RSS

Karung 10

 
 

Karung 10

Stasiun Patah Hati

 
 

–dengarkan musik–

 
 

Belum terlalu malam saat aku pulang dari rumah Misha. Baru jam delapan kurang. Kenapa malam harus masih sedini ini? Mataku masih jauh dari kantuk. Harus kuapakan patah hati ini? Menghayatinya sampai berjam-jam ke depan, sampai mataku capek sendiri, lalu tertidur dan tak ingat lagi? Beuhhh…. Ngenes banget ‘malam terakhir’ku ini.

Mungkin aku harus nyanyi The Winner Takes It All sampai puluhan kali hingga rasa galau ini lama-lama tawar sendiri. Lalu malam ini aku tetap bisa tidur nyenyak, jauh dari mimpi-mimpi tentang Misha dan cowok pujaannya yang tak punya lesung pipit itu. Huh, aku yakin si Amos itu nggak tahu lagu The Winner Takes It All. Dia pasti cuma tahu lagu-lagu jaman sekarang yang liriknya standard. Dan dia nyanyinya fals!

Mas, di saat gue lagi berantakan gini, kenapa gue masih harus nyariin lu? Kenapa bukan lu yang nemenin gue, ngajak gue ngobrol, hibur gue dengan segudang lagu bagus yang lu tahu? Gue akui selera musik lu keren! Kenapa harus gue yang terus perhatiin lu?

Beneran, rasanya pingin bisa ngobrol dengan Dimas. Di sini, di meja dapur. Sambil minum cappuccino, ngemil sosis saus mayo yang sering dibilang Dimas cemilan ‘porno’. Ingin kudengar bagaimana Dimas mengomentari malamku yang buruk ini.

Aku ingin bertanya, “Mas, waktu lu ditolak Erik rasanya gimana?”

Sebenarnya aku sudah tahu, sih. Dimas sudah menceritakannya. Dia nggak cuma patah hati, tapi juga harga dirinya diinjak-injak oleh berbagai macam cemooh. Si Erik semprul itu membocorkan ke teman-temannya bahwa Dimas homo. Malam yang harus dilewati Dimas waktu itu pasti lebih buruk dibanding malam yang harus kulewati saat ini. Tapi dia mampu melewatinya. Jelas, lah. Memangnya siapa waktu itu yang nelepon dia malam-malam, menghibur dan menemani dia sesenggukan? Gue!

Aku juga tahu gimana ceritanya waktu Dimas ditampik Fandy. Gara-gara insiden aku menghajar Geri di kantin, Fandy jadi dengar soal siswa gay yang dipermasalahkan di sekolah kami. Habis ditampik Fandy, Dimas gantian dihajar Geri dan kawan-kawannya. Apes banget Dimas waktu itu. Lebih apes dibanding aku. Tapi yang penting akhirnya dia bisa pacaran juga dengan Fandy. Mereka sukses pacaran selama hampir dua tahun. Memangnya siapa yang nyomblangin Dimas sama Fandy? Gue!

Sialan lu, Mas! Di saat giliran gue yang lagi patah hati gini, lu malah minggat!

Tapi aku sudah belajar satu hal dari Dimas. Dan sesungguhnya itu adalah hal yang kukagumi. Dia orang yang pemaaf. Dia memaafkan Erik yang secara ‘sadis’ sudah mengecewakannya. Dia memaafkan Fandy yang sempat bersikap munafik padanya. Sekarang Erik bersahabat dengannya. Sekarang Fandy pacaran dengannya (biarpun putus, tapi masih saja surat-suratan).

Kubayangkan aku bertanya, “Mas, menurutmu aku cukup jadi sahabat Misha saja, atau harus terus berusaha untuk jadi pacarnya?”

Secara serius Dimas pasti akan menjawab sok bijak, “Sudah, jadi sahabatnya saja. Dulu waktu ditolak Erik, aku juga nggak maksa. Akhirnya aku dapat cinta yang lain juga, kan?”

Kalau secara bercanda, dia akan menjawab, “Sudah, nggak usah ngejar Misha. Gantiin aku aja jadi pacar Fandy.”

Dan, plak…! Kutabok mukanya pakai telenan!

“Tapi perasaanku ke Misha sudah kupendam selama dua tahun, Mas. Sedangkan perasaanmu ke Erik waktu itu baru berjalan satu tahun. Perasaanku ke Misha jauh lebih berat!” begitu aku akan menggugat nasihatnya.

Dia pasti akan menjawab, “Salahmu sendiri, cinta dipendam lama-lama!”

“Karena kupikir Misha itu punya perasaan yang sama denganku, dia tinggal menunggu aku mengatakannya. Aku nggak kepikiran kalau Misha bakal direbut sama si Amos itu!”

“Dasar rewel! Ya sudah, gantian kamu rebut si Amos sana!”

Pok…! Kali ini gantian kupakai panci teflon untuk menampar Dimas.

Memang aku yang terlalu besar kepala, sih. Mentang-mentang orang yang kusukai juga menyukaiku, aku jadi merasa aman untuk menunda-nunda mengatakannya, dan malah sibuk mengurusi keraguanku sendiri. Aku tidak belajar dari pengalamanku sendiri: Leah yang sudah jadi pacarku saja bisa direbut oleh si Oge, apalagi Misha yang belum jadi pacarku. Tidak salah kalau cowok bernama Amos itu merasa berhak untuk mendekati Misha. Tidak salah jika Misha akhirnya memilih untuk dekat ke cowok yang lebih bisa dia harapkan. Dan cowok itu bukan aku.

Memang akulah yang bodoh.

Hmhhh…. Kalau saat ini aku ngobrol dengan Dimas, mau nggak mau aku juga akan menceritakan soal Leah. Dimas pasti akan meledekku habis-habisan! Dia pasti senang mendengar fakta bahwa aku pernah menjadi korban selingkuh.

Dimas pasti akan mulai pamer, “Aku punya pacar cowok, tapi dia nggak pernah selingkuh.”

Aku bisa jawab, “Tapi lu ditendang sama calon mertua lu!”

“Tapi pacarku tetap rela mencariku, kan?”

Iya, deh. Aku kalah.

Kalau aku jadi direktur majalah People, akan kumasukkan nama Dimas-Fandy untuk nominasi The Most Intriguing Gay-Couple Of The Year! Lalu akan muncul adaptasi baru atas cerita Romeo & Juliet, menjadi versi Romeo & Julio yang filmnya disutradarai Ryan Murphy atau Rob Marshall. Bagaimana denganku? Aku hanya akan menjadi nama di balik layar. Mungkin suatu saat mereka berdua menikah di Canada, di stage mereka berduet lagu Shania Twain When You Kiss Me. Aku di belakang gedung sendirian menyanyi lagu Celine Dion All By Myself, sambil memandangi danau yang membeku.

Wow! Tiba-tiba aku bisa berimajinasi sejauh itu. Kesepian memang kawan yang tepat untuk diajak berimajinasi. Kesepian dan patah hati, pas!

Kudengar deru mesin mobil di luar rumah. Kurasa Papa dan Mama sudah pulang, entah dari mana.

“Lho, kamu sudah pulang, Den?” Mama menyapaku di dapur. Padahal lebih tepat aku yang menyapa, lho, sudah pulang, Ma?

“Dari mana, Ma?” balasku.

Mama meletakkan bungkusan di depanku. “Habis cari makan sama Papa. Ini Mama bawain buat kamu.”

Hmmm. Syukurlah, Papa dan Mama sudah makin akur lagi. Biar kutebak, mereka habis makan malam di Pasar Gede. Di salah satu sudut persimpangan di sana ada kedai mie yang sangat terkenal di Solo, kedai makan favorit Mama. Tebakanku ternyata benar, oleh-oleh yang dibawakan untukku adalah mie kuah khas kedai itu.

Tuh, Papa dan Mama yang sudah nggak muda lagi masih saja punya momen romantis! Makan malam berdua, di kedai favorit mereka. Ah, jangan-jangan mereka juga makan semangkuk berdua? Bikin iri saja. Aku sudah mendapatkan kesempatan dengan Misha, tapi malah kubiarkan hangus karena kebodohanku sendiri. Huh, menyesal!

“Tadi ada temanmu mencari kemari,” Mama bercerita sambil menemaniku makan mie. “Katanya tadi siang dia sudah kemari. Jauh-jauh, lho, dari Medan…”

Aku tersedak.

“Hati-hati kalau makan,” sela Mama.

“Leah?” cetusku.

Mama tersenyum tanpa mengiyakan. Tapi memang sudah jelas jawabnya, pasti Leah!

“Ngapain lagi dia kemari?”

“Katanya tadi siang dia lupa bawa oleh-oleh. Sore tadi dia kemari lagi membawakan oleh-oleh buat kamu. Tapi kamu malah nggak ada di rumah.” Lalu Mama menghampiri kulkas. Mama mengeluarkan sebuah bungkusan kardus, membawanya padaku. “Ini oleh-olehnya.”

Aku terpaku memandangi kardus berukuran sedang yang ditaruh di depanku. Perlahan, aku membukanya. Jantungku berdesir….

“Dia benar cuma teman?” tanya Mama menyelidik.

“Dia cerita apa saja sama Mama?” aku balik memancing.

Mama menghela napas singkat. “Katanya kalian pernah pacaran. Terus sejak kamu pulang kemari, kalian nggak saling berhubungan lagi. Sekarang dia pingin kuliah di Jogja. Sekalian mengunjungi kamu kemari. Itu saja, kok.”

Wajahku sedikit meremang. Masih terpaku memandangi isi kardus. “Cuma cinta monyet, kok, Ma,” gumamku canggung.

Mama tertawa pelan. Tak berkata apa-apa. Bisa jadi sebenarnya Mama keberatan aku pernah pacaran. Tapi Mama sengaja memilih tak berkomentar. Karena sejak masalah Dimas dan Fandy terkuak, persoalan pacaran mungkin menjadi hal yang sensitif untuk dibicarakan di keluarga ini.

“Dia cuma cerita itu?” selidikku. Sambil meneruskan makan mie, meskipun kabar soal Leah membuat perutku tiba-tiba merasa kenyang.

“Dia mau kemari lagi besok. Tapi Mama bilang kalau besok kamu akan pergi.”

Makanku lagi-lagi terhenti. Perasaanku tambah gelisah. “Gimana Mama jelasin ke dia?”

Mama tampak canggung. “Mama bilang kalau kamu mau menjemput kakakmu.”

“Mama juga bilang aku akan menjemput ke mana?”

Mama menatapku sejenak agak ragu. “Ya. Mama bilang kamu akan ke Bali….”

Lututku terasa lemas. “Dia juga tahu kalau aku akan berangkat dari stasiun?”

“Ya. Nggak apa-apa, kan, kalau Mama bilang begitu? Masa, sih, dia akan ikut? Dia cuma ingin tahu saja kabarmu, karena sudah lama nggak ketemu.”

Hhfff…. Sayang sekali, Mama nggak tahu gimana watak Leah. Dia cewek kaya, manja, dan tekadnya keras. Aku benar-benar harus mencemaskan ini! Tapi semoga Leah tak senekat yang kubayangkan. Jika dia nekat menguntitku ke Bali, itu benar-benar gila! Semoga tidak.

“Sudah makannya? Mie-nya belum habis gitu?”

“Sudah kenyang, Ma,” jawabku, menyingkirkan mangkukku.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?”

Aku terdiam.

“Mama salah, ya, bilang ke temanmu itu kalau kamu mau ke Bali?” tanya Mama tampak cemas.

Aku berkilah, “Nggak, Ma. Yang penting Mama nggak cerita soal masalah Dimas, kan?”

Mama tersenyum sayu. Menggeleng pelan. “Nggak perlu sampai sejauh itu, lah.”

Aku mengangguk. “Ya sudah. Aku cuma kuatir Mama membuka terlalu banyak.”

Sebenarnya, dengan mengatakan aku akan ke Bali dan berangkat dari stasiun, itu sudah terlalu banyak. Tapi sudahlah, aku tak mau menambahi perasaan bersalah dalam diri Mama. Karena keluarga ini baru saja sedang membaik.

“Jam berapa kamu berangkat besok?” Papa menyusul ke dapur sambil melontarkan pertanyaan padaku.

“Jam delapan harus sudah siap di stasiun, Pa.”

“Fandy jadi ikut?”

“Ya. Tadi dia sudah SMS, dia sudah siap. Besok langsung ketemu di stasiun.”

Aku menambahi penjelasan bahwa Erik juga akan ikut. Bahwa dia berjanji bisa membantu banyak selama di Bali nanti, karena dia kenal komunitas backpacker di sana. Jadi Papa dan Mama tak perlu merasa kuatir.

“Kamu cepat istirahat. Biar besok siap berangkat,” pesan Papa.

Aku mengangguk. Sebelum menuju ke kamar, kupertimbangkan sejenak… lalu aku tak keberatan mengambil satu buah dari beberapa yang ada di dalam kardus. Oleh-oleh dari Leah. Sebuah cupcake yang mengingatkanku pada hadiah Valentine yang pernah kuberikan kepadanya. Warnanya pun sama. Tapi cuma warnanya, sedangkan rasanya beda. Ini bukan cupcake gula merah, ini cokelat. Memang, ada sesuatu yang tak perlu kita ulang dalam hidup. Tapi sekedar untuk menghormati jerih-payahnya, aku akan makan satu yang kuambil ini.

Malam sudah menunjuk angka sepuluh di jam dinding. Sesuatu yang patah tetap tak tersambung. Hmmhhh…. Tapi nggak mungkin juga aku menunggu sebuah happy ending demi bisa tertidur malam ini. Karena akhir yang bahagia tidak berada di malam ini. Entah di malam kapan. Siapa yang tahu?

Aku rebah menunggu mataku terpejam, berusaha sebisa mungkin melupakan setiap hal pahit yang kutemui hari ini. Tapi malah suara-suara sayup tak henti mengiang di telingaku. Suara itu berasal dari radio di kamar Papa. Sejak mendapat radio antik dari pasar loak, Papa memang jadi suka menyetel radio kalau sedang di rumah. Apalagi tiap malam menjelang tidur, kayaknya wajib! Suaranya kadang memang agak berisik. Dimas yang biasanya protes. Tapi aku nggak pernah protes, padahal kamarku paling dekat dengan kamar Papa. Soalnya, kadang-kadang aku bisa menemukan sensasi tersendiri dari suara radio jadul itu.

Ya, selera Papa memang jadul. Sebelum hobi dengan radio, dulu Papa suka menyetel kaset pita. Biarpun juga punya koleksi compact disc, dia tetap lebih suka memutar kaset-kaset pita. Tapi karena katanya sekarang kaset pita sudah tidak diproduksi lagi, Papa mulai jarang memutarnya. Takut kalau pitanya keriting, atau nglokor. Dia pilih menyimpannya baik-baik sebagai barang antik. Sekarang dia pilih mengisi atmosfer rumah dengan suara radio, yang nggak kalah antik.

Malam ini kudengar radio itu mendengungkan sebuah lagu lawas. Aku kenal lagu itu….

“Two lovely flowers, one is red and other’s white. Wondering what the other will say. Should I pick one to stay?

Fickle heart I have, I don’t know which of the two is bad. I’d rather have a broken heart, than to see the good one’s hurt…” –dengarkan musiknya–

Itu sebuah lagu lama milik Eddie Peregrina, seorang penyanyi Filipina yang mati muda. Pertama kali aku tahu lagu itu adalah dari kaset koleksi Papa. Papa juga yang pernah menceritakan riwayat penyanyi itu, dan entah kenapa bisa kuingat sampai sekarang. Konon dia adalah Raja Jukebox. Konon pada jamannya, beberapa tempat umum seperti bar atau restauran selalu memiliki perangkat musik yang prinsipnya seperti mainan Ding Dong, orang memasukkan koin dan bisa memilih lagu apa yang akan diputar. Sebab pada jaman itu pesawat telepon masih barang mewah, tak semua orang dapat menelepon ke stasiun radio untuk me-request lagu favorit mereka. Jadi, jukebox adalah sebuah media musik yang dapat dinikmati sebagai fasilitas umum dengan tarif terjangkau. Dan, Eddie Peregrina adalah salah satu penyanyi dengan lagu-lagu paling laris di jukebox. Begitu ceritanya.

Ketika lagu itu mengiang di radio, aku seperti dikirim ke masa lalu, ke masa di mana aku belum lahir. Aku seperti sedang berada di adegan film musikal era 70’an. Aku di sebuah bar yang bercat warna-warni norak dan agak pudar. Para lelaki berambut klimis dan berkumis rapi, celana mereka cutbray, kemeja mereka ketat dan kancing tak sepenuhnya terkait demi memamerkan bulu dada. Mereka tak berdansa hip hop. Tapi mereka disco, break dance, lekuk tubuh mereka yang gempal seperti larva kumbang kelapa yang menggeliat-geliat. Hiiyyyy….

Kulihat Leah memakai kaos you can see, celana jins ketat dan cutbray. Rambutnya jadi keriting setengah leher, dan sekitar kelopak matanya memakai make up kebiruan. Alih-alih terlihat cantik, malah seperti orang babak belur. Dia telah menjelma makhluk jadul. Dia mamaksaku untuk ikut berdansa dengannya. Tapi aku menolak. Ogah gue!

Aku pilih menghampiri Misha yang tampil lebih sederhana, berkaos merah jambu dirangkap blazer putih berlengan lebar dengan motif bola-bola. Bandonya biru pastel. Dia juga menjadi makhluk jadul, tapi sedikit lebih menarik. Sayangnya, saat aku mau mengajak Misha berdansa ternyata sudah ada pria lain yang menduluiku. Pria itu adalah sosok bahula berambut kribo, penuh bulu dada, dan wajahnya mirip Amos. Sialnya, Misha mau dengan cowok itu!

Aku frustasi. Keluar dari bar itu. Minum bir sepanjang jalan pulang. Mabuk! Sempoyongan mengacungkan botol bir yang modelnya sama dengan botol kecap. Atau jangan-jangan yang kuminum memang kecap?

Eh, buset! Kenapa imajinasiku bisa sejauh itu? Oh, sepertinya aku tidak berimajinasi. Aku sedang bermimpi. Mimpi singkat di tengah sebuah lagu. Saat lagu selesai, mimpiku buyar.

Rupanya itu menjadi lagu penutup…

“Demikianlah para pendengar yang budiman, lagu penutup untuk perjumpaan kita di acara Malam Kenangan,” begitu terngiang suara penyiar itu menutup acaranya. Suaranya terdengar ngebas, tua, dan lawas. “Namun jika Anda belum tertidur, masih ada satu acara lagi dari kami untuk menemani malam Anda dengan tembang-tembang yang lebih baru. Saya Boman Baskara, undur diri. Selamat malam….”

Entah stasiun radio mana itu. Suaranya beberapa kali dihiasi decit-decit mendengung, khas gelombang AM. Hmmm, pesawat radionya saja sudah jadul, channel-nya gelombang AM pula! Benar-benar nuansa lawas. Tapi jalur itu masih saja eksis. Di Medan juga masih ada beberapa stasiun radio yang melakukan siaran di gelombang AM, sekitar tiga atau empat stasiun. Di Solo, apa saja radio AM yang masih tersisa? Radio ABC? RRI? Apa lagi?

Tapi penyiar tadi terbukti menepati janjinya untuk menyajikan lagu-lagu yang lebih baru. Tidak lagi tembang lama. Meski suaranya tetap saja terdengar lawas, bahkan mistis….

“Aku tersesat menuju hatimu. Beri aku jalan yang indah…. Ijinkanku, lepas penatku. Tuk sejenak lelap di bahumu….

Dapatkah selamanya kita bersama, menyatukan perasaan kau dan aku? Semoga cinta kita kekal abadi, sesampainya akhir nanti. Selamanya….

Tentang cinta, yang datang perlahan. Membuatku takut kehilangan. Kutitipkan cahaya terang, tak padam didera goda dan masa….” –dengarkan musiknya–

Itu lagu yang cukup baru. Lagu kalem dengan lirik kelam. Aku penyuka folk dan indie-pop, tapi nggak anti-mainstream. Kuakui, ‘Tentang Rasa’ itu lagu mainstream yang bagus. Nggak sok heroik, nggak sok memotivasi, nggak sok bijak, nggak sok cerdas, jadinya malah nggak kacangan. Kata-kata sok puitis seperti ‘bintang di surga’, ‘dunia tak bermentari’, ‘cintai apa adanya’; meminta angin untuk menyampaikan salam; menunjuk benda langit untuk jadi saksi; itu sudah basi, guys… sudah jadi modus umum dalam lirik lagu. ‘Aku tersesat menuju hatimu’, itu baru cool…! Dan pada lirik ‘kutitipkan cahaya terang’, itu sakiiiiiittt banget kalau dirasa. Buat gue, sih….

“Dapatkah selamanya kita bersama, menyatukan perasaan kau dan aku?”

Lirik itu sudah terjawab untukku. Jawabnya: tidak. Yahhh, akhirnya harus kutitipkan cahaya terang itu kepada Misha, harapan agar dia bahagia dengan pilihannya. Jika dia bahagia, kuanggap aku juga akan bahagia.

Itu saja.

Penghayatan yang lebay, mungkin. Hoahhmmm…. Hari yang melelahkan hati. Malam yang tak berhasil mengobatinya. Tapi aku tetap akan menyeberang. Apapun yang akan kutemui. Takdir yang harus terjadi, terjadilah!

Saat aku membuka mata, waktu sudah berganti hari baru dan menjadi pagi yang sibuk. Hari di mana sebuah tugas keluarga telah menungguku. Aku tak terlalu repot mengemasi bawaanku, karena sejak kemarin sudah menyicil persiapan. Aku tinggal memastikan nggak ada yang kelupaan, dan menambahi beberapa yang kurang saja. Satu ransel sudah cukup bagiku. Tapi ransel yang lumayan besar dan berat.

Mama dan Mbok Marni memasak Oseng Telur Puyuh untuk sarapan. Malah Mbok Marni sempat-sempatnya membelikan Bakpia Pathok.

“Buat camilan di jalan, Mas Denis.”

“Wah, makasih ya, Mbok. Nanti dari Bali gantian aku bawain oleh-oleh,” cetusku ringan. “Mau dibawain apa? Brem Bali?”

“Jangan yang itu, tho, Mas. Yang cocok buat orang tua saja,” Mbok Marni menawar sungkan-sungkan.

“Ya udah, aku bawain Kopi Bali, ya?”

“Yang penting tidak merepotkan Mas Denis saja. Titip salam buat Mas Dimas nggih, Mas… semoga cepat pulang.”

“Doain aja semuanya lancar,” balasku sambil menumpuk piring bekas sarapan di wastafel. Aku masih sempat membantu menyuci beberapa perkakas sisa sarapan.

Waktu dari aku bangun tidur hingga berangkat ke stasiun terasa sangat singkat. Biarpun aku pasti akan pulang kemari lagi, tetap ada rasa berat hati meninggalkan rumah. Papa dan Mama mengantarku ke stasiun dengan mobil. Dari dalam mobil aku mengamati wajah kota Solo yang sebentar lagi akan kutinggalkan. Kali ini barulah terasa sudah lama aku tak menyaksikan yang seperti ini, yaitu suasana pagi kotaku. Biasanya aku menyaksikannya bersama Dimas saat berboncengan berangkat ke sekolah. Sekarang akulah yang melihat anak-anak berseragam sekolah itu berangkat ke sekolah mereka. Aku jadi kangen lagi dengan seragam SMA-ku. Itulah, ada hal-hal yang tak perlu kita ulang dalam hidup, it’s fine. Yang menyedihkan adalah ketika kita menjumpai hal-hal yang ingin kita ulang tetapi kita tidak bisa.

Tiba di Stasiun Jebres, masih pukul setengah delapan pagi. Aku turun dari mobil. Begitu juga Papa dan Mama. Mereka menemaniku, mengamatiku antre di loket. Aku memesan tiga tiket: untukku, Fandy dan Erik. Nanti mereka berdua tinggal mengganti uangku, per tiket tiga puluh lima ribu rupiah. Aku meninggalkan loket lima menit kemudian, Papa mengajak minum kopi di kafetaria.

“Papa nggak telat ke kantor nanti?” tanyaku.

“Masih ada waktu, bisa santai dulu,” sahut Papa tenang.

“Nunggu keretanya masih agak lama, lho,” aku mengingatkan.

“Habis ini rumah bakal tambah sepi. Masa kamu tega ngelarang Papa sama Mama nemenin sebentar di sini?” sahut Mama dengan mimik murung.

“Siapa yang ngelarang? Cuma mengingatkan,” balasku santai.

Obrolan kami lebih banyak berisi wanti-wanti dari Mama, sedikit nasihat dari Papa. Mungkin sebenarnya bukan karena mereka menganggap aku kurang bisa jaga diri, tapi lebih pada ingin menunjukkan betapa mereka sebentar lagi akan kehilangan aku. Kehilangan orang yang mereka sayangi untuk sekali lagi, meski tidak lama. Aku mengerti perasaan mereka. Aku pasti kembali, kuusahakan sebisa mungkin membawa Dimas serta. Itu janjiku.

Kopi baru terminum separuh ketika kulihat Ben nongol di ruang tunggu. Aku melihatnya, tapi dia belum melihatku.

“Aku ke sana dulu,” pamitku, sambil menunjuk sobatku yang baru saja muncul itu.

“Ajak saja sekalian dia ngopi di sini,” tawar Papa.

“Dia juga mau ikut?” tanya Mama.

“Nggak, Ma. Cuma pingin ngantar aja di stasiun. Kalau kuajak ke sini dia pasti sungkan. Biar kutemui dulu.” Kutinggalkan Papa dan Mama di kafetaria, mereka bisa menyusul ke peron kalau sudah selesai ngopi.

Ben melihatku saat aku sedang berjalan ke arahnya. Dia melambaikan tangan.

“Repot-repot amat ikut ke sini segala?” sapaku sambil duduk di sebelah Ben.

“Solidaritas, Bro!” seloroh Ben. “Gimana hasil nembak Misha kemarin?”

Baru saja duduk nyaman di sebelahnya, aku langsung nggak mood dilontari pertanyaan itu. Terus terang, kali ini aku akan lebih senang membicarakan Dimas daripada Misha. Jangan-jangan Ben kemari sebenarnya bukan atas niat ingin mengantarku, tapi karena ingin ngerumpi soal Misha!

Huh, telanjur ditanyai, berkelit pun nggak ada gunanya.

“Kamu bilang Misha lebih memahamiku,” gumamku membuka cerita. “Aku nggak bisa mengatakan yang kamu bilang itu salah. Masalahnya adalah: akulah yang tak memahami perasaannya. Dia sudah jatuh hati ke cowok lain. Selesai!”

Ben ternganga. “Kamu bercanda, kan?”

“Inginnya aku bercanda. Sialnya itu beneran.”

“Hei… kok, bisa gitu?”

Kok bisa gitu? Kenapa sekarang pertanyaanmu jadi konyol gitu? Kemarin aja kamu bisa nasihati aku yang bagus-bagus?” tukasku kesal. “Apapun bisa terjadi dalam dua tahun, Ben… termasuk perasaan. Aku juga baru tahu kemarin, ternyata Misha sudah menemukan cowok lain yang lebih dia harapkan. Itu intinya. Sudah, sampai situ saja. Aku nggak mau mengungkitnya lagi.”

Aku juga tak tertarik mengamati raut muka Ben saat mendengar ceritaku. Pasti rautnya aneh! Syukurlah dia juga tak berkomentar. Aku tak butuh diledek ataupun diberi simpati.

“Tapi aku tetap berterima-kasih padamu, Ben. Karena cuma kamu yang benar-benar bisa memberiku motivasi untuk berani menyatakan perasaanku ke Misha. Saat aku mengatakannya, aku tahu bahwa kemungkinan yang bisa terjadi cuma ada dua: diterima atau ditolak. Ditolak itu sakit, tapi tetap terasa lebih baik daripada mengambang. Ibarat kotoran, hatiku tidak lagi kotoran yang mengambang di selokan yang tersumbat. Hatiku sekarang adalah kotoran yang hanyut bersama aliran sungai, sungai yang besar dan tenang, mengalir melewati pemandangan yang indah….”

Ben mendengus mendengar celotehku. Komentarnya, “Tetap saja kamu adalah kotoran. ‘Emas gadungan’.”

“Tapi siapa tahu, di sungai itu aku akan dimakan oleh ikan mas yang cantik,” celetukku.

“Atau buaya betina.”

“Atau tak dimakan siapa-siapa sampai aku tiba di muara. Laut yang biru….”

Hmmm. Aku ikut berduka-cita. Menyedihkan banget nasibmu. Mungkin Misha memang bukan buat kamu. Kamu juga bukan buat Misha,” timpal Ben sambil menepuk-nepuk pundakku. “Dan entah ini cuma perasaanku sendiri atau bukan, aku merasa tiba-tiba kamu jadi puitis gitu.”

“Efek patah hati,” celetukku tanpa memikirkan ucapanku.

Ben tertawa menanggapiku. “Tapi kamu nggak cocok jadi cowok puitis. Lagian, kamu bakal seperjalanan sama Fandy. Kalau jadi puitis gitu, Fandy bisa gantian naksir sama kamu. Perjalanan kalian pasti jadi berantakan! Hahaha….”

“Itu nggak akan terjadi. Dalam hal perasaan, Fandy itu cowok setia seperti aku.”

Ben cekikikan sambil berceletuk. “Tahu amat kamu perasaan Fandy? Adik ipar yang baik. Semoga benar akan ada ‘ikan mas cantik’ yang tertarik sama kamu.”

“Amin,” sahutku, sambil menengok jam tangan. “Dua puluh menit lagi kereta datang. Tapi Fandy belum kelihatan batang hidungnya. Erik juga. Mereka jadi ikut nggak, nih?” Aku mulai gelisah menunggu mereka berdua.

“Erik juga ikut?” Ben tampak terkejut.

“Ya. Sudah sepakat berkumpul di sini.”

“Demi apa dia ikut?”

“Dia mau backpacking. Setelah tiba di sana dia akan memisah. Tapi dia bilang siap bantu kalau aku ada kesulitan. Dia punya banyak teman di sana.”

Baru diomongin, kulihat Erik nongol berjalan ke arah kami. Dia menyandang ransel dan menenteng gitar berukuran agak kecil. Tapi yang mengejutkan, Misha juga mengikuti di sampingnya!

“Wow! Here she comes…!” seloroh Ben sambil menepuk-nepuk pundakku, disertai derai tawa yang terdengar mengolokku.

Damn…!” umpatku tertahan.

“Hai!” Erik menyapa. Kami saling berjabat tangan. Termasuk aku dengan Misha.

“Kok, nggak sama Amos?” itu sapa yang terlontar dariku ke Misha.

Misha cuma tersenyum masam. Lurus memandangiku dengan tatapan yang membuatku merasa bersalah atas kalimat sapaanku tadi.

Sorry,” ucapku kaku. “Semalam nggak ada masalah, kan?”

Lalu aku menyadari lagi bahwa pertanyaanku itu juga salah. Aku benar-benar dibikin serba salah.

Misha tertawa tipis, seperti menganggapku konyol. “Hari ini kamu akan pergi jauh, untuk tujuan yang belum tentu akan dilakukan oleh orang lain. Kamu nggak perlu sibuk begitu menanyaiku. Hari ini punya kamu, Den. Aku juga boleh dukung kamu, kan?”

“Oke, makasih, Mis,” aku mengangguk lesu. Tertawa kecut. Merasa cukup tertampar. Dan percakapan canggung ini terjadi di tengah kehadiran teman-temanku yang lain, membuatku kehilangan muka. Tak pernah kukira antara aku dan Misha akhirnya jadi seperti ini, serba tak enak.

Kami berempat duduk satu deret. Aku dan Misha tak saling bicara. Sedangkan Ben berbasa-basi dengan Erik. Lalu Ben meminjam gitar kecil milik Erik, dan mulai memetik-metik. Petikan dawai itu terdengar enak di telinga, tapi tidak di hati. Karena serasa hatiku jadi sedih saat mendengarnya….

“Waiting at he station…” Ben menyanyi kecil, “Tears filling up my eyes. Sometimes the pain you hide, burns like a fire inside. Look out my window, sometimes it’s hard to see the things you want in life, come and go so easily…. She took the last train, out of my heart. She took the last train, and now I think I’ll make a brand new start. She took the last train, out of my heart.” –dengarkan musiknya–

Lalu tiba-tiba Ben tertawa sendiri. Aku tahu, dia sedang mengolokku dengan lagu itu. Dia pikir aku nggak paham Bahasa Inggris? Aku nggak tahu lagu apa itu, tapi aku bisa mendengar dengan baik dan aku tahu lagu itu tentang apa. Kampret lu, Ben!

Tapi aku segera sadar bahwa aku sudah tersita oleh kecanggunganku sendiri. Aku ingat sedang apa aku di sini, dan apa yang seharusnya kulakukan. Aku tak hanya sedang menunggu kereta, aku juga sedang menunggu Fandy!

“Fandy masih belum datang juga?” gumulku mulai gusar. “Jangan-jangan dia dapat masalah dengan om-nya?”

Aku mengeluarkan HP, hendak menghubungi nomor Fandy. Tapi sebelum aku menekan nomor, rupanya dia sudah menampakkan batang hidungnya. Dia tampak tergesa-gesa menuju ke arah kami. Aku lega. Tapi… ada yang aneh dengan penampilannya. Dia cuma memakai celana pendek dan kaos oblong. Beneran dia mau ikut ke Bali?

“Kamu nggak bawa apa-apa, Fan?” sambutku heran.

“Ranselku dibawa temanku. Sebentar lagi dia pasti datang,” jelas Fandy agak terengah-engah.

“Kok, yang bawa temanmu?” Ben ikut menanyai.

Fandy mengatur napas sebentar. Baru kemudian bercerita. “Kemarin kusuruh temanku pura-pura datang ke kos, pura-pura ngajak hiking. Begitu skenarionya. Dia bawa ransel besar, isinya koran. Sampai di kosku koran-koran dikeluarkan, terus… ranselku dimasukkan ke ranselnya. Aku pura-pura nggak bisa ikut, aku suruh dia pulang. Tapi dia sudah tahu pagi ini dia harus mengantar ranselku kemari.”

“Om-mu nggak curiga?”

Fandy menggeleng dengan yakin. “Itulah kenapa aku cuma pakai baju begini. Aku pamit ke warung.”

Aku bertepuk tangan. “Sandiwara yang hebat!”

“Tapi kenapa harus pakai sandiwara begitu?” Misha menimbrung.

“Karena om-nya seorang ‘monster’!” sahutku cuek. “Terus, mana temanmu? Dia bisa dipercaya nggak? Sebentar lagi kereta datang!”

“Dia pasti datang!” tandas Fandy.

Tak ada semenit kemudian, Fandy menunjuk temannya yang sudah datang. Eng, ing, eenggg….! Aku cukup kaget melihatnya. Seorang cowok sepantaran, sedikit mirip Dimas (atau aku) tapi… kelihatan sedikit lebih bandel.

“Oh, dia, tho…” gumamku.

“Hei, hei… aku pernah lihat anak itu di festival beberapa waktu lalu. Dia main biola keren sekali,” bisik Ben padaku. “Jadi dia teman Fandy?”

“Dimas kenal dia,” jawabku. “Fandy kenal karena Dimas kenal.”

“Berarti kamu juga kenal?”

“Sedikit.”

Anak itu tak terlalu mempedulikan kami. Dia langsung menyerahkan ransel besar itu ke Fandy. “Misi selesai,” ucap anak itu singkat.

Thank you, Rick!” balas Fandy sambil meletakkan ranselnya di punggung. Mereka berdua berjabat tangan.

“Gimana kabarmu, Rick?” sapaku ke anak itu.

Ricky, anak itu, cuma tersenyum diplomatis. “Kayaknya lebih baik dari Dimas,” ucapnya terdengar bercanda. “Terakhir aku ketemu, dia kelihatan stres.”

“Dan orang stres sulit diharapkan pulang sendiri. Harus dijemput,” ungkapku, setengah mengeluh.

“Semoga ketemu, dan cepat pulang,” timpalnya datar.

Dari kejauhan, suara kereta sudah terdengar. Semakin mendekat. Kulihat Papa dan Mama meninggalkan kafetaria, menghampiri kami. Teman-temanku saling menjabat tangan Papa dan Mama, disertai sapa ramah-tamah. Tapi sebuah adegan tak terduga membuatku tiba-tiba terharu….

Saat Fandy akan menjabat tangan Mama, Mama malah merengkuh pundaknya. Memeluknya…

“Maafkan, Tante, ya…” kudengar bisik pelan Mama ke Fandy. Hanya itu. Kalimat pendek yang menjelaskan banyak makna tak tergambarkan.

Andai ini tak di tempat umum, andai tak ada teman-teman di sini, aku yakin Fandy tak akan bisa menahan air matanya. Bahkan mungkin Ben sekalipun juga akan menangis melihatnya. Aku nggak akan menangis. Tapi aku kehabisan kata-kata.

“Terima kasih sudah mau ikut mencari Dimas,” Papa ikut berucap pada Fandy. “Kalau di sana ada kesulitan, telepon saja. Biarpun tak bisa bersama kalian, Om akan tetap bantu.”

Fandy mengangguk. Dia kesulitan berkata-kata. “Maaf, Om, Tante… kalau selama ini saya sudah membuat masalah…”

“Semua orang bikin masalah,” timpal Papa. “Tak semua bisa dan mau menyelesaikannya. Tapi kita sedang menyelesaikannya.”

Adegan mengharukan memang bisa terjadi di mana saja. Dapat terselip di tengah keramaian, tersiram bunyi peluit kereta tetapi tidak hanyut… bertahan sejenak di antara derap kaki yang sudah saling berebut menuju gerbong kereta. Kereta Sri Tanjung hanya akan menunggu lima menit, kemudian melaju lagi.

“Pa, Ma, aku pamit,” ucapku, menjabat tangan Papa dan Mama.

“Hati-hati,” pesan Mama dengan mata mulai basah.

Erik dan Fandy juga berpamitan. Tak hanya ke Papa dan Mama, kami juga berpamitan ke Ben, Misha, dan Ricky, semua yang sudah mengantar dan membantu keberangkatan kami.

“Semoga berhasil,” kata Misha padaku. Sorot matanya seperti ingin mengatakan lebih dari itu, tapi dia tak bisa. Aku tak memaksa.

Thanks,” ucapku simpul.

Suasana damai di ambang perpisahan ini membuat kaki terasa berat untuk melangkah. Tapi jika aku menunda, maka aku bukan hanya plin-plan… tapi juga cengeng. Kami harus berangkat! Kami bertiga menuju ke kereta diiring oleh Papa dan Mama, juga Misha, Ben, dan Ricky. Erik dan Fandy naik lebih dulu. Saat aku baru akan menaikkan kaki ke bibir gerbong, suara lantang memanggilku…

“Denis…! Tunggu!”

Aku menoleh, kami semua menoleh. Jika aku punya penyakit jantung, mungkin aku sudah pingsan saat melihat siapa yang memanggilku. Leah datang tergopoh-gopoh menyusulku. Damn…!

Aku urung naik ke gerbong. “Kamu ngapain di sini?” hardikku.

“Aku ingin ikut kau! Kau mau ke Bali, kan?” seru Leah dengan nada memaksa. “Lihat, aku sudah siap!” Dia memamerkan ransel di punggungnya.

Aku bingung, panik. Sempat melempar pandang ke Mama, meminta ‘pertanggungjawaban’. Sebab Leah tahu rencana ke Bali ini karena cerita Mama.

“Om, Tante, aku ikut Denis tak apa-apa, ya?” Leah dengan percaya diri minta ijin ke Papa dan Mama.

“Nak, perjalanan mereka ini jauh, kalau persiapanmu mendadak begini nanti kamu sendiri yang repot di jalan?” sergah Mama keberatan. Sikap yang ‘bertanggung-jawab’.

“Tante, aku tak akan bikin repot, bekal semua aku sudah siap. Uang aku juga cukup,” Leah ngotot.

“Tapi mereka ke sana bukan mau senang-senang, ada urusan penting di sana! Tolong, dong, jangan nekat begini?” tegas Mama.

“Lho, kemarin Tante bilang Denis mau jemput kakaknya? Kakaknya sedang tamasya atau apa gitu, kan?”

Mama bungkam. Siapa sangka, cerita bohong yang bertujuan baik akhirnya menjadi bumerang? Kebingungan membuat semua seperti tersita akalnya. Bingung menghadapi Leah yang ngeyel dan tak terduga itu. Di sini memang cuma aku yang benar-benar kenal Leah. Dan drama ini sudah mulai memancing perhatian orang-orang di stasiun, memalukan! Aku harus mengatasinya!

“Hei!” aku menepuk Leah. “Kalau mau ikut harus punya tiket. Sudah beli belum?”

Leah terperangah. Girang campur kebingungan.

“Nah, berarti aku boleh ikut, kan? Kau pegang dulu ini, aku beli dulu tiketnya!” Leah buru-buru menyorongkan sebuah bungkusan plastik padaku. “Itu aku belikan buat kau, buat makan nanti di jalan!” serunya sambil berlari penuh semangat ke loket.

“Denis, masa kamu mau ajak dia? Dia anak perempuan, kalau nanti ada apa-apa gimana? Kita juga nggak tahu dia sudah pamit ke orang tuanya atau belum?” sergah Papa keberatan.

“Tenang, Pa. Percaya saja padaku,” tegasku mantap. Menatap sekali lagi Papa-Mama, dan teman-temanku. “Aku pamit, ya….”

Aku naik ke gerbong.

“Den, kayaknya ide buruk kalau kamu nekat ngajak dia,” Ben juga memprotesku.

Di muka pintu gerbong aku berdiri lesu. “Ben, kamu juga percaya saja,” tandasku.

“Siapa cewek itu?” Fandy yang sudah lebih dulu naik di gerbong juga melontariku dengan pertanyaan.

“Bukan urusanmu. Bawa ini, kamu cari duduk saja dulu. Nanti aku nyusul!” suruhku sambil menyodorkan bungkusan yang tadi dibawakan Leah.

Fandy masuk ke kabin penumpang, aku masih berdiri di muka pintu gerbong. Aku harus terus memantau situasi, mengamati Leah yang sibuk di loket. Aku mulai waswas akan pertaruhanku….

Kereta, cepatlah berangkat, cepatlah berangkat! Tinggalkan saja cewek nekat itu…!

Ayolah!

Ayoooo…!

“SIAL…!” umpatku meninju dinding gerbong, karena pertaruhan yang satu ini telah gagal. Kereta belum juga bergerak sedangkan Leah keburu selesai membeli tiket, dengan gesit mendaratkan kakinya ke gerbong kereta!

Dia kini berdiri tepat berhadapan denganku, di muka pintu. Dia nyengir amat lebar memamerkan deretan giginya (yang kuakui bagus). “Akhirnya, aku ikut kau!” selorohnya penuh kemenangan.

Kereta barulah bergerak. Merangkak selambat ulat!

“Tak sia-sia aku jauh-jauh dari Medan, bisa ketemu kau dan ikut jalan-jalan ke Bali. Selama kita pacaran, jarang sekali kita tamasya berdua. Aku senang sekali hari ini! Ayolah, Den, kenapa kau diam saja?”

Selagi Leah masih mengoceh sendiri, kutengok Papa dan Mama yang masih berdiri di trotoar stasiun. Raut wajah mereka masih penuh protes. Tampak cemas akan rencanaku yang secara spontan mengijinkan Leah ikut.

Tidak, siapa bilang aku mengijinkannya?

Hup! Dengan sigap aku melompat, turun dari kereta yang sedang merangkak.

“Denis, kenapa turun kau?” teriak Leah yang kutinggalkan di gerbong.

“Aku nggak jadi pergi. Kau pergi saja sendiri!” seruku dengan nada kesal. Aku melangkah tenang menuju lagi ke Papa-Mama dan teman-temanku yang masih di tempatnya. Tak kupedulikan kereta yang terus bergerak dengan percepatannya yang lambat.

Tak hanya Leah yang kaget, Papa-Mama dan teman-temanku juga tampak kaget.

“Denis, kenapa turun lagi? Itu keretanya sudah berangkat!” Papa menyongsongku dengan bingung.

“Kenapa, Bro?” Ben juga sama bingungnya.

“Dia siapa, sih, Den?” Misha satu-satunya yang memiliki pertanyaan berbeda. Dan dari mimik serta nadanya, terlihat dan terdengar sangat-sangat ingin tahu.

Karenanya, cuma pertanyaan Misha-lah yang ingin kujawab. “Dia mantanku. Namanya Leah, dari Medan,” cetusku lugas.

Misha tersentak, matanya terbelak lebar.

Sedangkan Ricky cuma menggumam, “Wow.”

Entah kenapa aku malah ingin tertawa. “Sorry, Mis, aku nggak pernah cerita ke kamu,” ucapku ke Misha. Aku juga menyesal tak sempat menjelaskan lebih jauh lagi, karena aku sedang berkejaran dengan waktu.

“Denis, jahat kali kau biarkan aku pergi sendirian? Tak bisa aku pergi kalau kau tak jadi pergi!” Leah bersungut-sungut menyusulku. Nah, dia pun ikut turun, kan?

Hei, strategi adalah sebuah kalkulasi, guys!

Aku menatap Leah singkat, “Siapa bilang aku nggak jadi pergi?” Lalu secepat kilat kukerahkan tenagaku untuk berbalik lagi, melesat mengejar kereta yang telah meninggalkan stasiun. Kereta sudah semakin cepat, tapi dalam kalkulasiku aku masih mampu berlari lebih kencang untuk menangkap ekor gerbong itu!

“Sekarang aku beneran pamiiiiiiit…!” seruku sambil berlari sekencang mungkin.

“Denissss! Kau bohong lagi…! Kau jahaaaat…!” suara Leah berseru-seru berang, mengejar di belakangku.

Tapi dia tak mungkin lebih cepat dariku. Dia tak mungkin lebih cepat dari laju kereta. Dan, hupla…! Aku berhasil meraih pegangan di ekor gerbong dan melompat ke atas. Aku sudah berada di kereta lagi!

“Whoaaaa…! Goodluck, Broooo…!” di sana Ben melambai ikut kegirangan.

Byeeeee…!” aku melambai di ekor kereta dengan senyum penuh kemenangan ke semuanya: Papa-Mama, Ben, Misha, Ricky… juga kepada Leah yang terjongkok menangis karena tak bisa mengejarku. Kulihat teman-temanku menenangkannya, menjaganya agar tak nekat mengejarku karena sudah pasti akan sia-sia. Kali ini kereta tak mungkin terkejar.

Hmmhhh…. Dan mereka terlihat semakin jauh.

Sorry, Leah…” ucapku lirih. Sorry, aku harus membuatmu belajar mengalah. Rasanya memang menyakitkan dan sedih. Tapi tidak ‘menyedihkan’, kok. Belajarlah….

Sekarang aku sudah berada di misi utamaku.

Papa, Mama, teman-teman… doakan kami. Selamat tinggal.

Langkahku sedikit gontai menyusuri kabin penumpang. Kucari di mana Fandy dan Erik duduk. Kutemukan mereka duduk berhadapan. Fandy menjaga satu ruang kosong di sebelahnya untuk tempat dudukku. Kutaruh renselku di bagasi. Lalu duduk lesu di sebelah Fandy.

“Jadi, siapa tadi?” Fandy kembali melontarkan pertanyaannya.

“Dia masa lalu yang tak perlu dibahas di perjalanan ini.”

Fandy dan Erik tertawa masam mendengar jawabku.

“Sama seperti kalian!” tukasku ke mereka. “Fan, antara Erik dan Dimas juga masa lalu yang nggak perlu dibahas. Jadi kalau kalian masih bertengkar soal itu, kutendang kalian. Di perjalanan ini kalian harus akur.”

“Kayaknya malah kamu yang sedang mengungkit-ungkit,” Fandy menggerutu.

“Apa isi bungkusan itu?” tanyaku sambil merebut bungkusan di tangan Fandy.

Apa yang dibawakan Leah untukku? Cupcake lagi?

Aku termangu saat bungkusan itu kubuka. Ini bukan cupcake…

“Wow, serabi!” seru Erik.

Aku masih termangu sambil mengamati satu-satu kue serabi di dalam bungkusan. Kue-kue itu digulung dengan kertas berlogo produsen, dan bertuliskan jenis rasa masing-masing. Serabi rasa durian, pandan, cokelat, dan…

“Aku baru tahu ada serabi rasa apel…” gumamku, mengamati sepotong serabi yang kupegang. Aku memakannya. Hmmm, sepertinya serabi rasa apel bukan ide yang bagus. Rasanya aneh.

“Kamu ninggalin orangnya, tapi memakan oleh-olehnya?” celetuk Erik.

Aku tersenyum menerawang.

“Siapapun yang kenal aku dengan baik, seharusnya tahu,” ucapku sambil mengunyah. “Di tanganku, ‘jahat’ dan ‘sayang’ bisa ditunjukkan secara bersamaan. That’s me.

Fandy tersenyum. “Twisting!”

“Apakah itu juga kamu lakukan terhadap Misha?” sahut Erik.

Kubaca senyum Erik yang terlihat agak mencibir. Sepertinya dia sudah mendengarkan cerita dari Misha. Soal drama patah hati kemarin sore.

Kujawab, “Misha juga masa lalu. Kita nggak akan membicarakan dia.”

Dan,

Siapapun yang kenal aku dengan baik pasti juga tahu. Bahwa kata ‘ya’ dan ‘tidak’ adalah dua sisi dari koin yang kupegang. Kulontarkan koin itu, kutangkap dan kutangkup dengan telapak tangan. Aku bisa katakan ‘ya’ ataupun ‘tidak’. Tapi sisi yang muncul di koin itu tak akan kuperlihatkan.

Apakah aku sudah tidak patah hati?

Apakah tak ada beban di punggungku?

Apakah aku mencari Dimas dengan hati yang ringan?

Cemburukah aku pada keberuntungan Dimas, saat kulihat Fandy mendapatkan pelukan dari Mama?

Jika kalian kenal aku dengan baik, kalian tak perlu bertanya.

Hmhhhh….

Benarkah akhir-akhir ini aku jadi puitis?

 
 
 
😳
 
 
 

bersambung…

 
 

 

81 responses to “Karung 10

  1. noelapple

    8 Maret 2014 at 10:06

    Selamat membaca….🙂

     
    • Azura Francois Yong

      8 Maret 2014 at 23:35

      makasih, mas.
      jadi kangen ricky, nih. kapan HBR-nya dilanjut?

       
      • noelapple

        9 Maret 2014 at 00:01

        nunggu tahun kabisat.

         
      • Azura Francois Yong

        13 Maret 2014 at 16:04

        ok, berarti tahun 2016… masih 2 tahun lagi.

         
  2. hayabusa ryu

    8 Maret 2014 at 11:53

    denis galaaaaauuuuu…. puk puk denis…. tp special d sini karena ada ricky…. nunggu dengan sabar kelanjutan dr Apple universe ini.

     
  3. blackshappire

    8 Maret 2014 at 13:15

    bang Noel aku suka part ini,
    bener bener tak terduga, kupikir leah akan beneran ikut lo.
    jadi berpikir gimana perasaan denis ya saat itu, udah cintanya ditolak eh orang dari masa lalu tiba tiba nongol lagi
    gak bisa ngomong apa2 lagi lah selain terima kasih krn sudah membuat cerita yg membuat emosi naik turun🙂

     
  4. sep kwong (@SepKwong)

    8 Maret 2014 at 15:27

    seru abizz
    makin rumit aja ya memahaminya
    sangat emosional sekali

     
  5. L

    8 Maret 2014 at 16:40

    Cross over 0.0

     
  6. Farren

    8 Maret 2014 at 19:17

    Fiuhhh.. untung leah ga jadi ikut…

     
  7. Oong IKu YO Onky

    8 Maret 2014 at 19:46

    hahahahahahahaha tadi sempet lupa jawabannya apa -_- soalnya fotonya diapus :3
    tapi gpp lah masalah terpecahkan :p

    Kak :3 Ricky yg dimaksud ini ricky yg di HBR ? :3

    keren nih galaunya dapet, sedihnya dapet, maknyes waktu fandy dipeluk mamanya dimas :3, ketawa juga pas denis ber imajinasi :3

    kata” favorit ku di part ini : (yang menyedihkan adalah ketika kita menjumpai hal-hal yang ingin kita ulang tetapi kita tidak bisa.)

    untuk keseluruhan aku suka part ini >_< makasih😀

     
    • noelapple

      8 Maret 2014 at 23:21

      bukan, itu Ricky tetangga gue.

       
      • Oong IKu YO Onky

        9 Maret 2014 at 00:36

        wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

        lanjutkan kerjamu nak :3

        etto HBR gak berlanjut kak ?

         
  8. autoredoks

    8 Maret 2014 at 21:55

    walaupun denis puitis tp beda sama puitisnya dimas..

     
    • noelapple

      8 Maret 2014 at 23:25

      Wah, masih ngikutin juga kamu rupanya?🙂 Nah, beda puitisnya gimana tuh?

       
      • autoredoks

        9 Maret 2014 at 08:29

        masih dong mas.. walopin baru dari kantong 7..
        bedanya dimas suka berfilosofi kalo denis puitisnya ada lucunya dikit..

         
      • noelapple

        9 Maret 2014 at 08:38

        Bedanya Denis dengan Dimas, Denis selalu menyembunyikan perasaan haru sedangkan Dimas sulit bisa menahan haru. Jadi di saat mendadak puitis sekalipun, Denis tetap harus tampil cablak, cuek, seenak gue, kalau perlu cenderung narsis. Sedangkan Dimas cenderung sok bijak tapi cengeng.

         
  9. Erik

    8 Maret 2014 at 22:43

    Entah knpa jdi kasian sma leah -_- di part ini bng noel jahat😀

     
    • eko

      10 Maret 2014 at 20:58

      leah mengharukan..

       
  10. Gabriel

    9 Maret 2014 at 01:03

    Ini yang ditunggu, comeback elemen musik di CRA. Selalu dengan lagu-lagu yang tidak terprediksi, namun dengan suasana (dan lirik) yang seolah memang diciptakan khusus untuk alur ceritanya. Agak senyum2 geli waktu baca dream sequence nuansa 70an-nya, ini yang membuat karakter Denis menarik, kemampuannya untuk berimajinasi secara ‘selengean’, bahkan di tengah2 kegalauannya.

    Semakin mendekati cerita soal perjalanan menemukan Dimas, semakin penasaran. Ketika pada akhirnya nanti ketemu, cerita dari sudut pandang mana yang akan dipakai. Sudut pandang Denis yang adalah angin segar dan menjadi eksplorasi utama sejak awal CRA 3, atau sudut pandang Dimas yang berpotensi kaya dalam menceritakan segudang-gudang pengalaman dan pemikiran selama ke-tidak-muncul-annya sejauh ini? Atau keduanya secara bergantian yang notabene akan membuat CRA 3 menjadi jauh lebih menarik dibanding CRA sebelumnya karena multi-dimensi? Although absolutely can’t wait, I’ll just simply sit down and enjoy the ride🙂

     
    • noelapple

      9 Maret 2014 at 08:33

      Aku suka komentar yang seperti ini. Panjang tapi rapi. Memuji tapi tidak berlebihan. Sebab jika aku menyukai pujian yang berlebihan, aku juga harus menerima cacian yang berlebihan, itu baru konsekuen. Aku suka yang pas-pas saja. Seperti ini. Thank you.

       
  11. suanto syahputra

    9 Maret 2014 at 05:35

    hampir selalu suka sama pemilihan lagunya, hampir semua tidak mainstream dan lagunya hampir semua belom pernah saya dengar. anw, karung ini bagus, selamat🙂

     
    • noelapple

      9 Maret 2014 at 08:29

      Aku ingin meracuni pembaca dengan lagu-lagu seleraku.🙂

       
      • suanto syahputra

        11 Maret 2014 at 01:49

        Sepertinya racunnya berhasil bekerja, tetapi harus diakui kalau di CRA 1 lebih kena ajah pemilihan lagunya terhadap cerita yang sedang berlangsung, ini menurut saya ajah loh yah. Saya lupa ini di CRA 1 atau 2, tetapi saya suka part cerita yang ada lagunya enchanted – taylor swift. Tetapi, ini hanya pendapat dan kesan saya saja. Mana tau di CRA 3, kau membuat suatu perbedaan yang ternyata lebih kece🙂

         
      • noelapple

        13 Maret 2014 at 15:41

        kamu pasti salah. CRA tidak pernah memakai lagunya Taylor Swift.

         
  12. imt17

    9 Maret 2014 at 09:19

    ricky. . .

    nunggu HBR ampe taon kabisat?
    empat taon lagi donk. . . huuuhhhh

    eh padahal gw yakin banget leah ikut,
    trus keknya misha masih bisa di otak atik tu hatinya,buktinya pertanyaannya beda dari yang laen pas tau leah tu siapa. . .

     
    • Kopi Soda

      9 Maret 2014 at 12:00

      2 tahun lagi yang ada.. 2012kan tahun kabisat, jadi 2016 tahun kabisatnya. Dan kalo emang bener HBR baru bakal dilanjut 2 tahun lagi, cukup lama juga…

      Tapi CRA sama HBR semuanya sama-sama ditunngu, karena bang noel punya cerita yang saya beda dari penulis lainnya, dia salah satu penulis yang jadi favorit saya karena dia punya sesuatu yang unik

       
  13. azwar

    9 Maret 2014 at 18:14

    kenapa aku gak tau tokoh ricky??
    Ada di bagian mana ceritanya mas noel.. -_-

    kemarin sempat takut denis bakal prustasi dan benci cewek,,😀 .. Tp stlah ini, sepertinya tidak.

     
  14. Zee

    9 Maret 2014 at 19:18

    Wah, aku suka karung 10! Sempet kesal juga waktu tahu kalau Leah mau ikut, tapi ternyata Denis cukup cerdik, hahahaha. Aku sampai ngakak waktu bayangin Leah ditinggal lari Denis naik kereta begitu aja. Nggak sabar nunggu terusannya ^_^

     
  15. sasadara

    9 Maret 2014 at 19:38

    ehmm.. emang denis jadi lebih puitis.. puitis nya nyeleneh tapi kesan jadi lebih lebay dari dimas… ehhehehe… kangen euy sama ricky.. gimana ceritanya itu fandy bisa kenal ricky bang???

     
    • emyu

      15 Maret 2014 at 13:59

      dari Dimas, soalnya Dimas satu sekolah musik sama Ricky. bener gitu nggak, mas Noel?

       
      • noelapple

        15 Maret 2014 at 19:50

        salah.

         
      • Leah-lovers

        7 September 2014 at 06:44

        Karena Dimas dan Ricky kenalan di grup gay fb.. Masih salah juga, Mas?😀

         
  16. felix

    10 Maret 2014 at 00:37

    haha kesian si leah..

    Masih penasaran sama si ricky..
    Gimana kabarnya ya dgn dikta?

    Mas, update yg HBR donk..
    Penasaran banget nih..

     
  17. kim juliant

    10 Maret 2014 at 00:53

    Seruuu buangeeettt…..
    Sukses menghipnotis pembaca..
    Jgn lama2 karung 11 nya mas noel cakep…

     
  18. devan

    10 Maret 2014 at 09:19

    beruntung banget ya dimas, punya fandy yg sayang sama dia.. punya denis yg slalu ada buat dia.. jadi iri sama dimas..hehe😀

     
  19. AditaKID

    10 Maret 2014 at 13:01

    Owalah.. akhirnya mereka beramgkat jg nih..
    Udh kaget aja si Leah Bakal ikut.. pasti jd berabe kn kalo Leah ikut..😄
    Ah Denis..
    Aku padamu geh..
    Suka banget sma Denis di sini..
    Yah semoga Denis dapet cinta yg baru lg geh yaa..
    Dan semoga perjalanan mereka lancar..Aamiin
    Sayatungu lanjutannya bang..
    NICE STORY
    I LIKE IT ^^d

     
  20. Sam

    10 Maret 2014 at 19:39

    entah kenapa ada feeling perjuangan Leah buat Denis ga berhenti distasiun.. Jangan2 ntar nekat nyusul ke Bali hehe, smoga feeling saya salah. Akhirnya dimulai juga petualangan ke Bali!!

     
    • eko

      10 Maret 2014 at 21:05

      wah bener aku jg berpikir begitu..
      Seperti kata denis kl leah punya sifat yg nekat..

       
  21. leafie

    11 Maret 2014 at 08:31

    dan cra menemukan nafasnya kembali dengan lagu2 itu🙂 suka banget part ini (y)

     
  22. arbi

    11 Maret 2014 at 09:34

    jujur belum pernah bca HBR sih, cuma kaget aja tiba2 ada ricky. dan ini ceritanya lucu bgt,,bkinm ketawa di kelas mas #eh..hahaha. paling lucu pas denis ngayal smbil dnger lgu di radio. lanjutkan mas. semoga dimas cpat ktmu. aminn

     
  23. dontbesyai

    11 Maret 2014 at 11:54

    I am happy to know that Noel do something new like adding the song in the mid of the story. I wish that I would hear and read at the same time in the future. That’d be totally awesome!

    Ricky appearance is this chapter was quite predictable since Noel already did crossover since the first book of CRA series. Yet it’s still mistery how Ricky got acquaintance with Fandy. I hope Noel would write something about it in the future (not a request Noel, just a hope), who knows there’d be something interesting amongst them to reveal.

     
    • noelapple

      13 Maret 2014 at 15:38

      so, you didn’t listen when you read it?

       
      • dontbesyai

        15 Maret 2014 at 13:54

        I listened. Tapi mungkin karena aku gaptek, jadi buka dulu link-nya terus kalo dah habis, balik baca lagi. Teach me, maybe?

         
  24. bink

    11 Maret 2014 at 15:08

    ckup menghibur ketika ricky muncul mnjadi cameo disini, walaupun scene nya sedikit tp karakternya yg cool tetap trlihat.. berharap ada cross story lg yg porsinya lebih banyak, that’s uniqe mas noel🙂

     
  25. ray_har

    12 Maret 2014 at 16:33

    horeee leak gak jadi ikut

     
    • emyu

      15 Maret 2014 at 14:06

      Leah, mas. Leah. kalo leak, berarti dia harus ikut ke Bali buat gabung sama leak-leak lainnya #eh #plak xDa

       
  26. lio

    12 Maret 2014 at 18:22

    my god
    ada Ricky, jadi kangen HBR
    gak pernah nyangka kalo Fandy, Dimas, Denis kenal sama Ricky
    atau jangan2 mereka satu sekolah, ah sudahlah

    seneng banget sama perubahan sikapnya mamanya DImas ke Fandy
    walopun belum tau ud ngasih restu apa nggak

     
    • noelapple

      13 Maret 2014 at 15:36

      mereka jelas tidak satu sekolahan. sebab Siska dkk pernah menyebut Anita sebagai ‘siswi sekolah lain’.

       
  27. diva

    12 Maret 2014 at 22:18

    gregetttt sama leah…kok aku jdi suka ya sama leah. hha 😀

    sukses trus ya bang noel
    ditunggu cerita selanjutnya

    btw…
    dennis kok sifatnya mirip aku ya…tapi sepertinya masi gantengan dia. hha😀

     
  28. bannybaladewa

    13 Maret 2014 at 00:46

    Makin salut sama kamu, salut sama cara kamu meramu kata kata. Kamu sosok penulis yg serba bisa.
    #pengin nemenin leah nusul denis ke bali hahaha

     
  29. Fbl-Rudy

    13 Maret 2014 at 23:35

    Keren… Saat klik tulisan denger lagu.. Eh malah k’tiduran dnger lagu’y..
    D’tunggu kantong 11 ka.

     
  30. Sekedar Mampir

    13 Maret 2014 at 23:46

    Makasih buat kak Noel karena sudah bikinin fanservice buat yang suka HBR, terutama saya haha
    Sekali lagi terima kasih😀

     
    • noelapple

      14 Maret 2014 at 21:02

      aku tidak suka fanservice.

       
  31. teyo

    14 Maret 2014 at 03:04

    Gara-gara istirahat total seminggu jadi ketinggalan bacanya😥

    Keren ide spontan denis yang tiba-tiba turun dari kereta buat ngibulin leah (y)

     
  32. Emanona

    14 Maret 2014 at 09:27

    Cross Story… MAntebh. Jd kangen ma kelanjutan HBR🙂

     
  33. eko

    14 Maret 2014 at 10:53

    penasaran sm fandy
    gmn ta orangnya
    susah banget menggambarkannya dalam anganku
    yg sangat jelas tergambarkan itu si ANITA ..bahkan leah yg br muncul sangat mudah dibayangkan.

    semangat bang noel
    ditunggu karung nya

     
  34. yanz

    14 Maret 2014 at 14:22

    like dehh untuk denis seruuu hahaha …………… politik yang sangat bagusss …….

     
  35. emyu

    15 Maret 2014 at 14:00

    karung 10 naik kereta, karung 11 perjalanan selama di kereta…
    nggak kerasa bentar lagi kelar. ato ada kejutan-kejutan lagi selanjutnya?

     
  36. Ardhan Vatra

    17 Maret 2014 at 15:58

    “Di tanganku, ‘jahat’ dan ‘sayang’ bisa ditunjukkan secara bersamaan. That’s me.”..Evil and angel in one side, that awesome feelings…..! untuk HBR kan mau diterbitkan tahun kabisat, tapi kalender Jawa aja ya Mas Noel, kan berarti tahun besok, hehehe lebih cepat setahun…..
    Dan setelah Dika dan Ricky muncul, nanti kalo Dimas dan Fandy dah balikan, settingnya di thailand ya mas Noel, biar ketemu sama Samanera……..

     
    • noelapple

      17 Maret 2014 at 16:04

      Segala bentuk request tidak dikabulkan.

       
  37. Ardhan Vatra

    17 Maret 2014 at 16:19

    Hehehe, yah terima nasib aja deh, padahal pas abis baca CRA pertama kali, aku langsung celingukan di jl urip, siapa tau ketemu DiDen ( Dimas Dennis ), hehehe. Dan setting tempatnya bener2 ngangenin( eh pengen tuh ke Danau yg di Gemolong, terus waktu di Badung cuma ngelewatin jembrana aja, sayangnya aku belum pernah ke Medan hehehe)
    Btw, cape juga ya jadi SR, gemes2 sendiri, makanya beraniin comment, tapi yang pasti aku selalu ngikutin ceritanya mas Noel, It’s not just an ordinary LGBT stories, but INSPIRING !!! not for the act but for the phillosophy in all your stories………..

     
  38. ichal

    17 Maret 2014 at 22:13

    btw karung 11 nya kapan neh terbit mas noel.. jd penasaran…

     
    • eko

      21 Maret 2014 at 17:56

      sama penasaran maximal

       
  39. yanz

    21 Maret 2014 at 15:39

    menunggu karung 11 !!!!!!

     
  40. eko

    21 Maret 2014 at 17:57

    sama penasaran maximal

     
  41. Lisa

    21 Maret 2014 at 19:32

    Mas noel sadis! Gw suka banget kata2″seberat apapun tlg ingat aku” ben ma eka di CRA 1. Kalu CRA 2 ud rilis jadi buku. Adain part2 yg seru ya. Ditunggu.

     
  42. kim juliant

    29 Maret 2014 at 23:27

    Mas noel…
    Kpan update lgi karung berikutnya…
    Udah haus ne dg katya mas noel yg renyah kayak kacang goreng tu..

     
  43. denis

    30 Maret 2014 at 16:17

    Ryan murphy? Hahaha.. That’s my idol!😀.. Jadi kangen glee😀..

    Ga bisa bilang apa lagi. Dichapter ini semua akan dimulai😀

     
  44. Donny Donny

    2 April 2014 at 09:28

    sosok dimas bgtu nyata ,. sampai terbawa seolah2 dya benar ada,. sangat amat menuggu kelanjutan kisahnya,.

     
  45. PinPin

    3 April 2014 at 12:58

    uda ampir sebulan lom ada update karung 11..😦

     
  46. novriyanz

    8 April 2014 at 06:41

    waw. . . . .ceritanya keren —–> kapan di lanjutin bang??, saya newbie bang bisa di bantu ngak buat cerita juga??,

     
  47. novriyanz

    8 April 2014 at 06:43

    bang bisa ngak aku jadi author di blog abang?

     
  48. kazekage

    20 April 2014 at 01:41

    Wahahahhaahahaha, denis mank sambleng x_x .. Aku pikir kalo leah ikut, denis jadian lgi sama leah.. Trus misah sama si amos,tp kalo gini perjalanan cinta denis jadi labil. Ga tau kejutan apa yg dikasih mas noel buat denis. Kalo jalan cerita ala FTV aku rasa bakal tetep ke misa, kalo sinetron juga kayaknya ke misa. Hahaaa . Tp klo film bisa aja ke Leah, namanya jga film.. Aaaah pokoknya yg ini mistery bangeeet!!

    Komen ku buat denis dan misa.. Yaa itu sedih bgt, terasa aku gmn rasanya tetep bersikap biasa aja tp hati ga kayak sikapnya… Tulus buat Cinta sama Tulus buat yg lainnya kayak memang beda yaa mas noel.. Apa sama yaa? Ahahaha yg jelas klo bisa Cinta tp ga bisa Memilikinya itu, pasti Sakit banget…

    Cinta yg berbalas memang anugerah terindah. Hal itu memberikan rasa syukur serta kekuatan yang diluar batas nalar.. # Alah puitis aku jadinya #

     
  49. Ripal anwar

    1 Agustus 2014 at 16:56

    Mas Noel tisyu q abis
    tanggung jawab donk
    bkin cerita waktu mama Den meluk fandy aq gk henti2 nangis

     
  50. rifan

    2 Agustus 2014 at 12:23

    WOOWW ada ricky…

    jadi ngapung lg deh penasaran HBR
    Sampe Hearttbreak bener nih nungguin Ricky

     
  51. rifan

    2 Agustus 2014 at 12:25

    WOOWW ada ricky…

    Ngumpul deh cowok2 unyunya

    jadi ngapung lg deh penasaran HBR
    Sampe Hearttbreak bener nih nungguin Ricky

     
  52. purie

    4 September 2015 at 12:38

    akhirnya mereka berangkat juga…
    nangis pas liat mama peluk fandy,yaampun dah dapet restu astagaaa T_T

    ngenes bgt dah denis,ngeness…kesian kamu
    ya tau kamu cemburu,tpi semua ada wktunya den sabar yah…aku syang kamu *plakk ngaco
    ya masa idupnya denis isinya dimas mulu,dia patah hati lho tpi dimas mlah minggat elah
    mas.balik gih..sadarlah drimu…

     
  53. ularuskasurius (@ularuskasurius)

    17 Oktober 2015 at 06:21

    apa disini cuma gue yang kasihan sama LEAH?
    sedih banget diperlakukan seperti itu… tapi sudahlah… sudah terlanjur terjadi… semoga ada kebahagiaan buat Leah dan Denis. Semoga #terlambatkoment

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: