RSS

Chapter 1

 
 

Friksi

 
 
 

Fian menepati janjinya di akhir pekan itu, yaitu membayar uang bulanan sekolahnya yang sudah menunggak tiga bulan. Dia menghadap Bu Ernie, wali kelasnya, untuk menyerahkan empat lembar uang kertas berwarna merah, plus satu lembar berwarna biru. Wali kelasnya itu seorang perempuan yang usianya belum tembus 40 dan berparas judes, tetapi di pertemuan itu ia tampak melembut dan menjadi sedikit keibuan; ia menerima uang yang disodorkan padanya dengan tangan sedikit gugup.

“Sebetulnya Saya berat menuntut hal ini, Fian. Sebab Saya tahu jumlah ini cukup besar untuk kamu. Tapi… yah, ini sudah menjadi kebijakan sekolah.”

“Saya mengerti, kok, Bu.” Fian menjawab kalem.

“Andai saja ini sekolah negeri, semua murid tak harus terlalu terbebani….”

“Ini sekolah yang bagus. Saya bangga dan tidak menyesal bersekolah di sini.”

Bu Ernie tersenyum kagum sekaligus terharu. Suaranya kemudian lebih renyah menyahut, “Baiklah. Belajarlah yang baik, supaya suatu saat kamu bisa berhenti berjualan jagung manis, dan berganti pekerjaan menjadi insinyur, atau dokter, atau…. eh, iya, akhir pekan kamu tidak jaga kedai, ya?”

Fian tersenyum menggeleng.

“Hmm. Sayang. Padahal Saya ingin mencoba jagung manis jualanmu itu. Beberapa teman mengatakan ‘enak’. Tapi, yah, siapa pun ingin bebas di akhir pekan, apalagi yang masih muda sepertimu.”

Fian bisa saja balas menyahut: Ibu juga masih muda, pasti juga ingin bebas di akhir pekan. Tapi Fian bukan anak kurang ajar. Dia lebih memilih berpromosi, “Tiap akhir pekan kedai kami dijaga oleh pemiliknya sendiri. Tetap buka. Jadi Ibu tak perlu menunggu hari Senin kalau memang ingin mencoba.”

“Baiklah,” Wali Kelas bertubuh bagus itu tersenyum puas. “Sampai bertemu hari Senin, Fian.” Ucapan itu dibumbui sedikit senyum genit.

“Permisi, Bu Ernie.”

Fian meninggalkan ruangan Bu Ernie, guru yang di luar sekolah bekerja sampingan sebagai instruktur senam. Tak heran badannya bagus. Payudaranya menggiurkan banyak siswa lelaki.

Sedangkan sosok Fian adalah seperti ini: kepalanya hampir gundul—tepatnya dia mencukur rambutnya hingga gundul tiga minggu lalu, dan sekarang rambut di kepalanya sudah mulai sedikit menebal lagi. Alisnya hitam tipis agak datar. Matanya sayu. Hidungnya sedikit mancung. Bibirnya kecil dan merah pucat seperti jeruk, dan terkesan jarang tertawa. Dagunya sedikit menyembul seperti cembungan telur. Lehernya kecil agak tinggi. Tubuhnya kurus. Kulitnya kuning cenderung putih pucat. Betul, seperti remaja kurang gizi. Jika dia hewan, jagal mana pun akan galau untuk menyembelihnya, karena kasihan.

Kurangnya gizi itu dimulai sejak kedua orang tuanya meninggal di saat dia baru berumur 14 tahun. Kedua orang tuanya meninggal dilindas tronton saat sedang berangkat ke gereja berboncengan dengan motor. Fian anak semata wayang dari kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya dulu kawin lari oleh sebab keluarga dari masing-masing pihak saling menentang. Sampai keduanya meninggal, dua keluarga besar itu tetap tak sudi mengakui. Sekarang Fian sesungguh-sungguhnya sebatang kara. Hidup sendiri.

Fian sudah 16 tahun sekarang. Warisan orang tua berupa tabungan—yang jumlahnya tidak banyak—dipakainya untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan sekolah. Tak ada warisan tanah dan rumah, sebab selama ini dia dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan. Untungnya, ayahnya sempat memperpanjang kontrak rumah itu untuk lima tahun ke depan. Jadi sampai tiga tahun ke depan Fian tak perlu cemas harus tinggal di mana. Dia tinggal di rumah kontrakan sederhana tapi cukup layak; ada pekarangan belakang untuk menanam singkong dan ubi.

Selama ini Pak RT yang menguruskan semua administrasi, dan mengatasnamakan diri sebagai wali karena Fian masih di bawah umur. Tapi semua itu hanya untuk hal-hal yang menyangkut formalitas saja, dan Pak RT bersedia karena “dipaksa” oleh statusnya sebagai Ketua Rukun Tetangga. Soal makan dan pakaian dan masalah domestik sehari-hari, Pak RT tak (mau) ikut campur.

Dan ketahuilah bahwa sebetulnya Pak RT inilah yang ikut andil atas gagalnya Fian masuk sekolah negeri. Seharusnya Fian tetap berpeluang masuk sekolah negeri sekaligus mendapatkan tunjangan biaya pendidikan dengan statusnya sebagai yatim piatu, asalkan surat-surat dan rekomendasi diurus dengan baik. Pak RT tak menguruskan semuanya dengan baik, sedangkan Fian masih terlalu lugu dalam hal memahami aturan-aturan resmi. Maka gagallah Fian masuk sekolah negeri. Dan Pak RT hanya bilang, “Berarti kamu harus masuk sekolah swasta.”

Meneruskan sekolah sudah menjadi tekad Fian. Dia pun masuk ke SMA swasta milik sebuah yayasan Kristen. Dia sudah mendapat beberapa keringanan dari pihak yayasan, tetapi setelah itu biaya yang masih harus ditanggungnya tetaplah tidak sedikit—untuk ukuran seorang anak yatim piatu.

Lama-lama uang warisan pun habis. Uang santunan yatim piatu? Seharusnya negara memberikan itu, tetapi Fian tidak pernah menerimanya. Mungkin lagi-lagi karena masalah administrasi yang tidak diurus dengan baik. Dia hanya mendapat uang santunan dari gereja, dikirimkan sebulan sekali, dan jumlahnya tidak besar. Mau tak mau Fian harus mulai bekerja untuk mencukupi kebutuhannya.

Fian mengantar susu murni ke pelanggan setiap pagi, dan menjaga kedai jagung manis lima hari dalam seminggu. Hasilnya untuk makan setiap hari, membayar sekolah, membayar listrik dan tetek-bengek lainnya. Kesimpulan: sesungguhnya kisah hidupnya lebih memprihatinkan daripada sekadar tubuh yang kurang bobot.

Sekeluar dari ruangan Wali Kelas di akhir jam sekolah itu, Fian berpapasan dengan siswa lain yang keluar dari ruangan lain. Fian berpapasan dengan Reuben. Fian balas tersenyum saat Reuben tersenyum lebih dulu. Keduanya tidak saling kenal secara personal. Mereka beda kelas. Reuben cuma tahu bahwa Fian anak yatim piatu yang sehari-hari berjuang keras demi bisa tetap sekolah. Reuben respek dan kagum pada Fian. Itu saja. Maka dia menyapa dengan senyum.

Reuben tadi juga baru saja dari ruangan wali kelasnya, Bu Iis. Dia memberi kabar pada Bu Iis bahwa Ana kembali berada dalam kondisi kritis di rumah sakit, dan ibunya berharap ada teman-temannya yang bisa menjenguk untuk memberi dukungan doa. Bu Iis mengatakan tak bisa datang hari itu karena anaknya sendiri juga sedang sakit, tetapi beliau memberikan sejumlah donasi supaya anak-anak didiknya bisa membelikan oleh-oleh untuk Ana. Reuben ditunjuk untuk mengkoordinir.

Beginilah Reuben itu: rambutnya selalu tertata rapi dengan belahan di kiri. Alisnya tipis tapi padat dan sedikit menukik ke arah pelipis. Sorot matanya penuh semangat. Hidungnya bangir. Bibirnya murah senyum. Pipinya berisi dan kenyal. Secara keseluruhan, jika disembelih, tubuhnya menghasilkan daging yang baik dengan lemak yang tak berlebihan. Kulitnya putih berseri. Gerakannya cekatan. Jika diperhitungkan benar-benar, dia layak disebut sebagai siswa tertampan di sekolah itu, di urutan ke-11. Urutan 1-10 tak akan dibahas di cerita ini. Ah, lagi pula ketampanan adalah perkara yang amat subjektif.

Reuben meninggalkan sekolah, melaju dengan motornya. Dan dia melihat Fian lagi. Kali ini si kurus itu sedang berjalan kaki di trotoar. Secara spontan, Reuben yang berwatak simpatik menghentikan motornya tepat menyebelahi Fian.

“Mau bonceng?” Reuben menawari.

Fian tersenyum menggeleng dan terus berjalan.

Reuben menjalankan motornya lambat-lambat, selaju dengan Fian. “Memangnya rumahmu di mana, sih?”

“Aku tidak langsung ke rumah. Ada pekerjaan menunggu,” balas Fian ramah sekaligus canggung.

“Kamu bekerja di mana? Siapa tahu searah denganku. Aku mau ke rumah sakit umum.”

“Aku tidak ke arah sana. Aku mau ke halte.”

Dan halte itu tinggal sepuluh langkah lagi.

“Oh, oke kalau begitu,” ucap Reuben. “Aku duluan.”

“Terima kasih, ya,” sahut Fian, mengapresiasi niat baik Reuben, yang tidak dikenalnya.

Reuben pun melaju dengan kencang lagi, meninggalkan Fian. Yang tak diketahui oleh Reuben adalah bahwa Fian sebenarnya tidak ke halte. Melewati halte, Fian terus berjalan, hingga kemudian dia tiba di sebuah pertigaan. Si kurus kurang gizi itu berbelok, menyusuri Jalan Azalea. Itu bukan jalan menuju rumahnya. Dia mau ke rumah siapa, itu belum akan diceritakan di babak ini. Kita akan mengikuti Reuben saja dulu.

 Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Reuben mampir di toko roti terlebih dahulu untuk membelanjakan uang donasi dari Bu Iis. Barulah kemudian dia menuju ke rumah sakit, di mana teman-temannya sudah menunggu di sekeliling Ana.

“Selamat siang,” sapa Reuben saat masuk ke kamar pasien VIP itu. Dia langsung menyalami dan menyodorkan oleh-olehnya ke ibu Ana. “Ini titipan dari Bu Iis, wali kelas kami, Tante.”

“Ya ampun, Reuben,” Tante Elsa, ibu Ana, menyambut dengan renyah, “lain kali tak perlu repot-repot membawa oleh-oleh. Lihatlah di meja itu, oleh-oleh sudah menumpuk, sampai tak termakan. Sampaikan terima kasih Tante ke Bu Iis, ya.”

Sekarang menuju ke persoalan utama di ruangan itu. Yaitu bahwa Ana mengalami kejang secara tiba-tiba tiga hari lalu, menggelepar-gelepar di lantai seperti kena ayan. Itu terjadi di kelas. Semua gempar. Lalu para guru sepakat untuk langsung membawa Ana ke rumah sakit. Kata dokter yang memeriksa, tak ada kesimpulan bahwa itu adalah penyakit ayan. Kata dokter, justru Ana terserang tifus.

Umumnya gejala tifus tak pernah meliputi kejang-kejang ekstrem di lantai. Jadi betulkah itu tifus? Untuk sementara semuanya percaya itu tifus, karena dokter berkata begitu.

Tapi kemarin sore, di atas tempat tidurnya, Ana kembali kejang-kejang dan kali ini sambil meracau. “Asyera! Asyera! Pergi!” teriaknya.

Kata dokter, salah satu gejala dari tifus adalah demam tinggi, dan orang yang demam tinggi kadang memang suka meracau.

“Tapi mengapa ‘Asyera’ yang disebut?” tanya Tante Elsa gundah. Dokter dan perawat semua menggeleng, mengaku tidak tahu siapakah Asyera. Lalu Tante Elsa menjelaskan ke mereka dengan bergidik, “Menurut Alkitab, Asyera adalah nama salah satu berhala yang dipuja dengan cara mengorbankan nyawa manusia!”

Dokter dan perawat mengaku bahwa mereka Muslim, jadi mereka tak pernah membaca Alkitab. Tapi kebijakan rumah sakit tidak melarang seandainya Tante Elsa hendak mengadakan doa bersama dengan teman-temannya demi kesembuhan pasien, selama tidak berisik dan tidak melanggar jam besuk.

“Tante sudah meminta Pendeta Yusak kemari. Tadi pagi beliau mendoakan Ana supaya lekas sembuh. Tapi….” Tante Elsa terhenti dengan mimik sedih.

“Tapi apa, Tante…?” Reuben mendesak.

“Ana meludahinya.”

Semua tercengang.

“Jadi, Tante minta dukungan doa sebanyak-banyaknya, sebab sepertinya doa satu pendeta saja tidak cukup,” Tante Elsa memohon dengan sedih.

“Tapi… bahkan kami ini tak ada seorang pun yang pendeta,” celetuk salah satu teman Ana.

“Pendeta itu cuma jabatan. Kadar iman tidak diukur dari jabatan apa pun,” tegas Tante Elsa mantap. Dia adalah aktivis gereja.

Masalahnya, apakah ada juga di antara teman-teman Ana itu yang kadar imannya lebih dari Pendeta Yusak? Dan juga, siapkah mereka ikut diludahi? Jadi ini bukan semata-mata soal iman lagi, melainkan juga soal harga diri. Tak seorang pun sudi diludahi. Tetapi, Reuben adalah bocah yang optimistis.

“Kalau begitu, mari kita berdoa buat Ana,” Reuben merespons tanpa banyak berpikir negatif. Dia mengajak semuanya bergandengan tangan di sekeliling Ana, memejamkan mata, dan berdoa menurut agama masing-masing, tetapi sebagai koordinator Reuben akan memimpin doa menurut agamanya: Kristen.

Semua setuju. Mereka berdoa.

Beginilah beberapa kalimat dalam doa yang diucapkan Reuben: “Salurkan kuasaMu untuk memberi kami kekuatan mengusir segala yang jahat, seperti Engkau mengusir roh jahat di Gerasa dan roh jahat yang mencobaiMu di padang gurun! Dan meskipun di antara kami ada yang tak berdoa dalam nama Yesus, tetapi Engkau selalu memandang setiap niat baik, dan bagiMu tak ada satu pun niat baik yang pantas sia-sia. Berkati doa kami, dalam nama Yesus, sembuhkan sahabat kami….”

Selama doa itu diucapkan, tak ada suara yang lain. Bahkan napas Ana yang tertidur pulas sama sekali tak bersuara. Sebelum dan sesudah didoakan, Ana tidur nyenyak saja. Dia tidak bangun untuk meludahi siapa pun.

Namun karena di saat berdoa semua menutup mata, maka mereka tak tahu bahwa ada salah satu dari mereka yang tidak berdoa. Siswa yang tak ikut berdoa itu juga salah satu kawan Ana, yang datang bersama rombongan itu. Dia anak laki-laki dengan rambut yang alurnya berliuk-liuk seperti dewa Yunani. Tapi badannya kurus, tak seperti dewa. Ramping hampir jangkung. Wajahnya agak kecil dan lonjong, bertelinga agak lancip, hidung mancung dan mata agak ke dalam. Dia lebih mirip peri licik daripada dewa. Dia bergerak cekatan di saat yang lain berdoa dan menutup mata, bergerak seperti seorang pengutil mahir. Dia mengambil sebuah boneka keramik di antara rimbunnya tumpukan oleh-oleh, lalu memasukkannya ke dalam kantong jaket. Tak ada yang memergoki.

Setelah doa selesai, Tante Elsa mengucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman anaknya itu. Lalu dia lebih tertarik untuk mengobrol dengan Reuben, mengabaikan yang lain.

“Reuben hapal Alkitab, ya?” tanya Tante Elsa.

“Tidak juga, Tante,” jawab Reuben sopan.

“Tapi Reuben pasti rajin membacanya, ya, sampai hapal roh jahat di Gerasa dan di padang gurun?”

“Semua yang pernah ikut Sekolah Minggu pasti tahu cerita itu, Tante.”

Tante Elsa terkesan pada kesopanan Reuben, yang selain menjadi teman sekolah juga menjadi teman segereja Ana, artinya segereja juga dengan Tante Elsa. “Anak Tuhan banget Reuben ini,” Tante Elsa membatin. Lalu dia makin kepo, “Reuben sudah punya pacar?”

“Beluuum,” teman-teman Reuben yang menjawab. Lalu mereka tertawa-tawa. Kecuali si rambut dewa Yunani pengutil tadi, cuma diam saja di salah satu sudut, menjadi pengamat suasana.

Dalam hati Tante Elsa berharap-harap, bahwa setelah anaknya sembuh dia tak akan keberatan seandainya Reuben jadi pacar Ana. Dulu Tante Elsa juga sudah pacaran di umur 16 tahun.

“Om kok tidak kelihatan, Tante? Sedang sibuk?” tanya Reuben, mencari pengalihan.

Tante Elsa sedikit cemberut. “Waktu Tante hubungi, katanya masih di perjalanan. Mobilnya mogok, katanya. Paling sebentar lagi sudah datang.”

Pembesukan itu diwarnai banyak basa-basi tidak penting, hingga akhirnya teman-teman Ana pamit pulang setelah merasa cukup. Tante Elsa mengucapkan terima kasih sekali lagi, dan dia tak menyadari bahwa ada benda yang telah dicomot dari kamar itu. Yah, cuma keramik hiasan yang dibawakan pembesuk sebelumnya bersama buah-buahan, dan sejak semula Tante Elsa memang tak terlalu memerhatikannya.

Teman-teman Ana pulang dengan kendaraan masing-masing, berpencar sesuai arah menuju ke rumah masing-masing. Hanya si pengutil yang tidak berkendara. Saat berangkat dia membonceng teman, tapi dia memilih jalan kaki ketika pulang.

Dalam perjalanan pulang, Reuben berhenti di sebuah pom untuk mengisi bahan bakar. Selesai mengisi, dia mampir ke toilet di kompleks pom itu. Dia masuk ke toilet pria, dan secara kebetulan dia melihat seseorang yang dikenalnya.

“Om Bayu?” sapa Reuben.

Om Bayu tertegun dan tampak agak salah tingkah. “Eh, halo, Reuben….”

“Tak disangka bertemu di sini. Saya tadi baru saja membesuk Ana, Om,” obrol Reuben, ramah-tamah tanpa banyak prasangka.

“Oh, begitu? Ya, terima kasih,” balas Om Bayu kikuk. “Anu, Om buru-buru, ya, mau ke rumah sakit.”

“Oh, iya, Om, iya….” sahut Reuben ikut kikuk.

Ayah Ana buru-buru keluar dari ruangan toilet itu. Reuben agak heran menghadapi gerak-gerik Om Bayu barusan. Alasannya, pertama: biasanya Om Bayu supel dan suka mengobrol panjang lebar dengan orang yang dikenalnya, di mana pun sedang bertemu. Apakah mungkin pertemuan di toilet adalah pengecualian?

Namun, dan yang menjadi alasan kedua: Om Bayu tadi bahkan tidak muncul dari salah satu bilik toilet, melainkan dari sebuah pintu di sudut lain ruangan itu. Sebuah pintu dengan tulisan: staff only. Apakah Om Bayu bekerja di toilet pom ini? Sejak kapan? Kalau iya, lantas ada apa dengan toko jamu miliknya yang terkenal sekota itu? Bangkrut?

Reuben jadi terlalu serius memikirkan Om Bayu yang bergelagat aneh itu. Pikiran Reuben jadi tak terlalu fokus di jalan. Dan itu menghasilkan sebuah konsekuensi yang tak mengherankan: dia menabrak seorang pengendara sepeda. Traaakkk!

“Sial!” seru Reuben.

Sepeda kayuh itu terpelanting bersama pengendara di atasnya. Terperosok ke selokan tak berair. Reuben menghentikan motornya, lalu buru-buru menghampiri korbannya yang sudah dikerumuni beberapa orang. Si korban tampak duduk linglung di atas trotoar, di sebelah sepeda yang ban belakangnya bengkok.

Korban itu seorang anak laki-laki bercelana biru pendek, berkemeja putih dengan dasi biru. Anak SMP. Dia nanar dan bingung seperti anak anjing yang dibuang.

“Kau tak apa-apa?” tanya Reuben, berjongkok di samping anak anjing berseragam SMP itu, menepuk-nepuk pundaknya.

Anak anjing itu menggeleng. Kikuk. Masih agak terguncang.

“Maaf, aku yang salah,” ucap Reuben.

Orang-orang yang berkerumun saling menggerundel sendiri, menghakimi Reuben si penabrak. Beberapa penonton ikut menanya-nanya apakah korban tidak apa-apa. Syukurlah, korban tidak apa-apa. Hanya linglung dan sedikit lecet di dengkul.

Dan selagi para penonton sibuk menghakimi dengan ocehan, penabrak dan korbannya bertukar tatapan mata. Keduanya merasa pernah bertemu sebelumnya. Dan keduanya tak kesulitan untuk mengingat di mana mereka pernah bertemu. Tapi keduanya tak mengutarakan hal itu.

“Aku tak apa-apa,” cuma itu kata si korban. Anak anjing berseragam SMP itu. Karena tampaknya dia sudah tidak linglung lagi, dan dengan demikian tak seperti anak anjing lagi, maka mulai dari sini dia tidak akan disebut sebagai anak anjing lagi. Dia akan disebut sesuai dengan nama yang tersemat di kemejanya: Liam.

“Aku akan bertanggung jawab soal sepedamu. Dan…,” Reuben menilik beberapa lecet di lutut Liam, “kalau kau perlu ke rumah sakit, aku akan….”

“Tak apa-apa. Aku tak perlu ke rumah sakit. Ini cuma lecet biasa,” Liam menyahut.

“Baiklah kalau begitu. Tapi… sepedamu harus dibawa ke bengkel.”

“Iya.”

Para penonton mulai bubar begitu mengetahui kecelakaan itu tidak serius. Tidak ada yang mati, untuk apa ditonton. Cuma lecet dan ban bengkok. Reuben memanggil becak untuk mengangkut sepeda Liam ke bengkel terdekat. Sedangkan Liam membonceng Reuben untuk menuju ke bengkel itu.

Mereka tidak bercakap-cakap selama berboncengan. Jarak bengkel terdekat memang sangat dekat, jadi tak ada kesempatan untuk bercakap-cakap di perjalanan. Mereka baru bercakap-cakap setelah tiba di bengkel, sambil menunggui sepeda itu dibetulkan.

“Rumahmu mana?” tanya Reuben.

Liam menyebutkan lokasi rumahnya dengan detail.

Reuben balas menyebutkan lokasi rumahnya, dengan detail pula.

“Sekolah di mana?” tanya Reuben.

Liam menyebutkan sekolahnya. Dia kelas tiga.

Reuben tidak menyebutkan sekolahnya, tapi dia menyebutkan namanya. “Aku Reuben. Namamu?”

Liam menyebutkan namanya. Lalu mengklarifikasi, “Kita pernah bertemu, bukan?”

Reuben tersenyum mengangguk. “Ya. Beberapa hari yang lalu. Kebetulan, ya?”

Liam tertawa. Reuben juga.

“Kok baru pulang sesore ini? Jam tambahan atau les?” tanya Reuben makin cair.

“Tidak. Sepulang sekolah tadi aku mampir ke mal. Aku sedang mencari kamera digital.”

“Oh! Hobi memotret?”

“Ya. Fotografi. Baru mau belajar. Tapi DSLR terlalu mahal, jadi aku cari yang murah dulu.”

Reuben kali ini memandangi Liam sedikit lebih lama. Jika dibandingkan berdasarkan wajah keduanya, Liam serasi untuk dijadikan adik bagi Reuben. Rambut Liam juga tersisir rapi belah kiri, bedanya: rambut Liam meninggalkan alur-alur pendek yang dibentuk oleh pomade. Wajah Liam sedikit lebih oval, dan matanya sedikit lebih bulat. Lehernya juga sedikit lebih kurus, sehingga kesannya sedikit lebih panjang. Kulitnya juga putih. Termasuk di bagian kaki yang bercelana pendek itu. Tidak berbulu. Secara keseluruhan posturnya sedikit lebih kecil dibandingkan Reuben. Jadi, seandainya Reuben menyebut Liam sebagai adiknya, siapa pun akan mudah percaya bahwa itu memang adiknya.

Itu seandainya.

Kenyataannya: Reuben tidak memiliki adik.

“Kenapa?” Liam tersenyum canggung saat Reuben memandanginya agak lama.

“Aku juga suka fotografi,” gumam Reuben agak kikuk. “Mengapa cukup banyak hal yang kebetulan, ya?”

“Oh,” gumam Liam pendek. Lalu dia menyambung dengan agak antusias, “Mungkin suatu saat kita bisa hunting bersama. Mencari objek foto.”

“Ya,” balas Reuben bersemangat. “Mengapa tidak kita atur saja sekalian? Kapan?”

Kali ini Liam tersenyum agak malu. “Aku belum mendapatkan kamera yang kucari. Lain kali saja, kalau aku sudah dapat kamera.”

Reuben tidak mendesak. Cuma mengangguk pelan saja. Lalu mereka bercerita tentang objek foto favorit masing-masing, dan klub di sekolah masing-masing. Hingga tanpa terasa sepeda Liam sudah selesai diperbaiki, dan bengkel itu juga sudah mau tutup karena hari sudah sore. Reuben membayar semua ongkos perbaikan.

Liam terlihat minder saat matanya sempat menangkap isi dompet Reuben. Ada beberapa lembar uang berwarna merah di sana, cukup banyak untuk berada di dalam dompet anak SMA. Dengan cepat Liam menyimpulkan bahwa Reuben anak keluarga tajir.

“Kau yakin tak perlu kuantar?” tanya Reuben saat Liam bertekad akan pulang sendiri.

“Biasanya aku juga pulang sendiri. Sepedaku sudah betul, kok. Terima kasih sudah memperbaikinya….”

“Itu tanggung jawabku,” sahut Reuben memotong. “Maksudku, lecet-lecet di kaki dan tanganmu itu tak apa-apa?”

“Sedikit linu. Tapi tak apa-apa.”

“Baiklah kalau begitu.”

Akhirnya keduanya berpisah, menuju rumah masing-masing yang berlawanan arah. Sudah petang saat itu. Reuben sengaja melajukan motornya pelan-pelan. Dari spion motornya, Reuben bisa melihat bayangan Liam menjauh bersama sepedanya, searah dengan tempat matahari tenggelam. Dan, dari spion itu, Reuben juga bisa mengetahui bahwa di kejauhan Liam sempat menoleh lagi ke belakang… melihat kepadanya.

Reuben tersenyum. Entah kenapa, dadanya menghangat. Wajahnya berdesir-desir merona….

Tapi kemudian Reuben ingat sesuatu dan itu membuatnya amat kecewa dan sedih: mengapa aku tak meminta nomor teleponya?

Lantas dari mana aku akan tahu dia akhirnya sudah punya kamera?

Bagaimana aku akan mengatur rencana berburu objek foto dengan dia?

Bagaimana aku bisa menghubunginya?

Apakah akan ada kebetulan lagi, yang bisa membuat aku bertemu dia lagi…?

Reuben pulang dengan sedih. Wajahnya yang sempat merona menjadi murung. Muram seperti temaram petang itu.

Kita menarik mundur sebentar untuk melihat apa yang terjadi di lokasi lain, yang kira-kira bersamaan dengan ketika Reuben menabrak Liam. Mari kita menguntit siswa yang tadi mengutil di kamar Ana.

Anak itu sedang berjalan kaki menuju ke sebuah jembatan yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah sakit. Dan di jembatan itu, di luar dugaannya, dia bertemu seseorang. Lebih tepatnya: dia dihadang.

Penghadang itu datang dengan mengendarai motor sport. Awalnya sempat melewati si pengutil, lalu berbalik arah lagi dan menghentikan motornya sepuluh langkah di depan. Penghadang itu juga bercelana seragam SMA, sedangkan bagian atasnya tertutup jaket. Saat dia melepas helm, tampaklah wajahnya yang begini rupa: rambut undercut, wajah tirus, alis tegas, sorot mata kalem, bibir datar, sedangkan ayunan kakinya seperti langkah menyambut perang—sosok yang tenang tapi mengancam! Seperti gerak-gerik seekor singa jantan!

Dia berucap bertepatan dengan langkahnya berhenti, “Kamu yang bernama Lukas, kan?” Dia menunjuk si pengutil berambut liuk.

“Dan kamu Nathan. Ada apa?” sahut Lukas dengan suaranya yang agak tipis, tersenyum tenang.

“Ini soal ucapanmu pada Mita,” balas Nathan dengan suara tenang pula. Tenang dan mengintimidasi. Tanpa basa-basi.

“Ucapan yang mana?”

“Yang kautulis di akunnya. Kau mengatainya ‘pecundang betina’.”

“Oh. Iya. Betul,” ucap Lukas datar. “Tepatnya aku bilang: ‘betina pecundang’.”

Nathan mengerutkan alis menghadapi sikap Lukas yang menurutnya tergolong tenang. Itu seperti pertemuan antara singa jantan dan ular berbisa.

“Kau tak meminta maaf? Menurutmu menghina orang adalah soal sepele?!” Nathan menghardik dengan suaranya yang tebal.

“Kau menyuruhku?”

“Ya, aku menyuruhmu!”

“Karena apa? Setahuku kau bukan pacarnya. Atau saudaranya. Atau ayahnya.”

“Dengar!” Nathan menjadi gusar. “Dia dari sekolah yang sama denganku. Kau dari sekolah lain, dan menghinanya secara terbuka! Yang kaulakukan itu… mencari urusan dengan kami!”

Lukas tertawa pendek. “Ya, aku menghinanya. Tapi aku tak menghinamu. Aku juga tak menghina sekolah kalian. Kau tak bisa memisahkan perkara seperti ini?”

Nathan balas tertawa sinis. “Jadi, di sekolahmu sudah tak ada solidaritas, ya?”

Lukas balas menyeringai. “Kemarin aku habis ditampar teman sekolahku sendiri, dan alasannya adalah solidaritas untuk membela Mita.”

 “Oh, bagus! Bahkan anak-anak di sekolahmu sendiri muak padamu!” Nathan mengejek.

“Kami juga baru saja menjenguk kawan kami yang sakit—jika kau masih mau bertanya soal solidaritas. Tapi kalau kawan kami dihina, aku pribadi akan melihat dulu apakah dia memang layak dihina atau tidak. Aku lebih suka sikap fair daripada solidaritas,” jelas Lukas tenang.

Nathan menggegat geraham. “Kau mau berkata bahwa Mita layak disebut ‘betina pecundang’?”

Lukas terdiam sejenak. Lalu menyahut, “Ya, dia layak. Dia memang betina dan dia memang pecundang.”

“Kau menghina seorang perempuan secara terbuka. Tapi kaulakukan dari balik layar komputer!”

“Aku mengetiknya lewat ponsel.”

“Intinya: KAU CUMA PENGECUT!” hardik Nathan sambil menudingkan telunjuk.

“Aku tidak pengecut.”

“Oh, ya? Seorang lelaki gentle tidak memperlakukan perempuan dengan cara sepertimu. Tapi, kau masih bisa membuktikan bahwa kau memang jantan, dengan cara meminta maaf padanya. Atau dengan konsekuensi lain: menghadapiku!”

Lukas mengusap rambuk liuknya. “Nat, begini, aku pribadi menghormatimu. Oke? Dan siswa mana pun, kalau disuruh mengaku secara jujur, mereka pasti juga akan menghormatimu. Videomu saat membela anak sekolah lain yang di-bully oleh anak-anak dari sekolahmu sendiri, itu sangat mengesankan. Kau jagoan pembela keadilan. Kau melawan lima orang dan kau menang dengan mudah. Video itu sudah viral di mana-mana. Semua orang menghormatimu. Dan seandainya kau pribadi yang buruk, kau pasti tak akan berbicara lama-lama denganku seperti ini—kau pasti akan memilih langsung menghajarku, bukan? Kau orang baik. Tapi percayalah, Mita memang layak mendapat cacian itu. Jadi, aku menyayangkan jika kau harus membelanya.”

Nathan menyunggingkan sedikit senyum. “Kau mem-bully seorang perempuan di internet. Kau pengecut tapi banyak bicara. Kau tak usah menyuapku dengan pujian. Pokoknya, sebaiknya kau minta maaf padanya.”

“Jika tidak, kau akan menghajarku? Kupikir kau tak sekeras itu.”

“Berhentilah berlagak mengenalku!” bentak Nathan seraya maju dan mencengkeram kerah Lukas.

“Oh, jadi pada akhirnya kau pun akan membabi buta demi seorang perempuan, atas nama sekolah?” ucap Lukas yang tubuhnya sedikit terangkat oleh cengkeraman Nathan.

Nathan menghempaskan tubuh Lukas. Si pengutil kurus itu terjengkang di trotoar jembatan.

“Kau tak pantas bicara soal moral!” bentak Nathan.

Lukas bangkit sambil mengangkat tangannya ke depan, meminta Nathan untuk menahan diri. “Semua tahu, kau adalah pahlawan di sekolahmu. Dan… kau juga bisa menjadi pahlawan bagi anak sekolah mana pun. Aku tahu kau jagoan. Tapi… jangan memaksaku. Kalau mau, aku juga tak akan mudah dikalahkan!”

Nathan menurunkan kepalan tinjunya yang sempat ia siapkan, dan kini tak bisa menahan tawa untuk mengejek. “Kau memang besar mulut! Ayo, hadapi aku!”

“Aku tidak bercanda. Aku tahu siapa kamu,” ucap Lukas sedikit kikuk. Dia membenahi kerahnya yang agak berantakan. “Tapi aku tak ingin membuka soal dirimu. Tak terlalu penting untuk dikuak. Tapi aku akan memberitahumu: Mita sudah mencelakai Ana.”

Tawa Nathan berhenti. Wajahnya menegang lagi. “Siapa Ana?”

“Teman yang baru saja kami jenguk. Dia sakit. Dan itu ulah Mita.”

Nathan terdiam. Terpaku dengan tatapan mendesak.

“Aku kemari bukan untuk ribut denganmu, Nat,” kata Lukas. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Menunjukkan sebentar pada Nathan sebuah boneka keramik. Tiga detik kemudian Lukas membanting benda itu ke trotoar. Pecah. Lalu Lukas menyepak serpihan-serpihan keramik itu hingga berjatuhan ke sungai, hilang tenggelam ke air. Dia bergumam, “Enyah kau sekarang, Asyera gadungan!”

“Apa itu tadi?” Nathan bertanya dengan mimik bingung.

“Tanyakan saja pada Mita: apakah kemarin dia juga menjenguk Ana. Kalau kau berani, tanyakan juga padanya: apakah dia telah menaruh sesuatu di meja kamar Ana. Entah dia mau mengaku atau tidak, katakan saja padanya: Lukas sudah membuang benda sialanmu itu ke sungai!”

Lukas tersenyum ringan. Dia berbalik, lalu melangkah tenang meninggalkan Nathan. Sedangkan Nathan masih berdiri terpaku di jembatan itu. Masih bingung.

Dalam pikiran Nathan: bukankah tadi si kurus itu berkata: “aku tahu siapa kamu, tapi aku tak ingin menguaknya”?

Bukankah sebetulnya itu semacam… ancaman?

 
 
 

to be continued….

 
 
 

 

8 responses to “Chapter 1

  1. mukamurka

    4 November 2016 at 18:20

    Oke. Ini seru. Pake banget.

     
  2. callmeSyai

    4 November 2016 at 18:30

    Aku belum bisa komen banyak nih… Cuma gaya penceritaannya unik. Mirip skrip film. Semoga gak bablas kayak sinetron Ganteng Ganteng itu… Ha ha ha JK. Nice job

     
  3. Agil

    5 November 2016 at 20:34

    Yg baru dr mas Noel, ya itung2 buat sampingan nunggu CRA nya lanjut terbit di scoop ato lanjut lagi di sini mas. Hehe

    Gaya bahasanya sedikit berbeda, tetapi tetep terasa seakan kita menyaksikan sendiri semua kejadiannya mas.
    Lanjut terus ya mas
    Terima kasih sebelumnya

     
  4. minae

    10 November 2016 at 23:46

    jadi penasaran sama yang namanya Lukas…

     
  5. Envy Boy

    11 November 2016 at 11:47

    Kaak mau tanya.. Ini cerita dipersiapkan jadi Novel? Klo iya bakal keren bgt..
    Jujur jauh lebih bagus dari CRA.. Trus apa kk akn berpikir berapa season yg akn disajikan? Mungkin agak kritik knp ini lebih bagus dri CRA, krena ak membayangkan mnjadi penulis CRA1,2,3 itu seperti tukang tambal ban.. Ambil contoh Harry Potter 1, prolognya menjadi kunci keberhasilan HP7.. Mungkin JKR menambal cerita juga “cursed child”, hal itu ak temukan di CRA1,2,3.. Klo ditanya enjoy baca CRA, iya bgt.. Tapi mungkin ketika selesai CRA1, g akn menuntut(dlm artian ada spoiler dlm cerita dgn sengaja dsampaikan utk baca season slnjtx) harus baca CRA2, n 3..
    Trus mw tanya gaya bahasa tiap karakter apakah sama? Baik nathan, liam, lukas..? Itu juga aku temukan d CRA kak. Baik cowo atau cewe kurang ekspresi maskulin n feminim, klo pengaruh adat? Apa di sekolah tersebut punya simbol2 y unik dlm gaya bahasanya? “Semangaaaat kakaaa…!!”
    Nb: selain kasih motivasi kalimat tersebut menurut kaa punya gaya bahasa ga?

     
    • noelapple

      27 November 2016 at 17:12

      Aku perlu mengambil napas berkali-kali sebelum menjawab pertanyaanmu. Dan setelah mengambil napas, aku tetap bingung untuk menjawab.

       
  6. gia

    14 November 2016 at 15:15

    Keren, Mas Noel.
    saya nggk tau maunkomen apa. Tapi cuma bisa berdecak kagum. Tetap semangat🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: