RSS

Karung 8

 
 

Karung 8

Cinta Seorang Peragu

 
 
 

Benar, yang namanya hidup itu punya banyak peristiwa yang tak terduga. Seperti pertemuanku dengan Leah hari ini. Mungkin Leah memang bukan hal yang penting lagi dalam hidupku, tapi ternyata dia masih dapat mengacaukan pikiranku dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Membawakan aku oleh-oleh yang berhasil membuat fokusku berantakan, sebuah obsesi ngawur: ingin balikan dengan mantan pacar yang jelas-jelas dia sebut banyak kekurangan. Apa-apaan perjumpaan barusan tadi?!

Huhhh….

Aku kembali masuk ke rumah, menuju ke kamarku. Kulihat Ben duduk tenang di kursi. Dia tak menyapa, cuma tersenyum-senyum saja. Senyumnya terasa aneh. Kulirik Play Station yang tak menyala, kujamah tak terasa hangat sama sekali. Hebat, jadi selama kutinggal tadi Ben tak bermain apa-apa di kamarku. Dia ambil kesempatan untuk menguping!

So…?” cuma kata itu yang terlontar darinya.

“Apanya?” balasku pura-pura tak tanggap.

Ben tersenyum lagi. “Cewek tadi adalah…?”

Aku tak menjawab. Pilih menjatuhkan diri ke tempat tidur, pura-pura tak peduli. Saat kudengar HP-ku berbunyi, kubuka sebuah SMS.

“Mslh omku slesai. Aku siap brngkt kpn aja. Kbari aku scptnya.” Begitu bunyi pesan Fandy.

Aku menghela napas. “Kayaknya beneran ini hari terakhirku sebelum berangkat mencari Dimas ke Bali,” gumamku, mengalihkan diri dari pertanyaan Ben tadi. “Fandy bilang sudah siap. Lebih cepat lebih baik. Aku sudah cek soal kereta. Cuma ada Sri Tanjung, finish di Banyuwangi lalu lanjut ke Bali dengan ferry. Berangkat jam delapan pagi.”

“Lho, tapi pacarmu tadi bilang besok mau kemari lagi, kan?”

“Ben… dia itu mantan! MANTAN…!” desahku kesal. Aku duduk di tempat tidur, mengucal-ucal rambut. “Aku stress banget, tahu nggak? Ngapain banget dia datang kemari di saat aku lagi ada masalah begini?!”

So, kamu curhat nih?”

Kulempar bantalku, berharap menimpa muka temanku yang sok polos itu. Tapi lemparanku terlalu lemas. Bantal jatuh ke lantai. Aku jatuh lagi ke kasur, rebah telentang berharap semua rasa jenuh ini bisa terlepas dari tubuhku. Aku benar-benar letih!

“Aku shock!” celetuk Ben sambil melempar bantalku kembali. “Aku nggak tahu kalau kamu sudah pernah punya pacar. Kamu selalu bilang nggak pernah pacaran. Ternyata soal rahasia kamu lebih pintar dari Dimas. Kayaknya mantanmu itu cadas banget, ya?”

Ffhhhh…. Cadas apanya?” keluhku. “Biasa, lah, orang Batak itu omongannya lantang. Tapi si Leah itu manjanya minta ampun! Dia maunya kami pacaran ala drama banget. Sedihnya ala Korea, happy-nya ala India!”

Ben menertawai curhatku. “Nha terus, kenapa dulu kamu macarin dia?”

Sejujurnya aku tak suka mengungkit ingatan-ingatan itu. Tapi, okelah, nanggung juga kalau curhat cuma setengah-setengah.

So…?

“Sebenarnya aku nggak terlalu bermasalah dengan sifatnya yang lebay itu. Aku memakluminya,” jelasku, memperkenalkan sosok Leah yang ada di ingatanku kepada Ben. “Aku rasa ke-lebay-annya itu efek samping dari sifatnya yang sebenarnya supel, royal, dan…”

Aku terhenti. Sempat ragu untuk melanjutkan gambaran itu.

“Apa?” Ben mendesak.

“Dia ikut klub drama di sekolah. Dia juga ikut sekolah modelling.”

“Ohhhh!” Ben menyahut, lalu tertawa. “Jadi kira-kira, dia itu pasti primadona di sekolah, kamu salah satu cowok yang tertarik padanya dan merasa bangga kalau bisa memacarinya. Begitu, kan?”

Aku tak menjawab. Tapi tentu sikap diamku sudah merupakan jawaban. Bahwa tebakan Ben memang ada benarnya, kurang lebih begitu.

“Terus, apa yang membuatmu bosan dengannya?” Ben mengulik.

“Bosan? Aku nggak bosan! Aku capek!” tukasku ketus. “Beberapa kali dia memanas-manasi aku. Yang terakhir benar-benar keterlaluan!”

“Memanas-manasi? Gimana ceritanya?”

Ceritanya?

Baiklah, semoga dengan menceritakan sebanyak-banyaknya tentang masa lalu itu dapat membantuku lebih lepas. Menerjemahkan pergumulan itu ke dalam kata-kata, dan biarkan menguap lalu hilang. Aku nggak yakin semudah itu juga. Tapi, nggak ada gunanya lagi ditutupi terus. Karena toh Ben sudah menguping, sekarang dia harus jadi pendengarku!

Beginilah ceritanya….

Aku dan Leah satu sekolahan di sebuah SMP di Medan. Kami tak pernah sekelas. Tapi Leah adalah salah satu siswi yang cukup sering mengundang perhatian, baik dari guru maupun sesama siswa. Kenapa? Soal cantik atau manis itu relatif, lah. Tapi dia multitalenta. Leah waktu itu sudah dikenal sebagai seorang model remaja di Medan. Bayangkan saja yang namanya model itu minimal punya postur seperti apa. Dia juga ikut klub drama di sekolah, kadang mendapat peran utama. Itulah kenapa aku selalu percaya bahwa dia pintar akting, di kehidupan nyata sekalipun.

Intinya, dia seorang gadis dengan pesona yang dapat menarik banyak cowok. Apalagi dia supel, tidak membeda-bedakan pergaulan. Dan sifat itulah yang membuatku benar-benar terkesan padanya waktu pertama kali berkenalan. Sejak kelas satu aku sudah tahu Leah yang populer itu, tapi perkenalanku dengannya baru terjadi saat kelas tiga. Yaitu pada suatu hari, setelah acara gladi untuk pentas drama bertema Valentine’s Day….

Waktu itu aku sedang dihukum gara-gara usil di kelas. Di meja guru yang ada di kelasku, aku menaruh tikus mainan di laci. Tibalah guru Bahasa Indonesia kami, Bu Ester Perangin-Angin (dari namanya yang sangar itu, harusnya aku nggak cari masalah dengannya). Waktu menemukan tikus itu, beliau menjerit hingga suaranya, konon, terdengar sampai kantor guru. Faktanya, Bu Ester juga tak lain adalah pembina klub drama, beliau juga sutradaranya. Dihukumlah aku, jadi tukang bersih-bersih selama persiapan pentas drama Valentine itu.

Usai gladi, aku menjalankan hukumanku, membersihkan aula dari ceceran sampah. Sendirian. Di saat aku mengira semua sudah pulang, seseorang menghampiriku.

“Hei, belum pulang kau? Rajin kali kau sapu lantai, ya?” sapanya. Dialah Leah, si pemeran utama.

Aku kaget, tapi tetap pasang gaya cool. “Lu sendiri kenapa masih di sini aja?” aku membalas sapanya.

Dia malah, perlahan-lahan, tampak berbinar-binar. “Anak darimana kau? Kenapa bicara seperti itu?” tanyanya, sedikit menahan tawa.

Aku tak menjawab. Cuma balas tersenyum saja. Lalu aku bercerita soal hukuman dari Bu Ester. Dan… betapa laparnya aku waktu itu.

Tak kusangka, Leah menyodoriku bermacam-macam… “Coklat, kau mau?”

Aku bengong. “Wow! Bukannya itu hadiah dari teman-temanmu tadi?” balasku. Karena beberapa hari lagi Valentine’s Day, hari itu beberapa cowok sudah nyicil mengirim coklat untuk Leah.

“Tak mungkin, lah, aku habiskan coklat ini sendirian. Bisa buncit aku!” Leah membicarakan soal tubuhnya.

“Tapi coklat nggak bisa ngobatin lapar,” gumamku. Aku bukan bermaksud menolak, sih. Karena habis berkata begitu, kucomot juga satu batang dari tangan Leah. Biarpun nggak bikin kenyang, siapa yang nggak mau coklat?

Lalu, makanlah kami. Di antara kursi-kursi kosong di aula itu, kami berdua menghabiskan coklat-coklat sambil saling bercerita. Bukan cerita-cerita romantis, karena kami baru saja kenal. Kami bercerita tentang guru-guru di sekolah dari yang baik hati sampai yang kejam (seperti Bu Ester Perangin-Angin, misalnya); tentang siswa ini dan siswa itu; tentang aku dan Leah. Tentang latar belakang kami. Tentu tak lupa kami saling mengenalkan nama, meski aku sudah tahu namanya duluan.

Rupanya sore itu Leah sedang menunggu dijemput sopirnya. Begitu penjemputnya datang, kami berpisah. Perpisahan sore itu meninggalkan satu hal dalam diriku, yang membedakan dari diriku sebelumnya. Bahwa sejak itu aku nggak cuma sebagai cowok yang sekedar tahu bahwa Leah itu populer. Tapi aku sudah menjadi cowok yang ingin… punya pacar seperti Leah!

Aku bertekad, aku juga akan memberinya kado Valentine!

Singkatnya, usai pementasan di hari H, aku sudah menyiapkan kado untuknya. Aku menunggu di belakang panggung. Menunggu agar situasi sedikit lebih tenang, karena hari itu lagi-lagi dipenuhi orang-orang caper yang ingin mempersembahkan sesuatu kepada orang-orang yang mereka kagumi, di momen usai pementasan itu. Kesempatanku datang ketika Leah selesai mengganti kostum. Dia mendapatiku sedang menunggu di pintu belakang.

“Hei, kenapa kau di sini? Kau mau bersih-bersih lagi?” dia menyapa setengah meledekku.

“Iya. Gue bersihin lagi deh, nanti. Tapi lu juga bersihin ini, ya!” aku membalas sambil menyodorkan sesuatu padanya. “Bersihin sampai habis. Jangan bersisa. Enak, kok!”

Mata Leah terbelalak. Dia menerima pemberianku, sebuah cup-cake imut terbungkus kotak mika. “Wow! Cantik kali ini!” decaknya kagum. “Tapi ini coklat lagi? Kau juga ingin aku cepat buncit rupanya?”

“Itu bukan coklat. Itu dari gula merah. Sama-sama manis, tapi gue harus tampil beda dong!” selorohku. Biarpun ingusan, aku sudah pintar menggombal. “Kalau makan banyak memang bisa buncit, makanya gue cuma bikin satu. Dan cuma buat lu aja.”

Leah tertawa tersipu-sipu. “Ini kau sendiri yang bikin?”

“He’em,” aku mengangguk.

Dia berdecak lagi. “Wow!”

Kulihat dia tampak terpukau memandangiku. Atau, mungkin aku saja yang ge’er menerjemahkan tatapannya itu. Tapi yang pasti dia menyambut pemberianku dengan senang hati.

“Oke. Aku makan nanti. Thank you!” begitu ucapnya. Lalu dia pergi.

Ya, cuma begitu saja saat itu.

“Sudah? Cuma begitu? Kamu nggak nembak dia waktu itu juga?” Ben menyela ceritaku.

“Belum. Lu bisa bayangin, lah, Ben… waktu itu aku masih SMP. Masih culun! Ingin, sih, ingin. Tapi masih ragu. Soalnya waktu itu juga mau masuk masa-masa pra-ujian. Aku masih pikir-pikir.”

“Terus, kapan kalian jadiannya?”

Aku mengingat-ingat. “Agak lama setelah itu, beberapa bulan kemudian. Waktu sudah lulus SMP, kebetulan kami satu sekolah lagi. Satu SMA. Aku jadi lebih optimis buat serius nembak dia. Itu sekitar awal bulan September.”

“Gimana kamu nembaknya?”

Aku bercerita lagi….

Seperti biasa, sepulang sekolah Leah selalu dijemput. Tapi siang itu jemputannya agak ngaret. Kuambil kesempatan menemaninya di taman depan sekolah. Tapi bukan sekedar menemani, karena hari itu aku sudah membulatkan tekad untuk mengatakan perasaanku kepada Leah. Di taman itu aku menyatakannya….

“Lia,” waktu itu aku masih memanggilnya begitu, “gue suka sama lu. Lu juga sama nggak, sih?”

Entah itu kalimat yang romatis atau tidak. Tapi to the point banget, sih, iya! Soalnya mau basa-basi panjang sekalipun, intinya tetap mau nembak, kan? So, daripada jemputannya keburu datang, aku langsung mengucapkannya tanpa basa-basi.

Leah tercengang menatapku. “Kau bilang apa barusan?”

“I’m falling in love with you!”

Ucapan cintaku memang standar banget. Tapi itu sudah berhasil membuatnya kesulitan berkata-kata.

“Wow…! Kenapa kau baru bilang sekarang?” tukasnya.

Gantian aku ternganga. Kenapa baru bilang sekarang?

“Kenapa memangnya?”

Dia tampak gugup, menepuk jidat. “Yaah! Kau sudah beri aku kue waktu Valentine dulu, kan? Lama sekali, baru sekarang kau bilang?”

Aku jadi nggak paham. Tambah bingung campur deg-degan. “Jadi… maksudnya, gue udah telat, ya?”

Dia tersenyum kikuk, antara perasaan canggung atau senang, mungkin. Dia tertawa menukasku. “Bukan telat. Tapi kelamaan!”

“Apa bedanya?”

“Denis, kau sudah keduluan banyak orang. Banyak yang sudah bilang begitu padaku. Tapi… aku tak bilang kau telat, karena aku juga belum terima satupun dari mereka.”

Aku makin deg-degan mendengar pernyataan Leah itu. “Kenapa nggak lu terima mereka?” tanyaku, percaya nggak percaya.

Bahasa tubuh Leah terlihat nervous, entah karena malu atau justru antusias. Aku masih belum bisa bedakan. Karena aku juga sibuk mengontrol diriku sendiri agar siap menghadapi moment of truth itu.

“Selama ini aku tunggu-tunggu kau. Karena di antara cowok-cowok yang bilang cinta itu, kau yang paling keren!”

Itulah jawaban darinya.

Tiba-tiba kepalaku membesar, seperti balon yang ditiup dan mau melambung!

“Apanya yang keren?” celetukku, sok unyu.

Leah tertawa sambil menyikutku. “Bah, kau ini! Kue itu enak sekali. Cewek bisa masak itu biasa. Tapi kalau cowok, itu luar biasa! Kau memang beda. Kau keren, lah!”

Aku tertawa-tawa sendiri, kegirangan. “Jadi, gue diterima, nih?”

“Hahaha…” Leah tertawa mendekap bibirnya. “Tapi kau bikinkan aku kue itu lagi, ya!”

“Oke! Siapa takut?” jawabku penuh semangat. “Minta dibikinin berapa?”

“Yang banyak!”

“Oke, siap! Lu gendut juga tetap cantik, kok.”

Anehnya, alih-alih bunga bermekaran ala adegan cinta di film Disney, yang ada malah suara geledek menandai hari jadian kami. Nggak keras, tapi rada ironis juga. Seolah barusan aku bukan habis nembak cewek, tapi habis sumpah pocong! Tapi waktu itu nevermind. Karena yang terpikir di benakku cuma satu, bahwa aku baru saja memasuki sejarah baru dalam hidupku: mendapatkan pacar pertama!

Aku nggak akan menceritakan detail hubunganku dengan Leah semenjak kami resmi jadi pacar. Terlalu panjang nanti. Aku cuma perlu menegaskan saja, bahwa semakin dekat hubunganmu dengan seseorang, kamu akan semakin mengenal kepribadiannya. Bukan cuma yang baik-baik saja seperti ketika baru kenalan, tapi juga yang jelek-jelek mulai terkuak satu demi satu. (Aku pernah nasihatkan itu ke Dimas, saat dia kedanan Fandy.)

Di balik sikapnya yang manis dan supel, ternyata Leah itu manjanya minta ampun. Dia sudah mencapai tahap lebay. Tiap kali aku merasa kemauannya berlebihan dan aku menolak atau menunda menurutinya, dia langsung mengecap aku nggak perhatian, aku nggak sayang, aku nggak pengertian, dan sebagainya.

Aku masih sakit hati kalau mengingat perbuatannya padaku….

“Dia selingkuh!” tegasku.

“Tadi aku dengar, dia bilang cuma ‘ngetes’?” Ben menyelidik.

Aku membantah. “Gombal! Sebulan setelah kutinggal, dia jadian dengan cowok yang dia ajak selingkuh itu. Jadi sebenarnya dia memang punya rasa dengan cowok itu!”

“Dia bilang, karena kamu nggak perhatian lagi sama dia? Aku dengar kamu juga nggak jenguk dia waktu di rumah sakit?”

Aku mulai heran pada Ben, sepertinya dia meragukanku dan lebih percaya kepada Leah (yang dia sama sekali belum kenal).

“Jadi lu percaya gitu aja yang dia bilang?” tantangku.

Baiklah, akan kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Saat Leah dirawat di rumah sakit….

Leah terserang gejala tifus. Aku dapat kabar dari Leah sendiri, dia meneleponku saat sudah terbaring di rumah sakit. Aku ingin menjenguk, tapi malam itu aku sedang mengerjakan banyak tugas sekolah yang esoknya sudah harus dikumpulkan. Jadi aku berjanji bahwa aku baru bisa menjenguk esok hari. Kurasa Leah mengerti. Kurasa dia juga tak bermaksud menuntutku untuk segera menjenguk malam itu juga.

Esoknya, yaitu hari kedua Leah di rumah sakit, sepulang sekolah aku berniat menjenguknya. Tapi kusempatkan menelepon Leah terlebih dahulu, untuk menanyakan perkembangan kondisinya dan di kamar mana dia dirawat. Tapi ternyata yang mengangkat telepon adalah ibunya. Ibunya memberi tahu bahwa saat itu Leah sedang dijenguk teman-teman sekelasnya. Kondisi kamar ramai sekali. Mungkin agak petang sudah lebih sepi, kata beliau.

So, aku menunggu petang untuk datang ke rumah sakit. Aku membawa cup-cake kesukaan Leah. Tapi aku terhenti di lorong bangsal, karena kulihat di depan kamar Leah masih berjubal para pembesuk. Aku menduga mereka rekan-rekan orang tua Leah yang datang menjenguk. Aku merasa sungkan. Aku rela menunggu di luar saat itu, agar para pembesuk itu pulang dulu. Tapi rupanya mereka bertahan cukup lama. Saat mereka sudah pulang, barulah aku menghampiri kamar tempat Leah dirawat. Aku mengintip dari jendela kecil yang terbingkai di pintu.

Aku melihat Leah terbaring tidur, tampak begitu letih. Ibu yang menemaninya bahkan tertidur di kursi. Di meja ada banyak kue dan buah yang pasti oleh-oleh dari para pembesuk. Terbersit di benakku: mereka butuh istirahat, bukan penjenguk. Tiba-tiba aku sadar itu. Aku tak tega membangunkan mereka. Tanpa kecewa ataupun menyesal, aku memilih pulang tanpa sepengetahuan mereka. Kubawa serta cup-cake yang sedianya untuk oleh-oleh. Kupikir, besok masih ada waktu untuk menjenguk, cup-cake buatanku juga belum basi untuk oleh-oleh.

Lagi, esoknya sepulang sekolah, aku kembali ke rumah sakit itu. Aku melongok lewat jendela. Tapi aku terkejut, karena yang ada di kamar itu bukan Leah. Sudah berganti orang. Aku bertanya kepada suster yang jaga, mereka bilang bahwa pasien bernama Marlia Simbolon sudah pulang siang itu.

Tak kuanggap kedatanganku ke rumah sakit itu sia-sia. Jujur, aku lebih senang mendengar kabar bahwa Leah sudah pulang. Sore itu juga aku ke rumah Leah. Aku minta maaf baru bisa menjenguknya hari itu.

“Tak apa, lah, Den…” jawab Leah waktu itu. “Yang penting kau tetap menjengukku. Tapi tahu darimana kau, aku sudah pulang?”

“Dari teman,” jawabku tak jujur. Karena tiba-tiba saja terbersit rasa malu untuk mengakui bahwa aku tadi kecele di rumah sakit.

“Pasti dari Oge, ya?” tak kuduga, Leah malah menyebut nama.

Aku tersenyum bimbang. Bingung untuk mengiyakan atau menidakkan. Tapi sepertinya Leah tak tanggap dengan keraguanku. Karena dia malah membuka kartunya sendiri….

“Tadi siang Oge kirim SMS, dia tanya aku dirawat di ruang mana,” jelas Leah dengan sendirinya, “kujawab aku sedang persiapan mau pulang.”

Saat itu aku belum punya prasangka apa-apa. Aku sekedar bertanya, “Kenapa malah Oge yang dikasih tahu?”

Leah tertawa kecil. “Karena dia tanya. Kalau kau tanya, aku pasti akan beri tahu juga. Kau cemburu?”

Aku menggeleng. Sama sekali tidak cemburu, waktu itu. Dan aku mengira Leah juga tak mempermasalahkan ‘keterlambatanku’ menjenguknya.

Karena itu aku bingung dan heran, kenapa setelah dua tahun kami berpisah dan hari ini bertemu lagi, tiba-tiba dia mengungkit masalah sakitnya waktu itu dan menudingku sebagai pacar yang tak punya perhatian karena tak mau menjenguknya?

“Kenapa kamu nggak jelaskan saja tadi padanya? Bahwa kamu sudah berniat menjenguknya waktu itu?” tanya Ben.

Aku tersenyum kecut. “Ah, sudah basi juga. Biarin, lah, toh aku juga sudah nggak menganggap dia pacar.”

Ben mendengus agak sinis. “Ya, berarti benar kamu itu terlalu cuek.”

Aku membalas dengan santai. “Kok, baru sekarang lu bilang begitu? Baru sadar kalau aku cuek?”

Ben tertawa. “Jadi kalau mantanmu nggak tahan pacaran sama kamu, kamu tetap menganggap itu salahnya?”

Aku terdiam sejenak, menimbang pernyataan Ben. Aku tak menyalahkan dia berkata begitu. Karena dia memang belum tahu masalahnya.

Aku ingin menunjukkan sesuatu pada Ben….

Aku turun dari tempat tidur, melongok ke kolong. Kutarik koperku keluar, dan membukanya. Aku mencari sesuatu di antara tumpukan barang dalam koper. Kutemukan benda yang kucari. Kusodorkan pada Ben.

“Apa ini?” Ben bertanya-tanya sambil membuka bungkusan kado yang sudah tak tersegel itu. Dia mengeluarkan isinya. Mengamatinya, tak berkedip. Sekarang, dia bisa membaca dan menafsirkan apa yang terukir di benda itu.

Sebuah pahatan gips berbentuk hati dengan warna merah. Berukir:

 

Always Love You, Lea

-09 Mei 2009-

“Aku yang membuatnya,” aku bercerita tentang benda itu. “9 Mei adalah hari ulang tahunnya. Seminggu aku memahat benda itu. Seharusnya sudah siap sejak sehari sebelum dia berulang-tahun. Aku menjemurnya agar cat cepat kering. Tapi aku nggak tahu akan ada hujan hari itu. Semua warnanya jadi luntur kena hujan. Pagi hari yang rencananya ingin kuberikan kado itu untuk Leah saat di sekolah, terpaksa kutunda karena aku harus mengecat ulang warnanya. Aku baru bisa berikan saat sore harinya.”

Mau tak mau aku harus mengenang pengalaman pahit itu….

Hmhhh…. Musim memang makin sukar ditebak. Bulan Mei seharusnya sudah tak ada hujan. Tapi petang itu lagi-lagi hujan turun. Aku kesal, tapi sama sekali tak ada niat menyerah. Lagipula cuma gerimis, hujan kecil. Aku tetap pergi ke rumah Leah. Aku sengaja tak memberi tahu bahwa aku akan datang, agar dia bisa merasakannya sebagai kejutan.

Aku memang terlalu percaya diri saat itu. Kupikir Leah pasti di rumah, karena pada waktu petang biasanya dia masih di rumah. Lagipula cuaca sedang gerimis, kupikir dia pasti akan di rumah saja.

Dan, kecewalah aku….

“Si Butet baru saja pergi dengan kawannya,” begitu ibu Leah memberi tahu aku. “Dia pergi sama kawan kau juga, Nak. Sama si Oge.”

Aku bertanya ke mana mereka pergi. Ibu Leah menjawab, katanya mereka ke Palladium, mau nonton bioskop. Katanya, di sana sudah ditunggu si Dodi, kakak Oge. Katanya, aku dan beberapa teman lainnya juga akan ikut.

Aku kaget mendengar penjelasan ibu Leah. Kubilang kepada ibu Leah, bahwa aku tak merasa punya rencana itu bersama mereka. Ibu Leah tampak bingung, tapi tak memberi solusi. Malah beralasan sedang terburu-buru akan pergi untuk acara resepsi. Aku dibolehkan menunggu di rumah itu, kalau mau. Tentu saja aku nggak mau. Aku pamit petang itu juga.

Tapi aku nggak pulang ke rumah. Aku menepikan motor ke tempat yang agak tenang. Lalu kutelepon seseorang. Bukan Leah ataupun Oge, tapi Dodi. Kakak Oge itu biasanya bicara jujur padaku.

“Lu lagi sama si Oge nggak, Di?” tanyaku.

“Wah, nggak, Bro. Si Oge pergi, tapi nggak sama gue. Gue lagi nyantai aja di rumah, nih.”

“Terus, Oge pergi ke mana?”

“Nggak tahu, lah. Bilangnya cuma sama teman-teman, gitu. Kenapa?”

“Nggak, nggak apa-apa. Gue cuma mau pinjam buku aja.”

“Oh, oke, deh. Ntar kalau dia pulang gue sampein.”

“Oke. Thanks, ya.”

Kututup telepon.

Menurutmu aku harus bagaimana? Menelepon Leah, atau menelepon Oge? Tidak dua-duanya.

Aku menuju ke Grand Palladium, salah satu mall terbesar di Medan. Aku memilih nongkrong di sebuah kafe, yang posisinya strategis untuk mengamati dari kejauhan situasi sekitar bioskop. Aku menunggu di kafe itu. Minuman habis, snack habis, kupesan lagi. Demi bisa mendapatkan bukti apa yang sedang kucemaskan, meskipun aku tak ingin itu benar terjadi.

Cuaca sukar ditebak. Rupanya, yang namanya teman bahkan pacar juga begitu. Sukar diduga. Hampir tiga jam lamanya aku menunggu di kafe itu, akhirnya kulihat juga mereka. Leah dan Oge berjalan keluar dari bioskop, dengan bergandengan tangan. Tak hanya itu kejutan untukku. Kulihat Dodi juga bersama mereka, dia menggandeng pacarnya sendiri.

Mereka berempat di sana senang-senang. Aku seorang diri di sini, menahan marah. Rasanya ingin kuhampiri mereka, terlebih temanku yang bernama Oge itu, ingin kuhajar habis-habisan. Kalau kakaknya ikut campur, kuhajar juga! Kalau Leah menghalang-halangi, kusumpalkan kado gips ini ke mulutnya!

Aku benar-benar marah!

Tapi…

Kamu pikir aku akan setega itu?

Tentu saja tidak. Kuhabiskan sisa apple juice pesananku, yang sudah tawar karena es-nya sudah mencair. Lalu pulang, membawa serta kado yang gagal itu. Tetap kusimpan baik-baik kado itu, meski akan selalu mengingatkanku pada sebuah pengkhianatan yang menyakitkan.

Di rumah, malam itu juga, kukirim sebuah SMS kepada Leah.

“Gw lihat lu jalan ma Oge. Don’t worry, klian serasi kok.”

SMS itu tak pernah dibalasnya.

Yang ada, Leah memilih menitipkan pesannya kepada Dodi. Suatu siang sepulang sekolah, Dodi menemuiku di aula saat latihan Karate mau dimulai. Dia menyampaikan penjelasannya tentang peristiwa di hari ulang tahun Leah itu.

“Gue minta maaf sama lu, Den. Gue cuma bantuin adik gue waktu itu.”

“Ngapain lu harus bantuin?” aku bertanya sambil tertawa, pura-pura aku tak marah. “Oge nggak berani ngerebut Leah sendirian?”

“Bukan gitu. Gue bantuin adik gue, karena gue mengerti alasan dia ngajak Leah jalan.”

“Apa alasannya?”

“Karena lu udah nggak perhatian sama Leah. Itu hari ulang tahunnya, Bro! Leah pingin lu kasih apa, kek, atau ngajak ke mana, kek. Lu tahu sendiri, yang naksir Leah itu banyak. Yang bukan pacarnya aja pada ngasih perhatian, ngasih ucapan selamat. Lu nggak ngasih apa-apa, sengaja lupa atau gimana, lah. Leah kesal sama lu! Oge cuma bermaksud menghibur dia aja, biar nggak sedih.”

Aku membantah tudingan Dodi. “Lu pikir, gue ngapain ke Palladium waktu itu? Karena gue habis dari rumah Leah dan dia nggak ada! Terus lu pikir lagi, ngapain gue ke rumah Leah? Karena mau ngasih dia kado ultah. Udah gue siapin jauh-jauh hari!”

“Nah, itu dia masalahnya! Lu tuh telat! Yang lain udah pada duluan, lu yang pacarnya malah belakangan? Dan akhirnya lu juga nggak kasih kado itu ke dia, kan?”

“Jadi gue harus ngasih kado untuk hari perselingkuhannya, gitu?”

“Mereka nggak selingkuh!”

Aku tertawa. “Jangan sok bego, ya! Gue lihat mereka gandengan! Pakai rangkul-rangkul segala!”

Dodi mulai gugup, plintat-plintut. “Dia cuma pingin ngetes lu….”

“O, ya? Leah pingin ngetes, dan Oge pingin ngerebut, gitu? Kalau gitu harusnya mereka gentle, dong! Leah datang sendiri temuin gue, kasih nilai ke gue. Kan katanya mau ngetes, jadi hasil tes gue berapa? Terus si Oge juga harusnya datang sendiri ke gue, berani ngerebut Leah masa nggak berani ngadepin pacarnya? Dia mau ngomong baik-baik juga bakal gue layanin baik-baik, kok. Kenapa yang nemuin gue malah lu?”

Dodi nggak bisa jawab. Aku tunggu hampir lima menit, dia belum bisa menjawab. Ya sudah, kutinggal dia.

Sorry, ya, gue mau latihan dulu,” pamitku, karena latihan sudah dimulai.

Sore itu aku melawan kemarahanku sendiri. Aku bisa saja berantem dengan Dodi yang membela adiknya. Tapi, gimana juga? Mereka teman baikku sejak kecil. Aku sangat kecewa karena pertemanan itu jadi rusak. Tapi, adu jotos jelas tak akan membuatnya jadi baik lagi, kan? Nggak mungkin, lah. Jadi, mbuh… Aku nggak mau tahu lagi.

Aku mengalah?

Apakah aku benar-benar sudah mengalahkan emosiku? Apakah aku benar-benar sudah mengalahkan diriku sendiri?

Yang kuingat, sore itu, saat duel latihan Karate aku menendang terlalu keras kepada lawanku. Hampir pingsan dia. Aku dimarahi habis-habisan oleh mentorku. Tanpa kusengaja, aku sudah membuat pelampiasan.

Aku menyesal. Tapi bingung bagian mana yang harus kusesali. Aku marah. Tapi sebagian kemarahanku adalah terhadap diriku sendiri! Karena aku merasa tak bisa berbuat apa-apa dengan kecemburuanku.

Aku memilih lari darinya….

Ben memandangiku dengan mimik seolah ikut bingung memahamiku. “Tapi kamu masih mencintainya, kan?”

“Waktu itu masih,” jawabku tercenung. “Lama-lama… perasaan itu pudar sendiri.”

“Terus, kenapa masih kamu simpan benda ini?” Ben menunjukkan kado yang seharusnya milik Leah itu.

“Agar aku selalu ingat, bahwa aku punya alasan saat memilih meninggalkan dia. Bahwa dia salah kalau menyebutku ‘semena-mena’.”

Ben mengernyit. “Maksudmu…?” Dia lalu tertawa sendiri. “Kamu sedang mensugesti dirimu sendiri, bahwa kamu sudah membuat tindakan yang benar saat memilih meninggalkan pacarmu itu?”

Aku mengangguk ragu. “Mungkin.”

Ben tertawa tambah masam. “Jadi, sebenarnya kamu merasa bersalah saat meninggalkannya?”

Makin lesu, aku mengangguk lagi. “Karena… dia ada benarnya juga saat mengatakan aku kurang perhatian padanya. Aku peduli padanya, tapi… aku selalu merasa bahwa itu tak terlalu penting untuk ditunjukkan. Hmhh…. Aku terbiasa begitu.”

Setelah curhat yang panjang, kami berdua terdiam. Tapi aku belum sepenuhnya merasa lega.

“Cuek, memang begitulah sifatmu. Kepada siapapun,” pada akhirnya Ben membuat kesimpulan yang sama padaku. “Cuek, tapi sebenarnya banyak pikiran. Termasuk soal kado ini, nyatanya kamu masih menyimpannya saja. Kalau aku boleh menilai, justru inilah yang membuatmu susah move on! Kamu masih menyimpan benda milik mantanmu. Sebenarnya, selama kamu masih terus berusaha mensugesti dirimu agar tak merasa bersalah atas masa lalu, justru di saat yang sama kamu masih terus mengingatnya. Kapan bisa lupa coba?”

Nasihat Ben itu kutimbang baik-baik. Dan sepertinya dia benar.

“Tapi nggak harus kamu buang juga, sih,” Ben buru-buru menambahi. “Simpan saja kalau kamu masih mau menyimpannya. Yang penting, dirimu sendiri yang harus berhenti mencari pembenaran ataupun kesalahan atas masa lalu. Mau buang benda ini ke laut selatan sekalipun, tapi kalau kamu masih belum mau berhenti memikirkannya, ya sama saja. Lupakan saja, lah.”

“Aku bukannya nggak mau melupakannya, Ben. Tapi… aku selalu takut itu terulang lagi….”

“Terulang?”

Aku berpikir keras. Kali ini ada keraguan yang lebih besar untuk menyampaikan kepada Ben. Karena kali ini ada hubungannya dengan dia. Tapi, sampai kapan lagi aku harus menyimpannya?

Kenapa tak kubuka saja semuanya?

“Ben, kamu pikir aku nggak serius sama Misha? Aku serius suka sama dia!” tandasku, mengakui perasaanku. “Tapi aku takut kejadian yang sama seperti waktu aku sama Leah, terulang lagi kalau aku jadian sama Misha.”

Alis Ben mengerut. “Kok bisa gitu?”

Aku memandangi Ben baik-baik. “Ben, kamu tahu nggak Misha itu suka cowok yang kayak gimana?”

Ben tampak agak bingung. Tak mengerti maksud pertanyaanku.

Kugamblangkan sekalian, “Dia suka cowok yang jago main musik. Dia sering memuji Dimas. Tapi nggak mungkin, kan, dia mengharapkan Dimas? Dia juga sulit mengharapkan Erik, sepupunya sendiri. Tiap kali Misha ngobrol denganku, dia cukup sering… membicarakan kamu.”

Sejenak hening.

Ben tampak serius mencerna ucapanku. Raut mukanya berubah drastis. Sesaat tampak kaget, kemudian berubah canggung di depanku.

“Hei, kok jadi gini?” nada suaranya sedikit naik. “Maksudmu, Misha tertarik sama aku?”

Pembicaraanku dengan Ben langsung berubah menjadi segan satu sama lain.

“Aku nggak tahu,” jelasku gundah. “Awalnya, kupikir dia cuma bermaksud memberiku motivasi agar aku bisa lebih jago main musik, atau apalah…. Tapi, sorry… jangan marah, ya… aku pernah lihat kalian ngobrol berdua di kafe. Sepulang sekolah…”

“Jadi kamu pikir, aku pernah mendekati Misha?” suara Ben terdengar tak nyaman. “Den, aku memang pernah mengantar dia pulang. Dia sedang nggak bawa motor, dan nggak mungkin minta tolong kamu karena kamu sendiri selalu boncengan dengan Dimas. Ya, memang… kami pernah mampir ke kafe. Tapi nggak pernah menjadi sesuatu yang serius, kok?”

Aku tertawa pahit, campur sungkan. “Kalaupun kamu pernah mendekati dia, atau Misha yang mendekati kamu, juga nggak apa-apa. Soalnya aku juga bukan siapa-siapanya, aku bukan pacarnya. Tapi mungkin bisa beda konteks-nya kalau aku sudah jadian dengan Misha. Dan itulah yang kutakutkan selama ini! Aku takut kalau harus melanjutkan perasaanku kepada Misha, dan… ujungnya ada persahabatan yang harus dikorbankan….”

Kening Ben mengernyit tajam.

“Kamu takut kalau aku merebut Misha, seperti temanmu yang merebut Leah?”

Aku tak mau menggamblangkannya. Pertanyaan Ben itu sudah cukup jelas jawabnya. Dan… aku merasa begitu konyol membuka pengakuan ini. Tapi memang inilah adanya yang kupendam selama ini.

Aku tertawa, dan merasa nyinyir dengan tawaku sendiri. “Mungkin bukan kamu yang merebut Misha. Siapa tahu suatu saat Misha-lah yang tertarik padamu, Ben. Dia sering ngomongin kamu….”

Aku tahu pembicaraan ini membuat Ben bingung, kaget, dan tak nyaman. Siapapun yang mendengar mungkin juga tak pernah mengiranya. Ben memalingkan mukanya. Dia tertawa pahit, bicara tanpa menatapku…

“Den… waktu Misha membicarakan aku, apakah dia pernah bilang padamu kalau dia tertarik padaku?”

Aku menjawab, “Tidak.”

Aku jujur menjawabnya, dan aku semakin sadar betapa konyolnya prasangkaku terhadap Ben. Aku menyesal.

“Den, kamu pikir kenapa selama ini aku sering mendorongmu untuk cepat-cepat jadian dengan Misha? Kamu pikir aku cuma meledek? Nggak! Tiap ada kesempatan Misha ngobrol denganku, dia juga selalu ngomong soal kamu. Dia nggak pernah bilang padamu kalau dia menyukaiku, kan? Tapi dia sering cerita padaku, bahwa dia menyukaimu. Sekarang kamu mengerti?”

Aku mendesah, semakin merasa bersalah. Aku mengangguk. “Maaf, ya, Ben…. Aku cuma orang yang plin-plan. Terlalu memelihara ketakutan. Aku salah berprasangka seperti itu ke kamu.”

Ben sekarang menoleh padaku. Tak kusangka, kini dia tersenyum lucu. “Ketakutanmu beralasan, kok. Sebenarnya, justru kamu adalah orang yang punya kepedulian. Saking pedulinya, kamu sering memilih untuk tidak memamerkannya. Sayangnya, sepertinya Leah tak memahami itu. Iya, kan? Tapi, kurasa Misha lebih paham. Misha itu cewek yang punya kepekaan, makanya dia jadi bingung: kenapa kamu nggak pernah mengatakan secara terus terang padanya? Siapa yang nggak tahu, sih, kalau kamu itu punya rasa ke Misha? Semua tahu, lah! Tapi kenapa kamu nggak pernah terus terang sampai sekarang?”

Aku termangu. Terharu.

“Anehnya, kamu juga lebih memahamiku dibanding Leah….” celetukku.

Bola mata Ben sedikit membesar. Dia berkacak-pinggang. “Kok, kata-katamu jadi romantis?”

Kami berdua tertawa.

Aku tak tahu apakah ucapan Ben itu adalah pernyataan yang harus kutanggapi. Tapi yang terpenting, aku lega Ben tak tersinggung oleh prasangkaku. Benar-benar lega!

“Tapi, kamu tetap harus tebus kesalahanmu!” tiba-tiba dia masih menyambung.

Alisku meliuk. “Tebus? Pakai apa?”

“Kalahkan prasangkamu selama ini! Misha itu cewek, dia bisa curhat ke siapapun, tapi dia nggak akan bicara duluan ke kamu soal perasaannya. Kalau kamu memang masih suka padanya, kamulah yang harus bilang. Lu tuh cowok, man!”

Jantungku berdegup mengencang.

“Jelas, lah, aku masih suka sama dia!” tegasku.

So…? Kalau besok kamu jadi berangkat mencari Dimas ke Bali, kamu yakin Misha masih di sini saat kamu pulang? Semua sedang sibuk menyiapkan kuliah. Dia bisa pergi kapan saja. Kamu mau menunggu sampai kapan lagi? Nunggu sampai telat?”

Aku bangkit berdiri. Sesaat sempat gugup… lalu kurangkul erat-erat sahabatku itu.

“Aku menunggu siapapun yang bisa membuatku lebih yakin!”

“Oke, oke…” Ben melepaskan diri dari rangkulanku, “tapi simpan ciumanmu buat Misha. Don’t kiss me!

“Gue nggak bakal cium lu!” tukasku sengit.

Tapi…

“Aku akan menemui Misha sekarang!”

 
 
 
😎
 
 
 

 bersambung…

 
 
 
 

 

64 responses to “Karung 8

  1. noelapple

    16 Februari 2014 at 13:25

    Selamat membaca. Karung 9 akan dipublikasi hari Minggu, 23 Februari 2014.

     
  2. dodhisayandas

    16 Februari 2014 at 21:22

    wah… jadi pemenang kuis dan jadi orang pertama mengomentari karung 8! benar2 berkesan bang noel! hahaha
    cerita si denis kali ini buat aku membongkar memori masa sma, aku jg pernah dikhianatin teman kayak kisahnya denis… saat itu aku cuma bisa terima kenyataan kalo ternyata teman dan mantan pacarku ada main dibelakangku bang (ah, jd malah curhat!)
    well buat karung kali ini banyak kisah flashback tapi ada kalimat2 yg sulit aku pahami bang sperti “kedanan” aku gak tau itu salah tulis atau akunya aja yg kurang paham tapi tottaly karung kali ini bagus! banget!

     
    • noelapple

      18 Februari 2014 at 11:18

      ‘Kedanan’ adalah serapan dari bahasa Jawa, tapi sudah cukup sering saya jumpai dipakai dalam pembicaraan berbahasa Indonesia. Dari kata dasar ‘edan’, ‘kedanan’ bermakna sama dengan ‘tergila-gila’ atau ‘menggilai’. Kenapa saya tidak pakai kata ‘tergila-gila’ atau ‘menggilai’ saja? Sebab saya membayangkan Denis mengucapkannya dengan muatan emosi agak kesal dan agak mencibir. Jadi perlu kata yang lebih bertekanan. ‘Tergila-gila’ atau ‘menggilai’ terdengar agak formal, jadi kurang greget kalau memakainya pada kalimat tersebut. Tapi ini bersifat kontekstual ya, bukan berarti saya tak akan memakai kata ‘tergila-gila’ atau ‘menggilai’ di lain kesempatan.

       
      • emyu

        20 Februari 2014 at 17:49

        itulah kekurangan sebuah teks..
        kadang, ngebaca aja nggak tau (padahal sering diucapkan), begitu dijelaskan atau diucapkan oleh yang bersangkutan, langsung “oh.. itu tho..”

         
  3. aaron steve

    17 Februari 2014 at 10:01

    sebelum membaca karung 8 saya berterima kasih dahulu terhadap bang Noel atas rewardnya ini. untuk komentarnya tunggu saya selesai baca karung ini dulu yaa

     
  4. aaron steve

    17 Februari 2014 at 10:10

    baiklah, saya sudah baca karungini. komentarku hanya:

    akankah Denis mengatakan perasaannya kepada Misha? dan akankah Leah mengetahui keberadaan Misha saat Denis bersekolah di Solo? akankah masalah cinta segitiga ini tetap melanjutkan Denis untuk mencari saudara kembarnya di Bali? dan kira-kira apa yang dilakukan Fandy sehingga dia bisa lepas dari cengkraman pamannya yang mantan atlet judo itu? Sementara itu, bagaimana keadaan Dimas di Bali? masihkah Dimas berada di Bali atau sudah berpindah lokasikah dia? semua itu hanya waktu saja yang dapat menjawabnya.

    *ala-ala presenter infitainment di TV hehehehe*

     
  5. Gabriel

    17 Februari 2014 at 22:56

    Meskipun reward-nya abis besok (baru sempet baca sekarang), setidaknya ada keuntungan sehari lebih update dibanding pembaca lainnya, therefore thanks ya Mas Noel😀

    Nah, Karung ini nih…. Kalo di Karung sebelumnya saya muji Mas Noel karena berani menyelipkan kisah percintaan Denis yang straight, maka di Karung ini kelihatan jelas lah kenapa Mas Noel kok sampai berani, karena yah you know exactly what you’re doing Mas🙂 Kalo aja Karung ini dipisah di blog yang berbeda, dan dihapus judulnya, diganti nama2 karakternya, pasti saya akan mengira bahwa yang menulis adalah seorang anak remaja (bahkan mungkin gadis) yang masih fresh di ingatannya gimana rasanya first love di bangku SMP, dan gak akan kepikir sedikit pun yang nulis ternyata seorang gay dewasa. Ini membuktikan bahwa mas Noel bukan cuma menguasai tema gay love saja atau young love saja, tetapi ya Love itu sendiri secara umum. Yang manapun, tetap merekahkan senyum ‘ohh-so-sweet’ bagi pembacanya. Dan agak heran dengan komentar2 lain yang menganggap selingan cerita cinta Denis ini di luar tema lah, atau tidak relevan lah, loh justru dengan eksplorasi latar belakang Denis dan kisah percintaannya membuat CRA jadi jauh lebih ‘kaya’ akan wawasannya tentang cinta, membentuk dinamika tersendiri di kontinuitas alur ceritanya, dan penggalian secara merata akan karakter2 di dalamnya. Komentar2 lain membuat saya bertanya2, apakah saya satu2nya cowok straight yang baca CRA? Karena yang lain kayaknya udah greget banget pengen balik ke gay love theme-nya Dimas, hehe (no offense ya pembaca lain).

    Anyway maaf kalo setiap comment jadinya panjang gini Mas. Sampai jumpa di Karung 9, apapun isinya, pasti tidak kalah menarik😀

     
    • noelapple

      18 Februari 2014 at 10:54

      Boleh-boleh saja sih kalau ada yang nggak suka dgn Karung 7. Tapi yang pasti saya tidak akan pernah mengikuti dikte dari para pembaca yang suka minta ceritanya harus begini-begitu. Kalaupun eksekusi yang saya lakukan thd cerita ini kemudian tidak disukai pembaca, saya akan mempertanggungjawabkannya atas nama sendiri. Sedangkan misalnya saya cuma mengikuti kemauan pembaca A, eh ternyata nanti ada pembaca B yang komplain ceritanya jadi jelek–karena selera pembaca beda-beda, untuk cerita yg sama sekalipun–apakah pembaca A mau saya salahkan? Saya bilang, “itu salah pembaca A, dia yang request ceritanya supaya jadi begini.” Nah, apakah pembaca A itu mau disalahkan? Makanya, saya tak akan menyalahkan selera pembaca. Cuma, saya heran sekali mengapa ada mentalitas pembaca yang maunya minta cerita harus seperti yang dia inginkan.

      Banyak cowok-cowok straight yang ikut membaca cerita ini, kok. Saya sering mendapatkan testimoni mereka sejak CRA 1. Tapi banyak yg silent reader.

       
  6. Gabriel

    17 Februari 2014 at 22:59

    Dan satu lagi mas: Denis minum Apple Juice?? Bisa aja mas Noel, bisaa ajaaa…😀

     
  7. INTAN!

    18 Februari 2014 at 19:18

    Kak noel…. Udah selesai baca karung 8 ini~
    “Nha terus, kenapa dulu kamu macarin dia?” -> kata2 yg sering aku denger tiap ada orang yg putus gak baik-baik hehe

    Ditunggu karung 9. Sekian. Terimakasih^^~

     
  8. dian kusuma

    18 Februari 2014 at 20:12

    udahlah yang ini keren dan keren dan keren dan keren dan keren
    **sejenak melupakan dimas dan fandy.

     
  9. hary092

    18 Februari 2014 at 20:30

    baguus banget mas noel… sementara, ini jadi part favoritku.
    penasaran, kayaknya akan ada asem-asem Apel di part selanjutnya.

    jadi inget di CRA 1 yang pas erik mgasih pesen ke dimas mau ngong sesuatu, pas itu aq udah seneng bgt… tapi ternyata selanjutnya dia mlah ditolak dan tman2nya tau dia gay. aq juga jadi kyak dimas “takut terulang” di part 9…😀

    manis dulu atau langsung asem? apa malah hambar kaya jus yang diminum denis…😀
    bersambung ke karung 9……..

     
  10. Chimaya

    18 Februari 2014 at 20:42

    terkecoh sama clue pw ny q ne mas, kota ‘n nma prasastiny. Q kira kotany tmpat prasasti itu. Trnyata bukan. Slah q ndiri ya yg gag bca clueny lbih cermat. Hehe (sorry OOT mas)
    q gag tau kenpa rasany agak lega wktu si Denis curhat k Ben. Pdhal q kan bukn Denis yak. Hehe
    Hany berhrap, smoga Misha mau nrima Denis. Amin.
    Jd gag sbar nunggu karung 9~

     
  11. ray_har

    18 Februari 2014 at 22:04

    saya ingin punya teman seperti ben

     
  12. pramuda

    18 Februari 2014 at 22:22

    bukan ne mau minta cerita ini harus gini harus gitu mas.
    karung 7 kemaren bagi ku hambar karena karakter dan percakapan leah itu terlalu lebay…
    bukan aq juga gak suka sama thema yg mengangakat cinta lawan jenis, tpi cuma gak begitu suka saja sama karakter leah yg begitu, bagiku kayak dipaksakan…
    soalnya setahuku seorang cewek batak gak gitu banget…

     
    • noelapple

      18 Februari 2014 at 23:19

      Bukankah sudah diberi tahu oleh Denis bahwa Leah memang lebay? Itu artinya saya berhasil membuatnya selebay yang dikatakan Denis. Aku sendiri tidak suka orang yang lebay, dan kalau kamu tidak menyukainya itu juga sah saja. Tapi apakah sebuah cerita harus menampilkan karakter-karakter yang ‘aman’ saja?

      Soal sifat orang Batak, ada hal-hal yang dapat tergambarkan secara stereotip. Misalnya cara ngomongnya yang lantang, lugas, dan ulet–kita bisa menyepakatinya. Tapi tentu ada sifat-sifat individual yang tak dapat dibuat stereotip begitu saja. Kalau di sini saya menampilkan seorang cewek Batak yang ngeyel, tidak setia, dan nekat, tentu bukan bermaksud saya menganggap semua cewek Batak seperti itu, karena yang saya tampilkan adalah sifat individualnya. Jadi sah-sah saja menampilkan sifat individual seperti Leah, ingat: SIFAT INDIVIDUAL.

       
  13. pramuda

    18 Februari 2014 at 22:27

    si denis memang terlalu cuek yah, sampe gak kepikiran efek tanpa penjelasan.

    kalo si denis langsung menemui misha dan menyatakan perasaan dia, ckckck, parah bgt deh…. haha… #sok tau.

     
    • noelapple

      18 Februari 2014 at 23:21

      alasan-alasan Denis melakukannya sudah dijelaskan di Karung ini. dan kalau Denis menyatakan perasaannya kepada Misha, kenapa dianggap parah? dua-duanya saling suka. atau lebih baik Denis terus jadi pecinta yang pengecut saja, begitu?

       
  14. Raffi

    18 Februari 2014 at 23:29

    Sandinya susah banget…..sampe 20 lebih baru bener……..
    Thanks bang…….
    Lain kali sandinya jangan terlalu rumit geh…….

     
    • noelapple

      19 Februari 2014 at 11:05

      Tapi pada akhirnya kamu bisa kan. Kalau cuma mengerjakan yang mudah-mudah, kita tidak akan berkembang.

       
  15. Panji 48wota

    18 Februari 2014 at 23:49

    Hai… Hai… Hai… Mas Noel totemo kakoii…. Setiap ceritanya menyentuh prasaan terdalam, ga ku sangka ternyata Denis punya cinta yg Ga kalah rumit dari dimas ya… karung 7 dan 8 ini menyadarkan saya bahwa Denis itu orang yang sangat perhatian, apa y yg akan terjadi dengan kisah cinta Denis ini ya…..

    Q akan terus mendungung stiap karung ini, karna ceritanya selalu membuka wawasan Dan imajinasi kita pin ikut terbawa….

    Sukser terus buat mad Noel, watashi wa zutto matte iru Kara….
    noel-ani-san ganbatte ne

     
  16. Oong IKu YO Onky

    19 Februari 2014 at 00:14

    eh ciyeee ada yg bakal jadian nehhh ehem ehem >_<

     
  17. Arial Brahmastra

    19 Februari 2014 at 00:19

    Aku setuju dengan pendapat Mas ttg Denis yang harus memiliki porsi ceritanya sendiri, termasuk bernarasi. Dari CRA 1 sampai CRA 2, aku selalu penasaran kenapa Denis memiliki peran yang sangat penting bagi Dimas tapi kehidupannya sendiri (termasuk kisah cinta) sama sekali tak ada. Dan di CRA 3 akhirnya Denis lebih banyak di-expose, tanpa memancung benang merah permasalahannya Dimas itu sendiri.

    Dan sampai karung ini aku kagum karena Denis yang tampak kuat, cuek keterlaluan ternyata juga menyimpan sisi rapuhnya sendiri. Which means so normal for human. Ralat, Denis mungkin terlihat tak peduli namun sebenarnya dia peduli (yang malah ngingetin aku dengan Ricky di HBR karena sama2 terkesan cuek).

    Penasaran nih, kira-kira Ben bakal di-expose juga nggak ya ?🙂

     
    • noelapple

      19 Februari 2014 at 11:04

      Tapi Ricky tidak gokil seperti Denis. Denis lebih enak diajak ngobrol, sedangkan Ricky terlalu kelam.

       
  18. suher_ndut

    19 Februari 2014 at 00:29

    sepintas aye berpikir. gimane cara ngungkapin perasaannye ye ntu si denis ke misha?.

    trus si ben ngikut ape kaga ye kesono ama si denis?(nemuin misha).

    trus… ape mungkin si misha lg sama erik ya? yg kebetulan denis mau nemuin si misha?

    wahhh di bikin penasaran lg ama bang noel…

    hari minggu tgl 23 feb cepat lah berlalu… :3

     
  19. gilangsinggih

    19 Februari 2014 at 02:26

    Membaca karung 8 ini seperti sedang tanya jawab dengan diri sendiri.
    Pertamane lucu, biasa lah Denis-Ben, dan di bagian akhir Ben muncul dengan nasehat-nasehatnya.
    *nowel dagunya Denis

     
  20. radi

    19 Februari 2014 at 03:01

    di part ini q seperti menemukan sifat asli denis. Kalau dimas terlalu cerobh dlam cinta tpi kalau denis plin plan dan trauma akan masa lalu. Mas noel bnar2 brilian bikin cerita

     
    • noelapple

      19 Februari 2014 at 11:01

      Ketika Dimas ragu untuk nembak Fandy, yang dia pikirkan adalah jika Fandy ikut terimbas soal homophobia. Keraguan Dimas lebih eksklusif thd orang yang dia cintai. Sedangkan keraguan Denis lebih terbuka, tak hanya untuk Misha semata tapi juga mengkuatirkan persahabatan mereka yang melibatkan Ben, Erik, juga Dimas. Dimas dan Denis sama-sama peragu. Alasan mereka berbeda, tapi sama-sama terbentuk oleh suatu trauma. Untuk soal merahasiakan sesuatu, terbukti Denis memang lebih rapi. Dimas (mengaku kepada ayahnya) sudah mempercayai kepandaian Denis soal menyimpan rahasia, makanya Denis tak dilibatkan dalam pelarian ke Bali demi menjaga agar ibu mereka tidak ‘terkucil’.

       
  21. devan

    19 Februari 2014 at 06:27

    bang,, ini penulisnya masih sama kan sama CRA sebelumnya (1&2) ??
    kenapa pas penghantar ceritanya Denis koq bahasanya kayak beda ya.. lebih puitis dan filosofis Dimas.. mungkin karna aku kangen sama Dimas kali ya,, jadi keingetan dia mulu…

     
    • noelapple

      19 Februari 2014 at 10:50

      Yang pasti sejak CRA 3 ini saya lebih merapikan teknis penulisan. Tapi karakteristik tiap tokoh tetap dipertahankan. Denis memang tidak puitis, dia lebih cenderung menggombal apa adanya, tidak berlebay-lebay.

       
  22. aaron steve

    19 Februari 2014 at 07:01

    gay sudah, straight sudah, tinggal yang lesbi dan transgender nih yg belum ada di CRA (eh, transgender udah sih-walau cuma kameo saja). Terserah bang Noel saja dah mau dibawa kemana serial CRA ini😉

     
  23. Syai

    19 Februari 2014 at 09:06

    Harus saya akui si penulis sangat piawai menggiring pembaca “menjauh” dari alasan pertama mereka menbaca seri CRA ini.

    Untungnya Noelan (para fans Noel, I just made it up, sorry 😀) mayoritas adalah teen readers, sehingga amat mudah bagi mereka menerima tema teen-love, walau sekarang not about Canon in D anymore.

    Well, let’s see what happen next…

     
    • noelapple

      19 Februari 2014 at 10:47

      Karena pada akhirnya semua akan terkumpul menjadi sebab-akibat juga. Jadi masalah Denis-Leah bukan sekedar tempelan.

       
      • Syai

        19 Februari 2014 at 17:57

        Saya gak bilang kalo kemunculan Leah cuma sekedar tempelan lho. Bahkan mungkin memang part tersebut harus ada untuk mendasari sikap Denis yg holding back from such girl like Misha.
        Tampaknya pembaca (termasuk saya) memang harus bersabar untuk memahami semua seperti memasang potongan-potongan dari sebuah puzzle. It takes time.

        And that “apple juice” is really smart thing, if I may add.

         
  24. blackshappire

    19 Februari 2014 at 09:10

    terjawab sudah akhirnya….
    denis hebat ya, dia itu memikirkan sebab akibat sebelum bertindak
    tapi kadang terlalu banyak berpikir malah membuat orang enggan bertindak
    *berkaca pada diri sendiri

     
  25. rendyyi

    19 Februari 2014 at 11:56

    entah mengapa saya merasa ga yakin kalo denis bakal nembak misha, manusia bisa berubah dalam sedetik kan..
    dan lagi masih ada leah…

     
  26. Windu Wijaya

    19 Februari 2014 at 16:57

    tak kirain si dennis bakalan balik sama leak lagi, ayo den ntar keburu diembat sama orang lain lagi kapok lo. Dari sekian karung, baru kali ini pengen banget koment, Good job bang noel.

     
  27. penggemar setia

    19 Februari 2014 at 18:04

    ternyata kisah cinta denis juga rumit……
    tinggal ben yg belum mendapatkan pasangan,…..
    mas mau nanya HBR kapan lanjutannya dah kangen bgt ama cerita ricky n dika penasaran ama cerita mereka

     
    • dalijo

      20 Februari 2014 at 01:31

      karung 7 terselamatkan oleh karung 8.

       
  28. leafie

    19 Februari 2014 at 20:53

    rada gasuka sama sifat leah btw, nyebelin gitu -_- denis itu cuek tapi dibalik cueknya, dia banyak nyimpen hal2 yg gk terduga haha sampek segitu takutnya kah dia? Dan kehadiran ben emang sangat membantu si kembar. Makin cinta ben😀 hehe btw makasih mas keren passwordnya, ini sebenernya udah tau dari karung 7 tp telat baru buka sekarang. Kangen dimas.. Moga dia baik2 aja di sana..

     
  29. Diyuna

    20 Februari 2014 at 13:30

    Selebay dan secadas apapun leah.. Kita harus berterima kasih pdnya. Karna berkat dia rahasia hati yg sekian lama tersimpan rapi dihati denis terungkap. Alasan yg membuat kita gemes karna menggantung misha akirnya kita ketahui. Dan yg membuat suprise adanya ben menjadi sumber alasan hahahahaha
    Dan akirnya sekarang yg membbuat penasaran (lagi) adalah akankah waktu denis nembak misha, apakah misha terima ato karna udah capek nunggu akirnya mulai pindah kelain hati….
    Mengingat ini masih karung8 masih jauh dari kata ending.. Akan banyak peristiwa yg bisa terjadi
    Karna itu Mari bersama sama kita tunggu karung karung selanjutnya

     
  30. AditaKID

    20 Februari 2014 at 13:45

    sekarang saya ngerti kenapa Denis masih ragu terhadap Misha..
    saya blushing sendiri sepanjang baca masa lalunya Denis..
    gak nyangka Denis ternyat orangnya begitu…
    Dan berterimakasihlah pada Ben yang udah ngemotivasi Denis,..
    terus terimakasih jg buat Leah, gara2 dia jadi tahu kenyataan tentang Denis..
    ah saya paling blushing waktu bagian Denis nembak Leah, meskipun emang gk romantis sama sekali, tapi itu Denis lho yg nembak, gak nyangka.. itu yg ditembak Leah, tp saya yg blushing, wkwkwkw =D
    baguslah, sebelum ke Bali harus memastikan Hubungan Misha sama Denis dlu..
    semangat buat Denis ^^9
    oke, lanjutkan bang Noel,,
    lanjutannya saya tunggu..
    Nice Story~
    I Like It..

     
  31. emyu

    20 Februari 2014 at 18:29

    pacar pertama, kelas 1 SMA, sama primadona sekolah, yang ternyata kelakuannya ya begitulah.. nembak pas pulang sekolah..
    entah kenapa, aku ngerasa kalo nasibku sama Denis ini samaan.. #hmm
    sama seperti Denis, bagiku, bisa memacarinya merupakan kebanggaan tersendiri waktu itu.
    waktu itu

     
  32. hafidz de fidzkar

    21 Februari 2014 at 17:51

    kenangan pahit😦
    maaf anak baru
    itu ajah,,, oh,,,

     
  33. Fyaaaan_S

    21 Februari 2014 at 19:09

    masih nunggu petualangannya.

     
  34. denis

    21 Februari 2014 at 19:43

    Mau mengkoreksi bang noel.. Kalau di grand palladium tempat duduk paling strategis untuk melihat tempat 21 cineplex ga ada. Dia adanya langsung masuk room gitu. Ruang tunggu untuk tayang film dilantai 2😀. Hehehe.. Jadi merasa aneh aja posisi palladium gitu😀
    .. Dan palladium itu baru resmi sekitar 2010an🙂. Hehe dan disekitar 21 cineplex ga ada cafe😀

     
    • noelapple

      23 Februari 2014 at 16:54

      Terima kasih atas koreksinya, dan mohon maaf atas ketidaksingkronan yg telah terjadi. Awalnya saya menyiapkan nama Medan Plaza sebagai TKP. Tapi kemudian saya menemukan Palladium yg berada di jantung kota, dan nama itu terdengar lebih keren. Saya sebenarnya sudah sempat membaca profilnya berdirinya, yaitu di thaun 2010–itu benar. Tapi saya terkecoh oleh naskah saya sendiri. Saya memakai setting thn 2011 utk CRA 3 ini. Tapi saya lupa bahwa adegan di mall itu adl sebuah flashback ke tahun 2009. Nanti di versi buku diganti, deh..🙂

       
      • denis

        1 Maret 2014 at 02:24

        Hehe gpp sih😀. Kalau orang ga tau, juga ga akan berpikir kesitu. Tapi kalau Medan Plaza ada cafe disitu, menjorok diki. Bisa sih lihat orang disitu ngapain hahaha..😀..

        Dibukukan?? Kasih saran bang noel. CRA 3 ini di publish di elex media atau Gramedia dong😀. Soalnya biar dapet dan gampang nyarinya. Dan nama bang noel makin terkenal😀

         
  35. nikodprasetya

    21 Februari 2014 at 20:02

    gambaran sosok leah kurang bisa di”real”kan di otak saya mas noel, karena selama ini sering tertanam kalau orang batak itu punya wajah yang tegas, logas yang keras & sikap “pemenang”.. jadi kalau harus membayangkan leah adalah seorang model atau primadona sekolah, masih sulit saya bayangkan.. hehehe *hanya masalah waktu mungkin yah mas*

    Denis punya hati yang cukup sensitif untuk seorang pria cuek.. salah satunya waktu dia mengurungkan niat menjenguk, membuat pahatan dan membatalkan memberikan pahatan ke leah.. saya pikir denis itu punya sikap spontan, reaktif dan cuek..🙂 seperti yg tergambar di CRA1.. mungkin disini terkuak sisi sensitifnya denis ya mas.. denis terkesan terlalu “mikir” untuk seorang pria cuek, tapi mungkin itu salah satu sikap denisbyang baru saya ketahui.. hehehe

    ditunggu postingan berikutnya mas.. keep spiriitt!! hwaiting!!😀

     
    • noelapple

      22 Februari 2014 at 10:18

      Nadya Hutagalung itu model Batak berkelas internasional lho. Siapa bilang figur cewek Batak tak cocok sbagai model. Kalaupun Leah bisa menjadi primadona, itu karena terjadi di sekolahnya di Medan. Kalau dia sekolah di Wonogiri mungkin memang–alih2 jadi primadona–yang ada teman-teman sekolahnya pada takut.

      Dari luar tampaknya Denis mmg karakter yg spontan. tapi coba diingat bagaimana dia calm down ke Dimas saat piknik di Bali (CRA 1). Denis bisa meredakan kemarahan dan kebencian Dimas dengan kata-katanya. Denis juga seorang yang dapat berpikir dan menimbang suatu masalah dengan hati. Hanya saja selama dua season itu tidak terlalu tampak, itu disebabkan karena yg dibaca pembaca adalah prespektif Dimas. Sekarang CRA 3 dibawakan langsung oleh Denis, maka apapun yg sebelumnya tidak tertembus pada karakter Denis sekarang dapat dikuak.

       
  36. akyuza

    21 Februari 2014 at 21:55

    yaa akhirnya terungkap jg kenapa misha digantung selama ini.. waduuh ternyata dibalik sifatnya yg straight to the point, denis jg punya sifat yg ‘daleemm’ banget gn ya hmm btw auka bgt kalimat ini ““Lia,” waktu itu aku masih
    memanggilnya begitu, “gue suka
    sama lu. Lu juga sama nggak, sih?”” bikin ngakak..

     
  37. teyo

    22 Februari 2014 at 09:31

    Seru juga percintaan denis sama leah tapi lebih seru percintaan dimas yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Apa lagi kalo inget waktu dibali sama masalah dengan guru bp yang bikin ketar-ketir.

     
  38. nakontel

    22 Februari 2014 at 10:09

    wah sebuah kisah cinta yang rumit, karena suatu ketakutan kejadian di masa lalu akan terulang, denis malah jadi gantung Misha ya.. dan untungnya Ben gak kaya si oge …

    di tunggu karung 9 nya bang Noel.

     
  39. nikodprasetya

    22 Februari 2014 at 12:24

    ah saya melupakan nadya hutagalung! padahal sering nonton AsNTM.. hehee😀

    iya mas masih banyak sikap denis yang belum diketahui..
    can’t wait for karung 9…😉
    kapan kapan dari persfektif fandy ya mas, cowok penggabungan antara legolas+cupid! :p si unyu unyu… hahaa

    ganbatteee mas…😉

     
  40. Fernando

    22 Februari 2014 at 14:13

    Awalnya aku kira cra 3 ga akan diterbitkandi blog.
    Karena kukira hanya ada bentuk buku.
    Aku ga ngerti kok ini di blog? Apa nanti ga bakal ngerepotin kak noel karena harus ubah dan edit lagi kalo bikin edisi buku?
    Apa yg blog ini buat ngetes pembaca aja responnya gimana? Atau begitu tamat semua cerita disini langsung di blok? Tapi kan ada aja pembaca yg simpan file ini di word?
    Ga jadi buku dong nanti penjualan bukunya menurun?
    Aku sih lebih mengharapkan bentuk buku. Supaya pembaca lebih menghargai kak noel bukan soal kak noelnya.
    Selain di blog selalu dikasih password dan clue. Jadi pembaca ada usahanya dulu sebelum baca

     
    • noelapple

      23 Februari 2014 at 16:50

      Harus saya akui bahwa blogging memiliki sensasi yg lebih, karena dpt berinteraksi dengan pembaca di tiap bab. Saya juga bukannya tidak tahu perbuatan-perbuatan pembaca yang suka copy paste, bikin spoiler di group FB, dsb. Saya tidak lelah-lelahnya mencari cara utk menyiasatinya. Terima kasih masukannya. Kita lihat nanti.🙂

       
  41. rendy

    22 Februari 2014 at 20:09

    keren,,

     
  42. Firgyawan

    22 Februari 2014 at 22:30

    1 kali ketik untuk sebuah pasword. ternyata sudah mulai berkembang. just spirit for CRA.

     
  43. Kopi Soda

    23 Februari 2014 at 17:38

    tulisan bang noel itu aku anggap bagus, banyak yang bisa dijadikan buat bercermin ke dalam diri sendiri, salut bang
    ditunggu juga kantong 9 yang katanya mau dipublikasikan hari ini

     
  44. Emanona

    24 Februari 2014 at 00:46

    Gak ada komen lain selain “Mantebh!!!”

     
  45. cipongbob

    25 Februari 2014 at 09:50

    Makin seru ceritanya mas noel

     
  46. juma

    1 Maret 2014 at 17:11

    nah gitu dong, kaloo sma misha jd serasi :D… ahh denis bikin meleleh hihi

     
  47. kazekage

    19 April 2014 at 18:19

    Denis romantis yaa mas..hahaa kepedulian yg tulus ya kayak gitu, ga usah diucapkan, cukup tunjukkan pake sikap semua orang jga bisa liat.. Aku suka karakter denis yg itu, selain bagian bandelnya denis juga gemesin. Hehe

    Suka mas skrg aku sama ceritanya,, mulai jelas dan mulai luas.. Kereen deh pokoknya..

     
  48. purie

    4 September 2015 at 10:22

    kesamapain jg bisa lebih tau pribadi denis,yah dri awal baca CRA suka sama karakternua denis seh,koplak koplak setress gtu….

    di CRA 2kmren gw brharap ada saatnya si denis sama misha,nah baru dikarung 8 ini denis blang suka misha,,dri awal jg udah nebak si denis suka misha hehee

    ini pov denis yah maklum ajah dibahas masalahnya denis,yakali yg pnya masalah bkan dimas ajah denis jg kali huhuhu

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: