RSS

Karung 17

 
 

Karung 17

Kurva

 
 
 

“Kenapa, Bli?” Durus menyapa.

“Nggak kenapa-napa. Kenapa?”

“Kok, sendirian saja di sini?” Lalu sambil menunjukku, “Dan pakai bunga jepun segala?”

“Kenapa memangnya?”

“Salah taruh, Bli. Harusnya bunga jepun ditaruh di kuping kiri.”

Aku mengernyit, “Kok di kiri?”

Dia terkekeh cengengesan. “Dikira cuma buat ganteng-gantengan ya, Bli? Ada artinya, Bli! Ditaruh di kiri, artinya orang hidup itu selalu butuh petuah yang baik.”

“Kalau begitu kenapa bukan di kanan saja? Biasanya yang dianggap baik itu yang kanan?”

Durus mencomot bunga kamboja dari kupingku, lalu memasang di kuping kirinya. Tangannya meliuk-liuk berlagak seorang penari, sambil bibirnya nyerocos, “Justru karena kiri itu bagian yang tabu, bunga jepun harus ditempatkan di situ, Bli. Bunga jepun adalah kesukaan Hyang Dewata Agung, untuk menangkal bisikan-bisikan yang buruk di telinga kita….”

Dia cocok jadi pemain kethoprak.

“Gitu, ya? Tapi setahuku, kalau ditaruh di kanan, berarti pemakainya masih lajang?” celetukku.

“Oooo, jadi itu maksudnya Bli pakai di kanan?!” dia menimpal, segera disambung dengan tawa lagi. Lalu duduk di sebelahku, dia berujar, “Di sini tidak ada aturan seperti itu, Bli. Mungkin itu berlaku di tempat lain, tapi di sini tidak ada.”

Hmhh. Entahlah, mungkin aku memang salah ingat saja soal itu. Buatku nggak penting juga, sih. Cuma iseng.

“Jadi Bli masih jomblo, tha?”

“Nggak usah dibahas.”

Dia tertawa pendek menanggapiku. “Sudah jomblo, duduk sendirian… memangnya teman Bli ke mana? Itu, tunangan-nya Dimas?”

Aku mengangkat bahu. “Tadi dia lihat-lihat ke bagian souvenir. Nggak tahu kalau sekarang.”

“Ooo…,” sahutnya manggut-manggut. “Dimas saja sudah punya tunangan, masa Bli belum?”

Please, nyebutnya jangan tunangan, dong!” lama-lama aku kesal dan protes juga. “Aku ngerti itu bahasa Bali, maksudnya pacar. Tapi buat aku, yang bukan orang Bali, kata ‘tunangan’ itu kesannya kayak udah serius mau jadi suami-istri. Jadi kalau aku dengar ‘Fandy tunangan sama Dimas’, rasanya tuh aneh…!”

Durus bengong sesaat memandangiku. Lalu tersenyum kecut. “Bli tak setuju, ya, sama hubungan mereka?” tanyanya, melandaikan nada bicara.

Aku buang muka. “Menurutmu?” pancingku.

Si gembul kocak di sebelahku garuk-garuk kepala. “Kalau tak setuju, ya wajar, Bli.”

“Kenapa menurutmu wajar?”

“Yaahh… karena…,” dia berpikir-pikir beberapa saat sebelum nerusin ucapannya, “hubungan seperti itu bisa dikatakan melawan arus. Melawan arus itu berat, Bli. Kalau tak kuat bisa terhempas, plasss…, hancur! Dimas orangnya baik, kalau Bli sebagai saudara merasa cemas, ya itu dapat dimengerti.”

Aku terpekur mendengarnya. Dan akhirnya bisa sedikit tersenyum. “Aku bukannya nggak setuju dengan hubungan mereka, kok.”

“Terus?”

“Aku cuma masih ngerasa aneh aja kalau mendengar di umur yang sekarang mereka sudah ‘tunangan’. Ntar aja, lah… kalau udah tuaan dikit! Umur dua tiga, atau dua empat, baru enak dengarnya!”

Bok! Bahuku ditabok, sambil dia terpingkal-pingkal. “Bli ini lucu! Intinya bukan istilah yang dipakai, Bli, tapi bagaimana hubungan itu dijalani. Umur mereka memang masih jauh dari usia nikah, tapi Bli yakin selama ini mereka tidak pernah berduaan… sampai yang…?”

Kalimatnya terputus dan mulai absurd.

“Sampai apa?!” tukasku.

Dia meringis, memperagakan telapak tangannya saling bertumpang-tindih. Lalu peragaannya berganti lagi: dia jepitkan jempolnya di antara telunjuk dan jari tengah, digitu-gitukan. Kutampol tangannya yang porno itu! Tawanya malah tambah meledak.

“Realistis sajalah, Bli! Anak jaman sekarang!” selorohnya. “Apalagi laki-laki itu lebih nafsuan. Dan mereka sama-sama laki-laki. Benar tidak, Bli?”

“Aku juga sudah pikir itu, dan aku tetap nggak suka!” sergahku. “Cuma aku nggak bisa apa-apa buat nyegah, karena mereka nggak mungkin bilang-bilang kalau mau gituan. Tapi pokoknya aku tetap nggak suka dengarnya kalau mereka disebut ‘tunangan’. Sebut saja mereka ‘pacaran’, titik!”

Durus malah tambah terpingkal-pingkal. “Ya gimana lagi, Bli? Di sini yang namanya ‘pacar’ itu ya ‘tunangan’. Sama saja.”

“Pokoknya aku nggak suka!” tukasku, ngotot. “Mungkin aku memang musti pakai kembang di kuping kiri, ya? Biar omonganmu berubah jadi yang baik-baik.”

Bli salah paham. Tiyang ini bukan mau dukung mereka agar gituan. Mereka melakukan itu atau tidak, tiyang juga tak tahu. Tapi ya realistis sajalah mikirnya. Hehehe….”

Aku mendiamkannya. Dia akhirnya juga diam sendiri. Tapi cuma sebentar.

“Saya boleh tanya ya, Bli. Sebetulnya, Bli merestui hubungan mereka atau tidak?”

Kuhela napas beberapa kali. Lalu, “Pergi kemari pun aku ajak tuh, pacarnya Dimas. Artinya aku baik sama dia. Aku mengakui hubungannya dengan Dimas,” jawabku.

“Sikap mengakui itu bisa karena terpaksa, Bli. Terpaksa oleh keadaan yang tak bisa dilawan. Tapi sikap merestui, adalah dari hati yang lebih besar, meninggalkan rasa keterpaksaan. Bli mengakui atau menerima mereka, mungkin karena Bli tak bisa menghalangi mereka. Menerima, belum tentu sudah merestui. Itu pertanyaannya.”

Aku terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Alih-alih memberi jawaban, aku pilih balik bertanya, “Ke kamu, Dimas cerita apa saja soal pacarnya?”

“Jarang dia cerita soal pacarnya. Tiyang cuma ingat, dia bilang pacarnya itu anak dokter. Ganteng. Suka buku…”

“Oke, isinya sudah pasti pujian semua,” potongku. “Well, dia memang… overall anaknya baik. Orang tua yang punya anak cewek pasti tidak keberatan anaknya pacaran sama cowok seperti si Fandy itu…”

“Cieeee…! Bli ini sok tua! Hehehe….” Durus ganti menyela omonganku. Kampret!

“Memang benar, aku menerima hubungan mereka karena aku nggak bisa menghalangi,” sambungku. “Mau dibilang menerima karena terpaksa, mungkin begitulah. Tapi, karena Fandy anaknya baik, kuakui itu meringankan perasaan terpaksaku.”

“Wah…,” Durus berdecak. Lama dia tak menyambung ucapannya.

Akulah yang menyambung, dengan balik bertanya lagi, “Kalau kamu yang punya saudara gay, memangnya kamu akan langsung merestuinya?”

Dia melepas ikat kepalanya dan garuk-garuk. “Tiyang rasa, itu sikap yang paling baik. Tapi… belum tentulah, tiyang bisa langsung seperti itu.” Dia terkekeh masam. “Mungkin tetap butuh proses juga, seperti Bli.”

“Kenapa menurutmu itu sikap yang paling baik?”

Bli punya pendapat lain?”

Aku bingung, mau mengangguk atau menggeleng. “Aku cuma ingin tahu, lebih dalam… kenapa itu menjadi sikap yang terbaik?”

“Yaaa…. karena tiap orang punya ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda. Misalnya, Bli bahagianya kalau sama perempuan. Tapi saudara Bli bahagianya sama laki-laki. Masa mau kita paksa? Kalau gantian Bli yang dipaksa metunangan sama laki-laki, Bli pasti juga tidak mau. Jadi ya tidak boleh dipaksa-paksa, Bli.”

Aku tertawa pendek. “Aku juga berpikir begitu. Nggak mau memaksa urusan jodoh orang lain, demi menghargai kebahagiaannya. Tapi… aku juga berpikir, apakah setiap hal yang dilakukan atas nama kabahagiaan lantas harus selalu diperbolehkan?”

Durus mengerut keningnya, menyimakku sambil berpikir keras, kelihatannya.

Kulanjut, “Gimana dengan psikopat? Dia bahagia kalau bisa bunuh orang, bisa nyiksa orang, bisa merkosa orang?”

Bli mau membandingkan saudara Bli dengan…?”

“Bukan!” langsung kupotong. “Maksudku, hak untuk mendapatkan kebahagiaan itu pasti ada batas benar-salahnya, kan? Aku masih belum bisa memutuskan, apakah harus menilai homoseksual itu kebahagiaan yang benar, atau salah.”

“Hmmm. Kalau saya rasa-rasa, Bli, memiliki kebahagiaan itu tidak ada batasnya. Kalau ada orang yang bahagia karena membunuh, memperkosa, merampok, ya tidak apa-apa,” Durus bicara dengan santainya. “Biar saja orang seperti itu menikmati kebahagiaannya. Tapi ya jangan di sini, di tempat lain saja. Di neraka, misalnya. Hehehe….”

“Termasuk Dimas sama Fandy, masuk neraka?”

“Mereka kan tidak mencelakai orang lain, Bli? Mereka kan cuma mau…” dia menjepitkan jempolnya lagi di antara telunjuk dan jari tengah, “…mekatuk berdua. Suka sama suka, tak ada yang dipaksa. Masa malah kita yang maksa? Kita sendiri kalau mau gituan sama tunangan, pasti juga tak mau dipaksa, kan?”

“Jorok!” tukasku.

Dia terkekeh. “Selama tidak mencelakai orang, soal masuk surga atau neraka biar jadi urusan mereka berdua sama Yang Di Atas, Bli. Kita urus saja tunangan kita sendiri.”

“Kamu sendiri udah punya pacar?” tanyaku, membelokkan topik. Awalnya aku mau pakai kalimat: Memangnya kamu laku pacaran? Tapi tidak jadi, terlalu sadis.

Tiyang baru saja mencetak mantan yang keempat, Bli. Belum dapat calon mantan yang kelima.”

Owww. Speechless. Percaya saja, deh.

Lalu kudengar suara memanggil. Bukan memanggil namaku, tapi nama Si Bulat di sebelahku. Dia dipanggil oleh karyawan lainnya.

Tiyang tinggal lagi ya, Bli. Lanjut mekarya,” Durus pamit.

“Udah sana!” sahutku. Membiarkannya pergi.

Omongannya memang rada kurang ajar. Biarpun kadang campur-aduk dengan bahasa Bali, aku bisa meraba maksudnya. Jempol dijepit. Amit-amit!

Mas, moga-moga omongan Si Jempol Kejepit itu nggak benar. Moga-moga lu masih bisa nahan diri. Homo ya homo, tapi please, lah… tahu batas dikit! Sabun aja bisa bikin ketagihan, apalagi pacar? Kalau baru umur segini aja lu udah ketagihan, bakal parah hidup lu…. Gue nggak bisa ngebayangin saudara gue jadi seorang maniak seks di umurnya yang masih belasan! Please, tahan diri, lah…!

Aku benar-benar dilema kalau mikirin itu.

Manyun sendiri lagi, duduk di bangku taman bawah pohon kamboja. Kucari bunga kamboja yang gugur di sekitar. Kuambil satu, kali ini kupasang di kuping kiri. Semoga bisa menghalau bisikan buruk yang memperkeruh pikiranku. Menenangkan kegundahanku. Dan juga…

Ckrkk!

Jadilah satu foto baru. Bisa untuk mengganti foto profilku sebelumnya yang masih memakai bunga kamboja di kuping kanan. Hehehe…. Sebenarnya agak sayang juga kalau diganti, soalnya baru ku-upload setengah jam lalu sudah mendapat sepuluh tanda jempol. Malah sudah ada komentar bersahutan:

dEnIs, k4mU UnYU b4ngEt p4kE bUng4 ItU!

Habis nyekar dmn? Kok pake kamboja?

Itu bunga anggrek kaleee!

Anggrek mbahmu! Dasar cewek-cewek alay, sok tahu! Tapi, yang paling mengejutkan adalah komentar dari stalker cowok:

Eksis!

Udah, gitu aja komentarnya. Tapi itu mengejutkan karena yang nulis adalah Fandy. Nah, ngapain Si Unyu itu lihat-lihat fotoku?! Foto ini memang wajib dihapus! Ganti yang baru!

Baru sibuk dengan HP, bertepatan sebuah panggilan masuk. Aku buru-buru mengangkat.

“Ya, Pa.”

Gimana kabar kalian? Ada di mana sekarang? tanya Papa.

“Sekarang di daerah Badung. Di sekitar Nusa Dua, di tempatnya teman Dimas. Mas Dika. Semalam aku tidur di rumahnya.”

Ooo. Sudah dapat kabar soal Dimas?

“Masih belum pasti. Tapi ada banyak temannya di sini. Malah barusan tadi ada yang ngasihkan laptop milik Dimas. Katanya Dimas nitipin ke dia beberapa hari kemarin.”

Laptop? Terus Dimas-nya ke mana?

“Nha, itu dia…,” jawabku ragu. Aku kuatir kalau mengatakan bahwa Dimas sedang naik gunung, nanti malah membuat Papa dan Mama tambah cemas. Jadi sedikit kusamarkan kabar itu, “Katanya Dimas sedang jalan-jalan, tamasya gitu. Cuma dia sempat mampir di rumah temannya itu buat nitipin laptop.”

Beberapa hari lalu? Dan laptopnya belum diambil?

Aku cukup bimbang menghadapi nada tanya Papa yang kedengarannya sangat cemas. “Dia itu punya banyak kenalan di Bali, Pa. Kayaknya dia mau nyamperin ke rumah mereka. Ada yang di Ubud, ada yang di Kintamani, atau mana lagi aku nggak hapal. Intinya, dia di sini banyak yang bantu. Dan kayaknya dia punya banyak duit juga tuh, sampai bisa pergi ke mana-mana. Nggak tahu kerjanya apa.” Aku menjelaskan ke Papa, setengah mengungkapkan perasaan kesalku.

Terus, dari temannya yang di Badung itu ada cerita apa saja?

“Yaa… intinya, dia bisa enjoy selama di sini. Dia kerja di tempat souvenir, ikut band, malah… dapat fans pula. Cewek, cantik lagi.”

Kudengar Papa malah tertawa. Omonganmu kayak lagi ngiri sama Dimas?

“Papa malah bercanda, sih?!” aku menggerutu. “Maksudku, mungkin kita bisa sedikit berkurang mencemaskan dia. Dia enjoy di sini!”

Oke. Tapi Dimas tetap harus pulang, Le. Harus.

“Iya, aku ngerti. Aku masih cari tahu ke teman-temannya yang lain. Gampang-gampang susah.”

Terdiam sejenak.

Orang tua Fandy tadi pagi datang ke rumah…, Papa menyambung dengan berita yang mengejutkanku.

“Datang ke rumah? Pagi-pagi?”

Ya. Menanyakan anaknya.

Rasa jantungku mulai berdesir-desir, gamang. “Gimana situasinya?”

Sebelumnya Papa sudah yakin, mereka pasti akan mencari tahu ke kita. Apalagi besok sudah waktunya terima rapor, wajar kalau mereka mengecek anaknya. Jadi Papa dan Mama sudah siap. Papa baru mau berangkat ke kantor, mereka datang…

“Marah-marah?”

Begitulah.

Kuhela napas. Miris. “Mereka langsung tahu kalau Fandy pergi sama aku?”

Tidak. Mereka masih dalam tahap mencurigai saja. Karena mereka juga tak punya bukti.

“Papa jawab gimana?”

Yaa… Papa jawab saja ‘tidak tahu’. Papa jelaskan kalau kamu sama Dimas sedang ke Medan, ke rumah Tante.

“Mereka percaya?”

Percaya tidak percaya, mereka tak punya bukti juga kalau mau tetap mencurigai kita. Jadi, ya mereka nyerah.

“Tapi nggak ngancam apa-apa, kan?”

Mau ngancam apa? Papa terkekeh. Mereka orang tua berpendidikan, kok. Selain tak punya bukti, mereka pasti juga bisa menimbang sendiri jika mau membesarkan masalah ini sampai ke pihak lain, misalnya ke polisi atau sekolah, itu sama dengan menyebarluaskan perkara mereka. Mempertaruhkan reputasi keluarga yang selama ini mereka jaga mati-matian. Mereka tak akan senekat itu, Papa yakin.

Aku mencerna baik-baik. Hingga aku pun percaya bahwa pikiran Papa itu masuk akal.

“Baguslah kalau begitu,” timpalku.

Tapi sebaiknya kalian juga jangan lama-lama di situ. Kalau tidak cepat kembali, mungkin saja masalah ini benar-benar bisa makin serius.

“Waktuku di sini juga paling mentok cuma seminggu, Pa. Tapi… rasanya sia-sia juga kalau aku pulang sedangkan Dimas belum ketemu? Udah jauh-jauh gini….”

Papa dan Mama ingin Dimas pulang, tapi jika toh kamu tak bisa menemukan dia, mendengar dia dalam keadaan baik-baik saja Papa sudah lega. Kadang keberhasilan memang tidak bisa dipaksa, Le. Tidak ada yang sia-sia. Kamu sudah berusaha, itu sudah membuktikan sesuatu.

“Papa tuh terlalu bijaksana. Nggak cocok jadi ayah. Kurang galak! Cocoknya jadi motivator.”

Lho, kok ngomong gitu?

Aku ngeles, “Ya sudah kalau ortu-nya Fandy nggak bikin masalah serius. Aku di sini juga nggak kurang apa-apa. Terkendali. Kecuali Dimas, dia masih belum jelas.”

Fandy baik-baik?

“Iya, kujagain!” Huh, sok perhatian banget sama ‘menantu’!

Ya sudah. Ada rencana apa selanjutnya?

“Ini ada temannya Dimas yang dititipin laptop itu. Nanti aku mau cari tahu lebih banyak ke dia. Kayaknya Dimas dekat sama dia.”

Laki-laki?

Aku mulai kesal. “Kayaknya pikiran Papa tuh tiap kali dengar ada teman Dimas, nebaknya langsung laki-laki! Yang ini cewek, Pa. Dia yang nge-fans Dimas itu. Rumahnya itu jauh, tapi Dimas bela-belain ke sana buat nitipin laptop. Aneh, kan? Aku yakin temannya Dimas itu pasti tahu lebih, tapi dia masih belum mau terus terang. Nanti aku ketemu lagi sama dia.”

Kudengar Papa mendehem. Jangan-jangan Dimas juga pacaran sama perempuan?

“Ya syukur kalau dia mau jadi normal,” tukasku. “Tapi asal nggak macarin dua-duanya aja, tambah parah jadinya kalau begitu, mainin hati orang. Sudahlah, nanti tunggu kabar lagi dariku.”

Ya sudah.

“Mama baik-baik, kan?”

Baik.

Aku agak ragu untuk meneruskan pembicaraan ke arah… “Papa sama Mama kemarin ikut nemenin si Lia?” Terlontar juga pertanyaan itu.

Cuma sebentar. Teman-temanmu yang menemaninya, Papa sama Mama tak bisa lama-lama. Lagian dia sulit dinasihati.

Bagiku jawaban Papa itu terdengar menyenangkan. Karena itu tanda bahwa Papa sudah tahu sendiri gimana susahnya mengurus Leah. Jadi Papa tak perlu menyalahkanku yang sudah ninggalin Si Judes Manja Nan Lebay itu di stasiun!

“Dia sudah balik ke Jogja lagi, kan?”

Mestinya begitu.

“Syukur,” ucapku lega. “Ya sudah, titip salam aja buat Mama.”

Kalian juga, baik-baik di situ. Kabar-kabar kalau ada perkembangan.

“Oke.”

Pembicaraan selesai. Papa menutup telepon.

Aku masih terpikir soal kedatangan orang tua Fandy ke rumah. Lagi-lagi gundah. Biarpun Papa bilang sudah mengatasinya, aku masih kuatir. Kurasa itu bukan pertanda yang baik buat Fandy. Dia bisa saja mengganti nomor teleponnya agar bisa lepas dari pantauan orang tua. Tapi sampai kapan? Toh, dia pasti akan pulang juga. Di situlah masalahnya nanti. Hffhhh…. Semoga cuma sebatas kecemasanku saja.

Masih sendirian duduk di bangku taman ini. Tak ada rencana apapun yang terbersit di pikiranku, selain jalan-jalan nanti sore dengan Maya. Masih butuh menunggu sekitar tiga-empat jam lagi. Dan kurasa aku hanya akan gini-gini aja selama menunggu, manyun sendirian. Biarpun katanya Bali adalah tempat yang nggak akan bikin kita kekurangan objek bersantai, rasanya duduk-duduk di bangku bawah pohon kamboja ini sudah cukup, untuk saat ini. Teduh, ditambah samar-samar wangi bunga. Pinginnya aku tiduran saja di bangku ini. Cuma nggak enak sama orang-orang di sini, terlebih ke Mas Dika. Tamu kok kayak gembel?

Fandy muncul dari arah trotoar, berjalan santai memasuki halaman. Seperti biasa, sok unyu, jalan sambil makan es krim.

“Habis dari mana?” sapaku.

Dia duduk di sebelahku. “Jalan-jalan di sekitar,” dia menjawab singkat.

“Ada apa aja di sekitar sini?”

“Hotel. Restoran. Plasa. Butik.”

“Huh. Apa bedanya dengan Medan, Jakarta, Solo? Nggak seperti Bali yang kubayangkan,” dengusku.

“Ya inilah Bali. Mentang-mentang Bali, terus tiap tempat mesti ada Pura, gitu? Ada Barong, ada pantai, ada babi guling? Nggak Leak sekalian? Lagipula, kamu tidak bisa membandingkan Bali dengan Jakarta atau Medan. Bali adalah pulau, Jakarta dan Medan adalah kota. Bali ini luas. Kebetulan wilayah Nusa Dua ini memang bagian metropolisnya, jadi ya begini suasananya. Modern.”

Sehabis nyerocos panjang lebar begitu, dia nyengir sok bijak padaku. Aku jadi berpikir ulang untuk mengakuinya sebagai ‘saudara ipar’.

“Ortu-mu habis dari rumahku,” kuhajar dia dengan berita terbaru. Stop basa-basi!

Dia berhenti menyendok es krimnya. Bengong memandangiku. Menungguku melanjutkan berita tadi.

“Lu jadi most wanted!” tukasku.

“Itu sudah bisa ditebak sejak awal,” timpalnya datar. Tapi mimik wajahnya berubah sedikit lebih muram. “Mereka nyusahin?”

“Intinya cari kamu. Mereka curiga, tapi tanpa bukti apa-apa. Papa-ku bilang nggak tahu, ya sudah… mereka pulang. Kayaknya ortu-mu nggak akan membesarkan masalah ini sampai ke mana-mana, sih.”

“Iyalah, mereka malu ketahuan banyak orang kalau punya anak gay.”

Kalau Fandy ngomong begitu, jadi kasihan juga….

“Tapi apa yang bakal terjadi saat kamu pulang nanti?” singgungku. “Kalaupun, seandainya, ortu-mu nggak akan memperpanjang masalah ini dengan keluargaku, mereka mencarimu ke rumahku itu adalah tanda bahwa ini masalah serius. Saat pulang nanti kamu ditunggu masalah besar, Fan.”

“Mereka mencariku, berarti aku masih ada artinya buat mereka,” ucapnya, terdengar mengentengkan. “Aku tak akan bilang pergi kemari denganmu, untuk cari Dimas. Seperti yang sudah kurencanakan, aku akan bilang tamasya ke Jogja. Mereka juga nggak punya bukti untuk menuduhku bohong.”

“Kalau dibalik: apakah mereka masih ada artinya bagimu?” tanyaku.

Dia terdiam. Matanya mengitar tak tentu arah.

“Kamu juga akan tanyakan itu ke Dimas, kan?” dia balik bertanya.

Kusahut singkat, “Jelas.”

“Mereka orang tuaku, Den. Mereka terlalu berarti,” gumamnya, ganti memberi jawab. “Begitu berartinya. Sehingga saat mereka menghalangi kebahagiaanku, rasa sakitnya menjadi dua kali lipat. Sampai aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata kepada mereka. Bagiku, itu membuatku tak lagi harus menurut kepada mereka. Di saat yang sama, aku tetap mencoba membuat mereka tak merasa kehilangan.”

Aku terpekur mencernanya. “Karena itu kamu pasti akan pulang, kan?”

“Seperti halnya Dimas.”

“Jika kalian berdua nanti bertemu lagi, kamu benar-benar akan melanjutkan hubungan itu?”

Dia terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Menyendok lagi es krimnya, sampai habis.

“Terserah dia,” dia menjawab pelan.

“Bagaimana jika Dimas tak mau?”

Dia menghela napas. “It’s OK.

Aku tersenyum masam. “Beneran kamu bisa setabah itu? Fan, saat Dimas pulang nanti, keluarganya akan menyambutnya dengan kasih sayang dan perasaan rindu. Tapi kamu? Saat kamu pulang, meski kedua orang tuamu tetap akan mempertahankanmu sebagai anak, kamu akan disambut dengan kemarahan dan perasaan kecewa. Ini mungkin cuma prasangkaku. Tapi… bagaimana menurutmu? Bukankah kamu mempertaruhkan terlalu banyak?”

Tiba-tiba, aku sendiri merasakan dadaku menyempit. Sesak. Merasa bersalah.

“Sebenarnya, aku ngerasa salah membiarkanmu ikut kemari,” sambungku lesu. “Biarpun kamu yang ngotot, seharusnya aku tak menjerumuskanmu lebih jauh. Kamu membayar terlalu mahal untuk Dimas.”

Kudengar dia tertawa. “Baik aku maupun Dimas sama-sama menyadari, bahwa aku dan dia terlalu muda dan naif. Siapapun akan mencibir begitu. Ini memang gila. Tapi hingga saat ini tak ada yang kusesali.”

“Termasuk bila nanti Dimas tak ingin melanjutkan hubungan kalian? Kamu tetap tak menyesalinya?”

Kalau dia masih menjawab ‘tak akan menyesal’, maka aku yakin dia bohong. Dia hanya berpura-pura tegar.

“Simbol cinta yang biasa kita gambar, apa yang kamu bayangkan tentang bentuk simbol itu?” lontarnya. Ternyata dia tak memberi jawaban, malah mengajak tebak-tebakan.

“Bentuknya seperti bokong,” jawabku ketus, kesal. “Aku nggak ngerti, kenapa orang Jawa menyebutnya ‘bokong’. Tapi itu malah jadi cocok buat kalian berdua. Simbol cinta itu berbentuk bokong!”

“Itu terbentuk dari dua garis melengkung, yang bertemu dan membentuk pola simetris. Jika kedua garis itu adalah garis yang lurus atau bersudut, maka bentuknya tak akan seperti itu, tak akan menyerupai: hati. Atau bokong, terserah.”

untitled2
untitled3

Dia berteori bak seorang guru filsafat sedang mengajari muridnya.

“Setelah kurenungkan, cinta itu memang tak perlu kaku, Den. Ia mungkin dua garis yang panjangnya tidak sama, tetapi kelenturannya membuat tiap ujung yang dimiliki menjadi bisa saling bertemu…”

2

“Kelenturan itu pula yang, kadangkala, membuat cinta saling memisahkan diri. Untuk menjajaki garis-garis yang lain, mungkin. Atau karena keadaan yang memaksa, mungkin. Dan, akhirnya, kelenturan itu pula yang memberikan kemungkinan untuk saling menyatu kembali.”

Aku berpikir lama untuk mencerna teori itu. Dia sendiri butuh berapa lama menyusun teori itu? Aku kadang juga punya teori sendiri soal cinta. Tapi… “Memangnya cinta itu butuh teori, Fan?”

“Gravitasi sudah terjadi sebelum teorinya ditemukan. Lantas, apakah kita jadi tak butuh teori gravitasi? Teori adalah cara kita memahami apa yang terjadi. Mungkin memang relatif, tergantung prinsip masing-masing. Tapi itulah yang kupahami.”

“Oke. Kamu pintar. Kamu bukan anak IPA, tapi sangat menguasai pelajaran yang kupelajari di jurusan IPA. Dimas pasti bingung mendengarnya,” pujiku, cibirku. “Mungkin kamu berpikir permainanmu dengan Fillipe adalah bagian dari kelenturan, menjajaki kemungkinan bahwa jika nanti Dimas tak mau lagi denganmu, maka kamu masih bisa menggaet cowok lain. Tapi kamu ngawur! Fillipe itu punya pacar cewek. Kamu bukan main lentur-lenturan, tapi main api! Ingatlah, jika terlalu percaya diri melengkungkan garismu, sewaktu-waktu kamu akan patah!”

Dia tersenyum manyun. “Ya, bahkan kamu sendiri juga bisa patah.”

Awalnya aku tak paham maksudnya. Tapi lama-lama… aku ingat fotoku dengan Fandy yang sudah terpampang di Facebook-nya dan dia tak mau menghapus! Damn! Terkutuk lu, Fan…!

“Kalaupun aku harus patah, aku akan berdoa agar patahku adalah di saat mempertahankan cinta terbaik. Percayalah, aku tetap lebih rela patah demi Dimas, bukan Fillipe.”

“Gombal! Semua teorimu gombal! Lu tuh anak kecil yang sok tahu soal cinta!” tukasku kesal. “Mau bengkok atau patah, saatnya kamu serius mikirin keluargamu! Demi kebaikanmu! Kamu nggak harus menanggung Dimas, karena dia masih lebih beruntung darimu!”

Dia buang muka. Buang napas. Aku juga menghela napas, mengatur diri.

“Aku minta maaf,” ucapku lebih pelan. “Aku menyesal membiarkanmu ikut hingga sejauh ini. Lu benar-benar dalam masalah, Fan. Dan mungkin aku nggak akan cukup bisa untuk membantumu. Bahkan, mungkin Dimas juga nggak akan bisa. Sebenarnya aku sudah memanfaatkanmu, demi menemukan Dimas yang nggak tahu diuntung itu….”

Pacar Dimas itu menyebalkan! Tapi… aku galau juga memikirkannya. Masalah yang menunggunya di rumah bisa lebih serius. Hanya demi menemukan Dimas yang mungkin sedang berfoya-foya menghabiskan uang entah di mana….

“Kamu tak perlu terlalu cemas soal masalah yang menungguku di rumah,” ucapnya datar. “Paling-paling, aku jadi pindah sekolah. Itu saja.”

Huh. Aku memang saudara ipar yang baik. Kenapa aku peduli padanya?

“Selain itu, aku ngomong soal cinta bukan untuk diriku sendiri, Den. Tapi juga buat kamu. Apa yang kamu lakukan pada Misha?”

Wajahku meremang. “Apa maksudmu?”

Dia mulai berlagak sok tahu lagi. “Dia akhirnya sama cowok lain, kan? Setelah kamu biarin selama dua tahun?”

Mukaku seperti kena tinju. “Hei, lu nggak usah sok tahu, ya!”

“Aku memang tahu. Kalau omonganku yang salah, kenapa mukamu merah?”

Aku kehilangan kata-kata… mengumpat pun nggak bisa!

“Aku tahu dari Ben. Aku tadi habis meneleponnya.”

Baru setelah dia mengaku begitu, aku mengumpat. “Bajiruuutttt!

“Tak usah marah. Ayolah! Dimas tak pernah menutupi urusan cintanya, kan? Aku juga blak-blakan soal hubunganku dengan kakakmu. Jadi, kamu juga tak perlu sembunyi soal cintamu yang kandas…”

“Artinya dia sudah jadi masa lalu!” tukasku sengit. “Nggak usah dibahas!”

“Masa lalu menentukan sekarang dan masa depan. Kalau kamu masih terbiasa dengan sikap yang kamu lakukan ke Misha selama ini, maka nasibmu pun akan sama dengan cewek berikutnya.”

“Aku lagi nggak cari cewek!”

“Terus? Cari cowok?”

“Kalau ini bukan di tempat umum, sudah kutonjok mulutmu!”

“Aku yakin kamu nggak tega,” dia menimpaliku sambil nyengir. “Den, bicara soal kelenturan, bukan semata-mata untuk bisa pindah ke lain hati sesuka kita. Justru seperti katamu, suatu saat kelenturan juga bisa mematahkan kita. Artinya, jika kita tak berani melengkungkan diri, berarti kita takut untuk patah. Tapi, apakah dengan takut patah lantas kita jadi tak mungkin patah? Bukankah akhirnya kamu patah hati juga?”

Kuakui, aku tak bisa membalas ucapannya. Meskipun aku masih tak yakin dengan teorinya.

“Itu juga yang dulu kupikirkan saat menimbang: apakah aku harus menerima Dimas, atau menampiknya. Akhirnya kupikir: aku harus nekat!”

“Kenapa nekat menjadi pilihan yang lebih baik?” balasku.

“Karena aku nekat melawan pandangan orang lain. Bukan nekat melawan kata hatiku. Ketika kamu mendengarkan kata hatimu, kamu akan merasakan bahwa dirimu memang milikmu.”

Aku tertawa sinis. “Kalau kamu perlu nekat, itu karena cintamu memang ‘tidak normal’. Tapi cintaku ‘normal’. Kenapa aku harus nekat?”

“Justru karena keadaanmu lebih mudah, kenapa masih takut? Soal nekat, Dimas-lah yang pertama kali nekat, karena dia lebih dulu menyatakan perasaannya padaku. Suatu ketika dia bercerita padaku, bahwa kamulah yang selalu mendorongnya agar berani mengungkapkan perasaannya padaku. Di balik hubunganku dengan Dimas, ada jasamu. Jadi tak usah berkelit lagi! Sekarang giliranku mendorongmu. Sekarang saatnya membuktikan bahwa kamu memang pemberani, sebanding dengan ucapanmu.”

Sungguh, ucapan Fandy itu mempermalukanku!

Karena dia benar.

“Sudah kubilang, Misha adalah masa lalu. Dia sudah kecantol cowok lain. Aku harus nekat merusak hubungan mereka? Sekesal apapun aku sama cowoknya itu, aku nggak akan merecoki mereka. Dan itu adalah kata hatiku.”

Dia tertawa sok lucu. “Tahu nggak? Aku bangga punya adik ipar sebaik kamu! Dan aku tak menyuruhmu untuk merebut Misha, kok.”

Aku mengernyit. “Terus apa?”

“Kamu sedang menghadapi patah hati. Tak usah takut, tapi juga tak perlu menabraknya. Berbeloklah, melengkunglah, temukan titik lain yang bisa menjadi cinta barumu. Move on! Jangan bilang Maya tak menarik!”

Giliranku tertawa. “Sudah kubilang, aku cuma mau cari tahu soal Dimas darinya. Bukan mau gebet dia!”

“Terus kenapa mukamu merah lagi?”

“Nggak usah membual! Bawakan cermin, aku yakin mukaku nggak merah!”

“Oke. Memang nggak terlalu kelihatan. Tapi bicaramu lebih gugup dari biasanya. Berarti Maya memang seseorang yang…”

Dia berhenti bicara saat kupertajam tatapanku. Mengancam. Setelah yakin dia tak akan meneruskan omongannya, kuhentikan pandanganku.

“Aku menasihati agar kamu lebih memikirkan keluargamu. Tapi malah ngelantur balik menasihatiku soal gombal! Aku bersimpati ke orang yang salah!” tukasku datar.

“Aku menghargai nasihatmu. Kamu terlalu banyak memikirkan Dimas. Kamu juga terlalu memikirkanku. Aku ingin, kamu mulai memikirkan nasibmu sendiri.”

Aku diam. Tiba-tiba, kali ini… kalimatnya agak sedikit mengharukan.

Please, omonganmu seperti opera sabun!” aku pura-pura menggerutu.

“Seandainya bukan hanya Dimas, tapi kamu juga menyatakan cintamu padaku, sebenarnya aku akan lebih memilihmu.”

What?!” aku tersentak. “Ingat ya, aku akan bilang ke Dimas kalau kamu pernah ngomong begitu!”

“Aku sudah mengaku ke dia, kok. Bahkan Dimas pun mengaku, andai kamu bukan saudaranya, mungkin dia juga akan menyatakan cintanya padamu.”

Otakku seperti digoreng. “Kalian berdua gila!”

“Den, dengar, jangan marah-marah terus,” dia berlagak menenangkanku. “Maksudku sebenarnya adalah, kamu itu orang yang menjengkelkan, judes, sok ngatur… tapi tetap selalu disukai. Kamu pikir aku nggak ingin melihatmu bahagia punya pacar? Biarpun omonganmu sering judes, aku tahu hatimu sangat perhatian. Kamu harusnya juga punya seseorang istimewa yang bisa lebih memperhatikanmu. Kamu layak.”

O my God! Sekarang omongannya seperti film Bollywood! Drama bawang bombay….

Aku lama-lama juga capek marah-marah. “Dari mana kamu dapat teori itu? Kamu masih terlalu kecil untuk bisa ngomong seperti itu.”

“Umur kita hampir sama, jadi sebenarnya kamu tidak bisa menghakimiku ‘terlalu kecil’. Tapi teori itu memang bukan hasil pikiranku sendiri, sih. Aku belajar dari seseorang.”

“Siapa?”

“Mas Awan.”

Aku tertegun. “Kapan? Kita baru tiba di sini kemarin pagi?”

“Semalam kamu tidur duluan. Aku ngobrol dengannya.”

Aku mengulum senyum. “Jadi… sebenarnya juga baru-baru saja kamu belajar itu. Dan kamu sudah sok mengajariku.”

“Gravitasi sudah terjadi sebelum teori gravitasi ditemukan,” lagi-lagi dia mengulang hal itu. “Aku setuju dengan teori itu, karena sudah terjadi padaku.”

“Oke. Whatever. Tapi apakah lantas itu juga harus terjadi padaku?”

Pahaku ditepuk-tepuk. “Nikmati soremu dengan Maya. Jangan hanya menanyakan Dimas padanya. Tapi juga tanyalah tentang dirinya. Dan buatlah dia bertanya sebanyak mungkin tentang dirimu. Aku tak menyuruh kamu macarin dia. Tapi jika ternyata cocok, why not? Cinta bermula dari perkenalan.”

Lalu dia berdiri. Menggeliat membunyikan sendi-sendinya.

“Jangan kemari hanya untuk Dimas. Tapi berbuatlah untuk dirimu juga. Kamu terlalu banyak cemberut selama di sini. C’mon, ini Bali! Wake up and have fun, Bro!” selorohnya, sok asyik.

“Karena itukah kamu nggak nolak waktu Fillipe ngajak cipokan?” cibirku.

“Anggap saja begitu,” sahutnya, sambil angkat kaki. Lalu cepat-cepat menengok lagi, “Oh ya, kamu tambah cute pakai bunga itu!”

Tak kugubris celotehnya. Malah balik kusindir saja, “Kamu beneran nggak ikut ke Kuta nanti? Beneran mau istirahat aja? C’mon, ini Bali!”

Dia menjawab sambil berlalu,

“Sebenarnya… aku nanti mau nonton Mepantigan.”

Tuh, kan?

Rasanya ingin kulempar bangku ini ke jidatnya!

 
 
 
 
 
 

bersambung…

 
 

 

54 responses to “Karung 17

  1. noelapple

    3 September 2014 at 20:37

    Semoga kelanjutan kisah CRA ini dapat mengobati kangen kalian. Dan semoga makin berkesan.🙂

     
    • Sefares

      3 September 2014 at 22:49

      berkesan banget chapter ini. Hmm, teorinya mas yang buat?

       
    • arully

      4 September 2014 at 13:00

      semakin berliku perjalanan mencari dimas,,, bikin penasaran, penasaran ending dimas and fandy juga,,,mas noel keren CRA nya

       
  2. titan

    3 September 2014 at 21:07

    bagus banget kantong 17 nih bang! apalagi saat fandy berikan teori ttg cinta ke denis shingga denis jdi malu , kalau di hayalan ku jika si denis marah sama si fandy malah unyu gitu lah bg hahaaha😀

    oh ya bg , kantong nya masih berlanjut kn bg? siap itu , apa ada Noovel CRA yg ke 2 bg?
    thx

     
  3. tonture

    3 September 2014 at 21:19

    Deniiis, deniis… Lovable😉

     
  4. kim joohyun

    3 September 2014 at 21:48

    melting bacanya :3
    jangan2 tar dimas nya banting setir sama maya, eh fandy nya malah sama denis -_-a hahaha
    keren mas noel🙂 tiap pedebatan pasti bahasanya intelektual bgt. ditunggu mas karung 18nya ‘.’)b

     
  5. obet

    3 September 2014 at 22:21

    paling suka kalo denis udah ‘ribut’ ama fandy
    dialognya dalem

    makasih untuk karung 17 nya

     
  6. davidardhana

    3 September 2014 at 22:30

    slmt malam mas.
    sebenarnya aku berharap pda dialog yg lebih sederhana dri segi bahasa antara para pemain CRA . tepatnya fandi dan denis. keduanya kelihatan sma cerdasnya. ya mgkn ini gambaran dri kecerdasan berkata dri penulisnya itu sendiri.
    yang aq salud adalah tinta yg tak pernah mengering dari pena milikmu.
    Utk orang minus kya aq dialognya kdag sulit di mengerti mas. sekian

     
  7. rifan sugianto

    3 September 2014 at 22:41

    kangennya terobati, cuma kok isinya percakapan aja ya, g ada konflik yg eerrghh…. kayak kemarin2, CRA 1 CRA2, ato blum kali ya

    yah nmnya pembaca Noel, bsnya cm komen doang, suruh nulis 1 kalimat aja blum tntu bs

    great job Noel, sukseme muah muah

    ditunggu lanjutannya

     
  8. ommo

    3 September 2014 at 23:37

    wah…masih terap sama,keren abizzz dah!!! sampai saat ini CRA masih yg terfavorit sampai” pinggin beli novelnya.tp sepertinya harus nuggu bulan depan sebab aku jg pinggin Heart station’nya bang Remy,akh…kudu nabung nich.nggomong” novel CRA masih bisa dipesankan?

     
  9. dimas

    3 September 2014 at 23:59

    Wew, bahasanya tinggi bingit. Hampir aja gk nyampe di otaku.

    Maaf nih bang menurutku karung 17 gk trlalu brkesan. Maaf, dialog panjang tanpa menyertakan perkembangan selanjutnya dari dimas menimbulkan karung ini kurang berkesan (menurutku). I am sorry.

    Hartelijk dank…

     
    • noelapple

      6 September 2014 at 22:32

      Jika kamu (ataupun pembaca yang lainnya) memandang bahwa CRA 3 adalah tentang Dimas, maka ibarat kamu makan kacang, yang kamu makan adalah kulitnya. Sudah Karung 17 lho. Masih merasa ini semua tentang Dimas?🙂

       
  10. dimas

    4 September 2014 at 00:06

    tambahan: banyak pelajaran yg di dapet di karung ini terutama kata2 fandy.

     
  11. babayz

    4 September 2014 at 04:43

    Horeee akhirnya updete juga, dan terjawab pula ttg ortu fandy , updetan kali ini cukup puas, dialog kocak si gembul sama denis bikin ngikik, dan obrolan fandy denis juga bikin terpukau, tingkat tinggi bgt deh dialog2 mereka, kadang aku suka lupa ini teenlit tapi jauh dari kata childish… You always do a great job bang Noel

     
  12. Nyan

    4 September 2014 at 14:15

    Gawd! Baru nemu page ini , langsung jatuh cinta :3
    Knapa ngga buat Denis x Ben aja ? :v
    BTW, Good Job buat CRA-nya !!

    Semangat !!

     
  13. eko

    4 September 2014 at 21:27

    Sangat berkesan bang…
    Apalagi ngebaca kata katanya fandy tentang denis….wah berdebar hati ini bang..
    Sangat ditunggu karung berikutnya bang noel…

     
  14. si Boy

    5 September 2014 at 08:58

    bang Noel dapat inspirasi dri mana sih untuk kisah yg ke 17 ini ??? awesome bngt
    aku bacanya ampe 5 kalo lho ^_^

     
    • noelapple

      6 September 2014 at 17:37

      Dari ngebayangin bokong.

       
      • si Boy

        11 September 2014 at 18:39

        haddeehhh -_-
        tuh nyari inspirasinya saat lagi bersemedi nyari wangsit dlm toilet alias bo*er yah ??

         
  15. blackshappire

    5 September 2014 at 10:07

    bolak balik scroll layar hape ke atas, kudu baca ulang di beberapa part baru ‘ngeh’ maksud pembicaraan fandy ma dennis
    tapi maksi loh mas Noel, uda kasi liat teori tentang cinta yang tidak umum dan jarang dipikirkan kebanyakan orang.

    haha bagian akhirnya lucu, bikin senyum2 gaje
    Fandy Fandy sempet sempetnya buat cuci mata😀

     
  16. yanz

    5 September 2014 at 23:37

    mas noel ……. good job …… ceritanya seruuu trimss …
    apalagi saat fandi ama denis dialog

    Tak kugubris celotehnya. Malah balik kusindir saja, “Kamu beneran nggak ikut ke Kuta nanti? Beneran mau istirahat aja? C’mon, ini Bali!”

    Dia menjawab sambil berlalu,

    “Sebenarnya… aku nanti mau nonton Mepantigan.”

    Tuh, kan?

    Rasanya ingin kulempar bangku ini ke jidatnya!

    bikin ngegakgak klo di bayangin ……… lucu

     
  17. yuyu

    6 September 2014 at 00:29

    Bang noel, gua boleh kritik kagak ? Kata” unyu mungkin kata yg cukup populer sekarang, tapi menurut gua kata” UNYU itu jarang di gunakan buat percakapan cowok straight seperti denis, karna gua pribadi lebih sering gunakan kata” SOK IMUT untuk mencibir atau membully seseorang… Menurut gua sih bang, cerita nye slalu berkesan dan banyak intisari yg gua dapat seperti biasa nye, tapi gua cuma rada kagak srek dengan kata” unyu jika kata itu terucap dari dialog nye denis

     
    • noelapple

      6 September 2014 at 17:29

      ‘Unyu’ juga dipakai oleh cowok, kok. Tuh, Coboy Junior punya lagu Demam Unyu-Unyu.

       
  18. hayabusa ryu

    6 September 2014 at 00:43

    sorry baru sempet baca….

    mas noel mau nanya… mas noel kapan stress nya ya? soalnya mau baca cerita porno mas noel. maaf selingan aja. ahahaha *ikut fandy nonton mepantigan.

     
  19. kim juliant

    6 September 2014 at 08:43

    Thanks ya mas noel..
    Meski aku agak telat baca nya karung ini.
    Menarik ceritanya
    Hehe..

     
  20. shin wardoyo

    6 September 2014 at 09:52

    bang noel selalu menggunakan tokoh2 pintar dalam setiap ceritanya yang menggambarkan kecerdasan penulisnya, baca cerita bang noel dengan tokoh2nya seperti ngeliat pecahan diri dan pikiran dr seorang noel dimana menurut saya kalo kita mau tau tentang noel ya baca saja ceritanya maka kitavakan memahaminya sedikit demi sedikit.#IMHO

     
    • noelapple

      6 September 2014 at 17:31

      Ah, enggak juga.

       
      • Shin wardoyo

        6 September 2014 at 23:13

        Kata ‘ah enggak juga’ itu bisa berarti kata ‘iya’ yg tidak 100 persen

         
  21. kazekage

    6 September 2014 at 21:45

    Teori tentang cinta melengkung itu ga membantu, tak kira bakal berpihak kearah yg mana gituuu.. Ternyata ngejelasin kenyataan yg sebenernya semua orang jga udah tahu. Aku ga marah2, heheheeee. Cuma jangan sampe itu jd pembelaan buat org yg suka mainin cintaa. Yg nganggep Cinta itu buat gaya2an doang.. Ga pernah serius. Aku ga pernah patah hati karna itu. Cuma jengah liat org2 di sosmed bikin status SOK puitis, SOK laku, dan kadang SOK GALAU. Biar semua orang tau dia punya pacar, padahal blum tentu serius pacaran. Maksudku cintaa yg ALAY bukan cinta yg TULUS..

    Kebahagian itu jga sering banget aku pikirin. Aku tahu jadi GAY itu salah. Aku ga sependapt sama orang yg blg GAY itu ga salah.. GAY itu salah,, terima ga terima GAY ngelanggar kodrat. Tp coba tengok dari sisi kebahagiaan.. Hidup ini berat, semuanya berat.. Tuntutan kuliah, tuntutan nilai IPK, tuntutan wisuda, tuntutan cari nakah, tuntutan pergaulan, dan masih banyak masalah2 umum yg lain. Yg ga pandang bulu.. Yg aku pandang cowok normal bisa lebih tenang menjalankannya dibanding aku yg GAY.. Knp??? Karena mereka punya kesempatan lebih besar buat ngedapetin kebahagiaan.. Bahkan kebahagian punya pasangan. Kebahagiaan itu yg ngasih hidup Tanpa kebahagiaan itu ga mungkin mereka bisa hidup setenang itu.. Kebahagiaan mereka normal… Itu yg aku iri dari mereka…kenapa kebahagiaan aku harus diluar batas?? Aku pingin hidup normal, punya kebahagiaan yg normal.. Tapi ga bisa. Apa aku ga boleh bahagia??? Iri aku….. Skrg aku punya cowok.. Masa bodoh dibilang salah apa ngga… Yg penting tetep nikah sama cewek..

     
    • noelapple

      6 September 2014 at 22:29

      Kamu menilai bahwa gay itu salah. Tapi kamu tetap pacaran juga dengan cowok, terus suatu saat masih ingin menikah dengan cewek. Kamu mengerti sesuatu yang bagimu adalah sebuah norma atau aturan, tapi pada prakteknya kamu tak mentaatinya. Kesimpulanku: sebenarnya kamupun ‘melengkung’.

       
      • kazekage

        7 September 2014 at 01:00

        Lalu aku bisa apa? Kata hatiku bilang gitu kok.. Aku pingin bahagia, aku pingin hidup ini berasa hidup.. Pingin punya orang yg bisa aku sayang pake hati, aku juga pingin disayang yg aku bahagia dengan kasih sayang itu.. Sebenernya aku ga pingin keinginan ku itu tercapai dari jalan GAY, tp cowok ku ngasih kebahagiaan itu.. Dan itu cowok, lalu aku bisa apa.. Aku ga putus asa sih, aku ga pasrah.. Aku cuma iriii…

        Hidup ini mank di atur mas. Dan keinginan ku itu dilarang… Keinginan ku paling besar yg aku harap bisa bikin aku bahagia tuh DILARANG keras.. Aku mau protes ga bisa,, suara satu orang ga mungkin didenger.. Aku ga berharap jadi Tuhan.. Cuma aku pingin hidup layak. Maka dari itu aku cari bahagiaku sendiri… Salahin Dunia dengan aturannya, aku cuma coba nurut apa yg dunia mau tp tetep ambil hak bahagiaku…

         
      • noelapple

        9 September 2014 at 11:29

        Kebahagiaan berawal dari hati dan pikiranmu. Selama kamu merasa dan berpikir bahwa menjadi gay itu salah, maka kamu tak akan pernah bahagia sebagai gay. Tapi kenapa ada gay (dan pasangan gay) yang bisa hidup bahagia? Karena mereka percaya bahwa gay itu bukan kesalahan. Jadi kembali ke dirimu sendiri. Kamu sendiri yang harus menyelesaikan masalah hati dan pikiranmu.

         
      • kazekage

        10 September 2014 at 10:19

        Iya mas.. Makasih dah mau denger curcol ku.. Hahaaa

         
  22. erni

    7 September 2014 at 02:51

    wah telat, deh, saya.

    Keren banget!!
    bisa-bisanya buat teori begituan.apalagi tentang garis lengkung itu. Awalnya emng gk ngerti. Tp, setelah di baca ulang, baru deh ‘ngeh’.

    o ya, saya jadi kepikiran.
    tentang fandy yg ahem-ciuman-ahem sama felipe itu, sebenarnya siapa yang nyosor duluan?
    kok bisa felipe tertarik sama fandy.maksudku, dia kan gk tau kalau fandy gay.

    terlepas dari itu semua, trimakasih telah update.

     
    • noelapple

      9 September 2014 at 11:36

      Gay ataupun biseksual yang berpengalaman biasanya bisa membaca apakah seorang lelaki lainnya itu gay atau straight. Bahkan Denis sendiri sudah curiga bahwa Fandy tertarik pada Fillipe, karena ketika di kereta Fandy cenderung kepo terhadap Fillipe.

      Banyak orang punya sikap ‘having fun’. Tetapi biasanya mereka juga tetap tahu sejauh mana ‘having fun’ itu harus dibatasi. Misalnya kamu, meskipun kamu sudah punya pacar, tetapi seandainya suatu saat kamu akan dicium sosok idolamu masa kamu nggak mau? Cium saja lho.🙂

       
  23. rara

    7 September 2014 at 18:08

    Makin tau karakternya denis.
    Buat aku teori cintanya bagus. Penyampaian kata nya pun oke.
    Jadi gak sabar nunggu kelanjutannya.
    Denis sama maya boleh juga hihihi

     
  24. dian kusuma

    11 September 2014 at 20:52

    nggak ada bukti Fandy jalan ke Bali sama Denis nyariin Dimas? Lagh ada photo facebook, yang bakal jadi heboh nanti kalo sampe orang tuanya Fandy tahu

     
    • noelapple

      12 September 2014 at 06:29

      tapi orang lain yang bisa nge-view foto itu kan cuma Ben. orang yang dapat dipercaya utk tdk menyebarluaskan foto itu.

       
  25. Mirsan Aryanto (KK Chan)

    11 September 2014 at 22:20

    kyaknya ada yg hilang maz
    kok di CRA 3 ini udh gk ada lagi musik-musik recomended dari maz Noel sprti yg di CRA 1-2
    pdhal q paling suka dngr musik-musik yg dri maz Noel
    anyw q sbg penikmat karya mz noel cmn bisa ngasi jempol bw mz Noel
    gak sabar nunggu klanjutannya

    salam dari jayapura Mz!

     
    • noelapple

      12 September 2014 at 06:26

      kemarin2 kan ada juga musiknya. kadang ada kadang enggak. kalau ada terus nanti malah jadi ngejunk.

       
  26. yudaa

    12 September 2014 at 16:44

    dari awaL baca sampai sekarang, baru Kali ini Komentar:) Nice Story (y) Keep writing Mas’noel🙂 Ohyaa, itu Heartbreak ricky gadilanjutin lagi? padahal saya Suka Cerita itu:( Kalo bisa sih, HBR nya Juga dilanjutin ya mas;;)
    #Maksaa\=D/

     
  27. ridhwanimad

    13 September 2014 at 06:53

    ceritanya makin banyak percakapan yang kesana kemari. Nunggu kantong baru kirain bakal ada kemajuan cerita yang lebih dari ini

     
  28. devan

    15 September 2014 at 02:54

    fandii.. jangan suka sama denis dong.. denisnya buat akuh ajah.. hahaha

    chapter yg ini bikin senyum2 sendiri masnoel😀

     
  29. Walter

    16 September 2014 at 07:14

    Ceritanya udah pakai bahasa berat, istilah teori2, kebenaran relatif.. Udh kyk dosen MPHPI aja bang xD kak noel pintar bgt mempermainkan phylosophy disini😀 Good Job! (Y)

     
  30. robyadsen

    17 September 2014 at 11:02

    Viva buat CRA.y mas noel !
    Baru baca dan langsung tertarik
    Beberpa hal menurut saya yng menjadi daya tarik CRA itu sendiri
    -Memberikan pandangan dari hal tabu menjadi hal konsumsi.
    -Permainan kata di setiap dialog yang menjadi analogi sendiri. asik dibaca dan cukup berkelas
    -Budaya ! Saya suka, pengemasan yang apik jadi penyampaian gak jenuh dan malah saya sendiri jadi “terangsang” buat mengenal unsur budaya2 tersebut.
    – berkeaan realistis, itu yang mungkin jarang di temukan d cerita lgbt lain.y
    -sudut pandang, cerita gay dan di situ ada 2 sudut pandang berbeda itu keren mas.

    sya rasa mas awam itu gambaran mas noel haha😀 yang sedikit jutek.

     
    • noelapple

      17 September 2014 at 22:14

      Awan tidak jutek. dia pendiam. sedangkan aku galak. but thanks.🙂

       
  31. balapulang

    18 September 2014 at 10:35

    ben kok ga sepenuhnya bisa dipercaya ya,,, dia udah bocorin surat dimas ke denis, terus dia bocorin masalah misha ke fandy,, aq kaya ngeliat tanduk dikepala ben,,

     
    • noelapple

      18 September 2014 at 10:56

      Dia membocorkannya demi kebaikan.🙂 Karena semuanya berteman.

       
  32. tsuki24

    23 September 2014 at 19:59

    ngakak pas baca dialog denis-fandy “simbol cinta seperti bokong”, bisa banget mirip-miripinnya (tapi emang mirip si). tapi yg paling lucu kalo udah baca balesan coment mas noel, ntah kenapa aku selalu ketawa bacanya (maaf mas noel). aku jadi mikir mas noel mirip sama denis, blak-blakan, teoritis, jutek, galak (menurutku denis rada galak), dan unyu (meskipun sifat2 diatas tadi menonjol tapi te2p aja banyak yg suka). so, menurutku yg paling unyu disini adalah mas noel (gomen mas)

     
    • noelapple

      23 September 2014 at 22:19

      kalo di daerahku simbol itu mmg disebut bokong, atau kowok.

       
  33. Muhamad Fakhri

    2 Oktober 2014 at 10:10

    keren bang noel CRA’nya sayangnya ketinggalan season 3 nya -_- sekarang baru baca sampe karung 17😀, Kenapa dikaiitkan dengan bokong ya hahahah

     
  34. purie

    4 September 2015 at 22:14

    koplak koplak ini koplak….

    njirrr gw ngakak gk berhenti ini
    gelo gw pas denis manggil fandy si unyu ihhh lol

    denis itu lebih mengutamakan kebahagian org lain ketimbang kebhagiaannya sndri..
    oh ya gw inget,si ben kn jg pernah bilang ke dimas”kalaupun dia gay,dia bkalan pilih denis bukam dimas”wkwkwkwk
    yah cuek plus sifat marahnya denis tuh yg bkin sebel,bkin esmosi -,-

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: