RSS

Karung 19

 
 

Karung 19

Fragmen: Tangan Yang Terlepas

 
 
 

Mas Dika sedang ada meeting dengan boss dan beberapa orang lainnya. Kata Durus soal pembukaan cabang di kota lain. Aku nggak mau ganggu. Tapi ada Durus yang bisa membantuku, dia tahu di mana Mas Dika menyimpan laptop milik Dimas, yaitu di ruangannya. Selagi Mas Dika melakukan pertemuan di ruangan lain, Durus menyelinap untuk mengambil laptop itu. Nah, akhirnya Si Gendut Jorok itu bisa melakukan hal berguna juga untukku.

“Makasih, ya,” ucapku.

Tapi aku menolak saat dia mau ikutan membaca isi laptop Dimas.

“Nggak boleh!” tegasku. “Tolong dimengerti, ya, mungkin ada banyak masalah keluarga yang dicatat di dalam sini. Nggak semua bisa dibagi. Sorry.”

Durus mengerti. “Tapi kalau ada yang bisa diceritakan, bagi-bagi ceritanya ke tiyang, ya?” harapnya sambil nyengir.

“Nggak janji,” tukasku.

Bukan cuma Durus, Si Unyu juga ikut-ikut mau baca. Keputusanku sama, kutolak!

“Tapi aku masih ada sangkut-pautnya dengan kepergiannya!” dia merengek dengan gayanya yang sok melas. “Aku pacarnya!”

“Aku saudaranya, aku lembaga sensor, dan aku diktator. No debat!” tukasku cuek.

Dia melotot.

“Ntar kalau ada yang perlu, baru aku ceritain ke kamu!” tukasku lagi.

Dia meninggalkanku sambil ngedumel nggak jelas. Ini bukan soal pelit. Ini soal membatasi mana yang boleh diketahui orang lain, dan mana yang harus disimpan hanya untuk keluarga. Pacar dalam hal tertentu tetaplah ‘orang lain’. Dimas mungkin nggak setuju denganku, tapi, saat ini, the notebook is mine!

Sasaran utamaku di laptop ini cuma satu. Diary. Tempat paling mungkin bagi Dimas untuk meninggalkan jejak-jejaknya. Lagi-lagi aku berurusan dengan password untuk membuka buku harian digital ini. Tapi kali ini aku beruntung, karena cuma sekali coba aku langsung berhasil membukanya. Rupanya Dimas tak mengganti password-nya yang dulu. Kurasa bukan karena dia bodoh, tapi sejak aku membobolnya dulu dia memang kemudian berhenti menulis di diary-nya. Kurasa dia berpikir: Ngapain juga kata sandinya diganti? Sudah nggak ada yang penting untuk disembunyikan.

Aku tahu, kok, dia menulis diary sebagai pengisi kekosongannya, kesepiannya. Sejak ada aku, ditambah dia punya pacar, dia mengaku bahwa dia tak perlu diary lagi sebagai teman. Dia hanya kadang-kadang saja menulis tentang hal-hal yang dia suka dari pacarnya, biasanya berupa puisi, tapi dia menulisnya di buku sungguhan. Salah satu bukunya kutemukan di bawah kasur tempat tidurnya.

Lalu, kenapa aku yakin bisa menemukan petunjuk baru di dalam diary digitalnya ini? Pastinya, karena sekarang dia menjadi orang yang ‘sendirian’ lagi. Feeling-ku, dia mulai menulis lagi di diary-nya.

Dugaanku benar. Kutemukan tulisan-tulisan baru di dalam diary-nya. Kuperiksa sekilas sebelum membacanya lebih detil satu per satu. Ternyata lebih banyak dari yang kubayangkan. Beberapa tampaknya cukup panjang, dan beberapa sepertinya cuma tulisan pendek.

Sekarang, ayo kita baca!

 

 

5 Maret 2011

Halo. Aku mulai menulis di sini lagi setelah lama berhenti.

Akhir-akhir ini segala sesuatu memang sangat berubah untukku. Aku merasakan kembalinya masa-masa yang sangat kosong. Bahkan ini lebih buruk dibanding dulu. Dulu, meski aku tak punya pacar, aku tetap penuh semangat mendekati orang-orang yang kusukai. Berjuang mendapatkan pacar, dari Erik hingga Fandy, meski makan hati, aku tetap menikmati masa-masa itu. Bahkan bisa membuatku tertawa jika mengingatnya. Sekarang, hatiku sedang digerogoti oleh sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang membuatku gentar melebihi sebelum-sebelumnya. Karena kali ini aku benar-benar mempertaruhkan orang-orang yang kusayangi.

Orang tua Fandy tahu bahwa anak mereka pacaran denganku. Ini memang hasil kecerobohan kami berdua, tapi buahnya lebih mengerikan dari yang aku bayangkan selama ini. Orang tua Fandy sampai datang melabrak ke rumah, dan membuat Mama jadi tahu tentang hubunganku dengan Fandy. Orang tua kami bertengkar sengit. Aku sudah berusaha meluruskan pandangan orang tua Fandy yang menyudutkanku. Tapi sepertinya keadaan memang sudah tak bisa membaik. Tak ada toleransi sama sekali dari mereka. Mereka tak mau tahu, pokoknya aku harus berhenti berhubungan dengan Fandy.

Yang membuatku tambah miris, Mama ikut menyudutkanku di depan mereka. Papa yang membelaku jadi bertengkar juga dengan Mama. Orang tua Fandy sudah pergi, kami di rumah ini masih terus bertengkar. Mama benar-benar marah padaku. Dan, plak…! Seumur hidupku, baru sekali itu aku ditampar oleh Mama. Keras. Tapi bukan tamparannya yang menyakitkan. Penolakannya, itu yang menyakitkan hati.

Papa dan Denis membelaku. Dukungan mereka tidak hilang dariku. Tapi kebersamaan dan kehangatan keluarga di rumah ini… sudah lenyap. Sudah pecah. Rasanya seperti memiliki tubuh, tapi sudah tak bernyawa lagi. Hampir setiap hari ada perselisihan, kalau bukan antara aku dengan Mama, ya Mama dengan Papa. Tak ada lagi ketenangan di sini.

Mama terus mendesakku dengan berbagai cara agar aku berhenti berhubungan dengan Fandy. HP disita, nomor-nomor dihapus, ada teman datang ke rumah dicurigai macam-macam. Hari-hari jadi seperti neraka.

Baru hari ini, ada sedikit keberuntungan bagiku. Aku dapat bertemu dengan Fandy di sekolah, secara diam-diam. Bayangkan, ketemuan di sekolah saja harus diam-diam! Karena biarpun di sekolah tak ada orang tua kami, masih ada yang mengawasi kami. Pak Alex, musuh lama itu, menjadi kuping dan mata yang mengawasi kami berdua. Dia memang dimintai kerja sama oleh orang tua Fandy. Jika tahu kami berdua masih berhubungan maka dia akan melaporkannya kepada orang tua Fandy. Benar-benar kacau sekali!

Aku meluapkan semua keadaan sekarang ini kepada Fandy. Begitu juga dia. Dia bercerita bahwa di kosnya dia mendapat pengawasan ketat dari pamannya. HP-nya juga disita oleh orang tuanya. Hahahaha…. Ironis sekali kami ini.

“Bunuh diri aja, yuk, Fan?” ajakku.

“Dengan cara apa?”

“Gantung diri.”

Dia menggeleng. “Gantung diri membuat kita mati dalam keadaan belepotan sperma. Kita tidak akan menjadi mayat yang cakep. Menjijikkan, tahu?”

“Iris nadi?”

“Konon itu adalah cara bunuh diri paling menyakitkan.” Dia pun menggeleng lagi.

“Minum racun. Seperti Romeo & Juliet! Bunuh diri yang romantis, kan?”

“Di mana kita bisa dapat racunnya?”

“Gampang. Kan, ada racun tikus, racun serangga?” kataku.

“Berarti kita mati tidak dalam martabat manusia, dong? Kita mati seperti binatang yang mati konyol!”

“Ya sudah. Bilang saja kamu memang belum mau mati.”

“Memang. Aku tak mau jadi hantu gentayangan.”

“Justru kita akan menjadi ‘urban legend’!” kataku. “Kita akan menjadi pasangan hantu gay yang pertama di Indonesia. Kita bisa kerjain Pak Alex sialan itu. Kita bisa kerjain murid cowok yang kencing di toilet. Kita bisa bercinta di mana saja: di ruang kelas, di atas rak perpus, di kantin, di ruang guru, di lapangan, tak perlu takut ketahuan karena hantu tak kasat mata. Seru, kan?”

“Hantu tidak bisa bercinta, Mas.”

“Siapa yang bilang?”

“Gairah seksual itu dipicu oleh rangsangan yang diterima otak, lalu otak memerintahkan tubuh untuk mengaktifkan hormon-hormon tertentu yang menunjang tindak lanjut rangsangan itu. Masalahnya, otak, saraf, jantung, testis, dan organ-organ lainnya, adalah organ biologis. Sedangkan hantu, secara biologis sudah mati. Hantu tidak memproduksi hormon. Hantu tidak punya sperma. Hantu tidak orgasme. Hantu tidak bercinta!”

Huh, aku akan kangen caranya beralasan panjang lebar seperti itu tiap kali diajak bercinta.

“Kamu bukan anak IPA, aku nggak percaya omonganmu soal hormon dan organ-organ itu!” tukasku.

“Tapi aku anak dokter. Aku mencuri sebagian ilmu bapakku.”

“Huh, bapakmu yang nyebelin itu, kan?”

“Meskipun menyebalkan, kalau tidak ada bapakku maka juga tak akan ada aku. Tanpa dia, kamu tak akan memiliki pacar sebaik aku.”

“Tapi dia nggak ingin kita pacaran. Dan kalau kamu memang pacar yang baik, seharusnya bisa diajak bercinta. Sekali saja.”

“Jadi, apa yang pernah kita lakukan selama ini belum kamu anggap ‘bercinta’?”

“Kita baru bercinta secara hati. Kita belum benar-benar bercinta secara seksual.”

“Benarkah?” dia memancingku, dengan lirikan agak jutek. Salah satu bentuk raut muka yang selalu membuatku gemas padanya.

“Kita cuma… Fan, c’mon, kita tak pernah sampai benar-benar… tubuh kita menyatu. Kita cuma bermain-main seperti anak kecil yang lagi penasaran saja. Seharusnya kita bisa lebih dari itu, tapi kamu selalu menolak.”

Dia tertawa curang. “Karena tak terlalu penting juga untuk melakukannya lebih jauh… seperti yang kamu inginkan itu.”

“Tapi itu mengesalkan, karena kamu menganggap seolah-olah aku bisa membuatmu hamil, atau aku yang hamil karenamu. Kita laki-laki, Fan… tapi kita tak pernah berani untuk lebih nakal sedikit lagi.”

“Bagiku kita sudah cukup nakal.”

Setelah bilang begitu, dia lalu memberiku ciuman. Mengecup bibirku sampai mengeluarkan suara berkecipat. Ah, dia sudah semakin mahir memainkan ciumannya. Maut sekali ciumannya. Tapi habis itu dia mengatakan sesuatu yang menjengkelkan lagi.

“Aku punya komitmen, aku baru akan bercinta, yang seperti definisimu itu, setelah umur 20 tahun. Umur belasan akan kuhabiskan sebagai perjaka,” ucapnya sok yakin.

“Komitmen yang aneh. Tapi, menurutku kita sudah nggak perjaka.”

“Dalam batas tertentu, kita masih perjaka.”

“Kalau begitu, bisa-bisa kamu melepas keperjakaanmu bukan denganku?”

“Kecuali… kita masih pacaran sampai saat itu tiba.”

Begitulah cara dia mengunciku. Dia membuatku tak bisa mengeluarkan kata ‘putus’. Setelah umur 20 tahun, mungkin dia akan mengucap komitmen baru: aku akan melepas keperjakaan di usia 25 tahun. Dia memang peri yang curang! Entah sampai kapan aku bisa bertahan. Tapi untuk saat ini aku memang masih sanggup. Karena bagaimanapun, selama ini dia sudah membuatku merasakan hidup yang lebih berarti, meski dari segi seks pacaran kami bisa dibilang cukup ‘kering’. Seks hanya satu bagian dari hidup, aku bisa menundanya untuk sementara. Sebaliknya, dia tak mungkin menunda selamanya. Aku percaya, cepat atau lambat aku pasti bercinta dengannya.🙂

Aku menciumnya lagi. Di kebun belakang perpus yang lengang dan konon menjadi sarang hantu-hantu, kami berlomba napas, mengadu lincahnya bibir dan lenturnya lidah. Kami tak peduli pada hantu-hantu yang mungkin melihat kami. Aku percaya omongan Fandy: hantu itu frigid, mereka tak akan bergairah meski melihat kami berciuman begitu liar. Kami masih hidup, kami merayakan kesedihan ini dengan ciuman… semanis yang kami bisa.

“Sementara ini, kita harus kuat menahan semuanya, Mas. Anggap saja kita sedang diuji. Jika kita tahan, maka pasti kita akan bertahan.” Begitu pesannya.

Itu artinya, aku juga harus kuat tak bertemu dengannya, meski aku melihatnya. Memiliki, tapi tak memiliki. Itu akan sulit, tapi mungkin aku masih bisa menjalaninya. Karena selama ini aku sudah terlatih untuk sesuatu yang disebut ‘menahan diri’. Contohnya, ya soal seks, aku pacaran dengannya tapi tetap saja tak bisa berbuat banyak dengan benda di balik celananya. Cuma boleh lihat. Hahaha. Pacar sialan!

“Kalau kamu percaya cintamu itu kuat, kamu pasti bisa bersabar. Kamu pasti percaya semua bisa membaik lagi. Kamu pasti percaya bahwa suatu saat hati orang tua kita bisa berubah.”

Melihat bahwa rautnya yang sedih itu bisa mengucap kata-kata tegar, meskipun klise, itu menguatkanku… sekaligus menghancurkanku.😦

“Kamu masih begitu menghormati orang tuamu. Bahkan aku sangat kesulitan untuk bisa menyamai sikapmu, Fan. Karena itu aku bangga bisa memilikimu, meski tak pernah sepenuhnya.”

Aku tak percaya hidup bisa semanis cerita Disney. Tapi tentunya tak akan terlampau pahit juga. Aku akan mencoba apa yang dimintanya.

Dan akhirnya, aku pun menulis diary seperti menulis sebuah cerpen. Yeah, agar kesedihan ini bisa sedikit lebih manis. Kata-katanya, ciumannya, raut sendunya yang masih penuh harap… tulisan ini akan membantuku untuk mengingatnya. Akan kuingat bagaimana kami terus mencoba untuk tetap menaruh keyakinan pada perasaan kami: Cinta.

Cinta yang tak putus. Meski jarak mulai mempermainkan kami.

By the way, tiga tahun lagi dia berumur dua puluh. Moga-moga itu tak terasa lama. Karena aku tak ingin kami menjadi pasangan hantu. Aku akan bercinta dengannya. Bercinta dalam definisi yang sudah kujelaskan: tak ada lagi penisku atau penismu, yang ada adalah penis kita. Yeah, pasti seru!

Hmmmhh. Untuk sementara, dengan berat hati harus kukatakan: Selamat datang kekosongan, aku akan melawanmu!

 
 

Catatan pertama yang panjang. Ngelus dada bacanya. Antara kasihan, tapi juga heran. Sudah ngapain aja dia sama Fandy? Sudah nggak perjaka dalam arti apa mereka berdua?

 
 

11 Maret 2011

Dulu bisa jalan bareng dengannya. Bisa gandengan tangan. Bisa pelukan. Bisa cipokan. Bisa tidur bareng. Sekarang? Cuma bisa melihat dari jauh. Saat kebetulan mata saling bertemu, pinginnya nangis. Ya ampun, kenapa, sih, Fan… kita harus begini?

Di rumah, tiap hari disuguhi muka cemberut. Pergi keluar agak lama, pulangnya ditanyai macam-macam. HP masih disita. Huh, seperti menghabiskan waktu di neraka!

Dan suprise hari ini adalah: Mama mau mengajakku menemui temannya, seorang psikolog. What the hell!

Iya, aku memang stress. Tapi aku nggak butuh bantuan psikolog. Mama saja yang ke psikolog, biar dikasih tahu gimana caranya memperlakukan pilihan hidup seorang anak!

Untung ada yang menghiburku malam ini, saat membuka Facebook aku menerima sebuah pesan:

“Aku bercermin kepada air yang menggenangi jejak kakiku. Betapa hari-hari seperti mengarungi lautan manusia, yang menawarkan terik, badai, gelombang, atau sekadar suara camar. Sahabat-sahabat, adalah oase dan pohon-pohon kurma ketika jalanku menjadi gurun. Mereka meneduhkan, mereka menghibur dan memberi tempat singgah. Tetapi pada saatnya nanti, lebih baik aku pulang. Sumur di belakang rumah itu, meski hanya mata air yang kecil, airnya terasa lebih sejuk dan segar. Sebab, ia adalah cintamu, Kekasihku. Dan rumah itu, rumah kita.”

Cieee… Fandy bisa-bisanya menulis seperti itu.

Ya, segarnya mata air yang kecil itu tercermin dalam pesanmu, Fan. Meskipun hanya satu bait saja, kamu membuat hatiku yang sedang gundah ini menjadi tenang lagi.

Kubalas, “Dan air dari sumur itu akan mengisi bak mandi kita. Aku ingin bercengkerama bersamamu selagi air yang telah kita hangatkan itu menguapkan wewangian. Frangipani, aroma kesukaan kita. Dan aku tertidur, bersandar di dadamu. Kubayangkan, kapankah kita akan memiliki waktu-waktu itu?”

Kapan? Mungkin malam ini, menjelma bunga mimpi.

Sedangkan dia, mungkin baru akan membaca balasanku beberapa hari lagi. Ah, setidaknya dia sudah begitu sempat untuk pergi ke warung internet, demi menyapaku. Aku senang sekali, dia masih hadir di antara hari-hari yang menyedihkan ini.

Tuhan, please, jagalah dia. Semoga dia juga tidur tenang malam ini.

 
 

Bener nggak, sih, mereka itu lebih romantis dari pacarannya cowok-cewek? Jadinya malah lebay. Hfff, kayak baru kali ini aja mereka lebay. Mereka memang lebay dari dulu. Soal kata-kata cinta selangit, kuakui aku kalah jauh dari mereka.

 
 

15 Maret 2011

Malam ini aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk bicara dengan Papa. Membicarakan semua masalah yang terjadi di keluarga ini, yang bermula dariku. Papa adalah orang yang luar biasa tegar. Di balik semua mimiknya yang tenang, aku tahu dia menyimpan perasaan yang hancur. Kami semua memang hancur, tapi tak ada yang menelan kepahitan itu sebaik Papa. Di tengah pertengkaran yang terjadi, Papa selalu membelaku, tapi tak putus juga untuk tetap mendampingi Mama. Kadang Papa dan Mama juga bertengkar, tapi Papa selalu menjadi orang yang memperbaiki kembali dengan kelembutan. Seolah di dalam diri Papa itu juga ada hati seorang ibu. Jangan-jangan, di masa mudanya Papa juga pernah punya cowok? Hihihihi…. Nggak, ah, Papa cowok straight, kok!

Aku bilang, aku butuh sesuatu untuk melepaskan stress. Hari-hariku di sini selama belakangan ini membuat kepalaku serasa direbus. Selain itu, yang bikin Mama jadi sering uring-uringan tak lain adalah aku.

“Mungkin aku perlu menyingkir dulu, Pa?” kataku.

“Menyingkir ke mana?” tanya Papa.

“Ke tempat yang lebih tenang.”

“Iya, di mana?”

Aku menyebut Bali. Papa bilang itu kejauhan.

“Itu tempat terbaik untuk menghilangkan stress,” kataku.

Maksudku, bukan berarti aku mau foya-foya. Cukup bersantai di sana saja beberapa hari, me-refresh hati dan pikiran. Masyarakatnya yang unik dan harmonis dengan alam, melihatnya saja sudah bikin hati adem. Apalagi di sana juga ada Mas Awan, aku benar-benar ingin ke sana lagi. Sudah jenuh menghadapi situasi di sini.

“Tapi biaya di sana mahal,” kata Papa. Itu yang membuatnya belum bisa mengijinkanku.

Aku juga nggak maksa, sih. Ide itu tercetus sambil lalu saja. Siapa yang nggak kepingin ke Bali?

“Lagipula sebentar lagi kamu Ujian Nasional,” tambah Papa.

Iya, betul. Mungkin nanti sehabis ujian, aku bisa pergi ke mana gitu. Nggak harus ke Bali juga, sih. Atau… siapa tahu saat itu Mama juga sudah berubah, bisa sedikit lebih menerimaku. Jika begitu, maka lebih baik.

Aku ingin hidupku kembali tenang. Tapi lebih dari itu, aku ingin keluarga ini kembali membaik seperti dulu. Sangat ingin….

 
 

22 Maret 2011

“Jadi Mas Fandy itu pacarnya Mas Dimas, tho?” tanya Mbok Marni tadi siang.

“Iya. Kenapa?”

“Kok, milihnya sama-sama laki-laki, tho, Mas?”

“Soalnya cewek nggak ada yang cakep. Menurut Mbok Marni, Fandy cakep nggak?”

“Ya cakep, tapi… nanti Mas Dimas tidak bisa berumah tangga, lho, tidak bisa punya momongan.”Kan sama-sama laki-laki, Mas?

“Itu, tetangga kita depan rumah, sudah jadi suami-istri hampir sepuluh tahun nggak dapat momongan juga. Padahal mereka cowok-cewek, lho. Hayo?”

Mbok Marni manyun dengar jawabanku. Terus dia nanya lagi, “Lha kalau sama-sama laki-laki, pacarannya ya bagaimana, tho, Mas?”

“Ya biasa aja. Bedanya, nggak takut hamil.”

Mbok Marni tambah manyun. Mukanya lucu. Hehehe. Kuanggap saja sebagai hiburan hari ini. Hari-hari membosankan.

“Mumu, Nyunyu, kapan kalian hamil?” (nanya ke kucing-kucingnya Denis)

:X

 
 

Nah, kucingku dibawa-bawa! Nggak jelas!

 
 

26 Maret 2011

Hari ini Mama bikin aku marah lagi!

Kemarin ngajak ke psikolog. Sekarang ngajak ketemu pendeta. Ya ampun, Ma! Tambah keterlaluan! Aku mau ketemu pendeta, tapi kelak, di Belanda! Tukar cincin sama cowokku, ucap janji nikah, terus cipokan di depan kalian! Puas???

Nggak boleh ketemu pacar, HP disita, nomor-nomor dihapus, nggak boleh daftar universitas kota lain, didesak ketemu pakar ini-itu… aku sudah kehabisan akal! Jika begini terus aku bisa bertindak di luar akal. Tadi aku sudah ngancam, “Aku pacaran, disuruh putus. Sekarang mau dibawa ke pendeta buat didoain. Memangnya aku kesurupan? Kalau Mama nggak mau berhenti bikin aku kesal, aku akan cium Denis di depan Mama! Aku pacarin dia buat ganti Fandy, daripada macarin orang lain! Itu baru kesurupan! Mama mau?”

Mama nangis, deh.

Denis jadi korban, deh.

Aku merasa bersalah, deh.

Kutulis di diary, deh.

Sebentar lagi aku pasti gila!

NB: Sorry ya, Den. Itu cuma bercanda, kok. Biar Mama kapok. Habisnya nyebelin banget!

 
 

Anjrit, sekarang gantian aku dibawa-bawa?! Dimas memang sinting. Stresnya sudah parah tuh anak!

 
 

30 Maret 2011

Sebenarnya nggak kepikiran mau nulis. Tapi menjelang tidur tiba-tiba ingin menulis ini. Barusan aku bikin mi rebus, dan tiba-tiba saja jadi kangen masak-masakan kayak dulu. Denis yang bikin bumbu, aku yang ngaduk masakan. Dulu sama dia bisa masak Tom Yam, Cap Cay, Balado, dan Nasi Goreng. Mau ngajak Denis lagi, kayaknya dia lagi capek. Dia sudah tidur duluan di sofa depan teve, meringkuk kayak tukang ronda masuk angin. Karena aku masak sendiri, ya paling-paling cuma mi instan. Bisa, sih, masak sosis dibikin omlet atau sosis guling, kreasiku sendiri. Tapi sekarang Mama sudah nggak pernah beliin. Stok di kulkas sudah lama habis. Mau beli sendiri, duit aja juga nggak dikasih!

Pingin aku bangunin, terus aku suapin mi bikinanku. Tapi takutnya dia nanti malah marah. Aku cuma ingin dia tahu, bahwa aku juga sayang sama dia. Biarpun Denis lebih banyak diam, aku tahu, kok, bahwa dia juga membelaku. Sebelum Papa tahu aku suka cowok, Denis sudah duluan tahu. Bahkan dia pernah hajar sampai bonyok geng bahlul Geri cs, demi membelaku.

Tapi Denis itu ibarat kucing. Kalau kita lagi pingin pegang-pegang dan gendong-gendong, dianya ogah. Giliran kita yang lagi bad mood, dianya sok dekat-dekat sambil reseh. Saudara kembar yang aneh.

Aku pinginnya juga curhat ke dia, karena dia saudara satu-satunya yang aku punya. Tapi nggak, ah. Dia sudah cukup stress, jauh-jauh pindah dari Medan akhirnya hanya untuk mendapati keluarganya jadi kacau begini. Aku merasa bersalah padanya. Tapi masa aku harus menuruti kemauan Mama yang makin nggak masuk akal itu? Aku juga nggak bisa!

Biar Denis tidur sesukanya, dan mimpi indah. Aku takut ganggu dia. Aku juga mau tidur saja, dapat mimpi atau tidak aku nggak peduli. Mau mimpi indah juga nggak ngefek, besok Mama tetap masih marah-marah. Jangan-jangan, besok Mama gantian mau bawa aku ke dukun?

Hari-hari memang sudah berubah.

 
 

Eh, kapan aku pernah marah-marah cuma gara-gara dibangunin dari tidur? Hatimu memang gampang ciut, sih, Mas. Aku mau kasihan, terharu, tapi masalahnya lu tuh juga nyebelin. Huh!

 
 

 

7 April 2011

Hari ini ada berita yang menggembirakan untukku. Papa akhirnya menginjinkan aku pergi ke Bali! Ya ampun, Tuhan… thank you so muachhh!

Papa membuat banyak syarat, tapi semua masih masuk akal. Aku harus fokus menghadapi Ujian Nasional. Aku boleh berangkat jika ujian sudah selesai. Di Bali, aku harus tinggal di rumah kawan Papa, untuk menghemat ongkos. Aku ke sana bukan untuk foya-foya, untuk itu Papa akan memberiku saku secukupnya. Aku boleh tinggal di sana untuk beberapa waktu yang cukup lama, tapi harus sudah pulang sebelum pengesahan ijazah. Selama di Bali aku harus tetap jaga kontak dengan Papa. Okelah, aku setuju semua syarat itu.

Sebenarnya ada yang kami susun di balik ini. Ini bukan semata-mata Papa ingin aku menenangkan diri di Bali, tapi sebenarnya Papa ingin agar Mama juga bisa mengambil pelajaran dari kepergianku. Kasarnya, aku akan pergi seolah-olah aku minggat. Harapan Papa adalah Mama akan belajar menerimaku saat aku kembali nanti.

Awalnya, Papa juga mau membicarakan ini dengan Denis. Tapi, tiba-tiba saja terlintas di pikiranku, betapa ini tak ubahnya sebuah persekongkolan yang akan membuat Mama menjadi ‘seorang diri’ di sini. Kami mencoba meminggirkan Mama. Tiba-tiba aku jadi tak sampai hati untuk melakukannya.

“Tiga orang tahu, dan hanya satu orang yang tak tahu. Itu nggak adil buat Mama, Pa. Aku cuma bermaksud sedikit bersenang-senang, atau menenangkan diri, bukan bermaksud menghukum Mama. Denis tak perlu ikut tahu rencana ini. Biar dia juga berada di posisi Mama. Biar ini menjadi adil.”

Begitu kataku. Meski rasanya nggak tega juga ke Denis, tapi kupikir itulah yang terbaik. Agar pergiku tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk berbuat sesuatu bagi keluarga. Sesuatu yang lebih baik. Akhirnya Papa setuju dengan pemikiranku.

Deal! Aku akan pergi ke Bali hanya dengan sepengetahuan Papa. Mama dan Denis tidak akan tahu. Semoga Denis memaafkanku. Dan pada saatnya dia akan tahu apa yang kupikirkan di balik rencana ini, bahwa aku ingin keluarga ini membaik meskipun caraku terdengar konyol, curang, dan agak seperti drama. Aku berusaha untuk tidak membenci Mama, meskipun Mama sudah membuatku gusar dan kacau. Aku tetap menyayangi Mama. Aku sayang kalian semua.

Saat aku berpikir begini, aku pun mulai paham mengapa Fandy juga berusaha tetap hormat kepada orang tuanya. Oh, dia sungguh pacar yang baik, seperti katanya sendiri.

Bagaimanapun, orang tua adalah tangan Tuhan ketika menciptakan kita. Dengan tetap memelihara rasa hormat itu, jika suatu ketika aku berdoa, maka semoga Tuhan pun masih sudi mendengar.

Tuhan, aku cinta Fandy. Tiap kali kurasakan arti dirinya bagiku, aku selalu berterima kasih padaMu. Bagiku, dia adalah pemberianMu, sebagai pemelihara hatiku. Keadaan yang sekarang jadi memburuk ini, membuatku ingin tahu jawabMu: Apakah yang menjadi kehendakMu atas cinta kami? Tak mungkin untuk mencerai-beraikan keluarga kami, kan?

Soal cintaku, aku tetap akan keras kepala. Tapi bukan berarti aku tak menghormatiMu.

 
 

10 April 2011

Hari ini aku menanam pohon kamboja di belakang rumah. Aku membeli bibitnya dari pasar, kata penjualnya itu kamboja Bali. Aromanya lebih wangi dan dapat berfungsi sebagai tanaman hias. Yang pasti beda dari jenis kamboja yang tumbuh di kuburan.

Pertama kali menyukai aromatherapy, aku memang paling suka dengan aroma kamboja, atau nama lainnya Frangipani. Aromanya wangi dan sejuk, tak terlalu menusuk. Fandy juga menyukainya. Sepertinya ini saling terkait begitu saja: aku akan ke Bali; aku menanam kamboja Bali; aku dan Fandy sama-sama menyukai aromanya.

Tapi nggak mungkin aku ngajak Fandy ke sana. Nanti kasusku bisa tambah parah, dilaporkan polisi karena melarikan anak orang. Lama-lama, rasanya nyesek juga, status pacar tapi nggak bisa berbuat apa-apa, cuma untuk ketemuan sekalipun. Aku mulai berpikiran, apakah mempertahankan status itu benar-benar jalan yang tepat? Sedangkan tantangan dari kedua keluarga sedemikian jelas? Iya, sih, ini untuk cinta. Tapi apakah ini memang yang terbaik untuk cinta kami?

Huh. Jangankan ngajak Fandy, aku saja harus merahasiakan rencana ini dari orang rumah. Cuma Papa yang tahu. Waktu Denis menemaniku menenam pohon itu, dan ngobrol dengannya, sebenarnya aku menahan sedih. Karena aku akan meninggalkan dia di sini, dan aku terpaksa tak bisa memberitahukan apa-apa padanya. Padahal selama ini Denis selalu menjadi pembelaku.

Maaf, ya, Den. Kalau nanti aku pergi, baik-baik di rumah, ya. Jaga Mama. Aku pasti balik, kok.😦

 
 

Ya, aku juga masih ingat saat aku menemaninya di belakang rumah, menanam pohon itu. Dia terlihat lebih sumringah dari biasanya. Lebih ceria. Ternyata karena sudah dapat ijin dari Papa untuk pergi ke Bali. Tapi di balik itu dia juga menahan sedih?

Emhh, setidaknya aku mulai percaya, bahwa sebenarnya dia memang masih peduli padaku. Dia memikirkanku. Dia hanya tidak mengungkapkannya. Aku memaafkannya.

Aku sudah mencoba untuk tidak terharu, tapi… aku mulai terharu.

 
 

11 April 2011

Malam ini kubuka Facebook-ku, dan aku terkesiap oleh pesan Fandy. Dia tak membalas pesanku sebelumnya yang sudah cukup lama kukirim, tapi malah membagikan berita baru yang membuatku sedih.

“Hari ini ortuku datang ke kos. Katanya dapat laporan dari Pak Alex, katanya pernah melihat kita masih bergaul. Bapakku memberi ultimatum, bila aku masih berhubungan denganmu, aku akan dipulangkan ke Sragen. Sekolahku akan dipindah ke sana. Sadis, ya? Kuiyakan saja. Tapi sebenarnya itu malah bikin aku makin mantap bertahan. Love you. Hehehe.”

Jantungku terasa meremang. Lunglai hatiku. Aku cuma sanggup menjawab, “Tidurlah yang tenang. God bless you.”

Kenapa mereka setega itu?

 
 

 

 

15 April 2011

Hari ini, ada satu hal penting yang kutempuh. Berhari-hari aku telah memikirkannya, hingga akhirnya matang. Hari ini, akhirnya aku telah mengucapkan kata ‘putus’ pada Fandy.

Kukatakan padanya, bahwa ini bukan karena aku bosan bertahan. Bukan karena aku tidak kuat lagi dengan tekanan ini. Tapi aku melihat dia sudah terlalu kacau karena hubungan kami. Kami sama-sama menghadapi penolakan, tapi aku masih lebih beruntung darinya karena aku punya Papa dan Denis yang membelaku dari sikap Mama. Sedangkan Fandy, dia seorang diri menghadapi keluarganya. Kedua orang tua dan juga saudara-saudaranya tak berpihak padanya. Bahkan pamannya ikut mempersulit situasi dengan membuat pengawasan ketat di tempat kosnya.

“Di keluargaku memang tak ada yang membelaku, tapi aku punya kamu! Itu yang membuatku bertahan menghadapi keadaan ini! Sekarang, kamu juga ingin meninggalkanku?”

Hatiku rasanya hancur mendengar ucapannya itu.

Kukatakan padanya, bahwa aku bukan ingin meninggalkannya. Tapi justru aku ingin membebaskannya. Aku ingin kami melepaskan diri dari ikatan. Bukan karena aku tak lagi mencintainya, tapi karena aku takut jika mempertahankan diriku akan menjadi pilihan terburuk yang pernah dia buat.

“Aku masih cinta sama kamu. Tapi aku egois jika hanya menuruti perasaanku sendiri, sedangkan keadaanmu sesulit ini, lebih sulit dariku. Aku tak ingin semakin membebanimu.” Begitu kuucapkan.

Aku mengingatkan dia, bahwa dulu pun aku sudah pernah membawanya kepada kesulitan. Yaitu saat dia turut menjadi sasaran gerombolan Geri, gara-gara kedekatannya padaku. Sekarang, aku menyusahkannya lagi.

“Jangan kamu pikir ini membuatmu hancur sendirian, Fan… aku juga hancur harus mengatakan ini. Aku masih ingin bersamamu, masih ingin memiliki kamu, masih ingin berbagi waktu yang menyenangkan denganmu seperti yang pernah kita lakukan. Tapi nyatanya kita sudah sulit melakukan itu. Aku berpikir bahwa, tanpa aku, mungkin kamu akan lebih leluasa untuk menentukan langkahmu, dan siapa tahu itulah yang akan memberimu kebaikan kelak. Lebih baik dari yang bisa kamu dapat dariku. Asalkan kamu menemukan kebaikan itu, meski bukan denganku, aku ikhlas, Fan.”

Raut wajahnya saat menatapku, membuat perasaanku semakin tercabik. Terlebih saat dia berucap, “Kamu sedang mengira-ngira, di masa depan aku akan bersama seseorang yang bukan dirimu…? Bahkan, apakah kamu juga sedang membayangkan aku akan bersama seorang perempuan…? Hanya karena kamu menilai aku tak cukup kuat menjalaninya denganmu? Lihat, sampai sekarang aku masih bertahan, kan? Aku kuat!”

“Ya, kamu kuat. Lebih kuat dari yang kubayangkan. Lebih kuat dariku. Akulah yang lemah, Fan. Dan aku tak bisa lagi memaksamu untuk bertahan demi aku. Kita selalu ada batasnya, Fan.”

“Meski kamu masih mencintaiku?”

Kata-kata itu mengeruk hatiku. Membuatku tercekat. Bahkan membuatku mengangguk pun sulit. Air mataku tak bisa kubendung lagi. Itu menjadi pertama kalinya aku menangis di depannya. Tapi aku tak malu. Aku sudah tak kuat melihat dia terus tertekan hanya karena aku ingin memilikinya.

Kukatakan padanya, “Kamu yang bilang padaku, agar kita tetap menghormati orang tua. Aku akan lakukan, Fan. Pertahankan keluargamu. Aku juga akan begitu.”

Dia tetap keras kepala, “Tapi kita bisa lakukan itu sambil tetap bersama!”

“Bersama apanya? Kita tak pernah bisa bersama lagi seperti dulu!” kataku, melepaskan emosi. “Ayo kita coba lebih realistis, Fan. Mumpung kamu juga… kamu belum melakukannya terlalu jauh denganku….”

Bagian itu sungguh sulit kuungkapkan. Tapi dia langsung mengerti. Dan tanggapannya justru membuatku makin galau.

“Bila kali ini aku menurutimu, apakah bisa membuatmu menarik kata ‘putus’ itu?” balasnya, seperti jeratan laso ke dalam dadaku, menarikku dengan begitu kuat dan menambah pedih. “Katakan saja, Mas….”

Tangannya merengkuh pinggangku. Merapatkan tubuhku padanya, menekanku hingga dapat kurasakan titik kelelakian di bawah perut kami bertemu. Penis kami bersapa, bersentuhan meski dari balik celana. Cukup untuk menggetarkan saraf-sarafku, dan merangsangku. Tapi…

Hahaha. Tawaku terasa getir ketika menepis rengkuhannya. “Tak perlu begini, Fan. Sudahlah. Nggak munafik, pasti akan menyenangkan kalau kita melakukannya. Tapi nggak akan memperbaiki keadaan. Bahkan mungkin malah akan memperburuk, karena aku pasti akan kecanduan melakukannya denganmu. Jadi… tak perlu lagi, Fan.”

Dia terdiam dengan wajah menyedihkan. Membuatku tak sanggup lagi menatapnya, karena hanya akan membuatku semakin luluh.

“Sekali lagi, ini karena aku mencintaimu, Fan. Bebaskan sejenak diri kita. Berikan kesempatan kepada segala kemungkinan. Berikan kesempatan kepada keadaan ini untuk membaik. Lalu kita lihat takdir akan seperti apa. Bila takdir memang menjodohkan kita, maka untuk apa takut melepas diri sejenak?”

“Jika ternyata takdir berkata lain? Jika ternyata ini benar-benar menjadi akhir hubungan kita?”

“Maka semoga kamu akan bersama dengan yang lebih baik dariku. Dengan begitu, kehilangan aku tidak membuatmu kehilangan kebahagiaan. Semoga begitu juga denganku. Kita pernah sepakat, kan, bahwa cinta kita belum tentu cinta sejati? Karena waktu masih panjang, Fan. Mari kita buka segala kemungkinan itu. Demi kita berdua, demi keluarga kita. Percayalah, we’ll be okey.”

Dia mulai belajar tersenyum, meski tetap begitu pahit.

“Kita akan baik-baik saja? Terus, kenapa aku harus melihat matamu itu menjadi basah?” lontarnya, sedikit mengolokku.

Aku mencoba tertawa. “Aku tetap pacar yang manusiawi, kan?”

Dia kembali memelukku erat. Kali ini aku tak menepisnya.

“Aku tak akan menangis di depanmu. Aku akan menangis di rumah saja, seharian atau semalaman jika perlu. Kubiarkan kamu menganggap kita putus. Tapi aku tak akan menganggap kita putus!”

Begitu katanya. Tapi…

Dia bohong jika bilang ingin menangis di rumah. Karena kurasakan bahuku basah saat dia memelukku. Tapi aku tak menyinggungnya. Aku tak mengoloknya. Gandalf berkata, tak semua air mata itu jahat.

“I love you…,” itu ucapnya di ujung peluk perpisahan.

Kalimat sederhana, klasik, dan klise… tapi tetap ajaib untuk membuat air mataku kian terkelupas.

Dan, sekarang pun aku menangis lagi menulisnya. Seharusnya kutulis ini dengan tinta sungguhan, sehingga tetes-tetes yang jatuh dari mataku meninggalkan jejak di atas halaman. Kelak aku bisa membacanya lagi sambil tersenyum, bahwa aku pernah menjalani cerita cengeng seperti ini. Mungkin saat itu aku sudah bersama orang lain, atau… atas kehendak takdir aku masih bersama Fandy, maka bercak-bercak tinta yang pernah basah itu mungkin akan terlihat sebagai kepahitan yang cantik. Sebab masa lalu tak harus selalu menjadi musuh.

Entah siapapun yang ada di samping kita nanti, semoga luka ini membentuk hati kita menjadi lebih gagah, Fan. Dan kamu tetap akan berada di antara yang terbaik, di dalam hatiku, di dalam ingatanku.

Huh. Sebentar lagi Ujian Nasional. Aku membayangkan akan ada soal pilihan ganda dengan pertanyaan: “Love is…?”

Pilihan jawaban yang disediakan adalah: A. Afection ; B. Blind ; C. Crazy ; D. Destiny ; E. Emotion.

Maka akan kutambahkan sendiri jawabanku: F. Fuck you! Love is more than you can describe!

I love you, Fan. For always.

Mas, baca catatan lu yang ini… aku nggak sampai nangis, sih. Aku masih takut kalau air mataku keluar akhirnya hanya akan sia-sia. Tapi, iya, aku ikut sedih. Hffhh…. Segitunya ya, lu cinta sama Si Unyu. Dan segitunya juga dia cinta sama lu. Padahal kalian masih sama-sama ingusan. Kasihan.

Sekarang, aku nggak bisa lagi menyalahkan Fandy yang pernah cipokan sama Fillipe. Karena Dimas sendirilah yang mengijinkan hal itu terjadi, sejak dia bilang, “Berikan kesempatan kepada segala kemungkinan.” Si Unyu cuma anak yang galau. Mungkin dia tetap membayangkan Dimas saat mencium bule Perancis itu.

Sejak menulis tentang putusnya dia dari Fandy, Dimas tak menulis lagi sampai beberapa waktu. Kurasa dia menyediakan fokusnya untuk menghadapi Ujian Nasional. Dia lupakan hal lainnya.

Setelah masa Ujian Nasional lewat, dia mulai menulis lagi, yaitu sehari sebelum dia berangkat ke Bali.

Berikan kesempatan kepada segala kemungkinan. Lantas kemungkinan apa saja yang dapat terjadi ketika dia tiba di Bali? Apakah masih sama dengan rencana dan tujuannya? Beberapa sudah diketahui, bahwa tak semua berjalan sesuai rencana semula. Tapi aku yakin, lebih banyak yang belum kuketahui.

Kita akan tahu….

 
 
 

bersambung…

 
 
 

 

61 responses to “Karung 19

  1. noelapple

    3 November 2014 at 23:37

    Nohon maaf jika saya menulis Karung 19 ini begitu lama, karena, sudah pernah saya bilang, menyusunnya sebanding dengan menulis separuh dari keseluruhan cerita CRA 3. Ibarat keping mata uang, selama ini kita baru melihat dari sisi Denis. Di Karung 19 inilah saya menghadirkan sisi yang lainnya, yaitu sudut pandang Dimas. Tak berlebihan jika kemudian karung ini menjadi sebuah fragmen yang panjang. Yang di-post ini baru sepertiganya. Dengan pertimbangan naskah yang panjang itu, maka saya putuskan untuk memecahnya jadi dua karung. Jadi Karung 20 nanti sesungguhnya adalah bagian yang duapertiga dari naskah ini. Silakan nantikan pada hari Sabtu minggu ini. Terima kasih.

     
  2. FA

    3 November 2014 at 23:47

    akhirnya rilis juga.. hehhe
    dimas, denis, ben, kalau misalnya adalah manusia nyata, harusnya sekarang kalau abis lulus SMA langsung kuliah sudah semester 7, bener gak bang? lulusan 2011 kan?

     
  3. alfa nugraha

    4 November 2014 at 00:04

    wah ga tau kalo cra udah sampe sesion 3

    ini cerita legenda bgt.
    favorit dari cra 1 n cra 2.
    ini malah makin keren aja.
    ngabisin 2 hari buat baca dari karung 1 sampe 19.
    dtunggu lanjutannya bang noel.

    terus berkarya

     
  4. lovinhope

    4 November 2014 at 00:36

    Keren mas, jadi ikutan nangis bacanya. Hehe, tapi saya penasaran bukankah Tuhan yang memberikan rasa cinta? Bagaimana dgn cinta sesama jenis? Bukankah Ia yg melarang kita, lantas mengapa cinta antar sejenis dapat terjadi? Mungkinkah yg dirasakan bukan cinta? Haha abaikanlah mas, hanya teenager labil 😖
    Ohiya mas, tolong diniatkan lagi untuk melanjutkan HBR-nya 😁

     
  5. Fahmi aldana

    4 November 2014 at 00:50

    Am i the 1st comentator? Wuahh, such a great story always make your mind blown…haha untuk kata ‘udah gak perjaka’nya dimas sepertinya aku tahu itu mengarah kemana😄, dan bener kata2 mas noel, baca karung 19 ini kayak me-replay ulang isi CRA 3 tapi dari sudut pandang dimas, berasa baca rangkuman dah, itung2 merefresh kembali ingatan2 dari karung 1 kalo2 udah mulai nge-blur ceritanya…keep fighting mas noel, i’ll be waiting for the next chapter ^,^9

     
    • noelapple

      4 November 2014 at 02:21

      Mengarah ke mana?

       
      • Fahmi aldana

        4 November 2014 at 07:17

        Mengarah ke hatimu mas *plakk😄

         
      • noelapple

        4 November 2014 at 10:05

        Tidak relevan.

         
      • Fahmi aldana

        9 November 2014 at 02:57

        Jadi, bang noel nunggu jawabanku yang relevan?

         
  6. DM_P

    4 November 2014 at 00:58

    Oke Lanjut!!!!!!!!
    *kasih yg greget lg dong biar rame gitu :3

     
  7. eryd

    4 November 2014 at 01:15

    ini lho alasan knapa CRA layak di tunggu2.
    Makin keren keren.

    thanks Noel.
    Karyamu emang keren.
    Lanjutkan…!!

     
  8. ara

    4 November 2014 at 01:41

    Haduuhh,,, jadi pengen buru” tahu, asli bikin kepo maksimal …

    Berdo’a ah ama Tuhan semoga mas Noel selalu di beri kesehatan,,kelancaran buat nulis dan d kasih tambahan rezeki buat posting di warnet.. Hehehe .. Aminnnn. #oot dikit

     
  9. gustie

    4 November 2014 at 02:51

    oh… my good mas…. aku baca pas putus nya dimas sama fandy,,, itu aku sampai netesin air mata lohh… this is good story banget… mas noel emng TOP BANGETT DAHHH…

     
  10. alvian reymond

    4 November 2014 at 03:08

    bener ngerasa gak
    adil untuk part ini, nunggu sampai 2mingguan tapi yang didapat hanya baca diary doang dan itu gak nemu feelnya lo mas… Dan sekarang musti nunggu 1minggu lagi buat baca intinya ..
    Tp tetep matur suwun jg sih udah mau post🙂

     
    • noelapple

      4 November 2014 at 10:03

      ah, yang lain dapat feel-nya kok.

       
  11. Wisnu_prmn

    4 November 2014 at 03:48

    Idk I just love to read your story. Please don’t make us wait much longer to read Karung 20. Jangan lama-lama ya ka noeeeelll.

     
  12. lostfaro

    4 November 2014 at 07:00

    sekian lama menunggu :’) saya hampir saja melupakan jalan cerita nya, untung di part ini bnyak flashback dan kata kunci di setiap part.. jadi ngebacanya sambil teringat part2 yg sebelumnya🙂
    di tunggu karung 20 nya ya bang !
    karyamu masih the best cerbung yg saya baca

     
  13. Fre

    4 November 2014 at 17:58

    “Fuck you! Love is more than you can describe!”
    and dear god, itu kalimat favorit banget. way too epic. too much feeling i can barely breath T.T and the way dimas cursing is just…. asdfghjkl!!!!

    sial, ngerasa emosional banget baca chapter ini. udah terlalu kangen sama dimas sampe… apa ya, gakkuat. aku kuangen pol sama itu anak. ya tuhan.

    dan ngebaca diary dimas, bener2 kayak ngebaca hatinya. remind me again why i fell so damn in love with him two years ago. wait… nggak tau tepatnya berapa tahun lalu sih. yg jelas pas aku masih SMA. god, CRA bener2 udah ada selama itu ya? :’))

    terakhir, mau ngucapin terimakasih ke kak noel. makasih karena mau berbagi cerita ini ke kita kita.

    dan… gatel pengen bilang ini : gak sependapat sama orang2 yg kecewa karena nunggu lama atau marah-marah karena suatu cerita gak apdet-apdet. i mean, who are us? kita cuma pembaca… seorang penulis menulis cerita karena dia suka dan dia memutuskan berbagi ke orang lain. gak munafik sih, semua pembaca pasti pengen cepet cepet baca lanjutannya, tapi kayaknya bukan hak kita juga untuk nuntut penulis buat apdet dipercepat lah, kecewa karena apdet cuma segini lah… dan sebagainya. seolah2 tugas seorang penulis cuma memuaskan para pembacanya. oops. just saying. no offense. ._.v

     
    • noelapple

      4 November 2014 at 18:47

      ah, dirimu bisa saja. soal lamanya bikin bagian ini, kuakui karena memang sulit bikinnya. bukannya sengaja dilama-lamain. tanggal-tanggal yg tercantum di tiap bagian diary Dimas, sekilas tampak sepele, tapi itu justru bagian paling sulit. tanggal-tanggal itu harus sinkron dengan semua yg pernah dicatat di CRA sebelum2nya. aku selalu berusaha untuk detil. bisa jadi masih ada yg miss juga, tapi aku dan kalian belum menyadarinya saja.

       
  14. kim juliant

    4 November 2014 at 18:35

    Tambah menantang ceritanya…
    Serasa tokoh ceritanya nyata..
    Thanks mas noel..🙂

     
  15. Zidan

    4 November 2014 at 20:32

    Ini akan tetap menyenangkan

     
  16. muhamad sobani

    4 November 2014 at 20:48

    kurang geregett

     
  17. Lorenzo Alfredo

    4 November 2014 at 21:56

    Terharu banget😥

     
  18. imt17

    4 November 2014 at 22:29

    fandi mo ngelepas keperjakaannya di umur 20, kalu mas noel?

    *ehhhh salah komen

     
  19. yuyu

    5 November 2014 at 02:27

    ‘ Berikan kesempatan kepada segala kemungkinan ‘ … Kata” nye simple tapi makna nye dalem.. Apa bila berjodoh , pasti bakal tetap bersama… Meskipun slalu ada rasa takut, kalo orang yg kita cintai saat ini tidak berjodoh di suatu saat nanti…

    Keren bang…
    Coba tuh si dimas dan fandy berdoa…
    Tuhan jika dia jodoh ku, maka dekat kan lah…
    Apabila ternyata dia bukan jodoh ku, bisa gak di cek lagi , Tuhan…, sapa tau ada kesalahan teknis…
    Namun apabila dia masih tetap bukan jodoh ku…, plisss Tuhan jodoh kan lah kami… >_<

     
  20. @Yudaa

    5 November 2014 at 03:20

    Niceeツ keep’Writing masnoel;)
    *Udah ituaja:v

     
  21. erni

    5 November 2014 at 07:10

    sukaaaaaa.
    jadi makin kangen sama Dimas.
    uh, Fandy keg nya cinta banget sama dimas. sama keg aku:-P
    aduh, dapet puisi dari mana itu?
    atau buat sendiri? kok bisa keren gitu?

     
  22. dimazzh

    5 November 2014 at 12:07

    Thanks mas noel, karung ini paling berkesan menurutku.

    Menjawab pertanyaan dr komentar diatas, Cinta itu berasal dr otak bukan dari hati, jadi cinta itu bukan 100% dr tuhan.

    Cinta sesama jenis itu sebuah cobaan (dipikiranku), bagi yg mampu bertahan dr hawa nafsu maka dosa2nya yang lama akan terhapus sedikit demi sedikit (sumber:kitab suci).

    Gk sbr ma KARUNG 20

     
  23. mike andrean

    5 November 2014 at 15:41

    Mas Noel, Saya belum lama buka blog ini. Saya baca semua keranjang dan kantong. Tapi pas buka CRA 3: rumah jahat, kok pake password. Tolong kasih tau dong. Apa passwordnya, please

     
    • noelapple

      7 November 2014 at 21:38

      buka saja blog saya di blogspot.

       
  24. Ari

    6 November 2014 at 00:36

    Keren keren keren ,,

     
  25. dian kusuma

    6 November 2014 at 03:02

    Mas Noel, ceritanya bagus ini… tulisan diarynya begitu hidup.
    Mas, dari mana sih dapet referensi lagu-lagu yang nggak gitu ‘mainstream’ tapi enak enak gini. Seperti yang ada di youtube karung 19 ini?

     
    • noelapple

      7 November 2014 at 21:35

      saya sulit menjelaskannya. intinya, selera musik saya memang bagus.

       
  26. Shinta Inta

    6 November 2014 at 03:04

    Mas i love you,,,,

     
  27. Osa

    6 November 2014 at 10:32

    Akhirnya sudah lama nungguin dan akhirnya publish juga. Ditunggu karung 20 ya bang😀

     
  28. mr Dong dong

    6 November 2014 at 22:21

    Apa nanti bakal di jelasin si Dimas ngapain ngapain aja di bali mas..?
    (yaaa sebelum laptopnya di tinggal)

     
  29. teyo

    7 November 2014 at 02:32

    Tak kira mas noel beneran berhenti nulis CRA kalo JJ udah dilantik.
    Ternyata tidak benar, mas noel masih meneruskan kelanjutan CRA dan ternyata karung ini bikin jleb+geregetan hahaha :v

     
    • noelapple

      7 November 2014 at 21:30

      kenapa harus dihubungkan dengan itu?

       
  30. si Boy

    7 November 2014 at 07:16

    akhirnya hadir juga nih karung 19 ^_^
    oalah trnyata mereak belum “ngelakuin” syukurlah🙂
    Ku nantikan karung 20 yah mbah Noel,, berharap akan lebih amazing alur ceritanya dri karung2 sebelumnya #wish

     
  31. tegarcikacakti

    7 November 2014 at 10:28

    Wah akhirnya bisa tau kejadian2 sebelum dimas ke bali
    Makin seru nih

     
  32. Obipopobo

    8 November 2014 at 09:51

    Bang Noel makasih udah di update yah (^0^), obi belajar banyak dari tulisan bang Noel, blog SKO nya Obi page viewnya udah 10000 an bang!! Tetep update yah bang, Obi ngikutin cerita ini dari Obi masih SMP sampe sekarang :’) , Obi salut sama bang Noel ! Obi juga tau gimana sukarnya bikin tulisan, tapi aslinya menyenangkan bang kalo Obi bisa berbagi tulisan juga sama seperti abang tuh ^_^

    Via obipopoboo.blogspot.com

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 03:29

      Semoga blog-mu berkembang pesat, ya.

       
      • Obipopobo

        10 November 2014 at 23:49

        Makasi bang Noel buat dukungannya ke Obi. Bang Obi titip salam buat DImas sama Denis nyah yah bang (^0^)., bilang dari Obi ^0^9

         
  33. bayu

    8 November 2014 at 15:16

    selalu menunggu cerita ini mengajarkan banyak hal tentang cinta , kekuatannya , ketulusananya , dan perjuangannya
    terus berkarya selalu

     
  34. Hizkia

    8 November 2014 at 22:30

    Wah setelah sekian lama menunggu muncul juga Karung 19nya. Di karung ini bikin greget dan lucu masa. Ngebayangin aja mukanya Denis pas baca diarynya Dimas pasti lucu, apa lagi pas Dimas yang ‘ngèbèt’ sama Fandy. Ditunggu karung 20nya!!!

     
  35. Neko_ARM11

    9 November 2014 at 07:47

    Wah akhirnya keluar juga ni yang ke 19 udah ak tungguin ni bang hahaha… yg 20 jg bruan diluncurin ya bang . ak stia nunggu kok hahaha… hal yg pling ak suka dri crita2 CRA ni tu krna si Fandy sm Dimas nahan nafsu mereka itu bkn mkin so sweet mnurutku.

    btw bang noel HBR msh lanjut gak sih?

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 13:46

      Ughh, kacihan… telat….

       
  36. gad

    10 November 2014 at 01:02

    ada rencana gak kak noel novel CRA ini dijadikan film,, makin keren nih ceritanya,,, kan banyak tuh film2 yang diangakat dr novel… gak difokusin dari segi seks tp lebih ke cerita (hehehe, hanya saran)

     
    • noelapple

      10 November 2014 at 11:03

      Siapa dulu yg jadi produser & sutradaranya.

       
      • gad

        10 November 2014 at 12:29

        nggg, pinter2 kak noel nya lah (haha) di bikin part gitu…… kalo sukses dbikin film kan buat kak noel nya sendiri, aku sbg pembaca hanya bisa mendukung, bnyk loh film2 yg udah booming yg gak beda jauh ama novelya kak noel :3

         
  37. harryboc

    11 November 2014 at 21:41

    gimana keadaan orang tuanya fandy? mereka gaada usaha untuk nyariin anaknya yang udah 1 minggu lebih belum balik ke rumah? apa strategi fandy yang dgn alasan liburan bisa buat orang tuanya percaya?

     
    • noelapple

      13 November 2014 at 11:33

      iya ya, gimana dengan orang tua Fandy ya? ada yang tahu nggak?

       
  38. Kkk

    28 Maret 2016 at 22:56

    I know how it really feels
    Aku pernah kok, ketawan, sama kedua ortuku. Cukup parah. Tapi aku mengelak. Anehnya, sejak introgasi pertama yang singkat itu (karna kami sekeluarga mau ada acara di luar), gak pernah ada lagi introgasi kedua. Aku bahkan waktu itu sempet diancem mau dirukiyah, alias dibawa ke ustad. Agak aneh sih memang, agak lucu, padahal aku gak kesetanan. Persis kayak cerita dimas ini.
    Papa jg pernah secara spontan nyebut2 masalah itu lagi (sekitar sebulan setelahnya), itu pun cuma sekali dan gak aku tanggapi.
    Sekarang, keduanya gak pernah ungkit2 itu lagi walau udah hampir 2 tahun.
    Mereka juga gak pernah tanya kenapa aku belum punya pacar juga, atau seenggaknya ngenalin cewek lah ke mereka, padahal aku skrg udah 20 tahun. Aneh gak mas? Atau normal?
    Menurut mas noel, apa yang mereka pikirkan? Apa mereka berpikir aku masih straight dan menerima elakanku yang waktu itu, atau mereka mulai mengerti keadaanku dan udah menerimanya?

     
    • noelapple

      29 Maret 2016 at 11:59

      Maaf, aku nggak tahu apa isi pikiran ortumu. Meskipun aku bisa menulis ttg paranormal, aku bukanah paranormal. Aku penulis.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: