RSS

Karung 13

 
 

Karung 13

Antara Aku dan Fandy: Pertautan Yang Aneh

 
 

 -dengarkan musik-

 
 
 

“Hugghh…!” Fandy membuat ekspresi yang mengagetkanku. Dia seperti mau muntah. Aku didorongnya minggir, lalu dia cepat-cepat pergi meninggalkan tempat.

“Fan, kenapa?” seruku, masih bengong di depan bilik.

Terpaksa kususul dia. Dia berdiri di luar, berkacak-pinggang dengan muka tertunduk. Wajahnya memerah seperti merasa dipermalukan oleh sesuatu.

“Kenapa, sih?” tanyaku.

“Kamu nggak tahu?!”

“Apa?”

Dia malah tambah ngambeg. Melangkah pergi meninggalkanku. “Kita cari tempat lain!” serunya.

Aku mengikutinya di belakang. Kupercepat langkahku untuk mengejar. “Di sana kenapa?” tanyaku, masih bingung.

“Kamu nggak ngecek? Ada ceceran sperma di meja!” tukasnya marah-marah.

Aku terperanjat. Tiba-tiba aku sedang berjalan-jalan di pinggir kota asing ini, bersama orang yang marah-marah menyebut kata ‘sperma’.Apa-apaan, nih?

“Sperma?” ulangku sangsi. “Dari mana kamu yakin?”

Dia berhenti, berkacak-pinggang lagi memandangiku. “Aku nggak percaya tiba-tiba kamu jadi lugu begini!” tukasnya sambil melotot. “Den, please…! Ini sudah cukup memalukan! Gara-gara rencanamu yang aneh itu!”

“Oke, oke…,” aku menenangkannya, “aku nggak sempat memastikannya sendiri, soalnya cepat-cepat nyusul kamu. Calm down!”

“Kamu pilih warnet yang jorok, dan kamu suruh aku masuk duluan! Sekarang aku baru sadar ini terlalu sewenang-wenang! Aku nggak habis pikir kenapa aku jadi bodoh banget gini mengikuti idemu itu!”

“Hah? Ntar dulu, kayaknya lu jadi manja banget gini?” aku langsung berubah dongkol. “Aku juga mana tahu kalau itu tempat habis dipakai buat cabul? Jangan ngelunjak gini, deh!”

“Ngelunjak?” ulangnya dengan nada dingin, dia terlihat tidak sedang bercanda. “Bukan aku yang diam-diam bikin foto mesra. Tapi kamu! Anehnya, kamu juga yang mengancam akan bilang ke Dimas soal ciumanku sama Fillipe. Apakah aku duluan yang nyium cowok itu? Nggak! Tapi tetap kuakui kesalahanku. Dan kusetujui ide gilamu. Karena aku takut ancamanmu? Bukan! Karena aku ingin kita bisa menemukan Dimas, dengan idemu itu! Tapi aku nggak boleh kesal masuk ke tempat yang menjijikkan itu? Dan kamu ngatain aku ‘ngelunjak’?”

Deg! Aku tak mengira responnya akan menjadi seserius itu. Tiba-tiba saja kami bertengkar seperti ini. Dan aku tak pernah menghadapinya semarah itu, untuk masalah yang kupikir sepele.

“Oke, sorry,” kuulang permintaan maafku. “Kamu pasti mengerti, aku nggak bermaksud membuat kita masuk ke tempat yang kotor. Ide ini memang rada gila. Tapi kita akan tempuh segala kemungkinan demi mengetahui di mana Dimas berada. Aku juga pertaruhkan reputasiku, kok. Kalau aku ngatain kamu ‘ngelunjak’, itu memang salahku. Sorry. Oke?”

Dia berhenti menatapku, membuang muka sambil menghela napas berkali-kali. Kurasa dia bisa mengatasi emosinya. Aku memang lalai mengingat satu hal, yaitu bahwa dia sudah melawan keluarganya sendiri demi semua ini. Sudah sejauh ini. Kami berdua sama-sama punya beban. Kurasa aku terlalu menekannya. Tak sengaja.

“Maafku diterima?”

Dia mengangguk hampir tak terlihat mengangguk. Tampak masih kesal. “Sebaiknya rencana ini tak usah diteruskan,” sergahnya.

“Harus diteruskan!” aku ngotot. Aku melangkah menduluinya. “Aku yang akan tanggung risiko terbesarnya, yang menurutku juga nggak besar-besar amat. Kita cari warnet lainnya. Aku yang akan masuk duluan.”

Fandy mengikuti di belakangku, kudengar dia masih menggerutu. Gantian sengaja kuperlambat langkah, biar dia bisa menyusulku.

Begitu kami sudah bersebelahan lagi, “Kalau sperma-nya Dimas, lu jijik juga?” cibirku sinis.

Buk! Tiba-tiba dia menendang pantatku. Saat mau kubalas, dia ngacir duluan. Sekarang dia berjalan agak jauh di depanku. Kubiarkan. Memang, diperlukan sikap mengalah dan sedikit candaan agar pertengkaran tadi bisa dilupakan. Dasar manja!

“Tapi di bilik tadi, lu nggak sampai sentuh-sentuh kan, Fan?” lontarku di belakang.

“Stop!” tukasnya sambil mengangkat satu tangan. “Jangan omongin itu lagi!”

“Aku cuma ngasih peringatan aja. Kalau lu nggak sengaja kena itu kotoran, cepat-cepat cuci tangan yang bersih sana! Kita nggak tahu itu punya siapa. Hati-hati, HIV!”

“Aku bukan anak kecil! Sudah tahu!”

“Syukur!”

Dalam hati aku tertawa. Merasa aneh.Apakah aku pernah mengira bahwa suatu saat akan bersama Fandy di sebuah kota yang asing, lalu menemukan ceceran sperma di meja warnet? Dan bertengkar gara-gara sperma itu? Nggak! Ada-ada saja pagi ini.

Kami berjalan beberapa puluh meter dari warnet mesum tadi. Aku santai, sambil melihat-lihat suasana kota Negara. Sekilas tak terlalu jauh berbeda dengan suasana kota di Jawa. Didominasi rumah-rumah urban dan pertokoan. Bedanya tentu ada pada tampilnya unsur-unsur bangunan khas Bali, seperti gapura, ornamen-ornamen rumit, dan rumah-rumah tertentu yang memakai bahan batu bata merah tanpa plesteran semen. Itu pun tak terlihat menonjol di kota ini. Di manakah wajah Bali yang begitu khas seperti yang ada di film-film, lukisan-lukisan dan fotografi? Mungkin di sisi lain dari kota ini. Mungkin di desa-desa.

“Itu!” aku menunjuk sebuah warnet di seberang jalan. “Kayaknya lebih bagus.”

“Warnet yang tadi juga kelihatan bagus dari luar,” sahut Fandy sinis.

Kami menyeberang. Kurasa pilihanku kali ini tak salah. Warnet yang kami masuki tak cuma tampak bagus di luar, terbukti dalamnya juga nyaman. Bersih, rapi, dan dinding bilik tak setinggi di warnet sebelumnya. Artinya, di sini lebih kecil kemungkinan ada pengguna yang beraktivitas cabul di dalam bilik. Yang jaga di lobi operator seorang mbak-mbak, orangnya tampak ramah. Aku masuk duluan ke bilik yang masih kosong, berharap tak akan bernasib sama seperti Fandy di warnet sebelumnya. Tentu saja nasib memihakku.

“Buka Facebook-mu!” aku menyuruh Fandy.

Dia mulai menggerakkan jemarinya di keyboard. “Pikirkan lagi! Sekali ini masuk ke dunia maya, kamu tak bisa menghindari kemungkinan untuk tersebar luas,” gumamnya, berusaha mempengaruhi keputusanku.

“Sudah kubilang, aku siap kalau harus ada risiko!” tukasku santai. “Makanya, kamu atur dulu sistem privasimu.”

Apakah sebenarnya yang sedang kurencanakan?

Begini. Aku sedang berhitung dengan berbagai kemungkinan, sebab tiba-tiba aku ingat satu hal: Dimas adalah seorang stalker. Aku pernah membaca diary miliknya, membaca bagaimana tingkah-lakunya saat masih tergila-gila kepada Erik. Dia hobi memantau akun jejaring sosial milik Erik. Erik memang sudah menjadi masa lalu bagi Dimas. Sekarang, hatinya adalah ke Fandy. Surat-surat yang dia kirim ke Fandy adalah fakta bahwa dia masih memberi perhatian kepadanya. Pertanyaannya, kenapa Dimas tak mengirim pesan saja lewat jejaring sosial? Email, Facebook, atau Twitter?

Karena surat yang ditulis tangan lebih romantis? Mungkin. Tapi kucoba untuk memahami lebih dari itu. Sebagai orang yang sedang minggat, kurasa Dimas memang sengaja bersikap jaim, agar aksi minggatnya itu ngefek ke orang-orang yang dia tinggalkan. Karena itu, dia perlu berpura-pura nonaktif di jejaring sosial, nggak bikin status, nggak nge-twit,agar seolah-olah dia nggak bisa dilacak di internet. Tapi, aku yakin sebenarnya dia masih memakai jejaring sosialnya untuk memantau. Selama ini, mungkin saja diam-diam dia memantauku. Juga memantau Ben dan teman-temannya yang lain. Tapi kemungkinan terbesar yang paling sering dipantaunya, pastinya tak lain adalah Si Manja yang duduk di sampingku ini: Fandy!

Dengan keyakinan bahwa Dimas rajin memantau akun jejaring sosial milik Fandy, maka kucetuskan ide yang agak nekat ini: mengunggah fotoku dengan Fandy! Ya, foto kami yang sedang ‘mesra’ itu, yang Fandy tertidur di pundakku. Saat Dimas melihat foto saudara kembarnya sedang berduet dengan pacarnya, akan seperti apa reaksinya? Kayaknya seru! Hehehe. Dia pasti panik. Dia itu ceroboh, di saat panik dia cenderung membocorkan dirinya sendiri. Itu yang kutunggu!

Tapi, jika ternyata dia tak bereaksi? Hmmm, bukan berarti dia tidak kesal, kan? Setidaknya aku berhasil bikin dia kesal. Akan kupermainkan ke-jaim-annya! Jadi, berharap saja dia benar-benar memantau, dan termakan ‘jebakan Batman’ yang kubuat!

“Kuakui kelebihanmu, selain pintar melanggar privasi orang lain, adalah kemampuan bersikap cuek. Tapi bagaimana tanggapan teman-temanku nanti? Aku ketahuan ortu, bukan berarti aku juga ingin ketahuan teman-temanku. Ini masih terlalu dini!” Fandy mengeluh lagi.

“Makanya atur sistem privasimu!” tegasku mengulang instruksi.

“Aku belum pernah menyetel sistem privasi, aku takut akan ada yang miss…!”

Aku mulai tak sabar menghadapi sikap ragunya. “Atur privasi khusus, biar posting-anmu hanya bisa dilihat oleh beberapa orang. Pastinya Dimas yang paling utama. Masukkan juga Ben. Dua saja cukup. Teman-temanmu yang lain nggak akan bisa lihat. Aman!”

“Kenapa Ben?”

“Karena dia yang paling dipercaya oleh Dimas. Begitu Dimas lihat foto itu, kuharap dia terpancing untuk klarifikasi ke kita. Tapi jika dia masih jaim untuk menghubungi kita, kurasa dia akan menghubungi Ben. Dia akan curhat ke Ben. Makanya Ben juga harus bisa lihat foto itu. Dan kita bisa percaya Ben nggak akan menyebarkannya.”

“Dia juga bisa usil,” Fandy meragukan Ben.

“Tapi dia tak akan mempermalukan temannya sendiri,” tegasku tetap yakin. “Kalaupun foto itu bocor di luar harapan kita, akulah yang bakal lebih tengsin dibanding kamu. Setidaknya kamu beneran gay, aku bukan. Tapi kuambil risiko itu.”

Akhirnya Fandy menurut, meski mukanya masih cemberut. Ah, aku tetap yakin, dalam hati dia tersanjung!

Saat Dimas melihat foto itu, dia akan terusik. Jika dia masih peduli padaku, saudara satu-satunya ini, dia akan tergerak untuk menghubungiku dan bertanya: Ada apa denganmu? Kamu jatuh cinta sama Fandy? Tapi jika harapanku itu keliru, aku juga bisa mengerti seandainya dia lebih memilih menghubungi Fandy. Dia memang egois, aku tak akan kaget seandainya ternyata hubungannya dengan Fandy lebih penting dibandingkan denganku.

Jika dugaan itu masih meleset juga, maka semoga benar hitunganku yang ini: dia akan menghubungi Ben! Jika itu yang terjadi, aku yakin Ben cukup sadar untuk menanyakan di mana Dimas berada, dan apapun kabar tentangnya. Tentunya, Ben tak boleh membocorkan satu hal:

“Bro, klo swaktu2 Dimas hub lu, jgn bilang klo aku sama Fandy lg cr dia ya.” SMS-ku kukirim ke Ben.

“Kok gitu?” balas Ben.

“Klo dia tau aku sdg nyusul ke Bali, tkutnya dia mlh sngaja ngumpet. Pkoknya jgn bilang.”

“Tp knp dia mau hubungi aku?”

“Sapa tau aja. Soalnya lu yg plg dia prcy. Surat2 Fandy aja dititipkn ke lu. Plis ya.”

“Ok deh.”

“Trims.”

Kupikir sudah tak ada pertanyaan dari Ben. Ternyata dia masih mengirim SMS lagi, “Kok kamu ngga tny soal Lia? :)”

Aku tercenung beberapa saat. Antara rasa sebal dan penasaran. “Knp dia?” balasku.

“Stlh klian brngkt, aku tmani Lia. Sama ortumu + Misha. Nenangin dia lah yg shock krn kamu tinggal. Ngbrol bnyk soal hubngan klian.”

Dadaku terasa meremang. Aku hampir mengumpat! Damn! Hal itu memang sulit untuk diantisipasi. Kedatangan Leah di stasiun itu memang di luar harapan. Leah bertemu Misha, ditambah Papa sama Mama… apa yang mereka bicarakan?! Sial…!

Kurasa apa saja yang mereka omongkan pasti terlalu banyak untuk dibicarakan lewat SMS. Kubalas pesan Ben, “Aku sdg di jalan tggu jmputan. Aku sdh di Negara. Ntar klo sdh longgar kutelpon ya. Thanks.”

“Oke.”

Hmmmhh. Sekarang, seperti apa pandangan Misha padaku? Apa saja yang dia dapat dari Leah? Semoga yang baik-baik saja.

“Mana fotonya?” Fandy memecah lamunanku. Dia sudah selesai membuat setting privasi yang baru di akun Facebook-nya.

Kulepas MicroSD-Card di HP-ku. Kupasang di card reader, lalu kuserahkan ke Fandy. Setelah terhubung ke komputer, kami mencari foto itu di antara bejibun foto lainnya.

“Wow. Kamu nyimpan foto-foto cowok juga rupanya?” celetuk Fandy, mengomentari foto-foto model cowok yang kusimpan.

“Yang kuambil style rambutnya. Cowok normal juga boleh mikirin rambut, kan?” tukasku menjawab cibirannya.

“Kayaknya yang dipikirkan cewek tentang cowok bukan soal rambutnya. Secara fisik, cewek menyukai bentuk badan cowok. Tinggi badan, dada, perut, lengan, itu iya. Tapi rambut cowok nggak terlalu penting buat mereka,” celoteh Fandy sok tahu. “Tapi kalau cowok gay, biasanya memang suka memperhatikan rambut.”

Kusikut dia. “Lu nuduh gue? Lu bukan cewek, nggak usah sok tahu soal pikiran cewek!”

“Aku memang bukan cewek. Tapi aku punya kesamaan dengan cewek, yaitu sama-sama suka cowok” dia malah melucu soal ke-homo-annya.

“Nggak usah banyak bacot!” tukasku ketus. Kuambil-alih mouse dari tangan Fandy. Kucari foto itu, lalu kubuka dengan viewer agar lebih jelas.

Melihat foto ini, Dimas pasti akan tahu bahwa ini diambil di dalam kereta. Kubuka situs editor foto. Kuedit sedemikian rupa, agar bagian-bagian yang menampilkan suasana dalam kereta menjadi lebih samar. Kutambahkan pula frame dan efek-efek supaya foto lebih terfokus pada ‘kemesraan’ kami berdua. Efek bling-bling dan frame lebay, cukup untuk membuat Dimas geregetan.

“Tambahi sekalian gambar hati, biar lebih provokatif!” Fandy malah ngelunjak.

“Provokatif mbah-mu! Ini masih kurang norak apa?!” aku marah-marah.

Foto diunggah.

“Selesai.” Kupandangi foto itu sudah terpampang di dinding Facebook-nya Fandy. Tanpa caption, biar Dimas tambah penasaran untuk mencari tahu sendiri.

“Hahaha….” Fandy tertawa melihatnya. Kubilang juga apa: dia senang dengan foto itu!

Sementara ini misi telah selesai diluncurkan, tinggal menunggu hasilnya. Semoga Dimas memantaunya dan bereaksi, biar aku tak menjadi ‘Batman kesiangan’!

Durasi yang tertera pada billing baru berjalan setengah jam. Kami masih di dalam bilik, masih bisa bersantai beberapa menit lagi dengan internet.Aku inginmencari info-info tentang penginapan murah di daerah Badung, sekadar melengkapi yang sudah kukumpulkan sebelumnya. Sambil browsing, sekarang bisa ngobrol lebih santai.

“Fan, no offense, ya…” aku ancang-ancang melontarkan pertanyaan usil, “melihat reaksimu di warnet yang tadi, memangnya lu nggak pernah coli di warnet?”

Mukanya langsung meremang. “Jadi kamu pernah?” dia menyerang balik tanpa menjawab lebih dulu.

“Aku nggak bilang gitu. Aku sudah punya internet di rumah, ngapain di warnet?”

“Maksudmu, kamu biasa masturbasi di depan komputermu sendiri?”

“Aku juga nggak bilang gitu. Ngapain harus di depan komputer? Aku nggak suka buka situs porno atau nonton bokep.”

Bullshit!” dia menertawaiku secara sinis.

“Sumpah.”

“Terus, kamu dapat referensi dari mana saat butuh… katakanlah: fantasi?”

“Nggak harus pakai fantasi. Kalaupun butuh fantasi, otak cowok itu sudah ditakdirkan untuk menjadi liar meski belum pernah lihat materi porno,” ulasku panjang lebar. Lalu aku jadi kesal sendiri, “Dan, kenapa sekarang jadi kamu yang nanyain? Aku yang pertama kali tanya, kamu belum jawab!”

“Dan, apa kepentinganmu tanya soal itu padaku? Ini percakapan yang aneh. Bisa diterima misalnya aku ngomongin ini sama kakakmu. Tapi sama kamu? Why…? Kenapa kamu tertarik ngomongin ini denganku?” Dengan gaya sok jaim dia mulai berbelit-belit.

“Anggap saja aku punya standard tinggi buat calon pendamping saudara kembarku. Dan, bukannya sekarang malah kamu yang tanya segitu banyak ke aku? Aku bikin satu pertanyaan, kamu kejar dengan tiga pertanyaan! Artinya, kamu sangat tertarik ngomongin ini. Munafik!”

Kemudian, menurutku senyumnya malah jadi agak genit. “Wajar, kan? Aku suka cowok. Mendengar fakta bahwa ada cowok yang nggak butuh fantasi saat masturbasi, itu menyegarkan pikiranku. Kupikir itu menarik,” begitu balasannya. Kontradiktif dengan rautnya yang dibikin seolah-olah dirinya anak polos baik-baik. Ngelindur!

“Jadi, sekarang lu tertarik sama gue gitu?” tukasku waspada.

“Den, aku perlu bilang sesuatu padamu,” nada omongannya terdengar makin personal. “Cowok yang suka cowok, aku rasa, banyak di antara mereka akan mudah untuk menyukaimu. Kamu punya ‘faktor X’ yang sulit dirumuskan secara teori, tapi yang pasti itu membuatmu sangat menarik. Kamu menyebalkan. Tapi loveable.”

Aku agak merinding mendengarnya. Aku nggak percaya begitu saja penilaiannya itu, tapi tetap kedengaran bahwa dia memang tertarik padaku. Dia duduk tepat di sebelahku. Posisiku ada di sudut, jauh dari celah untuk kabur. Ini agak mengerikan. Seolah-olah sekarang dia sedang berkata, “Mau kabur? Langkahi dulu mayatku!”

“Oke, Fan, aku nggak akan membatasi kebutuhan pikiranmu. Lu mau berfantasi apa saja tentang gue, terserah. Tapi, kalau sampai tangan lu coba-coba usil, gue hajar! Beneran. Deal?”

Dia menjawab dengan santai, “Itulah salah satu daya tarikmu. Cuekmu itu seksi. Oke. Deal.”

“Sekarang jawab pertanyaanku yang pertama tadi!”

“Lho?” dia melongo. “Kok masih maksa tanya itu terus?”

“Ini bukan soal kepo atau apa, tapi soal keadilan! Sudah kujawab semua pertanyaanmu, terus kamu bebas nggak jawab pertanyaanku?”

“Apa yang menarik dari kebiasaanku? Oke, mungkin menarik buat cowok gay. Tapi,kamu bukan gay, kan? Beneran, ini jadi aneh banget kalau kamu nuntut aku untuk jawab: Apakah aku pernah masturbasi di warnet? Pertanyaanmu bikin aku mulas. Selain itu, kamu harus belajar bahwa salah satu hal yang membuat seseorang menjadi seksi adalah kemampuannya membuat orang lain penasaran. Jika dia mulai mengobral privasi dan suka membuat statement yang vulgar, nilai keseksiannya akan berkurang. Aku ingin kamu tetap menjadi cowok seksi. Tapi sebagai orang yang menyayangimu, aku juga tak ingin kamu jadi gay. Tetaplah pada jalurmu. Kakakmu sudah cukup. Kalian dua sisi yang sudah pas! Oke?”

Aku bengong. “Kata-kata apa itu tadi?”

Dia merengut sok jutek. “Pengakuan! Puas?”

Aku menggeleng. “Belum. Aku baru puas kalau kamu mau jawab pertanyaanku yang pertama.”

Dia lemas.

“Tapi aku tersanjung, pengakuan rasa sayangmu itu mengharukan,” celetukku, sambil meneruskan browsing. “Anyway, pertanyaanku belum kubatalkan.”

Akhirnya dia menyerah. Dia menggeleng dengan tampang kalah. “Aku tak melakukan sesuatu yang pribadi di tempat umum. Privasi adalah privasi.”

Sudah kuduga, jawabannya diplomatis.

“Jadi, lu nggak pernah coli di warnet?”

“NGGAK!” dia setengah membentak. “Masih ditanya lagi? Apa jawabanku kurang jelas?”

“Cieeee…. Sensi banget, sih?” celetukku cengengesan, tertawa geli. “Terus, kalau ‘privasi adalah privasi’, gimana caranya merealisasikan idemu untuk ‘main’ sama Dimas di gubug tengah sawah, di atas motor, dan sebagainya…? Aku masih ingat kamu pernah ngelindur begitu.”

Perlahan, rona mukanya berubah merah tomat. Skak!

“Nah, gimana hayo?” tukasku enteng. Membuatnya tersudut. Siapa bilang aku kepo? Aku cuma mau ngetes dia saja. Hehehe.

“Kamu tahu aku cuma bercanda soal ‘main’ sama Dimas,” dia ngeles agak gugup.

“Tapi candaanmu itu membuktikan, bahwa di otakmu sebenarnya ada imajinasi-imajinasi mesum yang bertentangan dengan ucapanmu soal… katakanlah: moral, atau apalah. Kamu bilang privasi, tapi sebenarnya kamu ingin suatu saat bisa melanggarnya sendiri. Kalau nggak, kenapa kamu pelihara imajinasi seperti itu? Kamu mungkin sedang menunggu kesempatan yang aman saja, buat merealisasikan ide-ide gila itu. Iya, kan?”

Dia terdiam. Aku tertawa lebar, membiarkannya memakan ucapanku. Kali ini aku merasa seperti bukan anak IPA. Entahlah, tiba-tiba saja analisa tadi tercetus di kepalaku. Sekarang jadi yakin, cara berpikir kita terlalu luas untuk dikotak-kotakkan menjadi IPA/IPS. Gue juga bisa sok filsafat, sok psikologis!

“Kamu lupa satu hal, Den,” dia sepertinya mulai menemukan alasan untuk menyangkal. “Ada imajinasi-imajinasi yang bagi kita akan lebih indah jika tetap menjadi imajinasi saja. Tidak perlu direalisasikan.”

Aku mengernyit. Lalu mengangguk-angguk, salut dengan cara ngelesnya. “Oke. Kupegang omonganmu, bahwa kamu nggak akan merealisasikan imajinasi mesummu itu. Bahwa kamu nggak akan ‘main’ sama Dimas di sawah, di sungai, dan tempat umum lainnya.”

“Malah, bukan cuma imajinasi yang itu,” sahutnya enteng.

“Apa lagi?” kejarku.

“Poligami. Aku, Dimas, dan kamu.”

Seperti disambar geledek!

WHAT?!!”

“Itu bakal seru!” cetusnya sambil nyengir. “Tapi lebih baik tak direalisasikan. Iya, kan?”

“Itu memang nggak mungkin direalisasikan, Kampret!” tukasku sengit.

“Kenapa nggak mungkin?”

“Karena gue bukan homo!”

“Tapi sebagai homo, aku bisa menilai bahwa kamu punya kecenderungan itu. Ada area abu-abu dalam dirimu, tidak dominan, tapi ada. Seperti katamu sendiri, kadang kita memelihara hal-hal di dalam diri kita, yang bertentangan dengan apa yang kita ucapkan. Kita sebut saja itu ‘sisi liar’. Membiarkanku tertidur di pundakmu, itu sisi liarmu. Mengintipku di toilet, itu sisi liarmu. Membiarkan foto kita yang seolah-olah mesra beredar di dunia maya, itu sisi liarmu. Menginterogasi aku soal masturbasi, itu sisi liarmu! Kamu selalu tegaskan dengan ucapan bahwa dirimu bukan homo, tapi berkali-kali kamu melakukan tindakan yang cenderung melawan ucapanmu itu. Jadi aku sudah berbaik hati dengan mengingatkan: Aku tidak ingin kamu jadi gay. Dan aku tak akan merealisasikan imajinasi poligami denganmu.

Tiba-tiba, sekarang gantian dia yang membuatku tercengang. Dia membuatku termakan omonganku sendiri. Sepertinya, aku terlalu meremehkan bocah ini!

“Kamu salah,” jawabku, tetap ngeyel.

“Bagian mana yang salah?”

“Mencurigaiku homo. Aku suka bercanda sama siapa saja, termasuk lu. Lu cuma objek candaan aja, nggak lebih. Jangan dipikir gue tertarik secara seksual sama lu.”

Dia merengut. “Wow, itu kata-kata yang kejam.”

“Hehehe. Terserah,” balasku santai. Lalu mulutku kembali gatal, “Fan, memangnya kamu pertama kali tahu coli dari mana? Ada yang ngajarin, atau...

PLEASE…!” dia langsung menggertak. “Kenapa masih ngomongin ini? Sudah kubilang ini aneh, tahu nggak? Aku nggak mengira perjalanan ini ternyata menjadi kesempatanmu untuk mengeksploitasi privasiku!”

“Tepatnya: mengeksploitasi kehidupan seksualmu!” aku meluruskan. “Dan ini kulakukan, karena kamu men-judge bahwa aku punya sisi homo.”

“Tapi yang kulakukan tak separah caramu mengorek masalah pribadiku!”

“Sebenarnya aku sama sekali nggak tertarik sama masalah pribadimu, kok,” balasku berkelit. “Aku cuma mau menguji hasil pemikiranku. Saat tadi kubilang, ‘otak cowok ditakdirkan untuk menjadi liar dengan sendirinya’, itu tercetus begitu saja. Kalau kamu tahu soal masturbasi secara otodidak, berarti kamu mewakili pemikiranku itu…”

“Dan kalau kamu masih ngotot membicarakan ini,” dia langsung menyahut dengan nada ultimatum, “akulah yang akan mengujimu secara lebih ekstrem!”

“Wow. Ngancam?” cibirku geli. “Menguji secara lebih ekstrem? Kayak gimana misalnya?”

Tiba-tiba dia menepis tanganku dari atas keyboard. Dia bergerak cepat mengetik sebuah URL, lalu…

“Ini!”

Sebuah situs berisi cowok-cowok beradegan mesum terpampang jelas di depan mataku!

DAMN…! Cepat tutup, gila lu!” aku mengumpat dan spontan mengamankan pandanganku. “Jijik gue! Tutup!”

“Kenapa jijik? Bukankah kamu punya sisi gay?”

“Sampai mati nggak bakalan! Tutup!”

“Baiklah. Tapi janji dulu, kamu nggak akan kepo lagi soal privasiku! Kalau kamu melanggar, bagaimana caranya akan kukirim apapun yang bisa bikin kamu muntah di layar HP-mu. Setuju?”

“Iya, iya! Lu tuh udah jadi psycho, tahu nggak!” umpatku.

Dia tertawa menang. “Aku psycho, kamu pervert!”

Situs mesum itu ditutupnya. Aku menghela napas lega. Benar-benar rusak otaknya Fandy ini!

Baru sebentar merasa lega, tiba-tiba ada jendela chat nongol di monitor…

“Kalian lg ngomongin apa? Kenalan donk?” sapa pengguna dari bilik nomor delapan, yang artinya adalah bilik di sebelah kami.

Sekarang aku dan Fandy sama-sama melongo, berpandang-pandangan dengan prasangka aneh. Tanpa berkata-kata, kami sepakat bahwa menyudahi sesi ngelantur di warnet ini adalah tindakan terbaik. Billing kututup, kami segera meninggalkan bilik. Kami melewati bilik nomor delapan itu dan bisa melihat sekilas siapa yang ada di dalam sana

O my God….” aku meneguk ludah.

“Ternyata om-om….” celetuk Fandy.

Aku membayar tagihan sebentar di meja operator. Lalu segera keluar menyusul Fandy yang sudah lebih dulu. Dia berdiri di depan pintu menahan tawa.

“Sekarang bukan cuma kamu yang nuduhaku homo. Kampret!” makiku, meninggalkan warnet dengan kesal. Berjalan kembali ke arah terminal. Dia masih tertawa-tawa sambil mengikutiku.

Sambil jalan, kuketik SMS untuk Mas Awan, “Mas, sy sdh di trmnal Negara.” Aku masih berpikir, di mana tempat yang nyaman untuk menunggu. Aku mengarahkan pandangan ke pasar depan terminal. Ada sebuah pohon rindang dengan bangku di bawahnya, berada di samping sebuah kedai Ayam Betutu bernama ‘Warung Ketut’. Kulanjutkan ketikanku, “Sy nunggu di Wrg Ketut, pasar depan trmnal.” Barulah kukirim pesanku.

Aku mengajak Fandy menunggu di situ.

Balasan Mas Awan sampai, “Ya, sy tiba di stanplat 15 mnt lg.”

Stanplat? Sepertinya bukan salah ketik, tapi apa maksudnya ‘stanplat’?

 
 

-dengarkan musik-

 
 

“Menurut dugaanmu, Mas Awan orangnya seperti apa?” Fandy bergumam menyodorkan pertanyaan.

“Tadi kamu bilang kamu nggak mau aku jadi gay. Sekarang kamu nyuruh aku ngebayangin cowok?” tukasku.

“Kenapa jadi sewot banget gitu? Aku nggak nyuruh membayangkan yang aneh-aneh, kok. Kita harus berdua di sini seperti anak hilang, tanpa bikin obrolan apa gitu?”

“Apa nggak ada basa-basi yang lebih penting? Apa pentingnya menebak-nebak seperti apa wujudnya Mas Awan? Dia mau kurus dekil atau gendut gimbal, yang penting dia bisa bantu kita.”

“Hmmm. ‘Basa-basi yang penting’ itu yang seperti apa?” sahutnya malas.

Kami tak bicara lagi. Menunggu tanpa obrolan. Hanya melempar mata kesana-kemari, melihat suasana pasar yang cukup ramai.

“Saat ketemu Dimas nanti, apa yang pertama kali akan kamu lakukan?” Fandy memulai basa-basi baru.

“Kupukuli. Baru kuajak bicara,” cetusku cuek.

Dia tertawa kecut. “Aku akan membantunya melawanmu.”

“Kalian nggak bisa menang lawan aku.”

“Kamu selalu pura-pura keras. Tapi kamu bukan orang yang kebal air mata. Iya, tho?”

Sindirannya mengusikku. Dia nyengir menertawaiku.

“Maksudmu, kalian mau berdrama nangis bombay memohon-mohon biar aku terharu dan nggak jadi melampiaskan kekesalanku?”

Dia menggeleng. “Tak perlu begitu.”

“Terus?”

Dia diam beberapa saat. Termangu mengulas senyum, seperti menerawang sesuatu. “Entahlah, Den. Aku merasa bahwa sebenarnya Dimas tak serapuh yang kita kira. Dia sedang tertekan saat memilih pergi, aku tahu, karena aku mengalami dan merasakan hal yang sama. Tapi sejauh yang kukenal, dia adalah orang yang akan merenungkan dalam-dalam apa saja yang diperbuatnya. Apalagi menyangkut tindakan yang seserius ini. Bisa dibilang, dia tak pernah seserius ini, kan?”

Pikiranku sedikit tertiup oleh ucapan Fandy, terbawa arah pikirannya itu. “Terus, menurutmu apa yang sebenarnya dia lakukan ini?”

“Hmmhhh…. Dia tak sekedar pergi. Aku tak tahu pasti, tapi aku percaya ini semua bukan karena keegoisannya.”

Aku tersenyum agak sinis. “Selama hampir dua tahun kalian pacaran, ternyata kamu masih belum mengerti keegoisannya?”

“Aku tahu kok, dia kadang egois. Tapi kurasa dia tak akan melakukannya terhadap keluarganya sendiri, terlebih untuk masalah seserius ini.”

Aku terdiam. Berharap ucapan Fandy itu benar. Meski itu berarti sungguh ironis, karena ternyata dia lebih mengerti Dimas dibandingkan aku. Dibandingkan keluarganya sendiri. Tapi tetap kuharap, ucapan Fandy benar….

“O ya, bukankah tadi kamu menyinggung soal standard yang tinggi untuk pendamping kakakmu?” sekarang dia terdengar agak menyombong. “Setelah tadi kamu menanyaiku yang aneh-aneh, kesimpulannya: apakah aku memenuhi standard itu?”

Hmmm…. Kurasa kali ini dia ingin konteks yang serius.

Aku tertawa datar. “Anggap saja perjalanan kita ini sebuah cerita. Aku akan pakai pendapatmu, bahwa cerita cinta adalah soal pembuktian. Kita lihat nanti, apa yang bisa kamu buktikan.”

“Wajar kalau kamu masih meragukanku,” gumamnya datar.

“Sebenarnya, aku juga masih meragukan Dimas.”

Alisnya mengerut. “Setelah semua dukunganmu selama ini?”

Aku mengangguk. “Menurutku, perkara ini mendahului umur kalian. Kamu nggak merasa begitu? Aku ingat kamu pernah bilang, bahwa usia muda bukan berarti tak mengerti cinta, sebab yang tua pun belum tentu lebih mengerti. Tapi nyatanya, saat ini kita sedang terseret gara-gara apa?”

Dia tercenung, terlihat diliputi keraguan. Seperti merasa tak setuju dengan pendapatku, tapi juga tak keluar sangkalan dari mulutnya.

Aku tertawa masam. “Aku nggak bilang aku selalu benar. Aku juga nggak selalu cuek.”

Mungkin ucapanku itu bisa sedikit menghiburnya.

Sebuah mobil Kijang merah berhenti memarkir di pelataran depan pasar. Seorang laki-laki turun keluar, pandangannya langsung menuju ke kami. Posturnya sedang, berkemeja casual, karakter wajahnya agak serius. Tapi saat dia tersenyum, rautnya itu menjadi wajah serius yang ramah. Dia punya keyakinan yang begitu tinggi, sebab dia langsung menghampiri dan menyapa dengan bahasa yang begitu akrab….

Bli Denis, apa kabar?”

Aku berdiri membalas jabat tangannya. Keyakinanku pun sama tinggi, “Agak capek. Tapi baik, Mas Awan.”

 
 
 
 

 bersambung…

 
 
 

 

101 responses to “Karung 13

  1. noelapple

    12 Mei 2014 at 14:52

    Terima kasih sudah membaca. Maaf ya, telat update-nya.🙂

     
    • teyo

      18 Mei 2014 at 20:51

      Ah, sudah biasa

       
  2. Babayz

    12 Mei 2014 at 15:34

    Awwwww…..udah deg2an denis bakal ngapa2in sama fandy,tapi untunglah ga terjadi,tapi sempet mikir juga kok ttg rencana upload foto tidur dikereta…ternyata bayanganku bener juga,,,

    Keep update mas,bakalan lama lagi nih nunggunya….jangan lupa heartbreak ricky!! :))

     
  3. ommo

    12 Mei 2014 at 15:44

    Seharusnya kita yg harus bilang makasih lhooo…
    makasih karena telah bikin cerita yg menarik untuk dibaca dan selalu dinanti kapan akan muncul kelanjutannya ^_^

     
  4. Aaron Steve

    12 Mei 2014 at 15:51

    Obrolan Denis dan Fandy sama seperti obrolan Denis dan Dimas. Tapi lebih ekstrim Denis dan Fandy, karena sama2 tak ada yang mau mengalah.

     
  5. kim juliant

    12 Mei 2014 at 18:26

    Makasih mas noel
    Seru bgt dah…
    Ngak ada yg mau di omongin lgi..
    Tulisan mas noel oke bg deh..

     
  6. Raja Ampat

    12 Mei 2014 at 18:30

    waaahhhhh sempah teraphy shock saat tau kelanjutan ceritanya bakal kayak gini (di luar dugaan) hahahaha😀 awasome bngt lah bang Noel (y)🙂
    tapi jadi dikit curiga ma si Denis *senyum sinis
    Thanks a lot yah bang Noel udah upload karung 13 nih

     
  7. tegarcikacakti

    12 Mei 2014 at 19:11

    Awsome bang
    Diluar dugaan

     
  8. kim juliant

    12 Mei 2014 at 19:59

    Mas noel..
    Aku paling suka dengan jawaban2 fandy tentang pertanyaan denis…
    Top bgt ceritanya…

     
  9. Lims

    12 Mei 2014 at 20:08

    oke ini komen pertama setelah diem-diem baca CRA. hehe maap ya bang jadi silent reader :] gue sama kaya dimas sih, stalker wkwk. makasih bang udah bikin cerita ini, suka pake banget! unpredictable dan gak mainstream.

     
  10. dontbesyai

    12 Mei 2014 at 22:17

    Ha ha ha ha…. Seperti yg saya duga. Tapi Noel menepati janji bahwa karung 13 ini benar-benar crot!!!

    ^_^’

     
  11. dontbesyai

    12 Mei 2014 at 22:22

    30 detik pertama yg mendebarkan…. Tapi seperti yg saya duga, it’s not going to happen. However Noel beneran menepati janjinya bahwa karung 13 ini benar-benar CROOOTTT!!!

    ^_^’

     
  12. Ryan

    12 Mei 2014 at 22:59

    udah di duga mana mungkin bang noel ngeposting yang CROTTT dalam arti sebenernya
    tapi alurnya makin bagus

     
  13. onky

    13 Mei 2014 at 00:36

    Ahoy aakhirnya baca juga :3 tadi awal bacaa sempet berfikir bakal ada adegan denis selingkuh ma fandy wkwkwkwkwkkw. Ternyata tidak, syukur kalau begitu. Paling suka pas denis ma fandy debat😀 kayak ilk hahahahahahahahaha. Semoga kedepannya cepat keluar lanjutannya😀 amin

     
  14. echox

    13 Mei 2014 at 03:07

    wahahahahahahha abang gw gak jd omnivora😀
    syukur dah

     
  15. autoredoks

    13 Mei 2014 at 10:32

    mas.. nitip pertanyaan buat denis
    “den, elu gak inget apa yg terjadi sama elu, laptopnya dimas, sama maria ozawa pas liburan ke solo dulu?? pake gak ngaku di depan ipar segala..”

    makasih updatenya mas.. walopun awal2 aq masih belum sadar apa yg tjd tp bener2 crot..

     
    • noelapple

      13 Mei 2014 at 22:53

      Jawab Denis, “Ada bokep di flashdisk gue, tapi hampir nggak pernah gue buka. Itu bokep yang ngasih teman kok.”

      “Terus, kalau gitu kenapa nggak dihapus aja?”

      Jawab Denis, “Biar pantes dikit lah. Kan cowok, masa nggak kenal bokep?”

      Absurd kan?

       
      • autoredoks

        14 Mei 2014 at 21:03

        ketahuan kalo denis jaimnya tingkat nasional..

         
  16. kazekage

    13 Mei 2014 at 17:03

    Hahahaaa, lega karna ga masuk losmen. Malah masuk warnet. Tp kecewa juga sih, hehe

    Btw, Datang lagi si ganteng mas awan.. Jdi kangen cerita Dibawah Langit Bali. Indah sungguh si denis, eh indah ceritanya maksudnya..hehe

     
  17. Galih

    13 Mei 2014 at 19:50

    Keren cerita nya ,lanjutkan mas Noel

     
    • noelapple

      13 Mei 2014 at 22:45

      ah masa?

       
      • Galih

        23 Mei 2014 at 09:18

        Serius loh mas , ,tiap hari buka ini blog buat liat udah ada apa belum lanjutan nya . .eh ternyata belum ada . .hehehehe . .salam kenal mas

         
      • noelapple

        23 Mei 2014 at 18:50

        ah masa?
        salam kenal.

         
  18. barkikii

    13 Mei 2014 at 20:16

    Komen pertama saya ni mas noel… saya udah baca semua tulisan mas noel… kerenn bgt !!!
    Setiap malem saya selalu buka blog mas noel kadang baca sampe subuhh

     
    • noelapple

      13 Mei 2014 at 22:43

      ah masa?

       
      • barkikii

        14 Mei 2014 at 23:52

        Beneran mas noel …
        ni lg buka blog mas noel, padahal lg sakit ini tp gpp demi cerita yg bagus harus rela bgadang lg… hihihi

        keep writing a good story ya mas noel

         
  19. BlackBox

    13 Mei 2014 at 22:54

    Makin hari makin bikin penasaran. hhe
    itu si fandy punya ilmu filosofi yang kuat.
    tapi si denis aja yg ngelantur nggak jelas.

    sip mas, ditunggu kelanjutannya.🙂
    HBR apa kabar mas? :p

     
    • noelapple

      13 Mei 2014 at 23:00

      Fandy jagonya ngomong yang dalem-dalem.
      Denis rajanya ngebokis, kepo, dan gudangnya akal bulus. Tapi: loveable.

       
      • BlackBox

        21 Mei 2014 at 22:22

        loveable ya? ….. setuju sangat :v

         
  20. yoga

    14 Mei 2014 at 08:32

    keren2 kak , g sabar nunggu kelanjutane …

     
  21. veer

    14 Mei 2014 at 14:22

    Loh loh. Tunggu! Memorinya dennis gak dicabut dari komputernya!?

     
    • noelapple

      14 Mei 2014 at 22:07

      Kadang tak setiap bagian hrs detil.

       
  22. Aaron Steve

    15 Mei 2014 at 06:25

    CRA3 ini latar belakang tahun berapa ya?

     
  23. FitriaN

    15 Mei 2014 at 12:04

    Di CRA itu aku suka kalo ada perdebatan pakai bahasa formal🙂

     
    • noelapple

      15 Mei 2014 at 21:54

      yg suka sok formal itu Fandy. kalau Denis woles.

       
  24. AditaKID

    15 Mei 2014 at 14:17

    Wkwkwkwk..
    Udah curiga yg aneh2..
    Udh mikirin yg bukan2..
    Ternyata itu to rencana Denis..
    Pinter jg dia. 😄
    Dan wow sekali pembicaraan Denis sma Fandy d bilik warnet..
    Sampe2 menarik perhatian om-om sebelah.😄
    Tp serius geh, itu pembicaraan yg “cowok” banget..
    Saya jd ketawa2 bacanya..
    Sebenernya Denis sma Fandy itu sma2 pinter.. pinter ngomong dan pibter ngeles😄
    Oke.. Karung 13 ini sangat2 menghibur..
    Mereka udh ketemu Mas Awan..
    Tinggal lanjutkan perjalanan mencari Dimas..
    Yosh lanjutkan~
    Lanjutannya saya tunggu geh..
    Nice Story~
    I Like It..

     
    • noelapple

      15 Mei 2014 at 21:56

      jangan bahas itu sama cowokmu ya. ntar dia ngelunjak. nasihat nih.

       
  25. emyu

    16 Mei 2014 at 15:47

    full ngakak!😄

     
  26. segoro

    16 Mei 2014 at 23:08

    ha..ha.. lega!!!!!!!!!!!! keren Noel! pake banget

     
  27. Fadhil_ardhana

    17 Mei 2014 at 05:41

    Ini baru parodi, Full croot bagt.
    Haha,,

    Daya tarik ceritamu itu ada di bagian bersambungnya.. .. ..

    Yg ngarang cerita ini jago banget bkin karakter orang , .

    #ah masa ?

     
  28. ray_har

    18 Mei 2014 at 05:22

    daan yang gak kalah serunya dengan cerita ini adalah balasan komen dari Mas Noel…. haha

     
    • noelapple

      18 Mei 2014 at 18:42

      hmm. masa?

       
      • ray_har

        19 Mei 2014 at 16:46

        hmm. iyaa🙂

         
  29. Fadhil_ardhana

    18 Mei 2014 at 21:25

    Ħèëé=D˚•‧::‧•‎ ​‎​‎​˚ћèé=D˚•‧::‧•‎​‎​‎​˚Ħèë
    Sip Ɓȃήƍeєë†††, lain kali crootnya tambahin, biar banjir bang noel…

     
  30. reno

    19 Mei 2014 at 09:43

    Kereeeeennnn….
    Tpi saya masih penasaran dari mulai Keranjang, Kantong, trus Karung belum ada yg menceritakn dimana Dimas bisa mendapatkan hatinya Fandy. Tiba2 sajaa Dimas udah jadian sama Fandy. Dan di cerita Karung tidak di ceritakan. Tiba2 cerita Dimas udah jadianame Fandy yg udah berjalan selama 2 tahun. Kalopun ada cerit tentang perjalanan Dimas untuk. mendapatkan hati seorang Fandy pasti menarik bgt.

     
    • noelapple

      19 Mei 2014 at 21:38

      ih, kamu telat.

       
      • eko

        21 Mei 2014 at 17:13

        iya telat tu
        dibagian fandy menerima dimas untuk jd pacar ,.didepan kantin setelah acara pementasan diaula dan hari jadiannya diintip denis ..tepatnya kantong 39 itu …
        sangat berkesan buatku bang noel,.ngebacanya sampai berkali kali

        moga moga bs terulang lagi moment itu, di hari ketemunya dimas ..dgn fandy…

         
      • Agung Nugroho

        23 Mei 2014 at 15:54

        mas, emang ada ya kantong 39? kalau ada bagaimana saya bisa mendapatkannya, maklum baru baca kisah ini

         
      • noelapple

        23 Mei 2014 at 18:52

        cari aja link nya di kantong 39.

         
      • noelapple

        23 Mei 2014 at 18:52

        cari aja link nya di kantong 38.

         
  31. ri2

    19 Mei 2014 at 11:32

    “Ada imajinasi-imajinasi yang bagi kita akan lebih indah jika tetap menjadiimajinasi saja. Tidak perlu direalisasikan.”
    yupss !!!! setuju bgt kadang imajinasi hrs ttp jd imajinasi agar ttp indah ….
    gokil bgt ya obrolannya fandi ama denis, asli memacu adrenaline bikin
    seru abisss ….
    kkkkkkkkk…..
    but Don’t try that at warnet ya guys !!!!
    “crot – crot d warnetnya ”
    but, mas noel apa itu pengalaman pribadi mas noel nemuin yg crot2 d warnet ?????😀

     
    • noelapple

      19 Mei 2014 at 18:01

      Betul, pengalaman pribadi. Dan saya sama marahnya seperti Fandy.

       
  32. Tom

    19 Mei 2014 at 20:57

    Kalo soal cerita, gaperlu komen deh… tapi aku suka musik musik yang mas noel masukkin di cra3 ini jadi makin menjiwai bacanya🙂 keep update ya jangan lupa lagu lagunya juga hahahaha…..

     
    • noelapple

      19 Mei 2014 at 21:37

      ohh..

       
      • arga

        24 Mei 2014 at 03:23

        Bang kelanjutannya kapan nih?? Dah gak sabar pengen tau kisah selanjutnya,

         
      • noelapple

        24 Mei 2014 at 18:03

        ah masa?

         
  33. putrayuszar

    23 Mei 2014 at 01:03

    seperti biasanya, selalu mengundang decak kagum..

    jujur dari karung 1 sampai skrg (13) aku merasakan bahwa perubahan feel cerita bener2 dapet.. mungkin ini ya jadi alasan kenapa bang noel lanjut ceritanya dua tahun berselang biar ngelepas feel dimas dari gaya cerita ya bang.. (oke ini asal nebak, just my opinion).

    unfortunately, kita hidup di negara yang masih belum menerima warna lain di kehidupan.. kalau menerima, mungkin bang noel udah seminar kepenulisan di berbagai kampus :p

    and, selalu lagu yang ditawarkan cocok di telingaku bang… hahaha.. sekarang referensi laguku itu dari karya2nya bang noel.. liat lagu indonesia zaman sekarang cuma bisa bilang “iuuuhh..”

    lanjut ya bang, jangan nunggu 80 komentar dong.. :3

     
    • noelapple

      24 Mei 2014 at 18:11

      sebenarnya bkn cuma itu. aku juga butuh menulis selain CRA. kalau cerita yg sama terus pasti akan bosan.

      soal penerimaan masyarakat, tak melulu menolak kok. ada banyak jg yg toleran.

       
      • zzzzz

        25 Mei 2014 at 15:06

        menulis selain CRA???
        HBR gitu ???? aaaaakkkkkkkk #histeris

         
      • noelapple

        25 Mei 2014 at 18:37

        ih, berisik.

         
  34. Nait

    23 Mei 2014 at 14:49

    Perbincangan yang menarik…

    Oh…
    Ah, masa?

    -,-

     
  35. rebelicious

    24 Mei 2014 at 06:34

    ga ada penjelasan kalo denis nyabut microSDnya dari komputer. ga ada penjelasan fandy ngelog out fbnya juga. mereka kayak buru2 cabut gara2 ada gadun gatel.
    bakal jadi masalah baru gak ya itu?

     
    • noelapple

      24 Mei 2014 at 18:02

      nggak. seperti kubilang sebelumnya, tidak semua hal harus sedemikian detil.

       
  36. bannybaladewa

    24 Mei 2014 at 07:23

    Gak tau kenapa part ini punya daya tarik tersendiri atau punya “faktor X” sehingga daya membacanya berulang ulang.percakapan mereka berdua sangat berbobot, salah satu perkataan fendy yg paling aku suka “Kamu punya ‘faktor X’ yang sulit dirumuskan secara teori, tapi yang pasti itu membuatmu sangat menarik. Kamu menyebalkan. Tapi loveable.”

     
  37. aan

    24 Mei 2014 at 15:50

    jujur ini novel yg pertama kali aku bc smpae bbrp seri,, aku gk prnah srius bca novel mungkn cma 15 lmbar sdah bosan,,tulisanmu ini luar biasa bgus mnrutku aku gk ngerti dn gk ska satra. aku seorng mhsswa fisika spt tman2 ku yg ain ank fisika sngt mlas bca crita,, awalnya aku iseng tp terlnjur hanyut dn smpt m.nitikkan air mata juga krn crita cinta dimas dn erik prnah ku alami 1 ato 2 bln llu hnya saja aku brpran sbgai erik dn dimas diprankan oleh seorng cwe,, yg ku lkkun jga sma spt erik (menolak dn mencritknnya) dn aku m.nyesal stlah bca critamu,, aku mrsa sngt berslah sma spt erik,, perbdaannya jga erik mnolak krn tdk sk cwo dn aku sbliknya,, mmang popularitasku jga spt erik oleh krn aku ktua umum dr orgnssi bsar d.kmpus ku bkan brt ank fisika itu culun dn bnyk jga cwe yg ska pdku ak sdh bosan pcran sma cwek krn rsa ska kpd mrka cma 40% slbihnya ya pham sajalah,, maaf aku curhat d.sini krn aku tak punya org yg bsa ku ajak curht spt denis

     
    • farezwong

      27 Mei 2014 at 05:11

      nah ni km dpt tmn byk,,, tp km pny pcr co,, kn,, cerita sjmsm dia

       
  38. wahyu

    24 Mei 2014 at 20:22

    🙂 keren! gabosen bacanya

     
  39. Andra

    24 Mei 2014 at 22:41

    ini udah ada novel.y gak …
    bisa di pesan gak ?

     
    • noelapple

      25 Mei 2014 at 18:41

      aduh… aku bingung jawabnya.

       
      • Andra

        27 Mei 2014 at 12:45

        kok bingung ..
        gw suka ma crita cowok rasa apel tapi lebih bagus baca.y kalau dalam bentuk buku.

         
  40. Yudha

    24 Mei 2014 at 23:05

    Setuju dengan komentar bannybaladewa, saya menanggapi bahwa Bang Noel selalu mampu memberikan kesan implisit maupun eksplisit yang baik dalam cerita ini, meski saya tidak memiliki ability dalam menilai suatu tulisan (bidang sastra) namun saya rasa Cowo Rasa Apel sangat bagus untuk dinikmati dalam segi ceritanya. Saya jarang atau bahkan hampir tidak pernah menemukan ada adegan vulgar dalam cerita, paling mentok juga hanya percakapan tentang (maaf) ukuran sosis. Selebihnya hanya konflik yang dramatic tapi lumayan berkelas, tidak sampai over.
    Saya merasa seperti ‘this is it’ karena selama ini saya tidak pernah menemukan cerita gay yang (seriously) sangat romantis. Saya pribadi suka dengan pria tipe talkactive dengan percakapan ringan tapi serius dan lucu serta romantis. Dan dalam cerita ini, itu tuh yang benar-benar saya temukan semuanya dalam satu paket. Mungkin ini terdengar terlalu berlebihan, tapi jika dibandingkan dengan novel chicklit, romantisme dalam cerita ini memiliki nilai plus plus! (ini baru lebay dan oke ini terlalu subjektif).
    Mengenai background cerita mereka yang masih SMA, ini bener-bener bikin saya pengen kembali ke masa SMA juga! Karena feel dari cerita ini memang dapat banget. Karakter masing-masing tokoh sangat kuat, apalagi Dimas. Semua tokoh memiliki peran dan setiap kali mereka mendapat sebuah permasalahan, bagian yang paling saya sukai adalah bagaimana cara mereka yang solve problem dengan cara-cara sederhana. Seperti contoh ketika penyelesaian masalah coming out di tempat sekolah BP dan pertemuan antara orang tua Fandy. Pembicaraan masing-masing tokoh yang terlibat perlu saya ambil sebagai hal yang ‘lesson learned’. Dan saya garisbawahi, saya amat berterimakasih karena secara tidak langsung bisa belajar me-manage diri sebagai seorang gay yang baik dan tidak mau dipandang rendah. Cowo Rasa Apel mengajari semua orang gay agar dapat mengekspresikan diri dengan sederhana dan tidak perlu takut dengan masyarakat homophobic yang dominan, asal kita tidak merugikan kehidupan orang lain dan memiliki pribadi cerdas yang tidak akan dihina-hina.
    Last ya buat Bang Noel, tolong jangan reply Balasan ini dengan ‘masa??’.
    Thankyou.
    Hehehe.

     
    • noelapple

      25 Mei 2014 at 18:40

      aduh, kepalaku membesar.

      (ah masa?)

      matatih.

       
  41. 小豆阿部

    25 Mei 2014 at 09:13

    ughh… udah galau mikirin kelanjutannya. jadi-deg-deg-serrr gitu!!

     
  42. heri ristianto

    25 Mei 2014 at 13:18

    Alur cerita yg tidak dengan mudah di tebak oleh pembaca..
    Sudut pandangnya berubah dimana pada “cowok rasa apel 1dan 2 menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu dimas namun pada cowok rasa apel 3 “rumah pohon” berupah menjadi sudut pandang orang pertama yakni denis yg sbelumnya dimas,
    Ada adegan fandy yg berada di toilet dengan bule philip membuat pembaca kecewa sebab adegan atau dialog ini hanya sebatas pewarna yg tdk mempengwngaruhi kejadian sebenarnya…..

     
    • noelapple

      25 Mei 2014 at 18:38

      adegan di toilet itu dinamika kepribadian. bahwa mereka sudah gede.

       
  43. wahyupratamaa

    25 Mei 2014 at 18:49

    gak mas, udah baca dari desember 2013, cuman baca terus, tapi g pernah komen, trs baru kepikiran, salah satu cara apreciate karya mas, ya kasih komen, biar mas tau banyak yang baca, dan suka🙂 keep writing mas!

     
  44. Bona

    25 Mei 2014 at 21:08

    Mas Bighead (gapapa kan dipanggil gini hehe), abis baca CRA3 jadi pengen ke Bali nih… Enggak pengen nerka-nerka ah, gue jadi pembaca baca-tunggu-baca-tunggu aja hehe

     
    • noelapple

      26 Mei 2014 at 12:44

      Ah, saya malah sudah ke sana. Tapi memang pingin lagi.

       
      • dontbesyai

        26 Mei 2014 at 12:58

        Coba sekali-sekali diadakan jumpa darat para pembaca CRA. Mungkin di Bali. Mungkin pada saat launching karung terakhir dari CRA3.

        Masak sih gak ada yg berminat?

         
      • noelapple

        26 Mei 2014 at 13:41

        sayanya yang grogi.

         
  45. afif fatkhurahmanfif fatkhurahman

    26 Mei 2014 at 21:36

    tadinya mau buka web cerita porno, tp dapet link novel ini…haha..jadi ketagihan baca sampe larut, dan gak jadi ngeres…hihihihi..thanks broda

     
    • noelapple

      27 Mei 2014 at 04:46

      syukurlah, cerita yg tidak porno ini telah menembus lingkungan porno.

       
  46. dontbesyai

    27 Mei 2014 at 03:31

    Ah masa?

     
  47. yanz

    27 Mei 2014 at 09:00

    pokoknya tetap seruuu!!!!!!!!!!!!!!!!!

     
  48. dian kusuma

    27 Mei 2014 at 20:30

    fandi tertidur dipundaknya denis. Dimana mesranya ya?😉

     
  49. Yudha

    27 Mei 2014 at 21:21

    Mas Noel. Boleh sampein ini saya ke Dimas?
    “Mas, kaburnya ke tempat gw aja, di Jimbaran. Ntar kita kawin lari aja.”
    Thankyouu!

     
  50. wiikun

    29 Mei 2014 at 00:06

    hahaha sejak baca CRA 3 ini jadi suka sama moment2nya denis-fandy, sifat keduanya beda tapi sama2 keras kepala, jadi cerita yg seru & lucu xD
    kalo di foto yg diupload mereka berdua itu, ada satu orang yg miss dari setting privacy fb nya fandy (bukan cuma dimas & ben) pasti… hahahaha xD

     
  51. purie

    4 September 2015 at 19:40

    iyasih denis aneh2 ajah nanya ke fandy…gilak emang tuh anak…otaknya taroh dimana den???*plakk

    emang denis tuh kalo nanya suka njeplak…
    becandanya mereka kejauhan parah
    tpi gw ngakak seh…palagi pas poligamu itu ngahahahaha sarap ah sarap wkwkwk

     
  52. Kodil

    28 Maret 2016 at 17:12

    Ekspektasi dan pikiran gue ketinggian gak sih sampe bayangin awan tuh kayak mario maurer yang lagi pake baju adat bali dengan ikatan di kepalanya? Lol
    Maaf mas bukan spam, cuma yaa kalo aku pribadi seneng aja kalo ada yg komen di ceritaku. Semoga mas noel juga gak terganggu ya

     
    • noelapple

      29 Maret 2016 at 12:00

      Bukan. Awan nggak secakep itu.

      Ceritamu yg mana?

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: