RSS

Karung 4

 

 

 

Karung 4

Para Pelacak dan Pemberontak

 

 

 

Kami tiba di rumah Erik. Rumah bertingkat dua yang cukup besar, dengan pagar lembing yang dibiarkan terbuka. Kami membawa motor kami masuk ke halaman. Dan disambut secara mengagetkan!

“Baaaa…!” seorang bocah tak bercelana melompat dari persembunyian.

Kami terperanjat.

Aku ngelus dada. “Kakakmu ada?”

“Di dayam!” jawab adik Erik, cadel.

“Panggilin!” suruhku.

Anak itu segera nyelonong masuk ke rumah. Tak lama kemudian Erik keluar.

“Adikmu bahaya. Dia bisa jadi exhibitionist kalau besar nanti!” cibir Ben, tamu menyambut tuan rumah.

“Dia memang bandel. Tapi doamu lebay!” tukas Erik.

Dialah orang yang pernah bikin Dimas patah hati. Dulu Dimas suka menyebutnya ‘si jabrik’ karena gaya rambutnya yang spike. Tapi julukan itu sudah kedaluwarsa, rambutnya sekarang ditata biasa saja. Akulah yang sekarang berambut spike.

“Tumben? Bertiga begini, habis dari mana?” Erik beramah-tamah, sambil menyilakan kami duduk di berandanya yang longgar.

“Dari rumah ‘mantan’, ke ‘mantan’ yang lain,” celetuk Ben.

Erik kelihatan tak paham maksud gurauan nggak penting itu. Aku, Ben, dan Fandy berpandang-pandangan sejenak. Sampai aku sadar kalau akulah yang harus menjelaskan.

“Rik, sampai sekarang Dimas belum pulang. Tapi aku dapat petunjuk, dia ada di Bali…” aku to the point.

Erik tercengang. “Bali?”

Ehemm…. Dia ngirim surat ke aku, yang isinya titipan buat Fandy. Stempel di amplop surat itu dari Badung, Bali,” jelas Ben.

Aku menyambung, “Dia punya teman di sana. Mungkin dia ada di tempat temannya itu. Atau paling tidak, temannya itu mungkin tahu Dimas sedang ada di mana. Soalnya keluargaku nggak punya kerabat di Bali, jadi kalau dia memang ada di sana maka kemungkinan besar dia akan menghubungi temannya itu. Buat memastikan, aku butuh bantuanmu, Rik.”

Erik tampak sangsi. “Dari dulu aku ingin bisa bantu kalian. Tapi aku bisa bantu apa?”

“Temannya itu adalah tour guide yang dia kenal waktu piknik ke Bali dulu. Waktu itu kamu ikut jadi panitia, kan? Kamu masih menyimpan info atau nomor kontak biro wisata yang dipakai waktu itu?”

Erik mengingat-ingat. Dia tersenyum ragu. “Biro perjalanan yang dipakai waktu itu berkantor di Solo, bukan di Bali. Ya, aku masih simpan nomor teleponnya. Tapi biasanya mereka memang punya koneksi dengan biro-biro lokal. Setahuku, jasa tour guide waktu itu dari biro lokal di sana. Yang itu aku tak menyimpan nomor teleponnya.”

“Yang penting kamu masih punya nomor telepon biro yang di Solo. Kita bisa mulai dari situ,” tandasku optimis. “Kita tanya, tour guide waktu itu dari biro apa? Lalu kita minta nomor teleponnya.”

Erik kelihatan masih ragu. Tapi dia mengangguk. “Oke. Kita coba.”

Dia lalu mengeluarkan HP, mulai beraksi. Kami bertiga menunggu, melihat bagaimana dia membantu.

Di tengah ketegangan dan rasa penasaran, diam-diam aku menyimpan rasa geli. Di sini sekarang, ada dua ‘orang penting’ dalam sejarah cintanya Dimas. Erik, si mantan gebetan; dan Fandy, si mantan pacar. Aku nggak heran kalau Fandy lebih banyak diam. Tadi dia ngebet ikut kemari, tapi begitu berhadapan langsung dengan Erik sekarang tampak canggung juga. Memang, Erik pernah jadi sosok ‘antagonis’, nggak cuma di mata Fandy, tapi juga bagiku dan Dimas sendiri. Erik tak hanya menampik, tapi juga membocorkan kepada teman-temannya bahwa Dimas habis ‘nembak’ dia. Jahat, kan?

Tapi di titik itulah, aku justru mulai melihat sisi lain Dimas. Ternyata dia bukan cuma ‘cowok penyuka cowok’ yang mellow dan naif, tapi juga seorang yang berhati besar. Dia memaafkan Erik. Mengatakan bahwa Erik adalah bagian dari proses pendewasaannya, wuissss…! Entah dia benar jadi lebih dewasa atau tidak, yang pasti dia move on. Entah karena Tuhan kasihan atau memang baik hati, tak lama kemudian Dimas ketiban cowok baru yang akhirnya benar-benar jadi pacarnya: Fandy, si anak desa unyu-unyu (kata Dimas).

Sekarang kami semua berteman. Kami anggap kesalahan Erik adalah masa lalu, biarpun kadang masih menyisakan rasa canggung. Aku sendiri merasa, di antara Fandy, Ben, dan Erik… aku paling renggang dengan Erik. Aku memaafkan masa lalunya terhadap Dimas, tapi dengan susah payah. Kadang masih pingin nonjok mukanya. Kesel banget gue!

Lihat, sekarang ‘si mantan antagonis’ itu membantu kami. Kami mendengarkan Erik menghubungi seseorang, atau tempat, yang kami tak bisa menguping dengan jelas. Dia menyebut nama biro perjalanan itu, Dharma Pesona Tour & Travel. Dia menanyakan tentang biro jasa penginapan dan tour guide di Bali yang biasa bekerjasama dengan Dharma Pesona. Dia juga menanyakan nomor telepon biro yang di Bali itu. Lalu buru-buru dia ngacir ke dalam, mungkin mencari alat untuk mencatat. Tak lama, dia kembali lagi ke beranda dengan muka berbinar-binar.

“Nama biro yang di Bali itu Buana Dewata, itu afiliasi tetap biro perjalanan yang barusan aku hubungi,” Erik langsung menjelaskan ke kami dengan antusias. “Biro itu punya banyak cabang di Bali, menyediakan penginapan, paket wisata, dan guide. Di Denpasar, Gianyar, dan kota-kota lainnya. Tapi kantor pusatnya ada di Badung, aku sudah minta nomornya.”

Erik menyodorkan secarik kertas bertera deretan nomor telepon dan nama biro itu: Buana Dewata.

Bingo! Petunjuk-petunjuk mulai terhubung!

Thanks, Rik. Sekarang giliranku.”

Tak menunda-nunda, aku menghubungi nomor itu dengan HP-ku. Kutunggu panggilanku diangkat. Beberapa kali aku mendapat nada sibuk. Aku tak menyerah! Kesabaranku membuahkan hasil juga…

“Selamat sore, ada yang bisa dibantu?” suara seorang laki-laki menjawab panggilanku yang keempat. Aksennya medhok. Aksen Bali, kurasa.

“Selamat sore, Pak. Betul ini dengan kantor Buana Dewata?”

“Betul, ada yang bisa saya bantu?”

“Sebelumnya maaf, Pak, saya cuma mau menanyakan… apakah Mas Awan masih bekerja di sini?”

“Mas Awan? Maksudnya… Mas Awan siapa, ya?” orang yang kuhubungi itu bertanya balik.

Aku jadi gugup. Tiba-tiba aku baru sadar kalau aku sudah terburu-buru, seharusnya aku masih perlu menyiapkan banyak hal sebelum menghubungi nomor ini! Mas Awan siapa? Aku harus jawab apa?

“Saya berkenalan dengannya waktu piknik di Bali beberapa waktu dulu, dia yang jadi guide rombongan saya. Minggu depan saya mau ke Bali lagi, dan berencana mau mengunjunginya…” aku mengarang sekenanya.

Tiba-tiba Fandy menyodorkan carikan kertas berisi nomor telepon tadi, tapi rupanya dia sudah menambahi di situ: Awan dari Jembrana.

Aku tanggap, segera mengimbuhi penjelasanku. “Dia dari Jembrana, Pak. Saya tak tahu dia bekerja di cabang yang mana, tapi seingat saya dia bekerja di biro Buana Dewata.”

Kudengar gagang telepon di sana beralih tangan. Suara lain menyahutku, juga suara laki-laki, “Halo, yang dicari Mas Awan yang dari Jembrana, ya?”

“Iya, betul, Pak.”

“Dia memang pernah bekerja di sini, tapi sudah resign beberapa bulan lalu.”

Aku kaget. “Sudah resign…?”

“Ya. Maaf, ini dengan siapa?”

“Saya… saya Dimas, temannya dari Solo. Saya bermaksud mengunjunginya, tapi saya kehilangan kontak. Jadi saya mencoba menghubungi lewat nomor telepon kantor,” jelasku agak terbata, shock dan bingung mencari alasan. Aku memakai nama ‘Dimas’ juga langsung comot begitu saja. Tetap kuberanikan diri mengorek lagi, “Kalau begitu, sekarang Mas Awan bekerja di mana ya, Pak?”

“Saya ndak tahu sekarang dia bekerja di mana. Tapi seingat saya, dia dulu bilang mau kembali ke Jembrana. Sepertinya tidak di Badung lagi.”

Aku lemas.

“Halo?”

“Ah, iya, iya… baiklah kalau begitu, Pak. Terima kasih atas infonya. Tapi maaf, Pak, mungkin Bapak masih punya nomor teleponnya?”

“Coba, tunggu sebentar, ya.”

Aku menunggu dengan sangat tak sabar. Raut yang sama juga kutemukan di wajah Ben dan Fandy.

“Saya masih menyimpan nomornya, tapi ndak tahu masih bisa dihubungi atau tidak,”  kudengar jawaban, membuatku lega luar biasa. Biarpun dia bilang ‘tak tahu masih bisa dihubungi atau tidak’, setidaknya masih ada kemungkinan. Belum buntu! Dia menyebutkan sederet nomor, aku mencatat di carikan kertas tadi.

“Baik, Pak. Terima kasih sekali atas bantuannya. Maaf, saya sudah merepotkan.”

“Tak apa-apa.”

“Selamat sore,” pungkasku. Dijawab dengan kalimat yang sama. Lalu telepon ditutup.

Investigasi usai. Aku membawa oleh-oleh sederet nomor. Nomor telepon teman Dimas di Bali itu.

“Itu nomor Mas Awan?” tanya Fandy.

“Iya. Semoga nomor ini masih aktif!” harapku, sambil melonggarkan diri sejenak, menghela napas. “Fan, tahu dari mana kalau Mas Awan ini berasal dari…” aku membaca tulisan di kertas itu lagi, “Jembrana? Dari Dimas atau… kamu pernah kontak langsung dengannya?”

“Dari Dimas, lah. Dia juga pernah berencana backpacking ke sana, ngajak aku. Katanya itu daerah yang bagus, banyak sawah di dekat pantai. Lama-lama aku jadi hapal di luar kepala. Jembrana.”

Aku membayangkan. “Dimas jadi backpacker? Bisa mampus dia di jalan!”

“Jangan gitu, Den,” Ben menyahut. “Buktinya, kejadian juga dia pergi sampai tiga bulan!”

“Pasti dia dibantu temannya itu! Atau, mungkin tabungannya lebih banyak dari yang aku duga!”

“Atau, mungkin kita saja yang nggak tahu kalau dia itu pintar cari duit. Dia itu banyak akal, biarpun kadang ngawur. Makanya bisa survive di sana,” Ben masih setia membela Dimas. “Kalau Dimas itu ‘payah’, nggak mungkin Fandy setia sama dia.”

“Ngelantur!” Fandy langsung menukas Ben yang cengengesan.

“Kamu dapat info apa, Den?” Erik mengembalikan percakapan kami ke tujuan semula.

Aku membuang napas, mengungkapkan kekecewaan karena petunjuk yang kudapat ternyata masih absurd. “Mas Awan sudah tidak bekerja di biro itu lagi sejak beberapa bulan lalu. Dia sudah balik ke daerah asalnya, di Jembrana. Padahal, surat Dimas stempel posnya dari Badung. Jadi, apa benar dia berada di tempat Mas Awan ini? Dia di Badung di tempat siapa? Jangan-jangan bukan di tempat siapa-siapa? Dia cuma mampir, atau kebetulan menginap di losmen atau apa…? Badung jauh dari Jembrana nggak, sih?”

“Jauh,” jawab Erik. “Tapi hubungi saja dulu nomor itu. Kita sudah susah-payah mencarinya.”

Memang, tak ada langkah yang lebih baik. Kuhubungi satu nomor lagi dengan HP-ku. Nomor milik teman Dimas yang bernama Awan ini. Jantungku berdebar-debar menunggu panggilanku diangkat. Menunggu, menunggu, dan menunggu… Semakin lama semakin kesabaranku terganggu. Semakin kuulang, semakin ingin kubanting HP-ku. Aku memilih berhenti di panggilan yang kelima, daripada aku benar-benar membanting HP-ku satu-satunya ini.

“Nggak diangkat,” gumamku lesu.

Semua membisu.

“Baaa!” tiba-tiba kami dikagetkan lagi. Adik Erik melompat dari balik pintu. Ctak! Erik langsung menyentil kupingnya. Anak itu kabur ke dalam rumah sambil menangis.

“Hei, jangan KDRT gitu, lah!” protesku. “Namanya juga anak kecil!”

“Kedisiplinan Dalam Rumah Tangga,” sahut Erik enteng. “Pendidikan yang keras kadang perlu. Yang penting tidak keterlaluan.”

“Kamu juga pernah ‘mendidik’ Dimas dengan keras, dan bisa dibilang agak ‘keterlaluan’,” Ben gantian menyentil. Tapi begitu melihat tampang Erik yang masam, dia buru-buru bilang, “Upss… sorry.

“Yang kalian mungkin tidak tahu adalah, Dimas juga ‘mendidik’ku. Perasaan bersalah adalah sesuatu yang berat, dan kalian masih suka membuatku begitu,” ucap Erik sambil tersenyum pahit.

Ben menggaruk rambut gondrongnya. “Sekarang akulah yang merasa bersalah. Aku tak bermaksud mengungkitnya. Aku cuma… merasa kita butuh sedikit rileks. Kita tahu kita sedang mencari siapa. Bukan cuma Denis yang menginginkan dia pulang.”

Aku paham maksud Ben. Dia mengingatkan bahwa aku tak harus menanggung masalah ini sendiri. Hati harus lebih hangat, tapi kepala tetap dingin. Gigih tanpa menggerutu. Ffhhh….

“Sebenarnya aku sungkan merepotkan kalian. Tapi kalau nggak ada kalian, mungkin aku juga nggak akan tahu harus melacak ke mana. Thanks….

“Kalau benar Dimas ada di Bali, kamu mau menyusul ke sana, Den?” Erik bertanya.

Aku mengangguk.

“Serius?” Erik masih meragukanku.

Aku bicara ke semuanya. “Guys, aku sudah nggak punya banyak waktu buat menunda-nunda masalah ini. Aku punya rencana untuk kuliah. Tinggal menunggu pengumuman. Kalau aku berhasil, artinya aku nggak akan tinggal di sini lagi. Tapi aku nggak bisa meninggalkan keluargaku dalam kondisi seperti sekarang. Sebelum aku pergi, aku ingin masalah ini selesai. Setidaknya, Dimas harus pulang!”

Semua terdiam menatapku.

“Aku akan menemanimu ke sana,” Fandy yang pertama kali menyahutku. Menunjukkan lagi niatnya.

“Fan, ini bukan perjalanan buat happy-happy ataupun romantis-romantisan!”

“Memangnya aku bilang ‘romantis’? Pergi dengan kamu jelas nggak akan romantis. Tapi kamu akan butuh aku buat meyakinkan Dimas.”

“Meyakinkan apa?”

“Dia seharusnya malu padaku,” Fandy berkata tegas. “Aku bisa bertahan tanpa harus pergi seperti dia. Bukan cuma keluargamu yang kacau, Den. Keluargaku juga! Kamu mau menyuruhnya pulang? Aku juga akan menyuruhnya pulang!”

“Bukankah sebelumnya kamu justru bilang, pingin ikut dia karena masih cinta?” tukasku sinis.

Fandy mendesah. “Kamu memakan omonganku mentah-mentah. Biarpun aku memang ingin, tapi aku nggak akan benar-benar begitu. Nggak, lah!”

“Terus, apa motivasimu? Aku masih bingung!”

Fandy menghela napas. Sekarang dia menatap kami satu persatu, bicara kepada semuanya. “Aku memang tidak ikhlas putus dari Dimas. Sekarang, aku tak mau kalah dua kali. Aku ingin mereka bisa melihat, sebenarnya siapa yang selama ini tak pernah mau mengalah. Aku juga ingin Dimas bisa tunjukkan itu ke mereka. Cuma anak kecil yang tak mau mengalah.”

“Tapi kalau kamu ikut aku, kamu juga sama saja tak mau mengalah kepada orang tuamu. Karena kamu sudah memberontak. Orang tuamu nggak mungkin ngasih ijin!”

“Aku nggak akan minta ijin. Tapi aku akan memastikan kalau aku pasti pulang. Mereka harus tahu, bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang tak bisa mereka halangi. Mereka bisa menghalangi, hanya jika aku setuju untuk mengalah. Dan aku masih mengalah. Cuma, mengalah bukan berarti ‘tak berkutik’!”

“Yang dewasa, adalah yang bisa mengalah kepada yang lebih kecil.” Celetuk Ben menyahut.

“Selama sikap mengalah itu menghasilkan sesuatu yang positip.” Tambah Erik, menggarisbawahi.

“Kalau orang tuamu nanti marah, apakah itu ‘positip’, Fan?” lontarku.

Fandy menggeleng. “Kebangetan. Memangnya marah-marah mereka selama ini masih kurang? Dan sikap diamku selama ini juga masih kurang?” Dia lalu kembali memandangi kami semua, berucap agak terbata, “Aku tak mau hanya diam saja. Aku ingin ikut bertanggung-jawab atas masalah ini. Karena sebenarnya… ini semua juga gara-gara kecerobohanku….”

“Tidak juga,” tandasku. “Hubungan kalian cuma soal waktu. Kalian nggak mungkin akan menyembunyikan selamanya. Toh, Dimas juga menyimpan foto yang sama. Russian Roulette, Fan, kamu cuma berada di taruhan yang sial. Makanya aku sudah bilang, berhentilah menyalahkan diri.”

Fffhh…. Muka Fandy lagi-lagi tampak memprihatinkan kalau sedang merasa bersalah. Bikin simpati. Kusembunyikan rasa haruku. Gengsi kalau dia tahu aku sedang terharu.

Di tengah percakapan yang sesaat sunyi, tiba-tiba kami serentak dikejutkan lagi. Bukan oleh adik Erik yang suka telanjang itu. Tapi panggilan yang masuk ke HP-ku!

“Halo?” aku buru-buru mengangkat.

“Halo, ini siapa, ya? Tadi menghubungi saya?” terdengar suara yang agak empuk, laki-laki.

“Oh, iya, tadi saya yang menelepon. Apakah ini benar dengan Mas Awan?” tanyaku berdebar-debar.

“Betul. Ini siapa?”

“Oh, maaf kalau saya mengganggu. Saya Denis, saudara Dimas yang dari Solo….” jelasku gugup. “Mas Awan kenal Dimas, kan?”

Suara di sana juga terdengar gugup. “Ooo… ya, ya… saya kenal Dimas. Bli saudaranya?”

“Iya, Mas. Saya ingin mencari tahu, apakah Dimas pernah ke tempat Mas Awan? Karena dia pergi dari rumah sudah berbulan-bulan. Yang saya tahu saat ini dia ada di Bali. Mas Awan tahu?”

Suara di sana terdiam beberapa saat. Lalu menyahut lagi, terdengar hati-hati, “Ya, saya tahu dia sedang di Bali. Kami sempat ketemu. Dia juga sempat menginap di rumah teman saya di Badung, selama beberapa hari. Tapi dengar-dengar, dia sudah tidak di sana lagi.”

“Sudah pergi lagi?” ulangku, lagi-lagi kecewa. “Tapi, dia pernah ke rumah Mas Awan?”

“Ya, pernah, di Jembrana.”

“Dia pernah cerita ke Mas? Atau Mas tahu dia punya rencana apa selama di sana? Saya benar-benar perlu tahu keadaannya, Mas. Kami sekeluarga cemas….” selidikku hati-hati.

“Saya tahu, dia pergi dari rumah karena ada masalah dengan keluarga. Tapi sejauh yang saya tahu, selama di sini dia baik-baik saja. Dia tidak menceritakan dengan detail, saya cuma tahu dia punya rencana mengunjungi beberapa tempat di Bali.”

Aku tercenung. Mengunjungi tempat-tempat di Bali? Dia punya duit dari mana?! Jual laptop kesayangannya? Paling cuma bisa untuk hidup sebulan.Tabungannya???

“Tapi mungkin teman saya lebih tahu, karena Dimas agak lama waktu tinggal di Badung, di rumah teman saya itu. Coba, Bli hubungi…”

“Saya bisa minta nomor milik teman Mas itu?”

“Iya, bisa.” Mas Awan menyebutkan nomor telepon temannya itu. Aku mencatatnya di kertas. Dia menyebutkan pula nama temannya, “Namanya Dika.”

“Baik, Mas, terima kasih atas bantuannya. Maaf, kami sudah merepotkan.”

“Jadi selama ini dia tak pernah mengabari ke keluarga?” Mas Awan gantian bertanya.

“Nggak pernah, Mas. Dia pergi tanpa pamit, dan nggak ada kabar sedikitpun ke rumah. Dia malah mengirim surat ke kawannya, itupun tak memberi tahu dia sedang ada di mana. Kami tahu dia ada di Bali karena stempel pos di amplop suratnya: Badung,” jelasku panjang lebar.

“Tunggu… dia pergi tanpa pamit?” Mas Awan mengulang. “Saya tahu dia sedang ada masalah. Tapi dia bilang, dia pamit ke ayahnya. Katanya, ayahnya sudah tahu?”

Deg!

Darahku berdesir-desir….

“Mas, beneran itu? Dia bilang begitu, Mas yakin tidak sedang bercanda, atau berbohong…?” selidikku, kaget dan keheranan.

“Hati orang tidak ada yang tahu ya, Bli…” Mas Awan tertawa pelan. “Tapi buat apa dia membohongi saya? Tidak ada untung yang dia cari dengan membohongi saya, Bli.”

Aku tergagu. Bingung untuk percaya.

“Saya juga menasihatinya agar pulang saja. Tapi dia masih keras hati,” tambah Mas Awan. “Coba, nanti Bli hubungi teman saya tadi, siapa tahu dia punya lebih banyak informasi.”

“Baiklah, Bli, eh… anu, Mas… saya nanti akan tanyakan ke kawan Mas itu. Terima kasih banyak, ya, Mas.” Bicaraku sampai belepotan saking gugupku mendengar informasi dari Mas Awan. Kulihat Ben, Fandy dan Erik malah cengar-cengir menertawai kegugupanku. Kusepak kaki Fandy, yang paling dekat.

“Bli tahu nomor saya dari mana?” Mas Awan ganti menyelidik.

Aku merasa tak enak menjelaskan, karena sudah merepotkan kantor tempat dia pernah bekerja. Tapi tetap kujelaskan pajang lebar apa adanya, bagaimana kami memutar akal demi mendapatkan nomor Mas Awan. Demi melacak keberadaan Dimas. Untunglah, Mas Awan tak terdengar tersinggung mendengarkan ‘ulah’ kami.

“Semoga dia mau cepat pulang,” dia juga berharap. “Maaf, saya tak bisa membantu banyak.”

“Mas sudah sangat membantu, kok. Terima kasih, Mas.”

“Sama-sama.”

Kami tak menambah basa-basi. Memungkasi pembicaraan. Setelah Mas Awan menutup teleponnya, hampir aku mengumpat! Kuremas mukaku yang tiba-tiba seperti berputar rasanya.

“Kalian cengar-cengir! Memangnya kalian tahu aku dapat berita apa?!” aku setengah membentak.

Tuhan, apa benar kata Mas Awan? Papa sebenarnya tahu Dimas ada di mana?!

“Berita apa?” tanya Ben.

Aku menggeleng, menahan diri. “Sorry, belum, belum… belum saatnya aku kasih tahu. Aku harus pastikan dulu berita ini benar atau tidak!”

“Maksudnya? Dimas sudah tidak di Bali?” Fandy menyelidik.

“Dia masih di sana. Tapi bukan di tempat Mas Awan. Di tempat teman yang lain lagi. Aku nanti akan cari kejelasannya. Kalian pasti akan aku kabari!”

“Kenapa tidak sekarang sekalian? Kita sama-sama ingin tahu, ingin cari dia, makanya kita temani kamu…”

“Fan, Bali itu jauh! Aku nggak mau mengatakan kepada kalian kalau kebenarannya masih simpang-siur. Aku akan cari kejelasannya dulu. Aku perlu menghubungi satu nomor lagi, tapi mungkin nanti. Aku butuh napas…!” ujarku kalut.

Kulihat Fandy masih cemberut.

“Fan, kalau memang memungkinkan mencari Dimas ke Bali, oke… kamu bisa ikut. Tapi kamu tunggu kabar dulu dariku! Oke?” tandasku, agar dia berhenti bersungut-sungut.

“Aku nggak bisa ikut, Den. Sorry, aku sekarang terikat job di kafe. Hampir tiap malam aku manggung,” Ben menyahut dengan mimik agak sedih.

It’s ok,” sahutku. “Sebenarnya sendiripun aku berani. Tapi karena Fandy nggak mau ditinggal, terpaksa aku harus momong dia. Setelah Dimas, aku juga harus siap-siap jadi sasaran orang tuanya!”

“Aku suka sikap sinismu!” cetus Fandy.

“Harus! Dulu Dimas disidang karena macarin anak orang. Besok gantian aku akan dituduh melarikan anak orang, cowok lagi!” tukasku kesal. “Tapi kamu siapin bekalmu sendiri, aku nggak mau bayarin!”

“Aku sudah lama ingin jalan-jalan ke Bali,” Erik menyahut. “Tapi aku tahu kalian ke sana bukan untuk jalan-jalan. Aku nggak enak untuk ikut. Aku doakan saja, kalian berhasil menemukan Dimas dan mengajaknya pulang…”

“Lalu kalian move on…” sahut Ben sambil menerawang. “Dimas pulang. Denis pergi untuk kuliah. Dimas mungkin juga akan kuliah. Erik juga. Fandy meneruskan sekolahnya, entah di sini atau di mana. Aku sibuk dengan pekerjaan. Kita akan menemukan hari baru masing-masing. Menyedihkan. Tapi mungkin memang itulah yang terbaik. Tak bisa dihindari.”

Kami semua terdiam mendengar kata-kata Ben. Sedih.

“Aku cuma berharap, sebelum kita semua berpisah, Denis bisa menuntaskan satu pekerjaan lagi!” kembali Ben berceletuk. “Kuharap dia punya sikap yang lebih jelas kepada Misha.”

Tiba-tiba semua tertawa. Menertawaiku.

“Sip! Biar itu terlaksana, kita harus bersulang!” Erik bangkit berdiri.

“Ya, aku juga sudah membatin dari tadi, mana suguhannya?” Ben cengengesan.

Setelah beberapa waktu ke dalam rumah, Erik kembali ke beranda sambil membawa empat gelas es sirup. Kami melakukan adegan yang konyol: bersulang.

“Gimana kabar Misha?” aku menggumam ke semua. Sejak ujian berakhir, hampir aku tak pernah bertemu dengannya. Hanya kadang SMS. Tapi entah sejak kapan, kami seperti pizza yang sudah dingin. Masih layak kalau mau dibilang layak, belum basi, masih enak,  hanya saja sudah dingin….

“Kalau dia lolos, dia akan kuliah di Bogor. Alternatifnya, dia akan kuliah di Semarang,” jawab Erik, yang juga sepupu Misha.

Ya, aku sudah tahu. Antara IPB dan Undip. Keduanya bukan pilihanku. Sebentar lagi aku pasti berpisah dengannya. Kalau kami sama-sama lulus SNMPTN.

“Kamu serius merasa cukup dengan hubungan platonis?” Ben menyindir.

Aku bingung menjawabnya. Aku ingin menjawab ‘tidak’, tapi faktanya aku memang tak pernah memacarinya.

“Kamu cowok memang bisa nyantai kalau mau nyantai. Tapi dia cewek, jangan menggantung perasaannya, dong! Sudah dua tahun, Bro! Masa cuma gitu-gitu saja dari dulu, akrab tapi nggak jadian?” Ben memprovokasi, bukan untuk yang pertama kalinya.

Mereka pikir, aku senang dengan kebingunganku? Huh….

“Ben, lu bisa juga lebih cerewet dari Dimas!” tukasku.

“Den, menurutku bahkan kamu lebih cerewet dari Dimas.”

“Kamu kira aku nggak pernah mikirin Misha?”

“Aku percaya kamu mikirin dia. Tapi, ya cuma mikir. No action…!”

Toss…!” Erik mengamini, mengajak bersulang lagi.

Kubiarkan mereka menertawaiku lagi. Ya, mereka boleh menertawai kepengecutanku terhadap Misha. Mereka memang tak tahu apa-apa.

Kuminum isi gelasku. Bukan sirup rasa apel seperti kebiasaan Dimas kalau menyuguh teman-temannya. Tapi sore di beranda ini masih sanggup mencetuskan canda dan keakraban. Dan menyicil seberkas kesedihan, karena kami tahu bahwa tak lama lagi kami akan saling berpisah. Aku tak tahu apakah perasaanku mewakili mereka, tapi aku pasti akan merindukan momen-momen seperti ini. Kangen gurauan mereka, ledekan mereka, kangen berantem dengan mereka….

Mereka sahabat yang baik.

Teman-teman, Dimas pun tak akan bisa menggantikan kalian. Begitu juga sebaliknya, kalian tak akan bisa menggantikan Dimas….

 

 

 

bersambung…

 

 

 

 

 

 

 

91 responses to “Karung 4

  1. noelapple

    3 Januari 2014 at 21:40

    Silakan baca ini juga: https://ceritasolitude.wordpress.com/2010/01/05/tentang-seseorang/

    Selembar sisi lain, semoga akan menambah kesan bagi para pembaca CRA.😉

     
  2. ibhas

    3 Januari 2014 at 22:02

    ini yg seru dari cra,mulai kuis2 untuk pasword nya yg buat kita harus mikir dikit buat buka,haha

    rindu part2 percakapan dimas,nunggu part denis dkk k bali buat nyusulin dimas, sama narasi denis di akhir yg makin buat galau T____T

     
  3. Erik junior

    3 Januari 2014 at 22:03

    Antara sedih , lucu , tegang . Campur adukk deh ..
    Luar biasa !!
    Makasih mas noel😀

     
  4. Erik junior

    3 Januari 2014 at 22:16

    Kejutan apa lagi nih mas noell ??
    #penasaran

     
  5. Arial Brahmastral

    3 Januari 2014 at 22:23

    Padahal aku sering sekali mendengar Mbah kakung berbicara tentang loro setu, tapi baru tadi malah jelalatan mencar-cari. Pas ketemu itu serasa mau bilang ‘oalaaaahhh’

    Maaf ya Mas, dia tiga karung sebelumnya jadi silent reader (eh, kalo nggak salah karung pertama kasih deh. Tau ah gelap). Jadi sekalian disini aku beri komentar.

    Emosi ! Mas Noel selalu hebat dalam menggiring emosi pembaca, ditambah dengan dialog-dialog yang sederhana tapi ‘mengena’🙂

    Terima kasih🙂

    Somehow, posisi Erik memang kasihan, dia tak pernah bermaksud menjerumuskan Dimas, dan sekalipun Dimas berbesar hati memaafkannya, rasa bersalah itu akan selalu bercokol di hati Erik. Mirip banget dengan kisah pribadi.

    Seingatku, di ilustrasi Erik ikut dalam perjalanan kan Mas ?
    Kok dia gak ikut ?

     
    • noelapple

      3 Januari 2014 at 22:50

      ih, kamu bisa aja. Erik cuma ngantar sampai Sragen.

       
      • Arial Brahmastral

        3 Januari 2014 at 23:29

        Padahal seru kalo mereka bertiga sama-sama melakukan penjemputan paksa Dimas.
        Denis si saudara kembar. Fandi si mantan terpaksa. Dan Erik si mantan jadi-jadian.

         
      • noelapple

        4 Januari 2014 at 11:06

        nanti kamu disentil Erik, ngatain jadi-jadian!

         
  6. Fauzimam

    3 Januari 2014 at 22:25

    can’t wait!! buat karung 5 nya..😀

     
    • noelapple

      3 Januari 2014 at 22:31

      udah gitu doang?

       
      • Fauzimam

        3 Januari 2014 at 22:40

        sebel sebenernya:/
        udah bisa buka dr jam 10an kurang ehh berhubung lg kerja + pasien banyak pula jadi baru sempet baca, itu pun terputus2..
        #gagalpertamax
        huftt..

        tapi secara keseluruhan, nice mas noel.. (y)
        coba part fandy yg ketemu erick lebih dikembangin pasti kocak and seru..
        nggak kebayang aja, he hehhe..😀

         
      • noelapple

        3 Januari 2014 at 22:44

        Pernah kok, di spin-off ‘Petualangan Fandy’. Dinarasikan secara langsung oleh Fandy tentang sikapnya terhadap Erik. Dia sama sebelnya dengan Denis. Tapi dia tetap bisa maafin juga.

         
      • Fauzimam

        3 Januari 2014 at 22:51

        ohh yg itu ya? yg ceritanya petualangan di gunung lawu..
        oh ya mas noel? ebook CRA-2 udah ada apa belum sih sebenernya? klo ada aku mau dong..

         
      • noelapple

        4 Januari 2014 at 11:08

        #CRA2 tidak dibikin E-book.

         
      • Juliano

        4 Januari 2014 at 11:31

        mas noel boleh minta link yg spin-off petualangan fandy doong.. seinget aku, aku belum baca deh…. terdernganya menarik, mengulik Erik dari sudut pandang Fandy

         
      • noelapple

        4 Januari 2014 at 12:13

        masih dipeti-besikan.

         
  7. iniputra

    3 Januari 2014 at 22:31

    kyaaaaa… keren bang😀

     
  8. pramuda

    3 Januari 2014 at 22:38

    kayak permen nano nani mas….
    hampir nangis aq…
    udah berair nih mata…

    huhuhu…
    mas noel, terima kasih…

     
  9. alvian reimond

    3 Januari 2014 at 23:03

    ya tuhan akhirnya bisa buka juga, kapan bisa posting lagi bang noel ?🙂
    CRA ini memang candu

     
  10. revolverman26

    3 Januari 2014 at 23:32

    Pertama2, makasih udah memancingku dengan password dari Elang Muda, mau tandain buat bener2 baca ni Mas.

    Next, somehow makin ke sini, keinget The Dark Knight Rises, atau Iron Man 3.. Atau banyak seri k3 yg jadi penutup buat sebuah trilogy: sedih, haru, tapi juga ada selingan2nya dan kebangkitan dari sang tokoh utama atas kejatuhan terbesarnya.
    Keep it up yo Mas, thanks a lot xD

     
  11. Panji putra

    4 Januari 2014 at 00:00

    Mas noel memang paling ok, ceritanya jdi tambah seru dan gokil, gax sabar nunggu kelanjutannya mas….

     
  12. sasadara

    4 Januari 2014 at 00:27

    bang noel,, untuk kali ini aq jdi silent reader aja dah ya,, coz,, bingung mau komen apa,,, nggak ada yg perlu di komen lagi deh kayaknya.. udah PERFECT… tinggal nunggu kelanjutanya aja.. tp,, itu bneran kah ayahnya tau??? penasaran dengan apa yg dilakukan denis selanjutnya… huhhffhh,,
    en untuk cerita selinganya,, titip salam buat si pemberi inspirasi mu bang,,, heheheh
    klo bang mau lebih berbaik hati untuk berbagi,, kasih tau nama “rumah-maya” nya dooonnngg… hohohohoho😉

    udah gitu aja.

     
    • noelapple

      4 Januari 2014 at 10:57

      Rahasia. Nanti kalian pada ganjen.

       
  13. farafureya

    4 Januari 2014 at 00:45

    selalu suka scene fandy ditanyain tentang dimas :’)
    juga, analogi tentang rushian roulette nya nancep banget dipikiran : kamu cuma ada di taruhan yang salah.

    overall nggak rugi nungguin karung 4 dari pagi sampe bolak balik ngecek kesini. huff. sangat kangen dimas. berharap fandi-dimas ketemu cepat2.

    ps. nggak tahu sejak kapan jadi menikmati saat saat mencari password. rasanya waktu karungnya berhasil dibuka itu.. ubdescribable >< haaha. cant wait for karung 5. semangat kak!

     
    • noelapple

      4 Januari 2014 at 10:54

      Karena aku ingin kalian juga menikmati membaca CRA sebagai petualangan di dunia maya. Karena petualangan itu asyik. Meski begitu banyak juga ‘petualang’ yang suka mengeluh.

       
      • emyu

        5 Januari 2014 at 16:23

        aku kemaren pas googling keluarnya larasetu, taunya pake pelafalan Jawa. hahaha. dan untuk tinggi, awalnya aku ngira 165 (soalnya dulu pernah baca semua), taunya 167 ._.v
        btw, mas, maaf kalo lancang. itu tinggi karakter di CRA bener segitu, ya? aku tinggi 168 pas kelas VIII loh. sekarang kelas XII 180 aja .-.

         
      • noelapple

        5 Januari 2014 at 17:51

        Saya sudah beri petunjuk bhw cari saja di postingan cerita yang berjudul ‘Elang…’. Jadi tinggal samakan saja cara penulisannya dgn yg ada di situ. Biodata yg ada di blog ini dibuat ketika jaman CRA2 yg mana Fandy masih kelas 1. Di CRA3 dia sudah naik kelas 3, bisa saja sebenarnya tinggi badannya sudah naik.

         
  14. diduluinoranglain

    4 Januari 2014 at 01:03

    Wah udah karung 4 aje.. Gue kagak tau masa..
    tapi biarin deh.. Yang penting gue komen..
    wkwk kirain ga bakal nemu password buat karung 4, tapi ternyata gue cucok juga..
    nah, sekarang dimas nya gmana?
    ayah mereka tau dimas kemana?

     
  15. Koko Reza

    4 Januari 2014 at 01:05

    Gusti! Sedari pagi tadi sudah lebih dari 6 bolak-balik buka blog mu Mas, gak muncul-muncul updatenya, eh sekaline muncul ono kuis maning… But it’s fun! Bikin kuis kayak barusan bikin kita menghargai karya-karya mu yang lain mas, bukan cuma CRA doang. Dan jujur buat ku itu ‘nyentil’ bahwasanya diksi mu itu unik dan kamu itu selalu memberika ‘PR’ kepada para pembacamu dengan pertanyaan dikuis mu itu. Kalau tiap kata yang kamu tulis itu punya makna lain selain membangun sebuah kalimat dalam cerita bersambung. Baru tersadar saat ‘Frangipani’ dan ‘LoroSetu’ ini, ternyata kamu juga mengajarkan hal-hal lain yang nyatanya serinh kita lupakan, tunggu mungkin lebih tepatnya hanya kita lihat sebelah mata. Kamu sangat Filosofis dalam menulis, mangan opho tho mas?

    One question, kamu ini kenapa wawasanya luas banget ya? Hampir tiap tulisanmu punya setting berbeda dengan rentetan detail yang tinggi dan rapih? Mulai seluk-beluk kota solo, keliling bali, suasana di Thailand, sampai perkebunan kopi di Afrika ini semua bikin makin ‘ngeFans’ sama kamu mas noel.

    Btw noel itu nama asli kah? Kau lahir ketika natal kah?

     
    • noelapple

      4 Januari 2014 at 10:51

      Tiap orang pny bidang wawasan masing2. Banyak juga yg aku tak tahu dan kalian lebih tahu.

       
  16. penggemar setia

    4 Januari 2014 at 01:36

    akhirnya bisa baca karung 4…..
    asli terkejut pas tau klo bokapnya denis tau klo dia pergi ke bali….
    jadi penasaran kok pada gak dikasih tau si denis ama bokapnya….
    thx mas dah buat cerita yang keren kayak gini…
    tinggal menunggu karung 5 dst…..

     
  17. harry092

    4 Januari 2014 at 01:45

    berhasil buat penasaran lagii…
    dika itu bukannya yang akhirnya jadi pacar mas awan di cerpen “dibawah langit bali” ya?
    rada lupa, yang di forum dulu?!
    pasti ntar ada hubuganya sama “cerpen dibwah langit bali”… coba nebak.

     
    • noelapple

      4 Januari 2014 at 10:44

      has been obviously since #CRA1.

       
  18. grik

    4 Januari 2014 at 03:38

    Masa sih papanya dimas kasih duit dimas buat kabur??
    selama ini belum diceritakan tanggapan/komentar orangtua dimas&denis tentang kaburnya dimas ya??

     
  19. pramuda

    4 Januari 2014 at 06:16

    spin off nya fandy dimana ya mas?

     
    • noelapple

      4 Januari 2014 at 10:35

      Kapan-kapan ditayangkan lagi deh.

       
      • pramuda

        4 Januari 2014 at 14:29

        oke mas, terima kasih sebelumnya…
        ditunggu…

         
  20. anisamei (@AnisameiAnisami)

    4 Januari 2014 at 08:45

    A-akhirnya! YA AMPUN~~~~~ Tau nggak kak? di password tadi aku udah keringat dingin lho! tinggi fandy ku urut dari 185 :3

    LANJUT YA KAK! LANJUT! DAN KALO KASIH PASSWORD JANGAN SUSAH-SUSAH~~~~~~~~~~

    TTTTTTTTT_______________________TTTTTTTTTTT

     
    • noelapple

      4 Januari 2014 at 10:34

      Tinggi amat si Fandy, 183😀

       
      • emyu

        6 Januari 2014 at 22:02

        oh.. tingginya sekarang 183?😮

         
      • noelapple

        7 Januari 2014 at 10:50

        Mis-persepsi. Sekarang kira-kira 170an lah. Tak terlalu tinggi kok.

         
  21. akyuza

    4 Januari 2014 at 10:45

    part ini emosinya gado2 kak, udah gitu aja ihihihihi😄 dari yg bikin “grrrr kak noel minta dicium bgt sih masa pk pw lg -“- ” wkkkk *disambit sendal* tp ya dg senang hati agak terpaksa #plak aku hrs ngobok2 blogny lg😄 rasanya parjuangan(?) nyari pw tuh bkn kesel tp nyenengin jg.. iya aku jg suka sm kata2nya sederhana tp ngena. smg dimas cpt ketemu T.T aku kangen momen dimas-denis eyel-eyelan gt.

     
  22. yanz

    4 Januari 2014 at 11:39

    aduuhhh seruuu abis … thank mas noel…… seru pada saat mereka bercanda tawa…

     
  23. PinPin

    4 Januari 2014 at 12:19

    Pertama kalinya baca tulisan mas Noel dengan perjuangan memecahkan password.. ^^
    lebih berasa “wah” bacanya karena dengan sedikit perjuangan.. hehe..

    cerita karung 4 bikin emosi naik turun.. kayak naek roller coaster..
    jd penasaran karung berikutnyaa.. (kapan mas?? :p)
    tp membayangkan perasaan denis di bagian terakhir bikin nyesek jg.. T_T
    semoga dimas cepat balik ke rumah.. tp klo uda balik jadi abis ceritanya dunk..
    lamain aja d, mas. biar bs baca lebih lamaaaa.. hoho

    tetep semangat ya, mas Noel.. ^^

     
  24. mbul

    4 Januari 2014 at 13:09

    setiap selesai baca karung2 mas noel, tiba2 saya ingin traktir kamu makan. yuk mas ..

     
  25. shappire

    4 Januari 2014 at 15:03

    astajim…..dari td pagi nyoba2 ga cocok2…
    ga nyangka ditulis lorosetu soalnya kan biasanya huruf o ditulis a jd ane nyobanya larasetu, hufth tapi ya sutralah bang noel emg keren pokoknya dah

    ehm jangan2 ayahnya dimas emg udah tau kali ya klo dimas di bali
    still waiting for next chapter🙂

     
  26. Rickk

    4 Januari 2014 at 15:33

    Di karung 2 saya pernah comment kl ayah Dimas tau keberadaan Dimas,kyaknya benar begitu.Seperti biasa percakapan dlm cerita ini selalu menarik dan gak ngebosenin.Semoga karung selanjutnya bisa lebih ”berat” lg.O ya,si Ricky kapan dilanjutin mas?

     
  27. bink

    4 Januari 2014 at 16:49

    di CRA 2 waktu mreka semua ngumpul d rumah dimas karakter mreka begitu hidup, tp scene karung 3 ini sya g bisa merasakan kesan sperti dlu lg, justru pola pikir penulis yg cnderung trlihat d setiap karakter yg trlibat disini.. maaf itu yg sya rasakan ketika mmbaca ini.

     
    • noelapple

      5 Januari 2014 at 18:14

      Tak apa-apa. Cuma perlu dimengerti, situasinya berbeda. Di CRA2 adegan jamuan dalam suasana rekonsiliasi saling maaf. Di adegan kali ini dalam suasana kalut. Di sini Ben berusaha menjadi pencair suasana. Tapi tetap tak bisa menutupi bahwa mereka sedang sedih.

       
  28. emyu

    4 Januari 2014 at 17:05

    ini salah satu part mengharukan selanjutnya

     
  29. bink

    4 Januari 2014 at 17:23

    maksudnya karung 4 mas, sya suka karung 1&2 karakter keluarga dimas begitu hidup terutama karakter denis…

     
  30. ray_har

    4 Januari 2014 at 17:41

    wow akhirnya bisa baca juga, setelah bongkar2 biodata anak2 CRA, spt biasanya mas Noel selalu bisa membuat dialog2 yg cerdas ya.. pengen nambah komen lagi tp gk tau mau komen apa lagi hehe🙂

     
  31. AditaKID

    4 Januari 2014 at 19:28

    ehem, tes tes, 123..
    oke, saya akan mulai komentarnya yaaa..
    di karung 4 ini saya deg2.an bacanya..
    sama kaya perasaan Denis..
    kaget juga pas baca penuturan Mas Awan, yang katanya Dimas udah bilang ke papahnya..
    jadi selama ini papa.nya udah tau gitu Dimas mau pergi dan pergi kemana?
    jangan-jangan Dimas punya uang juga dari papa.nya lagi ya? #plak *so tau* wkwkwk ^__^v
    yah oke dah, kebenaran emang belum keungkap..
    tapi sedih juga baca di endingnya, mereka semua bakal bener2 pisah ya?
    dan ah ya saya penasaran, kalau misha milih IPB sma Undip, Denis sebenernya milih SNMPTN kemana? saya penasaran –a
    dan yah Denis itu labil kali ya? entah lambat? kan kasian Misha di gantung terus, cewek suka was-was kalo digituin, hhhaa xD
    Dimas itu tinggal di Badung sma Mas Dika? itu pacarnya Mas Awan ya?
    kenapa gk tinggal sma Mas Awan aja ya?
    yah, dripada penasaran terus, mending tunggu lanjutannya geh yaaa…
    oke dah, saya tunggu bang lanjutannya ^^d

     
  32. kaktus

    5 Januari 2014 at 02:22

    et dah baru tahu klo akar wangi itu “loro setu”,,
    sudah berhasil msk tp lg males baca ni mas noel…

     
  33. teyo

    5 Januari 2014 at 03:22

    Mas noel gak ada matinya selalu bisa bikin emosi bercampur jadi satu mulai dari ketawa sampe nangis. Empat jempol dah buat mas noel hahaha😀

    Di tunggu karung selanjutnya🙂

     
  34. Oong IKu YO Onky

    5 Januari 2014 at 10:56

    aaaaah dah lama g baca ceritanya kak noel >_< makasih banyak atas ceritanya ya kak😀

    semangat ya kak😀 aku tunggu lanjutannya :3

    etto CRA 2 kapan nih mau di novelkan? makasih😀

     
  35. Madam

    5 Januari 2014 at 11:56

    Aku lupa kalo penulisan “a” di bahasa Jawa dibaca “o”, soalnya di google penulisan akar wangi itu “larasetu”. Aku keturunan Madura jadi belum tau kalo penulisan “larasetu” dibaca “lorosetu”.

    Kalo cerita sih kok datar-datar aja. Apa karena akunya yang ga mood baca? Ntahlah. Kurang greget menurutku😀

     
    • noelapple

      5 Januari 2014 at 17:58

      Agak rumit menjelaskan kaidah penulisan antara huruf ‘o’ dan ‘a’ dalam bahasa Jawa. Tapi setahu saya mmg ditulis ‘loro setu’. jika ditulis ‘lara’ maka artinya adalah ‘sakit’. jika ditulis ‘loro’ maka artinya adalah ‘dua’. Tapi saya menduga bahwa kata ‘loro’ dalam ‘loro setu’ berbeda arti lagi. Sepertinya perubahan bentuk lafal kata ‘roro’, yg berarti ‘nyai’ atau ‘gadis’. Bahasa Jawa memang rumit.

       
  36. hayabusa ryu

    5 Januari 2014 at 23:03

    mas mas… untuk yg petualangan fandy bakal d remake ga mas… ceritanya bakalan berubah ga mas? aq agak lupa sih. tp mas noel tau kan apa yg aq mo tanyain? tengkyuuu…

     
  37. harryboc

    5 Januari 2014 at 23:51

    om noel, ngomong ngomong petualangan fandy nya kemana ya? hehehe

     
  38. Syai

    6 Januari 2014 at 15:25

    Hampir stres gara-gara salah input kata2 pasaword even I knew the answer.

    Anyway, really good job, Noel. You brought a new perspective for the series. Gak berkutat ke Dimasentris, tapi sekarang berpindah ke Denis.

    You really know how to treat your readers, and make them addicted to any single update of your story.

    And at the top of that, you know how to “sell” your blog! 4 starts for you.

     
    • noelapple

      6 Januari 2014 at 15:41

      Thank you. Karena Dimas-Denis adalah kembar, tak adil rasanya jika Denis tak pernah ditampilkan memiliki narasinya sendiri. Sekarang saat untuk itu.

       
  39. iniputra

    6 Januari 2014 at 17:39

    duh bang noel ngambeg nih.. speechless bang mau komen gimana…😀 btw ini latar tahunnya spesifiknya kapan ya bang?

     
  40. andrew

    7 Januari 2014 at 02:13

    Kehebatan mas noel pertama menciptakan ‘sesuatu’ yang akan membuat seseorang untuk membaja di part berikutnya. Dan saya akui untuk hal itu saya ga bisa hehe..

    Penulisan baik, alurnya juga. Walaupun agak sedikit menoton di awal. Mungkin karna semuanya pada sedih..

    Dan sampai sekarang masalah Denis-Misha masih belum ada kejelasan. Mungkin inilah strategi mas noel sepertinya untuk membuat sosok Denis ini menjadi kelihatan lebih tertutup soal ‘perasaan’

    Masalah Dimas, saya tau kemana perginya di karung 1. Karna disaat CRA 1. Orang yang baik terhadap dia itu hanya teman nya mas Awan. Dibali. Tapi dimananya sayanya ga tau. Mungkin saya akan melacak lagi didalam tulisan ini hahaah..

    Ditunggu karung 5.🙂

     
    • noelapple

      7 Januari 2014 at 10:51

      Analisamu jitu. Tapi Dimas orang yang penuh kejutan lho.🙂

       
  41. suanto syahputra

    7 Januari 2014 at 23:31

    maaf, selama ini menjadi silent reader. cuma bisa bilang tulisan mas menarik saya untuk membaca bagian selanjutnya. ditunggu mas bagian selanjutnya

     
  42. Ordinary Adi

    8 Januari 2014 at 23:37

    keren, ditunggu next chapter-nya,,

     
  43. alvin

    10 Januari 2014 at 02:48

    waduhh.. tk kira karung 5 udh di post..
    keburu BT nunggu bang noel.

     
    • noelapple

      10 Januari 2014 at 09:52

      kalau bete ya sudah, ga usah nunggu.

       
  44. Didik Edy

    10 Januari 2014 at 15:07

    Saat Dimas kelas satu, dia ke rmh Erik mau kasih hadiah ultah, dikejutkan oleh munculnya adik Erik sampai2 dikira tuyul. Setelah lulus sma, Denis dkk dikejutkan juga oleh anak yg sama. Kok sptnya adik Erik belum bertambah besar, padahal kan udah lebih dr dua tahun?

     
    • noelapple

      10 Januari 2014 at 15:52

      sebut saja usianya 4 tahun di CRA 1. di CRA 3 berarti masih 6 tahun. masih kecil juga umur segitu.

       
      • alvin

        10 Januari 2014 at 21:13

        jiaahhh mlah dbkin tmbah BT lgi sma balesanya…
        .tpi kalau hri ini mgkn blum di posting ya bang. hari ini agendanya mgkn nglepas passwordnya dlu. nah karung 5nya minggu depan lagi.

        #guling-guling

         
      • alvin

        11 Januari 2014 at 01:13

        untuk kesekian kalinya buka cra 3 msh blum jga ada karung 5nya..
        ok.. keep waiting..

         
  45. chima

    10 Januari 2014 at 22:27

    jd yg biayain Dimas itu papany. Si Dimas mau refresh pikranny di Bali. Haduh kakak, dirimu buat diriku tak sabar baca karung 5ny😦

     
  46. leo20xx

    11 Januari 2014 at 08:30

    Kesan pertama baca CRA#3 itu apa ya?
    Seru dan asik.
    #udah gitu aja.

    -Ninggalin jejak-

     
  47. harry092

    11 Januari 2014 at 13:20

    khayangan senja tempat sitara mencari kisah
    kisah…
    begitu perumpamaannya,,,

    kisah…
    kisah diantara dua gunung
    ya, gunung…
    gunung yang berseru serta cemburu
    dewata….
    kisah tempat para dewa
    hingga kisah antara sahabat dan pengabdi Buddha
    yang masih terselimuti tabir abu-abu
    ya…
    masih abu-abu
    dan sekarang panca
    panca…
    masih dikandung oleh penciptanya
    walau sepenggal,
    dan tak lekang waktu
    aku tetap menunggunya

    “seperti paksi merindukan gendis”
    atau…
    seperti “sitara tak pernah mengeluh ketika menanti sakwari”

    seperti aku menantimu
    panca…

    (panca =5= karung 5)

     
    • noelapple

      11 Januari 2014 at 17:33

      Paksi tak pernah merindukan Gendhis. Dia cuma merasa berhutang budi dan mengkuatirkan keselamatannya.

       
      • bayu

        11 Januari 2014 at 23:02

        cowo” yg suka cerita ini rata” Gay semua iaa bang??
        mnrtku cerita ini dibuat sbgai sarana penyampaian hati si penulis.untuk mengemukakan sndiri pndptnya tntang kaum gay lwt sosok dimas.memang kompleks sh tpi direalita hidup sosok dimas n awan yg drestui orng tuanya di indonesia sya rasa gak ada.
        maaf bang ini cuma pendapat saja.

         
      • noelapple

        11 Januari 2014 at 23:52

        Kamu aja yg gak tahu. Bahkan utk kota kecil seperti tempat aku tinggal, nggak cuma aku yang diterima oleh keluarga. Wake up!

         
      • bayu

        12 Januari 2014 at 00:06

        tpi jarang bang noel. oh kalau gitu brrti di daerah situ aja. mgkn jga krn anda n saya beda keyakinan.
        semua orng tua mgkn akan bsa nrima kekurangan anaknya.oh ya bang noel aq mau tanya .apa gay bsa dsmbuhkan bang?aq tdk mnybut gay itu sakit.
        tpi untuk cerita ini kok gk ada bgian dimas brusaha jdi orng normal

         
      • noelapple

        12 Januari 2014 at 00:26

        Sebelumnya kamu bilang ‘gak ada’, sekarang kamu bilang ‘jarang’. ‘Jarang’ dan ‘tidak ada’ bukan makna yang sama. Kalau kamu tidak mau menyebut ‘sakit’, kenapa kamu pakai istilah ‘sembuh’? Soal keyakinan, ada juga kawan saya yang Muslim dan dia diterima keluarganya sebagai gay. Saya pernah melihat aktivis waria yang berjilbab. Yang Kristen, tak sedikit juga yang menolak gay. Doktrin agama memberikan bahan pertimbangan kepada pemeluknya, tapi tidak pernah menyeragamkan pola pikir. Sebut saja, ada berapa aliran dalam agama anda, begitu juga dalam agama saya banyak aliran. Bahkan satu aliran juga tak selalu sejalan pola pandangnya terhadap suatu masalah.

        Fokus cerita ini bukan ttg kehidupan gay yang ingin jadi ‘normal’. Saya tidak tertarik menulisnya. Ini cerita gay yang sudah merasa normal sebagai gay.

         
  48. ayuna03

    28 Januari 2014 at 09:57

    Duh . Nggk bisa bayangin deh . Giman dag dig dug.nya baca ni novel .. Nggk tau aku harus nangis berderai . Atau terbahak tawa . Atau bagaimana .. Tapi yang pasti that’s PERFECT

     
  49. ayuna03

    28 Januari 2014 at 10:01

    Duh . Bang noel ini benr kan .. Aku bingung harus gimana .. Menangis . Atau tertawa .. Tapi yang pasti oret oretannya bang noel itu PERFECT

     
  50. kazekage

    4 Februari 2014 at 16:35

    Dikarung ini rasanya sedikit hambar. Hehe, ga tau sih yang bikin hambar apa, ga kayak biasanya.. Imajinasiku ga dapet😥

     
  51. imt17

    5 Februari 2014 at 01:43

    Awan : hati orang tidak ada yang tahu ya bli,

    Mikir sejenak gw yang ini,maknanya dalem banget. . .

     
  52. purie

    4 September 2015 at 00:31

    titik terang nih…
    nah kan pantesan papa nya dimas agak tenang gtu,emang kyaknya beliau udah tau deh…

    ini lagi lagi cemas malah becandaan kn koplak ealah ealahh

     
  53. Kodil

    27 Maret 2016 at 17:49

    Akhirnya kesampean juga mau komen dimari wkwk
    Emang rencananya baru mau baca setelah cra3 ini kelar, tapi emang kayaknya udah agak gak tahan haha
    Mau komen sedikit aja nih mas noel
    Ceritanya asik banget, terutama chapter ini, komedinya berasa
    Cuma entah kenapa setelah aku baca, kok denis jadi agak kehilangan jati dirinya ya?
    Maaf nih mas sebelumnya. Maksudnya, kalo gak salah di cra sebelumnya pernah pake pov denis, tapi dia pake gue-elo, bukan aku kamu kayak gini deh. cmiiw. Jadi menurutku bakal lebih berasa aja identitas denis yang pake gue-elo saat dialognya, mas. Kalo saat narasi sih menurutku wajar, maksudku memang mungkin hampir semua narasi menggunakan kata yang sopan dengan aku-kamu. Tapi kalo untuk dialog, yang tadinya mas pake gue-elo di sebelumnya trus tiba2 pake aku-kamu, entah kenapa jadi beda aja rasa “machonya denis” gitu hehe
    Tapi overall keren banget mas. Aku seneng mas masih mau nerusin cerita ini walau sempet hiatus lama. Untung aku juga sabar ngecek blog mas hampir setiap bulannya buat liat update-an cerita hahaha
    Aku malah iri, soalnya aku terpaut kerjaan, kuliah, gaming dan rasa malas jadi banyak proyek cerbungku yang nganggur wkwk sukses terus mas noel! Aku lanjut baca ya~

     
    • noelapple

      29 Maret 2016 at 12:03

      Denis kadang masih pakai “lu-gue” di saat emosional.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: