnya, adalah pembuktian.”

Pembuktian bahwa kita mensyukuri keberadaannya…. Bahwa kita akan mempertahankannya ketika ia goyah. Bahwa kita akan mencarinya ketika ia menghilang, meski ia bukanlah milik kita sepenuhnya.

Kami mendaki. Dan kami hanya bisa sampai di Telaga Mas. Kami sempat menyisir ke beberapa bagian. Untuk kondisi yang sesepi ini—hanya ada beberapa belas pengunjung, dan di antaranya bertujuan untuk ritual ibadah—kami tetap tak menemukan Dimas ada di antara mereka. Kami beristirahat sambil menikmati pemandangan katak-katak berwarna emas yang tinggal di telaga. Aku baru kali ini melihat spesies itu. Pukul lima sore; kabut menebal lagi dan cakrawala sudah terasa remang. Kami turun.

Gunung Agung di kejauhan seolah-olah berkata, “Lihatlah surya yang menyusup di balik punggungku dan menyepuh auraku dengan emas. Semua ada kalanya untuk beristirahat. Esok lihatlah, surya akan mengibarkan selendangnya di arah yang lain. Dan kau bisa mencoba lagi.”

Aku kembali puitis.

Tetapi apa yang kupikirkan itu, bahwa kami perlu mencoba lagi esok hari, ternyata keliru. Senja telah tiba tapi belum teramat gelap. Ketika kami tiba kembali di belakang gerbang berpatung naga, dia sudah lebih dulu berada di sana. Di hadapan kami. Berdiri menatap kami. Dia memang tampak lebih tangguh dari sebelumnya. Dan tongkat yang bisa menyala itu ada di tangan kanannya. Dia bukan ilusi karena aku mendengar suaranya begitu nyata….

“Rupanya kalian sungguh-sungguh mencariku….”

 
 
 

bersambung….

 
 
 

 

62 responses to “Karung 23

  1. noelapple

    23 Februari 2016 at 23:32

    Maaf sudah membuat kalian menunggu sangat lama. Semoga kalian senang. Terima kasih sudah amat sabar menantikan. Salam.🙂

     
    • Wildan

      24 Februari 2016 at 00:29

      Ini ternyata yg dimaksud 23.23:23

      Sempat khawatir ketika scroll ke bawah makin ke bawah. Fiuh, ternyata dimasnya ada, pada akhirnya..

       
  2. YotsNote

    24 Februari 2016 at 01:03

    Finally., keluar jg lanjutan yg sdh ditunggu-tunggu sejak lama., trims

     
  3. Zidan

    24 Februari 2016 at 01:15

    Apa aku komentator yang pertama? Biar kucatatat dulu, 1.15 iseng berkunjung ke sini dan mendapat kejutan setelah sekian tahun bolak-balik ngeklik ‘rumahmu’ ini kak. Masa sama seperti dulu rasanya, aku selalu menikmati setiap alur dalam cerita ini. Aku gak tau mau ngomong apa lagi, terima kasih atas lanjutannya Kak Noel.🙂

     
  4. Dimas Erlangga

    24 Februari 2016 at 02:37

    Keeerrreeennn… gak sabar nunggu kelanjutan ceritanya.. antara erik, denis, sama fandi ketemu sama dimas.. jadi baper sendiri baca ceritanya.. pokoke TOP BGT dah :’)
    salam dari Banyuwangi bang noel😉

     
  5. wahyu

    24 Februari 2016 at 06:06

    Sang surya tersenyum padaku, menatapku penuh makna, terbersit luka yang mencuat, waktu tak mampu mengurangi rasa rinduku. Jalan yang sepi seakan menggambarkan penantian ku yang berkepanjangan. Terpukau ya. Bahagia tentu. Tertawa mungkin. Tapi ucapan rasa syukur ku ucapkan. Terima kasih kak noel memberi satu pelajaran lagi lewat tulisanmu. Yang penuh makna. Selamat pagi.☺☺

     
  6. obidondon

    24 Februari 2016 at 11:07

    Uwaaaaaa Bang Noel (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) . Mas Dimas ketemuuuuu (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) !! Uwaaaaaa (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) !! Obi senang sekali karena setelah setahunan mencari Mas Dimas, Obi masih bisa mendengar suaranya hingga sampai saat ini (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) . Obi kangen sama suaranya Mas Dimas (✿ *´ `*) (✿ *´ `*) !! Makasih bang Noel atas kerja keras bang Noel dalam mencari Mas Dimas (✿ *´ `*) . Obi merasa penantian Obi selama ini telah terbayar (✿ *´ `*) . 5 Kata dari Mas Dimas membuat Obi lega dan bisa bernafas dengan tenang setelah ratusan hari Obi menunggu nunggu datangnya hari ini (✿ *´ `*) . Sekarang Obi sudah bisa menyambut UN dengan tenang dan mengikuti TPM dan juga try out dengan tenang pula bang (✿ *´ `*) !! Makasih bang Noel (✿ *´ `*) !!

    Tapi Obi engga menyangka kalo chapter 23 masih ada kelanjutannya (✿ *´ `*) . Buat Obi, itu suatu nikmat Tuhan yang masih diberikan kepada kita semua (✿ *´ `*) . Obi engga tau apa bang Noel akan merilisnya tahun depan apa engga (✿ *´ `*) , yang pasti yang perlu bang Noel inget, Obi akan selalu berdoa demi kelancaran bang Noel dalam membuat next Kantong CRA 3 nya bang Noel (✿ *´ `*) . Obi juga akan selalu bergentayangan di sini untuk menanti kantong-kantong tersebut (✿ *´ `*) .

    Sekali lagi Obi mengucapkan banyak banyak terima kasih atas kerja keras bang Noel setahunan ini (✿ *´ `*) . Obi engga tau apa yang bang Noel lakukan dalam kurun waktu selama itu, tapi Obi yakin itu abang lakukan buat kita semua (✿ *´ `*) . Terima kasih bang Noel (✿ *´ `*) !! Obi sayang bang Noel (✿ *´3`*) .

    p.s: Salam buat Mas Dimas (✿ *´ `*) , bilangin ke beliau kalo Obi punya SKO yang udah tamat 2 season (✿ *´ `*) .

    -Salam Hangat dari Obi, SKO Publisher & Editor-

     
    • widyamanja24

      3 Maret 2016 at 01:49

      SKO Obi juga gak kalah bagus nya kok😀 kaLian terbaik Laahh .. sayang mas Noel dan Obi *^O^*

       
      • obidondon

        11 Maret 2016 at 23:13

        Haih! Ada Anjaaaaa (❀ *´ `*) , hahahah, wuih kita bertemu di tempat yang engga kita duga yah (❀ *´ `*) . Kali ini kita bertemu antara sesama pembaca (❀ *´ `*) . Hahah, unik sekali (❀ *´ `*)

         
      • widyamanja24

        13 Maret 2016 at 15:07

        Hahaaa Obii , anja udah lama liat Obi di CRA nya mas noel kok*^▁^* jadi bagi anja bukan tempat gak terduga siihh😀

         
  7. rere

    24 Februari 2016 at 14:13

    keren banget, akhirnya dimas nongol juga ga sabar nunggu kelanjutannya… makin cinta deh gw sama denis berasa mereka itu nyata

     
  8. yasaaceh

    24 Februari 2016 at 17:06

    Tokoh-tokoh yang berkarakter kuat. . .

    Senang dimas bisa ketemu

    Makasih noel, nunggu selama ini terbayar kok dengan updatean ini. . .

     
  9. yuyu

    24 Februari 2016 at 21:15

    Gua suka kalimat ini, dalam banget makna nye , “Dalam hidup ini kita memiliki orang-orang yang kita sayangi, dan orang-orang yang menyayangi kita. Mereka disediakan untuk kita, tapi bukan berarti milik kita. Kita bisa menyebutnya takdir. Kita bisa menyebutnya jodoh. Apa yang kita lakukan atasnya, adalah mencari tahu. Apa yang kita lakukan atasnya, adalah pembuktian.”

     
  10. akha

    25 Februari 2016 at 00:49

    akhirnya update jg.. jd terharu bancanya.. n serasa ngebayangin jln2 ksana mpe merinding.. ditunggu lanjutannya mas noel..

     
  11. Anonim

    25 Februari 2016 at 03:36

    Astaga, pertemuan mereka luar biasa… aku berharap aja sih Fandy langsung nyosor meluk Dimas biar Dimas tau seberapa bera Fandy rindu dia… dan Dimas mau pulang supaya masalah dia semua selesai, supaya Denis pun bisa berantem lagi sama Dimas di rumah mereka hahaha

     
  12. Ignatius

    25 Februari 2016 at 22:48

    Very interesting…bikin cemas..deg degan..kepo..gemas..geli…yah semua menyatu..dua jempol pokoknya.

     
  13. kent

    26 Februari 2016 at 01:37

    kira2 kapan kelanjutann nya mas noel ? jika baca cerita mu ini saya jadi orang nya ga sabaran,hehe..cheers !!

     
  14. royakhinu

    26 Februari 2016 at 23:01

    lega rasanya

     
  15. Rio

    27 Februari 2016 at 08:28

    Penantian yang tidak sia2. Terima kasih bang noel. Love

     
  16. tri s b

    27 Februari 2016 at 08:40

    Suatu certa yang bagus, dengan rantaian kata kata yang tidak biasa

     
  17. hida

    27 Februari 2016 at 12:11

    Hahaha Fandy yang lagi kangen bikin geli. Entah knapa tiap Denis lg godain Fandi itu bikin aku geli, tapi kok ya unyu. ah Denis~~😀
    Dan ya, Nasib itu aneh Den, Dimas yang awalnya B dan cenderung melankolis ketemu Fandy, pure B yang kadang galak. Pasangan unyu memang haha
    Bang, diawal aku agak kurang tertarik, berasa ada yang diulang-ulang. Terus di bagian ini, “Menceritakan soal pemandangan sudah terlalu sering kuulas di karung-karung sebelumnya” entah knapa aku mikir ini berasa bang Noel sendiri yang cerita bukan Denis. Positifnya Denis jadi banyak mikir dan makin respect kesininya, bikin aku yang baca semakin tau gimana sayangnya dia sama Dimas. aku suka bagian itu.
    Ah Dimas ketemu! udah kangen ganjen unyunya Dimas ehe >/////<
    jangan bosen nulis ya bang ^^

     
    • noelapple

      28 Februari 2016 at 02:35

      Saya menyebutnya “merasuki tokoh dalam cerita”. saya merasuki Denis dengan dimensi saya. ini bentuk eksperimen sudut pandang untuk menghadirkan Denis sebagai penulis yang sebenarnya, bahwa dia juga yang menciptakan konsep “karung”. dan semakin kemari dia semakin terasa bercakap-cakap langsung dengan Pembaca, bukan?🙂

       
  18. antt

    27 Februari 2016 at 14:46

    Akhirnya Dimas ketemu juga, nggak sia-sia ternyata perjuangan Denis, Fandi, dan Erik sejauh ini.
    Makasih Bang Noel, sudah mau ngepost karung 23 ini walaupun satu taun rentang waktunya dengan karung sebelumnya. Makasih juga untuk gambarnya bang.

     
  19. Koteng Oppa

    27 Februari 2016 at 19:31

    Astagaaaaa ndatau mau komentar apa kak serius.. Ini pengen ngejerit aja baca yg di ending astagaaaaaaa dimas akhirnya ketemu juga :”)) baca chap ini rasanya emosional ya kak ndatau kenapa wkwk apa cuma aku aja?😄 btw, pertama kali baca cra itu pas aku masih smp, trs sekarang udah mo lulus sma aja.. Rasanya cerita ini berkembang bersamaku itu mungkin yg bikin baper wkwk selain di ending akhirnya dimas ketemu :”)))

     
  20. Agil

    28 Februari 2016 at 01:34

    Penantian yang panjang

    Kata2 mutiara yang memberi pelajaran ttg hidup
    Selalu berdebar ketika membaca cerita mu mas Noel

    Buat paragraf yg terakhir dan ucapan Dimas, aku juga ikut merasakan seneng, terkejut, bergetar, tertawa dan menitihkan air mata bahagia

     
  21. Ghazy

    28 Februari 2016 at 23:01

    Hadeehhhh
    Lemes banget gua bacanya pas terakhir..
    Bayanginnya sambil mewek :’)

     
  22. Rhudy Rhuff

    29 Februari 2016 at 16:16

    thanks atas lanjutannya mas noel! ditunggu lanjutannya!
    “Dalam hidup ini kita memiliki orang-orang yang kita sayangi, dan orang-orang yang menyayangi kita. Mereka disediakan untuk kita, tapi bukan berarti milik kita. Kita bisa menyebutnya takdir. Kita bisa menyebutnya jodoh. Apa yang kita lakukan atasnya, adalah mencari tahu. Apa yang kita lakukan atasnya, adalah pembuktian.”Pembuktian bahwa kita mensyukuri keberadaannya…. Bahwa kita akan mempertahankannya ketika ia goyah. Bahwa kita akan mencarinya ketika ia menghilang, meski ia bukanlah milik kitasepenuhnya.

    #:-)

     
  23. Ezra Raziel

    1 Maret 2016 at 08:52

    Bagian terakhirnya dramatis banget mas noel, jadi inget masalalu..🙂

     
  24. Gilang Singgih

    2 Maret 2016 at 16:53

    Duh, Hyang Widdhiiiiii….

     
  25. widyamanja24

    3 Maret 2016 at 01:47

    Kyaaaa mas noel , lanjutan nya ngegantung mas😥 memang terbaik CRA kamu mas . Saya selaaalu suka . Sukses terus mas noel . You’re the best !!

     
  26. mase gion

    4 Maret 2016 at 15:30

    Wah cra 23 mantep bgt jian ahkirnya lega jg ash ketemu dimasnya,sambunganya kpn noel……d tgg lo ….

     
  27. duniakatasaya

    5 Maret 2016 at 16:39

    yaahhh….dipotong…..cepet lanjut ya Noel…
    kamu bikin pembaca setengah mati penasaran….

     
  28. apple

    7 Maret 2016 at 06:15

    Dan akhirny,,
    kangen sama dimassss,,
    tetap berkarya bwtmu kak,,
    ad beberapa kata2 ‘mantra’ yg menamparku
    selalu jadi yg terbaik kak noel,,

     
  29. Rio

    7 Maret 2016 at 14:19

    Akhirnya muncul juga kelanjutaannya hehehe akhirnya ketemu juga sama Dimas, jadi penasaran……..

     
  30. yusuf

    7 Maret 2016 at 16:41

    Hampir putus asa aku dibuatnya menunggu… Aku harap next chapter tak selama ini…😥

     
  31. aldian juliansah

    8 Maret 2016 at 19:03

    Terimakasih kak, kakak udah lanjutan cerita kakak. Aku seneng dan bahagia banget kakak udah mulai lanjut nulis lagi. Terus semangat dan berkarya ya kak. Aku sudah menanti kelanjutan cerita kakak. Aku ngak bisa ungkapan dengan kata-kata betapa aku bahagia kak.

     
  32. aldian juliansah

    8 Maret 2016 at 20:27

    Akhir cerita yang ini sangat mengharukan kak, apa lagi ada sosok dimas yang berdiri dan sambil memegang tongkat dan berkata ” rupanya kalian sungguh-sungguh mencariku……”

     
  33. Putra Cyclone

    8 Maret 2016 at 23:34

    Di Tunggu Lanjutan Cerita Nya Bang Noel, ,,,Trims🙂

     
  34. bayupandupurwadianto13

    9 Maret 2016 at 03:08

    Superb, Rich, Deep and Meaningful. Love you so much, Noel!

     
  35. leonardo

    11 Maret 2016 at 16:59

    Walaupun telat menyadari.tp penantian selama ini cukup terbayar.setidaknya mas noel bikin aku nungu dr Aku Msh duduk d bangku SMA Sampai aku lulus hehe
    ceritanya bgus mas tdk mengurangi sdikit pun kualitas mas noel.takjup aku bca nya.berharap punya pasangan kya si Unyu haha d tungu lanjutan nya mas

     
    • noelapple

      13 Maret 2016 at 02:24

      Ya ampyun, sekarang udah lulus? Berarti aku udah jahat banget ya ngegantung kalian…😦

       
      • yudi kusumah

        17 Maret 2016 at 13:05

        Yah lumayan sih mas.. Tpi gpp kita masih setia sama mas noel and CRA nya kok….😂😂

         
      • leo

        18 Maret 2016 at 23:14

        hahaha iya mas aku uda lulus,waktu SMA sering begadang nunguin updatenya CRA😀 sampai nanti lulus kuliah jga sangup aku tunguin mas.yg penting d lanjutin ceritanya hehe.mas gak jahat kadang kami pembaca lah yg jahat terlalu bnyak nuntut.karung 24 bnyakin dialog nya ya mas (kan nuntut😀 ) kangen sama ocehan denis

         
  36. ara

    11 Maret 2016 at 17:38

    oh God!!!!
    baca karung 23 deg, deg an…
    ketemu- nggak, ketemu -nggak… yeayyy!!! ketemu jugaaaaa…
    huuaaa kangen beratt ama Denis, erik, Fandy, dan terutama Dimas.. *kecup satu2 ampe basah. hahahahaha….
    eh, gak lupa juga peluk cium mas Noel juga ya hahahaha… ^_^V
    ma kasih ya Mas udh mau ngelanjutin n ngeshare cerita CRA ini. semoga mas Noel sehat n sukses selalu. ^_^

     
  37. Muhamad Arif

    11 Maret 2016 at 17:51

    Lanjutanya jangan lama2 dong masa 2tahun nunggu baru ada yg chapter 23nya hehe pleasss bulan ini diterbitkn lanjutanya ya

     
  38. dontbesyai

    12 Maret 2016 at 20:54

    Puas sekaligus dahaga…
    Sekian lama memendam rasa hampa…
    Bukan, sekian lama kami tiada berasa, tulisanmu kembali memberi warna.
    Dan seperti biasa, engkau tinggalkan kami dengan mulut ternganga…
    Seperti menjelang sebuah orgasme yg tertunda…

     
  39. Raya

    12 Maret 2016 at 23:47

    akhirnyaaa Dimas! Ketemu juga kamu naak!
    penasaran sama lanjutannya, gimana respon Denis ngeliat Dimas, tonjok2kan dulu nih pasti saking kangennya hahaha
    yang paling ditunggu ya si Fandi sama Dimasnya, bakalan gimana tuh, lanjut bang Noel😀

     
  40. kim juliant

    13 Maret 2016 at 21:56

    Keren…keren banget nich cerita, apik dan renyah buat dibaca dan di pahami,
    Soal mistic, di cerita ini lah mistic ilmu pengetahuan yang saya dapat.
    Mas noel pengarang yg sejajar dg andrea hirata dkk…hehe

     
  41. boyszki

    14 Maret 2016 at 07:40

    love it

     
  42. minae

    14 Maret 2016 at 17:34

    mereka bertiga kompakan ya, hehe…
    perjuagan mencari Dimas pun membuahkan hasil.
    kok Dimas tau kalo bakalan dicari ya?

     
  43. Geas

    15 Maret 2016 at 12:47

    Wah.. Beneran baper dah saya..
    Ga sabar buat liat adegan selanjutnya. Apa yg dilakuin mereka ber4 ya hmm.
    Semoga ga nunggu sampe thn dpn haha

     
  44. nick nick vokula

    15 Maret 2016 at 21:40

    Kak noel kok keranjang sama kantongnya nggak ada??

     
  45. Joko

    16 Maret 2016 at 13:44

    Terima kasih untuk karung 23nya mas..:) akhirnya mereka bisa ketemu…
    Penantian yg ga sia2 setelah selesai baca…:)

     
  46. yudi kusumah

    17 Maret 2016 at 13:01

    Sumpah ceritanya kaya Real banget…
    G ada rencana di buat film apa mas ? Klo iya aku mau dong meranin si unyu fandy… Wkwkwk😂 ( ngarep)

    #fans_fandy

     
  47. R

    18 Maret 2016 at 01:05

    terima kasih mas buat updatenya!

     
  48. Muhamad Arif 24 (@arif_saputra635)

    18 Maret 2016 at 10:21

    Mas noel kapan lanjutanyaa

     
  49. asrury rudi

    21 Maret 2016 at 09:21

    So Keren Banget setelah sekian Lama Menunggu kelanjutannya .. Makaseh banget mas Noel gak sabar nunggu kelanjutannya kembali..

     
  50. Angga Pratama Putra

    21 Maret 2016 at 17:49

    bagus cerita nya kalau perlu jadi kan novel lagi mas noel saya sampai menangis terbawa perasaan atas cerita ini.

     
  51. sandy andriano

    22 Maret 2016 at 18:09

    akhirnya aku bisa baca kelanjutanya, terimakasih yaa mas noelapple🙌🙏🙏😃
    ditunggu kelanjutanya lagi, terimakasih☺

     
  52. ryouzaki48

    12 April 2016 at 15:48

    ternyata udah updat . . . Baru bisa baca sekarang. . .

    akhirnya ketemu juga, rasanya pengen nangis. Mungkin fandy juga akan melakukan hal yang sama. Pertama bacanya deg degan sama agak merinding sama situasi tempatnya terus jadi pengen nangis karena udah ketemu . . .

    aku terharu . . .

     
  53. Boysside

    6 Juni 2016 at 11:40

    Entah kenapa kok makin kesini makin suka sama tulisan bang noel… Aku setuju banget… Bang noel bisa merasuki jiwa-jiwa karakternya, dan menyampaikan ke pembaca dengan lugas dan gampang di pahami…
    Well… Good news… Akhirnya Dimas ketemu…
    Buat season 3 ini aku kasih judul “Finding Dimas” ya kak… Hehe :p

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: