RSS

Karung 20

 
 

Karung 20

Fragmen: Musafir

 
 

 
 
 

23 April 2011

Ujian Nasional sudah selesai. Sesuai ijin Papa, aku bersiap ke Bali. Hari ini semuanya sudah kusiapkan. Besok aku akan meninggalkan rumah saat masih subuh, saat Mama belum bangun. Mbok Marni biasanya sudah bangun untuk sholat, tapi habis itu dia akan sibuk di dapur. Aku bisa menyelinap keluar dari rumah. Ke stasiun, naik kereta api jurusan Banyuwangi. Bergaya backpacker saja, irit ongkos dan bawa bekal seperlunya.

Aku sedih tak bisa berpamitan ke Denis. Karena dia nggak boleh tahu aku hendak ke mana. Aku melihatnya tidur di sofa depan teve. Akhir-akhir ini dia sering tidur di situ. Kunyalakan obat nyamuk elektrik biar dia tak diganggu nyamuk. Kubenahkan selimutnya yang jatuh di lantai. Berat rasanya ninggalin dia dengan cara begini. Tapi aku juga nggak pergi selamanya, aku pasti pulang.

Aku ingat Denis punya gantungan resleting di tas sekolahnya, sebuah kompas. Mumpung dia tidur di depan teve, kuambil kompas itu. Untuk beberapa waktu ke depan aku nggak bisa lagi dengar nasihat-nasihat dia. Siapa tahu kompasnya bisa jadi jimat pengganti dirinya. Heheheee…. Sebenarnya ini iseng saja, sih. Tapi, kurasa aku pasti memang akan kangen dia.

Bye all.

Aku pasti pulang, kok. Dan bila saat itu tiba, semoga semua memang telah membaik lagi. God bless you.

 
 

Kompasku, kukira hilang diambil teman di kelas. Ternyata, sebelum pergi Dimas masih sempat-sempatnya ngusilin barang kesayanganku. Tapi gue ikhlas, deh. Semoga berguna buat lu!

 
 

25 April 2011

Perjalanan Solo-Banyuwangi melelahkan. Duduk selama dua belas jam lebih di bangku kereta ekonomi, dengan udara yang panas dan penumpang yang kumuh, sungguh nelangsa. Tapi sebagai sebuah pengalaman, aku tak ingin menyesalinya. Setidaknya aku juga masih dapat terhibur oleh pemandangan yang kulewati.

Dan akhirnya, aku tiba di Gilimanuk pagi ini. Yeah! Sekarang aku sudah berada di dalam bus, dan saat ini sudah sampai dan sedang singgah di Terminal Negara. Aku terlalu senang dan antusias untuk menunda jemariku mengetik. So, tak perlu menunggu hingga nanti malam, kutulis ini selagi masih duduk di bangku bus.

Hmmuuahhh…! Akhirnya menginjakkan kaki ke Pulau Dewata lagi, setelah dua tahun aku merindukan indahnya pulau ini. Pura, meru, candi bentar, pohon kamboja, cowok-cowok dengan udeng, emak-emak membawa canang, itulah pemandangan yang akan menghibur mataku mulai saat ini. Tak hanya itu, pemandangan bule-bule pasti juga akan bertebaran di mana-mana. Saat ini saja, di bangku belakangku ada empat bule backpacker, dua cowok dan dua cewek. Sayangnya, nggak cakep, sih. Cowok yang satu berambut rasta alias gimbal, yang satunya lagi brewok dengan bulu dada selebat sulur beringin. Not my taste!

Kota Negara adalah ibukota dari Kabupaten Jembrana. Seharusnya ini tak jauh lagi dari rumah Mas Awan, dan sebetulnya aku ingin segera bertemu dengannya. Sayangnya, saat ini dia sedang berada di Singaraja, katanya. Sedang menghadiri acara pernikahan kawannya. Terpaksa mencari hari lain untuk bertemu dengan Mas Awan. Hari ini aku akan langsung menuju ke Denpasar, ke rumah kawan Papa yang bernama Pak Martha. Kata Papa aku sudah disiapkan kamar di sana, untuk tinggal selama di Bali.

Bagaimana, ya, rasanya tinggal ala anak kos di Denpasar, metropolisnya Pulau Dewata? Kayaknya seru! Siapa tahu, Pak Martha itu punya anak cowok yang cakep. Hihihi. Atau orang-orang yang tinggal di penginapannya ada yang cakep juga. Bisa buat bumbu, biar lebih asyik selama di sini. Ah, apalah pokoknya. Yang terpenting, semoga semua berjalan seperti harapan.

Hmmhh…. Masih terbayang wajah orang-orang yang kutinggalkan. Papa, yang mengantarku sampai gerbang rumah. Denis, yang masih meringkuk di sofa. Mama, yang tak sempat kulihat.

Fandy….

Ben….

Percayalah, kalian tak perlu mencemaskanku. God bless you all.

 
 

Yang ingin kutanggapi kali ini adalah… bukan kebulatan tekadnya untuk pergi, bukan pula gaya sedihnya waktu mengingat kami, tapi pikirannya tiap kali dia bicara soal cowok! Kubilang juga apa, percuma terharu baca ‘cerpen’ putusnya Dimas sama Fandy! Belum ada sebulan, dia udah ganjen mikirin cowok-cowok lain di sekitarnya. Rupanya Fandy benar lagi, bahwa nggak ada yang bisa menjamin Dimas nggak ngapa-ngapain dengan cowok lain. Apalagi di Bali yang jauh dari rumah! Makanya Fandy juga nggak ragu-ragu cipokan sama cowok lain.

Makanya aku jadi heran sendiri, kalau keduanya sama-sama bukan pacar yang setia, ngapain juga mereka pakai berat hati untuk putus? Ngapain nangis-nangis segala? Ngapain bertingkah seolah mereka itu Romeo & Julio, Adam & Hafid, atau sejoli apalah? Pasangan yang aneh. Aku gagal paham.

Sejujurnya aku malas mengulik halaman ini satu per satu. Tapi aku takut terlewat sesuatu yang siapa tahu penting untuk menjadi petunjuk di mana Dimas sekarang. Mau tak mau, harus kubaca semuanya.

 
 

28 April 2011

Aku kemari dengan harapan dapat menemukan waktu dan tempat untuk bebas dan bersenang-senang. Sudah hampir seminggu di sini, ternyata aku belum benar-benar merasakan apa yang kuinginkan. Awalnya memang bersemangat, jalan-jalan ke Sanur, ke Bajra Sandhi, ke GWK, nyamperin bule-bule cakep, so and so. Tapi, dalam beberapa hari saja aku sudah mulai merasa bahwa Bali ini hanyalah tempat yang bagus. Selebihnya, aku merasa sendirian. Luntang-lantung tanpa teman ternyata nggak asyik. Senang, tapi juga kosong gitu rasanya.

Harap-harap di tempat Pak Martha ada makhluk-makhluk cakep penyegar mata dan bisa diajak berteman, eh… ternyata anak Pak Martha itu cuma satu dan dia cewek yang juteknya nggak ketulungan. Tapi Pak Martha-nya baik, sih. Beliau pengusaha penginapan, yang bisa juga disewa sebagai tempat kos. Kamarnya cukup banyak, sekitar duapuluhan, dan memiliki kolam renang yang cukup lebar.

Ada satu-dua penghuni yang cakep, dan beberapa kali aku melihat mereka sedang berenang. Yang mas-mas body-nya keren, tapi meteroseksual, bulunya dicukurin semua. Hihihi. Yang satunya lagi brondong seumuranku, tapi bulunya ngalahin si mas-mas, lebat booo…! Tapi mereka sombong-sombong, kalau lewat nggak ngajak tegur sapa. Jadi fungsinya cuma buat cuci mata saja. Aku juga nggak tertarik ikutan berenang, sebab kolam renang adalah tempat kencing terselubung. Peribahasa “Sambil berenang minum air” sekarang jadi kurang relevan, seharusnya “Sambil berenang minum kencing”. Mending nggak berenang, lihat saja dari teras.

Beberapa kali aku menghubungi Mas Awan. Dia bilang masih sibuk hari-hari ini. Jadi aku belum bisa menemuinya. Aku takut mengganggu. Aku jadi mulai memikirkan apa yang seharusnya kulakukan di sini. Yang pasti nggak betah lagi jika cuma numpang tinggal di tempat orang, jalan-jalan sendirian ke sana-sini menghabiskan uang, tanpa teman, lalu pulang kemari lagi menghabiskan waktu menonton mas-mas tak berbulu sedang berenang di antara air kencingnya. Seharusnya aku bisa melakukan sesuatu yang lebih dari ini.

Malam ini, dengan mode ‘off line’ aku mengecek Facebook. Di inbox pesan dari Denis menumpuk tiga pesan. Dia kirim dari sejak sehari setelah aku pergi, sampai yang terakhir dikirim kemarin. Aku nggak bisa membahas isi pesannya, aku nggak kuat. Karena sebenarnya aku sedih ninggalin dia. Intinya, dia menanyakan di mana keberadaanku. Ben dan Misha juga mengirim pesan padaku, menanyakan hal yang sama. Membuatku serasa ingin pulang, berkumpul dengan mereka lagi. Tapi, alangkah memalukan jika itu kulakukan? Baru seminggu di sini, sudah pulang lagi tanpa hasil yang jelas? Nggak sebanding dengan tujuanku semula. Apa tujuanku kemari?

Ya, sebenarnya apa tujuanku kemari?

 
 

30 April 2011

Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Mas Awan, setelah dua tahun lamanya. Kemarin dia SMS bahwa waktunya sudah luang, jadi pagi tadi aku segera menuju kemari, ke Jembrana. Dia masih memberiku kesan yang sama. Tenang, banyak nasihat, dan melankolis juga ternyata. Perenung dan simpatik. Aku senang sekali hari ini, apalagi mendengar dia masih menjalin hubungan dengan pacarnya itu, Mas Dika. Awet juga ternyata.

Tapi aku sedih mendengar mereka harus tinggal berjauhan. Setelah ayahnya meninggal, Mas Awan harus menjaga ibunya yang tinggal sendirian di Jembrana. Dia terpaksa meninggalkan pekerjaannya di Badung. Yang mengharukan, Mas Dika tetap mendukungnya. Malah, sejak itu Mas Dika rutin pulang ke Jembrana dua minggu sekali, supaya Mas Awan tak harus meninggalkan ibunya untuk pergi ke Badung. Senang mendengarnya, bahwa cinta dapat menemukan jalan. Bahwa cinta mereka bertahan. Aku dan Fandy? Huks….😦

Seharian Mas Awan mengantarku jalan-jalan di Jembrana. Sangat mengesankan melihat sawah-sawah bersebelahan dengan pantai. Sangat alami. Bahkan suara musik di kejauhan dapat terdengar begitu bening. Aku tak menemukan suasana seperti ini di Denpasar. Bahkan Pantai Kuta, Pantai Sanur, Tanah Lot, bagiku pantai-pantai Bali yang tersohor itu tak satu pun dapat menandingi pantai di pedesaan Jembrana.

Tadi Mas Awan mengantarku ke Pura Perancak. Dari pura yang letaknya di ketinggian itu, aku dapat melihat ke kejauhan, ke pemandangan ladang dan pohon-pohon kelapa yang merapat di tepi pantai dan sungai. Rumah-rumah pedesaan juga terlihat di sana. Tenang. Damai. Indah sekali. Rasanya, separuh dari waktu hidupku ingin kuhabiskan di tempat itu.

Aku jadi teringat Candi Sukuh di Gunung Lawu. Aku dan Fandy pernah ke sana. Dari tempat itu, aku bisa melihat Solo, bisa melihat Sragen. Tapi terlihat sudah sangat kabur, karena jauh. Tak ada pantai, tapi beberapa bendungan dapat terlihat, tampak seperti bercak-bercak keperakan di kejauhan. Di antara bendungan yang terlihat itu, aku tak tahu Waduk Ketro yang mana, bendungan yang letaknya tak jauh dari rumah Fandy itu. Di belakang candi, ada hutan yang kelihatannya sangat teduh dan tenang. Waktu itu pikiranku iseng, aku mengajak Fandy ke hutan itu, siapa tahu kami bisa bercinta di sana. Hahaha. Tapi seperti biasa, dia menolak. Dia bilang, hutan itu angker. Aku percaya saja. Faktanya dia memang pernah kesasar di hutan itu.

Setiap tempat memang memelihara cerita masing-masing. Pantai di Jembrana punya cerita. Candi Sukuh juga punya cerita. Di candi itu, konon, kita bisa menguji keperawanan seseorang. Di candi itu kita juga bisa memohon kesuburan, baik itu kesuburan bumi ataupun kesuburan sepasang manusia. Kalau aku dan Fandy buat apa? Hehehe. Kalaupun kami subur, kesuburan kami bukan untuk saling membuahi. Kesuburan kami adalah protein untuk diri masing-masing, hanya kadang-kadang saja menumpahkannya untuk kesenangan. Hahaha. Aku jadi kangen dia, pacar pertamaku, mantan pertamaku… meski dia tak mau disebut mantan.😦

Melihat sawah bisa berdekatan dengan pantai, itu adalah sesuatu yang menarik. Mas Awan menjelaskan, bahwa air laut dapat berpengaruh terhadap keasaman tanah. Itu membuat tanaman tertentu sulit untuk hidup, termasuk padi. Lalu kenapa di Jembrana bisa? Konon, itu adalah tanda bahwa sesungguhnya Dewa Laut dan Dewi Bumi bersahabat. Persahabatan itu saling melengkapi, saling mengerti, tetapi tidak saling mencampuri. Karena tak semua hal bisa dicampuri.

Setelah kurenungkan, ternyata itu sama seperti yang kulakukan. Kalau harus jujur, tentu aku ingin berada di sini bersama Fandy, atau Ben, sehingga aku nggak harus bersenang-senang sendirian. Tapi kuputuskan untuk tidak, karena ini adalah menyangkut masalahku dengan keluarga. Seorang sahabat boleh tahu masalahku, tapi aku tak boleh mencampurkan mereka. Meski rasanya ingin. Sangat ingin.

Aku akan menginap semalam di sini, di rumah Mas Awan. Tidur di kamarnya yang menghadap ke sawah. Tadi aku menikmati sunset sambil tiduran, ditemani aroma dupa kenanga. Oh my… oh my…, siapapun akan menginginkan kamar seperti ini. Ini mengingatkanku pada kamar Fandy yang ada di rumahnya di desa. Kamarnya juga seteduh ini, berdinding kayu, dengan jendela menghadap ke kebun. Memang tak ada sunset atau aroma dupa, tapi Fandy sudah cukup untuk menggantikannya. Hahaha. Aku kangen aroma tubuhnya, wangi bercampur sedikit asam, seger. Aku kangen bibirnya yang empuk kemerahan. Aku kangen peri nakal itu. Semoga dia baik-baik saja. Dan aku harus tahan dengan konsekuensi dari keputusanku sendiri, bahwa aku dan dia sudah tidak pacaran lagi. Berat….😦

Aku harus fokus pada tujuanku di sini. Aku sudah mulai menemukan semangat itu kembali. Wish me the best!

 
 

1 Mei 2011

Siang tadi aku tiba di Badung. Mas Awan mengenalkanku pada Mas Dika. Akhirnya, aku berkenalan dengan pasangan itu secara lengkap. Haha. Mas Dika cakep juga ternyata. Padahal waktu kulihat fotonya di Facebook kayaknya biasa saja. Memang, lebih baik cakep di dunia nyata, daripada cakepnya cuma di dunia maya.

Mas Dika orangnya jauh lebih supel. Dia juga baik sekali. Dan berjanji akan mencarikanku pekerjaan. Pada dasarnya ini adalah jasa mereka berdua, Mas Dika dan juga Mas Awan. Mereka benar-benar menjadi keluarga baruku di tempat yang jauh dari rumah ini. Mereka seperti kakak-kakakku. Ini mengharukan, karena selama ini aku tak pernah merasakan punya kakak di dalam keluargaku. Aku hanya punya adik, yang selisih umurnya tak lebih dari sehari denganku. Adik kembar yang tengil, dan anehnya juga posesif. Tapi sering bikin kangen juga. Kangen berantem.

Di sini aku juga berkenalan dengan Durus. Cowok gendut yang cerewet, dan baru kenal sehari saja sudah ngomong yang jorok-jorok padaku. Tapi yang bikin aku shock, baru sehari kenal dia juga langsung menudingku, “Bli juga sama seperti Bos Dika, tha? Punya tunangan laki-laki?” Aku hampir keselek mendengarnya. Memang, sih, sebelumnya dia sudah tanya-tanya bagaimana aku bisa kenal Mas Awan. Sepertinya dia pandai menyimpulkan sesuatu, dan sangat ceplas-ceplos, tak bisa memendam apa yang sedang dipikirkannya. Aku mengaku saja apa adanya. Berita bagusnya: dia orang yang toleran. Malah dia langsung memberiku rekomendasi untuk menonton beladiri lokal semacam gulat, yang pesertanya cuma memakai pakaian minim. Kuakui aku tertarik. Tadi sore aku langsung menontonnya. Tapi ternyata tak sesegar bayanganku. Peserta-pesertanya terlalu gempal. Fandy masih lebih seksi, ah, biarpun kurusan!

Mas Dika mengijinkanku tinggal beberapa hari di sini, di rumahnya. Untuk saat ini memang suasananya membuatku betah, sih. Tapi kalau sampai berhari-hari, aku takut ngerepotin.

Mas Awan juga akan menginap semalam di sini. Dan galaulah aku! Sekarang kakak-kakakku itu pasti sibuk berdua di kamar mereka. Aku tidur sendirian. Noooo…! Fandy, aku kangen kowe…!😦

 
 

3 Mei 2011

Aku sudah di Denpasar lagi siang tadi. Aku tak bisa lama-lama menginap di rumah Mas Dika. Aku hanya pelancong yang tak bekerja apa-apa, sedangkan dia pekerja yang sibuk. Tinggal lama-lama di rumahnya membuatku sungkan, meskipun dia welcome.

Selama bersama mereka, walau cuma beberapa hari saja, aku banyak belajar. Aku banyak berpikir. Aku melihat mereka orang-orang yang gigih. Pekerja yang tekun. Mandiri dan memiliki dedikasi terhadap hidup masing-masing. Aku jadi tak heran lagi kenapa mereka bisa dihargai oleh orang-orang di lingkungan mereka. Mas Dika dihormati oleh karyawan-karyawan yang bekerja dengannya, meski dia seorang gay. Durus yang omongannya jleb dan norak itu tak hanya menganggap Mas Dika sebagai bos, tapi juga sebagai teman. Menurutku, itu artinya Mas Dika dihormati karena rasa respek, bukan karena rasa takut atau sungkan.

Bagaimana denganku?

Seharian aku merenung. Mulai membandingkan diriku dengan mereka. Yang kudapat, ternyata begitu memalukan. Aku mulai berpikir, bahwa hal yang membuatku tak tenang sesungguhnya adalah tak adanya sesuatu yang bisa kubanggakan dalam diriku. Aku di sini cuma kelayaban dan menghabiskan uang Papa. Bukankah aku pengangguran yang merasa diri sedang bertualang? Apakah yang sebenarnya kulakukan di sini? Agar Mama menerimaku? Lewat cara yang… okey, bisa dibilang manja ini? Bukankah seharusnya aku malu menemui Mas Awan, yang sudah merelakan pekerjaannya, dan memilih pulang kampung demi bisa menjaga ibunya…?

Selama ini aku selalu memegang prinsip, dan menganggapnya sebagai jatidiriku, bahwa untuk menjadi pribadi yang layak dibela, maka aku harus menjadi sesuatu yang ada harganya. Selama ini aku bisa berkata begitu. Tapi yang tak kusadari adalah… ternyata selama ini aku belum melakukan sesuatu yang bisa membuat diriku cukup berharga. Aku belum berbuat banyak untuk membuktikan bahwa diriku memang layak dihargai. Aku kacau sekali, lebih kacau dari yang kukira. Memalukan, lebih dari yang kubayangkan.

Aku sudah telanjur tiba di sini. Sebaiknya aku bisa mengerjakan sesuatu di sini, yang lebih berarti daripada sekadar piknik berdalih ‘mencari ketenangan’. Aku sudah mantap untuk mengakhiri foya-foya ini. Tadi pagi saat berpamitan, aku tanpa ragu meminta bantuan Mas Dika, kalau-kalau dia bisa memberiku pekerjaan. Mungkin uang yang kudapatkan tak akan cukup banyak, tapi setidaknya aku tidak lagi menjadi orang yang ‘useless’. Mas Dika tidak berjanji, tapi dia akan berusaha membantuku. Itu melegakanku. Dan… sedikit mengobati rasa maluku.

Manja dan cengeng, itu yang membuatku pergi kemari. Aku tak ingin pulang sebagai orang yang sama. Setidaknya, aku sudah sungguh-sungguh berusaha selama di sini.

Ini sebuah titik balik dari petualangan ini? Kuharap begitu, ini sebuah titik balik.

 
 

4 Mei 2011

Beneran, aku ingin bisa menjadi orang yang tak hanya duduk-duduk santai sambil menghabiskan uang kiriman. Aku ingin berkeringat, dan menjadikan keringatku itu uang. Biarpun tidak banyak yang kudapat, aku tetap akan coba. Keluar dari zona nyaman!

Dan yang kulakukan hari ini adalah: aku menjadi tukang cuci mobil. Yeaaaa! Ceritanya, ada lowongan di bengkel depan rumah Pak Martha ini. Aku nekat mengambil pekerjaan itu. Aku sudah bilang ke Pak Martha supaya jangan ceritakan ini ke Papa. Aku percaya Papa tak akan menganggap pekerjaan kuli sabun di bengkel mobil sebagai pekerjaan nista. Tapi masalahnya, biarpun aku dapat uang, Papa nggak akan tega melihatku nyuci mobil orang. Papa itu cowok lembut hati, sih.

Aku dibayar harian. Dapat honor Rp 7.500 per mobil. Besok aku mulai bekerja. Anggap saja main sabun, tapi menghasilkan uang. Semangat, eaaa!😀

 
 

Serius??? Dimas jadi tukang cuci mobil? Mama pasti shock kalau sampai mendengarnya!

Tapi gue apresiasi tindakan lu, Mas. Lu udah mulai dewasa sekarang, udah nggak anti kerja keras, dan lu beruntung… pekerjaan lu nggak jauh-jauh dari benda kesukaan lu!

Aku akan bersaksi, fakta kecil yang Fandy pun mungkin belum tahu, bahwa sejak kecil Dimas itu maniak sabun. Waktu kecil kami sering mandi satu ember, ember yang besar, saat aku udahan dia pasti masih berlama-lama di dalam ember. Sepertinya kalau sabunnya belum tipis dia belum mau berhenti mandi. Sampai sekarang pun dia tetap pemegang rekor di keluarga, rekor paling lama kalau mandi.

Sekarang, dia mendapat pekerjaan yang ada hubungannya dengan sabun, cocoklah buat dia. Biarpun bayarannya kecil, dia pasti senang menjalaninya. Saudara kembar yang aneh.

 
 

5 Mei 2011

Sekarang aku seorang pencuci mobil. Hari ini aku mengantongi Rp. 37.500. Makan siang ditanggung bos. Makan malam aku beli sendiri, nasi Jinggo plus lauk-pauk habis Rp. 8.000. Aku mulai makan dan minum keringatku sendiri. Meski cuma menu warung pinggiran, rasanya seperti roti Manna dari surga. Bikin kenyang, damai, dan menyehatkan!

Melelahkan memang. Tapi ini adalah pekerjaan yang seru. Dan menyambut saat-saat istirahat ternyata begitu melegakan. Seolah aku sudah nggak tidur tiga hari.

Saat Papa menelepon, dia ngomong, “Kayaknya kamu senang, ya, di situ?”

“Kok bisa bilang gitu?” tanyaku.

“Suaramu kayak orang lagi senang. Piye kabarmu?”

Aku jawab bahwa aku memang senang di sini, tapi aku beralasan bahwa itu karena Pak Martha orangnya baik. Orang-orang di sini juga ramah, dan sebagainya. Lalu kutanyakan kabar orang-orang di rumah, Mama dan Denis.

Papa bilang, Mama mulai kangen padaku. “Kapan pulang?” tanya Papa.

Aku jawab belum bisa secepatnya, aku masih butuh di sini untuk lebih menenangkan diri.

“Sampai kapan?” tanya Papa.

“Mungkin bulan depan,” jawabku.

“Terlalu lama,” jawab Papa. “Mama sering nangis kalau ingat kamu.”

Itu cukup membuat hatiku bergetar. Terharu. Tapi aku tetap belum yakin bahwa ini saat yang tepat untuk pulang. Aku perlu kepastian, dan seharusnya Papa juga, apakah sikap Mama itu benar-benar menginginkan aku pulang atau jangan-jangan hanya luapan emosional sesaat saja.

Akhirnya kusampaikan ke Papa, bahwa akan kuusahakan akhir bulan ini bisa pulang. Papa setuju. Lalu Papa bilang dia akan mengirim uang untukku, besok. Hmm, dapat suntikan dana, nih. Lumayan.

Aku mau titip salam buat Denis, tapi nggak mungkin. Keberadaanku di sini masih harus dirahasiakan. Sebagai ganti salam, aku titip pesan ke Papa, supaya besok habis pulang kerja bawain oleh-oleh srabi buat Denis. Papa tertawa. Dia mengiyakan.

“Jaga Mama baik-baik,” pesanku juga.

Hmhh…. Bekerja itu ternyata menyenangkan. Dan melakukan hal baik untuk orang yang kita sayangi, meskipun hanya tindakan kecil, itu membesarkan hati. Malam ini tidurku akan lebih nyenyak dari biasanya.

 
 

Aku ingat, suatu sore pernah kutemukan setumpuk srabi di meja makan. Aku cuma tahunya itu Papa yang beli. Papa nggak pernah jelasin kalau itu pesan dari Dimas. Papa memang nggak mungkin ngasih tahu aku, karena dia sekongkol dengan Dimas.

Sekarang, kurasa pendapatku bahwa Dimas itu egois tak terlalu benar. Aku salah menilainya. Di luar sepengetahuanku, ternyata dia masih peduli padaku. Oke, aku sedikit terharu. Sedikit.

 
 

 
 

10 Mei 2011

Pekerjaan hari ini melelahkan sekali. Sebentar lagi tidurku pasti akan sangat pulas. Tapi kali ini mauku tak cuma sekadar tidur. Mauku ditemani.

Kangen Fandy. Kangen dua belah jeruk manis di atas dagunya. Kangen dua permen stroberi di dadanya. Kangen aroma embun pepohonan yang sering dijatuhkan ke tubuhnya, berbaur keringat si rusa jantan yang tampan itu. Spreinya yang hijau adalah rerumput di tepi hutan. Aku ingin bergumul dengannya meski hanya di dalam nyanyian bunga tidur. Maduku akan menjadi nektarnya. Ouh, aku rela pagiku menjadi pagi yang merepotkan. Kenapa dulu harus kuucap kata ‘putus’, di saat hatiku masih tertaut padanya? Huh, sialan kau takdir!

Baiklah, jika bukan Fandy, beri saja aku Denis. Gembala yang cerewet, suka merecoki domba-domba yang ingin sekadar nakal. Padahal nakal itu tidak jahat. Dia akan meniup serulingnya, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya ketenangan itu jauh lebih romantis daripada musik yang sumbang. Tapi pada saatnya dia akan menjadi gembala yang melindungi domba-domba dari serigala. Saat itu dia akan melupakan kenakalan dombanya, dan memukul binatang buas yang datang mengancam. Dia penyayang dengan caranya. Sekali-kali aku ingin berhenti jadi domba, dan memilih menjadi Satyr. Karena Satyr adalah gembalanya para gembala. Aku akan ganti mengerjainya sebagai hiburan pengantar tidur. Esok pagi akan ada tanda bibir di kedua lesung pipitnya. Dia akan marah. Tapi dia selalu mengerti, bahwa aku pun adalah penyayang dengan caraku.

Tiap aku mau tidur, sering kupandangi kompas Denis di tanganku, sambil membayangkan sedang apa dia sekarang. Apakah dia sudah menyatakan cintanya ke Misha? Atau masih memendamnya saja? Tahukah dia kalau akulah yang mengambil kompasnya? Apakah dia menyirami pohon kambojaku? Membayangkan bagaimana keadaan Fandy, di kamar kosnya yang lengang apakah dia juga sedang memikirkanku setiap kali dia hendak tidur? Apakah dia sudah mulai nge-gym lagi? Sebab akhir-akhir kemarin dia tampak kurusan. Aku lebih senang kalau tubuhnya memadat lagi, dengan begitu permen stroberinya akan semakin menggiurkan. Bagaimana kabar Ben, apakah dia menemani Denis selama aku pergi? Masih sering futsal sama Denis? Kalau iya, semoga Fandy juga diajak. Di sini aku sudah mulai menemukan arahku, menemukan lagi tujuanku. Aku ingin, yang kutinggalkan di sana juga baik-baik saja.

Aku tak lengkap tanpa Fandy. Aku menjadi ganjil tanpa Denis. Aku miskin tanpa teman-temanku. Tanpa mereka, yang kumiliki hanyalah segentong rasa rindu. Dan gentong itu sekeras kepalaku. Bagaimanapun aku belum ingin menukar isinya dengan tiket pulang.

Ah, anggap saja rindu ini semacam BDSM. Aku menikmati siksanya.

Ahahahahaha…!

 
 

Itu adalah tulisan Dimas paling norak yang pernah kubaca. Otaknya benar-benar sedang kram saat menulisnya. Maksudnya bagus, tapi analoginya kubilang menjijikkan! Aku nggak yakin habis ini masih doyan permen stroberi. Hiyyy!

Tapi aku tersanjung dia mau menulis tentang aku dalam paragraf yang lebih panjang, dibanding tulisannya tentang Si Unyu. Aku juga tersanjung dia kangen padaku. Ini lembaran yang bagus, sekaligus paling norak!

 
 

14 Mei 2011

Aha! Mas Dika meneleponku, katanya ada lowongan pekerjaan di tempatnya. Di bagian souvenir. Ceritanya, ada satu karyawan yang mengambil cuti agak panjang karena sedang menjalani operasi. Dia menawariku satu slot yang kosong itu, dengan demikian aku hanya sebagai karyawan sementara. Hanya sebagai pengganti. Aku langsung menjawab mau.

Berarti besok aku harus berpamitan ke Om Jagur, pemilik bengkel. Dan besok adalah hari terakhirku bekerja di sana. Berhenti jadi kuli sabun. Menyambut pekerjaan lainnya. Siaaappp!😀

 
 

 
 

16 Mei 2011

Siang tadi aku sudah tiba di Badung.

Hari ini menjadi momen yang bisa kubilang emosinal bagiku. Emosi pertama, adalah karena tadi pagi Papa meneleponku, memberi tahu bahwa aku lulus ujian. Selama ini sebenarnya keyakinanku sudah 75% bahwa aku akan lulus. Jadi biarpun berita ini tak begitu mengejutkan, rasanya tetap puas dan lega bahwa 25% yang tersisa itu kini telah digenapkan. Rasa senangku semakin lengkap karena Denis juga lulus. Kata Papa, nggak ada yang nggak lulus di sekolahku. Itu artinya Ben, Misha, dan Erik juga lulus. Tapi kemudian aku jadi sedih, karena aku nggak bisa merayakan kelulusan bersama mereka. Padahal dulu aku sudah pernah terpikir, saat merayakan kelulusan aku akan menggambar kecoa dengan spidol di baju seragam Denis. Dan aku juga sudah berandai meminta Fandy untuk menulis ‘Dimas loves Fandy’ di seragamku, dengan gambar kowok yang besar. Semua tak terwujud.

Emosi kedua, adalah karena hari ini aku harus meninggalkan Denpasar untuk menjemput pekerjaan baru di Badung. Senang memang iya, sudah fix lulus ujian dan hari ini juga akan menjemput pekerjaan. Tapi, menerima pekerjaan ini akan membawa konsekuensi yang tidak ringan bagiku.

Aku harus berpamitan ke Pak Martha. Aku juga berterima kasih kepadanya karena sudah menjadi keluarga yang baik selama aku tinggal di Denpasar. Dalam hati aku menyesal harus membohonginya, mengatakan aku akan pulang ke Solo. Tapi itu memang harus kulakukan, sebaiknya beliau tidak tahu bahwa aku mendapat pekerjaan di Badung, karena takutnya dia akan menyampaikan itu ke Papa. Inilah konsekuensi yang paling berat, yaitu mulai sekarang aku harus menghindari Papa. Sebab dengan bekerja di sini, pastinya membuat kepulanganku akan tertunda. Papa nggak bakal setuju itu. Ini yang paling berat, aku terpaksa mencurangi Papa.

Awalnya sempat ragu, tapi, akhirnya kuganti juga nomor teleponku. Jujur, aku menangis melakukannya, membayangkan baru tadi pagi Papa meneleponku dengan kabar kelulusan, kemudian aku harus mengganti nomorku. Papa nggak akan bisa menghubungiku lagi. Aku sungguh menyesal harus melakukannya. Tapi petualangan ini terasa memanggilku begitu kuat, aku tak ingin menampiknya. Aku ingin mengikuti panggilan yang kudengar dalam diriku, bahwa ini adalah saatnya membuktikan apa yang kumampu. Aku tak mau berhenti hanya di sini. Jadi kuli sabun memang halal dan aku senang, tapi sudah cukupkah untuk kubanggakan, sudah layakkah kubawa pulang sebagai sebuah cerita? Aku bisa lebih dari itu.

Ini saat bagiku untuk benar-benar menghilang dari orang-orang yang kusayangi. Meninggalkan zona nyaman lagi, menuju ke dalam petualangan yang telah memanggilku. Badung, kota bersimbol bunga Frangipani, apakah kita akan berjodoh?

Papa… maaf, ya. Aku tak minta ijin dulu darimu. Maaf, aku harus berkhianat, dan mungkin aku tak bisa menepati janjiku bahwa aku seharusnya pulang akhir bulan ini. Tapi, yang pasti aku tetap tahu kapan aku harus pulang. Saat ini belum saatnya.

Love you all, My Lovely Family!

 
 

 
 

17 Mei 2011

Hari ini kumulai pekerjaan baruku di Nagari’s Souvenirs. Sementara ini aku mendapat shift pagi-sore. Mulai bekerja pukul 08:00. Selesai pukul 15:00. Ada jatah satu jam untuk istirahat dan makan siang. Aku diberi seragam kemeja batik, lengkap dengan udeng. Aku kelihatan lebih tampan dengan udeng. Hehehe. Pekerjaan ini juga tak terlalu menyibukkan. Aku bisa melakukannya tanpa memeras tenaga. Bisa setengah bersantai. Bisa sambil mengasah bahasa Inggris-ku kalau yang datang turis-turis bule.

Meski statusku hanya sebagai karyawan tidak tetap dan mungkin waktuku di sini hanya sekitar sebulan saja, Mas Dika mengatakan bahwa jika kinerjaku baik dan aku punya niat bekerja, dia tetap akan membantuku agar bisa bekerja di tempat lainnya, bahkan aku juga bisa menjadi karyawan tetap. Katanya, Nagari punya cabang di kota lain. Ada yang di Denpasar dan Gianyar. Bahkan sebentar lagi akan dibuka cabang baru di Tabanan. Itu melegakanku, membuatku tak merasa sebagai ‘anak tiri’ di sini.

Mas Dika menawariku tinggal di rumah kontrakannya. Tapi aku menolak, takut menimbulkan kesan yang tidak baik di antara karyawan lainnya. Aku pilih tinggal di asrama saja. Yang kumaksud asrama adalah beberapa kamar di halaman belakang, yang disediakan untuk tempat tinggal karyawan Nagari. Masih sisa satu kamar kosong yang biasanya digunakan untuk menyeterika. Kupakai saja. Di sinilah kamar itu, tempatku mengetik diary ini sebelum tidur. Kecil, tapi nyaman, kok.

Sejenak, jemariku terhenti…

Di kamar yang kecil ini, menjemput waktu isitirahatku, tiba-tiba aku teringat Mama. Mama yang kadang membersihkan kamarku kalau aku sedang malas, Mama yang biasanya menggedor pintu kamarku kalau aku bangun kesiangan, atau menaruh kue oleh-oleh arisan di mejaku….

Mama, Papa, Denis…. Ah, mereka pasti baik-baik saja. Sebelum tidur, aku akan berdoa untuk mereka.

 
 

19 Mei 2011

Bali Tunes Syndicate adalah band yang dimainkan Durus bersama beberapa kawannya. Durus sebagai bassist, Wayan pemain keyboard, Nara pemain drum, Putu sebagai vokalis sekaligus memainkan gitar. Ceritanya, kemarin di jam istirahat aku meminjam gitar bolong milik Durus dan bermain-main. Durus lalu menawariku untuk ikut bermain di band-nya itu. Aku oke-oke saja. Senang malah.

Sore tadi aku mulai ikut latihan, nge-jam bersama mereka. Aku jadi ingat pada masa lalu. Waktu aku diminta memainkan gitar listrik, terbayang lagi saat aku nge-band bareng Erik, terbayang pula bagaimana aku dipecat gara-gara sering nge-blank waktu memainkan gitar listrik. Makanya tadi aku jujur saja bilang, bahwa aku nggak biasa memainkan gitar listrik, aku bingung menyetel efeknya. Selama ini aku belajar gitar klasik dan makananku adalah gitar bolong. Lega, setelah aku katakan apa adanya, mereka malah merestuiku untuk tetap memakai gitar bolong saja.

Musiknya agak nge-jazz bercampur etnik, sedangkan aku harus memakai gitar bolong dengan kebiasaan pada not-not klasik. Mereka bilang: jadilah apa adanya. Katanya, begitulah spirit musik jazz: bermainlah seenakmu, selama di telinga orang lain juga enak. Berbeda dengan klasik yang cenderung pakem pada partitur, jazz justru nggak afdol kalau nggak improvisasi. Sekarang aku belajar nge-jazz. Seru!

Di akhir latihan, Durus mengenalkanku pada adiknya. Namanya Puri. Lalu aku juga berkenalan dengan teman Puri. Namanya Maya. Dua-duanya adalah penari. Tambah teman, deh.

Tapi ini agak aneh, dan membuatku agak bingung juga, aku melihat Maya berbeda dari Puri, ataupun gadis lainnya. Maya seperti sosok yang memancarkan sesuatu. Dia seperti medan magnet bagi orang-orang di sekitarnya, atau, entahlah…. Beberapa kali kudengar teman-temanku di band itu meledek Nara, si drummer, sehubungan dengan Maya. Well, seharusnya itu bukan hal istimewa juga, sih, ya? Aku juga bingung, kenapa aku merasa perlu menuliskan kesanku tentang Maya di diary ini. Mungkin karena aku sudah kehabisan bahan tulisan saja kali, ya?

 
 

21 Mei 2011

Aku memberanikan diri bertanya ke Mas Dika, “Mas Dika pernah pacaran, atau mencoba pacaran, dengan cewek?”

“Kenapa bertanya begitu?” begitu balasnya. “Kamu sedang memikirkan cewek?”

Huh, pikiranku langsung dengan mudah terbaca. Memalukan sekali, kan? Aku memilih tak meneruskan omongan itu dengan Mas Dika. Takut diledek.

Sejak nge-jam beberapa hari lalu, Puri dan Maya setiap hari muncul di Nagari. Padahal Durus bilang, mereka biasanya tak sesering ini bertandang kemari, belum tentu seminggu sekali. Terlalu dini untuk berprasangka, sih. Sesungguhnya, aku sama sekali tak mempermasalahkan kedatangan mereka. Semuanya nyaman-nyaman saja.

Tapi jujur kuakui, memang ada yang kupikirkan. Tepatnya tentang Maya. Dia cantik, anggun, dan senyumnya sangat hangat. Bicaranya ramah tapi tak pernah berlebihan. Dia sering menggelung rambutnya, hingga seolah ada buah manggis tumbuh di belakang kepalanya. Itu memang membuatnya jadi menarik. Dan itulah anehnya, sebelumnya aku tak pernah memikirkan daya tarik seorang gadis hingga sejauh ini. Maksudku, baru kali ini aku membahas kecantikan seorang gadis di diary. Why?

Kenapa aku merasa harus menulis tentang Maya? Aku seperti tak rela jika tak menulisnya. Kuakui ini agak membingungkan.

Tapi, jika harus memilih, antara permen stroberi atau buah manggis, aku masih tetap memilih permen stroberi, sih.

Salam cium dan hisap buat Si Peri Unyu, muaaachhh!

Ahahahaha!

 
 

Lagi-lagi, menjijikkan!

 
 

 
 

23 Mei 2011

Sore tadi Maya datang sendirian, tanpa Puri. Aku melewatkan waktu dengannya di halaman belakang, karena pekerjaanku sudah selesai. Sambil istirahat aku mengobrol dengannya. Aku jadi lebih mengenalnya, tentang sekolahnya dan kecimpungnya di seni tari. Dia masih duduk di bangku SMA, kelas dua, sama seperti Fandy. Di dunia tari dia sudah profesional, memiliki jadwal perform yang sudah tetap di sanggarnya.

Selain menari, rupanya dia punya kelebihan lainnya lagi. Di depanku dia memamerkan kemampuannya bermain gitar. Lumayan, sih. Tapi aku lebih terpukau pada suaranya dibandingkan permainan gitarnya. Suaranya basah dan memiliki treble, dan dia tak menyia-nyiakannya, dia bernyanyi tanpa sumbang sedikitpun. Amazing girl!

Dia menyukai lagu-lagu jazz. Beberapa aku tahu, seperti Song For You-nya Chicago, dan After The Love Has Gone dari Earth, Wind & Fire. Lalu dia memintaku memainkannya dengan gitar, karena dia nggak bisa. Aku juga nggak bisa, aku nggak yakin dengan chord-nya. Jadi aku pilih memainkan lagu lain. Dan entah apa yang membuatku begini, lagu yang kumainkan adalah milik Roberta Flack, The First Time Ever I Saw Your Face.

Tiba-tiba aku merasa takut. Aku takut langkahku telah menjadi terlalu serius bagi Maya. Karena ketika lagu cinta dimainkan di saat berdua, itu bisa memancing makna yang sebenarnya tak pernah dimaksudkan.

Aku segera menggantinya dengan lagu lain. Sebuah lagu yang kupikir lebih aman, karena hanyalah lagu tanpa lirik. Notasi instrumental saja.

Tapi lagi-lagi di luar perkiraanku, dia menyebut judul lagu yang kumainkan. “Itu lagu Janger. Tahu juga, ya?” komentarnya.

Aku mengiyakan. Kubilang, aku tahu dari CD instrumental yang pernah kubeli di Denpasar. Notasinya enak, maka kupelajari dengan gitar. Balik kutanya, bagaimana dia bisa tahu lagu itu.

Dia mengatakan, Janger adalah sebuah tarian yang bercerita tentang seorang pemuda sedang menggoda pemudi. Bisa sebagai persahabatan, bisa sebagai… lebih dari itu. Katanya.

What??? Pemuda sedang menggoda pemudi???

Lagi-lagi aku takut, serba salah. Aku salah tingkah di hadapan seorang gadis yang mestinya tak akan ditolak oleh lelaki manapun. Tapi, masalahnya, aku ini lelaki yang ‘berbeda’.

Oh, God. Akhir-akhir ini aku semakin bingung saja. Kuharap sore tadi hanya sebuah waktu bercengkerama saja, tak lebih, dan tak akan menjadi lebih.

 
 

25 Mei 2011

Mas Dika bilang, ada semacam konferensi berkelas internasional, tentang fotografi, yang diadakan di Bajra Sandhi pada tanggal 3 Juni nanti. Bali Tunes Syndicate (kuberi singkatan: The Bats) mendapatkan tawaran untuk mengisi hiburan pada sesi coffee break. Pihak Event Organizer menginginkan sebuah hiburan tradisional tetapi dengan nuansa kontemporer. Mas Dika sudah berembug dengan Durus dan kawan-kawan lainnya, bahwa kami akan menyiapkan Tari Janger dengan iringan musik kontemporer.

Usut punya usut, berdasarkan pengakuan Durus, ide itu didapat dari Maya. Karena Maya bercerita kepada Puri, bahwa aku pernah memainkan lagu Janger dengan gitar. So…? Dia pasti telah memujiku terlalu berlebihan, hingga Mas Dika mau menyetujui ide itu. Aku diminta mematangkan aransemenku untuk lagu itu. Maya, Puri, dan beberapa teman mereka akan menjadi penarinya.

Aku sempat bertanya, kenapa acara berkelas internasional membuat persiapan begitu mendadak? Kami hanya punya waktu seminggu untuk menyiapkan pertunjukan ini! Mas Dika menjawab, bahwa kami adalah alternatif darurat. Mas Dika tak menjelaskan detilnya, tapi intinya ada pergantian rencana dari pihak panitia yang membuat pilihan mereka menjadi diarahkan kepada The Bats. Dan dia bilang, sebenarnya job dadakan seperti ini juga sudah cukup biasa. The Bats adalah grup profesional, pasti mampu, katanya.

Konferensi internasional, man! Aku benar-benar grogi. Tapi terpaksa kuterima tawaran itu, karena sepertinya honornya lumayan. Dan, bukankah ini kesempatan emas untuk membuktikan diri? Menolak tantangan? Cemen, ah!

 
 

28 Mei 2011

Kemarin kami sudah mulai berlatih untuk perform di Bajra Sandhi. Tadi sore juga latihan lagi. Nggak begitu menekan, sih, tapi cukup melelahkan juga. Durasi sekitar tujuh menit, dan bagian tersulitnya adalah menyinkronkan antara musik dengan tarian. Ini pertama kalinya aku bermain musik untuk mengiringi tarian.

Ingin kubuat sebuah review tentang latihan kami, yang menurutku berjalan begitu berbeda antara kemarin dan hari ini. Kemarin adalah latihan pertama, aku memperkenalkan aransemen gitarku secara solo, di saat yang sama Maya ikut memperagakan gerakan yang sudah disiapkannya. Ternyata yang dimiliki Maya memang tak hanya pesona secara fisik, dalam hal menari dia pun lebih baik dibanding Puri. Karenanya Puri mempercayakan kepada Maya untuk menyusun gerakan tari yang akan mereka bawakan. Dan bagian yang mendebarkan adalah saat kami berdua memainkan bagian kami masing-masing. Aku memainkan gitar, mengiringi Maya melakukan gerakan. Hanya butuh mengulang tiga kali, aku sudah menemukan senyawa antara musikku dan tariannya. Bayangkan, itu tak lebih dari satu jam, aku dan Maya membuat kreasi ini fix!

“Kalian memang punya chemistry!” tanggapan itu dilontarkan Puri.

Lalu kami mulai mengembangkannya secara lebih lengkap. Drum masuk, keyboard masuk, bass masuk, penari lainnya masuk. Dan jadi kacau! Hingga tadi sore, semua masih kacau. Memang ada perkembangan sedikit lebih baik, tapi menurutku tetap masih belum bagus.

Chemistry, where are you??? Kenapa cuma aku dan Maya saja yang bisa melakukannya dengan baik? Setelah semua ikut, jadi berantakan? Why?

Aku mulai merinding. Semoga ini cuma persoalan teknis. Bermain berdua tentu memang lebih sederhana dan mudah, dibandingkan bermain secara rombongan. Apalagi The Bats mengembangkan aransemen itu menjadi condong ke jazz. Kucoba berpikir begitu, ini adalah soal teknis dan wajar.

Hanya saja, tadi sore sehabis latihan, Maya mengajakku untuk jalan-jalan. Besok, ke Kuta. Aku sungkan menolak, jadi aku menjawab, “Oke.”

Tapi, sekarang hatiku jadi nggak oke. Galau sendiri.

Aku nggak ada apa-apa, kan, sama Maya…? Aku isih ‘normal’, tho?

 
 

29 Mei 2011

Sore tadi, aku jadi jalan-jalan bersama Maya. Ke Kuta, pantai yang sudah beberapa kali kukunjungi, dan tak ada lagi dari tempat itu yang membuatku terpukau. Ya, bagus, sih… tapi kesannya sudah biasa. Pantai bersuasana kota dan dilengkapi pemandangan sunset. Sama seperti Jimbaran, sama seperti Seminyak dan Legian.

Yang spesial tak lain adalah karena aku ditemani Maya. Ke pantai ditemani seorang cewek, berdua, bagiku itu ‘ajaib’. Di hidupku selama ini, nggak ada yang namanya ‘pergi berdua sama cewek’! Baru kali ini. Biasanya aku bisa menolak yang kayak gini, tapi entahlah kali ini. Aku merasa berat untuk menolak Maya.

Acara kami sore tadi juga nggak ada apa-apa, cuma jalan-jalan saja lihat laut dan sunset. Sambil ngobrol. Selama kami ngobrol, terus terang, dia sering melontarkan pujian padaku. Yang pintar main gitar, lah; yang berjiwa seni, lah; yang lucu, lah…. Apa iya, aku lucu? Kayaknya biasa aja?

Mungkin ini terdengar narsis dan terlalu ge’er, tapi aku rasa… Maya menyukaiku. Jatuh cinta padaku. That’s it.

Dan aku sendiri merasakan, harus berapa kali kubilang, Maya itu berbeda dari cewek-cewek lain yang pernah kukenal. Aku merasakan ada magnet darinya. Aku belum merasakan efek secara seksual, sih. Maksudku, ketika membayangkan Maya, aku sama sekali tak pernah horny. Sebab aku juga tak pernah membayangkannya secara vulgar. Kubandingkan dengan perasaanku terhadap cowok. Terhadap Fandy misalnya. Menatap mukanya Fandy saja, itu cukup sering memancingku untuk membayangkan yang lebih, hingga berujung pada imajinasi yang bisa membuatku horny. Oke, Fandy mungkin bukan contoh netral karena dia adalah pacarku. Kuambil contoh lain, Ben misalnya, meski tidak sering, kuakui aku pernah membayangkan berapa ukuran ‘itu’nya. Aku nggak horny, sih, sama Ben, tapi setidaknya aku punya pikiran yang menyangkut hal-hal seksual tentang dirinya. Terhadap Maya, aku sama sekali tidak pernah. Otakku seperti menolak dengan sendirinya untuk membayangkan hal-hal yang bersifat seksual tentang Maya.

Juga, jujur saja, terakhir kali aku mengalami mimpi basah adalah baru dua hari lalu. Biasanya orang yang muncul dalam mimpi basah tidak begitu jelas mukanya. Tapi kemarin itu, yang ada di mimpiku adalah Fandy. Itu kedua kalinya dia membuatku basah selagi tidur. Artinya, bukankah hingga saat ini dunia seksualku masih dengan laki-laki?

Jadi, sebenarnya ‘chemistry’ apa yang terbangun antara diriku dengan Maya? Aku masih bingung, kenapa aku merasa ‘cocok’ dengannya? Kecocokan ini akan sejauh apa nanti?

Aku benar-benar gundah untuk mengaku atau tidak kepada Maya, bahwa sesungguhnya aku suka cowok. Dia sudah cukup banyak bertanya tentang keluargaku. Dia juga bertanya apakah tujuanku pergi jauh-jauh kemari. Kubilang, aku sedang bertualang. Cari pengalaman. Itu saja. Andai kujawab sejujurnya bahwa aku sedang minggat dan aku seorang gay, mungkin kegundahanku akan berhenti. Sebab dengan demikian aku sudah menutup jalan bagi Maya untuk mencintaiku–jika benar dia memang sedang jatuh cinta padaku. Tapi aku memilih berbohong. Secara tidak langsung aku telah memilih untuk membiarkan Maya menaruh harapan padaku. Aku memilih untuk tetap gundah. Why?

Apakah aku sedang berubah? Aku sedang mulai tertarik pada perempuan secara perlahan? Rasanya seperti sedang melangkah pada sebuah papan titian di atap gedung, dan kemudian aku harus melompat, tanpa tahu di bawah sana ada trampolin atau tidak. Aku gamang sekali.

Baiklah, lembaran malam ini kututup dengan satu berita lain yang membuatku benar-benar sedih sekaligus kesal: HP-ku hilang di Kuta! Sepertinya tertinggal di tempat aku duduk-duduk bersama Maya, saat kucari lagi sepertinya sudah keduluan diserobot orang! Foto-fotoku, koleksi laguku… semua hilang!😦

Rasanya ingin makan bantal!

Aku kesal sekali! Andai tahu HP-ku akan hilang di Kuta, apakah aku akan menolak ajakan Maya? Ya, aku akan menolaknya! Diganti pergi ke mana saja, yang penting tak menemui nasib sial!

Arggggghhh!

 
 

Pengakuan yang menarik dari Dimas. Sekaligus bikin aku agak bergidik. Dia mimpi basah pun sama cowok? Sama pacarnya? Kalau sudah begitu, aku ragu jika dia bisa menyukai cewek. Aku nggak yakin cewek manapun bisa membuatnya berubah jadi normal, termasuk Maya. Dimas benar-benar homo tulen. Dia sudah membayangkan Ben, jangan-jangan dia juga pernah membayangkan aku? Mengerikan!

Aku malah kasihan sama Maya. Dimas kehilangan HP, mungkin itu karena dia kualat….

 
 

2 Juni 2011

Hari ini adalah gladi terakhir untuk persiapan pertunjukan besok di acara fotografi itu. Sudah bagus, sih. Semua sudah kompak. Nama untuk performing art kami ini adalah: Janger Jazz. Karena tari dan lagunya adalah Janger, aransemennya bernuansa jazz. Sebetulnya bukan aku sendiri yang menata konsepnya, aku cuma mengolah bagian gitar saja, selebihnya kami lakukan rame-rame. Tapi nama Janger Jazz adalah dariku. Keren, kan?😀

Sebagus apapun persiapan ini, tetap saja bikin aku deg-degan. Tapi antusias juga. Internasional gitu, lho!

Huh, pagi kerja, sorenya nge-band. Beberapa hari ini ekstra melelahkan. But I’m ready to hit tomorrow…!

 
 

3 Juni 2011

Setelah digempur perasaan deg-degan dan merinding, akhirnya terlaksana juga perform hari ini. Acaranya ternyata beneran gede! Nggak cuma workshop, tapi juga pameran dan photo hunting. Banyak bulenya. Yang kokoh-kokoh sipit juga ada, dan cakep-cakep. Aku lagi main dijepretin terus, bikin nggak fokus. Untung jariku sudah jago, jadi nggak ada yang meleset. Hehe….

Yang datang juga banyak orang penting, lho. Aku nggak gitu ngeh, sih, tapi kata Mas Dika di antara tamu ada yang menteri, gubernur, dan artis. Cuma, sayangnya bukan artis idolaku, jadi nggak perlu disebut juga namanya. Kebetulan juga mereka artis-artis yang terkenal songong, diajak foto pun aku nggak bangga. Kecuali kalau yang datang Boy William atau Chris Evans, aku rela mengubah semua tulisanku jadi huruf alay demi bisa foto sama mereka!

Dan, bagaimana dengan performance The Bats? Hehehe…. Lancar! Sukses! Dapat applause membahana! Meskipun Durus ngaku beberapa kali jarinya kepeleset, overall mulus. Jadi sasaran jepretan para fotografer kelas dunia itu juga rasanya merinding banget…. Kayak mimpi. Mimpi basah!

Honornya? Isi amplopku Rp. 400.000. Banyak nggak, sih? Soalnya baru kali ini aku main dan dapat bayaran. Kalau dibandingkan dengan penghasilanku jadi kuli sabun, ya ini sudah banyak banget. Tapi untuk acara level internasional gitu, kupikir aku bakal dapat honor sejuta. Nggak apalah, ini sudah lumayan buat pendatang baru. Dibeliin sabun bisa jadi stok lima tahun! Hehehe.

Di backstage, aku berkenalan dengan Mas Angga. Dia seniman Rindik, semacam gamelan dari bambu, agak mirip Jegog tapi lebih kecil. Dia juga perform di acara tadi bersama grupnya. Dia mengaku tertarik dengan konsep Janger Jazz. Dia berkenalan dengan semuanya, sih, tapi waktu dia tanya ide itu datang dari mana, teman-teman menunjukku. Jadilah aku diajak ngobrol banyak dengannya. Saat aku bilang aku dari Solo, dia bilang bahwa ibunya dari Banyumas, tapi bapaknya asli Bali. Waduh, persilangan Bali-Banyumas, aku jadi ngebayangin kalau bahasa Bali dicampur Ngapak bakal kayak gimana, ya? ‘Bli aja kayak kiye, lah, wancine ngajeng malah obor-obor congor?’. Gitu kali, ya? Haha.

Tapi Mas Angga orangnya asyik. Dia memberiku kartu nama, dan mempersilakan aku main-main ke rumahnya di Ubud, kalau ada waktu. Nama grupnya ‘Rindik Pager Wangi’. Wuih, namanya kayak perguruan silat. Atau, seperti bernuansa gaib. Aku nggak janji, sih, tapi kalau memang nanti ada waktu aku akan coba main ke sana. Dengar-dengar Ubud itu desa para seniman. Menarik.

Apalagi yang perlu kucatat? Sudah ngantuk banget, pagi kerja di Nagari, sore sudah harus stand by di Bajra Sandhi Denpasar, karena malamnya harus perform. Nunggunya berjam-jam, durasi perform cuma sekitar sepuluh menit. Pulang jam 11 malam. Tepar!

Oh iya, Maya cantik sekali dengan kostum penarinya. Dia berulangkali diminta jadi model foto, diminta berpose di sudut ini, di sudut itu. Dia memang magnet. Malah ada yang sedikit membuatku malu, yaitu saat akan difoto Maya membuat request agar dia difoto bersamaku. Kebetulan dia memang kenal dengan fotografer itu, sih, tapi tetap saja bikin aku sungkan. Dan, why me? Memangnya aku fotogenik? Mentang-mentang dia suka sama aku?

Huh, Maya… bak seorang dewi, tapi tetap saja punya sisi polos juga. Itu saja, sih, yang mau kutambahkan. Sekarang, aku mau tidur. Besok harus kerja lagi.

 
 

4 Juni 2011

Sebelum tidur, harus kuceritakan bahwa barusan telah terjadi sesuatu yang membuatku cemas.

Hari ini memang sangat melelahkan. Sisa capek yang kemarin belum sembuh, hari ini sudah harus sibuk lagi. Banyak barang yang datang, dan harus segera didata dan di-display. Kebetulan Nagari juga sedang mempersiapkan pembukaan cabang di Tabanan, Mas Dika diserahi tanggung jawab untuk rekrutmen dan trainning karyawan baru. Dia baru selesai rapat tadi. Dia juga mengaku capek.

Ceritanya, saking capeknya, Mas Dika malas pulang ke rumah kontrakannya. Dia tiduran di kamarku, sambil mengajakku ngobrol. Cuma ngobrol ngalor-ngidul aja, sih. Tapi iseng-iseng aku coba menanyakan pertanyaan yang dulu sudah pernah kutanyakan, “Mas, pernah nggak, sih, Mas Dika coba pacaran sama cewek?”

Awalnya cuma dijawab pakai tawa. Lalu dia malah balik tanya, “Memangnya kamu lagi suka cewek?”

“Nggak tahu juga, sih,” jawabku. “Aku cuma merasa dekat saja, tapi aku nggak yakin kalau aku beneran mau pacaran sama dia.”

Mas Dika menceritakan pengalamannya. Dia bilang, dia pernah mencoba pacaran dengan cewek. Itu pada waktu dia masih kuliah. “Tapi nggak pernah benar-benar jadi, baru modus saja,” katanya. “Aku tahu dia menunggu supaya aku lebih dulu menyatakan, dan… setelah mikir sampai jungkir balik, aku putuskan tak menyatakan apa-apa. Hubungan merenggang sendiri, dan akhirnya dia bersama orang lain.”

“Kamu kecewa nggak, Mas?” tanyaku.

“Ada rasa begitu juga. Tapi cepat pulih dengan sendirinya, karena aku menyadari tujuanku memang tidak serius dengannya. Cuma coba-coba.”

“Pasti karena Mas Dika kepikiran Mas Awan, kan?” candaku.

Saat aku bilang begitu, raut muka Mas Dika langsung jadi agak lain, seperti terperanjat atau apa. Dia langsung bangkit dari tempat tidurku sambil berkata agak panik, “Aku lupa… aku harus jemput dia!”

Dan yang bikin aku ikut kaget adalah secara hampir bersamaan Mas Awan sudah muncul di halaman asrama.

“Di sini, tha?” sapa Mas Awan. Raut mukanya juga agak lain. Tidak sehangat biasanya. Saat itu aku langsung mencium tanda-tanda yang agak meresahkan.

Mas Dika bicara agak gelagapan. “Aku lupa, aku betul-betul lupa…”

“Aku langsung ke rumahmu di Mumbul, kupikir jam segini biasanya sudah pulang. Ternyata masih di sini?” begitu Mas Awan menyahut, halus seperti biasanya, tapi kedengarannya juga sinis.

Mas Dika menyatakan penyesalan dan permintaan maafnya. Lagi-lagi mengatakan bahwa dia lupa, bahwa seharusnya dia menjemput Mas Awan di Ubung, dan dia sudah membuat Mas Awan menunggu sampai dua jam.

“Karena tak datang-datang, akhirnya aku naik taksi. Ke Mumbul, lalu kemari. Kenapa dengan HP-mu? Aku sudah hubungi berkali-kali?”

“Kutinggal di ruanganku, sedang ku-charge…. Maaf, ya?” jelas Mas Dika, sambil kembali meminta maaf.

“Ya, sudah. Sudahlah,” balas Mas Awan, singkat dan kesannya jengah.

Aku terpana menyaksikan mereka. Tak ada kata-kata bernada tinggi, tapi aku tahu ini bukan suasana yang baik. Ada aroma kekecewaan. Dan… aku takut untuk menduga, tapi… kurasa Mas Awan lebih dari sekadar kecewa pada Mas Dika. Sepertinya Mas Awan mencurigai sesuatu, mendapati fakta bahwa Mas Dika ternyata sedang di kamarku.

Aku tak berani berucap apa-apa. Aku takut menjadi salah. Mas Dika dan Mas Awan meninggalkan kamarku. Kudengar Mas Dika terus-menerus menyatakan kesalahannya. Mas Awan hanya diam.

Aduh…. Siapa yang bermaksud begini? Aku juga nggak tahu kalau Mas Dika punya janji untuk menjemput Mas Awan. Andai aku tahu, aku pasti juga akan mengingatkannya. Aku percaya Mas Dika juga tak sengaja, dia sunguh-sungguh lupa. Apakah Mas Awan akan bisa mengerti? Aku takut ini akan menjadi sesuatu yang nggak baik.

Sad….😦

 
 

Hmmm. Aku sudah pernah terpikir hal ini, bahwa ketika cowok-cowok gay tinggal di lingkungan yang sama maka kecemburuan seperti itu rentan untuk terjadi. Meski Mas Awan orang yang baik dan santun sekalipun, pasti dia tetap bisa cemburu juga, nggak mungkin nggak ada prasangka saat pacarnya dekat dengan cowok gay lainnya. Nah, terjadi juga, kan?

 
 

5 Juni 2011

Kacau. Sepertinya yang kucemaskan benar terjadi. Kejadian semalam sepertinya jadi masalah serius bagi Mas Awan dan Mas Dika.😦

Tadi aku tanyakan ke Mas Dika, basa-basi sambil memancing, “Mas Awan nggak ikut, Mas?”

“Sudah pulang pagi tadi,” jawab Mas Dika. Senyumnya terlihat masam saat dia menjawabku. Lalu dia langsung masuk ke kafe, tanpa basa-basi lagi.

Baru semalam datang, dan pagi ini langsung pulang? Sepertinya Mas Awan begitu tergesa-gesa. Atau memang sengaja tak ingin berlama-lama lagi di sini? Gara-gara kejadian semalam?

Aku ingin memastikan, daripada jadi kepikiran terus. Makanya kuberanikan diri menanyakannya lagi ke Mas Dika. Kutanyakan apakah Mas Awan marah karena persoalan semalam.

Mas Dika tampak enggan saat menjelaskannya padaku. Dia bilang, ternyata, kemarin itu adalah hari ulang tahun Mas Dika. Aku cukup shock mendengarnya. Jadi saking sibuk dan capeknya, Mas Dika sampai lupa bahwa itu hari ulang tahunnya! Mas Awan sudah mengingatkannya beberapa hari sebelumnya. Dan kemarin siang Mas Awan sudah memastikan lagi bahwa dia akan ke Badung, sekadar untuk menemani Mas Dika di hari ulang tahun itu. Tapi, penyakit yang bernama ‘lupa’ itu telah merusak rencana mereka. Mas Awan sudah tiba di Ubung, menunggu jemputan sampai berjam-jam dan berulang kali menghubungi Mas Dika, tapi… ya, gitulah. Kacau.

Bayangkan, Mas Awan jauh-jauh dari Jembrana ke Badung, demi bisa menemani pacarnya yang sedang berulang tahun, tapi malah telantar di terminal karena pacarnya lupa. Dia lalu ke rumah Mas Dika di Mumbul dengan naik taksi, eh, ternyata Mas Dika juga belum pulang. Ketemunya malah di kamar cowok lain, di kamarku…. Andai aku jadi Mas Awan, bukankah wajar kalau aku marah? Marah sekali?

Aku jadi ikut merasa bersalah, meskipun aku jelas nggak bermaksud apa-apa saat Mas Dika istirahat di kamarku. Kami cuma mengobrol. Tapi, Mas Awan memang layak marah.

Aku bingung. Bagaimana posisiku sekarang? Apakah aku telah berada di tempat yang salah?😦

“Apakah Mas Awan juga marah padaku, Mas?” tanyaku.

Mas Dika bilang tidak. Dia bilang Mas Awan cuma kesal padanya saja. Tapi aku sangsi. Sepertinya Mas Dika cuma tak ingin membuatku gelisah dan merasa bersalah. Tak bisa tidak, aku tetap merasa tak enak ke Mas Awan. Huh, piye iki…?

Di saat yang sama, Maya juga masih mengaduk pikiranku. Tadi sore dia datang lagi ke Nagari. Ngobrol denganku sambil bermain gitar. Dia masih merasa bersalah soal HP-ku yang hilang. Dia bermaksud meminta lagu-lagu instrumental koleksiku, dia penasaran dengan selera musikku. Nah, kenapa dia harus sepenasaran itu dengan selera musik orang lain? Yea, mungkin karena aku bukan ‘orang lain’. Dia berharap lebih. Saat kukatakan bahwa koleksi laguku hilang bersama HP kesayanganku, langsung dia minta maaf lagi.

Aku semakin yakin, Maya sedang berharap padaku. Seperti cerita Mas Dika, kurasa Maya menunggu supaya aku lebih dulu menyatakan perasaanku padanya. Kuakui, dia memang cantik dan menarik. Tapi, apakah aku juga sedang berharap padanya? Aku tidak yakin. Kurasa aku memang tertarik pada kepribadiannya yang eksotik, tapi ini jauh dari naluri seksualku. Kurasa hanyalah sedikit sisi lainku yang sedang menggeliat saja, memandang bahwa Maya adalah gadis yang cowok manapun akan ingin menjadi kekasihnya. Maka, andai aku ‘normal’, sudah pasti aku sedang jatuh cinta padanya, dan aku sangat beruntung karena tampaknya dia juga cinta padaku.

Tapi, aku bukan cowok ‘normal’. Aku bukan cowok ‘biasa’. Aku cowok ‘luar biasa’. Di situlah batas perasaan ini. Kurasa aku mulai mengerti ini.

Haruskah ini kukatakan padanya?

 
 

 
 

7 Juni 2011

Terkuaklah. Akhirnya….

Seharusnya sejak awal aku mencemaskan Durus karena sifatnya yang sering ceplas-ceplos. Akhirnya dia beneran keceplosan. Runyam sekarang. Dia ngomong ke Puri kalau aku sama seperti Mas Dika. Suka cowok. Dan bisa ditebak, Puri cerita ke Maya.

Awalnya aku tak menyangka Maya akan membicarakan ini denganku. Dia mengajakku jalan-jalan ke Pantai Geger. Kukira memang sekadar jalan-jalan, ternyata di situlah dia ingin membicarakannya berdua denganku.

“Aku dengar dari Puri, dia dengar dari kakaknya,” begitu dia mengawali, sebelum kemudian melontarkan pertanyaan yang membuat jantungku seperti mau lepas dari sarangnya, “kamu sudah punya pacar, laki-laki? Apa itu betul?”

Kagetku membuatku tak bisa menjawab apa-apa. Maya segera meminta maaf setelah melontarkan pertanyaan itu. Seolah dia merasa sudah cukup lancang untuk mempertanyakannya. Pertanyaanku: Lalu kenapa dia tetap bertanya?

“Apa cerita itu betul?” sudah minta maaf, tapi dia tetap menuntut jawaban dariku.

Yang membuatku perlahan kembali tenang adalah karena tak kulihat raut yang menghakimi pada wajahnya. Itu mengalirkan kekuatan padaku. Itu membuatku akhirnya berani mengumpulkan kata-kata sebagai jawaban. Aku mengangguk. “Ya, itu benar, kok, May,” ucapku singkat, dan sejujurnya.

Wajahnya terlihat kecewa. Sejenak matanya begitu kosong setelah mendengar jawabanku.

“Maaf, May, selama ini aku tak mengatakan itu padamu. Karena kupikir… aku tak bermaksud menutupi, tapi kamu juga tak harus mengetahuinya. Sekarang kamu sudah dengar dari orang lain, jadi ya sudah… aku juga merasa tak perlu berbohong padamu.”

Dia tertawa lirih, dan agak lama termenung. Lalu meminta maaf lagi, “Akulah yang mesti minta maaf, Mas. Karena… seharusnya ini masalah pribadi, tapi aku mengungkitnya.”

Aku tak mengerti kenapa dia sering menyalahkan dirinya sendiri. “Kamu nggak perlu minta maaf, May. Teman-temanku banyak yang tahu juga, kok. Meskipun mereka tidak langsung tanya padaku, sih. Satu per satu, mereka tahu dengan sendirinya,” jelasku menenangkan dirinya. Aku tertawa sendiri merenungi penjelasanku itu, mengingat bagaimana orang-orang tahu bahwa diriku ini gay. Selama ini, sebenarnya aku tak pernah sungguh-sungguh berniat membuka diri, tapi keadaan telah membuat diriku menjadi tersingkap. Demikian juga kali ini.

“Sampai saat ini, hubungan kalian masih?” dia bertanya.

Aku mengangguk saja. “Dia kelas dua SMA sekarang, sama sepertimu. Sebentar lagi naik kelas tiga,” ucapku, tanpa menjelaskan lebih banyak.

Tapi dia terus bertanya. “Kenapa kalian tak kemari berdua?” dia lontarkan pertanyaan yang sepertinya sekadar untuk menunjukkan betapa dia menganggap santai masalah ini.

Tapi aku tak percaya hatinya sungguh sesantai itu. Makanya aku terpaksa berbohong menjawab, “Dia tak diijinkan pergi jauh oleh orang tuanya.” Aku pun tertawa lagi, ikut berpura-pura merasa santai, “Tapi aku sering bermimpi, dia menyusulku kemari.”

“Apakah orang tua kalian tahu soal kalian?”

Aku menggeleng, berbohong lagi.

Di balik senyum Maya, aku seperti melihat kekecewaannya bercampur dengan penilaian yang ironis terhadapku. Sedikit sinis, mungkin. Tapi, setidaknya dia tetap mencoba tersenyum. Senyum dan kebohongan, demi menjaga hati masing-masing.

“Siapa namanya? Seperti apa dia? Pasti tampan, kan?” dia secara perlahan terus mengubah nada bicaranya, lebih ringan, seolah dia antusias, seolah dapat begitu cepat melupakan serta menutupi kekecewaannya dariku.

“Namanya Fandy. Ya, dia tampan. Sudah hampir dua tahun aku dengannya,” jelasku.

Jika Maya memang antusias dan sungguh tak merasa kecewa, tentu dia bisa bertanya lebih banyak tentang aku dan Fandy. Tapi dia memilih berhenti. Berhenti seperti kaki yang tersandung.

Aku bisa saja berkata, “May, apakah selama mengenalku, kamu memiliki harapan padaku? Kamu menaruh hatimu padaku? Jika ya, aku minta maaf karena tak bisa memenuhi harapan itu.” Aku bisa berkata begitu, karena isi hatinya sudah sedemikian terbaca olehku. Tapi aku memilih tak mengucapkannya. Aku mengerti, meski maksudku hanya ingin meminta maaf, aku hanya akan semakin mempermalukan dirinya. Aku tahu, karena aku pernah berada di posisi sepertinya.

Aku juga tak memaksa untuk mengantarnya saat kami pulang. Dia menghampiriku saat berangkat, kini dia ingin pulang sendiri. Aku pun melepasnya, memberikan apa maunya. Kami pulang sendiri-sendiri.

Beginilah akhirnya. Kuncup layu tanpa pernah mekar, apalagi dipetik. Ia gugur tanpa pernah diulurkan. Aku sudah membuatnya sedih. Aku sudah membuatnya kecewa. Tapi aku percaya, dia akan berbunga kembali, tentunya bukan lagi untukku. Aku percaya dia tak akan cengeng.

Maya, adalah seperti namanya. Sesuatu yang ada di awang-awang, seperti awan memikat yang tampaknya kasat tetapi suatu saat bisa berubah wujud, bahkan lenyap. Abstrak, ia harus dipahami dengan rasa, bukan dengan kata-kata. Dan rasa yang selama ini terpancing dalam dadaku, kini sudah kumengerti… bahwa rasa ini tak perlu kuungkapkan lewat kata-kata kepadanya, karena dia juga menyentuh rasa ini bukan lewat kata-kata. Bahwa, kini kusadari, aku hanya terpukau olehnya… tapi aku tak pernah bermaksud memilikinya. Bagiku Maya adalah maya, ia memikat, dan… biarlah ia lewat di langit atas rumahku. Ia boleh berubah menjadi butir-butir gerimis dan menyapa rumput di halamanku, tetapi, aku sudah memiliki sumur yang airnya menghidupiku.

Sejenak, kata-kata itupun menyelinap lagi, “Aku bercermin kepada air yang menggenangi jejak kakiku. Betapa hari-hari seperti mengarungi lautan manusia, yang menawarkan terik, badai, gelombang, atau sekadar suara camar. Sahabat-sahabat, adalah oase dan pohon-pohon kurma ketika jalanku menjadi gurun. Mereka meneduhkan, mereka menghibur dan memberi tempat singgah. Tetapi pada saatnya nanti, lebih baik aku pulang. Sumur di belakang rumah itu, meski hanya mata air yang kecil, airnya terasa lebih sejuk dan segar. Sebab, ia adalah dirimu, Kekasihku. Dan rumah itu, rumah kita.”

Aku kembali yakin, bahwa hatiku tetap kepada laki-laki. Kurasa… masih untuk Fandy. Sesungguhnya tak pernah berubah, apapun yang telah terjadi….

 
 

Dimas, lucky bastard! Disukai cewek secantik Maya, tapi cintanya tetap ke Si Unyu yang manja dan sok lugu itu. Huh, mulailah sekarang, bahasanya mendayu-dayu memuja cowok yang sudah dia putusin. Gue capek, deh, Mas….

 
 

9 Juni 2011

Dengan berat hati, kusampaikan ke Mas Dika, bahwa aku ingin berhenti bekerja di sini. Memang, kebetulan karyawan yang selama ini kugantikan sudah siap bekerja lagi, kemarin dia sudah menemui Mas Dika. Mas Dika sempat menahanku dan menyatakan bahwa dia bisa memberiku pekerjaan di cabang yang lain, atau bahkan aku masih bisa tetap bekerja di sini sebagai personel The Bats.

Dengan agak sungkan kujelaskan ke Mas Dika, bahwa aku kurang enak kepada Mas Awan. Karena aku merasa sudah menimbulkan prasangka yang tak baik terhadap hubungan Mas Dika dan Mas Awan. Apalagi beberapa orang di sini juga sudah mulai tahu bahwa aku gay, pertemananku dengan Mas Dika pasti akan rawan pergunjingan.

Selain itu, juga soal Maya. Aku tahu, Maya dekat dengan anak-anak di Nagari sejak lama. Sedangkan aku orang baru di sini. Aku takut jika masalahku dengan Maya tercium oleh yang lain akan jadi mengganggu suasana di sini. Kupertegas juga ke Mas Dika, bahwa selama ini kudengar Nara, drummer The Bats, juga naksir Maya. Aku merasa tak enak.

“Itu cuma perasaanmu,” begitu Mas Dika membantahku. “Teman-teman pasti bisa berpikir dewasa, tak akan menyalahkanmu. Mereka sportif, kok.”

Mas Dika juga bilang padaku, mengaku bahwa sejak awal sebenarnya dia sudah menduga kalau Maya suka padaku. Dia bilang, bahasa tubuh Maya sudah terbaca. Tapi dia tak ingin intervensi, itu saja.

Mas Dika menanyaiku, “Apa mereka pernah memojokkanmu soal Maya? Tidak, kan?”

Memang nggak pernah, sih. Tapi, aku merasa diriku berpotensi merusak hubungan orang-orang di sini. Kunyatakan bahwa keputusanku sudah bulat, aku ingin berhenti bekerja di sini.

Mas Dika masih menawariku pekerjaan di cabang yang lain, demi membantuku. Tapi aku menolak.

“Aku nggak selamanya di sini, kok, Mas. Mungkin sebulan atau dua bulan lagi, atau malah beberapa minggu lagi, aku harus pulang ke Solo. Daripada Mas Dika memberikan pekerjaan ke aku, yang pastinya nggak bakal lama di sini, lebih baik berikan ke yang lain saja yang berniat bekerja lebih lama. Jadi nggak sia-sia.”

Waktuku di sini sudah cukup. Sekitar tiga minggu, sudah memberiku pengalaman yang cukup mengagumkan bagiku.

Mas Dika bertanya apa rencanaku setelah ini, tapi jujur saja aku belum bisa memberinya kejelasan. Aku hanya jawab ‘ada’. Yeah, saatnya mengambil belokan lainnya, apapun yang akan kutemui di sana aku juga tak tahu. Tapi yakin saja.

Aku berterima kasih kepada Mas Dika. Mas Dika tampak berat hati menyetujuiku. Aku juga sudah berpamitan ke Durus. Dia terkejut dan juga berat hati, dan mengajak untuk mengadakan semacam pesta perpisahan kecil-kecilan. Aku menolak. Karena aku tak yakin bisa menjawab kepada yang lain ketika mereka nanti bertanya, “Kenapa pergi?”. Lantas, harus kujelaskan juga semua alasan itu ke mereka? Tak usah. Aku akan titipkan pamitku saja untuk mereka.

Besok adalah hari terakhirku bekerja di Nagari. Sedih, sih.😦

 
 

10 Juni 2011

Malam terakhir di Nagari, nih. Sedih harus berpisah dengan orang-orang baik di sini. Tiga minggu menjadi keluarga, tiga minggu bekerja bersama, akhirnya datang juga saat berpisah ini. Barang-barangku sudah kukemasi. Eh, sempat nangis juga aku….😦 Untung nggak ketahuan yang lain.

Aku sudah pamit sekali lagi ke Mas Dika. Dia memberikan gajiku selama bekerja di sini. Plus honor sebagai additional player The Bats. Totalnya Rp. 1.200.000. Wow, ini adalah keringatku. Angka terbesar sejauh ini, dari pekerjaan yang kulakukan. Aku menitipkan pamitku kepada Mas Awan lewat Mas Dika. Aku berjanji pasti akan mampir-mampir kemari lagi kalau ada kesempatan. Kalau ada waktu, aku juga akan mampir lagi ke rumah Mas Awan di Jembrana.

Aku juga terpaksa menitipkan pamitku ke Maya lewat Durus. Karena sejak pertemuan di Pantai Geger itu dia belum pernah mampir lagi ke Nagari. Padahal biasanya tiap hari mampir kemari. Kata Durus, Maya juga sudah beberapa hari tak ke rumahnya. Dia masih butuh waktukah? Hmm, yang penting aku sudah mencatat nomor teleponnya.

Rencanaku berikutnya? Aku ingin ke Ubud. Aku akan menemui Mas Angga, seniman Rindik yang kukenal waktu perform di Bajra Sandhi. Dia tertarik dengan konsep Janger Jazz yang dibawakan The Bats waktu itu. Sekali kenal, orangnya sangat welcome, aku dipersilakan main-main ke sanggarnya di Ubud jika ada waktu. Mungkin inilah kesempatanku.

Apa lagi, ya, yang akan kutemui nanti? Hadapi saja. Aku punya kompas Jack Sparrow, jimat yang akan membuat arah manapun menjadi arah keberuntungan. Hahaha. Ngayal! Itu kan kompasnya Denis.

Oke. Goodbye Badung. Ubud, I’m coming….

 
 

11 Juni 2011

Lagi-lagi mengutip perkataan Gandalf, air mata itu nggak selalu jahat. Tapi bukan berarti aku harus mewek di depan siapa saja. Kuakui aku sedih harus berpisah dengan Mas Dika dan kawan-kawan di Badung, tapi cepat atau lambat perpisahan nggak mungkin dihindari juga. Dengan melakukannya sekarang, aku bisa memberikan lebih banyak waktuku untuk langkah berikutnya. Pagi tadi aku meninggalkan Badung. Siang, aku sudah tiba di Ubud.

Awalnya agak bingung juga mencari alamat Mas Angga, karena Ubud ternyata desa yang luas. Dan sebenarnya juga kurang tepat disebut ‘desa’, karena ramainya nggak kalah dari Kuta. Bedanya, Ubud bernuansa alam dengan sawah dan hutan, sedangkan Kuta adalah ‘desa’ pantai. Kuakui ini memang desa yang unik. Sanggar dan museum seni bertebaran di sana-sini, bersaing dengan kedai-kedai souvenir. Arsitekturnya juga banyak yang unik, memiliki corak khas Bali yang terlihat asli biarpun bule-bule berjubalan, dan kafe-kafe bermenu western foods juga terselip di mana-mana. Desa internasional!

Rumah Mas Angga dapat kutemukan setelah tanya sana-sini. Letaknya di Jalan Sriwedari, Ubud. Surprise, kan? Kupikir yang namanya Sriwedari cuma ada di Solo, ternyata di sini juga ada. Rumah Mas Angga besarnya seperti lapangan futsal. Tapi rumah yang kumaksud ini tidak seluruhnya berupa bangunan tertutup. Terbagi menjadi beberapa bangunan, termasuk bale di depan rumah yang dijadikan tempat latihan grupnya. Grup Rindik bernama mistis itu, Pager Wangi.

Aku disambut dengan semarak, bak seorang tamu yang kedatangannya sudah diduga. Yang di luar dugaanku, ternyata Mas Angga sudah berkeluarga, beristri dan beranak dua. Penampilannya memang jadul, memelihara jenggot panjang yang dikuncir, tapi perawakannya yang kecil dan kulit mukanya yang tampak licin telah membuatku terkecoh, kupikir usianya baru 24-26, ternyata sudah 35. Aku diperkenalkan ke keluarganya, juga ke teman-temannya yang baru berlatih Rindik di bale. Aku diajak makan siang bersama. Lalu aku dipertontonkan lahan usahanya, dia menyebutnya bengkel, semacam bangunan besar tempat para karyawannya mengerjakan bermacam-macam kerajinan tangan. Souvenir dari batok kelapa, kayu, akar wangi, dsb.

Aku ditanyai Mas Angga, “Bli berencana mau ke mana saja?”

“Ini tujuan utama, sih, Mas. Pingin tahu Ubud itu seperti apa. Rencana berikutnya belum ada.”

Tanpa basa-basi Mas Angga mempersilakanku menginap di sini. Wow! Jalanku di perjalanan ini masih terang rupanya, selalu mendapatkan pertolongan. Aku tak mungkin menolak.

“Kalau aku mau belajar Rindik sekalian bisa, Mas?” tanyaku. Penasaran sama alat musik bambu itu.

“Tak apa-apa, berarti bisa lebih lama di sini,” balas Mas Angga, seolah dia memang berharap aku berlama-lama di sini.

Berarti memang di sinilah takdirku saat ini. Hingga beberapa hari ke depan, atau beberapa minggu.🙂

Petualangan baru dimulai!

 
 

 
 

16 Juni 2011

Hampir seminggu aku tak meninggalkan jejak di diary ini. Apakah tinggal di Ubud menyenangkan? Hmm, tenang-tenang aja, sih. Hampir seperti ketika aku di Badung, di sini aku numpang tinggal di rumah Mas Angga, pagi hingga sore aku ikut bekerja di bengkelnya. Ya, aku ikut bekerja biar tak menjadi parasit di rumah orang, sekaligus bisa dapat penghasilan juga. Di waktu luang aku bisa belajar memainkan Rindik, atau jalan-jalan ke sawah, hutan, atau sekadar nongkrong di warung sambil menonton bule-bule lewat. Suasana di sini lebih santai, karena lingkungan yang sejuk dan membaur dengan perkampungan, dan rata-rata masyarakat di sini adalah seniman, segala sesuatunya terasa ramah sekaligus unik. Di Ubud aku bisa mendengar suara doa Tri Sandya yang didengungkan tiga kali sehari dari pura, sangat jernih, berbeda dengan di Badung yang lebih bising. Itu selalu membuatku bangun pagi, dengan perasaan tenang dan damai. Kehidupan di sini betul-betul terasa harmonis.

Tapi di sisi lain, ada hal-hal yang dulu dapat kutemui di Badung, kini tak bisa kudapati di Ubud. Dan itu menyangkut hal yang penting bagiku: Pertemanan. Di Badung ada Mas Dika yang baik, ada Durus yang konyol, ada Maya yang jadi primadona, suasana di sana jauh dari membosankan. Di Ubud nggak ada. Orang-orang yang kukenal di sini rata-rata orang yang berumur lumayan jauh di atasku, dan sudah berkeluarga. Ramah, tapi bukan sebagai kawan yang asyik. Datar-datar saja. Termasuk Mas Angga, orangnya supel tetapi suasana yang kurasakan masih agak formal. Berbeda dengan Mas Dika yang bisa diajak bercanda dengan guyonan anak muda. Yah, kadang terasa bosan memang.

Yang asyik adalah saat bermain Rindik. Alatnya itu yang asyik untuk dimainkan, kalau orang-orangnya sih seperti yang kukatakan: adem ayem, kurang seru. Nggak seperti The Bats yang bisa latihan bareng sambil bercanda. Tapi mungkin memang inilah yang namanya hidup penuh warna. Warnanya nggak selalu cerah, ada yang warna kalem juga. Kelebihan Ubud ada pada nuansa perkampungannya, di sini cocok untuk hidup tenang, kontemplasi. Sawah-sawahnya memanjakan mata. Sayangnya, mirip dengan yang terjadi di Kuta, jika di Kuta objek eksploitasinya adalah pantai maka di Ubud objeknya adalah sawah. Sawah-sawah banyak yang tertutup oleh bangunan-bangunan baru yang dibangun di sepanjang tepi jalan. Mulai dari ruko kecil hingga kafe dan galeri-galeri, dibangun menutupi pemandangan sawah. Jadi seolah-olah panorama sawah yang elok itu kini menjadi hak milik para pemilik bangunan itu.

Ngomong-ngomong soal musik, rupanya bakatku bermain gitar tersalur lagi. Gara-gara dulu melihat Janger Jazz, sekarang Mas Angga mengajakku kolaborasi juga. Dia main suling, aku mengiringi dengan gitar. Dengan suling Bali dia memainkan lagu Auld Lang Syne. Lebih simpel dari Janger Jazz kemarin, tapi keren juga, lagu Celtic bernuansa Bali. Dia ingin menampilkannya di dalam pertunjukannya di Amlapura, pekan depan.

Aku sendiri punya rencana untuk pergi tripping akhir pekan ini. Rencanaku, hari Minggu nanti aku akan pergi ke Bangli, kabupaten yang konon memiliki iklim terbaik di Bali, kabupaten paling sejuk. Aku akan ke Pura Dewa Agni, ke Danau Dewa Wisnu, mungkin akan mendaki gunungnya juga. Aku sudah membicarakannya dengan Mas Angga, dia berpesan agar aku tidak lupa dengan jadwal pentas di Amlapura. Aku jawab siap, setelah selesai di Bangli aku akan langsung menyusul ke sana. Di Amlapura sehari untuk pentas di festival musik tradisional, setelah itu aku bisa melanjutkan tripping lagi. Uangku cukup, kok. Hehehe. Apalagi Mas Angga mau meminjamiku motor.

Hei, saat ini kudengar Mas Angga meniup suling lagi….

Mas Angga memang suka meniup suling kalau malam-malam. Dia orang yang kontemplatif, dan menurutku dia punya sentuhan romantisme bergaya kuno. Jaman sekarang mana ada cowok bersyahdu ria dengan cara meniup suling malam-malam di depan rumah, kalau bukan Mas Jenggot itu? Dari kamar ini aku dengar suaranya meniup suling di bale. Awalnya merinding saat mendengarnya. Serasa suara itu akan memanggil Leak, lalu makhluk itu merayap di langit-langit kamar tempat aku tidur, dan tak menunggu lama lagi segera menyergapku. Apalagi lampu kamarku cuma bohlam kuning 15 watt. Hampir semua ruangan di rumah ini memakai lampu setengah terang, kecuali ruang tengah dan ruang tamu. Seram, kan?

Tapi setelah beberapa hari di sini, aku terbiasa juga. Malah, lagu yang mengalun itu seringkali begitu sendu. Mendayu seperti golak hati yang sedang menanggung rasa rindu.

Bukankah suaranya menyerupai seruling penggembala kerbau? Kerbau itu merumput dengan tenang, membiarkan bocah gembala itu bertengger di punggungnya. Sebab hari itu adalah hari yang damai, sore yang teduh, di mana burung-burung pipit pun melepas lelah setelah seharian berlomba menyambar butir padi, dan sebentar lagi akan pulang menuju sarang dengan perut kenyang. Dua kekasih masih menunggu hingga beberapa waktu lagi, menganyunkan kaki mereka di antara padi-padi yang menguning. Di puncak sawah yang membukit itu, mereka hanya ingin melihat cahaya terakhir sang mentari di hari itu. Tangan mereka saling berpeluk di kedua bahu, duduk memandang ngarai. Hingga senja pun tiba, dan suara seruling itu telah lenyap… si gembala dan kerbaunya mendului pulang. Dua kekasih itu menutup romansa dengan satu kecupan panjang. Tangan mereka bergandengan, pulang menembus remang….

Bukankah itu aku dan Fandy…?

 
 

 
 

18 Juni 2011

Hari ini, mumpung akhir pekan, aku jalan-jalan ke Badung. Aku ke sana dengan motor pinjaman dari Mas Angga. Niat awal ingin menilik suasana di Nagari, main-main ke sana lagi. Tapi yang kulakukan malah sama sekali di luar rencana.

Ceritanya, aku mampir di sebuah kafe untuk makan siang. Itu kafe yang punya kelas. Bagaimana aku menilai sebuah kafe berkelas? Bukan dari enak tidaknya makanannya, bukan juga dari mahal tidaknya harganya. Terus terang, itu cuma kafe kecil yang tergolong sederhana, tapi karena aku orang yang sangat memperhatikan soal musik, maka musik yang diputar di sebuah kafe kujadikan tolok ukur seberapa tinggi selera si pemilik kafe. Makan selalu menjadi lebih enak jika diiringi musik yang tepat. Aku mengapresiasi kafe itu karena tidak memutar lagu-lagu alay, lagu-lagu yang liriknya jorok, kasar, dan nggak jelas.

Kafe kecil itu bergaya modern, dihiasi lukisan-lukisan tokoh seniman, menyediakan menu campuran, dan lagu yang sedang kudengar saat menikmati cappucinno adalah ‘How Do You Keep The Music Playing’. Ngomong-ngomong, itu adalah lagu yang sama dengan yang pernah kudengar saat aku berdua dengan Fandy di sebuah kafe. Tapi waktu itu yang kami dengar adalah cover version, dibawakan oleh sebuah band akustik yang tampil di kafe itu. Pemaind biola di band itu adalah Ricky.

Tentang Ricky, dia adalah adik kelasku waktu SD. Dulu Ricky adalah satu-satunya adik kelas yang dijejalkan ke dalam ensemble untuk memainkan lagu-lagu pada acara perpisahan siswa kelas 6, aku seharusnya juga tampil bersamanya, tapi tidak jadi karena sakit. Aku bertemu lagi dengannya setelah sama-sama besar, di kafe itu. Rupanya dia semakin jagoan dengan biolanya, memainkan lagu itu seolah hatinya juga sedang begitu galau. Dan, setelah besar dia tampan juga ternyata. Tampangnya agak culun, tapi sorot matanya gagah. Kukenalkan juga Fandy padanya. Aku tak mengakukan Fandy sebagai pacar. Tapi belakangkan akhirnya Ricky tahu juga kalau aku dan Fandy pacaran.

Fandy pernah menuduhku, bahwa aku menyukai Ricky, gara-gara beberapa kali aku pernah memuji kepiawaian cowok biola itu. Aku susah payah meyakinkan dia, “Percayalah, Fan, kamu tetap lebih seksi dibanding Ricky, kok.”

Setelah itu, secara mengesalkan Fandy membalasku begini, “Tapi Ricky lebih seksi dibanding dirimu. Berusahalah, agar hatiku tak terebut olehnya.”

Cinta sesama laki-laki memang cinta yang nakal. Itu kuakui. Sebab naluri laki-laki memang pemberani, senang mencari celah dan kesempatan. Hanya lelaki setia yang dapat mengendalikan kenakalannya. Aku dan Fandy sering mengandaikan lelaki lain, kadang kami saling membicarakan kegagahan cowok ini, cowok itu. Tapi jika ditanya, siapa yang kucintai? Jawabku tetap: Fandy. Di saat aku sudah mengucapkan kata ‘putus’ pun, siapa yang kucintai sekarang? Masih: Fandy. Cowok-cowok lain di antara kami hanyalah alternatif, ibarat awan yang bisa datang silih berganti di langit, tetapi matahari tak pernah terganti.

Aku benar-benar merindukan cinta itu. Rasaku padanya terasa membulat lagi, berkecamuk tak jauh beda dengan ketika pertama kali aku jatuh hati padanya. Aku meresapinya, di bangku yang menyendiri, hanya ditemani cappucinno dan spaghetti yang rasanya tiba-tiba menjadi sedikit lebih pahit. Aku memandangi wajah Rabindranath Tagore yang dipajang di antara lukisan-lukisan di dinding, membuatku teringat beberapa kata-katanya, bahwa membebaskan hati seseorang adalah wujud cinta yang lebih tinggi dari cinta lainnya. Tapi… siapa yang sanggup melakukan hal itu? Aku sudah mencobanya. Tapi itu meninggalkan kerinduan yang kian hari justru kian kuat.

Ya, aku rapuh. Tekadku seperti ombak yang tinggi-rendah, mencapai pantai lalu beringsut lagi. Aku menyerah….

Tak bolehkah jika aku mengungkapkannya?

Kuhabiskan waktu sehariku di Badung untuk menulisnya di sebuah surat. Membeli beberapa carik kertas di kantor pos, menulis di dekat jendela bersama aroma kamboja yang merebak dibawa angin. Kulampirkan beberapa bait puisi, memberitahunya bahwa sesungguhnya aku baik-baik saja dan selalu mencoba mencari makna dari kesedihan-kesedihan yang lalu itu. Dan akhirnya, aku bertanya, “Apakah kau masih menginginkan agar musik kita tak pernah berakhir?”

Hmhhh…. Pulang memang lebih baik, ya, Fan… dengan sumur yang kecil tetapi menghidupi. Dan, rumah itu rumah kita.

Aku rindu kamu.

 

 

19 Juni 2011

Tumben aku menulis diary ini pagi-pagi. Ceritanya, seperti rencana yang telah kususun, hari ini aku akan tripping ke Bangli. Aku ingat Maya berasal dari Bangli. Awalnya aku ragu, tapi akhirnya aku meneleponnya juga, dari wartel. Kutanyakan apakah dia sedang di Bangli–sebab ini hari Minggu, siapa tahu dia sedang pulang kampung. Ternyata benar, dia sedang di rumahnya di Bangli.

Kutanya alamat detilnya, supaya aku bisa mengunjunginya. Awalnya dia terdengar enggan, dan menanyaiku ada perlu apa aku ke rumahnya. Kujawab, aku ingin memberinya lagu-lagu instrumental yang dulu pernah dia minta. Dan, tentu aku ingin lebih dari itu, aku ingin memperbaiki pertemanan kami yang sempat agak canggung sejak pertemuan di Pantai Geger dulu; aku juga ingin minta maaf karena tak pamit langsung padanya saat aku meninggalkan Badung; tapi itu tak kuungkapkan di telepon, nanti saja saat bertemu langsung dengannya. Akhirnya, dia bersedia memberi tahu alamat rumahnya, kucatat di secarik kertas. Aku akan mencarinya. Meskipun itu daerah yang baru pertama kalinya akan kujelajahi, aku yakin bisa menemukannya. Aku punya kompas Denis, jimat penunjuk arahku.

Sebelum berangkat, kusiapkan lagu-lagu yang sudah kujanjikan untuk Maya. Aku memang spontan saja menjanjikannya. Ku-convert beberapa CD musik instrumental yang kupunya menjadi mp3, kusimpan file-nya di laptopku. Akan kutinggalkan laptopku untuk Maya, itu akan jadi bukti bahwa aku percaya padanya. Aku percaya dia akan menjaganya untuk sementara. Aku senang mengenalnya, dan cinta tak boleh merusak pertemanan.

Sekarang, aku siap untuk berangkat. Aku tak akan bersama laptop ini sampai beberapa hari nanti. Tapi aku yakin semua akan baik-baik saja. Entahlah, selama di sini, aku telah menjadi orang yang lebih memiliki keyakinan. Hahaha.

See you till then….

 
 

Lembaran diary Dimas berakhir. Aku selesai membacanya, tepat jam delapan malam. Aku terpekur mencerna lagi semua yang sudah kubaca. Merenung dan membayangkan. Ada yang kabur, ada yang cukup jelas. Ada yang mengubah sesuatu dalam diriku, ada yang tidak. Ada kekaguman, tanpa mengurangi rasa kesal dan mualku terhadap semua ceritanya. Intinya, memang itulah Dimas, itulah apa adanya dia. Saudara kembarku….

Buku hariannya belum menunjukkan secara pasti di mana dia sekarang. Tetapi kali ini aku sudah tak lagi mencemaskannya. Dia baik-baik saja. Dia telah menjalani tujuannya dengan caranya. Aku salut, dalam beberapa hal dia berhasil membuatku meleset menilainya.

“Menemukan petunjuk?” Mas Dika muncul di sampingku.

Aku tersenyum kecut. “Ada beberapa.”

Mas Dika mengambil duduk berhadapan denganku, seraya mengamati wajahku. Dia tersenyum. Kupalingkan mukaku, merunduk.

Dia berucap, “Sepertinya, ada yang membuatmu terharu?”

Aku tak menjawabnya. Karena memang tak harus dijawab.

Aku hanya berucap satu pernyataan, “Sekarang, seharusnya dia tak perlu malu lagi untuk pulang….”

 
 
 
 

bersambung….

 
 
 

 

73 responses to “Karung 20

  1. Fahmi aldana

    9 November 2014 at 04:16

    Yup selesai baca part ini tepat adzan subuh dikumandangkan…ini diposting jam brapa bang noel? Overall, aku cuma mau bilang kalo diary2 dimas itu mirip seperti POV(atau cuma perasaanku saja)yang menjadi penjelas part2 nya denis, dan..saya suka cara bang noel menyajikannya dalam bentuk diary seperti itu. Sepertinya ‘diary depresiku’ cocok jadi judul diarynya dimas..hehe keep continue it bang…fighting!

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 05:06

      Isi diarinya nggak melulu depresi, kok.

       
  2. Dian kusuma

    9 November 2014 at 04:36

    Kereeenn udah lanjut lagiii… Tapi tanggalnya ada yg salah ya mas. Tahun 2014 :))

     
  3. ramz

    9 November 2014 at 05:15

    first comment

    oh iya ka, maaf misalnya saya kritik, cuma pas sih dimas ngayal tentang artis, diatas disebiutkan bahwa artis yg disuka adalah boy william, sedangkan boywill pada tahun 2011 belum masuk dunia entertaint

    dan satu hal lagi, cra 3 episode 21
    kpn rilis

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 13:12

      Perasaan teman-temanku pada suka ngomongin Boy William udah lama. Ya udah, diganti Stefan William aja, yg seumuran Dimas.🙂

       
  4. Aaron Steve

    9 November 2014 at 05:35

    Kenapa Adam dan Hafid? Kenapa bukan Adam & Steve?
    Hehehehehe

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 13:18

      Orang Indonesia kan familiarnya dengan ‘Adam & Hawa’, bukan ‘Adam & Eve’. Bikin beda dong, ah!

       
  5. Fre

    9 November 2014 at 07:19

    habis baca karung 19 kemaren, jadi gatel pengen baca ulang CRA 2 sama baca ulang saus mozarella. selalu itu yg jadi penawar kangen ke fandimas. dan sekarang pasca baca karung 20… -entah karena saking sayangnya sama dimas ato gimana-udah sebanyak apapun baca diarynya… tetep aja masih kangen. kadang jadi serem sendiri betapa aku nganggep dimas bukan sekedar tokoh fiksi. bahwa dimas emang lagi ada diluar sana… lagi melakukan sesuatu yg ngebuat dia jadi berarti. aku bangaaaaa banget sama dia tuh. semua yg dia alami… itu emang bener2 jadi sesuatu yang mendewasakan dia.

    terus aku ngerasa… hubungan dimas-denis tuh parah banget ‘dalem’nya. apa ya, it’s like… same coin, different side. mereka tuh bener2 bertolak belakang kayak sisi koin. tapi mereka butuh satu sama lain untuk saling ngelengkapi. karena mereka itu ‘satu’…

    untuk The Bats… sial, mereka butuh nama fandom nih!!! kira2 fans nya The Bats namanya apa ya? aku yakin andai band ini bener2 ada, pasti udah punya fans yang banyak. penasaran sama nara, putu, sama wayan. mereka ganteng gak ya? lol. kalo durus kan udah dikasih ciri2nya. haha. btw, konsep janger jazz itu keren banget.. asli aku pengen lihat pertunjukannya. pasti epic banget!!! huhu *fangirling so hard* aku jd inget masa kecil x’D kakek sering muterin instrumental tari janger dirumah… katanya ngobatin kangen sama suasana bali
    . haha. dan aku kangen bali gara2 ini :’)) duh udah berapa taun gak pulang sana *ini kenapa jadi curhat. *maafkan komen yg panjang banget ini. tapi kantung ini emang menuntut untuk dikomentari panjang saking banyaknya hal yg terjadi yg bikin aku senyum2 melulu.

    terus maya. girl, it must be so hard for you! tapi aku kagum sama dia🙂
    dan Ricky pas jadi cameo lagi!!!! omgasdfghjkl!!!!!!!! kangen banget sama dia woooooi. gimana kabar dia sekarang :’D huhu.

    apalagi ya… pengen ngomong aja sih kak, ada dua temenku… bukan fujoshi, penasaran baca CRA dr awal. dan mereka suka banget dan kami jadi sering diskusi soal CRA. ini ngebuktikan bahwa CRA itu sesuatu yg memang layak untuk jadi sebuah bacaan yg berkualitas.

    sekian. fiuh. jadi banyak omong gini -_-

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 13:48

      Salam untuk teman-temanmu. Suruh komentar di sini juga, yang panjang, yah!

       
  6. mukamurka

    9 November 2014 at 09:19

    Metafora yang indah (lagi) :’)

    Sekalian numpang belajar ya, mas.
    Nulis plot beda yang saling mengisi (seperti HBR juga) dalam satu cerita dan bahkan ditambah crossover. Pasti rumit ya, mas? Tapi tetap bisa dituliskan sebegininya. Salute!

    Seandainya cerita ini bisa menjelma nada, pasti alunannya akan sangat indah~

    Saya belajar banyak dari sini
    Terimakasih banyak
    *sambil gaya sungkem

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 13:26

      Nggak usah sungkem, nanti aku cepat tua.

       
      • mukamurka

        9 November 2014 at 15:05

        kan uda tua, haha

         
  7. Herdana

    9 November 2014 at 10:45

    “dengan gambar kowok yang besar”. Hmmm, Kang. itu artinya apa ya Kang, Kowok?.
    pekerjaan lu g jauh dari benda-benda kesukaan lu. Hahhahaha langsung bisa nebak kalo sabun yg dimaksud, ternyata bener ditulis dibawahnya.
    Makasih kang, udah ngelanjutin karyanya. Semangat!!!

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 13:44

      Kowok adalah sebutan simbol hati/cinta, istilah ini beredar di Solo-Sragen dan sekitarnya. Kalau Denis menyebutnya ‘bokong’. Istilah ‘bokong’ juga dipakai untuk menyebut simbol itu, tapi akhir-akhir ini sudah jarang yang memakainya.

       
  8. yanz

    9 November 2014 at 12:34

    seruuu, ceritanya ….

     
  9. kazekage

    9 November 2014 at 12:53

    Keinget lagi karakter dimas.. Ini persis dimas, baru sadar sifat dimas emank rumit, entah rumit entah komplit entah kaya entah labil.. Hahaaa . Kekanak2an tapi kadang bisa mikir bijak.. Ga suka olahraga tp bisa kerja keras. Keliatan males tp bisa rajin juga.. Tp memang gambaran dimas ga berubah sih, tetep sama kayak dulu.. Asik juga kalo ngambil sudut pandang dimas. ada pandangan cowok2 cakep yg bikin panas-dingin.. tp pandangan bulenya ngga.. Nggaaaa suka bule :@

    Bagian akrabnya denis-dimas juga ngangenin.. Denis jadi lebih macho, lebih gemesin kalo bareng dimas.. Heheheeee
    Ditunggu lanjutannya..😀

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 13:51

      Soalnya pekerjaannya cucok, jadi Dimas mau.

       
  10. ffores

    9 November 2014 at 13:14

    mas noel, karung 21 kapan rilis
    kiraiin dikasih tau kayak karung 19

    masih penasaran sama dimas dan gak sabar melihat sih kembar bertemu lagi…?

    alah udh ngebayangin aje hahahaha
    ditunggu mas kelanjutan kisahnya

     
  11. dimazzh

    9 November 2014 at 13:25

    Ada beberapa tgl yg aku lewatkan buat dibaca, coz udah gk sbr liat ending di karung ni. Nyong ora sabar ngenteni lanjutane. . . . . . . Hehe

    Bermanfaat. KLANJUT!!!!

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 14:16

      Rasah moco sisan wae. Ra niat moco wae ngaku penasaran.

       
  12. dimazzh

    9 November 2014 at 22:17

    yah, gni nih disinisin. Jadi smuanya yg w lakuin salah. Perasaan, w cuma muji tulisan tp disinisin kyak gk sudi buat w kmentarin. W jg bsa bedain tulisan yg kding ma yg bukan.

     
    • noelapple

      9 November 2014 at 22:55

      Kamu mau komentar bagus ataupun jelek, kalau nyatanya kamu belum baca selengkapnya, terus penilaianmu bisa dianggap valid? Aku lebih mengapresiasi orang yang bilang cerita ini jelek karena sudah membaca seluruh bagiannya, daripada yang bilang bagus tapi nyatanya cuma mau baca bagian yang dia sukai saja. #sikap

       
  13. David Satrio

    10 November 2014 at 00:36

    Membaca karung 19 dan 20 itu serasa berdosa. bagai menjelajah diary Dimas tanpa ijin. padahal Denis aja ngelarang Fandy buat baca. Tega bner mas noel publikasikan diary Dimas di blog.. hohohoooo (kidding)

     
    • noelapple

      10 November 2014 at 11:01

      Eh, iya ya… seharusnya kalian nggak boleh baca Karung ini.

       
  14. Hizkia

    10 November 2014 at 00:51

    wah updatenya cepet juga. Yah seperti biasa bang Noel emang pinter banget ngerubah-rubah emosi. Dari ngakak sampe terharu. Si Ricky di sebut-sebut jadi kangen lanjutannya hehehe. Lanjut lah mang…

     
  15. ara

    10 November 2014 at 01:43

    Karung 20 ,wew wew wew …..

    Jadi gthu ya perasaannya dimas ke maya. Nggak nyangka aja… Puk puk buat Maya… rasanya lebih berat pasti, ketimbang saat kita tahu cowok yg kita sukain udh punya cewek. Tapi maya berani juga langsung nanya gthu ke dimas, biasanya cewek kan cuman bisa mendem dan akhirnya hanya berspekulasi.
    lebih variatif kisah cinta d CRA ini, ga melulu nyeritain Dimas-Fandy tapi ada Dimas – Erik, Denis – Misha, dan sekarang Dimas – Maya, menarik banget buat memahami bahwa setiap org berhak melenturkan garisnya untuk menjajaki garis-garis lain, bukan berarti gak setia tapi untuk mengetahui kemana harusnya garis itu melentur. Hehehe …apasiech nie, #abaikan
    Pokonya suka banget ttg teori melenturnya mas Noel itu.hehehe..
    Anyway,,Mas Noel pernah suka juga ama cewek ? hehehe… Nanya aja lho mas ini ^,^ V

     
    • noelapple

      10 November 2014 at 11:04

      Kepo banget, sih? Kamu suka sama akuh?

       
  16. Shinta Inta

    10 November 2014 at 04:02

    Kha ,,,, i love youuuuuu,,, lanjutin terus ahhhhh,,,

     
    • noelapple

      10 November 2014 at 11:06

      Sekali-sekali komentar kayak gini dilolosin, ah…

       
  17. Ari

    10 November 2014 at 10:14

    Makin seruh . .makin kece . . Hal yg tidak sabar untk di baca adalah ketika pertemuan Denis dan Dimas . . Siap2 dibuat menangis . . Cerita yg keren . .cerita yg indah . .andaikan cerita ini benar ada nya bang . .ngak kebayang kalau jd Dimas . .masalah selalu menghampiri nya tetapi dia tetap kuat . . Sosok yg luar biasa . . Semangat bang Noel . . . Aku akan menunggu lanjutan coretan mu sampai kapan pun itu

     
  18. manja

    10 November 2014 at 14:35

    .kyaaaa , kak noell……. Seruseruseruuuu …
    Jangan sampe buat penggemarnya sakit karna nungguin lanjutan nya di posting dong !! Please !!!
    Oiya kak noell , boleh minta e-mail nya gak ?

     
  19. JO

    10 November 2014 at 22:41

    mas, mau tanya dong! ini CRA 3 tuh dirilis di blog sambil jalan nulis ceritanya? maksudku ini karung-karungnya masih blm rampung ditulis? atau cuma tinggal diperbaiki?

     
  20. Obipopobo

    10 November 2014 at 23:46

    Bang Noeeel (^0^)/”, Obi berkunjung lagi bang (^0^)/”, makasih udah rilis chapter lanjutannya yah bang😀, Obi seneng😀, Obi sayang bang Noel (`3(^0^) , Obi doakan semoga bang Noel mendapat kelancaran dalam merilis chapter berikutnya, Makasi bang (^0^)

     
    • Obipopobo

      18 November 2014 at 21:11

      bang -_-
      ga boleh bang -_-

       
      • noelapple

        19 November 2014 at 22:17

        cieee, malu. hihihi.

         
  21. Shinta Inta

    11 November 2014 at 01:54

    Ya ka,,, thx deh dah di lolosin,,, love u muach muach,,,,
    Kga sabar deh nunggu karung 21…
    Kha klo cowo rasa apel ada filmnya ga sih?

     
    • noelapple

      12 November 2014 at 23:37

      oh, ada dong, filmnya udah sampai season lima malah.

       
  22. Dimas Liedany (@DimasLiedany)

    11 November 2014 at 07:49

    bang noeeeeeeeeel…..kapan karung2 yang lain disajikan? udah penasaran pake banget nih pengen tau kelanjutannya😦

     
  23. harryboc

    11 November 2014 at 23:30

    kalau mas mau tau.. aku selalu nganggep dimas ada.. aku bahkan bisa gambarin jelas gimana perawakannya, gimana suasana dan situasinya.
    kamu bisa menjabarkan dengan detail suasana yang terjadi.. dan gak berlebihan.

    sama satu lagi.. selama di bali, dimas gapunya gebetan atau semacamnya gitu? untuk hiburan aja sih😀 kali aja nanti dimas sama salah satu bule bali yang menggairahkan .. hahaha

     
  24. hamid prasetya

    12 November 2014 at 01:31

    cerita ini semakin indah,seru dan membuat ketagihan untuk menunggu lanjutannya….semangat bang Noel !!!!

     
  25. Jino

    12 November 2014 at 11:44

    Sedikit berpendapat ya kak, sepertinya Dimas juga sedang mencari sampai batas mana dia bertahan menjalani pilihan hidupnya yg sekarang, di saat seorang cewek mendekatinya, Ia masih bertahan pada cintanya, yaitu Fandy. Di saat banyak masalah yg datang dia masih bertahan, Dimas sosok yg kuat, dan ini masih belum menjadi batasan akhirnya. Dan untuk Denis, semangatt !!! Saudara kembarmu itu layak diperjuangkan😀

    Keren deh pokoknya ceritanya, lanjut terus ya kak..
    Salam kenal🙂

     
  26. deje

    12 November 2014 at 14:41

    penantian yang panjang akhirnya terbayar juga dengan membaca diary yang begitu panjang…

     
  27. Shinta Inta

    13 November 2014 at 03:25

    Kha bagi pin bb nya donk,,, jadi klo dah muncul karung 21 nya kan q bsa tau,,
    Hehe
    Kalo boleh sii

     
    • noelapple

      13 November 2014 at 11:31

      Follow gue di twitter aja noh!

       
  28. asrury

    14 November 2014 at 23:04

    udah 3hari berturut aku baca dari awal CRA 1 2 dan 3.. baru selesai sekarang,, mantebbbbb,,, ampe melek merem nahan ngantuk buat bisa bacanya mas noel,,,.. terus berkarya mas.. masih nunggu lanjutanya nih… ..heheh #Semangaaaatttttt…..

     
    • noelapple

      15 November 2014 at 00:00

      baca ulang lagi dari awal, jadi biar seminggu melek.

       
  29. Shinta Inta

    17 November 2014 at 05:43

    Ga punya twitter,,, kga bisa maennya,,, bagi sih bang,,,😦
    Jgn ketawain yeh

     
  30. wiikun

    17 November 2014 at 20:02

    huahahahaha setelah baca karung ke-20 ini jadi makin niat buat travelling sendirian setelah UN nanti, kali aja bisa ketemu & kenalan sama cewek kayak maya :v

     
    • noelapple

      17 November 2014 at 20:35

      halah, cewek apa cowok???

       
      • wiikun

        19 November 2014 at 20:52

        kalo ketemunya cowok unyu kayak fandy sih ga bisa ngindar huahahaha

         
    • Shinta Inta

      20 November 2014 at 05:52

      Cowok deh kayaknya,,, haha

       
  31. krisna Saputra

    18 November 2014 at 09:05

    Terima kasih atas ceritanya😀

     
  32. Alfredo

    18 November 2014 at 15:02

    Keren mas noel tapi ceritanya kepanjangan sampe ngantuk
    Overall good job

     
  33. Shinta Inta

    19 November 2014 at 05:14

    Kha,,, gw jadi ngebayangin kalo dimas sama si denis jadian,,, pasti asoy bgt,,, hahaha,,, gw jg ngebayangin kalo gw sama kaka gw jadian,,, pasti asik

     
  34. aldian

    19 November 2014 at 20:05

    wah, ngak disangka udah beberapa hari ini kantong 20 terbitnya, aku sangka ngak bakalan ada sambungan kantong selanjutnya. terus semangat ya kak untuk bikin kantong yang lainnya dan agak lebih cepat nya kak, udah ngak sabar baca kelanjutan nya.

     
  35. pram

    19 November 2014 at 23:17

    ga sabar nunggu karung berikutnya.
    jempol buat mas noel😀

     
  36. awan

    20 November 2014 at 11:57

    karung 19&20 lebih hidup…emosionalnya lebih brasa….seakan nyata….kalo seandai ini betul2 fiktif….sungguh sebuah novel dgn biaya riset yg lumayan….sy punya keyakinan ini kenyataan yg dibuat hiperbolis shg menarik….teori kelenturannya spt iklan motorola aja…nothing impossible….hati bergerak flesible…..manusiawi bgt…walopun karung2 sblmnya pencarian dimas oleh denis terasa membosankan…plot dimas lebih menarik buat sy pribadi….krn bs ngerasaain lsg apa yg dimas rasa…galau…konflik batin…uthopia n realita..keinginan,harapan,kenyataan serta petualangan…krn sy suka jln2 ala backpacker,tp tdk tergabung dlm komonitas….waktu n dana yg terbatas…menjadikan novel ini fantasi luarbiasa buat sy pribadi….strugle for love n entity…

     
  37. Shinta Inta

    22 November 2014 at 05:16

    Mas noel,,, aku sampe bulukan nih nunggu karung 21…
    Lama lama q bunuh diri juga nih,,,
    Abiz karung 21 ga nongol nongol

     
    • noelapple

      28 November 2014 at 00:36

      Lebay pakai banget. Yang lain nggak ada tuh yang nyinggung2 bunuh diri. Jangan lebay lagi, ya!

       
  38. fares

    23 November 2014 at 19:53

    Kak, kan dimas memberi password pada notenya? emang bisa? kalau bisa boleh gak saya tau gimana caranya. soalna takut temen liat diary saya. saya pake window 8.1, sebelumnya makasih ya, kak. makasih juga telah bikin cerita seperti ini. goog luck

     
    • noelapple

      28 November 2014 at 00:34

      Bisa. Temanku melakukannya. Kalau aku sih belum nyoba.🙂

       
  39. safiixiao

    24 November 2014 at 06:03

    Suka sama gaya Dimas dalam nulis diary.. keren… (wah itu kan yg nulis mas noel)
    penasaran sama kelanjutan ceritanya… ditunggu yah mas…

     
  40. widyamanja24

    24 November 2014 at 17:11

    kok gitu ??
    kak noel , bagi dong !!!

     
  41. widyamanja24

    24 November 2014 at 17:11

    kak noel , email nyaa😦

     
  42. Riska

    24 November 2014 at 19:31

    Saya rasa, Dimas akan pulang saat Natal telah tiba :v eh Natal gak lama lagi lho.
    Dari keseluruhan cerita sih bagus, hanya kadang ada beberapa kata yg gak saya paham sih. Tapi tetap OK.
    Kalau anda sempat sih, anda bisa menambahkan terjemahan kata yg tidak dipahami org2 contoh nya seperti Bli itu bla bla blaaaa…. ITU CONTOH SAJA.
    Oke deh sekian komen saya. Kapan2 bikin edisi CRA Natal di Bali ya :v

     
    • noelapple

      28 November 2014 at 00:33

      Kata-kata berbahasa asing itu sudah ditempatkan pada bagian-bagian yang proporsional, kok, dan dapat dipahami secara implisit. Kalaupun tak terpahami, sesungguhnya juga tak akan mengubah persepsi pada keutuhan cerita. Dan, aku memang sengaja tak membiasakan diri membuat semacam catatan kaki di luar naskah. Aku lebih suka menyinggungnya langsung dalam cerita itu sendiri, dibincangkan oleh tokoh-tokoh itu sendiri, misalnya soal kata ‘Bli’. Denis dan Fandy sendiri yang ‘kubuat’ menjelaskan maksud pemakaian kata ‘Bli’, mereka mempercakapkan itu. Bisa dicek lagi di karung saat mereka istirahat di Jembrana.

       
  43. 1412

    19 April 2015 at 18:14

    ditunggu kelanjutan CRA dan HBR ka 😊😊😊

     
  44. gia

    5 April 2016 at 21:33

    Salam buat mas Noel ^^ dari orang yang tinggal 5 jam perjalanan ke semarang🙂 daerah paling wetan perbatasan jawa timur🙂

    sumpah. CRA adalah cerita yang saya sendiri nggak sanggup lagi pinjem jempol buat ngasih like nya. Sking awesomenya.

    Maaf fandy… saya bener2 jatuh hati sama ‘tunangan’ kamu hehehe… terlebih di karung ini.

    tapi saya g berharap jadi maya… atau maya maya yang lain. Karna saya sudah cukup tau rasanya. hahaha…

    Dari awal baca CRA, saya sudah jatuh buat dimas. hahaha…

    terus semangat ya buat mas Noel.
    ampun supe dhahar kalian sare nggih mas🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: