RSS

Chapter 2

 
 

Hari-hari Sebelumnya

 
 
 

Kita akan membaca beberapa kilas balik, jadi semoga kau tidak bingung.

“Reuben, habiskan sayurnya!”

“Aku sudah kenyang, Ma.”

“Tinggal sedikit lagi, jangan disisakan!” Mama mendesak.

Mama Reuben begini penampilannya: rambutnya disanggul ketat di belakang, membuat alur rambut dari depan ke belakang tampak klimis. Bibirnya tipis merah hati oleh polesan gincu. Alisnya melengkung ramping juga hasil polesan. Hidungnya kurus mancung. Matanya bulat kecil dengan sorot dingin. Wajahnya putih oleh baluran bedak mahal—tapi sepertinya salah pilih. Lehernya kurus panjang. Semua yang ada pada penampilannya tampak kaku. Seperti jalangkung. Sayang sekali. Padahal dia hidup di zaman modern dan umurnya pun bahkan baru 40. Dia tampak seperti 49. Hanya posturnya yang masih menarik: ketat langsing semampai.

Mama Reuben selalu menyebut langsung nama anaknya untuk menunjuk anak yang bersangkutan, tak pernah memakai kata ganti “kamu” ataupun “kau”.

“Makanan tak boleh disia-siakan. Itu berkat dari Tuhan. Reuben harus ingat itu,” tegas Mama, yang duduk tegak di seberang meja mengamati anaknya makan.

“Apakah aku boleh minta tambahan saku?” tanya Reuben sambil menghabiskan sisa sayurnya.

“Tidak,” papa Reuben menyahut dari belakang. Dia memegang pundak anaknya dengan lembut. “Belajarlah berhemat.”

Reuben merenungkan ajaran itu setiap hari: belajarlah berhemat! Sambil melirik apa pun yang ada di ruangan itu: bifet besar jati berukir dari Jepara, sendok dan garpu perak yang dibeli di Singapura, piring keramik dari Tiongkok, meja-kursi dari Italia, dan… pakaian bagus yang malam itu dipakai kedua orang tuanya. Itu baru yang terlihat di ruang makan.

“Uang yang tadi Papa beri sudah bisa untuk membeli satu buku,” tambah Papa sambil membenahi dasinya—bermerek Gucci orisinil. Badan gemuknya memakai setelan jas hasil desain perancang terbaik sepropinsi. Parfumnya seharga 900 ribu, hanya untuk 50 mililiter. Bibirnya yang selalu tersenyum menambah kesan yang sepenuhnya positif jika kau datang padanya untuk mencari peluang kerja sama bisnis.

“Ya, satu buku. Tapi untuk buku dari penerbit yang tidak kompeten, Pa,” Reuben menimpali dengan tak terlalu antusias.

“Reuben, tidak boleh membantah orang tua! Ingat Hukum Tuhan nomor lima: hormati orang tua!” tegas Mama.

Papa menjamah pundak anaknya lagi. “Buku yang bagus kadang juga ada di keranjang diskon, Nak,” katanya.

Reuben tidak mau berdebat lagi.

Papa dan Mama saling menggandeng tangan, lalu Mama berpamitan, “Papa dan Mama akan pergi ke resepsi. Reuben setiap Kamis ada jadwal persekutuan remaja di gereja, bukan? Reuben ke gereja dulu, baru setelah itu ke toko buku, ya! Jangan pulang kemalaman.”

Lalu suami-istri itu pergi. Dengan mobil Audi.

Reuben menurut. Sore itu dia ke gereja. Dia pergi lagi sebelum khotbah dimulai. Yang penting sudah ke gereja dulu, bukan? Sepuluh menit di gereja, lalu ke toko buku di sebuah mal.

Dia mencari buku tentang fotografi. Dan seperti yang sudah diduganya, dia tak akan sanggup membeli satu pun jika hanya mengandalkan uang pemberian dari Papa. Padahal di hari ulang tahunnya yang lalu, Papa menghadiahinya kamera DSLR. Mengapa sekarang mengeluarkan uang untuk membeli buku saja begitu dipersulit? Mungkin itulah bedanya antara hari istimewa dan yang tidak. Sial, hari istimewa itu cuma datang sekali dalam setahun! Oh tidak, mungkin dua kali—yang satu lagi adalah Hari Natal. Dan di perayaan Natal yang lalu Reuben dibelikan motor. Jadi, sebetulnya kedua orang tuanya tak terlalu buruk juga. Yang penting jangan membantah, itu saja. Dan jangan banyak meminta di luar hari istimewa itu.

Reuben terlalu fokus pada rak buku, sehingga tanpa sengaja dia bersenggolan dengan seseorang dan membuat buku orang itu jatuh.

“Oh, maaf,” ucap Reuben cepat-cepat, sambil memungut buku yang jatuh.

Di saat yang sama, pemilik buku itu juga memungut benda yang sama.

Dua tangan bertemu di satu buku. Tangan dari dua orang yang berbeda, tapi sama-sama laki-laki. Keduanya berpandangan, mengangkat buku itu dengan gerak bangkit yang seiringan. Reuben melepaskan buku itu saat keduanya sudah sama-sama berdiri lagi—dan masih berpandang-pandangan. Lalu sama-sama tersenyum. Seperti adegan di iklan atau film drama, persis!

Itulah perjumpaan pertama Reuben dengan Liam. Namun saat itu keduanya belum mengenalkan nama masing-masing. Mereka baru tahu nama masing-masing setelah Reuben menabrak Liam, dua hari kemudian. Di perjumpaan pertama itu, mereka langsung berpisah begitu saja tanpa basa-basi selain ucapan maaf Reuben—yang hanya dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Liam.

Perjumpaan di toko buku itu, dengan cara yang sedemikian klise tetapi tetap klasik, memberi kesan tersendiri bagi Reuben. Dia baru saja menyenggol seorang remaja lelaki berwajah menggemaskan, yang membawa buku berjudul “An Education: All About ML”. Mungkin akan berbeda kesannya seandainya buku yang dibawa Liam berjudul “An Education: All About MLM”. Betul, satu huruf pun kadang cukup untuk membuat sesuatu menjadi begitu berbeda. (Apalagi satu kata.)

Sedangkan bagi Liam, persenggolan itu tak meninggalkan banyak kesan, selain bahwa penyenggolnya adalah seorang lelaki tampan yang berbau wangi. Bajunya juga bagus. Sepertinya orang kaya. Dan dua hari kemudian Liam menjadi semakin yakin bahwa penyenggol—yang kemudian juga menabraknya—memang betul orang kaya. Isi dompetnya terlihat menggiurkan. Dia jelas anak orang kaya, pikir Liam. Yang tidak diketahui Liam adalah: uang di dompet Reuben itu dihasilkan bukan karena dia anak orang kaya. Tentu saja Liam belum tahu bahwa orang tua Reuben adalah orang kaya paling pelit di kota itu.

Lalu, dari mana Reuben mendapatkan uang yang cukup banyak itu? Itu akan dibahas di bab lain.

Ketika sudah di rumah lagi, menjelang tidur, di atas tempat tidurnya benak Reuben terbayang-bayangi oleh wajah Liam. Wajah anak itu terlihat lucu dan menggemaskan. Umurnya mungkin sedikit di bawahnya. Dan buku yang dibawa anak itu memuat sesuatu tentang seks. Oh, mungkin bukan “sesuatu”, melainkan “banyak hal” tentang seks. Meskipun istilah di judul buku itu lebih memilih “making love”, pada dasarnya tak mungkin membahas “making love” tanpa membicarakan “having sex”. Jadi intinya buku itu berkaitan dengan seks.

Mengapa aku terlalu memikirkannya? pikir Reuben galau.

Mengapa aku begitu tertarik untuk terus memikirkan perjumpaan tadi?

Mengapa aku begitu memikirkan anak laki-laki itu?

Malam itu Reuben tak bisa lekas tidur karena benaknya terus terbayang-bayangi oleh sosok seorang bocah unyu yang menenteng buku tentang seks. Akibatnya, keesokan paginya dia bangun agak telat, sehingga tergesa-gesa mempersiapkan diri berangkat ke sekolah. Berbeda dari Fian yang pagi itu, di tempat lain, sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan matang sebagaimana rutinitasnya.

Pukul 5 pagi Fian sudah bangun, mandi, lalu menuju ke pabrik susu segar di kampung sebelah. Untuk mengantar susu ke 25 pelanggan di sepanjang Jalan Azalea, Fian diberi pinjaman sepeda kayuh. Kurang lebih dalam satu jam biasanya dia sudah menyelesaikan tugasnya, lalu mengembalikan sepeda ke pabrik, lalu berangkat ke sekolah jalan kaki. Perlu sekitar 20 menit untuk tiba di sekolah. Sebetulnya dia punya sepeda kayuh sendiri, tapi ban depannya sobek dan sadelnya keropos. Dia sedang menunggu cukup uang untuk memperbaikinya.

Kali ini kita akan membicarakan tentang pelanggan susu yang biasa Fian datangi setiap pagi. Dalam dunia pekerjaan, kita tahu, selalu ada saja pelanggan yang menyebalkan. Fian harus menghadapi satu pelanggan menyebalkan ini setiap pagi, yaitu penghuni Jalan Azalea nomor 13. Ya, itu memang angka sial! Penghuninya bernama Wildan. Orang itu sudah tua, jadi mari kita sebut saja: Pak Wil.

Pak Wil berumur 67 tahun dan hidup seorang diri di rumahnya. Dia tak pernah menikah. Di masa tuanya, dia hidup dari deposito, dan bergerak di atas kursi roda karena kakinya dimakan rheumatik. Dia orang Minahasa, tapi lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di Jawa. Sebagian besar kerabatnya ada di Sulawesi Utara; ada satu-dua orang yang merantau di Jawa tapi tak pernah menjenguknya. Dia tidak akur dengan kerabat-kerabatnya. Padahal dia bukan pribadi yang jahat, bukan manusia pemarah, bukan pula orang yang pelit. Malah, ia orang yang tergolong ramah. Lalu mengapa dia tidak akur dengan kerabatnya? Lantas mengapa juga dia menjadi pelanggan yang menyebalkan bagi Fian?

Karena Pak Wil selalu merayu Fian.

Ya, tua bangka itu tidak jahat. Dia cuma brengsek. Dia telah merayu segudang pria muda sepanjang hidupnya, bahkan di saat sudah cacat. Meskipun tua bangka itu selalu merayu dengan jujur, bagaimanapun lelaki-yang-suka-merayu-lelaki adalah tabiat yang dalam banyak kondisi akan menjadi sangat menjengkelkan bagi banyak orang—menjengkelkan semua kerabatnya, dan menjengkelkan remaja culun yang setiap pagi mengantarkan susu ke rumahnya.

Setiap pagi Pak Wil sudah menunggu di berandanya. Fian pun datang bersama dengan sensasi natural, selayaknya seorang daun muda di mata seorang bekicot tua yang nakal. Fian sudah mandi dengan sabun wangi, keringat pagi merembes dari balik kaos polo putihnya, dan dia datang membawa botol berisi cairan kental berwarna putih. Fian meletakkan susu itu di meja, di mana Pak Wil selalu duduk menunggu di sebelahnya. Lalu tua bangka itu pasti mencegahnya pergi.

“Temani Opa dulu,” rengek Pak Wil—yang selalu menyebut dirinya “Opa” di depan Fian (atau di depan lelaki muda mana pun).

Fian menengok jam tangannya. “Saya ditunggu pelanggan lainnya, Pak,” balas Fian ramah.

“Lima menit saja,” pinta Pak Wil.

Fian tahu bahwa lima menit itu pasti akan menjadi lima belas menit.

“Temani Opa ngobrol sebentar,” bujuk Pak Wil di atas kursi rodanya.

Sebrengsek apa pun bocah tua nakal itu, Fian selalu tak tega ketika memahami kondisi Pak Wil yang sudah cacat, hidup seorang diri, dan setiap pagi selalu setia menanti susu demi bisa bercakap-cakap dengan seseorang. Dia pria tua yang kesepian. Brengsek, tapi setidaknya dia jujur. Pak Wil pernah berkata, “Kamu ini cakep, makanya Opa senang kalau bisa ngobrol dengan kamu.”

“Berarti, kalau saya tidak cakep, Pak Wil pasti akan pilih menunggu susu di dalam kamar saja, atau sambil sibuk di dapur, seperti pelanggan lainnya?” begitu Fian pernah menanggapi.

“Kalau yang mengantar susu bukan kamu, Opa akan berhenti berlangganan.”

Dasar perayu tua sialan!

Dengan menanggapi segala keluhan atau permohonannya, maka otomatis Fian telah melayani Pak Wil mengobrol. Sebetulnya Fian tidak takut, sebab dia selalu bisa menjaga jarak dengan mudah dan bisa berpura-pura saja mendengarkan ocehan Pak Wil. Hanya saja, dia harus segera menyelesaikan pekerjaan dan mengejar waktu untuk berangkat ke sekolah. Maka dia hanya bisa menyediakan waktu lima menit—dengan toleransi molor sampai lima belas menit.

Tapi, demi apa waktu itu dia berikan? Bukankah toh dia bisa menolak saja sekalian, dan si tua cacat itu juga tak akan mungkin mampu menghalangi? Mengapa Fian sudi melayani lansia genit itu? Apakah hanya karena kasihan saja?

Tepatnya, adalah karena kombinasi rasa kasihan dan satu alasan lainnya yang lebih logis: uang. Pak Wil selalu memberi uang saku setelah Fian selesai menemaninya mengobrol.

“Untukmu, buat jajan di sekolah,” kata Pak Wil setiap kali memberi Fian uang.

Kadang Fian dapat 10 ribu, kadang 15 ribu. Lumayan. Fian telah mempelajari peluang itu dengan baik. Tapi tidak setiap hari dia bersedia menjadi teman mengobrol. Tergantung mood dan tergantung kebutuhan juga. Kalau cadangan uang sakunya masih cukup, dia tak akan sudi melayani si genit bau tanah itu.

Padahal, jasa teman mengobrol itu bisa ditingkatkan menjadi bisnis yang lebih menguntungkan; Fian bisa datang ke rumah Pak Wil sepulang sekolah, untuk menjadi teman mengobrol dengan waktu yang lebih lama, lalu menuntut “uang jajan” yang lebih banyak. Pak Wil pun sudah menyampaikan itu ke Fian. Tapi Fian tidak mau. Dia tak ingin terlibat semakin jauh, sebab dia tahu apa yang sebenarnya diinginkan Pak Wil dan dia tak akan mungkin memenuhinya. Tepatnya: ini menyangkut rentang usia yang terlampau jauh. Dan, ya, ini juga menyangkut kewajaran.

“Opa jujur saja: Opa jatuh cinta padamu. Sudah lama sekali Opa sendirian, Fian,” ucap Pak Wil suatu ketika, dengan nada minta simpati.

Fian terenyak beberapa saat. Lalu tersenyum menggeleng, “Saya tidak bisa, Pak. Itu tidak wajar.”

“Mengapa tidak wajar?” desak Pak Wil. “Karena Opa sudah tua?”

“Karena kita sama-sama laki-laki,” jawab Fian, berusaha tetap sopan.

“Artinya, jika Opa perempuan, meskipun tua, kamu akan menerima Opa?”

Fian tersenyum, “Tidak juga.”

Pak Wil sedih mendengar jawaban itu. Dia sadar bahwa intinya dia hanyalah tua bangka yang tak menarik bagi siapa pun. Tapi dia tidak menyerah, dia terus menyampaikan keinginannya berulang kali setiap ada kesempatan. Dan Fian tetap menjawab “tidak”, dengan tetap tersenyum meski dalam hati ingin mendorong si tua dan kursi rodanya itu ke empang. Fian sudah mengerti bahwa prinsip dalam sebuah bisnis adalah jangan mengecewakan pelanggan. Apalagi mencari pekerjaan baru tak selalu mudah. Karena itulah dia selalu “menolak dengan senyuman”. Dan besok dia selalu kembali lagi, bersama sebotol susu. Cairan putih kental, di dalam botol yang langsing dan panjang.

Meski Pak Wil kecewa, tua bangka itu tak pernah marah. Dirinya paham juga bahwa kewajiban Fian adalah mengantarkan susu untuknya, bukan untuk menerima cintanya. Jadi, sudah baik sekali Fian masih bersedia menemaninya mengobrol beberapa menit. Lama-lama, Pak Wil juga mulai bosan sendiri mengungkapkan perasaannya yang tak pernah diterima, lalu dia pun mulai mengajak mengobrolkan hal-hal yang lain.

Suatu pagi, “Ayolah, mengobrol dulu, Fian,” pinta Pak Wil.

Fian tersenyum cerdik, “Sepuluh ribu untuk lima menit. Dan bukan untuk obrolan yang mesum!”

Fian menandaskan begitu karena Pak Wil pernah menanyainya soal rambut kemaluan.

“Baiklah. Opa cuma penasaran, mengapa kamu harus bekerja seperti ini? Kamu mau menceritakan soal keluargamu?”

Fian duduk di serambi, berhadapan dengan Pak Wil. Lalu dia mulai menjelaskan tentang keluarganya. Tentang kedua orang tuanya yang dilindas tronton, dan uang warisan yang sudah habis.

“Jadi begitu?” Pak Wil menatap Fian dengan mata menerawang. “Opa baru tahu, ternyata keadaanmu seperti itu….”

Mereka terdiam sejenak.

Fian menengok jam tangannya. Lima menit sudah habis.

“Opa turut prihatin,” ucap Pak Wil kemudian, dengan mata sayu. “Saat Opa seumuranmu, Opa juga sudah tak bersama orang tua. Tapi itu karena Opa dulu bandel. Opa dulu suka mabuk-mabukan. Lalu Opa ikut melaut bersama beberapa teman. Opa sempat keliling dunia. Sampai Opa bosan dengan laut, lalu pilih berbisnis kafe di Jakarta. Opa sempat jaya. Sampai lama-lama harta benda terkuras, demi anak-anak muda yang Opa sukai. Untungnya Opa tetap menyimpan tabungan untuk hari tua. Cukup untuk hidup sepuluh tahun lagi, atau lima belas tahun lagi kalau Opa belum bosan. Tapi Opa tak pernah mengira akan terkena penyakit sialan ini.”

Fian termangu. “Dan Pak Wil tetap suka mengobral uang untuk mendapat perhatian anak-anak muda… seperti saya?”

Pak Wil terkekeh. “Opa sempat berpikir bahwa naluri itu sudah hilang begitu menjadi orang tua cacat seperti ini. Opa sudah tak bisa ke mana-mana, lalu mau merayu siapa? Tapi, sejak Opa melihat tetangga selalu mendapat susu yang diantarkan olehmu, yang Opa pikirkan adalah: Opa juga harus berlangganan susu!”

Fian tertawa. “Oke, sudah lima belas menit. Saya harus pergi.”

Pak Wil memberikan uang 30 ribu.

“Ini terlalu banyak,” kata Fian.

“Kamu sendiri yang minta, 10 ribu untuk lima menit. Dan Opa sudah habiskan lima belas menit. Hitungannya sudah pas.”

“Biasanya Pak Wil cuma memberi 15 ribu untuk lima belas menit?”

“Kita sepakati saja bahwa tarifnya memang sudah naik. Opa tak pernah kuatir soal uang, Nak. Itulah kelebihan Opa, sekaligus kelemahan Opa.”

“Oke. Terima kasih.”

Fian menghadapi kegenitan Pak Wil setiap pagi. Setiap pagi pula dia terus beradaptasi dengan karakter Pak Wil, hingga lama-lama dia pun menjadi terbiasa. Bahkan, akhirnya Fian pun keceplos turut menyebut Pak Wil dengan sebutan “Opa”.

“Fian, bau tubuhmu enak,” kata Opa Wil suatu pagi.

“Terima kasih, Opa,” jawab Fian sambil pergi.

“Kenapa terburu-buru? Kamu tidak temani Opa dulu?”

“Hari ini saya bangun kesiangan, tak ada waktu lagi.”

Meskipun Fian tidak bisa menemani, Opa Wil tetap menyodorkan uang padanya. Tapi Fian menolak. Bagi Fian, hubungan keduanya adalah bisnis, bukan personal. Tak mengenal uang simpati, sedekah ataupun gratisan. Yang ada adalah uang jasa. Ketika tak ada jasa, maka dia tak mau menerima uang.

Pagi berikutnya, “Fian, apakah ketiakmu berbulu?”

“Permisi.”

“Hei, kamu tak menemani Opa lagi?”

“Hari ini saya bangun kesiangan lagi,” balas Fian sambil menggiring sepedanya keluar dari pekarangan.

Begitulah hubungan Fian dengan Opa Wil sejauh ini. Sudah berlangsung beberapa bulan. Simbiosis mutualisme. Yang satu butuh uang, yang satu lagi butuh teman mengobrol—dan bahan fantasi, barangkali. Fian sudah paham betul secabul apa kecenderungan Opa Wil, dan selama ini dia selalu berhasil berkelit. Remaja kurus kering itu rupanya memiliki bakat seekor belut. Licin!

Suatu pagi, Reuben bangun kesiangan gara-gara semalaman memikirkan pertemuannya dengan Liam. Berbeda dari Reuben yang kesiangan, Fian bangun subuh seperti biasa dan berangkat mengantar susu. Itu adalah Jumat pagi, dan mari kita anggap itu adalah hari ini. Di hari inilah Opa Wil menawarkan kepada Fian sesuatu yang dia pikir akan berhasil meluluhkan remaja itu.

“Apakah kau tak tertarik uang yang lebih banyak, Fian?” pancing Opa Wil.

“Siapa pun butuh uang, Opa, tapi bagi saya cara mendapatkannya juga penting,” sahut Fian dengan waspada. Dia mengendus gelagat licik tua bangka itu.

“Cara mendapatkannya sangat mudah!” tukas Opa Wil penuh semangat, sambil sedikit mencondongkan wajahnya ke depan.

“Seperti apa?” selidik Fian dengan curiga.

Opa Wil kembali menarik wajahnya mundur, menyamankan punggungnya di sandaran. “Yah, Opa berharap obrolan kita bisa lebih terbuka, tidak serba terbatas….”

“Maksudnya?”

Opa Wil tersenyum mendehem. “Kita perlebar tema-tema yang bisa kita obrolkan. Tidak lagi menghindari hal-hal yang… berbau biologis….”

“Hal-hal mesum?!” tukas Fian langsung paham.

“Kata ‘mesum’ terlalu bersentimen negatif. Opa lebih suka menyebutnya ‘biologis’, karena pada dasarnya itu memang menyangkut kondisi biologis kita, bukan?” Pria tua itu lalu terkekeh genit. “Opa akan bayar dua kali lipat dari sebelumnya, kalau kamu mau.”

“Saya tidak tertarik. Permisi, Opa.” Fian menggeloyor pergi.

“Cuma mengobrol, Fian!” tandas Opa belum menyerah.

Fian mendadahkan tangannya sambil pergi.

Opa Wil memandangi perginya Fian. Lelaki tua itu masih berseloroh lagi, “Opa tahu kamu sedang membutuhkan uang. Jadi mari kita buat saling menguntungkan. Itu saja.”

Fian terus pergi tanpa menoleh.

Hari ini, Fian tiba di sekolah tepat waktu. Reuben yang bangun kesiangan juga berhasil tiba sebelum gerbang sekolah ditutup. Keduanya tidak berpapasan, dan keduanya tak memiliki hal yang saling terkait hari ini. Reuben masuk ke kelasnya, mengikuti pelajaran, hingga waktu istirahat tiba.

Di jam istirahat, Reuben membahas satu hal penting bersama teman-temannya, yaitu tentang kondisi Ana yang sejak kemarin dirawat di rumah sakit.

“Kapan kita akan menjenguk bersama?” Reuben menggalang usulan.

“Hari ini, sepulang sekolah,” kata satu orang.

“Tidak bisa hari ini,” jawab yang lain. “Karena yang Muslim ada Salat Jumat, yang Kristen ada Kebaktian Pelajar, dan sore nanti ada Pramuka.”

“Bagaimana kalau besok?”

“Ya, besok saja. Akhir pekan lebih longgar.”

Mereka sepakat.

Di sudutnya sendiri, Lukas pilih jadi pendengar dan pengamat suasana. Saat Reuben meminta konfirmasi siapa saja yang akan ikut menjenguk, Lukas cuma mengangguk. Begitulah sifat Lukas, jika dia sedang merasa tak perlu bicara maka dia akan memilih diam saja.

Tapi, siang itu ada seseorang yang betul-betul perlu bicara dengan Lukas, dan Lukas tak bisa menghindarinya!

“Lukas ada di sini?” suara seseorang terlontar lantang. Semua anak di kelas itu langsung menoleh kepada si pemilik suara.

Inilah pemilik suara itu: seorang gadis berpostur langsing tinggi, dengan hijab di kepalanya. Dia siswi di sekolah itu, tetapi bukan dari kelas itu. Nama aslinya Latifa. Tapi di media sosial dia memakai nama: Miss Tifa. Kita sederhanakan menjadi Mistifa, atau Tifa saja. Di sekolah itu, dia dijuluki sebagai “Pendekar Berhijab”, karena reputasinya dalam menguasai pencak silat dan nyalinya yang tinggi meskipun dia masih kelas satu.

Reputasi Mistifa menyebar baru beberapa bulan lalu. Kala itu, di waktu usai sekolah, seorang guru perempuan yang berjalan sendirian diserang oleh sepasang penjambret bermotor. Tas Bu Guru diserobot tanpa sempat ada perlawanan. Bu Guru berteriak-teriak minta tolong. Massa terkejut dan hendak menolong, tapi penjambret sudah telanjur lolos. Hingga di ujung jalan, tiba-tiba….

“Haaa…yaaa…!”

Braaak…!

Grrssskkkkkkk…!

Motor dan penjambret menggelasar di aspal rompal, gara-gara tendangan surprise dari Mistifa yang tiba-tiba menggebrak dalam kegesitan tak terduga. Salah satu penjambret sempat bangkit untuk melawan, tapi sia-sia. Pukulan Mistifa lebih dulu membuat penjahat kelas teri itu pingsan.

Setelah menghajar dua penjambret apes itu, Tifa baru sadar bahwa rok panjangnya robek sampai ke pinggul gara-gara aksi tendangannya. Gadis pendekar itu buru-buru melarikan diri dari TKP, demi mengamankan auratnya. Saat massa berkerumun, sang pahlawan sudah menghilang. Namun teman-teman sekolahnya telah sempat memergoki aksi itu, dan mereka tahu bahwa pahlawan itu adalah kawan mereka sendiri: Si Gadis Berhijab dari Sekolah Kristen. Yap, ini plot kepahlawanan yang klise, sekaligus klasik.

Begitulah reputasi Tifa terbangun di sekolah itu. Bahkan tak hanya di sekolah itu, reputasinya juga menyebar ke sekolah lain. Pamornya bersaing dengan Nathan, pahlawan lain dari sekolah lain. Tapi untuk sementara ini kita tak akan membicarakan hubungan kedua pahlawan berseragam SMA itu. Kita akan membicarakan urusan Tifa dengan Lukas.

“Mencariku?” Lukas berdiri dengan tenang, saat mendengar Tifa menyebut namanya.

Tifa melangkah menghampiri Lukas, hingga keduanya kini tepat berhadapan. Semua anak di kelas itu memandangi dengan rasa waswas.

“Ada apa?” tanya Lukas datar.

“Semalam kau menghina seseorang, kan?” lontar Tifa tanpa basa-basi. “Seorang perempuan dari sekolah lain. Betul?”

“Betul.”

Tifa memicingkan mata, menjadikan wajah cantiknya berubah angker. “Kau tahu apa yang telah kau lakukan?” desisnya.

“Ya. Mengejek gadis dari sekolah lain, di media sosial.”

“Maksudku, kau tahu akibat apa yang akan timbul dari perbuatanmu itu?!” tandas Tifa lebih keras.

“Tahu.”

“Apa?!”

“Bagaimanapun tak akan terjadi apa-apa.”

“Dengar!” Tifa membentak. “Biarpun dia dari sekolah lain, sebagai sesama perempuan aku tak terima dia dihina dengan cara begitu! Kau merasa hebat bisa menghina seorang perempuan di forum terbuka seperti itu? Kalau kau merasa hebat, ayo, hadapi aku!”

“Tapi… kau bahkan tak mengenalnya,” balas Lukas sedikit mencibir.

“Aku tak perlu mengenalnya! Yang kau lakukan adalah melukai hati kaum perempuan!”

“Tifa, sebenarnya apa maumu?”

“Dengar! Kalau kau tak minta maaf padanya, aku akan menghajarmu! Jadi saat giliran teman-temannya dari sekolah itu datang kemari untuk menghajarmu, aku bisa berkata ke mereka bahwa aku sendiri yang sudah memberimu pelajaran dan tak perlu terjadi tawuran antarsekolah!”

“Tifa,” Reuben menengahi. “Sebenarnya ada masalah apa?”

“Cuma masalah solidaritas kaum yang sangat sensitif,” celetuk Lukas.

Dan, plakkk! Tamparan Tifa melayang ke pipi Lukas. Kelas menjadi geger! Anak-anak di kelas itu segera menghambur untuk mencegah Tifa melakukan serangan berikutnya. Para gadis tak berani bertindak, sehingga harus para siswa laki-laki yang turun tangan melerai, memegangi Tifa untuk dibawa menjauh dari Lukas. Tapi Tifa menilai bahwa pegangan para siswa laki-laki itu adalah sebuah kontak yang tidak pantas. Bukan muhrim! Maka serangan berikutnya justru dilayangkan ke para siswa yang memegangi pendekar pemarah itu. Satu siswa ditonjok dan dua siswa kena tampar.

Kegaduhan baru berhenti ketika seorang guru datang menggebrak meja sampai jebol. Broool…! Dan semua langsung diam di tempat masing-masing. Senyap.

Aduh mati nyong…. Lha kok malah mejane jebol?” gumam guru yang datang menggebrak meja itu. Lalu dia menata diri dengan tenang, membangun baik-baik wibawanya, dan bertanya dengan suara ngebas, “Kalian berkelahi maunya apa?”

Semua yang di kelas itu diam. Setelah Pak Zaenuri yang bersuara bas itu, guru-guru yang lain pun mulai berdatangan. Singkat cerita, siswa-siswa yang terlibat pertengkaran itu digiring ke ruang BP.

Setelah melalui satu jam persidangan yang melibatkan para guru dan siswa-siswa biang gaduh itu, kesimpulan diambil:

Bahwa perbuatan Lukas yang telah menghina orang tidak dapat dibenarkan. Tetapi karena dilakukan di luar jam sekolah, maka pihak sekolah tak punya wewenang mengambil tindakan selain sekadar menceramahi si penghina.

Bahwa perbuatan Tifa tergolong emosional dan tidak berada dalam kapasitas yang tepat. Dia layak diberi teguran karena telah mencederai beberapa siswa secara fisik, meskipun tak ada luka serius.

Bahwa Pak Zaenuri memiliki wewenang yang sah untuk menghentikan aktivitas apa pun yang melanggar tata tertib sekolah. Hanya saja, lain kali tak perlu sampai menjebolkan inventaris sekolah. Pak Zaenuri menjawab bahwa dia tak sengaja.

Selebihnya, tak ada sanksi serius yang diberikan. Hanya imbauan normatif saja: jangan terulang lagi. Sidang selesai.

Sekeluar dari ruang BP, Tifa tetap tak bisa berdamai dengan Lukas. Begitu pula Lukas, baginya perdamaian dengan Tifa tak penting untuk diurusi.

“Kalau kau ulangi lagi, aku tak segan-segan untuk menghajarmu lagi! Di sekolah ataupun di luar!” ancam Tifa, sebelum keduanya menuju ke kelas masing-masing.

“Jangan terlalu banyak ulah dengan kemampuan beladirimu, Tifa. Kau akan kena batunya. Lagi pula ini sekolah Kristen. Daripada menjadi biang onar, lebih baik jadikan dirimu sebagai minoritas yang baik.”

Tifa menatap Lukas dengan sorot mata garang. “Ini bukan soal agama, tolol!” sergahnya.

“Memang seharusnya bukan,” Lukas tersenyum. “Tapi bagaimanapun kau sudah membawa simbol agamamu, dan tak semua orang bisa memisahkan permasalahan dengan baik.”

Tifa tertawa sinis. “Kau menasihatiku? Tapi di tempat lain kau menghina orang? Dasar munafik!” Lalu gadis itu membalikkan badannya, melangkah meninggalkan Lukas.

Lukas juga tak berlama-lama, ia pun melangkah menuju ke kelasnya. Di kelas dia bertemu dengan berbagai macam sorot pandang dari teman-temannya. Beberapa tampak sebagai sorot pandang kesal, beberapa sorot pandang sinis, beberapa datar-datar saja. Di tempat duduknya, beberapa teman sekitar bertanya: “sebenarnya apa masalahmu?”, “apakah pukulan tadi sakit?”, “diapakan kau oleh guru-guru?”. Dan Lukas hanya menjawab, “Tak apa-apa.”

Di hari yang sama itu, Fian mendapat desakan dari Wali Kelas, bahwa iuran sekolah yang sudah menunggak tiga bulan harus segera dilunasinya. Bu Ernie mengingatkan bahwa besok adalah hari terakhir. Jika besok belum dilunasi, maka masalah itu akan dibicarakan serius oleh pihak sekolah, dan Bu Ernie tak berani berspekulasi tentang apa yang akan diputuskan oleh pihak sekolah.

“Kami bukannya tak memberi kesempatan kepada siswa tidak mampu, Fian. Apalagi yatim piatu,” jelas Bu Ernie di ruangannya. “Pihak yayasan sudah memberikan kelonggaran. Kamu masuk cukup dengan membayarkan 10 persen saja untuk biaya uang gedung, kan? Kamu juga dibebaskan dari biaya seragam dan atribut. Tapi iuran bulanan tetap diwajibkan.”

“Iya, Bu, saya akan usahakan,” ucap Fian lirih.

Bu Ernie turut sedih. “Usahakanlah sebisa mungkin, Fian. Selebihnya, Saya berpesan, belajarlah dengan baik di sini. Jika nilai-nilaimu selama setahun ini baik, kamu akan berpeluang mendapatkan beasiswa di kelas dua nanti. Sebab untuk memberikan beasiswa perlu mempertimbangkan prestasi akademikmu.”

Fian mengangguk pelan. Tak bisa berjanji. Tapi akan berusaha. Dia meninggalkan ruang Wali Kelas dengan murung. Di dalam kepalanya penuh hitung-hitungan: berapa uang yang dia punya saat ini, dan kurang berapa untuk melunasi tagihan sekolah.

Sambil berpikir, Fian menuju ke toilet. Tapi kakinya terhenti di luar ketika telinganya mendengar percakapan seseorang di dalam. Dia hanya mendengar suara satu orang, tapi orang itu seolah-olah bercakap-cakap dengan pihak kedua. Fian menduga, itu percakapan dengan telepon. Fian urung masuk, dan pilih menguping dari luar karena percakapan itu terdengar aneh.

“Jadi dia masih belum puas menyiksanya?” kata orang di dalam dengan nada tanya.

“Apakah menurutmu itu akan fatal?” lanjutnya.

Lalu suaranya sedikit meninggi, “Apa maksudmu dengan lumayan fatal?”

“Oh. Ana bisa jadi gila? Menurutku itu sangat fatal!”

“Jadi dia akan ke rumah sakit hari ini? Sial! Teman-temanku baru akan menjenguk besok. Aku tak yakin bisa ke sana sendirian, karena aku tak kenal baik dengan Ana. Seperti apa benda itu?”

“Hmm. Boneka keramik. Sepertinya aku baru bisa mengambilnya besok. Apakah itu akan terlambat?”

“Baiklah kalau begitu. Kita lihat besok.”

Lalu “monolog” itu sepertinya sudah selesai. Fian masuk ke ruang toilet dengan setenang mungkin supaya tak dicurigai. Mereka hampir bertabrakan di jalan masuk. Anak yang keluar dari dalam itu tertegun—siswa berambut liuk-liuk dengan pipi kiri merah habis ditampar. Tak ada tegur sapa. Fian tidak mengenalnya, termasuk bahwa nama anak itu adalah Lukas.

Di dalam ruangan toilet itu tampaknya tak ada orang ketiga (atau orang kedua sebelum Fian masuk). Jadi Fian menyimpulkan bahwa si monolog tadi memang sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel. Dan kesimpulan Fian itu salah.

Di salah satu sudut, berdiri sosok laki-laki berbusana safari: berkemeja lengan pendek, bercelana pendek, dan memakai steady yang mengait pinggang celananya. Semua yang dipakainya berwarna pucat. Tapi yang paling pucat adalah wajahnya: seraut wajah tirus yang masih remaja dengan mata abu-abu, seperti sebuah potret dari masa lalu. Sosok pucat itu menyeringai, sebelum akhirnya lenyap seperti setetes susu di permukaan air. Meninggalkan Fian yang tetap tak tahu bahwa sosok itu ada.

 
 
 

bersambung….

 
 
 

 

6 responses to “Chapter 2

  1. ecco

    11 November 2016 at 02:28

    Aku baca cerita2 Noel , seperti nonton series Thailand…

    Karena Series Indonesia gak mungkin serapih ini…

    Kenapa MisTifa Arogan ya… berharap ada sosok muslim lagi yang bisa masuk cerita ini…

    bisa gak posting nya seminggu 2x , kalo seminggu 1x lama…

    Btw ni Chapter udah rampung berapa persen dari keseluruhan…????

     
    • noelapple

      27 November 2016 at 17:13

      Kasih tahu nggak, ya….

       
  2. minae

    11 November 2016 at 14:32

    Lukas bicara sama hantu gitu?
    mereka saling terkait ya, tapi bisa juga berjalan sendiri…

     
  3. gia

    14 November 2016 at 15:48

    Asli. saya salah satu pengagum tulisan jenis ini. yang bolak balik. ini mengasah daya ingat, imaginasi dan lain2. pokoknya selalu keren dan ditunggu kelanjutannya.
    Selalu semangat Mas Noel🙂

     
  4. Rifal

    16 November 2016 at 08:14

    Dia baru saja menyenggol seorang remaja lelaki berwajah menggemaskan, yang membawa buku berjudul “An Education: All About ML”. Mungkin akan berbeda kesannya seandainya buku yang dibawa Liam berjudul “An Education: All About MLM”. Betul, satu huruf pun kadang cukup untuk membuat sesuatu menjadi begitu berbeda. (APALAGI SATU KATA.)

    oh… Saya tau maksudnya…

     
  5. Agil

    17 November 2016 at 21:34

    Hmmmmmhhhhh, aku baru tau ini berbau horor. Tapi tak berbau ML kan mas, hehe. Peace

    Jangan lama2 ya lanjutannya mas.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: