RSS

Karung 22

 
 

Karung 22

Armada Beraksi

 
 
 

Sebetulnya, aku masih agak shock mendapati kenyataan bahwa pacar Dimas memiliki bakat menjadi dukun. Mengerikan! Fandy, waktu pertama aku mengenalnya dulu, dia itu bocah yang culun, lugu, kelihatan ringkih dan nggak ada gagah-gagahnya. Sekarang, satu per satu penilaianku itu rontok. Dulu culun dan lugu, tapi sekarang dia sudah pintar melawan omonganku. Dulu ringkih dan seperti orang yang sama sekali nggak bisa berantem, tapi tadi malam ternyata dia bisa juga menonjok orang, meskipun pukulannya letoy. Dan yang paling epic, ternyata dia bisa melihat hantu, bahkan bisa ‘menghisap’ hantu-hantu itu padanya. Kalau dalam game, dia itu bukan karakter melee atau ksatria, dia itu karakter mage, warlock, atau wizard. Aku jadi kalah derajat darinya, karena dalam game apapun yang namanya mage atau wizard selalu jadi lawan paling ngehek! Susah dikalahin! Kita baru keluarin pedang, dia sudah lempar tenung, santet, pelet, dsb. Biarpun dia satu tim denganku, rasanya tetap gimana gitu. Serasa satu tim dengan Luna Lovegood, tetapi ini versi cowok. Hadeuuh….

Kalau ingat mimpinya soal Pura Lempuyang, aku masih merinding. Dia bilang, dia merasa seperti mendampingi Dimas di sana. Kedengaran seperti jiwanya lepas dari tubuh ketika tidur, lalu gentayangan menguntit perginya Dimas. Sebetulnya, fenomena seperti itu bagiku bukan hal baru, sih. Aku juga pernah baca kisah seorang fakir di India yang bisa mendiskripsikan kondisi di bulan dengan sangat detail, karena: menurut pengakuannya, dia telah jalan-jalan di sana ketika tidur (atau semedi, aku lupa). Kisah seperti itu bukan kasus baru, hanya saja aku nggak nyangka bahwa salah satu pelakunya adalah Si Unyu pacar Dimas itu. Dan ini juga sama sekali di luar dugaanku, bahwa sekarang kami mencari Dimas berdasarkan petunjuk dari mimpi Fandy. Konyol, tapi itulah adanya.

Biarpun ada petunjuk dari Fandy, kami tak langsung menuju ke Pura Lempuyang. Aku nggak mau, atau belum bisa, memakai petunjuk ‘mistis’ sebagai satu-satunya pertimbangan dalam membuat keputusan. Aku pilih mendengarkan saran dari Mas Dika dulu. Dan, dia mengamini bahwa agak sembrono bila kami langsung mencari ke pura yang letaknya di kabupaten Bali paling timur itu. Mungkin mimpi Fandy benar, tetapi jika kami mencari ke pura itu sekarang, pada saat yang sama mungkin saja Dimas sudah meninggalkan tempat itu. Menurut saran Mas Dika, sebaiknya kami ke Ubud dulu, menemui Mas Angga atau siapapun yang dapat kami temui di sana.

“Mampirlah dulu ke Ubud. Tak perlu lama-lama, yang penting kalian bisa memperkuat informasi yang kalian butuhkan, sebelum jauh-jauh ke Lempuyang.”

“Contohnya, informasi apa saja, Mas?” tanyaku.

“Siapa tahu, Dimas membicarakan rencananya selama di Karangasem ke temannya yang bernama Angga itu. Atau, siapa tahu Dimas masih akan kembali ke Ubud, atau malah sudah pulang ke sana.”

Kupikir-pikir, saran Mas Dika masuk akal. Jika ternyata Dimas sudah balik ke Ubud, maka ngapain sampai jauh-jauh ke Karangasem? Iya, kan?

“Tapi aku tak bisa menemani kalian. Aku tak bisa meninggalkan Nagari, masih banyak sekali pekerjaan,” ujar Mas Dika.

Aku agak sedih mendengarnya, tapi aku tak bisa memaksa. Sebenarnya aku memang tak punya pikiran untuk memaksa. Hanya saja, aku dan Fandy benar-benar masih awam tentang Bali. Aku sering dengar soal Ubud, tapi tempat itu ada di mana aku nggak tahu. Baru di Badung aja sudah nyasar di kuburan, apalagi ke Karangasem?!

“Kalau ke Ubud, kami bisa ke sana naik apa?” tanyaku.

Mas Dika juga kelihatan sungkan saat berucap, “Idealnya sewa mobil atau motor.”

Aku bisa nyetir mobil, tapi belum punya SIM A. Pertimbanganku, “Mungkin sewa motor. Tapi masalahnya kami belum tahu jalannya. Kalau kendaraan umum gimana, Mas?”

“Ada. Kalian bisa naik angkutan umum dari terminal Ubung ke terminal Batu Bulan. Dari Batu Bulan kalian bisa sewa ojek, atau taksi, untuk ke Ubud.”

“Katakanlah kami bisa sampai ke Ubud dengan angkutan umum. Terus, misalkan harus berlanjut ke Karangasem, apakah ada kendaraan umum juga?”

“Ada. Dari Batu Bulan kalian bisa mencari bus jurusan Padangbai,” jelas Mas Dika. “Tapi, masalahnya, mungkin kalian akan kesulitan untuk mencapai daerah-daerah lainnya di Karangasem, termasuk Pura Lempuyang. Idealnya memang harus kendaraan pribadi atau carter.”

Itulah yang bikin aku bimbang, harus menimbang-nimbang sampai matang. Bukan perkara ongkos, soal ongkos Papa pasti siap bantu, tapi soal keawamanku. Semestinya ada yang bisa menemani kami berdua, aku dan Fandy, sebagai pemandu jalan.

“Aku ingin sekali bisa bantu kalian. Tapi, mungkin aku hanya bisa mengantar sampai Ubung. Setelah itu kalian melanjutkannya sendiri berdua,” jelas Mas Dika.

Di saat bimbang itu, Fandy menyikutku. Dia setengah berbisik, “Telepon Erik.”

Aku bengong sesaat. “Erik?”

“Minta Erik supaya sewa mobil, lalu jemput kita. Minta dia agar mengantar kita mencari alamat kawan Dimas itu. Sampai Karangasem kalau perlu.”

“Yakin?!” sentakku, menanggapi ide Fandy yang memberondong itu. “Suruh dia sewa mobil?”

“Nanti kita berdua yang bayar patungan.”

“Dan, dia sudah pasti mau gitu?” tukasku.

“Bilang ke dia, kalau nggak mau, aku akan memusuhinya selamanya.”

Bulu kudukku merinding. “Lu serius, Fan, ngomong gitu?” cibirku, melihat ekspresinya yang kayak asal jeplak aja.

“Ngantar kita seharian apa susahnya? Kita berdua aja bela-belain perang lawan setan! Dia ke sini ngapain? Cuma nebeng, terus piknik sendiri? Nggak punya solidaritas! Dimas itu teman dia juga!”

“Kan Erik kemari bayar pakai duit dia sendiri? Nebeng gimana? Lu tuh selalu sewot kalau ngomongin dia!”

“Iya, dia bayar sendiri, tapi terus cuma numpang lewat gitu aja? Seharusnya dia juga bisa ikut bantuin apalah!”

“Siapa, sih?” Mas Dika menyela pertengkaran kami.

“Oh, anu… first-love-nya Dimas,” celetukku. Di bawah meja kaki Fandy menyepakku.

Mas Dika tertawa. Kubeberkan saja perjalanan kami dari Solo bareng Erik. Sekaligus menyinggung-nyinggung sedikit soal masa lalu Dimas dengan Erik. Ngomporin Fandy!

“Yang harus kita pertimbangkan,” Fandy melanjutkan alasannya, “Erik adalah yang paling paham Bali kalau dibandingkan kita berdua. Dia sendiri yang bilang punya teman dari grup backpacker di sini. Kalau kita butuh orang yang bisa diandalkan untuk melanjutkan mencari Dimas, ya cuma dia!”

Hmmm, usulnya itu memang masuk akal, sih. Melibatkan Erik lebih logis. Daripada cuma ditemani cenayang seperti Fandy, amit-amit. Dan sebetulnya aku juga tidak lupa Erik pernah bilang bahwa dia siap dimintai bantuan selama kami di sini. So?

Akhirnya kubilang, “Oke. Akan kutelepon dia.”

Tanpa menunggu lama, Erik mengangkat panggilanku. Segera kutanya posisinya sekarang sedang berada di mana.

“Aku sedang di Gianyar. Dengan teman-temanku di sini. What’s up?”

“Jauh dari Ubud?”

“Relatif dekat.”

Jawaban ‘relatif dekat’ benar-benar sebuah pertanda yang baik. “Kamu sudah mengunjungi banyak tempat, kan?” pancingku.

“Hmmm, hari pertama tiba aku langsung keliling Denpasar, sama ke Kuta. Hari kedua aku sudah di Gianyar, ke beberapa tempat di sini… kenapa, sih?”

“Oke, kamu sudah menikmati dua harimu di sini. Sekarang aku mau minta tolong. Sorry, ini akan merepotkan,” aku membuka duduk persoalan, lalu menjelaskan maksudku meneleponnya.

“Kalian mau ke Ubud?”

“Antar aku cari teman Dimas di sana. Aku sudah punya petunjuknya. Kalau Dimas ada di sana, ya syukur, berarti pencarian ini selesai. Tapi kalau Dimas nggak ada di sana, tindakan selanjutnya kita putuskan berdasarkan informasi yang kita dapat. Kita siap-siap saja untuk mencari lagi, sampai Karangasem.”

“Karangasem?”

“Ya. Ada petunjuk bahwa Dimas ada di Pura Lempuyang, atau setidaknya dia pernah ke sana.”

“Wow!” kudengar Erik tersentak. “Itu tempat yang bagus, lho! Oke, mau berangkat kapan?”

“Hei! Tapi ini bukan untuk piknik, ya!” tukasku. “Tujuan kita mencari Dimas. Kalau Dimas ketemu di Ubud, ya sudah, nggak perlu sampai Lempuyang!”

“Oh, oke… oke,” terdengar nada kecewa. “Terus, kapan?”

“Hari ini.”

“What?!”

“Aku inginnya hari ini. Kalau hari ini bisa, aku nggak mau besok-besok. Waktuku terbatas, Rik. Paham, kan?”

Erik teman yang berguna. Setelah kujelaskan, dia cepat mengerti, dan berjanji akan segera mengusahakan mobil carter. Dia akan menelepon satu jam kemudian, untuk mengabari perkembangannya. Artinya, aku harus menunggu kepastian dia sudah dapat mobil carter atau belum, sebelum aku memutuskan meninggalkan Badung hari ini.

“Dia cowok yang keren,” cetusku seusai pembicaraan dengan Erik. “Dia cepat paham dan cepat bertindak. Tanpa harus kusampaikan ancamanmu, dia menyatakan setuju. Dia memang bisa diandalkan!”

Selesai bilang begitu, kuamati raut muka Fandy. Dia cemberut acak-adul. Hahaha!

“Kenapa, cemburu?” ledekku ke Fandy. “Slow down. Kamu juga keren, kok. Jarang-jarang cowok unyu punya kekuatan gaib. Yang kayak begituan biasanya cowok sangar!”

“Aku nggak punya kekuatan gaib!” dia membantah ‘bakat’nya sendiri.

“Kuharap juga begitu. Andai saja,” sahutku, jujur saja penuh harap.

Pukul delapan pagi, masih di meja makan, ketika kami bertiga membicarakan rencana itu. Aku sudah menyicil pamitan ke Mas Dika.

“Terima kasih, Mas, sudah banyak membantu selama kami di sini. Dan maaf, kami sering ngerepotin,” ucapku.

“Aku malah inginnya bisa membantu lebih dari ini. Andai saja ini bukan high season, dan tak bertepatan akhir pekan pula. Minggu sore biasanya aku sudah longgar, tapi pencarian jadi kurang efektif juga kalau terlalu sore.”

“Kok jadi Mas Dika yang kedengarannya menyesal begitu?” Fandy menyahut. “Kamilah yang sungkan, Mas, kalau harus merepotkan Mas Dika lagi. Doakan saja pencarian kami nanti berhasil.”

“Doain aja, Mas, supaya kami lekas menemukan Dimas,” timpalku.

Mas Dika tersenyum simpul, mengangguk pelan. Kami bertiga lalu mengemasi piring-gelas, merapikan lagi meja makan. Mas Dika mencuci perkakas sarapan. Aku dan Fandy menyiapkan semua bawaan kami, seolah keyakinan sudah bulat bahwa kami memang akan berangkat hari ini.

“Kalau Erik memang punya teman-teman dari club backpacker di sini, mestinya dia tak kesulitan menyewa mobil. Punya koneksi orang-orang lokal seharusnya memudahkannya,” gumam Fandy sambil berkemas.

“Aku senang mendengar pendapatmu yang logis. Bukan bisikan gaib,” sindirku. “Kamu pasti juga berharap bakal ketemu Fillipe lagi. Iya, kan?”

Yang kusindir diam. Pura-pura nggak dengar. Huh, nggak seru!

Satu jam, lebih tak terlalu banyak, Erik menelepon lagi.

“Aku dapat mobilnya. Jam berapa kalian akan tiba?”

“Sebentar lagi aku akan berangkat dari sini,” jawabku. Aku puas mendengar Erik membuktikan bahwa dirinya memang dapat diandalkan. “Kalau sudah sampai Ubung, aku akan SMS. Setelah itu aku akan melanjutkan ke Batu Bulan, kamu jemput saja di situ. Kata Mas Dika perjalanan dari Ubung ke Batu Bulan tidak lama, sekitar setengah jam saja, kamu kira-kira saja sendiri jam berapa harus berangkat menjemputku.”

“Oke, dari tempatku ke Batu Bulan juga tak terlalu jauh.”

“Jika kita sukses menemukan Dimas, dengan bantuanmu ini, percayalah, Fandy akan ngefan padamu lagi.”

“Dia ada di situ?”

“Di sebelahku, barusan menjitakku.”

“Ya, kamu pantas mendapatkannya. Jangan suka mengolok pacar saudaramu. Kalau terjadi karma, kelak pacarmu bisa lebih jelek darinya. Atau… kamu tak akan pernah dapat pacar.”

Aku baru saja berpikir bahwa Erik adalah teman yang keren. Itu langsung berubah begitu mendengar dia ‘bersabda’ seperti tadi di telepon. Ternyata dia teman yang cerewet!

Jadi begitulah, kami harus meninggalkan Badung hari ini. Mas Dika memenuhi ucapannya yang menyatakan akan mengantar kami ke Ubung. Dia mengajak mampir sebentar di Nagari untuk mengecek tempat kerjanya itu. Kusempatkan untuk sekalian pamit ke Durus. Meski tak sempat mengenalnya lebih lama, aku tahu Si Gendut Jorok itu pernah menjadi teman dekat Dimas selama di sini.

“Hati-hati, ya, Bli. Kalau sudah ketemu Dimas, jangan lupa mampir lagi ke sini. Pesta-pesta dululah sama teman-teman di sini, sebelum pulang ke Jawa,” pesan Durus.

“Moga-moga masih ada waktu untuk itu,” balasku.

“Kami titip pamit untuk Maya,” Fandy tiba-tiba menyambung, “juga terima kasih padanya karena sudah membawakan laptop Dimas. Itu sangat membantu. Meskipun aku tak bisa baca isinya.”

Durus langsung tertawa. “Tiyang juga tidak dikasih waktu mau ikut baca!”

“Iya, seseorang telah memonopolinya,” sahut Si Unyu.

Kubiarkan Fandy dan Durus menyindirku. Anggap saja memberi kesempatan mereka untuk tertawa bahagia, sesekali saja. Tapi memang kurang ajar sekali Si Unyu itu, menyerobot kata pamit untuk Maya dariku!

Kami tak berlama-lama mampir di Nagari. Meninggalkan Nagari, kami langsung menuju ke terminal Ubung. Nggak sampai setengah jam perjalanan, kami sudah sampai di Terminal Ubung. Mas Dika menemani dan mencarikan kami angkot jurusan Batu Bulan. Kemudian, saatnya kami untuk berpisah. Kujabat tangannya. Kuucapkan lagi terima kasihku.

Dia berucap sebuah pesan panjang di ambang perpisahan.

“Dalam sebuah hubungan, sering kita dengar tentang ‘orang ketiga’. Biasanya ialah yang membuat semua menjadi kacau. Tapi kamu tidak. Kamu, adalah ‘orang ketiga’ yang mempersatukan,” ujarnya, menepuk-nepuk bahuku. “Aku tak pernah membayangkan ada cerita seperti yang kalian lakukan ini. Semoga kalian terus saling menjaga.”

Aku menggeleng. “Bukan cuma aku, Mas. ‘Orang ketiga’ itu nggak cuma satu. Teman-teman kami lainnya juga melakukan yang terbaik. Termasuk Mas Dika dan Mas Awan.”

Mas Dika tersenyum.

Fandy turut berucap, “Matur suksma, Mas. Titip salam untuk Mas Awan, karena kami tak tahu apakah nanti akan sempat bertemu dengannya lagi. Yang awet ya, Mas!”

Mas Dika tertawa mendengar pesan perpisahan dari Fandy. Cieee, yang sama-sama suka cowok…. Ahahaha!

Perpisahan yang baik menyisakan kesedihan, karena hal-hal baik memang pantas dirindukan. Fandy masih termangu memandang ke luar jendela, dan kurasa dia belum akan menarik pandangannya sebelum sosok Mas Dika hilang dari pandangan. Aku, cukup dengan lima detik terakhir saja sebelum sosok itu hilang tertelan ramainya terminal. Aku bukannya tidak berat hati, hanya saja ungkapan sentimentil tiap orang tidak sama.

Yang terbayang di benakku justru sedikit kekecewaan yang lain, yaitu tak hadirnya Maya di perpisahan ini. Tiba-tiba saja aku terbayang tentangnya, sosok unik itu. Apakah aku akan melihat gadis bergelung itu lagi kelak, gadis yang bahkan sempat menggoyahkan perasaan Dimas? Oh akhirnya, aku setuju untuk mengamini bahwa dia memang gadis paling menarik yang pernah kukenal. Menarik karena aku tak sempat mengenalnya lebih lama. Inilah perpisahan, hal-hal baik akan dirindukan, dan yang tak sempat kita nikmati lebih lama akan kita sesali. Semoga aku sempat melihatnya lagi, suatu saat nanti.

Tak sampai sejam perjalanan, jam sebelas lewat lima menit kami sudah tiba di Terminal Batu Bulan. Terminal satu ini memelintir bayanganku tentang tempat perhentian bus yang seharusnya ramai. Ibarat manusia, Terminal Batu Bulan terlihat seperti orang sekarat. Kendaraan umum cuma terlihat beberapa gelintir, mangkal di atas jalan penuh sampah. Sisanya adalah kios-kios dekil dan papan nama soak. Sepi. Wajar kalau Erik mudah menemukan kami. Begitu aku dan Fandy turun dari angkot, Erik langsung menghampiri.

Aku berbasa-basi memujinya, “Jeli banget, bisa langsung ketemu?”

“Baca SMS-mu bahwa kalian naik angkot ke Batu Bulan, so, tinggal menunggu di titik kedatangan,” sahutnya. Kami bersalaman. Kemudian dia langsung membawa kami menuju ke mobil.

“Nggak kesulitan carter mobilnya?” tanyaku.

“Nggak. Temanku kenal dengan pemilik rental, jadi lancar,” jawabnya. Prediksi Fandy tepat!

“Biaya rental aku sama Fandy yang akan patungan, tapi kamu yang nyetir, ya!”

“Oke.”

“Nggak ganggu jadwal piknikmu, kan?” Fandy menimpal agak nyinyir.

Erik cuma tersenyum kecut. Jelaslah jadwalnya terganggu! Dasar unyu-unyu sentimen!

Armada kami adalah sebuah mobil APV warna biru. Aku duduk di depan, di sebelah Erik. Si Unyu sendirian di belakang. Kami meluncur!

“Bagaimana kabar kalian selama kita berpisah? Dapat petunjuk apa saja tentang Dimas?” Erik bertanya.

“Seru, menyebalkan, penuh kejutan! Semua bercampur,” sahutku, tanpa menjelaskan banyak-banyak. “Kamu gimana? Enjoy?”

“Belum sempat ke banyak tempat, tapi asyik, sih. Dapat banyak kenalan.”

“Kalau menurut jadwal, seharusnya hari ini kamu ke mana?” pancingku. Setidaknya tata kalimatku ini lebih simpatik daripada yang tadi ditanyakan Fandy.

Kulihat Erik nyengir. “Hari ini temanku mau menunjukkan pantai yang, katanya, banyak bule telanjang.”

“Woowww!” aku berseru. “Di mana itu?”

Dia menggeleng. “Temanku nggak mau kasih tahu nama pantainya. Katanya itu pantai rahasia, belum banyak yang tahu. Sengaja tak diberitahukan namanya, untuk menjaga biar pantai itu tetap ‘rahasia’. Karena kalau terbongkar, lalu sembarang orang membanjir ke sana, yang mau telanjang jadi pikir-pikir, dan… akhirnya nggak ada lagi yang telanjang di sana.”

“Ooo…. Dan kamu menyesal nggak jadi ke sana?” cibirku.

Dia terawa. “Nggak juga. Sebenarnya aku belum jawab ‘ya’ untuk ke sana, soalnya… untuk masuk ke pantai itu setiap pengunjung harus telanjang. Nggak boleh ada yang masih berpakaian. Itu masalahnya. Kamu tertarik?”

“Amit-amit. Kalau mesti telanjang berjamaah, mending aku ngintip aja. Nggak ikut-ikut!” tukasku.

“Kamu mau, Fan?” Erik coba-coba mencandai pacar Dimas yang duduk di belakang.

“Menjijikkan!”

Aku dan Erik kompak tertawa mendapat respon Fandy yang sewot.

“Dia bocah yang penuh harga diri,” timpalku ke Erik, menyindir ‘makhluk astral’ yang duduk di belakang kami. “Setiap auratnya hanya boleh dilihat oleh Dimas, dan begitu pula sebaliknya.”

“Wow, bagus kalau begitu!” seloroh Erik. Kami berdua tertawa lagi. Yang di belakang cuma diam, kulihat dari spy glass mukanya cemberut.

“Pantai itu mungkin cocok untuk adikmu, Rik,” aku berceletuk lagi.

Kali ini Erik yang cemberut. Gantian aku dan Fandy cekikikan.

Kuganti topik. “Gimana kabar Cecile?” tanyaku, sekadar menyempatkan perhatian untuk cewek bule yang pernah satu ‘team’ dengan kami.

“Hari ini dia dan pacarnya ke Nusa Dua, berburu pantai di sana. Mereka bergabung dengan teman kami yang lain, dari komunitas yang sama juga.”

“Nggak ke ‘Pantai Telanjang’ itu?”

“Tidak. Cecile nggak mau. Dia mengaku nggak comfortable dengan suasana yang penuh orang telanjang. Begitulah, nggak semua bule itu doyan telanjang.”

Aku tercenung sesaat, mengingat Cecile, cewek bule yang pipinya seperti pantat bayi itu. Dia cewek yang ramah dan menyenangkan. Sayang, pacarnya kampret! Apakah Cecile tahu? Semoga saja suatu saat tahu, agar dia bisa cari cowok yang lebih baik dari si Fillipe itu.

“Jadi, kita mau ke Ubud tepatnya di mana?” Erik mulai fokus membicarakan pencarian kami.

Petunjuk alamat rumah Mas Angga kutulis di secarik kertas. Kuambil plester dari perbekalanku, untuk menempelkan kertas itu di depan Erik agar dia mudah membacanya sembari menyetir.

“Aku mengira kamu bakal ngajak teman buat memandu jalan, secara kita bertiga sama-sama bukan orang sini. Kamu yakin bisa menemukan alamat itu, Rik?”

“Kalau aku ngajak teman, aku kuatir dia akan tanya kita semua lagi cari siapa dan kenapa. Aku ngerti ini soal keluarga, pasti jadi nggak enak kalau orang lain mesti tahu. Ya, kan? Lebih baik kita cari bertiga saja. Kemarin aku baru dari Ubud juga, kok, muter-muter dengan motor. Jadi masih cukup ingat jalannya. Penunjuk jalannya juga ada.”

“Oke. Thanks,” ucapku, menghargai sikap pengertiannya. “Tapi jika nanti kita harus mencari sampai Karangasem, kamu yakin tahu jalannya?”

“Aku punya peta. Jalur utamanya jelas, kok.”

“Tapi kita tetap harus siap dengan jalur lainnya, yang mungkin saja nggak tercantum di peta.”

“Kita punya peta, punya mulut dan telinga. Kita andalkan apa saja yang kita punya!”

Hmmm, oke, aku suka dengan sikap optimisnya. Aktivis Pramuka, sih, mencari jejak adalah tantangan yang sudah biasa baginya. Cuma, dia juga harus tahu bahwa ini bukan di bumi perkemahan, bukan di hutan wisata yang biasa dipakai untuk mencari jejak anak-anak Pramuka. Bali adalah tempat yang memungkinkan kami untuk tersesat. Aku sudah mendapat pelajaran tentang itu semalam.

“Sebetulnya, Dimas bisa berada di mana saja, berpindah dari ‘tempat tak terduga’ yang satu ke ‘tempat tak terduga’ lainnya,” gumamku sedikit cemas. “Siapa yang sangka dia naik Gunung Batur, ke Pura Lempuyang…”

“Oh iya, bagaimana kalian bisa tahu dia berada di Pura Lempuyang?” Erik memotong.

Suaraku tertahan. Bingung, harus menjelaskan yang sebenarnya atau tidak?

“Yang duduk di belakang kita ini adalah cenayang!” cetusku, akhirnya memilih to the point.

“Hah? Maksudnya?” Erik terbengong.

“Ya, anak yang selama ini kita kenal pemalu, sensitif, baik-baik, dan suka sesama jenis… ternyata dia bisa melihat sesuatu yang tak bisa kita lihat. Dia belum pernah ke Lempuyang, tapi dia bisa bermimpi sangat detail bahwa Dimas ada di pura itu. Mas Dika yang kenal seluk-beluk Bali sudah confirm, bahwa tempat yang ada di mimpi Fandy itu Pura Lempuyang.”

Erik ternganga mendengarku. “Itu… serius?” cekatnya, tersenyum tak percaya.

“Aku sendiri sulit mempercayainya. Tapi untuk apa Mas Dika meyakinkan sebuah omong kosong?” tukasku, sambil berkaca ke spion merapikan rambut spike-ku. “Ini baru sebagian yang kamu dengar, Rik. Masih ada cerita lainnya yang bisa membuat rambutmu jadi jabrik lagi. Tapi lain kali saja.”

“Umm… wow…, sepertinya hari-hari kalian berdua lebih seru dariku? Fan, kamu nggak komentar?”

“Tak perlu. Aku sudah cukup tereksploitasi,” Si Unyu menjawab Erik.

“Nah!” Erik menegakkan jarinya ke atas, lalu berubah arah menjadi ke mukaku. “Kubilang juga apa, caramu bicara tentang Fandy terlalu mengeksploitasi, Den. That’s not good. Kejam!”

“Cieee…! Mantan gebetan Dimas membela pacar Dimas! So sweet…!” Aku tertawa geli. Ngakak. Lalu membalas, “Dengar, ya, kalau mau jadi orang yang kusayangi maka juga harus mau kuzalimi. Cuma aku yang boleh menzalimi orang yang kusayangi. Aku boleh bully Fandy. Tapi kalau kamu juga bully dia, kamu akan berhadapan denganku!”

Mereka pun diam.

Well…,” Erik yang pertama bersuara setelah hening setengah menit, “itu bukan sikap penyayang. Itu egosentris.”

“Dia memang sinting!” Fandy ikut menyahut.

Aku tertawa lagi, makin puas. “Lihat, bagaimana aku telah menyatukan kalian!” tukasku.

Tak terasa, kami sudah masuk daerah Ubud. Kupastikan itu berdasarkan tulisan-tulisan yang kubaca pada toko ataupun kantor yang kami lalui. Jalanan hanya selebar jalan kampung, tapi ramainya seperti jalan raya. Toko souvenir, kafe, museum, juga hotel, tampil berselingan di kedua sisi jalan. Turis-turis, hampir dari semua jenis warna kulit, berseliweran dengan cueknya seperti sedang bermain di kampung mereka sendiri. Crowded!

“Inilah desa Ubud yang terkenal itu?” ceplosku, antara menegaskan dan mempertanyakan. Tercengang!

Mobil menepi dan berhenti, tepat di samping sebuah bengkel kecil. Erik mencabut kertas yang kutempel tadi, lalu turun keluar. “Tunggu sebentar!” katanya sambil menutup pintu dari luar.

Ini bukan mau memperbaiki mobil. Erik menghampiri salah satu orang yang ada di bengkel itu untuk bertanya. Orang bengkel itu membaca sekilas isi kertas yang disodorkan Erik, lalu mulai mununjuk sebuah arah sambil menjelaskan sesuatu.

“Kita dapat petunjuk,” gumamku sambil mengamati dari dalam mobil.

Tak lama kemudian Erik sudah masuk mobil lagi. “Nggak jauh lagi, kok,” cetusnya sambil menyalakan mobil.

“Petunjuknya jelas?” tanyaku.

“Jelas sekali. Sekitar setengah kilometer lagi. Sebelum pasar, belok kanan. Di situ Jalan Sriwedari.”

Aku berdecak puas, berterus terang memuji Erik. “Kemampuanmu memang bisa diandalkan. Cowok unyu di belakang itu yang merekomendasikan dirimu. Pilihannya ternyata tepat sekali. Aku mulai gemas padanya.”

Erik tertawa geli mendengar omonganku. Sedangkan Si Unyu di belakang itu, paling-paling dia sedang cemberut sok cuek (tapi siapa tahu hatinya sedang berbunga-bunga).

Aku sedang mau menenggak air ketika tiba-tiba… ccctttttt…! Mobil direm mendadak dan menumpahkan botol minumku. Basah ria bajuku!

“Annnjj…,” spontan aku mau mengumpat, tapi Erik memotong dengan cepat.

“Eit, ssstt…!” dia menempelkan telunjuk di bibir.

Kami termangu menatap anjing gemuk yang menyeberang dengan enaknya. Anjing itu melenggang sambil menoleh ke kami, melebarkan mulutnya dengan lidah menjulur. Sepertinya binatang itu sedang menertawai kami.

“Mau mengumpat ‘anjing’? Itu memang anjing,” celetuk Erik santai.

Kudengar yang di belakang tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian sopir di sebelahku juga menahan tawa, sambil menjalankan mobil lagi. Oke, sekarang biar mereka yang tertawa. Impas!

Ketika tiba di sebuah pasar, Erik turun lagi. Dia butuh bertanya lagi untuk memastikan petunjuk sebelumnya. Dia benar-benar manusia yang sangat aktif dan enerjik, seperti balita di iklan susu, atau remaja di iklan biskuit sehat.

“Lihat, anak itu bersemangat sekali,” gumamku.

“Ya, makanya Dimas suka sama dia,” Fandy menyahutku dengan kalimat sinis. Padahal kali ini aku nggak ada maksud mau meledeknya, suer!

Dari dalam mobil kuamati, Erik tampak sedang menyimak seorang pedagang nasi yang dia tanyai. Sebentar saja dia sudah kembali ke mobil. Perjalanan dilanjutkan lagi. Mobil memutar untuk menuju ke sebuah belokan.

“Ini betul Jalan Sriwedari. Pantau sebelah kiri, alamat itu ada di kiri jalan!” Erik memberi instruksi setelah mobil mengambil belokan.

Mobil melaju lebih lambat, menelusuri jalan yang lebih sempit. Suasana perkampungan lebih tampak di jalan ini. Ada kedai-kedai souvenir, tapi tak terlalu banyak. Aku bisa melihat deretan rumah penduduk yang ‘masih Bali’. Tembok-tembok berbata merah sambung-menyambung dengan rapi. Rumah-rumah ada di balik tembok itu, cuma terlihat atapnya. Pohon-pohon kamboja tertanam rapi, sebagian di luar, sebagian menyembul di balik tembok. Jalanan juga tidak ramai. Beberapa penduduk tampak di tepi jalan, sebagian melintas, sebagian duduk-duduk mengobrol. Beberapa berpakaian tradisional. Ini baru cocok dinamai kampung, atau desa.

Kubaca sebuah papan nama yang cukup besar di salah satu tembok, di kiri jalan:

“Pager Wangi”

Musik Bambu & Cinderamata

(Bamboo Music & Handycraft)

 

“Stop!” seruku. “Kayaknya ini, Rik?”

Mobil berhenti. Erik ikut melongok ke sebelah kiri. “Oke, kita periksa saja,” sahutnya.

Mobil lebih dirapatkan ke tepi. Lalu kami bertiga turun dari mobil. Kuamati lagi papan nama di tembok. Aku yakin memang inilah alamat teman Dimas itu. Aku meniti tangga kecil yang menghubungkan ke pintu gerbang. Pintu kayu yang amat kokoh, dengan gelang besi yang antik, tertutup rapat. Hatiku berdebar, terbayang di benakku jika kuketuk pintu ini, maka akan kulihat orang yang selama ini kucari: Dimas… membukakan pintu, dan pencarian berakhir di sini….

“Kenapa? Ketuk aja,” Erik membisik.

Aku masih ragu, menggenggam gelang antik pelan-pelan. Kuangkat, berhenti mengambang beberapa saat. Kuketukkan. Dok, dok, dok… lambat, ritmis. Semenit menunggu, belum ada yang membuka. Kuulangi lagi, kali ini lebih keras. Semenit menunggu lagi. Tetap tak ada yang membukakan pintu.

“Jangan-jangan orangnya masih pergi? Belum pulang?” gumamku, mengingat catatan Dimas bahwa mereka ada show di Karangasem.

Kupandangi kedua temanku. Mereka juga bengong, tak terlihat punya solusi. Kucoba sekali lagi mengetuk pintu. Lebih keras lagi. Pintu tetap tak dibukakan. Yang ada malah suara menyahut di belakang. Aku menoleh, melihat seorang perempuan tua berkebaya menyapa kami dalam bahasa Bali.

“Kami mau bertamu, tapi…,” Erik melayani sapaan ibu tua itu, dan cepat-cepat kusambung,

“Kami mencari Mas Angga, apakah kelihatannya ada di rumah…, Bu?”

“Angga?” ibu tua itu mengulang, kemudian, “Coba dengan bel, Gus, ada di samping pemesuan itu.”

Aku kurang paham. “Di mana?”

“Samping pemesuan itu,” ibu tua menunjuk. “Samping gerbang itu!”

Aku baru paham. Jadi ternyata ada bel. Kutemukan benda mungil itu di samping bagian luar, agak tersembunyi. Kutekan tiga kali.

Matur suksma, Nek,” Erik mengucap.

Ibu tua itu mengangguk dan langsung berlalu.

“Kenapa harus diletakkan di tempat yang nggak kelihatan?” aku menggerutu sendiri.

“Lihatlah, ini gerbang yang antik, artistik. Menaruh bel listrik di tempat yang kelihatan, akan mengurangi cita rasa bangunan ini. Tampilan kunonya jadi berkurang,” Fandy mengoceh, menanggapiku.

Akhirnya, seseorang membuka pintu, dan sedikit mengagetkanku. Seorang pria kurus bersarung, dengan jenggot dikuncir, muncul di hadapan kami. Dia memandangiku agak terperangah.

Aku masih ingat seperti apa yang ditulis Dimas tentang kawannya itu: pria dengan jenggot berkuncir. Aku pun permisi sekaligus langsung menebak sosok di depanku, “Maaf, betul ini dengan Mas Angga?”

Bli…?” dia menunjukku, juga terlihat mau menebak.

“Saya saudaranya Dimas. Saya Denis, dari Solo,” kusebut jati diriku sebelum dia menebak.

“Oh!” dia tampak kian terperangah. “Ya, ya, saya Angga. Mari masuk!”

Kami bertiga masuk begitu dipersilakan. Kami melewati pekarangan berupa halaman tanah tanpa rumput, dihiasi banyak tanaman bunga. Udara terhirup wangi, entah berasal dari bunga-bunga itu ataukah aroma dupa, aku sulit membedakannya. Ada dua bale besar yang dibangun di pekarangan, salah satunya berisi seperangkat gamelan (dari bambu, kelihatan secara sekilas). Pada salah satu sudut juga kulihat bangunan tempat menaruh sesaji, seperti yang kulihat di rumah Mas Awan, dan sekarang aku yakin bahwa aroma wangi yang kuhirup sebagian berasal dari dupa di tempat sesaji itu. Sebuah area rumah pribadi yang betul-betul luas, dan corak Bali-nya begitu kental. Indah, tapi juga terasa mistis!

“Dimas pernah bercerita tentang saudaranya, tentang Bli. Tapi saya tak menyangka Bli juga datang kemari,” Mas Angga berujar ramah-tamah, sembari membawa kami ke rumah utamanya. Kami dipersilakan duduk di teras, atau boleh disebut sebagai ruang tamu terbuka.

“Kami kemari memang mau mencarinya. Apakah dia masih di sini, Mas?” sahutku, tak banyak basa-basi. Tapi Mas Angga tak langsung menjawab, dia malah pamit masuk ke dalam rumahnya.

Aku, Erik, Fandy, bertiga terdiam. Duduk berbagi keheningan. Aku tak tahu perasaan dua temanku, tapi untuk diriku sendiri aku merasa tegang oleh detik-detik ini. Degup jantungku seperti terdengar sampai otakku, mengusik benakku dengan bayangan Dimas yang akan muncul dari dalam rumah, lalu… apa yang akan terjadi jika itu benar? Tanganku mengepal-ngepal, tapi kemudian lunglai lagi, lalu berganti meremas-remas tangkai kursi…. Aku tak pernah segelisah ini! Deg-degan sangat tak karuan.

“Di sinilah Dimas tinggal setelah dia meninggalkan Badung. Tapi sekitar seminggu yang lalu dia pergi lagi. Sempat menitipkan laptopnya ke temannya di Bangli. Maya. Entah pada hari apa, di minggu ini, dia dan Mas Angga melakukan show di Karangasem. Di Amlapura, kalau tak salah. Sekarang Mas Angga sudah di sini, itu berarti…”

“Dimas juga sudah di sini?” Erik menyambung ceritaku dengan dugaannya.

Aku tak bisa menjawab. Tak jadi mengambil kesimpulan. Memilih untuk menunggu dan menemukan jawaban pastinya beberapa menit lagi, dari jawaban Mas Angga… atau dari kemunculan Dimas sendiri….

“Dimas tidak di sini lagi,” tiba-tiba Fandy menyahut.

Kali ini, Fandy membuatku kembali merinding. Pandangannya tampak terpaku jauh ke arah lain. Lagi-lagi, dia seperti sedang melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain. Mungkin makhluk-makhluk astral di sekitar rumah ini. Atau, lebih jauh dari itu… sesuatu yang membuatnya bisa berucap bahwa Dimas tak di sini.

“Aku percaya pada mimpiku. Dia masih di tempat itu,” gumamnya.

“Maksudnya?” Erik tampak tak paham, menoleh padaku untuk meminta penjelasan.

Aku menggeleng. Pilih tak berkomentar. Bakat yang menakutkan!

Mas Angga kembali dari dalam rumahnya. Yang turut serta bersamanya hanyalah baki berisi teko dan gelas, dan sepiring camilan. Raut mukanya cerah menyambut kami. Tapi kurasa dugaan Fandy benar, Mas Angga hanya akan memberikan keterangan bahwa Dimas sudah tak di sini. Sebab aku tak melihat Dimas muncul bersamanya.

“Dimas memang pernah di sini,” ucapnya, menyampaikan jawaban yang telah kutunggu sejak tadi. Pertanda kian jelas: Dimas tak ada di sini.

Tegangku pun memupus. Berubah lesu.

“Sekarang?”

“Dia sudah pamit. Saat ini dia di Karangasem,” Mas Angga menjawab.

Sendi-sendiku lemas, meskipun seharusnya aku tak perlu terkejut lagi. Petunjuk yang telah disampaikan Fandy secara tak rasional sepertinya memang harus mulai kupercaya, sepenuhnya.

“Dia ke Pura Lempuyang?” aku menebak lugas.

Mas Angga mengerutkan dahi, menunjukkan senyum kagetnya. “Oh, Bli sudah tahu?”

“Dia menitipkan laptopnya ke salah satu teman kami. Dia menulis beberapa catatan di situ, menulis beberapa petunjuk dia akan pergi ke mana saja. Itu yang kami ikuti. Kami tahu dia berada di rumah Mas Angga juga berdasarkan catatannya,” jelasku. (Meski soal Pura Lempuyang tak pernah disinggung Dimas di diary-nya.)

Mas Angga tampak mencerna beberapa saat. “Lho, sepertinya… apa dia tidak pamit ke keluarga?” tanyanya kemudian.

Aku berpandan-pandangan, bergantian dengan Erik dan Fandy. Raut mereka memberi isyarat bahwa keputusan ada di tanganku. Sebab rupanya Mas Angga tak pernah menerima cerita dari Dimas tentang kepergiannya dari rumah. Seharusnya aku juga tak perlu terkejut, sebab cukup wajar jika Dimas menutupi hal itu dari Mas Angga. Hanya saja, sekarang akulah yang harus repot memutuskan: menceritakannya, atau tetap merahasiakannya?

“Dia tidak pamit, Mas,” jawabku, memilih membuka sebagian fakta. “Dia pergi tanpa pamit. Sudah bulanan dia pergi. Kami mencarinya sampai kemari setelah susah-payah mengumpulkan informasi dari teman-temannya. Keluarga mengutus saya untuk mencari dan mengajaknya pulang.”

Mas Angga mengusap-usap kuncirnya, dengan dahi makin berkerut. Tapi kuakui dia murah senyum, dalam mimik serius seperti itu bibirnya tetap melebar ke samping. Dia berdehem beberapa kali sebelum memberikan penjelasannya. “Dia hanya bercerita bahwa dia bertualang untuk mencari pengalaman,” ucapnya landai. “Saya pernah bertanya tentang keluarganya di rumah. Dia berkata bahwa keluarganya tahu dia pergi. Saya tak bertanya lebih jauh, karena saya pikir sepertinya soal keluarga sangat privat baginya.” Pandangan Mas Angga berubah lebih menyelidik padaku. “Sepertinya ada masalah yang sangat serius?”

Aku mengangguk pelan. “Tapi maaf, Mas, bagi kami ini memang terlalu intern untuk diceritakan. Yang pasti, keluarganya ingin dia pulang. Bahkan teman-temannya pun ikut mencari sampai kemari,” jelasku, merujuk ke Erik dan Fandy untuk menandaskan kesungguhan pencarian ini.

Mas Angga mengangguk-angguk. Tapi tak berkata apa-apa. Mimiknya mulai terlihat ikut resah.

“Dia menulis di catatannya, dia meminjam motor Mas Angga selama pergi?” singgungku mencari klarifikasi.

“Betul. Tapi ketika kami bertemu di Amlapura, dia menyerahkan motor itu untuk saya bawa pulang. Karena dia sendiri masih ingin agak lama di sana, begitu katanya. Motor saya sudah di sini, saya bawa pulang dua hari lalu. Saya sendiri tak bisa memastikan apakah dia akan kembali lagi kemari.”

“Apakah dia memberi tahu akan pergi ke mana saja setelah itu?”

“Salah satunya ke Lempuyang, begitu katanya, seperti yang sudah Bli ketahui. Kalau Bli mau menyusulnya ke sana, coba saja temui Komang.”

“Komang?”

“Kawan saya satu rombongan, dia tidak ikut pulang ke Ubud karena mau istirahat di rumahnya yang ada di Candidasa. Yang saya dengar, dia yang menawari Dimas untuk menginap di rumahnya. Kalau rencana tidak berubah, mungkin Dimas masih ada di sana.”

“Candidasa? Pantai Candidasa?” Erik mengklarifikasi.

“Betul, masih di wilayah Karangasem. Rumahnya tidak jauh dari situ.”

“Saya bisa minta bantuannya, Mas, untuk menghubungi teman Mas itu, menanyakan apakah Dimas masih ada di sana?” pintaku.

Mas Angga tak berpikir lama-lama. Dia tak keberatan dengan permintaanku. Dia langsung mengeluarkan HP-nya, dan melakukan panggilan. Aku menunggu dengan berdebar-debar. Fandy juga kelihatan tegang. Tapi Erik tampak antusias.

Tak lama kemudian Mas Angga telah bercakap-cakap dengan seseorang lewat HP-nya. Berbahasa Bali, aku tak bisa mengurainya. Cuma bisa menunggu percakapan itu selesai dan mendengar penjelasan dari Mas Angga. Tak sampai lima menit percakapannya itu.

Bli,” Mas Angga berkata sedikit menebal padaku setelah pembicaraannya di HP selesai, “Dimas benar menginap di rumah Komang. Saya akan beri alamat jelasnya supaya Bli bisa ke sana.”

Debur jantungku terasa menendang keras, tapi kemudian menebarkan rasa yang melegakan sekali.

“Baik, Mas, terima kasih banyak atas bantuannya. Kami akan secepatnya ke sana,” ucapku antusias.

“Kata Komang, Dimas jadi pergi ke Lempuyang. Tapi…,” Mas Angga menyambung, rautnya berubah cemas, dan nada berubah lesu, “sampai sekarang dia belum kembali. Dia pergi sejak kemarin pagi. Sebagian barangnya masih dititipkan di rumah Komang.”

Aku terhenyak. Perasaan legaku menyusut. “Apakah itu wajar…? Maksud saya, mungkin jika jarak ke pura itu memang cukup jauh, maka wajar kalau Dimas belum pulang?”

“Dari Candidasa memang cukup jauh, Bli. Bisa saja Dimas menginap di sekitar Lempuyang. Tapi, yang saya kuatirkan bukan itu….”

“Lantas?”

Kali ini Mas Angga benar-benar tampak serius, tanpa senyum. “Bagi kami, Umat Hindu Bali, setiap pura adalah tempat sakral. Saya ingin memberi tahu Bli. Pura Lempuyang Luhur tergolong dalam Sad Kahyangan Jagad, enam pura utama sendi Pulau Bali sejak jaman kuno. Juga tergolong dalam Pura Kahyangan Padma Buwana sekaligus Catur Lokapala, artinya: tempat suci menurut formasi empat dan sembilan mata angin. Pura Lempuyang menduduki arah timur, titik matahari terbit, artinya simbol kelahiran dan pencerahan. Karena itu, tidak diperkenankan siapapun ke sana membawa hati yang sedang peteng, gelap, membawa beban masalah… termasuk masalah keluarga….”

Kami bertiga hening mendengar tutur Mas Angga. Bahkan, aku merinding seperti ketika mendengar cerita Fandy tentang mimpinya. Guys, sesuatu yang di luar rasio tak selalu harus dianggap bodoh atau takhayul. Jika kau percaya Tuhan, maka kau tak bisa berkata bahwa kau hanya mengakui hal-hal yang rasional saja. Aku benci ini, tapi juga tak bisa mengingkarinya.

Di antara kami bertiga, ada satu yang peka terhadap hal-hal di luar rasio, melebihi yang lainnya.

“Apa lagi yang tak boleh dilanggar?” Fandy membuka suara, melontarkan pertanyaan yang dapat membuat kekuatiran kami makin dalam.

“Tak boleh berucap kasar dan kotor selama proses perjalanan ke sana.”

Satu ingatan langsung mengapung di benakku: di perjalanan tadi aku sempat mengumpat, ketika seekor anjing membuat air minumku tumpah.

“Ada lagi?”

“Tidak berbuat asusila. Tidak boleh melakukan hal-hal yang berhubungan dengan orang meninggal….”

“Maksudnya?”

Mas Angga berdehem. “Habis melayat, atau habis dari makam. Segala sesuatu yang ada hubungannya dengan setra ataupun tempat angker.”

Bulu kudukku meremang, mengingat kejadian semalam: kami kesasar di setra Pemuputan, dan mengalami gangguan roh halus di tempat itu. Baru semalam!

Tiba-tiba aku merasakan alasan-alasan bermunculan, seolah ingin mencegah langkahku untuk melanjutkan pencarian ini. Semua tak rasional. Tapi… bagaimana aku bisa menyangkal kejadian yang kualami sendiri? Aku bukan takut. Aku hanya kesal tiap kali berhadapan dengan sesuatu yang di luar akal seperti ini. Sebab jika sesuatu telah berada di luar akal, maka akalmu tak berguna lagi. Apa yang bisa kau lakukan?

Kuberanikan diri mengulik, “Konsekuensi apa yang akan terjadi jika pantangan itu dilanggar?”

“Sebetulnya, jika Bli bukan penganut Hindu, maka saya tak bisa memaksakan soal kepercayaan ini kepada Bli bertiga. Ini hanya supaya Bli tahu saja,” balas Mas Angga tampak sungkan, seperti mencoba menghindari pertanyaanku.

“Apa yang akan terjadi kalau itu dilanggar, Mas?” Fandy mengulang pertanyaanku.

Mas Angga menghela napas panjang. Lalu berkata pelan-pelan, “Bli, ini sudah kerap terjadi. Yang melanggarnya… ada yang tak bisa pulang lagi.”

Wajahku terasa memberat. Jantungku berdesir miris. Kulihat Erik kurang lebih sama, terpana dan membisu.

“Andai saya tahu dia punya masalah yang ditinggalkan di rumah, saya pasti sudah mencegahnya pergi ke sana. Ini menyangkut sesuatu yang sakral bagi kami. Ini bisa menjadi soal nyawa, Bli….”

Seserius itu?

Di saat kata-kata Mas Angga makin dingin dan mengusik nyali kami, hanya Fandy yang terlihat kuat. Mengucapkan kalimat yang terdengar di atas akal:

“Jika itu benar, bahwa ini bisa menyangkut nyawa, maka ini menjadi soal takdir.”

“Jika Bli bisa berkata bahwa ini soal takdir, maka sebaiknya tidak menantangnya, Bli.”

Fandy tersenyum simpul. Matanya mengawang jauh lagi. Katanya, “Kami tak menantang takdir. Kami hanya ingin mengungkapnya.”

Mas Angga menatap Fandy baik-baik. “Saran saya, kalian tunggulah di rumah Komang. Jika Dimas memang baik-baik saja, dia pasti akan kembali ke sana.”

Fandy menjawab, “Tapi jika dia tidak baik-baik saja, maka kami tak mau menjadi orang-orang yang hanya menunggu berita buruk darinya. Dalam keadaan baik ataupun buruk, kami ingin menemukannya. Hanya itu yang akan meyakinkannya untuk pulang.”

Di samping segala kecemasanku, tiba-tiba muncul rasa kagumku pada pacar Dimas. Lihat, betapa dialah yang paling teguh di saat kami semua dilanda kecemasan. Aku… merasa malu.

“Lagipula, kami sudah dari tempat yang satu ke tempat lainnya, Mas,” sambungku, turut membangun keyakinanku. “Dari teman yang satu, ke teman yang lain, kami selalu mencari petunjuk. Petunjuk yang satu menggiring ke petunjuk lainnya, seperti itu terus-menerus. Sekarang, jika petunjuk yang kian terang ini hanya untuk meminta kami menunggu lagi, terus terang saja… kami sudah kenyang menunggu. Selama ada jejak, kami akan mengikutinya, hingga kami menemukannya.”

Mas Angga terpekur beberapa waktu. Perlahan dia mulai tersenyum lagi. Bukan senyum yang ringan ataupun hangat, tetapi senyum yang melepas…, melepas kami menuju sesuatu yang akan menguji kesungguhan kami.

Bli juga saudaranya?” tanyanya kepada Fandy.

“Bukan.”

“Tapi… Bli sepertinya sangat dekat dengannya?”

Fandy tak menjawab. Hanya tersenyum.

Mas Angga seolah paham. Dia mengangguk pelan satu kali.

“Semoga kebaikan menyertai kalian.”

 
 
 
bersambung….
 
 
 
 

 

164 responses to “Karung 22

  1. noelapple

    28 Desember 2014 at 15:05

    Terima kasih sudah membaca.🙂

     
    • lyla

      11 Desember 2015 at 20:11

      satu tahun nunggu kelanjutan cerita ini….😦

       
  2. ipin

    28 Desember 2014 at 15:15

    cetar bgt mas ceritanya

     
  3. Lorenzo Alfredo

    28 Desember 2014 at 15:17

    Tinggal satu langkah lagi sebelum menemukan Dimas.
    Keep fighting Denis, Fandy, and Erik

     
  4. reenaldyrerealdy

    28 Desember 2014 at 15:30

    ciamik…🙂

     
  5. Leo

    28 Desember 2014 at 15:40

    Thx mas noel..
    karung 22 ini membuat kita semakin dekat dalam pencarian dimas. Luar biasa, 3 orang yg paling dekat dg dimas, orang2 yg sangat berarti bagi dimas akan mengambil resiko utk dimas. Karung 22 ini benar2 menguji kesetian teman, cinta kekasih dan rasa sayang saudara. 3 hal yg palibg berharga, saudara, kekasih , sahabat. Seandainya dimas tau ini, bahwa dia benar2 berarti, penderitaan yg ada pada batinnya sungguh lebih kecil dari cinta orang2 yg mencintainya.
    Hebat mas Noel.. tak sia2 sy nunggu karung 22 ini, kado natal istimewa dr mas Noel, sukses selalu, & n merry Crismas & happy new year for Mr. Noel, dimas, fandy, denis, n eric, mas dika n sahabat2 CRA.
    Nb: untung banget td erik gak bawa si filipe, aku gak suja sama sih filipe ganggu2 fandi wkwk, fandy just for dimas

     
    • noelapple

      28 Desember 2014 at 16:30

      Cemburu sama Fillipe?

       
      • Leo

        28 Desember 2014 at 16:53

        Ya… cemburu banget.. wkwkwk.
        tapi denis juga gak suka ya sama filipe… haha.
        gak tau mas noel, pas baca diarynya dimas aku tambah kesal sama filipe, memanfatin orang galau, semoga aja denis gak cerita sama dimas, kasian fandi, maksudku dg mencari dimas, meninggalkan ortu yg cemas n kecewa, melewati rintangan, menurutku fandi sdh membuktikan cintanya sama dimas, jangan sampe mereka pisah lagi, pliiiiiiis hehe

         
  6. we

    28 Desember 2014 at 17:12

    ini sebuah petunjuk antarra seru dan menyeramkan -.-

     
  7. andri

    28 Desember 2014 at 17:20

    cerita yang luar biasa, aq sampai merinding bacanya, keep spirit buat denis , erik , n fandy

     
  8. dian kusuma

    28 Desember 2014 at 19:43

    keren!!!!!!!!! saya mau bilang apa lagi coba kalo ceritanya keren begini!??!!

     
  9. zoro

    28 Desember 2014 at 20:30

    mas, oalaah
    mas noel anda bikin greget sekali,
    ampun dah, ngarep banget di chapter ini ketemu sama dimas,
    moga dimas baik” saja,
    lalu tak bisa komentar lebih banyak, karena masih greget(greget kesel) heheheh sama mas noel.

    menunggu lama terbitnya chapter ini, ternyata masih menggantung dan bikin saya penasaran banget.
    anda hebat bung bikin saya penasaran begitu lama hahahahaha
    matur suksma noel

     
  10. fahrul

    28 Desember 2014 at 20:34

    Keren karung yg ini, udh berhubungan sama yg mistis mistis
    Ngomong ngomong soal Denis mengetuk pintu rumah mas Angga, bunyinya “dok dok dok” berasa kaya digedor😀 tapi keren kok..

    Ditunggu ya bang karung berikut nya… jngan lama lama rilisnya..
    Terus berkarya…

     
  11. mukamurka

    28 Desember 2014 at 20:37

    “Kami tak menantang takdir. Kami hanya ingin mengungkapnya.”
    Noted
    Satu lagi kutipan keren (dan jleb) 8)

     
  12. anaknakalbdg

    28 Desember 2014 at 20:45

    Maa noel…. proud of u… !!!
    Apik bgt ceritanya…

     
  13. fahrul

    28 Desember 2014 at 20:57

    Ternyata hindu bali beda dengan hindu kaharingan , orang kaharingan gk terlalu bnyk tau tentang pura, mereka ibadah kaya dibalai gitu, tapi ada juga yg ibadah dipura langsung…

     
    • noelapple

      29 Desember 2014 at 10:21

      Beda, lah. Kaharingan adalah sinkretisme Hindu dengan agama asli Dayak. Hindu Bali adalah eksplorasi jenius dr masyarakat Bali sendiri.

       
      • fahrul

        29 Desember 2014 at 17:43

        Ohhhh gitu, aku mau tanya lagi bang… soal celuluk..

        Celuluk itu hantu atau gimana sih..

        Kukira celuluk itu… kalo kata orang Dayak itu Kuyang..
        Celuluk dengan kuyang itu sama gk sih?…

         
      • noelapple

        31 Desember 2014 at 12:42

        Celuluk adalah jenis makhluk gaib. Dalam khazanah kepercayaan Arab ia dapat disebut sbg salah satu jenis jin. Di Jawa, jenis yang dapat dibandingkan dengan Celuluk mungkin adl Genderuwo. Ia termasuk makhluk yg biasanya suka usil. Namun mungkin tak selalu begitu juga, mungkin ada juga yang tak usil; konon makhluk gaib/jin pada dasarnya memiliki variasi kepribadian layaknya manusia–ada yang baik dan ada pula yang jahat. Di Bali, Celuluk malah mulai diarahkan sebagai ikon makhluk gaib yang ‘lucu’, ‘gokil’, dsb. Itu untuk menutup sedikit demi sedikit ketakutan orang sana thd makhluk itu.

        Sedangkan Kuyang adalah semacam ilmu spiritual. Pelaku ilmu Kuyang dapat berubah menjadi makhluk menyeramkan–berwujud kepala melayang–di saat tertentu. Ilmu Kuyang dipercayai berkembang di daerah Sumatera dan Kalimantan, dan umumnya disebut sebagai ilmu hitam. Kuyang dapat dibandingkan dengan Leak. Leak adalah ilmu spiritual yang berkembang di Bali. Pelaku ilmu Leak dapat berubah ke dalam berbagai wujud, dari wujud binatang biasa hingga wujud astral yang spesifik (misalnya Rangda, Garuda Emas, Barong, dsb.)

        Bedanya dengan Kuyang, Leak sebetulnya tak melulu sebagai ilmu hitam. Leak adalah sebuah aliran kebatinan yang pada kondisi tertentu akan mengerahkan kekuatan supranaturalnya dengan sebuah tujuan. Orang yg pd dasarnya jahat akan memakainya untuk kejahatan, orang yang pada dasarnya baik dapat menggunakan ilmu Leak untuk menolong orang lain dan dirinya sendiri.

         
  14. astRA

    28 Desember 2014 at 21:24

    “.. Jangan suka mengolok pacar saudaramu. Kalau terjadi karma, kelak pacarmu bisa lebih jelek darinya. Atau… kamu tak akan pernah dapat pacar.”
    pada baris ini sepertinya Erik tidak hanya meluapkan simpatiknya terhadap Fandi tapi melibatkan perasaannya sendiri sebagai sepupu Misha😄

    “Matur suksma, Mas. Titip salam untuk Mas Awan, karena kami tak tahu apakah nanti akan sempat bertemu dengannya lagi. Yang awet ya, Mas!”
    Dengan latar ‘bakat dukun’ apakah ucapan Fandy ini punya tafsir khusus untuk karung selanjutnya.. hahahaa…

    nice story~
    Terimakasih untuk Karung 22-nya, tetep semangat berkarya..

     
    • noelapple

      29 Desember 2014 at 10:26

      Tafsir khusus? Fandy akan mati gitu?

       
      • astRA

        29 Desember 2014 at 16:46

        Wah maaf.. cuma iseng berfantasi aja,
        Bukan bermaksud mendahului..

        Mungkin akan terjadi sesuatu dgn Awan.
        Saya malah ga berfikir sama sekali Lovely ‘F’ mati secepat itu, hahahaa..

         
  15. daniel26

    28 Desember 2014 at 21:53

    gak bisa nahan lagi buat gak koment…😀 dah lama ngikutin cerita kak noel tp gak pernah koment maaf yah…
    gak tau kata apa yg pas buat kak noel, pokoknya love kak noel deh ;-):-)
    salam kenal kak…

     
  16. Granada

    28 Desember 2014 at 22:42

    Keren ‘n sangat detail serta luar biasa,bikin karya CRA ini yakin gk mudah so pastinya sampai ketemu mmmhmm mungkin akhir bulan tahun depan

     
  17. Robin

    29 Desember 2014 at 00:12

    Sebelumnya aku gak suka Bali karena mistis. setelah baca CRA ini mlah mrasa ikut ke Bali juga ingin libur ke Bali

     
  18. 루오루오

    29 Desember 2014 at 10:28

    Saya suka char fandy
    karena nama akhir saya juga Fandy.
    karena fandy juga punya kemahiran supranatural.
    tapi, ceritanya singkat lagi. saya harap lebih lagi panjang.🙂

     
    • noelapple

      29 Desember 2014 at 12:20

      bahasamu agak aneh.

       
      • Obi W. Despenta

        17 Maret 2015 at 09:03

        Hahah (^▽^), Obi juga geli bacanyah bang (^▽^)!

         
  19. kazekage

    29 Desember 2014 at 10:32

    Jangan diputus lah, itu lagi seru -_- .. Nanti nunggu nya takut lama lagi. Semoga bakal jadi petualangan betulan. Jgn lama2 mas pliiis mas. Bukannya maksud ga sopan, tp beneran ini lagi seru..
    Keren nih, semenjak erik masuk kecerita rasa ceritanya jadi beda. Serasa liburan seumuran yg penuh seneng2. Rasanya jadi petualangan real yang ga dibuat2.. Aku makin deg2an sama kelanjutannya. Aku pingin baca lagi .. -_-

     
  20. vincent

    29 Desember 2014 at 18:31

    Ceritanya sepertinya sudah mendekati tahap klimaks, dan pada karung ini dan sebelum terlihat gimana sesuatu yg logis dan taklogis bersatu & bikin mindblown *apasih lol

    Btw, semenjak erik dtg jadi berasa si erik itu sosok yg perfecto nih jajaja 😀

    Salam dari saya mas

     
  21. Vino

    29 Desember 2014 at 18:45

    sekarang udah mulai agak mistis ceritanya wkwkwk, jd penasaran mas Noel apa setiap bangunan pura memiliki penunggu astral nya? bukankah itu tempat ibadah suci kok ada penunggu astralnya? 😮

     
    • noelapple

      31 Desember 2014 at 12:28

      Kepercayaan manusia itu bervariasi. Ada yang mempercayai bahwa yang astral juga dapat menjadi bagian dari sesuatu yang suci. Dewa dan malaikat itu juga dapat disebut astral. Tuhan itu juga astral. Sejatinya kata ‘astral’ berarti bintang, atau dapat dikonotasikan sebagai ‘dunia langit’. Makhluk astral berarti makhluk yang berasal dari ‘dunia langit’, ‘dunia surgawi’, ‘kahyangan’, ataupun dunia yang tak kasat oleh mata manusia.

       
  22. Neko_ARM11

    29 Desember 2014 at 19:34

    Aaagghhh mas noel nyebelin ni –“. ak smpe gregetan . bruan dilanjut mas . udah gemes pgen baca lanjutanny.

     
    • Obi W. Despenta

      17 Maret 2015 at 09:06

      Lho (>_<), ga boleh sebel sama Bang Noel lho (^▽^), nanti kalo Bang Noel sebel sama kita, terus Bang Noel engga mau ngrilis Chapter 23 gimanaaaah (^▽^), kalo abang lagi jenuh nunggu, abang baca baca SKO Obi ajah (^▽^)

       
  23. ara

    29 Desember 2014 at 21:01

    Karung 22 done…..

    Aduhhhh makin d buat deg deg an dan harap” cemas mau ketemu Dimas ……
    Semoga Dimas baik” aja….

    Kenapa jadi ikutan stress gini mikirin Dimas,,,, *sigh

     
  24. cino

    29 Desember 2014 at 21:52

    penantian lagi untuk saya,denis,fandy dan erik

     
  25. Kxxichi

    29 Desember 2014 at 22:52

    Wow!! Aku gatau harus bilang apa mas, beneran. Udah gregetan banget ini kurang selangkah lagi fandy ketemu dimas :” dan di tantangan terakhir selalu jadi yg terberat. mas noel nyeritain itu semua dengan sangat bagus mas (y) greget nya, misteri nya, detil2 tentang tempat2 di bali, semuanya terasa pas🙂

     
  26. Galuh. R

    29 Desember 2014 at 23:08

    Wow.. tau sih di beberapa pura (gak hanya di bali) memang memiliki pantangan.. tapi gak nyangka di pura Lempuyang tergolong paling sakral.. yg ke sana harus benar2 suci.. hemm
    Kalo yg gak mempercayainya, btw. Apakah pantangan seperti itu msh berlaku??
    .
    Salain jd seorang cenayang, Fandy bisa telepati gak ya? Itung2 nelepatiin Dimas.. XDa *ngawur*

     
    • noelapple

      31 Desember 2014 at 12:22

      Banyak hal yang bermula dari ketidakpercayaan, tetapi setelah terjadi barulah orang percaya. Namun ada pula yang mempercayai sesuatu tanpa menunggu itu terjadi padanya.

       
  27. Fahmi Aldana

    29 Desember 2014 at 23:11

    Menunggu karung 22 ini gak sia-sia rasanya, karung2 sebelumnya konflik pointnya masih belum terlalu jelas (selain jejak2 keberadaan dimas), tapi mulai karung 21 dan karung ini kayaknya konflik ceritanya mulai terasa banget (mulai dari masuk cafe gay, sampe ketemu makhluk astral), dan di karung inilah yang bikin anxious banget, teka-tekinya nambah 1, Dimas hilang atau nggak? nah loo, bakat bang Noel bikin penasaran itu masih gak berkurang haha…keep fight bang, gak apa-papa lah telat2 dikit kayak gini, take the time as you want, Thanks a lot for karung 22 nya, kado tutup tahunnya surprising…

     
  28. FKB

    30 Desember 2014 at 07:55

    “Pantai ini cocok untuk adikmu, Rik.”
    Tunggu tunggu, kok Denis bisa tau adiknya Erik doyan telanjang?
    Aku kira cuma Dimas yang tau bahwa adik Erik kayak gitu.😀

     
  29. aldizarefo

    30 Desember 2014 at 12:59

    Wah makin seru aja ceritanya mas dan makin menegangkandan makin menantang petualangan nya.
    Kalau udah ada atau udah siap lanjutan ny kabari ya mas. Dan lanjutan nya lebih cepat ya mas, udah ngak sabar baca kelanjutan nya. Semangat terus ya mas untuk menulis cetitanya.

     
  30. betmen12

    30 Desember 2014 at 19:02

    Woww…
    C R A nya keren…. Baru nemuin ini blog, 2 hari langsung habis bacanya… ◦нê◦нë◦нê◦нë◦нê◦°◦
    Bagus ceritanya mas Noel… Ditunggu ya🙂

     
  31. emyi

    30 Desember 2014 at 19:23

    jangan bilang pantai Candidasa itu pantai telanjang yang dimaksud Erik? kok kayaknya dia semangat gitu. haha

     
    • noelapple

      31 Desember 2014 at 12:19

      Bukan. Candidasa pantai umum, salah satu yg paling populer di Bali Timur.

       
      • antokuswanto

        5 Januari 2015 at 13:45

        sangat bagus ceritanya kak Noel, aku suka. Tapi kapan nih karung 23-nya? Aku dr kemarin udah gak sabar.🙂

         
  32. vian

    30 Desember 2014 at 19:54

    Makin kereeen

     
  33. Robin

    30 Desember 2014 at 23:20

    Sebelumnya aku gak mau ke Bali meskipun bnyak orang bilang Bali is heaven the World karena MISTIC buat aku, tpi stlah baca CRA part 1 – 3 jadi pengen🙂

     
  34. awan

    30 Desember 2014 at 23:33

    Jgn sad ending ya mas….ntar dimas n fandy ga kluar dr pura lempuyang nya….mudah2an kekuatan spritual fandy bs bawa dimas kluar ya….hahaha…

     
  35. ghazy

    31 Desember 2014 at 00:48

    T-e-g-a-n-g maximal..
    Ampun dehh gue, banyak mrindingnya juga sihh
    gue paranoid an kalo nyangkut yang gituan
    Lanjutnya lagi ini kisaran kapan?
    hohohoho
    gue kok jadi kaga sabaran…

     
  36. Exosehun

    31 Desember 2014 at 01:04

    Dari tadi siang baca dari karung 1 sampe 22 seru banget, cepet di lanjut ceritanya ya ka🙂 ceritanya bagus banget, penuh konflik🙂

     
  37. Lian

    31 Desember 2014 at 08:51

    OMG,,
    seruh bnget, serasa aq ikut dlam cerita hehehe
    kak noel kamu cerdas bnget buat cerita seolah2 kita ikut dalam petualangan ini hahahah

    luve u kak noel
    wkwkwk

     
  38. hary092

    31 Desember 2014 at 22:03

    Mulai Filosofis nih, dasar Dimas…
    1.Ingin terlahir seperti apa dimas ya? ,dapat pencerahan seperti apa? ( Sesuai letaknya di timur yang menghadap matahari terbit)
    2.Atau malah memohon perlindungan ? (Sesuai cerita, diturunkannya Bhatara tiga yang di utus ayahnya ke Bali untuk menjaga kedamaian dan keseimbangan).

    Matur suksma untuk cerita karung 22 ini mas Noel.

     
  39. Eza Zenandy

    31 Desember 2014 at 23:35

    semakin menarik aja ceritanya, CRA 1 tentang dimas yang memperjuangkan rasa suka nya sama erik, berakhir di Bali meskipun dia ditolak oleh erik, tapi dimas mendapatkan hal lain, yaitu bahwa Denis adik kembarnya menjadi orang yg dapat mendukungnya, selain itu juga Dimas menemukan sahabat (Ben), CRA 1 ditutup dengan arti keluarga dan sahabat. CRA 2, kisah cinta Dimas dan Fandy yang berakhir dengan sangat manis, Fandy dapat menerima Dimas, juga diakhiri dengan persahabatan antara dimas, erik dan misha, tentunya dibumbui masa2 indah ketika mereka di pasar malam (siang) melihat gunung lawu, bendungan dll. CRA 3, sudah memasuki konflik serius, meskipun belum berakhir, banyak hal yang mungkin masih bisa terjadi, kalau melihat CRA 1 & 2, CRA 3 ini sangat susah menebak endingnya, meskipun kita berharap di karung 23 nanti Dimas segera ditemukan dan kembali lagi pacaran sama Fandy (Versi Dimas putus, tapi menurut Fandy mereka tidak putus, dan menurut gue mereka tetap pacaran, cuma pisah sementara, krn Dimas sdh ada rencana ke Bali), konflik nya masih ada, yaitu keluarga Fandy, belum lagi kalau Dimas kuliahnya jauh, (tapi kalau liat Awan sama Dika tetap aja bisa menyatu, dari SMA deketnya, pas sdh kuliah jadiannya, meskipun jarak yg jauh hehehe).
    sebuah karya yang matang dari Noel, kalau membaca beberapa cerita yg ada, jadi sangat nyambung, antara CRA dan Di bawah langit bali, sangat terasa koneksinya, waktu membaca di bawah langit Bali, jadi paham mengapa Awan dan Dika begitu dewasa dan sangat welcome untuk membantu Dimas, bahkan juga Denis dan Fandy. terimaksih Noel, karya yg bagus.
    yg masih menjadi pikiranku, waktu mau berangkat di stasiun ranselnya Fandy dibawah sama Ricky, di CRA 3 ini meski cuma sekilas, Ricky juga kelihatanya anaknya cuek ya hahaha, dijelaskan kalau fandy mengenal Ricky dari Dimas. aku jadi nebak sendiri Noel, darimana Dimas kenal Ricky? kalau dr cerita2 yg Noel tulis kelihatanya waktu Ricky ke sekolah Musik Bel Canto Ricky sempat melihat di bagian gitar klasik ada salah satu piala, juara 3 gitar klasik tingkat Provinsi atas nama Dimas. aku jadi nebak mereka ketemu mungkin setelah tidak lama Dimas dan Fandy jadian, solanya sampe mereka jadian Dimas tidak punya teman lain, sedang di CRA 3, setidaknya hampir 2 tahun setelah Dimas n Fandy jadian, jadi kemungkinan dalam 2 tahun itu ya Noel. hahahahaha. cerita2 mu luar biasa Noel, kok bisa ya saling berkait gitu, pasti sangat repot sekali, karena semuanya harus match. 10 jempol deh buat mu Noel.

     
    • noelapple

      5 Januari 2015 at 08:57

      Perkenalan Dimas-Ricky-Fandy ada tertulis di diary Dimas.

       
  40. betmen12

    1 Januari 2015 at 00:23

    Happy New Year kak Noël🙂, semoga di tahun 2015 ini kak Noël cepat2 posting nya!!! HBR nya gak dilanjut kak? Sayang kan, padahal ceritanya bagus (y)..!!! Kak Noël lanjutan cerpen Devil Between Us mana ? Penasaran kak ;;)

     
  41. fahrul

    1 Januari 2015 at 08:39

    Happy new year bang noel🙂

     
  42. 루오루오

    1 Januari 2015 at 15:04

    🙂 sorry lah, dah bikin kamu bingung. Mesti ni cerita yang patut jadi bestseller lg bila jadi buku.

     
  43. ZeroZoro

    3 Januari 2015 at 11:20

    Untung sih fillipe gak ikut e.e sumpah aku gak suka banget sama kehadiran fillipe u.u keep fighting denis,fandy,erik semoga dimas ketemu dikarung 23

     
  44. Adie

    3 Januari 2015 at 12:40

    Brilian..
    Jujur,,, saya akui,saya sangat suka sekali dengan cerita CRA ini. Walaupun saya baru mengenal cerpen ini 5 hari yang lalu. Dan saya telah membaca semua CRA.1,2 dan 3.
    Dan saya hanya bisa berkata, “Brilian da Salut.” kepada Sang Penulis, Mas Noel.
    Terima kasih,Mas Noel.

     
    • noelapple

      5 Januari 2015 at 08:55

      Ini bukan cerpen, ini cerbung.

       
  45. Adie

    3 Januari 2015 at 12:58

    Terima kasih Mas Noel.
    God bless you…

     
  46. alfii

    3 Januari 2015 at 16:20

    Keren ^.^

     
  47. Ansel faggot

    3 Januari 2015 at 20:42

    diantara seneng dan sedih , seneng karena dimas hampir ketemu dan sedih karena dengan ketemunya dimas kayanya CRA season 3 bakalan udahan😦 . nice job mas noel!

     
  48. Salmach She Bwel

    4 Januari 2015 at 20:49

    segala yg di lakukan bersama itu pastii membuahkan hasil yg bagus pula bangg🙂
    like bngett ceritanya😀

     
  49. Wayan Arnold

    4 Januari 2015 at 21:05

    di episode ini terasa sekali kesan balinya dan familiar sekali suasana yg tergambar didalamnya. dan memang benar adanya pura lempuyang yg pernah saya kunjungi ketika tirta yatra 4 tahun lalu itu memang harus dalam keadaan tenang dan tanpa beban ketika mengunjungi pura tsb. dan menaiki jalan menuju puranya pun tdk boleh mengeluh kelelahan. Konon apa bila mengeluh kelelahan maka jalanya tidak akan ada ujungnya. Bagus sekali pemaparanya. Saya tunggu kelanjutanya. Salam dari Denpasar, Bali.

     
    • noelapple

      5 Januari 2015 at 08:54

      Terima kasih sudah mampir dan me-review, Bli. Salam dari Sragen.

       
  50. kim juliant

    4 Januari 2015 at 23:59

    Next mas noel..
    Bikin kami yg baca makin merinding..
    Thanks buat mas noel.

     
  51. Aaron Steve

    5 Januari 2015 at 01:27

    Dia berucap sebuah pesan panjang di ambang perpisahan.

    “Dalam sebuah hubungan, sering kita dengar tentang ‘orang ketiga’. Biasanya ialah yang membuat semua menjadi kacau. Tapi kamu tidak. Kamu, adalah ‘orang ketiga’ yang mempersatukan,” ujarnya, menepuk-nepuk bahuku. “Aku tak pernah membayangkan ada cerita seperti yang kalian lakukan ini. Semoga kalian terus saling menjaga.”

    Aku menggeleng. “Bukan cuma aku, Mas. ‘Orang ketiga’ itu nggak cuma satu. Teman-teman kami lainnya juga melakukan yang terbaik. Termasuk Mas Dika dan Mas Awan.”

    Mas Dika tersenyum.

    Paragraf yg aku copy paste ini apakah sebuah clue untuk sekuel “Di Bawah Langit Bali”?
    Maaf baru menyadari sekarang setelah membaca karung ini untuk kedua kalinya, mungkin yg dimaksud mas Dika tentang seorang Denis sebagai orang ketiga itu bukan untuk hubungan Fandy dan Dimas melainkan untuk hubungan Dika dan Awan yang sempat panas.
    Just spoiler

     
    • noelapple

      5 Januari 2015 at 08:53

      Denis tidak berbuat sesuatu yg spesifik terhadap hubungan Dika-Awan. Denis bukan karakter orang yg ingin mencampuri masalah pribadi orang lain yg ‘belum’ dikenalnya, entah dalam tujuan baik ataupun sebaliknya.

       
  52. ALI

    5 Januari 2015 at 20:22

    Aku udah ngikutin cerita ini sejak awal SMA, dan sekarang udah kuliah smt. 1
    Bagus banget ceritanya bang noel (y) salut dah
    btw kapan kantung 23 terbit? ditunggu nih, buat bacaan biar gak bosen. lagi uas soalnya hehe😀

     
  53. inhael kirio

    6 Januari 2015 at 18:56

    Dapat inspirasi dri mana mas noel??
    Aku melihat kesungguhan cinta fandy di karung 23 ini..

     
  54. Leo

    6 Januari 2015 at 22:12

    maaf sebelumnya kak Noel, saya punya blog cerita juga, masih amatiran dan tidak terlalu bagus, saya mau minta izin memasang cerita-cerita kak Noel di blog saya, sebagai blog kawan/blog populer, tidak mengcopy atau menyalin, hanya membuat judul berupa link yang terhubung ke website kk Noel.

     
    • noelapple

      9 Januari 2015 at 15:16

      Silakan.

       
      • Leo

        9 Januari 2015 at 17:19

        terimkasih kk noel

         
  55. BrOwny

    7 Januari 2015 at 16:23

    maaf baru komen dan bisa komen di karung ini.. ka noel.. kapan karung selanjutnya di post.. saya benar benar penasaran dengan perjalanan denis erik dan fandy untuk mencari dimas..
    >_<

     
    • noelapple

      9 Januari 2015 at 15:16

      Itu bukan komentar. Itu pertanyaan.

       
  56. ilham

    8 Januari 2015 at 16:39

    aku tau tempat pantai yg banyak telanjangnya :3
    nama tempatnya awalnya “padang” bukan???
    yaelah..

     
  57. prasetya

    10 Januari 2015 at 07:02

    Maaf mas noel, mau nanya.. cerita hbr nya masih lanjut kah? atau masih fokus di pencarian dimas dulu?🙂
    terimakasih ..terimakasih untuk cerita2 nya juga..

     
  58. Leo

    11 Januari 2015 at 12:47

    kak Noel terimkasih sdh kasih izin memasang cerita-cerita kak Noel di blog saya, sebagai blog kawan/blog populer, alamat blog saya http://ceritaleoverry.blogspot.com/ mohon masukan dan koreksinya, maklum masih amatir. thx

     
  59. ALI

    14 Januari 2015 at 10:29

    kapan karung 23 terbit bang? komenku jarang dibales —

     
  60. Dika

    18 Januari 2015 at 22:37

    Ka Noel. Kapan dilanjut ini ceritanya?

    Maaf selama ini jadi silent rider. Terlalu terhanyut ama ceritanya jadi mau langsung baca aja terus tanpa henti :3

    Ceritanya bikin penasaran.

     
  61. babayz

    19 Januari 2015 at 04:49

    kalo ketemu dimasnya mau aku jewer!!!!!! bikin khawatir aja..hihiih

     
  62. Bona

    19 Januari 2015 at 12:55

    Hampir kelar? Wew. Keep sombong kak!

     
  63. minae

    24 Januari 2015 at 12:05

    maaf baru meninggalkan jejak sekarang… jujur saya baru baca CRA 1 – 3 beberapa hari ini… saya terkesan dengan gaya penulisan anda yang ringan tapi mengandung makna yang tersirat… membuat pembaca hanyut dalam cerita seolah mereka ikut berada disana dan merasakan perasaan tiap pemainnya, membuat saya menangis dan tertawa, benar-benar bacaan yang mengaduk-aduk perasaan…

    Sebelum membaca CRA 3, saya sempat membaca ‘Langkahi dulu Gulingku’ dan ‘Cowok rasa mozarerlla’ kalo gak salah judulnya itu… jujur saat itu saya merasa agak kecewa karena Denis seperti tak dihargai disitu, padahal dia sudah banyak berjasa terhadap hubungan Dimas dan Fandy…

    Sempat berpikir berpikir untuk berhenti membaca CRA 3, tapi saya juga butuh klarifikasi untuk tentang penilaian saya, jadi saya putuskan membaca lagi.

    Saya senang kali ini memakai sudut pandang Denis, walau terbesit perasaan miris mengetahui kisah hidupnya. Sempat berpikir jika orang tuanya lebih menyayangi Dimas dan Dimas sendiripun tak pernah mempedulikan perasaan sayang Denis, terbukti dari Denis sering mengetahui suatu hal yang menimpa Dimas dari orang lain, bukan dari Dimas sendiri, serta Denis yang selalu mengerti dan membantu Dimas tapi tidak sebaliknya… atau mungkin karena Denis tidak mau terbuka dengan masalahnya kepada Dimas.

    Tapi saat membaca bagian diary Dimas, saya sadar jika ternyata Dimas juga menyayangi dan mempedulikan Denis dan rasa kecewa saya pun menjadi pudar. Saya bersyukur karena Denis tak merasakan keterasingan lagi.

    Saya jadi penasaran tentang chap selanjutnya, bukankah dikatakan jika orang yang memiliki masalah tak boleh menginjakkan kaki di puri lempuyangan, tapi demi Dimas, mereka akan kesana untuk menyelamatkannya. Bagaimana dengan Fandy? apakah akan terjadi sesuatu padanya, mengingat kejadian yang pernah mereka alami di Badung. semoga semuanya berjalan lancar dengan misi yang berhasil dijalankan tanpa ada anggota yang berkurang.

    maaf jika komentarnya terlalu panjang dan seperti menyampaikan perasaan saya mengenai cerita ini…

    salam kenal dan terima kasih… jika ada tulisan yang menyinggung, saya mohon maaf…

     
    • noelapple

      24 Januari 2015 at 14:56

      terima kasih. Denis seperti itu adanya, dia sering bersikap over dan menyebalkan seperti di spin off ‘Sosis Mozarella’ ataupun di adegan lainnya. Namun ia tetap disukai. Itulah ‘kekuatannya’. Dimas-Denis adalah jaim bersaudara, mereka tak saling mengungkapkan bukan berarti tak saling menyayangi.

       
  64. aditya

    24 Januari 2015 at 22:22

    Bang noel karung 23 kapan nih bang.. Jadi penasaran bnget..

     
  65. ryan

    25 Januari 2015 at 21:58

    kapan lanjut mas noel,, ??,,
    setiap hari buka ini terus,, cuma cek udah ada update apa belum,,, heheh,,

    semangat mas noel,, ditunggu update an nya ya,,,

     
  66. Ali

    29 Januari 2015 at 00:19

    kapan update nya bang? -__- udah nunggu lama

     
  67. indra

    3 Februari 2015 at 13:22

    kapan cerita berikutnya dimuat q penasaran dengan keadaan dimas dan akhir cinta dimas dan fandy

     
  68. Yulius

    13 Februari 2015 at 22:13

    Tulis komentar di sini…
    Baru sibuk urusan-urusan lain atau baru sakit atau baru gak mood? Jika baru sibuk rasanya ingin bantuin agar urusan-urusannya segelai beres. Kalau baru sakit ingin ikut merawat dan doain agar segera sembuh. Jika baru gak mood ingin memberikan motivasi dan hiburan agar semangat lagi….. Maklum segera ingin baca karung-karung selanjutnya…… Salam. Yulius.

     
  69. Fian

    16 Februari 2015 at 19:08

    Bang noel kapan donk lanjutanya g sabar dah nunggu lama… penasaran…

     
  70. 1219

    19 Februari 2015 at 06:43

    ayo semangat denis fandi erik.
    mudah2an gak terjadi apa2 sama dimas.

     
  71. fino

    19 Februari 2015 at 08:53

    sampai sekarang kok belum ada updete nya udh enggak sabar bang,.. bagus ceritanya.

     
  72. babayz

    26 Februari 2015 at 05:27

    bolak balik membuka page ini untuk menengok apakah karung 23 sudah terbit ternyata belum..

    untuk karung 22 ini sudah merangkak naik dan hampir sampai diklimaks cerita pencarian keberadaan dimas, makin asik aja semakin layak untuk ditunggu…kalo baca cerita ini serasa masuk kemesin waktu doraemon..didunia nyata udah berbulan bulan cerita ini terus bergulir, tapi didunianya denis dimas seminggu aja belum terlewati…hahahha…lamaaaaa banget bikin penasaran lagi..lagi dan lagi…

    tapi terobati juga dengan adanya cerita si devil between us and devil beyond us…bukan menjilat tapi diriku hanya mau memuji.. UR such a great author I ever admire, and all great story you ever made it’s awsome..

     
  73. chx

    27 Februari 2015 at 02:06

    hey there, ive been your silent reader for about 3 yrs and always fascinated to read your stories. Well,its almost 2 months and im still waiting for the new chap tho.. LOL

    keep your good work! Im looking forward for the new chaps :))

    came here to support you *wink*

    Greetings,
    Your fangirl

     
  74. riyan

    27 Februari 2015 at 16:36

    mas noel, saya cuman mau ngasih saran. gimana kalo CRA dibuat kayak acara talk show. host nya mas noel, dan bintang tamunya anak-anak CRA. tapi tetep pake tulisan (dialog)…

     
  75. setya

    13 Maret 2015 at 23:05

    hanya bisa menatap layar komputer sambil nyari postingan mas NOEL, karung 23 tpi lom ada juga HARAP-HARAP CEMAS …….>>>>>> ### Di situlah kadang saya merasa sedih<<<<<<

     
  76. Obi W. Despenta

    17 Maret 2015 at 08:55

    Bang Noel (^▽^), Obi masih nungguin Chapter 23 nya Bang Noel biar rilis (^▽^), Obi pengen baca baca karya Bang Noel yang terbaru lagi (^▽^), untuk itu Obi selalu berdoa supaya Bang Noel diberi kelancaran dalam membuat CRA 3 Chapter 23 (^▽^), Obi selalu berdoa yang terbaik Bang (^▽^)! Obi belajar menulis dari Bang Noel juga (^▽^)!

    Oh iya bang sekarang website SKO nya Obi engga ada .blosgspotnya Bang! (^▽^), Obi udah pake official website (^▽^), jadi obipopobo.com (^▽^), Bang Noel tengok websitenya Obi yah (^▽^), Obi pengen dikasih saran sama Bang Noel (^▽^)!

     
  77. riyan

    22 Maret 2015 at 11:53

    mas, kalo mau baca spin off nya CRA di mana ya? sy udh ngubek2 blog ini, tp cumn nemu spin off nya denis, mas awan, mas dika di blog yg satunya itu, yg da cerita HBR-nya.

     
  78. betmen12

    1 April 2015 at 12:59

    Udah 4 bulan lho, mau sampai kapan lagi mas ?

     
  79. AL

    13 April 2015 at 00:41

    Mas
    ini masih blm di lanjut yah ?😦

     
  80. Zudi

    14 April 2015 at 14:56

    Gue bayangin dimas n denis kayak @rizkiridho_da2 hha..

     
  81. febry

    15 April 2015 at 16:32

    Bang Noel
    Saya pernah liat di gambar ilustrasi yang abang bikin,,ada gmbar seorang biksu dan seorang laki2 yg soerti orng hndak brpamitan,siapa itu bang??
    Apa itu Dimas?? yg setelah ditemukan di pura dan telah terlahir kembali?? dan menjadi biksu?? #cumanerkabang
    Apa mungkin setelah dimas ditemukan di area pura,,dia bnar2 terlahir kembali?? dan hilang ingatan?? semua memori nya brsama fandy hilang?? atau semua memory dimas total hilang?? dan kembali lagi semua tokoh ( ortu,denis,dan semua sahabatnya) berjuang untuk mngembalikan ingatan dimas,,terutama fandy.
    Tapi,jangan smpai dimas yg mmbawa hati kacau ke pura tidak bisa kembali lagi.hiks..kalau smpai itu kejadian..cuma fandy yg punya kemampuan untuk mnemui dimas di alam sana.hiks..
    Ayoo…bang noel..segera terbitin karung 23 dst..
    saya sangat penasaran.

     
    • noelapple

      16 Mei 2015 at 14:29

      Ilustrasi yg kamu maksud adalah dari cerpen “Pilgrim”. Bukan CRA ataupun yg lain.

       
  82. lix

    15 April 2015 at 20:03

    masih belum update juga yh…??😦

     
  83. Langit Jingga

    17 April 2015 at 23:39

    Saya bikin fanart lho!
    Dimas versi saya. Cek gambarnya disini: https://mobile.twitter.com/langitjingga13/status/589100321361661952?p=v

     
    • noelapple

      16 Mei 2015 at 14:28

      Bagus. Terima kasih.

       
      • langitjingga13

        3 Agustus 2015 at 20:18

        Pertama kali nyari tentang gay, saya nyasar di blog ini.Tulisan mas merubah cara pandang saya.

        ^_^ Dan sejak saat itu saya udah nggak polos lagi, terima kasih

         
  84. Angel

    14 Mei 2015 at 10:39

    mas apa masih ada lanjutannya?. Saya masih penasaran sama mimpinya Fandy

     
  85. Sakura

    16 Mei 2015 at 16:04

    Mas Noel, kangen sama lanjutan ni novel beneran. Sampean ke mana aja sih?

     
  86. raynaldo

    21 Mei 2015 at 10:54

    mas ga sabar nih nunggu lanjutannya hehe. btw sukses terus ya bang karyanya bagus2 hehe

     
  87. ainkmellankokis

    28 Mei 2015 at 17:36

    Mas noel kapan sambungan CRA 22 update lagi.. ga sabar nih pengen baca lanjutan nya..

     
  88. cinta75

    28 Mei 2015 at 18:04

    Mas aku penggemar setia mu dari 2013 lalu pas pertama baca CRA 1 SAMPE 2…

     
  89. Sakura

    3 Juni 2015 at 02:31

    Mas, by the way saya Fujoshi. Saya suka banget sama novel Mas yang HBR. Apa ada kemungkinan dilanjut?

    Dan buat CRA ini saya lebih suka lagi. Jadi cepetan dilanjuta yah🙂

     
  90. izal izalul (@IzalIzalul)

    6 Juni 2015 at 09:22

    karung 23 dan seterusnya belim,mas?

     
  91. erikcious

    7 Juni 2015 at 02:21

    Mas Noel,CRA 1-3 nya keren.
    Ga ada yg salah dgn ceritanya,bagus.
    Tapi entah kenapa imajinasi saya berhenti di CRA 1.

    Walau CRA 2-3 udh jelas ceritanya kalau Dimas sama Fandi itu pacaran,tp pikiran saya malah mengarang bebas balik lagi ke CRA 1 untuk selanjutnya berimajinasi sendiri kalau di CRA 2-3 dimas itu jadian sama erik.😦

    Apakah ini yg disebut dengan harapan tidak sesuai dengan kenyataan hehehe.

    Gpp ya mas,ga melanggar hukum kan klo berimajinasi mengarang jalan cerita sendiri ? Kan cuma berkhayal doank,abis asyik sih sebelum tidur ngelamun dulu😀

    Thx cerbungnya

     
  92. R

    15 Juni 2015 at 21:05

    dan akhirnya CRA Berakhir tragis kaya Weather series . geez

     
  93. jrayu

    17 Juni 2015 at 11:58

    Dua hari baca CRA2 -Karung 22 perasaan bener2 diaduk aduk. Dibuat seneng ketawa guling guling, sedih haru nangis, merinding dingin dll :v

    Lewat novel ini saya jg belajar banyak hal.

    Ga sabar. Penasaran sama kelanjutan petualangan denis fandy erik memburu dimas.

    Ditunggu kelanjutan nya.

    Terima kasih sdh membuat kisah sekeren ini .-.

     
  94. Sirachuch

    26 Juni 2015 at 14:08

    halo kak noel,

    kapan nih cerita karung 23 di uploand, penasaran banget nih belum di upload2 juga sampai sekarang, hehehheh

    ceria sungguh menarik dan semanggat ya kak noel, ceritamu selalu dinanti hahahhaha……

     
  95. rifal

    29 Juni 2015 at 16:39

    mas uda 6 bulan nunggu karung 23 nya, kok blum di post juga…
    kngen bnget mas ma Dimas_!!!!

     
  96. Lorenzo Alfredo

    6 Juli 2015 at 17:03

    Mas noel…. Kapan lanjutinnya mas??? Ditunggu lho mas

     
  97. yulius

    15 Juli 2015 at 22:18

    Awal bulan ini aku berkesempatan main ke Bali. Hampir semua tempat yang tersebut dalam CRA 3 ini sempat aku singgahi atau setidaknya terlewati. Terminal Nagari, Terminal Ubung, Terminal Batu Bulan, Ubud, Pura Ulan Danu, Pura Ulu Watu, Jalan Sriwedari, Beranda Mumbul dll. Semuanya cocok seperti tersebut dalam CRA 3. Hanya Pura Lempuyang saja yang tidak sempat aku kunjungi. Mungkin jika aku sampai ke Pura Lempuyang, maka akulah yang akan menemukan Dimas terlebih dulu dan aku yang akan membawanya kepada Denis, Fandy dan Erik.
    Terus berkarya Noel, kita nanti sambungan ceritanya……….

     
  98. ani

    19 Juli 2015 at 00:53

    Kukira karung ini udh akhirnya, ternyata belum 0.(^🔽^).0
    Ceritanya selalu bikin penasaran and bikin iri abis
    Di tunggu kelanjutannya kak noel

     
  99. ben

    9 Agustus 2015 at 19:30

    Ceritanya sangat seru…tidak heran banyak orang membicarakannya,,,,tapi ga a”Ini salahmu.” ujar Jack menyalahkan ga ada kelanjutannya ya mas?

     
  100. Khoiryl

    18 Agustus 2015 at 08:12

    Kak noel nya kemana nih gk ada kabarnnya hmpir 1 thun nunggu CRA karung 23

     
  101. Adit

    28 Agustus 2015 at 17:13

    Stil Waiting Om Noel😦

     
  102. Syaiful Bahri Saragih

    4 September 2015 at 16:55

    Mas gmn akhir ny? Beneran gak sih Dmas ga bsa balik lg?

    Ow Denis… Love u…
    Suka karaker ny….

     
  103. purie

    5 September 2015 at 19:58

    aduhh kenapa ini jdi horor bgt hiiiiiii
    yaampun deg deg an…
    berharap dimas baik baik saja amin

    ini gk di lanjut kak ceritanya???

     
  104. Ezra Raziel

    15 September 2015 at 15:52

    karung 23nya kapan mas noel….?

     
  105. Syaiful bahri

    17 September 2015 at 00:27

    Membaca serasa nonton….

    Ruar biasa..

    Nyesel banget, knp baru buka skrg..

     
  106. astRA

    19 September 2015 at 02:39

    Selamat ulang tahun Denis
    Selamat ulang tahun Dimas
    Semoga karakter mereka tetap hidup di hati saya

    Sudah tambah tinggi belum ya Denis sekarang😀
    Hehehee… Dia tokoh favorit saya
    Do’a spesial buat Om Noel.. Semoga sukses dengan real life-nya.. (amin)

     
  107. Sam

    19 September 2015 at 11:23

    Woww. No words.

     
  108. Cowo Chemist

    1 Oktober 2015 at 10:10

    bang Noel kapan dilanjutkan karung 23 dst bang????
    aku setia menantikan kisah kisah selanjutnya yah bang . . .

     
  109. Aldy Danupoyo

    5 Oktober 2015 at 19:35

    Kak Noel, saya sudah membaca CRA ini dari awal hingga akhir, kurang lebih dari dua minggu yang lalu setelah saya menulis komenta ini. Dan rasanya ingin membacanya lagi dan lagi. Cerita yang ditulis kak Noel mampu membuat saya cengengesan sendiri, terpingkal2, bahkan jerit yang tertahankan ( maaf jika saya sedikit curhat ). Kesimpulannya CRA dari keranjang 1 hingga karung 22 memberikan kesan yang sangat mendalam bagi saya.
    Hingga saya tau, kelanjutan dari CRA karung 23 belum juga dirilis hampir satu tahun. Saya sempat galau memikirkan kelanjutan dari cerita yang sudah mengaduk2 perasaan saya. Saya harap kak Noel akan tetap melanjutkan kisah CRA selanjutnya ( maaf ya kak kalo saya ngebet ). Jujur saya kangen dengan para tokoh pengisi CRA ini, terlebih khusu Dimas, Fandy dan Denis. Untuk kak Noel tetap semangat untuk melanjutkan cerita ini, dan salam kenal – Aldy

     
  110. sirean

    12 Oktober 2015 at 18:32

    jujur aku yg baru tahu cra awl oktober ini merasa kecewa. dari cra 1-3 smuanya ngegntung. di mna aq hrs mnemukan bagian yg hilang?

     
  111. okegh

    13 Oktober 2015 at 20:48

    hai aku ngebut baca cerita ini dari cra 1 – 3, cerita yang menarik aku suka.. cuman kadang agak gak konsisten tp jgn di masukin hati ini yak heheh… ditunggu kelanjutannya🙂 good luck!

     
  112. raflialvaro

    16 Oktober 2015 at 19:02

    Masih setia nunggu Karung selanjutnya..
    Semangat ya Mas Noel.!

     
  113. DD

    22 Oktober 2015 at 10:49

    Permisi, saya pembaca baru, cuma mau tanya untuk karung 23 apa sudah diposting? Soalnya di daftar cerita CRA ini cuman sampai karung 22. Terimakasih..

     
  114. xiaodee

    27 Oktober 2015 at 10:19

    ohmygodness !!
    damn !! all of your stories are amazing !! soulful !! emotional !! Hahaha
    kak, aku brterimakasih bgt kamu uda buat trilogi ini.
    yah.. walau blm tuntas sih😦
    tapi pointnya yg aku mau sampein adalah sorry , cz i give my review after i read them. all of them😀
    hahaha
    kamu keren kak dan tau gak? aku suka banget ma sifat denis yang kamu buat ,
    somehow, i like him🙂
    dan buruan lanjut yaa kak🙂

     
  115. ronaroman

    2 November 2015 at 22:38

    Sayang nih ngk ada sambungannya.padahal pengen bngt baca ampe akhir.novelnya blm smpt baca udah ilang duluan.hix hix hix.lanjut di sini donk mas noel.kmna nih kok ngk lanjut lnjut lg

     
  116. wiikun

    8 November 2015 at 07:43

    wah udah hampir setahun ya karung 22 ini jadi karung yg terbaru,
    udah hampir 3 tahun juga sejak aku ngikutin cerita ini, sampe kebawa ke dunia nyata, sampe aku nemuin sosok ‘fandy’ yg muncul di kehidupanku hahahaha
    tetap kutunggu kelanjutan cerita ini mas noel😉

     
  117. Hendri

    19 November 2015 at 14:41

    kapan ya karung 23nya keluar -_-“

     
  118. faniyo

    6 Desember 2015 at 19:09

    Jdi greget nih sama lanjutnnya.. kayaknya udah lama yah gak di lanjutin sayang critanya seru gini. Selalu doa semoga bisa dapat orang atu ajaaa yg sifatnya kayak denis cuek cuek tpi perhatiiiaaan. Aaaahhh, jadi curcol.
    Maap yah ka noel atas komen alayku ini tp semoga di beri kesehatan selalu and yg pling penting ksempatan buat lanjutin crita karung 23 maapin ye kalo agak maksa.. wish you always be happy kak..🙂

     
  119. dio

    18 Desember 2015 at 01:20

    Mas noel bagus banget ceritanya, tapi karung 23 nya ko aku cari ga ada yah, mohon pencerahannya, terimakasih

     
  120. Laras

    21 Desember 2015 at 20:38

    ceritanya keren…
    kata2nya dlm. bisa memotivasi yg bacanya juga. jd bisa belajar dr kisahnya.
    keren.. keren bgt..
    terus berkarya ya..

     
  121. gading

    4 Januari 2016 at 00:27

    Mas noel, apa yang membuat mas nya nggk meneruskan novel ini..? Apakah ada sesuatu yang menyebabkan mas noel enggan melanjutkannya? Sangat disayangkan mas, kalau saya lihat dimention twitter mas noel seperti terjadi perselisihan. Apakah mas noel merasa tulisan nya membawa dampak buruk,? Atau hal yang lain? Jujur mas, saya ini penggmar novel karya mas noel..nggk hanya saya, bnyak skali org slain saya yang suka.

     
    • noelapple

      8 Januari 2016 at 21:54

      Tak ada perselisihan. Cuma ada hal lain saja yang membuat banyak tulisanku jadi tertunda.

       
      • Jhony RochWilang

        8 Februari 2016 at 23:53

        Sampai hari ini pun.. saya juga masih menjadi fans setia bg Noel dan penunggu setia karya”nya..
        Terakhir 28 des 2014.. 2 tahun yg lalu saya baca ini
        hik hik hik.. perjuangan memang untuk tetap menjadi penggemar setia dan penanti hihihi..
        Yang semangat bg Noel.. trus bekarya.. banyak penggemarmu yg setia hingga hari ini.. detik ini dan kedepannya terhadapmu… Jia youu…

         
  122. Cham11

    4 Januari 2016 at 20:41

    bang sorry nih,,, koq belom ada lanjutan karung 23 dst ?? bang lagi sibuk yah ???

     
  123. juli

    5 Januari 2016 at 22:46

    Aku pembaca baru dan tau sama cerita CRA itu dari temen katanya ceritanya bagus, dan pas aku baca ternyata memang bagus , aku suka sama jalan ceritanya, banyak hal positif yang bisa kita ambil dalam cerita ini, bisa tau lagu lagu yg bagus juga, keren pokonamah , heheehee,,,,,😀
    semoga ada kelanjutan dari karung 23, aku berharap ada, semoga saja…
    Salam kenal dari pembacamu,
    Sukses Selalu buat mas noel .

     
  124. ahamd rizal

    7 Januari 2016 at 19:03

    seneng bngt bcax. seru bagus bgt karyax mas noel.sangat suka sama karakterx denis.kapan karung 23 nya mas noel ?

     
  125. febry

    5 Februari 2016 at 12:14

    1 taun aku nunggu mas. hiks
    kapan lanjutannya mas??
    aku kangen tulisan2 mas…

     
  126. obidondon

    24 Februari 2016 at 10:20

    Dear bang Noel (✿ *´ `*).

    Bang Noeeeeell (✿ *´ `*) , Hahah! Bang Obi masih nungguin CRA 3 Kantong 23 nya lho bang (✿ *´ `*) . Engga kerasa yah Obi nunggunya udah setahunan (✿ *´ `*) , sampe SKO Season 2 nya Obi chapter 1 hingga sudah tamat sampe chapter 41 Obi masih setia nunggu CRA nya bang Noel (✿ *´ `*) . Obi nunggu dari semenjak Obi kelas XI hingga sekarang kelas XII udah mau UN (✿ *´ `*) . Obi berharap Bang Noel masih diberi kesempatan dan kelancaran buat menyelesaikan CRA 3 Kantong 23 nya (✿ *´ `*) . Bagaimanapun juga, SKO nya Obi terlahir karena inspirasi beberapa karya dari teman teman semua, salah satunya CRA nya bang Noel (✿ *´ `*) . Sebagai sesama penulis, Obi ingin tau bagaimana bang Noel mengakhiri cerita CRA 3 Kantong 23 ini (✿ *´ `*) . Untuk itu Obi masih setia menunggu chapter tersebut hingga saat ini. Selama apapun Obi masih mau menunggu (✿ *´ `*) . Obi akan selalu berdoa dan memberi semangat buat bang Noel (✿ *´ `*) .
    Muaah bang Noel (✿ *´3`*)

    -Salam Hangat dari Obi(✿ *´ `*) , SKO Publisher & Editor-

     
  127. Riky

    6 Maret 2016 at 16:57

    Keren

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: