RSS

Karung 5

 
 

Karung 5

Jangan Ada Yang Terkucil

 
 
 

Aku sengaja menunggu sampai agak malam. Menunggu sampai Mama tidur dulu. Jadi aku lebih leluasa untuk membicarakan masalah ini dengan Papa. Empat mata di beranda, kuceritakan tentang surat dari Dimas. Soal keberadaannya di Bali. Soal temannya yang bernama Awan. Soal keterlibatan Papa yang aku baru tahu sore tadi! Aku mengungkapkan kekesalanku atas rahasia itu.

Itu nggak adil!

Papa terdiam. Tampak gelisah. Ada perasaan bersalah di mimiknya. Serba salah.

“Aku masih menunggu penjelasan Papa,” tekanku.

“Iya. Memang Papa yang mengijinkan Dimas pergi…” ucap Papa pelan. Asap rokok terlepas kacau dari mulutnya.

“Kenapa Papa sembunyikan itu? Tujuan Papa apa, sih?!”

Kalau yang di hadapanku bukan seorang ayah, pasti sudah kuluapkan kemarahanku sejadinya. Dia yang kasih ijin dan tahu Dimas pergi ke mana, tapi membiarkan aku dan Mama mengira dia minggat! Membiarkan kami selama ini diaduk-aduk oleh perasaan marah dan kehilangan, apa maksudnya?!

“Denis, ini dia sendiri yang minta,” jelas Papa. “Kamu sendiri tahu, dia dalam keadaan tertekan di sini. Dia butuh ketenangan…”

“Terus membiarkan dia pergi begitu saja jauh-jauh ke Bali? Diam-diam? Aku nggak boleh tahu? Kenapa?”

Tatapan Papa tanpa arah. “Ya… ini mungkin memang terdengar egois, dan sembrono…”

“Jelas, lah!” sahutku. “Selama ini kita selalu membesarkan hatinya. Terus dia malah pergi, lewat cara sekongkol dengan Papa. Kenapa aku nggak dikasih tahu, padahal selama ini aku juga selalu dukung dia? Itu nggak adil!”

“Tapi ini adil buat Mama,” ulas Papa, bikin aku tambah bingung. “Denis, Papa bukan bermaksud tak adil ke kamu. Kami sengaja tidak memberi tahu kamu, demi menjaga hati Mama…”

“Maksud Papa, aku nggak bisa dipercaya untuk jaga rahasia?”

“Justru Dimas bilang, kamu bisa dipercaya. Karena itu, kalau kamu juga tahu Dimas ada di mana, bukankah tinggal Mama sendiri yang tidak tahu? Bukankah diam-diam kita sudah mengucilkan Mama?”

Tiba-tiba aku terdiam. Lama. Kutatap wajah Papa yang samar-samar di balik kepulan asap rokok. Wajah yang seperti berkabut, wajah yang tak pernah marah itu. Wajah yang sebelum Dimas pergi, tak pernah kulihat bersedih. Sekarang wajah itu begitu kalut. Sama denganku.

Memahami Dimas seperti menemui banyak persimpangan di tengah jalan. Dia seorang yang egois? Seorang yang tersingkir? Ataukah seorang yang peduli? Aku bingung memahaminya.

“Setelah semua perlakuan Mama, kenapa dia masih begitu memikirkan Mama?”

“Dia memikirkan kita semua,” ucap Papa. “Dan nggak cuma Dimas yang memikirkan Mama. Kita juga, kan?”

“Lalu kenapa dia malah memilih pergi?” lontarku sinis. “Memangnya itu bisa jadi solusi? Aku nggak yakin, Pa.”

Papa menunduk. “Ya. Sekarang Papa juga nggak yakin….”

Jantungku berdesir. Alisku merapat. “Apa lagi maksud Papa? Sekarang nggak yakin?”

Papa mengusap-usap dagunya. Kikuk. “Denis, Papa mengijinkan Dimas pergi karena dia mau berjanji, bahwa dia akan pulang pada waktunya…”

“Kapan?”

“Harusnya minggu-minggu ini. Dia harus mengurus ijazahnya, kan? Papa minta agar dia tetap meneruskan kuliah. Papa mengijinkan dia menenangkan diri, ke tempat yang dia yakin bisa. Tapi bukan untuk mengabaikan masa depannya. Dia bilang setuju, berjanji pasti akan pulang pada saat yang seharusnya. Papa pikir, dengan membiarkan dia pergi maka ini juga akan menjadi kesempatan bagi Mama untuk belajar…”

“Belajar?”

Papa mengangguk pelan. “Belajar. Kepada rasa kehilangan. Supaya Mama bisa lebih menerima Dimas saat dia kembali.”

Wajah Papa terlihat menerawang, seperti menembus waktu yang sudah-sudah. Kemudian, dia bercerita tentang kami.

“Sebelumnya, Papa dan Mama juga sudah belajar dari perasaan seperti itu. Perasaan kehilangan. Yaitu saat memisahkan kamu dari keluarga ini. Kamu pasti bisa mengerti, saat kamu diberikan ke Tante di Medan, itu bukan untuk menyingkirkan kamu. Kita ingin membantu keluarga di Medan yang sudah lama ingin punya momongan. Kamu… selalu dirindukan selama itu. Kami menunggu saat-saat itu, di mana kamu bisa bersatu lagi dengan keluarga ini. Tujuh tahun, kedengarannya tak terlalu lama. Tapi untuk perasaan rindu orang tua kepada anak, itu sangat lama. Sembilan bulan Mama menggendong kalian di dalam perut, sedekat itu dan tak terpisahkan. Tapi, tetap tak terkira rindunya menunggu saat kalian lahir, demi melihat wajah kalian. Papa saksinya. Papa juga punya rindu yang sama. Dia tetap seorang ‘mama’, yang pasti akan merasa kehilangan….”

Aku termangu. Pertama kalinya bagiku, mendengar Papa bercerita tentang itu. Rasa rindu orang tua kepada anak. Kepada kami. Dulu rindu itu cuma kulihat pada raut wajahnya. Sekarang rindu itu tiba-tiba menjadi ucapan. Apakah karena kali ini adalah kehilangan yang lebih besar?

Tiba-tiba perasaan iri muncul….

Kenapa akulah yang dulu direlakan ke Medan? Kenapa bukan Dimas? Apakah karena dia lebih disayang?

Ah, tapi aku ingat. Dua tahun lalu, saat aku berada di antara dua pilihan: pulang ke Medan, atau pulang di sini, Mama memberiku jawaban atas pertanyaanku itu. “Kenapa Papa dan Mama memilih melepasmu? Karena kamu lebih kuat dari kakakmu. Kamu lebih kuat untuk dipisahkan. Kamu pasti akan baik-baik saja.”

Jawaban itu membantuku untuk percaya, bahwa aku bisa tinggal di sini lagi setelah tujuh tahun dipisahkan. Bahwa aku juga akan dibutuhkan Dimas di tengah-tengah pilihan hidupnya yang riskan itu, karena aku dipandang lebih kuat. Meski sebenarnya tak selalu begitu. Dan, pertanyaan itu juga tetap sesekali muncul, seperti sekarang: apakah kepergian Dimas adalah kehilangan yang lebih besar, dibanding saat aku meninggalkan mereka?

“Akhirnya, ini memang menjadi tidak adil….” Papa menyambung tuturnya, membelokkan lagi pergumulanku. “Papa membuka ini semua, di saat sudah terlambat. Di saat Dimas sudah telanjur menghilang….”

Dadaku menyesak. “Sekarang Papa juga kehilangan jejaknya?”

Papa membuang napas, mengungkapkan penyesalannya. “Papa menitipkan dia di tempat kawan lama Papa, seorang pengusaha penginapan di Denpasar. Sebulan pertama, Dimas masih mengabari Papa. Dia selalu beri kabar kalau dia baik-baik saja di sana. Tapi di bulan berikutnya, kawan Papa mengabari kalau Dimas sudah pamit pulang ke Solo. Saat Papa hubungi, nomor Dimas sudah tidak aktif lagi. Papa hubungi kawan-kawan yang lain, agar mengabari kalau tahu keberadaan Dimas. Tapi sampai sekarang tidak juga ada kabar. Dia benar-benar menghilang….”

Ffhhhh…. Papa telah melakukan kesalahan besar. Semua siasatnya yang disusun bersama Dimas dan disembunyikan dariku, akhirnya berantakan! Ternyata Dimas tak bisa dipegang!

“Papa kepingin ngomong ke kamu. Tapi Papa bingung harus bagaimana menjelaskannya. Bingung dan malu.”

Sekarang Papa menyesali tindakannya. Namanya penyesalan memang selalu datang belakangan.

“Kalau Papa nggak bilang, memangnya masalah akan selesai dengan sendirinya? Setidaknya aku bisa ikut mikir kalau Papa mau terbuka sejak awal. Yang pasti Dimas masih di Bali, suratnya dikirim dari Badung!” tandasku, menepukkan amplop surat berperangko bunga itu di meja. Lalu aku menyelidik lagi, “Papa masih mengirim uang ke rekeningnya?”

“Kalau Papa berhenti mengiriminya uang, apakah lantas Dimas akan pulang?”

“Kalau Papa masih mengirim uang, ya dia tambah senang di sana! Tambah nggak mau pulang! Pantas dia betah tiga bulan di sana!” aku menggerutu. Menahan kesal!

“Papa kuatir kalau dia kenapa-napa. Setidaknya jika ada uang, dia akan tertolong kalau butuh apa-apa. Mungkin dia tidak akan pulang secepatnya. Tapi yang penting dia selamat.”

Aku sungguh heran. Masalah Papa bukan karena dia itu penyabar. Tapi karena dia terlalu lunak! Anaknya minggat, masih juga dikirim uang?! Dulu aku menyukai sikap lunaknya itu, tapi sekarang kecewa atas ketidakmampuannya bersikap tegas.

“Selama dia tidak pulang, kita nggak tahu dia selamat atau tidak. Jadi, dia harus pulang! Tinggal satu solusi, Pa, aku akan jemput dia!” tandasku bulat.

“Bali itu luas, Denis. Badung juga!”

“Aku akan terus cari informasi. Aku sudah tahu beberapa temannya di Bali. Kalau sudah cukup info, aku akan berangkat ke sana mencarinya. Papa nggak bisa cegah aku! Dimas yang tujuannya nggak jelas aja Papa kasih ijin, kok!”

Papa tak bisa melawan kemauanku, meski raut wajahnya tampak memohonku untuk tidak pergi.

“Aku ngerti, Papa merasa kehilangan. Tapi nggak cuma Papa, aku juga merasa kehilangan. Dan Papa juga bisa lihat, kan… Mama tiap hari murung? Mama sudah cukup merasa bersalah. Tujuan Papa agar Mama belajar dari rasa kehilangan, mungkin itu memang berhasil. Tapi kalau kita nggak bisa memulangkan Dimas, keberhasilan Papa itu akan jadi bencana yang lebih parah!”

Papa mengusap-usap tengkuknya, merapatkan mata. Berpikir keras. Tampak berat ketika mengangguk. “Oke, oke… Papa nggak akan cegah kamu. Tapi kamu harus pastikan dulu tempat yang mau kamu tuju itu jelas. Dan kamu harus…”

“Aku sudah ngerti, Pa!” aku memotong. “Aku pasti akan terus kabari Papa. Aku nggak akan kayak Dimas yang ngilang dan bikin repot orang!”

Papa mengangguk-angguk. Tersenyum kikuk. Menghisap rokoknya lagi, tapi baru sadar puntungnya itu sudah mati. Dia mengganti rokok yang baru. Tapi dia menumpahkan korek apinya, berceceran di lantai. Pelan dia memunguti batang korek itu satu-satu.

Aku terpana….

Tiba-tiba hatiku seperti tertampar. Kulihat, Papa hanyalah seorang ayah yang lembut hati. Dia hanyalah seorang ayah yang pendiam dan penyayang, tapi dikhianati oleh anaknya sendiri. Seperti apa rasanya jika hatinya yang besar itu menjadi kosong, karena ditinggalkan oleh anak-anak tersayangnya?

Tiba-tiba aku merasa menyesal.

“Maaf, Pa… aku nggak bermaksud nyalahin Papa….” kataku, gagu. Kutekan erat mataku, malu untuk meneteskannya.

Papa menepuk pundakku. Pelan. “Memang Papa yang salah. Justru Papa senang masih punya kamu. Tinggal kamu harapan Papa sekarang….”

Aku mengangguk. Sekuat hati menepis rasa sedih dan marah yang terus berbenturan. Ingin menggantinya dengan ketegaran seperti milik seorang ayah yang ada di hadapanku. Aku ingin bisa!

Papa bercerita dengan suaranya yang tak lagi terdengar lemah bagiku. Bukan, dia bukan ayah yang lemah. Aku keliru. Dia adalah ayah yang sanggup menyejukkan hati seorang anak pemarah sepertiku…

“Di mata Papa, kalian itu seperti dua sayap timbangan. Kalian mengimbangi harapan-harapan keluarga ini dengan apa adanya kalian. Kalian istimewa dengan cara kalian masing-masing. Mungkin ini pertama kalinya Papa katakan, kenapa hanya ada dua anak di keluarga ini? Menurut program KB, dua anak itu cukup. Tapi bukan itu alasannya. Papa dan Mama sepakat, kalian sudah lebih dari cukup.”

“Papa bercanda…” dengusku, ada rasa rikuh mendengarnya.

Papa tertawa renyai. Gurat galaunya sedikit pupus.

“Bukankah sebenarnya ada yang ketiga, Pa?” aku menyinggung sepenggal riwayat keluarga. Satu cerita yang kami sering menghindar untuk mengungkitnya. “Aku masih punya adik, kan?”

Papa tercenung sesaat. “Ya…” gumamnya mengenang, “Mama sangat ingin punya anak perempuan. Empat tahun setelah kalian, adik kalian lahir… dalam keadaan gugur. Dia belum sempurna. Tapi sudah bisa diketahui, adikmu itu juga laki-laki….”

Dan, tak hanya seorang bayi prematur yang lahir, tapi juga satu perasaan yang menyakitkan ikut lahir. Sesungguhnya keluarga ini telah sejak dulu belajar kepada rasa itu. Kehilangan….

“Kita ingin bayi perempuan,” lanjut Papa, “tapi Tuhan memberi bayi laki-laki. Meski tidak sesuai harapan kita, kita tetap sedih kehilangan dia. Kita jadi sadar, sesungguhnya anak adalah karunia. Tidak selayaknya menjadi ambisi.”

Perasaan iri yang pernah mengusikku, semakin luluh. Bahkan kata-kata Papa membuatku malu, karena aku pernah meragukan ketulusan kedua orang tuaku.

“Kalau kita ingin Dimas pulang, itu bukan ambisi, kan, Pa?”

Papa mengulas senyum tipis. “Bukan. Karena Papa yakin, sesungguhnya Dimas juga ingin pulang. Kita hanya perlu memulihkan keyakinannya.”

“Menurut Papa, aku bisa meyakinkannya?”

Papa menatapku, memberiku keyakinan. “Ketika dulu kamu dipisahkan, Papa percaya kamu pasti bisa. Kali ini, Papa percayakan lagi padamu.”

Puncak percakapan kami adalah pesan Papa, untukku dan Dimas…

“Kalau kamu menemukannya, katakan padanya. Dia tak perlu takut lagi. Ajak kakakmu pulang.”

Kupegang pesan itu sebagai amanat.

Persekongkolan Papa dengan Dimas yang gagal itu tak perlu dibahas lagi, tapi terlebih penting adalah jangan diulangi. Fokus saja pada tujuan, yaitu menemukan Dimas dan mengajaknya pulang. Maka aku juga berpesan kepada Papa, “Tolong katakan juga kepada Mama tentang rencana ini.”

Agar tak ada yang terkucil.

Kami sepakat.

Tapi pencarian masih butuh banyak persiapan. Aku masih harus memastikan di mana tepatnya Dimas berada, di Bali yang luas itu. Aku masih belum benar-benar tahu. Tapi setidaknya malam ini aku sudah menyicil perasaan lega, karena aku sudah berbagi tujuan dan kejujuran dengan Papa. Ya, ‘berbagi’ tidak membuat kekuatan kita menjadi terbagi-bagi. Justru kekuatan menjadi semakin bulat. Rumus yang ajaib, kan?

Aku juga lebih bisa mensyukuri niat Fandy, yang mau bergabung dalam rencana ini. Semula, tekadnya itu kuanggap merepotkan. Sekarang aku paham, seharusnya aku tidak sinis kepadanya. Dia seorang ex-boyfriend yang masih mencintai mantan kekasihnya. Sejak ketahuan orang tuanya, perasaannya pasti sudah cukup terkucil. Dia ingin membuktikan bahwa dia masih bisa memperjuangkan sesuatu yang dia yakini, meski caranya tak akan membuat orang tuanya senang. Aku punya keyakinan, dia akan ada gunanya dalam pencarian ini.

HP-ku berbunyi, memecah kehingan kamar. Sebuah SMS masuk.

“Aq dngr dr Erik, ktnya qmu mau cari Dimas ke Bali?”

Hatiku kembali terasa dibesarkan saat membaca SMS dari Misha itu. Aku merasa dia ikut memberikan perhatiannya.

Balasku, “Iya. Mau ikut, Mis?”

Aku berharap dia menjawab ‘ya’, biarpun terasa memaksakan situasi. Secara dia cewek, Bali itu jauh, dan aku sendiri belum tahu akan berapa lama mencari Dimas di sana. Kalau dia mau ikut, setidaknya aku ke Bali tidak berduaan saja dengan sesama cowok, si Fandy itu.

Tapi ternyata jawaban Misha tak memenuhi harapanku. “Sorry. Ortu psti ga akn ksih ijin. Aq doain aja smoga qmu brhsil.”

Harapanku ditolak. Jemariku tiba-tiba ingin menjadi lebih liar. “Misal kelak aku yg nysul kmu ke Bogor, ortumu bakal ksih ijin ga ya?”

SMS-ku yang kedua itu berjarak tak ada semenit dari SMS-nya. Tapi sejam lebih aku menunggu, sampai aku di ambang tidur, tak ada lagi balasan darinya.

Hoaahmmm….

Tiba-tiba, sekarang hatikulah yang merasa terkucil.

 
 
 
 

bersambung…

 
 
 
 

 

67 responses to “Karung 5

  1. noelapple

    12 Januari 2014 at 01:07

    Selamat, kamu berhasil membuka dan membacanya.🙂

     
    • Azura Francois Yong

      12 Januari 2014 at 06:55

      makasih mas, petunjuk passwordnya udah cukup mengarahkan.

       
    • kaktus

      13 Januari 2014 at 00:31

      antara bulbul dan kutilang bikin jidat makin kerut… sukses deh kakek noel

       
      • revolverman26

        14 Januari 2014 at 07:11

        Iya Mas, clue-nya kelebihan. Untung ada yg testimony di halaman sebelah

         
  2. sandy

    12 Januari 2014 at 01:45

    entah karena selera saya yang rendahan atau karena hal lain, sampai saat ini saya belum dapet “feel” CR 3😦

    maaf kalo komentar ku tidak berkenan.

    btw keep writing mas!!!

     
    • noelapple

      12 Januari 2014 at 02:24

      Justru mungkin seleramu terlalu tinggi.

       
  3. arimaurer

    12 Januari 2014 at 02:02

    Boleh d lanjut k karung ke 6 gak mas?
    Berasa nanggung bacanya tengah malam gini.
    Pengen tau tanggapan mamany tentang rencana pencarian dimas.

     
    • noelapple

      12 Januari 2014 at 02:23

      Enggak.

       
      • arimaurer

        12 Januari 2014 at 02:33

        Ya udah d tunggu deh, dan akan terus baca sampe apelnya kembali manis.
        Klo skarang berasa kelam banget si apelnya, merasa tersisihkan.

         
  4. Tama

    12 Januari 2014 at 02:04

    Wah, lumayan juga mas pass-nya, jadi harus ngurut otak dulu😀
    Bagian ini lebih agak calm down suasananya, tapi ada point-point yang bikin penasaran banget.
    Akhir karungnya jleb juga, kasihan denis mengalami masalah cinta yang complicated..
    Btw, makasih banyak nih mas noel, malem2 udh relain waktu buat nyari warnet biar bisa posting.. Semangat terus mas noel😀

     
    • noelapple

      12 Januari 2014 at 02:22

      Ada pembaca yg lebih galak dari saya. Saya takut dimarahi.

       
  5. indra

    12 Januari 2014 at 06:34

    wew..
    Kemaren malem begadang baca CRA dr Keranjang smpe Kantung 4, hari ini begadang baca HBR.
    tadi niatnya abis HBR mau tidur, begitu buka email mau ngecek email kerjaan dapet notif Karung 5 siap buat dibaca..🙂

    Suka sama tulisannya mas noel, selalu berhasil bikin deg degan tiap kali baca..
    ditunggu karung 6nya..🙂

     
  6. Azura Francois Yong

    12 Januari 2014 at 06:51

    sejujurnya, saya belum klik dengan cerita CRA 3 ini. mungkin karena masih terlalu dini. ibarat sebuah cerita detektif, masih terlalu sedikit kepingan puzzle-nya.

     
  7. ibhas

    12 Januari 2014 at 07:10

    dialog antara papa dan denis cukup woww ya.kadang kita hanya perlu lebih memahami maksud dari smua perbuatan yg dilakukan orangtua kita.

    btw,nice pasword bg noel!!!

     
  8. cecephermawan81

    12 Januari 2014 at 07:12

    yaa ampun… lumayan lah password nya.. untung aku juga pembaca blog nya ka nayaka juga jadi lebih gampang… Makasih Mas Noel ceritanya keren… two thumbs up…😀

     
  9. cecephermawan81

    12 Januari 2014 at 07:15

    wahh… setelah 10 menit cari akhirnya password nya ketemu juga… cerita nya tetep keren mas noel… ditungu kareung selanjutnya.. ;D

     
  10. arifin

    12 Januari 2014 at 08:06

    Makasih banyak bang.
    tapi,……., Kurang panjanggggg……….!!!!!!
    Hehehee…..

     
    • noelapple

      12 Januari 2014 at 10:41

      Tujuan menulis bukan untuk memendekkan ataupun memanjangkan.

       
  11. pramuda

    12 Januari 2014 at 09:05

    percakapan yg panjang mas…
    seperti penatian yg panjang atas penungguan karung 5 ini…

    terima kasih mas noel, yg udah berusaha keras demi posting karung 5 ini.
    sampai pergi ke warnet tengah malam….

    sekali lagi, terima kasih banyak…

     
  12. Rickk

    12 Januari 2014 at 09:35

    Setelah googling akhirnya jebol jg,keberadaan Dimas masih belum jelas,jangan2 dia ketemu Ricky di Bali heheee.Di setiap karung pasti ada sesuatu hal yg bisa dipetik,Thanks Mas Noel…

     
  13. blackshappire

    12 Januari 2014 at 10:48

    satu hal yang bisa dipetik dari kisah dimas ini, bahwa kasih sayang orang tua memang tiada tandingnya….
    ane sendiri sudah pernah di posisi seperti dimas, wlo kadang dongkol juga ma ortu yg cerewet tp itu semua bentuk penyampaian kasih sayang mereka ke kita

     
  14. gema

    12 Januari 2014 at 13:29

    bang Noel aku kirain burung bulbul bhsa indonesia nya merbah. tau gtu sih ga usah nyari arti bulbul sgala.

     
    • noelapple

      12 Januari 2014 at 13:35

      kamu kena jebakan betmen.

       
  15. tio

    12 Januari 2014 at 14:02

    pusing juga nyari pass-ny kak

    dalem banget artian kehilangan dan terkucilkan-nya kak..
    malah kebawa mellow deh

     
  16. harry092

    12 Januari 2014 at 16:21

    mas noel sukses ngerjain Soni Duaine… tu di akun facebooknya dia nulis status, akibat dari pertanyaan dari pembaca CRA3 yang masalah latar belakang cerpenya….😀

     
  17. kiki

    12 Januari 2014 at 18:21

    aduh jadi galau abis baca karung ini >..<
    btw nyari pass kedua nya agak" suram saya salah pas di googling yg keluar malah di sebuah kota di Malaysia itu taman sri tanjung haha, eh taunya setelah di telaah lagi malah banyuwangi zzzz jauh yaaaa….
    mas noel apa kabar Ricky? kapan di post lagi next chapter nya?

     
  18. akyuza

    12 Januari 2014 at 19:26

    trimakasih atas pwnya yg ribet kak :p hihihi ah aku suka banget dialog antara denis dan ayahnya itu. oh! apa cintanya denis ke misha terhalang restu ortunya misha??? semoga karung2 selanjutnya kisah cinta denis agak dimunculin😄

     
  19. AditaKID

    12 Januari 2014 at 19:42

    Yeah, akhirnya bisa baca juga ni Karung 5…
    ternyata begitu to, ngebayangin ayahnya Denis Dimas it baik banget yaaa…
    dan di Karung ini saya paling suka kata2 ini “Sesungguhnya anak adalah karunia. Tidak selayaknya menjadi ambisi.” ^^d
    Oh iyaa,, sms Denis k Misha bikin saya blushing masa –a (padahal kn yg di sms Misha bukan saya) XDD
    tp Misha gk bales lg ya?
    ah saya ngeship hubungan Misha-Denis geh..
    tp ini belum sampe perjalanan Denis-Fandy k Bali yaa…
    Oke, saya udah gk sabar begimana perjalanan mereka..
    Lanjutannya saya tunggu bang ^^d
    Nice Story~
    I Like it~ ^o^d

     
  20. Irfan

    12 Januari 2014 at 20:49

    Pusing sama paswordnya . Aku kira burung elang -_- eh si bulbul . .
    Ya tapi terkadang kenyataan tidak sesuai dngan harapan . . Aku kira karung 5 denis udah ketemu dimas dan udah pulang . . Dan saat itu juga mama sadar .
    Oke oke cukup . Aku tunggu karung 6nya bang,

     
    • noelapple

      13 Januari 2014 at 11:07

      Atau dibikin gitu aja? Karung 6 Denis sudah ketemu Dimas, jadi habis itu langsung tamat. Gitu?

       
  21. ruka minazuki

    12 Januari 2014 at 21:42

    Bagaimana ya? Kalau dianalisis ternyata orang tua kita termasuk orang yang berjiwa besar. Cerita ini hebat, bisa membuatku menitikan air mata. Aku sudah membaca beberapa tulisan bang Noel, dan rata rata mengungkapkan Sad Ending. Di CRA 2, aku sangat menyukai bagaimana Dimas bisa menyelesaikan masalahnya yang sangat rumit, dan jika ditelaah lagi, hal tersebut dapat terasa sangat nyata. Jujur, aku kurang menyukai kisah ini, entah karena ini adalah Denis, atau konfliknya kurang. Kenapa aku berkomentar seperti itu? Karena, biasanya karya bang Noel memang penuh intrik dari awal, sehingga dapat membuat pembaca merasakan ketegangannya dari awal. Dan hebatnya, Bang Noel bisa mempertahankannya sampai akhir. Salah satunya CRA 2. Aku harap bang Noel bisa membuat sebuah konflik yang begitu menegangkan seperti di CRA 2. Mungkin aku hanya bisa berkomentar segitu saja. Trims. Dan terus berkarya ya bang Noel🙂

     
  22. sasadara

    12 Januari 2014 at 21:52

    yaaatttaaaa.. berhasil baca td pagi,, tp,, baru komen skarang,, hehehe.. asli ini teka teki sangat menantang,, ahahaha.. tp, akhirnya kejebol jg,, ats bntuan bg son,, n mbah gugel.. hohoh

    untuk part ini,, kembali terharu,, tp,, yg mnarik buat ku malah cerita nya denis ma misha… gmna sbenarnya hubungan mereka,, apa alasan nya knpa kok g jadian…. pdahal msing masing kayaknya sling suka…. penasaran….

     
  23. Erik junior

    12 Januari 2014 at 22:57

    Stelah otak saya luluh lantakk .. Akhirnya saya bisa jga baca karung 5 yang password nya super WOOW😀 ,, Tapi berasa nanggung bnget deh mas noel ,, kapan” 2 karung deh di post nya😀

     
  24. una

    12 Januari 2014 at 23:21

    Usaha saya buat memecahkan passwordnya berhasil walaupun agak sedikit memeras kekuatan tenaga dalam #loh tp karung 5 keren pembicaraan denis dan ayahnya menjadikn saya lebih membuka pemikiran terhadap orang tua saya. Ditunggu karung yg selanjutny mas

     
  25. delim rehata

    13 Januari 2014 at 00:06

    Sepertinya cra 3 ini akan menjadi puncak konflik dan pendewasaan seorang dimas, semakin tertarik dg problem solved yang akan mas Noel jabarkan.🙂

     
  26. Bagus Tito

    13 Januari 2014 at 00:22

    Wahhhh… jadi ini toh part yang membuat saya mendadak tenar ditanyai judul cerpenmu. Hihihi. Part ini… rada sendu yah. Percakapaan Denis dan sang Ayah juga lumayan mellow secara alur. But, worth it lah, karena saya dapet passwordnya secara instant tanpa susah-susah (karena saya tahu betul hint passwordnya) xixixixi.

     
  27. Koko Reza

    13 Januari 2014 at 07:18

    Mungkin salah kalo berandai punya ayah seperti Dimas dan Denis, yaa tapi tidak menutup kemungkinan ayah mereka jadi role model.. Walaupun pendek, karung 5 ini artinya dalem bang noel, keep writing! Thank you so much ya!

     
  28. dian kusuma

    13 Januari 2014 at 09:11

    aku pikir awalnya bulbul itu kutilang. Agak ragu nya karena sebenarnya bulbul juga bahasa indonesia dan entrinya ada di KBBI🙂

    Ah spin offnya denis sama misha asyik tuh hahaah

     
    • noelapple

      13 Januari 2014 at 09:57

      Tidak cuma kamu yang sudah terkecoh. Jebakan Batman.

       
  29. hisagiwulz

    13 Januari 2014 at 09:41

    finally bisa baca juga.. Password-nya mengecoh klo ga teliti hahaha…

    Tambah keren aja cerita ini, kak.. Salut sama papa-nya si Kembar. Sangat jarang ada ayah yg segitu bijaknya dan penuh pengertian.

    #salute

     
  30. masdabudd

    13 Januari 2014 at 12:06

    bener-bener jebakan betmen deh.. sampe gugling2 ‘bahasa indonesianya bulbul’, ternyata passwordnya tetep pake kata bulbul..

     
  31. bink

    13 Januari 2014 at 16:13

    lebih seru cari paswordnya daripada baca ceritanya.. selain terlalu singkat d tiap karung, ceritanya jg terlalu drama d CRA3 ini..

     
  32. billa

    13 Januari 2014 at 22:41

    saya rasa kurang panjang nih, terus ceritanya itu kalo ibarat masakan ya kaya kurang cabe, ya pedesnya gak terlalu kerasa/apasih.
    sy harap buat chapter selanjutnya bakal lebih wow dan menggetarkan hati/halah.

    p.s: lain kali bikin passwordnya yg lebih ekstrim ya, mas noel? seru sih mecahinnya serasa jadi detektif(atau mungkin stalker?)

     
  33. panji_Brave

    14 Januari 2014 at 05:29

    yokatta…. stelah berkenala akhirnya aku dapatkan apa yg q Cari Noël san arigatou gozaimasu, walau susah, pusing + stre demi. CRA #3 q rela…

    Stiap membaca tulisannya mad noël serasa. Kita yg Ada d sana…
    q kan setia menunggu kelanjutannya mas…

     
  34. Tian Putra

    14 Januari 2014 at 06:29

    Jiahahahaha denis, usaha yang real dong. Kode mulu :p

     
  35. Syai

    14 Januari 2014 at 08:26

    Finally, after 2 frustrated hours! But I gotta write something here, Noel.
    1. The password, it’s Turkish, Dear. That’s quite frustrated me beside the fact that the name of the city which I thought it was wrong but that was the only correct piece at the first place.
    2. Sorry, Noel, but I have to say that I am quite disappointed with this chapter. Bukan karena terlalu pendek, mengingat password yg diberikan has drein out our energy. I did expected after hours searching the password, we could read something which would recharge our energy. But the whole scene was plain, sorry to say that. Kirain password yg diberikan menjadi semacam trailer bahwa nantinya Denis pergi ke kota itu atau at least naik kereta Sri Tanjung or anything. Atau ketemu ama seseorang di kotanya Soni Duainne. He he he… Sorry, my imagination is too free. Percakapan antara Denis dan Papa kurang menggigit, dan Misha… Poor Misha. I believe you could write deeper interaction between Misha and Denis, but the texting scene was somewhat emotionless. Sorry Noel, just my opinion.

     
  36. Aditya

    14 Januari 2014 at 10:46

    Baca cra 1,2,dan 3 seperti naik perahu. Terombang-ambing.

     
  37. chima

    14 Januari 2014 at 12:58

    haduh mas, lima kali nyoba antara bulbul dan kutilang. antara taman sri tanjung dan banyuwangi. sampe lupa ini yg tak masuk ke apa d pw nya. haha
    aku kurg dapet feel d karung ini, tpi tetep penasaran ma karung slanjutnya😀 hoho
    si Dennis cucian deh, si Misha psti bingung mo jwab apa gra” terlalu lama d gantung trus😦
    karung 6 nya d tunggu ya mas😉

     
  38. Mr.Bean

    14 Januari 2014 at 22:51

    Sumpah… Nih cerita bikin gemesss, pengarangnya juga bikin gemesss…. Mw baca ceritanya mesti mutar otak dulu mecahin teka-teki…. Update-annya nanggung tapi bikin penasaran…. Pokoknya nih cerita sama pengarangnya candu banget!!!!!

     
  39. Lisa

    15 Januari 2014 at 08:38

    Aku suka sosok figur ayah kayak gini kak.. Tapi waktu di gambar erik naek kereta. Apa dia di suruh mischa gr2 dy g bisa ikut? Bkin yg susah lg kak pwd nya biar jd tekateki. Ku suka

     
  40. Me

    16 Januari 2014 at 21:34

    1 jam ngubek” blog buat nyari password, bang buat karung selanjutnya password’a yang biasa aja yaa, hehee😀

     
  41. applepie

    17 Januari 2014 at 04:25

    kadang2 saya ngerasa perjuangan nyari password sama baca isi karung ini ga sepadan kalo yg diposnya cuma satu2. eh tapi pas dipikir lagi kan mas noel ngepos cerita ini aja ga dibayar, jadi saya anggapnya password yang ada itu itung2 buat ngeganti capeknya mas noel bikin cerita, ya walau masih blom cukup keganti sih hehehe
    saya tunggu karung selanjutnya mas.

     
    • noelapple

      17 Januari 2014 at 16:14

      Saya tidak menganggap soal password ini sebagai bayaran kepada saya. Justru saya bermaksud ketika kalian masuk ke blog ini tidak hanya untuk CRA melulu. Ada banyak cerita lain yang layak kalian kenal. Ada banyak penulis lain yang pantas kalian ketahui karyanya. Ada banyak pengetahuan tak terduga yang kalian bisa petik. Saya sering ditanyai, “apa inspirasimu ketika menulis cerita ini?” Jawabannya, inspirasi itu adalah apa saja yang ada di ingatan saya, ada yang saya kumpulkan secara sengaja ataupun tidak. Apapun saja, pengetahuan adalah amunisi.

       
  42. diduluinoranglain

    17 Januari 2014 at 18:42

    wkwk dapet hidayah😄

    lanjut..

     
  43. yoga

    21 Januari 2014 at 01:25

    Salam Mas Noel

    sudah lama ngak baca karya mas noel
    masih ingat,dulu memecahkan kode mas noel,di ending ahkir CRA buku 2,pas dimas dan fandy jadian.

    sudah hampir 6 bulan berpisah dari blog mas noel ini,baru buka hari ini,CRA sudah buku 3.
    dan otak ku harus kerja keras untuk buka password nya

    Aku sudah jadi pembaca cerpen mas noel sejak cra 2 di terbitkan tiap “keranjang” sampai merayakan new year dulu sama “peri” dimas dan denis,masih ingat mas gambar dimas dan denis kaya peri-peri kecil?

    dulu suka banget sama gambar – gambar mas noel,dari gambar pilgrim,gambar dimas dan fandy yang babak belur ( CRA 2) dsb.

    dan hampir seluruh karya Mas Noel,dari pilgrim,dibawah langit bali,cra 1,cra 2,dan heartbreaker ricky ( walau cuma setengah) sudah saya baca.

    ditunggu lanjutan CRA 3 nya😀

     
    • noelapple

      26 Januari 2014 at 12:56

      wah, pengunjung lama rupanya. tapi seingatku aku tak pernah menggambar si kembar dengan bentuk peri. mungkin maksudmu dalam bentuk chibi/mini. terima kasih sudah menengok lagi.

       
  44. raka

    21 Januari 2014 at 02:24

    “Akhirnya…” senyumku merekah.
    setelah ngubek2 blog orang n ngubek2 google,,,pencarianku tercerahkan,,,

     
  45. Febby

    21 Januari 2014 at 22:58

    Akhirnya bisa kebuka juga hahahaha. Thanks god.
    Gak sabar acara pencariannya denis sama fandy ke bali😀

     
  46. arixanggara

    22 Januari 2014 at 02:32

    ini koment pertamaku di CRA3. ada semoga tambah banyak fansnya buat mas noel. ohhh ya kan banyak yg bilang hilang feel di CRA3, menurutku sih karena rentan updateannya yg jarang serta dikit2 banget per karungnya. coba deh agak di panjangin per karungnya dan di jadwal postingannya (menurutku 3-5hari sekali). hemmmm tapi tetep good job buat mas noel. semua yg keluar dari pemikiran mas noel kayaknya keren(semoga tidak hiperbola).

     
  47. Diyuna

    23 Januari 2014 at 10:58

    Aaaahhh aku terjebak bulu bul bul. Sampe puyeng aku mikir itu burung bhs indonesianya apa
    Ternyata oohh ternyata..bubul ayam

     
  48. parez

    29 Januari 2014 at 18:42

    sama kya waktu baca HBR di awal” . . Aku blum dapat feel dari cra 3 ini .

     
  49. kazekage

    4 Februari 2014 at 17:01

    Nah ini kereen mas.. Orang tua itu memang keras2 lembek, mereka sok2 marah, sok2 keras, bahkan kadang sok ga peduli.. Tp tetep care sih. Hehe

    Mas kalo aku boleh ngasih saran, jgn terlalu sedih mas.. Walaupun yang ini menyentuh bgt , mantap (y)

     
  50. imt17

    5 Februari 2014 at 02:03

    “Berbagi tidak membuat kekuatan kita jadi terbagi-bagi,justru kekuatan kitamenjadi semakin membulat”

    Benar benar ajaib mas

     
  51. yanz

    9 Februari 2014 at 09:31

    mengharu kannn

     
  52. Ripal anwar

    1 Agustus 2014 at 12:35

    smoga saja Denis dan fandy bisa bawk Dimas pulang

     
  53. purie

    4 September 2015 at 01:06

    nah kan…si dimas lagi gk beres emang..aduh tuh anak miggat bneran…

    denis ke misha gk jelas bgtlah
    selalu tiap kali baca CRA 3 selalu berakhir ngakak,ntah denisnya koplak sehh ahh

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: