RSS

Karung 24

 

Karung 24

 
 

CRA 24

 
 

Bukkk!

Itulah yang kulakukan begitu mendapati orang yang lama kucari-cari tiba-tiba memperlihatkan diri di hadapanku. Marahku buncah begitu saja mendahului akal sehat, pengendalian diri dan lain-lainnya itu. Ingin kubuat dia terjengkang lalu kepalanya membentur apa saja biar amnesianya lenyap, hingga sadar perkara apa yang sudah dibuatnya! Biar sadar dia kecemasan seperti apa yang sudah dia gelontorkan ke orang-orang yang selama ini mengira dia pantas disayang! Biar tercelik matanya itu!

Fandy menghadang dan mendorong dadaku mundur. “Den, tak perlu begini!”

“Biar tahu dia, kesabaran ada batasnya!” luapku geram, hendak maju lagi tapi Erik menahanku dari belakang.

“Apa batasnya? Cukup jadi alasan buat main pukul?” sergah Fandy seraya merentangkan kedua tangan di depanku, membentengi jarak antara aku dan orang yang barusan kupukul—dan rasanya aku masih ingin memukulnya lagi karena pukulanku tadi belum membuatnya jatuh.

“Fan,” Dimas menggeser orang yang melindunginya ke samping, “tak apa-apa. Dia berhak melakukannya. Dia berhak….”

“Dia tidak berhak melampiaskan apa pun kalau caranya dengan kekerasan,” Fandy berpendapat sendiri. Tapi aku tahu dia pasti akan luluh oleh Dimas. Mata mereka berdua bertemu dan kurasa ada banyak pesan yang mereka saling sampaikan tanpa kata-kata. Dan seperti yang sudah kutahu akan terjadi: Fandy menarik bentengnya, menyingkir ke samping mengikuti bujukan Dimas.

Dimas pelan-pelan mendekat ke hadapanku—tepat di depanku lagi sekarang. Pipinya agak memar karena pukulanku. Tapi dia tetap bisa tersenyum. Mata kami bertemu, saling melihat ke dalam. Detik-detik hening. Lalu dia memaling ke kekasihnya yang tadi sudah gagah berani menghadangku, berkata, “Kau tak keberatan aku bicara berdua dulu dengan Denis?”

Fandy mengangguk. “Bicaralah dengannya.”

Dimas menitipkan tongkat lampunya. Fandy mengajak Erik pergi. Erik sempat menyalami Dimas dan menepuk-nepuk bahunya; Dimas membalasnya dengan mengatakan sesuatu tapi tak jelas di telingaku. Sekarang tinggalah kami berdua. Aku dan Dimas.

“Aku tak keberatan kau memukulku lagi, jika yang tadi memang belum terasa impas,” ucapnya datar.

“Tak akan pernah impas,” kataku.

Dia tersenyum. “Betulkah?”

Aku tak sanggup bertahan menatap senyum di wajah yang memar itu. Aku terpaling sendiri dibuatnya. Kutelan letup-letup dalam dadaku sampai lama-lama menjadi getaran kecil saja. Getaran kecil yang mendesir-desir dengan amat nyeri dan membuatku ingin berteriak atau memukul tanah keras-keras.

“Bagaimana kabar Papa dan Mama?”

“Menurut lu gimana kabar mereka?!” aku membalas dengan gertak gusar. Tapi tak ada lagi dorongan untuk memukul—musnah berangsur-angsur, menjadi kesedihan dan perih yang tak bisa kujabarkan.

“Aku tahu, aku sangat menyusahkan kalian,” ucapnya. Gemetar. Lalu gontai menjauh.

“Terus kenapa tak pulang saja? Apa yang kaucari sebenarnya? Maumu apa?” tagihku.

Dia tertunduk, merunduk, duduk mencangkung di sudut undakan, menghadap ke luar gerbang—satu poros dengan gapura lancip dan Gunung Agung yang kini sudah samar-samar. Senja sudah menjadi remang dan terang digantikan oleh lampu di sekitar pura; tidak cukup terang untuk bisa membaca dengan jelas raut muka andaipun dia tak memunggungiku.

“Apakah aku masih pantas untuk pulang, Den…?”

Hatiku seperti terserempet pisau mendengar dia mengucapkan itu. Sekarang kurasakan penyesalan datang menggulung dalam dada. “Kautahu kenapa aku memukulmu?” suaraku keluar parau. “Karena kau sudah bikin kami ketakutan! Awalnya kau cuma mau menghukum Mama. Tapi tiba-tiba kauhukum kami semua! Memangnya selama ini aku tak di pihakmu? Kau tidak adil dan menuruti pikiranmu sendiri.” Aku hampir marah lagi. “Ini bukan soal kau masih pantas pulang atau tidak. Mengerti sekarang?!”

Dia tak menyahut, tercenung sendiri di tempatnya. Perlahan dia menengok padaku—meskipun tak sepenuhnya jelas, kubaca ada senyum yang dia lemparkan. Dia berkata pelan, “Kemarilah.”

Aku melangkah seperti mengeja huruf-huruf rumit. Tapi ketika aku telah duduk di sampingnya, apa-apa yang rumit mulai mengurai sendiri. Pelan-pelan meringan. Amarah pupus penuh. Sedih masih perih, tapi beban tak lagi begitu berat. Kutemukan lagi sesuatu yang sebenarnya kurindu. Dan itu amat jelas. Tepat di sampingku. Dengannya kuabaikan yang lain. Aku tak mau menyesali pukulanku tadi, tapi aku bersyukur tak memukulnya sampai dua kali.

“Aku sudah lihat fotomu sama Fandy,” ucapnya tenang, menghampiri topik lain yang aku tak berencana membahasnya—tidak di momen ini. Seolah-olah dia baru terbangun dari suatu tidur yang nyenyak dan omongannya agak seperti mengigau.

Suaraku masih kelu, tapi tak lagi parau, “Kok bisa? Katanya ponselmu hilang? Laptopmu juga ada di Maya, ‘kan?”

Dia tertawa lirih. “Apa susahnya buka Facebook? Nggak harus pakai gadget punya sendiri. Warnet ada di mana-mana.”

Maka aku juga punya cerita: aku dan Fandy sempat tersesat ke sebuah bilik warnet yang mejanya penuh ceceran… hmm, begitulah pokoknya. Aku juga tak mau membahasnya sekarang.

“Aku nggak ada maksud ngerebut dia dari lu,” jelasku.

“Ah. Dia juga belum tentu mau sama kamu.”

“Tapi dia pernah bilang, seandainya aku juga homo maka dia lebih pilih aku.”

Hmmm. Gitu, ya.” Dia tertawa lagi. “Berarti kalian sudah ketemu Maya, ya?”

Aku mengangguk.

“Begitu aku melihat fotomu berdua sama Fandy, aku langsung tahu kalian pasti akan menemukanku dalam waktu dekat. Aku tahu foto itu diambil di kereta—suasananya tak bisa ditutupi. Aku langsung yakin kalian pasti sedang kemari. Entah dengan cara bagaimana kalian pasti telah berhasil minta bantuan Mas Awan atau Mas Dika. Lalu juga bertemu Maya….”

“Dan baca isi diary lu,” sambungku.

“Tapi aku tak menyangka kalian mengajak Erik.”

“Dia sebetulnya punya acara sendiri. Tapi kemudian dia mau bantu menemani sampai kemari. Mau kuceritakan semuanya?” Aku bisa ceritakan sekalian bahwa bibir Fandy sudah dicicipi bule dari Perancis, dan dia juga hampir diperkosa di toilet kafe oleh bule-bule mabuk. Dia juga hampir kesurupan di kuburan.

Dimas menolak kuceritai. “Aku tahu kalian sudah susah payah sampai kemari. Aku sudah merepotkan banyak orang, termasuk Erik yang bahkan tak ada hubungannya dengan masalah ini. Kalau kauceritakan semua detailnya, nanti kau bisa terpancing untuk marah lagi. Aku tak keberatan kau memukulku. Beneran. Aku hanya… tak mau membuatmu marah lagi.”

Mulutku tersekat. Tapi kemudian tawaku terdengus juga. “Kupikir kau bakal jatuh sekali pukul. Lu memang bukan Dimas yang sebelum-sebelumnya.”

“Maksudnya, dulu aku lemah sekali, ya?”

“Cukup lemah.”

“Sekarang?”

“Sekarang kau tak tertebak.”

Dia tertawa lagi, singkat renyai. “Ternyata beberapa bulan saja cukup untuk membuat kesan yang berbeda, ya.”

Begitulah.

“Apa aku juga jadi terkesan beda?” pancingku.

“Enggak. Kamu masih tetap emosian.”

“Mungkin butuh tahun buat mengubahnya, bukan bulan. Memangnya ada perlunya untuk diubah? Kautahu aku punya alasan untuk emosi seperti tadi.”

“Makanya, aku tak keberatan kalau kau mau memukulku lagi.”

Kami bertatapan. Senyumnya tulus. Siap untuk dipukul lagi. Sayangnya kali ini hatiku tak setuju untuk melakukannya. Emosi bukanlah soal sekadar meluapkannya saja, tetapi juga soal menempatkan perasaan atas sesuatu. Dan perasaanku bukan cuma rasa ingin memukulnya. Kautahu, kau sudah tahu, aku sangat ingin dia kembali…. Dan sekarang kami sudah bertemu.

“Jangan bilang itu nggak sakit,” tukasku, memandangi memarnya, hasil perbuatanku.

“Sakit. Tapi mungkin nggak sesakit perbuatan yang sudah kulakukan ke keluarga. Aku sudah mengkhianati Papa dan kamu….”

“Sudahlah!” sergahku cepat-cepat. “Kautahu, aku nggak suka drama yang terlalu sentimental kayak gini! Sudah!”

Dia mengangguk. Tersenyum simpul. Tenang, tapi juga muram.

Aku terkerling lalu me-reka sebuah kecurigaan: “Atau jangan-jangan kau sudah merancang semua ini: rencana minggat, memancing keluarga untuk mencarimu, menyebarkan potongan-potongan petunjuk di tiap orang yang kaukenal di sini, lalu menungguku menemukan persembunyian….”

“Den, untuk apa kurancang perkara ini jadi se-njelimet itu?” dia memotong cecaranku dengan landai. Lalu agak terbata, “Aku cuma… aku ini cuma orang yang tersesat dari tujuanku semula… tidak lebih.”

Aku mencecar lagi, tapi dengan lebih lembut, “Makanya, sekarang jujur saja: apa yang membuatmu merasa tersesat? Bukankah kau senang dengan pencapaianmu selama di sini? Jujurlah!”

Dia termangu. “Pencapaian apa?”

“Bekerja dan dapat gaji baik, main di band profesional, tampil di acara internasional, disukai cewek secantik Maya? Kupikir kau menganggap itu pencapaian?”

Dia tertawa menerawang. “Ada yang mampu kutulis, ada yang tidak,” ucapnya pelan. “Awalnya aku memang menganggap itu pencapaian. Awalnya kupikir itu bisa untuk membuat keluarga bangga di saat aku pulang nanti. Tapi… ternyata aku tak pernah bisa tenang meski berhasil melakukan semua itu. Kucari tahu apa yang membuatku tak bisa tenang. Sesuatu yang tak pernah berani kutulis. Sesuatu yang membuatku menyadari bahwa di balik pencapaian-pencapaian yang baik itu ternyata aku tak bisa membohongi diri sendiri. Bahwa sesungguhnya aku ini cuma seorang pelarian—berpikir akan bisa membuat keluarga bangga, tapi nyatanya justru membuat mereka berantakan….”

Dia tampak jujur mengakuinya.

“Tapi aku memang bangga saat tahu kau bisa membuat pencapaian-pencapaian itu,” kataku, jujur juga.

“Bangga, tapi tetap marah juga, ‘kan?”

Aku tak menyahut. Ujung kepalanku kini terasa berdenyut agak perih, seolah-olah ingin menyatakan penyesalan telah mendarat di pipi Dimas. Apakah memang harus kusesali?

“Aku baru tahu sendiri rasanya, pelarian dan membohongi diri itu ternyata mencandui. Aku sadar ini salah, tapi aku tetap berlari dan melakukan semua yang kupikir bisa membuatku melupakan perasaan bersalah. Maka, saat aku tahu kalian sedang menuju kemari, aku merasa seperti ditelanjangi… bahwa membohongi diri ternyata memang tak ada gunanya. Kalian tetap saja mencariku, dan akhirnya akan menemukanku—aku tak bisa menghindari itu.”

“Jadi kau tahu kami pasti akan tiba di sini?”

“Di pura ini tidak. Kupikir lebih mungkin di tempat lain. Tapi ternyata aku melihat kalian di sini. Aku melihat kalian dari tempat yang tak kalian sadari. Kulihat kalian mendaki ke atas. Batinku tarik-ulur. Hingga akhirnya kurasa ini memang sudah takdir, bahwa aku tak boleh lari lagi dari kalian. Apa pun yang akan kalian lakukan padaku, aku memang pantas menerimanya. Memang aku salah. Aku bermaksud menyusul kalian ke atas, tapi kalian lebih dulu turun dari sana. Jadi kita bertemu di sini.”

Dan aku memukulnya.

Kulepas napas pelan-pelan. Kuhirup lagi bersama udara yang lembap dingin. Mendinginkan isi dadaku. “Kautahu, Fandy membelamu mati-matian. Dia yakin kau pasti akan segera menemui kami kalau tahu kami sudah jauh-jauh mencari sampai ke pulau ini. Ternyata dia salah, ‘kan? Lihat, kami masih harus mengejar sampai sejauh ini—sampai ke ujung Bali paling timur!”

“Dan kau yang benar?”

“Aku juga keliru,” kataku. “Aku dan dia punya salah-benar masing-masing. Aku benar mengataimu lari dari kenyataan—dan kau juga akui itu: ‘membohongi diri’. Tapi aku salah mengira kamu nggak berbuat apa-apa. Dia salah mengataimu tidak egois, tapi dia benar bahwa kau tak selemah yang kukira. Cuma, kau memperumit dirimu sendiri, Mas. Kau bikin kami susah.”

Dia termangu membisu. Lalu ucapannya keluar lirih, “Aku minta maaf….”

Kuhela napas panjang. Panjang napas. Sabar. Bukan luapkan gusar, tapi lupakan gusar. “Sebenarnya lu mau ngapain juga jauh-jauh ke pura ini?” tanyaku—untuk hal ini aku memang masih tak mengerti.

“Banyak tempat bagus kusinggahi, dengan harapan aku masih bisa menemukan alasan untuk berbangga diri di atas pelarian ini. Tapi ternyata di sinilah saatnya harus kuakhiri kebohongan itu. Di sinilah aku memilih untuk berhenti berlari. Karena aku melihat kalian. Aku sudah kehilangan tujuan—aku tak mau akhirnya juga kehilangan hati. Aku sangat tahu kasih sayang kalian….”

Kau masih punya hati, Mas. Dan dengan menghentikan pelarian ini, lalu menemui kami, kurasa kau sudah menemukan tujuanmu lagi: menunjukkan rasa sayangmu pada orang-orang yang menyayangimu.

Kukatakan dengan pelan dan lembut, “Sekarang, lu mau pulang…?”

Dia terdiam. Lama. Mendekap ke dalam tubuhnya sendiri. Ketika suaranya keluar, terdengar begitu rapuh, “Apakah aku masih bisa diterima di rumah?”

“Jangan pernah berkata seperti itu lagi,” tandasku. “Mama rindu. Mama sudah bisa terima pilihan lu. Aku sama Papa juga, dari dulu. Perasaan mereka sementara ini mungkin masih campur aduk karena lu pergi berbulan-bulan. Tapi nggak mungkin lu nggak diterima. Ayo, kita pulang…?”

Tersendat dia mengangguk. Sedikit cahaya saja cukup untuk membuat yang basah berkilau mengedip. Kulihat itu di matanya. Ada beberapa butir yang terpeleset jatuh. Isaknya terseret di tengah kesenyapan.

“Kamu akan kuliah tahun ini?” bertanya dia, menutupi isak itu.

“Iya. Kalau lulus seleksi.”

“Di mana pilihanmu? Jauh?”

Aku cuma mengangguk. Ya, bisa jadi akan jauh.

“Nanti biar giliranku yang jaga rumah. Kamu kuliah saja dulu. Kasihan Papa-Mama, nanti keluar biaya banyak kalau kita masuk universitas barengan.”

“Lu sejak lahir sampai delapan belas tahun nggak pernah ninggalin keluarga kita. Sedangkan aku pernah di Medan bertahun-tahun. Kalau bicara soal giliran, justru harusnya kali ini aku yang jaga rumah. Tapi… nggak mungkin kalau aku nggak kuliah. Lu juga pasti nanti akan kuliah, ‘kan?”

“Paling tidak, tinggalkanlah rumah dengan cara dan tujuan yang lebih baik dan lebih membanggakan dariku.”

Aku menepuk-nepuknya. Merangkulnya erat-erat. “Aku sudah lelah membanding-bandingkan diri kita, Mas, seolah-olah harus ada yang lebih baik dan lebih buruk di antara kita. Sudahlah. Ada yang aku lebih baik darimu, ada yang kau akan selalu lebih baik. Yang penting kita sama-sama jaga keluarga, meski nggak selalu bersama mereka.”

Dia tertawa di sela-sela isaknya. “Tahu tidak, sekarang kamu mulai memberi kesan yang berbeda juga, lho? Kamu lebih bijak sekarang. Ah, enggak… kamu sebetulnya memang bijak dari dulu. Setimpal sama emosianmu.”

Betul. Dan aku loveable.

“Oh, iya, bagaimana dengan Fandy? Kok dia bisa ikut kemari? Memangnya dia dapat izin dari orang tuanya?” Sekarang Dimas mulai tak tahan untuk tahu kabar kekasihnya.

“Tadi kalian sudah ketemu, kenapa bukan dia yang kauajak bicara duluan?”

“Karena urusan kita lebih mendesak gara-gara kau main pukul.”

“Oh, jadi seandainya aku tadi nggak mukul, maka dia duluan yang akan kaulayani?”

Kami mulai saling mencibir. Berantem. Sesuatu yang juga kurindu.

“Oh, aku salah ingat,” sambungku buru-buru, “bukan aku duluan yang kautanggapi, tapi dia. Lu kirim surat ke dia!”

Dimas tertawa hampir keras. “Kamu tahu dari dia atau karena baca diary-ku?”

“Aku di tempat kosnya waktu Ben membawakan suratmu! Dari cap pos di sampul surat itu aku jadi tahu kalau kau ada di Bali.”

“Oh. Kamu dan Ben ada di kamar kos Fandy?”

Aku tak ingin menanggapi soal “ada di kamar kos Fandy” itu.

“Makasih, ya, sudah temani dia,” Dimas menggumam sedikit cengengesan. “Dia memang butuh sahabat seperti kalian. Tapi dia nggak ngasih lihat isi suratku ke kalian, ‘kan?”

“Kenapa? Takut tulisan mesummu kubaca?”

“Nggak ada yang mesum,” Dimas merengut. “Aku cuma menghibur dia.”

“Dan ngajak balikan?”

Sekarang dia tertawa selintutan. “Tebak saja sendiri.”

“Sudah ketebak,” tukasku.

“Terus, kabar Ben baik? Kupikir dia bisa rahasiakan soal sampul surat yang ada stempel pos itu.”

“Lu nyesel percaya sama dia?”

Dimas menggeleng dengan senyum kecut. “Dia cuma ingin membantu kita—aku mengerti. Dia baik-baik, ‘kan? Misha gimana juga kabarnya?”

“Pulanglah, nanti tahu sendiri.”

“Mbok Marni?”

Kutepuk-tepuk lagi punggungnya, lebih keras. “Pulanglah,” kataku, lembut-tandas.

Aku berdiri. Dia masih duduk.

“Maaf, aku bikin mukamu memar,” ucapku, memandangi wajahnya yang jadi kuyu sebelah. Akhirnya kusesali itu. “Kalau itu belum hilang saat pulang nanti, aku pasti dimarahi Mama.”

“Kecuali aku nggak bilang Mama,” ucapnya. “Akan kukatakan ini akibat terpeleset di Pura Lempuyang.”

Aku mengingatkan, “Lu tahu nggak, di pura ini banyak pantangan? Salah satunya nggak boleh bicara sembarangan. Berbohong bisa membawa sial di sini.”

Dia tersenyum tidak takut. “Karena itu, aku akan berbohong demi kebaikan. Kebaikan tidak membawa sial.”

“Terserah apa katamu nanti. Yang penting kau pulang,” kataku.

Kurasa dua wajah haru sedang bertemu. Yang satu menanting yang lain untuk mengikuti. Sudah kuulurkan tangan untuk membantunya berdiri, tapi dia masih duduk saja.

“Apa lagi yang kautunggu?”

Dia agak malu-malu mengutarakannya, “Suruh Si Unyu kemari.”

Rupanya itu. Dia kangen. Baiklah. Kuturuni tangga naga, menuju ke bawah, menghampiri Fandy yang menunggu di balai bersama Erik.

“Bagaimana dia?” Fandy ingin tahu dariku.

“Dia menunggumu di sana. Ke sanalah.” Kudorong punggung Fandy supaya dia bergegas. “Cepatlah.”

Dia berjalan menjauh tetapi beberapa saat badannya masih menghadap padaku, “Serius, Den?”

“Bicaralah dengannya. Lampiaskan kangen kalian.”

Kekasih Dimas itu tertawa berderai malu-malu, meninggalkan aku yang sekarang akan menemani Erik di sini. Dia berjalan dengan langkah kecil yang tak tergesa, meniti satu demi satu undakan tangga naga itu. Betul, buat apa tergesa-gesa? Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Di atas sana Dimas lebih dulu menyingkir ke tempat lain: ke belakang gerbang putih itu, tempat yang tak akan bisa kulihat dari sini. Fandy menyusulnya. Keduanya tak bisa kupandang lagi.

“Kamu tak khawatir mereka akan ngapa-ngapain di sana?” lontar Erik—satu-satunya kalimat yang dia ucapkan di “karung” ini.

Aku tertawa landai. Tak resah lagi. “Biarlah sementara ini mereka memiliki waktu untuk berdua saja. Mereka tak akan pergi diam-diam dari kita. Percayalah. Pencarian kita sudah selesai….”

 

Dua empat.

Yang dua adalah kekasih. Yang empat adalah kami semua. Genaplah sekarang.

Dan akhirnya kami akan pulang setelah mengarungi pencarian yang melelahkan ini.

 

Aku semakin puitis, ‘kan? Sayangnya, baris-baris itu terlalu panjang untuk dijadikan judul “Karung 24”. Sekali-sekali, judulnya terserah kalian saja. Puas?

Pasti tidak.

 
 
 
 
bersambung….
 
 
 
 

 

60 responses to “Karung 24

  1. noelapple

    22 Maret 2016 at 23:08

    Pendek, ‘kan? Nggak puas, ‘kan?

     
    • TrieWidyaSulistiawati

      23 Maret 2016 at 18:47

      Astaga sweeetttttttttttttttttttttt
      Bersambung berarti ada karung 25 kan ya?
      Uuuhh ngak sabar banget uh kak suka banget 😝😝
      Ngak sia sia nunggu 1 tahun, terbayar kak :’) aaaaaa so sweeettttt pake BANGET kak!!!!!!! ><

      OFC I NEED MORE KAK!

       
      • noelapple

        23 Maret 2016 at 19:29

        Setahun? Cuma sebulan dari yg 23!

         
    • rifal anwar

      5 April 2016 at 18:59

      setahun aq nunggu karung 23/24 akhirnya kerinduan q ma Dimas terobati…

      thanks kq noel

       
    • rifal anwar

      5 April 2016 at 19:42

      keren kq..
      ampe nangis… hix..hix..hix..

       
    • Giiiig

      1 Juni 2016 at 04:03

      Saya sudah mengira denis bakal nonjok dimas pas ketemu.. lalu setelahnya bakal dipeluk.. eh meleset. :v

       
  2. autoredoks

    22 Maret 2016 at 23:11

    speechless.. walopun part paling dikit berasa paling kenyang bacanya..

    betewe deeeeeennn.. dua itu artinya dua pasang kan?? dua pasang kekasih kan??

     
    • noelapple

      22 Maret 2016 at 23:15

      Lho, kamu masih hidup, dek?

      Kok dua pasang? Yang kekasih ya cuma sepasang. Sepasang isinya dua orang.

       
      • autoredoks

        22 Maret 2016 at 23:25

        masih lah mas.. orang tiap hari masih bernafas..

        kirain dua pasang.. padahal pengen ledekin denis sama erik..

         
  3. lutfiTen

    22 Maret 2016 at 23:36

    gpp lah walaupun pndk… bagian yg pling berkesan adalah ketika denis ‘menonjok’ dimas kknya sndiri… kalau saya yg jdi dimas psti udh saya balas:v

     
  4. erikcillious

    23 Maret 2016 at 00:47

    Hiks hiks hatiku berhenti dikamu erik……. dimas T_T (kasih tak sampai).
    Gagal #moveon erik jadian sama dimas😦

     
  5. hida

    23 Maret 2016 at 00:50

    Akh akhirnya ketemu. Dimas brubah bgt.. semoga nakalnya tetep ya :p
    greget bgt wkt mreka bhas fandy, entah knapa bawaannya sukaaaa gt,cute😀

     
  6. Ethdio

    23 Maret 2016 at 01:27

    Wah, part paling ditunggu… Dimas tambah tangguh ya…

     
  7. afrel

    23 Maret 2016 at 06:43

    entahlah.. mau puas atau tidak, tapi aku bersyukur. ga harus nunggu bertahun tahun lagi buat nunggu kelanjutannya. ah. aku pikir bakal ada adegan dimas bersender di pundak denis dan meluluhkan air mata.. ternyata saya yang melankolis.

    good job bang!

     
    • noelapple

      23 Maret 2016 at 13:39

      Itu Denis yg rangkul Dimas. Kenapa? Karena Denis punya watak pelindung. Emosional, tp pada dasarnya pelindung dan ngemong. Kayak Ahok.

       
  8. minae

    23 Maret 2016 at 14:30

    kak kok keranjang sama kantongnya gak ada ya?
    Denis langsung mukul gitu aja? biar nyadarin kali ya?
    Dimas jadi liat fotonya Denis sama Fandy ya? pantesan tahu kalo dicari…

     
    • noelapple

      23 Maret 2016 at 14:44

      Kebanyakan tanya yang jawabnya udah jelas!

       
  9. Yo

    23 Maret 2016 at 16:34

    Cuma dapat bagian 1 dialog.
    Kasihan Erik.

     
  10. Rivian

    23 Maret 2016 at 19:42

    meskipun pendek tapi dapet banget feelnya ,jadi pengen ke Pura Lempuyang

     
  11. jihaNaufal -

    23 Maret 2016 at 21:05

    CRA yg PART 1 sama 2 kok ilang ??? ga bisa di buka |??

     
  12. Isam

    24 Maret 2016 at 02:00

    Oohh my god …kerennn romantis,mistis,misterius i’m love it

     
  13. Aci

    24 Maret 2016 at 03:19

    Kurang panjang kak!! Nunggu sebulan lagi deh. Okelah ga papa asal jangan setahun. Yg jadi pikiranku sekarang adalah perihal masalah yg tak boleh di bawa ke Pura Lempayung. Jelas2 3 dari mereka memang punya masalah, dan 2 dari mereka telah melanggar pantangan karena kemarin malam sempat ke kuburan, takutnya nanti bakal terjadi sesuatu yg buruk pada mereka karena telah melanggar. Aduh, aku ga rela kalau sampe mereka kepisah lagi.

    Aku jadi suka banget sama Fandy, homo ganjen tapi berkat kekuatan cintanya yg besar bisa memandu jalan untuk sampai ke tempat Dimas. So sweet!!

    Ngomong2 masalah mimpinya Fandy apakah itu bagian dari ‘Lavender’ nya?? Apakah kemampuan mistis Fandy semakin menigkat setelah nyaris kesurupan pada waktu itu?atau karena campur tangan dari kedua kunci sentra yg tanpa sengaja telah semakin menebalkan aura lavendernya Fandy??
    Kira2 di karung 25 ga akan dijelaskan deh kangen2an Dimas sama Fandy, soalnya kan ini dari POV Denis kan ka?? Padahal aku ingin baca interaksi mereka berdua di CRA3 ini, mereka itu pasangan yg sangat klop, saling melengkapi, saling mengimbangi, mudahan2an bisa jadi pasangan sejati sampai mati. Yah kalaupun nanti bakal ada sesuatu yg buruk terjadi dan itu menyagkut dengan kematian, aku harap itu Dimas dan Fandy, jadi keinginan Dimas jadi hantu gay terkabul. Hahahahaha

     
    • noelapple

      24 Maret 2016 at 21:33

      Ya.

       
      • Aci

        25 Maret 2016 at 16:02

        Maksud dari ‘Ya’ nya kakak apa?? Apakah ‘Ya’ Dimas sama Fandy akan kena celaka yg berimbas ke kematian?? Jadi kaya Romeo dan Julio donk!!
        NO!!!

         
  14. Rosid

    24 Maret 2016 at 16:37

    Keren.. aku tunggu karung 25 yah… semangat teruss… aku suka cara penulisanmu. Walaupun beda sama cara aku nulis. Tapi aku suka banget dengan penempatan kata2 yang kamu gunakan.☺☺☺ semanget terussss…

     
  15. obidondon

    24 Maret 2016 at 22:34

    Salam Bang Noel (❁ *´ `*)

    Abaaaaaang (❁ *´ `*). Huaaaaaaa, ada bang Dimas (❁ *´ `*). Puji Tuhan (❁ *´ `*). Hahah! Seneng banget Obinya (❁ *´ `*). Denger bang Dimas cakap-cakap sama bang Denis merupakan salah satu kebaikan Tuhan buat kita semua (❁ *´ `*). Obi mengucapkan terima kasih banyak bang (❁ *´ `*)! Obi kira karung 24 bakalan rilis tahun depan lagi (❁ *´ `*). Taunya sebulan udah rilis (❁ *´ `*). Kalo udah gini, Obi beneran bisa UN dengan lancar awal April besok (❁ *´ `*) (Obi akan memastikan Obi menulis ‘laf bang dimas’ di akhir lembar jawab UN Obi besok *entah mau buat apa). Yang jelas Obi mengucapkan banyak-banyak terima kasih bang (❁ *´ `*)! Selalu seru baca CRA (❁ *´ `*), seberapapun yang diberikan bang Noel buat kami, kami akan sangat berterima kasih (❁ *´ `*).

    Well, Obi akan dengan sabar menunggu CRA kantong 25 nya rilis (❁ *´ `*). Sekali lagi Obi mengucapkan terima kasih bang (❁ *´ `*)!

    -Salam Hangat dari Obi (❁ *´ `*), SKO Publisher & Editor-

     
    • noelapple

      24 Maret 2016 at 22:50

      Halo, Obi.

       
      • Gading

        25 Maret 2016 at 03:07

        Dari awal pencarian dimas sampai dimas ditemukan, nggak ada percakapan yang berarti antara fandy-erik. Why? Anyway dimas itu Introvert atau Melankolis sih mas? Karakternya juga lebih ke golongan darah A? Trimakasih jika berkenan menjawab.

         
      • noelapple

        25 Maret 2016 at 23:59

        Nggak penting harus ada dialog Fandy-Erik.

         
    • leonardo

      28 Maret 2016 at 19:42

      hayoo obi ketangkep dsni bkan nya blajar😀 katanya mau fokus k UN hahaha.abg mash nungu SKO nya

       
  16. okky firdaus

    25 Maret 2016 at 20:59

    Msh Kurang 😂😂😂😂

     
  17. As12345

    26 Maret 2016 at 17:07

    Sepertinya ceritanya akan segera berakhir. Kk author, apa setelah cerita ini tamat bakal ada sequel terbaru soal CRA ini, atau bikin cerita baru tapi dengan tema yg sama?

     
    • noelapple

      27 Maret 2016 at 12:37

      Nulis cerita yg lain. Nggak boleh CRA melulu dong.

       
  18. Agil

    26 Maret 2016 at 23:12

    Namanya juga pembaca mas
    Ditanya gak puas ya pasti gak puas lah mas
    Mintanya pasti lebih 😆😆😆

    Bagiku cukup sih mas, ilang rasa penasaran ttg dimas
    Ilang kangenya sama dimas walopun sedikit

     
  19. Rifal

    27 Maret 2016 at 18:47

    Keren.

     
  20. itsna

    27 Maret 2016 at 22:52

    ampunn kak.. suka banget sama cara nulis kak noel yang detail. rinci banget.. bahasanya jga gk terlau berat. dalem di porsi yang pas. salam kenal ya kak🙂 semangat terus nulisnya

     
  21. yusuf

    29 Maret 2016 at 08:54

    Owhhhh sweeeettttt

     
  22. yudi kusumah

    29 Maret 2016 at 18:20

    Yey… Langsung ketawa pas baca “bukkk!” 😂 ternyata perkiraanku bener hahaha..

    Makasih mas noel buat lanjutanya walaupun ini di bilang pendek tapi buatku g pendek2 banget ko..

    Btw… Karung 25nya kapan di rilis ya mas ? Biar g baper..😁

     
  23. Reiva Alie

    30 Maret 2016 at 14:37

    lebih suka baca part dimas denis dengan logat lo gue bukan aku kamu atau kau
    tapi keren ceritanya denis itu keren banget ya… andai nyata ngebetlah aku jd cwenya hoho #love denis :*

     
  24. hizkiaam

    1 April 2016 at 00:16

    Oh my God! Awesome!!! feelnya dapet. Sedih masa sampe terharu aku bacanya. Sepertinya akhir ceritanya sudah semakin dekat, semoga endingnya unforgettable ya Mas.

     
  25. widyamanja24

    5 April 2016 at 00:57

    Singkat ,padat , daann dapat . Hahaa -feel- nyaa .
    Di tunggu kelanjutan nya mas noel , jangan lamalama yaahh…

     
  26. rifal anwar

    5 April 2016 at 18:40

    suda satu tahun aq menunggu Dimas..
    entah mengapa perasaan q sepertinya Dimas sudah kembali..

    aq buka kembali novel CRA ternyata benar karung 23/24 suda di post..
    makasi mas noel🙂

    aq sampe nangis2 baca nya🙂

     
  27. Muhamad Arif 24 (@arif_saputra635)

    6 April 2016 at 13:24

    MAs Noel jangan lama lama sambunganya klo bisa minggu depan karung 25 ya

     
  28. Yulius

    9 April 2016 at 16:00

    Trims Noel atas lanjutan CRA dalam karung 23 dan 24.
    Sekedar tanggapan: pembicaraan Denis dengan Dimas, saat Denis memberitahu Dimas bahwa Mamanya sudah menerima pilihanya sepertinya terlalu singkat. Menurut saya akan lebih baik jika lebih dijelaskan alasan bagaimana Mama menerima pilihan Dimas tersebut sehingga alasan untuk meminta Dimas pulang semakin kuat. Atau Noel punya alasan lain yang saya tidak mampu menangkapnya?

     
    • noelapple

      12 April 2016 at 00:01

      Alasan Mama sudah ada di karung2 yang lalu. Kalau dibicarakan lagi maka hanya akan mengulang-ulang. Justru karung ini adalah titik yang tepat untuk mengungkapkan perspektif Dimas sendiri thd pelariannya, ttg perasaan bersalahnya, yang selama ini belum diungkap. Karung ini mengungkapkan bahwa hal yang akan membuat Dimas pulang bukanlah alasan mengapa Mama telah menerima pilihannya, melainkan kerinduan Dimas sendiri thd keluarga dan perasaan bersalahnya. Selama ini Dimas mencoba memungkiri kata hatinya, tapi kedatangan Denis membuatnya menjadi yakin apa yang semestinya dia lakukan: pulang.

       
      • Yulius

        12 April 2016 at 19:21

        Siiip. Tulisan dari hasil permenungan yang mendalam. Proficiat!

         
  29. ryouzaki48

    12 April 2016 at 16:10

    Oke part ini bikin baper abis sama kata kata dimas tentang semua yang di alami . . . Rasanya pengen peluk dimas . . .

     
  30. aldian juliansah

    14 April 2016 at 15:30

    Wah… cerita nya bagus kak… andai aja aku juga punya saudara kembar kayak denis kak, tapi sayang nya aku ngak punya saudara kembar… kak, jangan cepat2 tamat cerita nya ya kak… bikin lebih banyak panjang lagi cerita nya kak… kalau perlu cerita kan sampai mereka sudah kuliah kak… Aku merasa tulisan kakak ini ada kesamaan dengan kisah ku kak… semangat terus buat nulis ya kak…

     
    • noelapple

      18 April 2016 at 00:55

      Sudah terlalu banyak yang ngaku cerita ini mirip hidupnya. Enough.

       
  31. Nara Rivaille

    15 April 2016 at 18:10

    Terharuuuu, :’)
    Itu namanyaaa sodara, pngen pny sodara kek denissss, pengen fandy, pengen dimas juga, mereka kiyut bangeeeet😄

     
  32. Muhamad arif

    26 April 2016 at 18:44

    lanjutanya manaa kok lama

     
  33. kichiw

    29 April 2016 at 17:36

    akhirnyaaaa!! Saya kirain bang noel ikutan ngilang kayak si dimas. Saya kangen banget sama bang noel :*

    ciyeee ketemu juga tuh si dimas. Gak sia-sia perjuangan kalian, nak. Saya turut pengen mukul si dimas jadinya. Kira-kira dimas ngapain sama si fandy dibalik tembok yak?
    Saya tunggu kelanjutannya bang noel

     
  34. RASA FANTA

    15 Mei 2016 at 11:03

    Penasaran banget sama kelanjutannya..cepat updete mas noel Karung 25 nya. Smangat !!!

     
  35. andi_zaka

    26 Mei 2016 at 18:42

    Bang, kapan lanjutan ceritanya
    Udah g sabar nunggu ini

     
  36. Rizki Irawan

    1 Juni 2016 at 15:46

    Baca part 24 ini sambil denger lagu Ray Lamontagne – Within You. Pas banget.

    War is not the answer
    The answer is within you

    War is not the answer
    The answer is within you

    Love
    Love
    Love
    Love

     
  37. Boysside

    6 Juni 2016 at 12:20

    Terharu banget kak, kali ini bener-bener bikin nangis… Ada suatu hal yang bikin nangis, baca dialog dari dimas yang bilang masih bisa pulang kerumah… Itu sedih banget…😥

     
  38. Haider

    26 Juni 2016 at 15:47

    huuuuuaaaaaa udah setahun aku sabar menanti ini bang Noel.. a Million Thanks bang (y)
    semoga saja penantian tuk karung2 yg selanjutnya tak begini lamanya hehehhee *mupeng

     
  39. Bulan

    24 Agustus 2016 at 18:42

    Karung 25 nya nggk ada isi ceritanya.. hanya sebuah judul…😦

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: