RSS

Chapter 3

 
 

Bakat-Bakat Tersembunyi

 
 

15219423_661005287395382_6010755190845472976_n

 
 

Sekarang kita akan memijak titik waktu yang lain, yaitu hari Sabtu, sepulang sekolah, ketika Reuben dan kawan-kawannya menjenguk Ana. Kau masih ingat, bukan, bahwa Reuben sempat menawari Fian boncengan? Fian menolak dengan dalih akan ke halte. Sebenarnya Fian tidak ke halte, tetapi berbelok ke Jalan Azalea. Menuju ke rumah nomor 13.

Kemarin, yaitu hari Jumat pagi, Opa Wil sudah merayu Fian untuk menemaninya mengobrol hal-hal yang “tak terbatas”. Fian saat itu menolak. Namun, siang harinya di sekolah, Fian harus menghadapi tagihan tunggakan biaya sekolah. Dia harus melunasinya akhir pekan itu. Fian memikirkannya sehari-semalam, bagaimana cara mendapatkan uang yang jumlahnya cukup banyak baginya, untuk membayar tagihan itu. Dia pun teringat tawaran Opa Wil. Dan Fian tak punya opsi lain sebagai solusi. Mau tak mau, dia harus melenturkan prinsipnya.

“Saya terima tawaran Opa kemarin pagi,” kata Fian, pada Sabtu pagi saat mengantar susu ke rumah Opa Wil.

Opa Wil menyeringai menang. Fian tersenyum ringan, berpura-pura tak merasa sedih saat dia harus mengambil keputusan itu sebagai solusi. Sandiwara si belut yatim piatu.

“Fian, Opa tahu kamu sedang butuh uang. Opa bisa baca itu di raut wajahmu yang belakangan ini tak seceria biasanya. Opa sudah banyak makan asam garam, Nak. Opa sudah rasakan sendiri masa jaya Opa, ketika anak-anak muda yang terdesak hidupnya merantau ke ibukota dan datang kepada Opa untuk minta pekerjaan,” ujar Opa Wil panjang lebar dengan nada bijak—bijak menurut Opa Wil sendiri, barangkali. “Yang pasti Opa tak pernah memaksa. Opa hanya ingin beri solusi menurut yang Opa tahu. Yang Opa tahu, hidup ini memang keras. Kadang kau harus melupakan sejenak prinsip-prinsipmu, dan bertindak lebih fleksibel.”

Fian mendehem pelan, menyembunyikan perasaan gamangnya untuk mengikuti arus baru yang penuh spekulasi itu. “Opa cuma ingin ditemani ngobrol, kan?” tanyanya, memastikan.

“Ya. Dengan topik yang tak terbatas,” tandas Opa Wil sambil menyeringai. “Hanya ngobrol, Fian. Dengan waktu yang lebih lama. Itu saja. Jadi, kau mau?”

“Baiklah. Saya bisa. Tapi setelah pulang sekolah.”

Opa Wil tertawa senang dan hampir bertepuk tangan seperti anak kecil yang mendapat permen lolipop. “Tak apa-apa. Opa akan tunggu!”

“Tapi saya minta dibayar di muka.”

Mulut Opa Wil langsung melongo, seperti dubur ayam kena tiup. “Dibayar di muka?” ulangnya dengan mimik perhitungan.

“Saya harus memastikan bahwa Opa tak akan mempermainkan saya.”

“Tentu saja Opa tak mau mempermainkanmu, Nak. Kenapa kau curiga seperti itu? Kau tak boleh curiga kepada orang yang akan membantu kesulitanmu. Itu tidak sopan!”

Fian balas menyeringai. “Tepatnya, kita akan saling bantu, Opa. Sebab, bukan cuma saya yang butuh. Opa juga butuh. Butuh teman. Begitu, kan? Sedangkan saya butuh uang. Tapi, kalaupun Opa tak setuju dengan persyaratan ini, saya masih bisa mencari uang dengan jalan lain. Saya punya bos di dua tempat: di kedai jagung dan pabrik susu. Mereka juga bisa bantu saya.”

Opa Wil langsung menyadari bahwa ucapan barusan punya muatan ultimatum. “Lantas kenapa Opa yang kamu pilih?” tukas Opa Wil, bernada protes sekaligus menyelidik.

“Karena, kalau saya meminta bantuan kepada mereka, statusnya adalah saya pinjam uang. Saya harus mengembalikan di lain hari. Tapi kalau dengan Opa, saya tidak pinjam. Kepada Opa saya menjual jasa. Saya dibayar. Itu bedanya. Jadi, Opa masih tertarik melanjutkan tawaran Opa kemarin?”

Intinya, Fian masih bisa dapat uang dari pihak lain, tetapi Opa Wil belum tentu bisa mendapat teman ngobrol yang lain—yang unyu seperti Fian. Fian ini yatim piatu kurang gizi yang rupanya tak bisa disepelekan. Dia cerdik! Barangkali hasil tempaan hidup sebagai sebatang kara. Dia berhasil mengakali Opa Wil pagi itu.

“Baiklah,” ujar Opa Wil dengan sedikit lesu. “Tentu saja Opa masih ingin kamu temani. Berapa yang kamu minta?”

“Koreksi: saya tidak meminta, tapi saya menagih,” sambut Fian, ganti tersenyum menang. “Untuk obrolan dengan topik yang ‘tak terbatas’, saya rasa fair dengan tarif dua kali lipat: 20 ribu untuk lima menit. Opa ingin ditemani berapa menit? Untuk sementara ini, saya hanya bisa menyediakan waktu maksimal sejam.”

“Nak, kau memeras Opa!”

“Tidak, Opa. Saya kan tidak memaksa Opa. Bisa dibatalkan kalau Opa keberatan. Lagi pula, saya masih ingat, Opa sendiri yang kemarin menawari tarif dua kali lipat. Dan Opa juga pernah bilang bahwa Opa tak pernah kuatir soal uang. Iya, kan?”

Opa Wil melenguh, menyusutkan badan di atas kursi rodanya sambil merengut, seperti anak kecil yang ngambek. Bocah tua mesum yang ngambek. “Baiklah! Opa borong waktu yang kamu punya! Temani Opa selama satu jam, siang nanti!”

“Oke. Berarti totalnya 240 ribu rupiah.”

“Serius, dibayar di muka semuanya?” rengek Opa Wil, masih merasa keberatan.

Fian cuma tersenyum sambil mengangguk.

Sambil menggerutu, Opa Wil merogoh uang di dompetnya. Dia menyerahkan pada Fian sejumlah yang ditagihkan. Fian menerimanya dengan hati senang dan lega—akhirnya, aku akan bisa bayar tunggakan biaya sekolah.

“Terima kasih, Opa. Saya akan datang sehabis pulang sekolah. Tak usah cemas. Saya tak mungkin mengelabui pelanggan.” Lalu Fian meninggalkan Opa Wil yang masih merengut di beranda.

Begitulah cara Fian mendapatkan uang untuk membayar tunggakan biaya sekolahnya. Sabtu siang, di pungkasan jam sekolah, dia membayar tagihan itu ke wali kelasnya, Bu Ernie yang berpayudara besar. Setelah dari ruangan Bu Ernie, dia berpapasan dengan Reuben dan saling melempar senyum. Di jalan, tanpa sengaja, dia berpapasan dengan Reuben lagi yang kali ini menawarinya boncengan. Tapi Fian menolak. Dia harus menepati janji bisnisnya dengan Opa Wil, dan dia tak mau siapa pun tahu soal itu—bahwa dia punya kaitan dengan seorang kakek mesum yang minta ditemani mengobrol “tanpa batas”. Fian berbelok ke Jalan Azalea, sedangkan Reuben melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.

Fian menekan bel di samping pintu rumah nomor 13 itu.

“Siapa?” terdengar seruan menyahut dari dalam.

“Saya Fian, Opa.”

“Oh! Buka saja, pintunya tidak dikunci.”

Fian membuka pintu. Opa Wil menyambut di ambang pintu ruang tengah dengan senyuman berbinar-binar. Fian menyelidik sejenak ruangan di sekitarnya—ruang tamu yang lebar tapi minim perabotan. Foto-foto usang terpajang rapi di dinding. Tak jelas itu foto apa dan siapa saja.

“Mari masuk, Fian,” ujar Opa Wil seraya memutar balik kursi rodanya, menuju ke ruangan yang lebih dalam. “Tolong tutup lagi pintunya, ya.”

Fian mengira mereka akan mengobrol di beranda saja. Ternyata tidak. Dengan ragu dan waswas, dia mengikuti Opa Wil masuk ke ruangan yang lebih dalam. Rumah itu terasa suram. Atmosfirnya terasa kelam. Aroma ruangan adalah campuran bau dinding dan kayu lapuk. Selapuk penghuninya. Ruangan dalam yang Fian temui adalah ruangan selebar 3×3 meter, dengan dinding bermotif bunga-bunga berwarna coklat hasil cetakan cat gilas. Ada teve tabung, dilengkapi pemutar video. Ada kipas angin kotak di atas bifet tua. Ada jam lonceng menempel di dinding, jarumnya masih bergerak tapi loncengnya sudah mati. Langit-langit berlampu bohlam kuning dan berhias sarang laba-laba. Sofa besar menghadap teve dan berbau apek. Fian pilih duduk di kursi plastik yang tampak lebih baru, sedangkan Opa Wil tetap duduk di kursi roda.

“Opa senang kamu betul-betul datang,” ujar Opa Wil tampak senang. “Kamu mau minum?”

“Tidak usah repot-repot, Opa.”

“Kalau begitu ambillah sendiri, kalau nanti butuh. Dapurnya di situ,” ujar Opa Wil seraya menunjuk ruangan di belakang—yang kelihatan sama suramnya. “Ada sirup, teh, kopi dan susu. Lengkap. Tapi Opa lupa beli camilan. Tak apa-apa, ya?”

Fian tak terlalu menggubris ramah-tamah Opa Wil. Bocah itu masih merasa gamang menghadapi kewajibannya—yang sudah “telanjur” dibayar di muka. Dia tak bisa membatalkan, tapi rasanya risih juga menjalankan kewajiban menemani pria tua yang penasaran terhadap hal-hal pribadinya. Dia akan ditanyai hal-hal yang “tak terbatas”, yang bisa jadi akan banyak menyinggung perkara biologis, dan dia harus bersedia menjawab.

“Aku seperti telah melacurkan diri….”

Batin Fian sedih.

Terluka.

“Tapi… setidaknya ini hanya sebatas pelacuran verbal.”

Dia berusaha menghibur diri.

Tegar.

“Bau tubuhmu berbeda di siang hari,” Opa Wil mulai—to the point—membicarakan perkara biologis. “Asam segar. Bau anak muda. Tapi tidak amis. Barangkali karena kau tak suka makan ikan? Terlalu banyak sayur? Kalau kau bisa cari uang lebih banyak, mungkin kau bisa lebih sering makan ikan.”

Itu bukan kalimat kepedulian yang tulus. Harapan Opa Wil adalah Fian mencari uang yang lebih banyak dengan cara sesering mungkin menemaninya ngobrol.

“Betulkah Opa mengurus rumah ini sendirian? Rumah sebesar ini?” tanya Fian, menghindari omongan biologis.

“Tidak. Ada tetangga yang membantu. Dia yang bersihkan rumah dan belikan Opa apa-apa yang diperlukan. Semacam pembantu rumah tangga, tapi tidak tidur di sini. Dia datang tiap pagi, siang dan sore. Tadi dia baru saja pulang, sebelum kamu datang. Sengaja Opa suruh pulang lebih awal, supaya tidak mengganggu kita.” Lalu Opa Wil terkekeh jahil.

Fian menelan ludah. Dia masih ingin menghindar sebisa mungkin dari pertanyaan dan pernyataan tendensius. Memainkan waktu. Dia terus memancing basa-basi, terus dan terus.

“Tak ada kawan Opa yang suka menjenguk kemari?” tanya Fian.

Opa Wil sebetulnya senang ditanyai hal-hal personal seperti itu, membuatnya merasa diperhatikan. “Opa punya beberapa kawan. Tapi mereka jarang datang kemari,” jawabnya datar.

“Kawan bisnis, atau… kawan seperantauan? Mengingat, kalau tak salah Opa dari Sulawesi, kan?”

“Kawan bisnis, Fian. Dan tak terlalu penting untuk kita bahas. Lebih penting membahas dirimu,” ujar Opa Wil sambil menyeringai, seolah-olah sudah mengendus motif Fian berbasa-basi. “Opa masih penasaran: apakah ketiakmu sudah berbulu, Fian?”

Fian hampir tersedak ludahnya sendiri. Sedangkan Opa Wil, di atas kursi rodanya yang menyudut di dekat jendela, terus memandangi dengan wajah renta yang tersiksa penasaran. Wajah tua yang culas!

“Belum tumbuh,” jawab Fian pendek.

“Oh? Masa?”

Fian tak mau mengulangi jawabannya. Lalu Opa Wil tertawa sendiri terkekeh-kekeh. Brengsek tua itu terlihat seperti sedang menggelinjang di atas kursi rodanya, karena tawa yang terus berderai.

“Opa selalu gemas dengan anak yang belum berbulu! Coba, tunjukkan pada Opa?” Opa Wil meminta.

Tapi Fian menggeleng. “Sesuai perjanjian, kita hanya mengobrol. Saya tak punya kewajiban untuk mempraktikkan, atau mempertontonkan sesuatu.”

Opa Wil mendengus kecewa. “Kau terlalu kaku, Fian. Terlalu jaim!”

Fian tersenyum diplomatis.

“Tapi baiklah. Opa akan ikuti aturan mainnya. Kita hanya mengobrol. Tanpa batas! Jadi, itu artinya setiap pertanyaan Opa akan kamu jawab, bukan?”

Fian berhenti tersenyum. Lalu, dengan berat hati dia mengangguk. Meledak lagi tawa Opa Wil.

“Kalau ketiakmu belum berbulu, lantas bagaimana dengan sekitar penismu? Pastinya sudah tumbuh, bukan? Apakah lebat?” Opa Wil memberondongkan pertanyaan biologisnya.

“Tak terlalu lebat,” jawab Fian setengah hati.

“Oh. Apakah naik sampai ke pusar?”

“Tidak.”

Opa Wil terkekeh sambil saling mengusapkan kedua telapak tangannya. “Sejak umur berapa bulu kemaluanmu tumbuh?”

Fian pura-pura mengingat-ingat. “Tiga belas tahun, barangkali.”

Opa Wil tertawa becek. “Berarti kira-kira sudah tiga tahun bulu-bulu akil baliqmu tumbuh. Sebentar lagi bulu ketiakmu pasti akan tumbuh, Fian.”

Fian cuma mengangkat bola matanya ke atas. Lama-lama, dia tak lagi terlalu gamang membicarakan perkara biologis itu. Malah, lama-lama menjadi lucu baginya. Lama-lama, malah terbersit pikiran jahil di benaknya.

 “Mungkin saya mengalami sedikit masalah hormonal. Sehingga bulu di tubuh saya tak terlalu subur,” jelas Fian, terdengar agak ragu. Wajahnya sedikit bersemu—rona pergantian emosional, yang semula merasa dituntut menjawab kini menjadi merasa bebas untuk membuat pernyataan.

“Mungkin karena asupan gizimu kurang baik,” timpal Opa Wil. “Tapi, kenapa kamu bisa menyebut bulu kemaluanmu tidak lebat? Kamu pernah membandingkannya dengan milik orang lain?”

“Saya tidak yakin juga. Cuma, saya pernah melihat laki-laki di film-film barat, kadang bulu-bulunya memenuhi perut dan dada. Saya tak sampai seperti itu.”

“Tunggu, maksudmu ‘laki-laki di film-film barat’ itu semacam… film blue? Yang berisi laki-laki?”

“Bukan. Maksud saya film-film barat apa saja. Film-film umum.”

“Oh…. Tapi, kamu pernah menonton film blue?”

Dengan agak ragu Fian mengangguk. “Kebetulan pernah menemukan file film porno yang tertinggal di komputer warnet.”

Opa Wil menyeringai senang. “Kamu sering menonton film porno?”

Fian menggeleng. “Hanya kalau kebetulan menemukannya di komputer warnet. Kalau tidak, ya tidak.”

Senyum Opa Wil mengambang, antara puas dan tak pernah puas. Dia perlahan mendesis, “Kamu sering onani, Fian?”

Fian terdiam sejenak.

Opa Wil mendesis lagi sambil memperagakan dengan genggaman tangannya. “Kamu sering onani?”

“Saya tak tahu batasan ‘sering’ itu seperti apa.”

Tawa Opa Wil meledak kegirangan. “Setidaknya kamu sudah tahu onani itu apa! Kamu melakukannya setiap hari?”

“Tidak.”

“Bisa berapa kali dalam seminggu?”

“Tidak pasti.”

“Ah, ayolah, tak usah malu mengakuinya. Berapa kali?”

Fian pura-pura menghitung. “Dua.”

“Tak pernah lebih dari itu?”

“Sesekali pernah lebih.”

“Pernah lebih dari satu kali dalam sehari?”

Fian mengangguk pelan. “Pernah. Tapi jarang sekali.”

Opa Wil tertawa becek dengan sorot mata membayangkan. “Sejak umur berapa kamu mengenal onani?”

“Kelas satu SMP.”

“Oh….” Opa Wil menyeringai. “Tahu sendiri, atau ada yang mengajari?”

“Tahu sendiri.”

“Dengan cara bagaimana pertama kali kamu onani?”

“Dengan tangan. Umumnya begitu, kan?”

Opa Wil mengangguk-angguk. Mengiyakan. “Di tempat tidur, atau di kamar mandi?”

“Di ruang tamu.”

Mata Opa Wil langsung terbelalak, kaget. “Oh, kamu nakal sekali?!”

“Opa mau dengar ceritanya?” sahut Fian dengan sorot mata menantang.

Opa Wil menelan ludah. “Ya…. Tentu Opa mau dengar…!”

“Baiklah,” kata Fian tenang. “Dengarkan baik-baik, Opa.”

Opa Wil pura-pura membenahi duduknya. Tangannya meremas-remas sendiri dan mulai berkeringat. Matanya tak berkedip.

“Waktu itu saya baru pulang sekolah,” Fian mulai bercerita. “Ayah dan Ibu tidak di rumah. Rumah sepi sekali. Saya istirahat di ruang tamu. Bersantai. Lalu, tiba-tiba saja saya ingin meraba-raba sendiri….”

“Meraba-raba…? Bagian mana yang kamu raba?” cecar Opa Wil sambil meneguk ludah.

“Dada. Puting….”

Opa Wil menahan napas.

“Perut. Paha. Sela-sela paha….”

Opa Wil kian gelisah menahan gebu di dada mendengarkan Fian.

“Dorongan itu muncul begitu saja seperti sebuah naluri,” lanjut Fian. “Lalu, begitulah. Itu pertama kali saya onani. Umur 13 tahun. Dan saya masih pakai seragam SMP lengkap. Saya onani di kursi tamu….”

“Masih memakai seragam…?” Opa Wil tergagap, bicara sambil menahan napas.

“Lengkap. Saya mulai mengeluarkan penis dari balik celana. Membelainya. Merangsangnya. Menggenggamnya. Memain-mainkannya….”

Sekujur tubuh Opa Wil mulai berkeringat. Terdengar suara ludah yang berkali-kali tertelan. Jakunnya naik turun.

Lanjut Fian, “Tapi, saya belum tahu bahwa melakukan itu bisa membuat sesuatu keluar dari dalam penis. Setelah beberapa menit bermain-main, tiba-tiba ada rasa enak yang memuncak. Terus memuncak! Dengan cepat, rasa enak itu menjadi rasa geli yang tak tertahankan. Tiba-tiba saya merasa kejang, sekujur badan merasa geli tak tertahan, lalu… sperma saya muncrat sampai ke leher….”

“Fian…!” Opa Wil berusaha menjeda.

“Baju dan celana seragam saya ketumpahan di mana-mana. Sperma pertama saya banyak sekali. Rasanya hangat agak panas di kulit. Masih agak encer. Bau. Lengket…. Selama beberapa menit, saya bingung mau apa. Saya shock di kursi. Lemas. Deg-degan. Penis terasa pegal, dan bibir penis terasa agak pedih. Tapi… saya tak bisa melupakan sensasinya. Rasanya sangat enak sekali…!”

“FIAN…!” Opa Wil menahan seraya memegangi bawah perutnya.

“Seharian itu saya langsung lemas. Tapi, malam harinya saya langsung mengulanginya lagi. Keluarnya tak sebanyak sebelumnya. Tapi rasanya tetap enak sekali. Saya juga sudah menyiapkan tisu. Tapi tetap kecolongan juga, ada sedikit yang tumpah di bantal….”

“Oke, Fian, tolong berhenti sebentar…!” seru Opa Wil semakin salah tingkah.

“Saya terkapar lama di tempat tidur. Dengan sperma dan tisu tercecer. Lemas sekali. Belum pernah saya selemas itu. Saya sampai malas untuk turun dari tempat tidur, untuk membersihkan diri. Saya teruskan saja sampai tertidur. Dengan gumpalan tisu di mana-mana. Dengan bau yang lama-lama terasa khas. Saya tak peduli. Saya tidur sampai pagi. Dan saya merasa sangat puas….”

Opa Wil tiba-tiba kaku, berhenti bernapas beberapa detik….

“Itu pertama dan kedua kali saya onani. Keduanya di hari yang sama. Dan rasanya enak sekali. Tak terlupakan!” Lalu Fian dengan tenang berdiri. “Dan sekarang, tepat sudah satu jam kita mengobrol, Opa. Saya permisi.”

Di kursi rodanya, Opa Wil merintih dan terkejang seperti dicabut nyawanya. Beberapa detik. Setelah itu napasnya menderu tersengal-sengal seperti habis berlari kiloan meter. Celananya basah. Aroma dinding dan kayu lapuk kini bercampur dengan bau yang lain.

“Fian…. Jangan pulang begitu saja…!” seru Opa Wil yang masih shock dan terengah-engah di kursi roda. “Kau tak peduli pada Opa…?”

Tapi Fian sudah meninggalkan rumah itu. Fian melangkah pulang dengan tenang sambil bersiul-siul. Ada raut kemenangan di wajahnya.

Di tempat lain, Lukas baru saja pulang. Hari itu merepotkan baginya; dia harus menjenguk Ana bersama rombongan teman, mengambil sebuah boneka keramik untuk dihancurkan, dan kemudian di luar dugaan ada seseorang yang menghadangnya di jembatan. Hampir saja berkelahi. Sekarang dia lega karena urusan sudah selesai. Boneka keramik sudah dihancurkan dan dibuang ke sungai, dan Nathan si penghadang itu juga tak sampai melakukan sesuatu yang di luar batas terhadap dirinya.

Lukas sekarang sudah berada di tempat kosnya. Sebuah kos-kosan elit. Setiap kamar berluas 4×5, dengan dapur dan kamar mandi pribadi. Menyerupai apartemen mini. Dia bisa mendapatkan fasilitas itu, karena sang ayah adalah seorang motivator sukses yang kelebihan uang.

Ayah Lukas adalah seorang motivator yang fokus menceramahi keluarga. Materi yang sering disampaikannya di klub-klub keluarga adalah seputar: bagaimana cara melatih anak supaya mandiri; bagaimana cara mengarahkan anak agar fokus dengan sekolahnya; bagaimana cara mendidik anak supaya tak terjerumus ke dalam seks bebas dan narkoba; dan bagaimana supaya bisa menjadi orang tua yang patut diteladani. Namun, bukan karena wacana-wacana motivasi tersebut yang melatarbelakangi beliau mengizinkan Lukas tinggal di kos. Melainkan karena Lukas sendiri yang menuntut beliau untuk memberikan tempat kos yang bagus. Sebab, beliau telah berselingkuh. Istri sah dicerai, lalu beliau mengawini wanita selingkuhannya.

Lukas tak mau tinggal di rumah yang sama dengan ibu tiri. Dia juga tak bisa tinggal di rumah baru ibu kandungnya, sebab ibu kandungnya ternyata juga sudah menikah dengan pria lain. Lukas menuntut ayahnya untuk memberikan tempat kos yang bagus dan uang bulanan yang banyak. Sebagai timbal-baliknya, Lukas tak akan merecoki hidup baru ayahnya dengan si istri baru. Sejak itu Lukas hidup di tempat kos yang bagus itu. Tepatnya sejak dia masuk SMA.

Sang ayah, gara-gara perceraian dan kawin lagi, sempat tidak laku lagi sebagai motivator keluarga. Namun, motivator yang baik adalah motivator yang bisa memberi solusi terhadap diri sendiri. Beberapa bulan kemudian, bisnis motivasinya mulai lancar lagi. Itu setelah beliau mengganti fokus ceramahnya, dan kini menjadi spesialisasi barunya, yaitu: bagaimana move on dari perceraian, dan membangun hidup baru dengan pasangan baru.

Beliau selalu mengajak istri barunya untuk menjadi pendampingnya sebagai pembicara—kebetulan si istri baru ini juga memiliki kemampuan verbal yang bagus. Setiap ada event atau kelas motivasi di kota itu yang melibatkan mereka berdua, posternya dibikin besar-besar di tempat yang strategis, menampilkan foto manis sejoli motivator itu. Tiap kali Lukas lewat dan melihat poster itu, dia pun selalu memberikan kenang-kenangan manis: sepasang kumis di foto ibu tirinya.

Lukas sempat berantakan saat kedua orang tua kandungnya bercerai—dan sama-sama kawin lagi dengan orang lain. Tapi dia cepat pulih. Dia memiliki bakat untuk cepat menguasai diri, dan kemudian bertindak politis. Hasilnya: dia berhasil memeras sang ayah untuk membayar kompensasi, berupa tempat kos yang bagus dan uang bulanan yang banyak. Sejak itu, Lukas tak terlalu memikirkan keluarganya lagi. Semua berhak hidup bahagia. Yang penting uang bulanan tidak telat.

Sore itu, setelah seharian yang melelahkan, Lukas langsung bergegas mandi. Dengan begitu penatnya jadi hilang. Selesai mandi, tak sengaja pakaian dan handuk yang tergantung di cantelan terjatuh di lantai yang basah.

“Sial!” umpat Lukas.

Dia membuka pintu kamar mandi, lalu menyembulkan kepala, menengok sebentar situasi kamarnya. Setelah yakin, barulah dia keluar dari kamar mandi, menuju ke lemari pakaian. Memilih-milih pakaian.

Tiba-tiba, di salah satu sudut ruangan muncul satu sosok yang berjalan menembus dinding. Sosok remaja dengan pakaian safari, yang keseluruhan citranya tampak pucat tanpa darah. Matanya abu-abu tajam. Ia menyeringai, dan mendekat….

Fuck!” Lukas terkaget saat membalikkan badannya dan mendapati sosok pucat itu di hadapannya.

“Maaf, aku tak bermaksud mengintip,” ucap sosok itu.

Lukas buru-buru menutupi bawah perutnya dengan kain yang disambarnya dari dalam lemari.

“Aku tak tahu kau baru ganti pakaian,” ucap sosok pucat itu.

“Ini sudah keempat kalinya terjadi!” umpat Lukas kesal. Lalu dia melemparkan kain yang semula dipakainya untuk menutupi auratnya. “Lama-lama aku terbiasa!” sambungnya.

Sosok pucat itu memalingkan wajahnya untuk menghindari pemandangan Lukas yang telanjang. Ia bergerak menjauh sambil tersenyum. Meskipun tersenyum, senyumnya tetap tak menghasilkan rona. Ia tetap pucat tanpa darah.

“Ayo, lihatlah! Lebih baik aku merasa terbiasa, biar lain kali tak perlu repot-repot lagi melihat situasi untuk ganti pakaian—di kamar pribadi ini. Lagi pula, aku bangga dengan ukuranku!” tukas Lukas sinis, seraya membuka tubuhnya lebar-lebar.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku buru-buru masuk kemari tanpa berpikir kau sedang ganti pakaian,” ujar makhluk pucat itu.

“Kau buru-buru biasanya karena ada hal penting,” timpal Lukas, sambil mencomot beberapa lembar pakaian. Pertama-tama celana dalam, yang langsung dia pakai di depan makhluk pucat itu.

Si pucat perlahan memalingkan kembali wajahnya, memandangi Lukas yang baru memasukkan kakinya ke lubang celana dalam. Si pucat tersenyum lagi. Seolah-olah ia sedang membandingkan dirinya dengan Lukas. Tubuh Lukas tampak segar. Sebab ada darah yang mengalir di dalam tubuh remaja SMA itu. Tubuh Lukas menandakan segala ciri jasad yang hidup. Kulitnya cerah langsat. Meskipun tergolong kurus, dada dan perutnya tampak terpahat dan membentuk ruas-ruas serta lekuk-lekuk. Bulu kemaluan menyumbang warna hitam di bawah perut, sedangkan kepala penis menyumbang warna merah. Seperti buah cherry. Sedangkan puting di dada merah agak coklat. Betapa berwarna tubuh manusia yang hidup!

“Apa yang membuatmu terburu-buru, Levi?” tanya Lukas, yang kini sudah bercelana dalam.

“Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan,” kata Levi, makhluk pucat itu.

“Katakan!”

Levi mendekat lagi kepada Lukas, dengan gerakan tanpa langkah, sebab kedua kakinya tak menginjak lantai. “Sebelumnya, aku ingin menandaskan apa yang sudah pernah kukatakan padamu dulu. Belajarlah menggunakan gelombang telepatimu, Lukas. Ini penting!”

“Huh. Aku sudah mencobanya, tapi tetap sulit bagiku. Memangnya kenapa?” balas Lukas sambil memakai celana panjang.

“Kau ingat kemarin siang, saat kita berbicara di toilet?” Levi mengingatkan. “Aku curiga orang lain telah menguping kita, gara-gara kau bicara dengan mulutmu.”

Lukas berhenti sejenak. Celananya terhenti di paha, resleting belum menutup.

“Lukas, benahi celanamu. Tinggal sedikit lagi,” pesan Levi, keluar dari konteks. “Dengan celana seperti itu, kau seperti orang yang urung bercinta. Merusak wibawamu.”

“Wibawaku sudah hilang sejak kau datang di hidupku, Levi!” tukas Lukas. Lalu, sambil menuntaskan posisi celananya, “Apakah yang kau maksud adalah anak yang berpapasan denganku saat aku keluar dari tempat itu?”

“Betul sekali,” jawab Levi. “Aku selalu berbicara padamu dengan memanfaatkan gelombang telepatimu. Tapi, kau membiarkannya menjadi gelombang pasif saja. Hanya untuk menyimak, tapi tidak untuk bicara. Kau selalu memakai mulut untuk menjawab suara yang masuk melalui gelombang telepati. Mengertilah, jika orang lain mendengar, mereka akan menganggapmu gila, karena kau seperti orang yang bicara sendiri.”

“Kau bisa menggunakan telepati secara otomatis karena kau hantu, Levi. Kau bisa memanfaatkan energimu dalam bentuk apa saja, tanpa harus terikat oleh sistem-sistem biologis. Sedangkan aku manusia yang masih hidup, perlu melatih organ-organku untuk melakukan apa pun, termasuk telepati. Dan aku sudah berusaha berlatih, tapi tetap tak berhasil. Kurasa itu bukan bakatku. Bakatku adalah bisa melihat makhluk sepertimu, tapi bukan untuk bicara dengan telepati. Ketika dulu kau masih menjadi manusia hidup, memangnya kau sudah bisa melakukan telepati dengan sendirinya?”

Levi menurunkan pundaknya, lesu. “Yah, kurasa manusia memang punya bakat masing-masing. Aku juga tak mampu melakukan telepati semasa aku hidup.”

“Lanjutkan soal si penguping itu. Aku mau dengar,” kata Lukas, sambil memakai kaos. “Bukankah seharusnya kau tahu jika di sekitar kita ada orang lain? Mengapa kau tak mengingatkanku?”

“Yah, begitulah. Di situlah aku merasakan adanya keanehan,” gumam Levi, sambil mondar-mandir di udara. “Realitasku saat ini adalah energi tanpa jasad. Sebagai energi utuh, aku lebih peka ketika ada energi lain yang hadir. Saat anak itu hadir, seharusnya aku bisa merasakan pancaran energinya yang mendekat, walau terhalang dinding sekalipun. Tapi, anehnya, aku tak merasakannya. Aku tak tahu bahwa dia ada di sekitar kita.”

Lukas, yang sudah berpakaian lengkap, tercenung dengan mimik tak mengerti. “Lantas, akhirnya kau tahu dari mana bahwa dia ada?”

“Setelah kau pergi. Setelah kau meninggalkan toilet itu. Perlahan-lahan, wujudnya menebal dan pancaran energinya mulai bisa kurasakan. Kurang lebih sama seperti jika orang lain melihatku muncul, dari tiada menjadi ada.”

Kening Lukas berkerut. “Apa artinya itu?”

Levi berhenti mondar-mandir di udara, dan mendekati Lukas lagi. “Artinya, dia punya bakat istimewa, sama sepertimu, Lukas. Tepatnya, bakatnya adalah seperti belahan lain dari bakatmu. Kau bisa membuat hantu dan makhluk-makhluk dari dimensi astral menjadi terlihat di matamu. Sedangkan dia, dia membuat hantu dan makhluk-makhluk astral tak dapat melihatnya! Kau adalah pengawas, dia adalah penyusup!”

Lukas tampak sedikit bergidik. Suaranya menjadi agak tergagap, “Seserius apa bakat yang dimilikinya itu? Apakah konsekuensinya bisa menimbulkan ancaman bagi orang lain, terutama kita?”

Levi tertawa seperti hembusan angin di lorong panjang. “Entahlah. Bakat-bakat seperti yang kalian miliki tersebar di seluruh dunia, dan banyak yang tersebar secara acak. Aku hanya agak terkejut bahwa bakat itu kutemui di satu kota yang sama, di sekolah yang sama pula. Dan secara mengejutkan pula, ini adalah kota di mana seorang penyihir menyembunyikan benda berbahaya yang selama ini kuburu. Tapi… sekali lagi aku tak begitu yakin juga. Banyak pelaku dan penyandang bakat magis di kota ini, tapi aku belum yakin akan hubungannya satu sama lain. Paranormal bisa kita temukan di semua kota, Lukas.”

Lukas tercenung agak lama. “Lalu, menurutmu sejauh mana pengaruhnya jika anak itu mendengarkan omongan kita?”

“Aku juga ingin menyelidiki hal itu. Jadi, hari ini kuputuskan untuk membuntuti anak itu.”

Lalu Levi menceritakan kepada Lukas, bahwa nama anak itu adalah Fian, sebagaimana Opa Wil memanggil. Levi menceritakan bagaimana Fian mengobrol dengan Opa Wil tentang masalah-masalah pribadi berbau biologis. Termasuk soal onani pertama kali dan kedua kali yang dilakukan di hari yang sama kala Fian masih berumur 13 tahun.

“Yah, dia bercerita soal tisu di mana-mana dan sperma berceceran di bantal….”

“Tunggu, kau tak perlu sedetail itu menceritakannya padaku, Levi!” tukas Lukas memotong. “Katakan saja poin pentingnya!”

“Baiklah. Anak bernama Fian itu membuat si tua di kursi roda orgasme di akhir ceritanya. Tanpa sentuhan. Tanpa rangsangan fisik!”

Lukas menghela napas seraya memutar bola matanya. “Sudah kubilang, aku tak tertarik dengan cerita porno! Sekali lagi, poin pentingnya saja!” tegasnya dengan nada jengkel.

“Aku curiga anak bernama Fian ini memiliki bakat lain, selain membuat dirinya tak terdeteksi. Sepertinya dia bisa memanipulasi pikiran orang lain!”

“Tolong perjelas maksudmu?”

“Lukas, dia hanya bercerita, dan pendengarnya mengalami orgasme! Aku mendeteksi bahwa sepertinya dia melakukan hipnosis terhadap si tua di kursi roda itu. Ceritanya bisa jadi cuma bualan, tetapi dia tahu bahwa cerita seperti itulah yang diinginkan si tua itu. Mungkin untuk mengerjai dan mempermalukannya. Yah, si tua itu memang tampak menyebalkan sekali!”

Kening Lukas makin berkerut. “Tunggu, bukankah dia punya bakat tak terdeteksi, katamu? Mengapa kali ini kau bisa membuntutinya, dan menyimpulkan seperti itu?”

“Itulah!” cetus Levi, sambil mondar-mandir lagi. “Aku berpikir begini: ketika di toilet, dia berniat menguping, dan dia tak ingin dipergoki. Namanya penguping pasti tak ingin dipergoki, bukan? Nah, itu kuncinya: dia tak ingin dipergoki! Tak ingin dipergoki olehmu. Maka, kekuatan bawah sadarnya merespons: mengkondisikan dirinya menjadi tak terdeteksi. Dia menyekat pancaran energinya, dan barangkali juga mengkamuflasekan dirinya. Sekat dan kamuflasenya berhenti begitu dia merasa sudah aman, yaitu ketika kau sudah meninggalkan toilet. Energinya menjadi kembali bisa dideteksi, tanpa tahu bahwa aku masih di tempat itu.”

Lukas mengerling, ikut menganalisis, “Itu karena yang dia anggap ancaman cuma aku?”

“Ya. Sebab dia tak punya bakat melihat hantu dan makhluk astral lainnya. Jadi dia tak tahu aku ada di sana. Karena tak tahu aku ada, maka dia tak memikirkanku sebagai ancaman—atau sebagai apa pun. Intinya, di tempat itu dia berpikir hanya ada pihak kedua, yaitu dirimu.”

“Dia bisa membuat hantu tak dapat melihatnya, tapi dia sendiri juga tak bisa melihat hantu? Aneh sekali,” dengus Lukas.

“Kamuflasenya tetap berlaku bagi semua pihak. Kecuali dirimu. Sebab kau punya bakat untuk melihat yang tak terlihat. Kamuflasenya tak berguna jika berhadapan denganmu.”

Lukas tertawa. “Lucu sekali! Berarti aku hebat!”

“Aku sudah pernah berjumpa bakat seperti itu di masa lalu, Lukas,” terang Levi, menyampaikan sedikit kilas balik. “Saat negeri ini masih berperang, banyak ksatria pribumi yang memanfaatkan kemampuan seperti itu. Umumnya disebut ‘Ilmu Halimunan’. Orang awam menyebutnya ‘Ilmu Menghilang’. Pengguna ilmu ini biasanya adalah para telik sandi.”

“Oh. Aku tak terlalu asing juga dengan cerita-cerita itu. Sering diangkat di film silat,” timpal Lukas.

“Namun, biasanya mereka mendapatkannya dengan cara mempelajari, bukan dari bakat alami. Sedangkan kalian memilikinya sebagai bakat alami. Tapi….” Levi terdiam sejenak.

“Tapi apa?” desak Lukas.

Levi mendehem. “Sepertinya dia belum sadar bahwa dia memiliki bakat itu.”

“Belum sadar? Kalau belum sadar, lantas bagaimana bakat itu bisa digunakan?”

“Aku menduga dorongan bawah sadarnya yang lebih banyak berperan,” terang Levi. Lalu makhluk pucat itu melayang mondar-mandir lagi. “Dia masih tampak spontan dan lugu. Saat kalian berpapasan di toilet, seharusnya dia terkejut, sebab kamuflasenya tak bekerja di hadapanmu. Tapi dia tak tampak terkejut. Reaksinya wajar saja. Seolah-olah dia memang tak merasa memiliki bakat untuk menyembunyikan diri.”

Lukas terbengong-bengong. “Termasuk bahwa dia bisa menghipnosis orang? Maksudmu, dia juga tak sadar telah menghipnosis orang lain?”

“Saat dia bercerita kepada orang tua di kursi roda itu, kulihat aura anak itu sedang sangat jengkel. Tapi mimiknya tak memperlihatkan kejengkelan itu. Dia seperti sedang… berusaha bertindak sopan, atau politis, dengan cara tak menunjukkan bahwa dia sedang jengkel.”

“Sopan? Menceritakan pengalaman masturbasi di depan orang tua cacat adalah tindakan yang sopan?” dengus Lukas sinis.

“Dia menceritakan hal itu karena orang tua itu yang minta.”

“Oh? Aku semakin tak mengerti cerita ini, Levi!” Lukas memegangi kepalanya, lalu meremas-remas rambutnya yang berliuk.

“Aku mendapat kesan, bahwa orang tua itu membayar Fian untuk menceritakan pengalaman seksualnya. Dan sepertinya Fian sudah menerima uangnya. Tapi diam-diam dia tetap merasa kesal juga, karena harus membeberkan masalah pribadinya. Maka, dia menceritakan kisah sensual itu, dengan spirit yang penuh kekesalan dan ingin membuat si tua itu tahu rasa!”

“Lalu kekuatan bawah sadarnya merespons perasaan kesal dan keinginan mengerjai itu?”

“Kurasa begitu. Kemampuan hipnotiknya keluar secara tak sadar. Menyusup di antara kata-kata vulgar yang dia ucapkan kepada si tua. Kata-kata yang memang digemari oleh si tua itu. Lalu membuat si tua itu mengalami orgasme.”

“Anak itu tahu bahwa orang tua itu mengalami orgasme?”

“Kurasa tahu.”

“Tapi tetap tak menyadari bakatnya?”

“Bisa saja dia menduga bahwa si tua itu orgasme karena memang otaknya terlalu cabul. Seperti halnya orang kadang juga bisa orgasme saat menonton film porno, tanpa harus merangsang-rangsang.”

“Jadi, bisa saja dia orgasme memang karena faktor otak cabulnya sendiri. Bukan karena dihipnosis, kan?”

“Tapi, aku melihat memang aura Fian berubah saat dia menceritakan cerita vulgarnya. Tak hanya aura, tapi juga intonasi suaranya. Maka aku menyimpulkan bahwa dia mengeluarkan kemampuan hipnotiknya secara spontan. Dan dia berhasil, karena otak si tua itu mendukung sugesti yang masuk. Otak si tua itu memang terlalu cabul. Tapi, jika yang mensugesti adalah orang lain, belum tentu berhasil juga. Sebab, bagaimanapun, mensugesti atau menghipnosis orang lain memerlukan keahlian. Dan pada beberapa orang, hipnosis bisa merupakan sebuah bakat.”

Lukas mendesah. “Jadi, apa kesimpulanmu soal si Fian ini?”

“Dia seorang manipulator! Dia bisa memanipulasi energi untuk kamuflase, dan memanipulasi pikiran. Tapi semua itu masih dalam mekanisme spontan. Tak disadarinya sebagai bakat khusus. Belum disadarinya.”

Lukas mengangguk-angguk. “Lalu, apa saranmu?”

Levi tersenyum mendekat. “Barangkali, ada baiknya jika kau mendekatinya.”

“Mendekatinya?” Lukas meliukkan sebelah alis.

“Berteman, Lukas. Untuk mengenali lebih jauh bagaimana potensinya, apakah dia berbahaya atau tidak.”

Lukas berpikir-pikir. “Menurutku, kau lebih leluasa untuk menyelidikinya, Levi.”

“Lukas, kau terlalu tertutup pada orang lain. Cobalah lebih bergaul.”

“Agar mereka jadi tahu bakatku ini?”

“Kau tak perlu malu dengan bakat ini.”

“Aku tidak malu. Masalahnya, mereka tetap akan menganggapku aneh,” dengus Lukas sinis.

“Barangkali anak bernama Fian ini tak akan begitu. Sebab dia senasib denganmu: memiliki bakat magis,” ujar Levi, menyeringai.

“Bukankah kau bilang dia belum menyadari bakatnya?”

“Saat ini mungkin dia memang belum menyadari. Namun, lama-lama dia pasti akan menyadarinya. Sebab dia telah menggunakannya,” terang Levi dengan sabar. “Bakat itu seperti bulu pada bagian tertentu di tubuhmu. Sejak kau lahir, kau perlu menunggu belasan tahun untuk melihat bulu itu mulai tumbuh. Sekali ia telah tumbuh, maka tak perlu lagi hitungan tahun. Dalam hitungan bulan ia akan semakin lebat. Kau pun telah mengalami proses itu, bukan?”

Lukas duduk di tepi tempat tidur dan menerawang ke luar jendela. “Kupikir, tidak urgent bagiku untuk berteman dengannya,” ucapnya datar. “Selidikilah sendiri, Levi. Kau punya kemampuan untuk melakukannya. Kau juga bisa tanya-tanya ke teman-teman hantumu, atau setan-setan, atau para malaikat, siapa tahu ada yang memiliki informasi soal anak bernama Fian itu.”

“Tadi aku bertemu Zaenab di jalan,” sahut Levi. “Aku bertanya, apakah dia kenal anak itu. Zaenab bilang, dia tak suka membuntuti laki-laki. Satu-satunya lelaki yang dia buntuti adalah bekas pacarnya, yang membunuhnya dengan santet dan membuatnya jadi hantu penasaran. Lalu aku juga bertemu Kiki; dia sedang mengintip seorang anak SMA yang masturbasi di toilet mal, dan saat kutanyai soal Fian dia mengaku tak kenal dan langsung mengusirku.”

“Teman-temanmu dari golongan hantu kedengarannya tak ada yang berkualitas,” ejek Lukas.

“Kami menjadi hantu karena terikat oleh faktor-faktor yang kelam, Lukas, membuat kami tak bisa sepenuhnya menerima dunia roh, dan terus bergentayangan di dunia. Dan faktanya, sebagian hantu justru menikmati kondisi itu. Tapi aku tidak. Aku ingin membereskan urusan yang membuatku terikat di dunia ini!”

Lukas mendehem. “Ngomong-ngomong, boneka tenung milik Mita sudah berhasil kuhancurkan.”

Levi menyeringai. “Ah, baguslah.”

“Kau punya informasi apa lagi?”

“Aku mendapat informasi dari Galang, hantu yang sering mondar-mandir di sekitar rumah dukun yang dibayar oleh Mita. Dukun itu belajar ilmu tenung di Zimbabwe. Dari auranya, menurutku ilmu dukun itu sebenarnya masih sedang-sedang saja. Hanya saja, dia memakai mantra-mantra dari bahasa suku sana.”

Lukas mendengus. “Itukah yang menyebabkan doa-doa orang di sini tidak mempan? Bahkan seorang pendeta pun sampai diludahi?”

“Benar, Lukas. Doa manusia yang minta pertolongan, pada dasarnya adalah memanggil malaikat. Malaikat-malaikat ini bertugas atas nama Tuhan, dan mereka menerapkan pembagian wilayah kerja. Malaikat-malaikat di sini tak ada yang menguasai bahasa yang dipakai oleh dukun itu. Jadi mereka kerepotan untuk menetralisir pengaruh mantra itu. Mereka harus pergi ke Zimbabwe, meminta tolong kepada malaikat yang bertugas di sana untuk datang kemari, lalu menetralisir mantra itu.”

“Mantra itu diekstrak di dalam boneka itu, bukan?”

“Benar. Malaikat dari Zimbabwe datang tadi pagi. Dia sudah menetralisir mantra itu. Saat kau dan teman-temanmu tiba, sebetulnya pengaruh boneka itu sudah netral.”

“Lalu, kalau begitu kenapa masih perlu dihancurkan?”

“Karena dukun itu bisa mengirim ulang mantranya dari jarak jauh.”

“Kenapa bukan malaikat dari Zimbabwe itu saja yang menghancurkannya sekalian?”

Levi tersenyum menggeleng. “Tidak boleh begitu, Lukas. Sudah pernah kujelaskan kepadamu sejak kita berkenalan, bahwa malaikat dan setan tidak boleh bertindak secara fisik terhadap dimensi manusia. Mereka harus bertindak dari balik tabir. Alam Terang dan Alam Gelap telah membuat kesepakatan itu, sebagai bagian dari aturan perang. Tujuannya supaya manusia tetap memiliki ruang untuk berupaya sesuai kapasitasnya. Dengan demikian, bakat yang dimiliki setiap manusia tidak sia-sia.”

Lukas menghela napas, menangkupkan telapak tangannya di wajah. “Tadi Ana tampak tidur pulas. Aku juga tak melihat setan ataupun malaikat di kamar Ana. Mereka sudah pergi, ya?”

“Ya. Setan-setan sudah diusir, lalu malaikat-malaikat itu melajutkan pekerjaan yang lain. Mereka semua makhluk yang sibuk, Lukas. Apalagi jumlah manusia semakin banyak, dan semuanya punya masalah. Oleh karena itu, sebagian manusia diberi bakat-bakat istimewa, agar bisa ikut membantu sesamanya dengan optimal. Dan hari ini kau telah memberikan sentuhan akhir untuk penyelesaian masalah itu.”

“Lalu, bagaimana dengan dukun itu? Apakah dia ada hubungannya dengan penyihir yang sedang kaucari?”

Levi menggeleng. “Masih belum jelas, Lukas. Tapi itulah tujuanku menyarankanmu untuk mengejek Mita. Supaya fokusnya teralihkan. Supaya dia berhenti menyasar Ana….”

“Dan ganti menyasarku?” gumam Lukas disertai tawa sinis.

“Karena kau lebih kuat dari Ana. Kau bisa menghadapinya, Lukas,” tandas Levi. “Saat kita berhasil memancing perhatian Mita dan dukun itu, kita akan bisa lihat seperti apa jaringan mereka.”

“Dan jika ternyata mereka tak ada hubungannya dengan penyihir yang kaucari, so…?”

“Yah…, setidaknya kita telah menggagalkan aksi satu kelompok jahat, dan kita telah menyelamatkan satu orang dari serangan tenung. Selanjutnya, aku akan terus mencari penyihir itu….”

“Tapi, bagaimana jika kau telah mencari di kota yang salah, Levi?”

Levi menggeleng. “Tidak, Lukas. Aku bisa merasakan benda itu ada di kota ini. Tapi, ini memang seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Detektor logammu berbunyi, tapi tetap saja tak mudah bagimu untuk menemukan jarum itu.”

“Kau benar-benar yakin benda itu berada di tangan seorang penyihir?”

“Benda itu hanya bisa dipegang oleh penyihir, Lukas. Itu pun dari sekte tertentu. Benda itu sengaja dimantrai supaya tak mudah dilacak.”

Lukas mendesah, merasa letih. “Sebenarnya, benda apa yang kaucari ini?”

Levi perlahan menunduk. Wajah tak berdarahnya terlihat sedih. “Aku sulit menceritakan seutuhnya, Lukas. Maaf. Yang pasti, benda ini erat kaitannya dengan kematianku 80 tahun yang lalu. Aku sudah mencarinya begitu lama…. Mengembara dari kota ke kota….”

Lukas mengerti, menyuruh Levi menjelaskan perihal benda itu barangkali sama dengan mengorek memori yang paling menyakitkan. Memori tentang detik-detik kematiannya yang tragis.

“Kau betul-betul yakin aku bisa membantumu?” ucap Lukas.

“Aku yakin. Kau tak hanya bisa melihat yang tak terlihat. Kau memiliki kekuatan lebih dari itu!”

Lukas menyunggingkan senyum. “Tapi, bukan berarti aku akan selalu menang, bukan?”

Levi tertawa mendesau. “Mengapa aku memutuskan untuk meminta bantuanmu, dan mengajakmu bekerja sama? Karena aku melihat kau bukan orang yang takut kalah. Aku juga tak takut kalah, Lukas. Sebab aku tahu, bahwa untuk lepas dari kutukan yang mengikatku ini, aku harus berani bertaruh hingga batas yang ada. Jika menang, aku akan menemukan ketenanganku di alam roh. Jika kalah, aku akan selamanya bergentayangan hingga hari kiamat tiba—bahkan mungkin aku akan terserap ke Alam Gelap selamanya.”

“Lalu, apa yang akan kudapat jika menang?”

Raut Levi kembali sedih. “Sayangnya, aku tak tahu, Lukas. Hanya kau sendiri yang bisa mengartikan kemenangan itu. Kau berhak memaknainya sendiri, sesuai dengan tujuan hidupmu.”

“Sedangkan… kalau aku kalah?”

Perlahan Levi tersenyum dingin. “Jika kalah, berarti kau mati. Dan mungkin nasibmu akan sama sepertiku: menjadi hantu yang tak pernah mencapai alam kedamaian….”

Lukas tertawa pahit. “Jadi, taruhannya sangat besar, bukan? Lalu apakah adil, kau minta bantuanku dengan taruhan yang sedemikian besar, tapi masih menolak menjelaskan tentang apa yang kaucari?”

Levi terdiam. Wajah murungnya tampak bingung. Ia kembali mondar-mandir dengan gelisah.

“Ceritakan padaku, Levi,” desak Lukas.

Beberapa saat Levi masih terdiam dengan gelisah. Lalu, dengan suara sepelan bisikan angin, dia menjawab, “Sebuah jubah, Lukas….”

Lukas mengerutkan dahi. “Jubah?”

“Jubah… yang menjadi alas tubuhku saat detik-detik terakhirku… dan memerangkap sebagian rohku di sana…. Jubah yang memerangkap puluhan roh lainnya. Aku sedikit beruntung, hanya sebagian dari rohku yang terperangkap di sana. Rohku yang tercabik dan terperangkap itulah yang membuatku bisa merasakan di mana ia berada. Ia terus berteriak memanggilku…. Ia tersiksa di sana, bersama roh-roh lainnya yang malang. Kami semua mati muda, Lukas. Kami semua dikorbankan. Aku… bahkan baru 14 tahun ketika itu….”

Lukas terkesima mendengarkan. Ia mengerjapkan mata, meremas-remas kepalanya. “Baiklah. Kau tak harus melanjutkan jika itu menyakitkan. Kau bisa menyambungnya lain kali.”

Levi mendekati Lukas. Wajah sedihnya mencoba tersenyum kembali. “Kau juga tampak letih sekali, Lukas.”

“Ya. Sejak kau mendatangi hidupku, masalah yang harus kupikirkan menjadi bertambah. Dan refreshing menjadi hal yang hampir mustahil bagiku, karena kau suka muncul tiba-tiba.”

Levi membungkuk. “Aku sungguh minta maaf.”

“Pergilah, Levi.”

“Baiklah. Aku tak akan mengganggumu lagi hari ini. Istirahatlah. Aku akan kembali besok, dan kuusahakan tidak muncul tiba-tiba.”

Lalu hantu itu membubung menembus langit-langit, meninggalkan kamar Lukas. Ia terbang mengarungi udara senja, yang jika kau memiliki mata untuk melihat yang tak tampak maka kau akan bisa melihat, di bawah langit yang sama itu hantu-hantu berkeliaran mengikuti arus takdir masing-masing. Mereka seharusnya berada di alam roh, suatu alam di mana arwah-arwah orang mati menunggu hari kiamat. Seharusnya mereka menunggu hari penghakiman dengan tenang, tak lagi berurusan dengan dunia fana, kecuali ada simpul-simpul fana yang masih mengikat takdir mereka.

Dari udara Levi melesat turun, mendekati sebuah rumah besar. Namun, ia tak bisa benar-benar dekat. Ia harus menjaga jarak, sebab rumah itu dijaga puluhan setan yang memancarkan aura kejam. Setan-setan itu berwujud makhluk-makhluk berwarna putih berlendir menyerupai larva. Tangan dan kaki mereka bercakar. Kepala mereka merah menyala dengan taring besar menyeringai. Mereka setan kelas rendah, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Levi tak mau gegabah.

Levi mengintai dari jarak sekira 50 meter. Cukup jauh. Namun, ada suatu takdir yang telah membuat Levi menjadi hantu yang bukan sembarang hantu. Itu berkaitan dengan peristiwa kematiannya 80 tahun lalu, yang membuat sebagian rohnya tercabik dan tersegel di sebuah relik; sedangkan sebaliknya: rohnya yang bebas telah mengandung sebagian kekuatan yang berasal dari relik itu. Sebuah kekuatan untuk menyusupkan penglihatan dan pendengaran. Dari jarak yang cukup jauh, Levi dapat memata-matai apa yang terjadi di dalam rumah itu, mengabaikan dinding sihir yang dibangun melapisi rumah itu.

Di dalam rumah, seorang gadis remaja berambut ombak dan beraura primadona sedang bercakap-cakap serius dengan seorang pria paruh baya berambut putih. Mita, gadis ayu berwajah menggoda itu, sedang membicarakan perkembangan agendanya dengan Jahad, si dukun tenung yang pernah menempa ilmu selama 11 tahun di Zimbabwe.

“Bagaimana, Mita, apakah kau ingin melanjutkan niatmu untuk mencelakai Ana?” tanya Jahad sambil mengibas-ngibaskan lengan bajunya yang gombrong. “Jika iya, aku bisa membuatkan medium yang baru. Aku akan mengirimkan setan yang lebih kuat supaya hasilnya lebih efektif. Tapi, yah… biayanya juga lebih mahal, sebab bahan-bahan sesajinya juga lebih sulit dicari.”

Mita menyipitkan mata seraya menyunggingkan senyum miring. “Uang tidak masalah buatku, Master. Papaku kaya raya. Tapi, kurasa urusanku dengan Ana sudah cukup. Kita sudah membuat dia kejang-kejang di lantai seperti orang kena ayan, di hadapan teman-temannya. Wajahnya boleh tetap cantik, tapi namanya sudah tercoreng! Aku sudah berhasil mempermalukannya!” Lalu Mita tertawa panjang.

Jahad menyeringai. “Jadi, apa maumu sekarang? Sudah selesai?”

“Selesai? Tentu saja tidak, Master!” sahut Mita setengah menyeru. “Bagaimanapun aku ingin tahu, siapa anak bernama Lukas ini! Kenapa dia menyampuri urusanku, bahkan berani menghinaku?!”

Air muka Jahad sedikit berubah. Tampak sedikit gugup. “Aku sudah mengirim setan peliharaanku untuk memata-matainya. Tapi… yah, sepertinya dia bukan anak sembarangan.”

Mita mendelik. “Maksudnya?”

“Yah, dia memiliki kemampuan supranatural. Bakat murni dari lahir,” jelas Jahad.

Mita tampak berang. “Apakah ilmunya lebih tinggi dari Master?”

“Ups! Tunggu, Nak, jangan gampang berkata begitu!” sergah Jahad seraya menggoyangkan telunjuk. “Yah, dia bisa melihat hantu, setan dan jin. Bahkan barangkali dia juga bisa melihat malaikat. Dan… sepertinya dia juga punya bakat untuk, ehm, membuat keributan. Jadi, setan utusanku memutuskan untuk memata-matai secara hati-hati.”

“Tapi Master bisa menyingkirkannya, bukan?” tukas Mita.

Jahad terdiam beberapa detik. Lalu tertawa gemelutuk. “Menyingkirkannya? Maksudmu… membunuhnya?”

Mita ikut bimbang sejenak. “Yah… dia sudah menghinaku, Master!”

Hmm. Terus terang, aku juga tak tahu mengapa anak ini tiba-tiba menyampuri urusan kita. Barangkali superhero complex. Mungkin dia penggemar komik Doctor Strange,” ujar Jahad sambil tertawa gemelutuk lagi, seperti kentut yang bercampur air. “Tapi, agak rumit jika niatmu adalah untuk membunuhnya. Bukan berarti aku tidak mampu, Nak. Tapi… yah, mencabut nyawa dengan ilmu sihir tidak bisa sembarangan. Selama karierku, aku tak akan melakukannya jika alasannya adalah hal sepele.”

“Master menganggap harga diriku masalah sepele?!” Mita kembali menyeru.

Dua detik wajah Jahad membatu. Lalu tersenyum lagi. “Nak, terus terang, dalam sudut pandangku, masalahmu termasuk sepele. Awal dari masalah ini hanya karena kau berebut lelaki idaman dengan Ana. Padahal, kalian baru belasan tahun!” Jahad tertawa lagi, kali ini terpingkal-pingkal. Lalu wajahnya membatu lagi. “Lupakan niatmu untuk membunuh anak bernama Lukas itu. Aku siap membunuh, selama sasaranku manusia normal. Tapi anak bernama Lukas ini, dia memiliki bakat magis murni. Aku tak yakin dia tak dilindungi kekuatan lain!”

“Oh…. Berarti Master memang takut, kan?” cibir Mita.

“Pada anak itu aku tidak takut, Mita. Tapi, kuakui aku khawatir dengan siapa yang mungkin melindunginya. Entah siapa. Utusanku masih menyelidiki. Yang pasti, manusia yang memiliki bakat magis murni pasti memiliki garis silsilah yang menyerempet… entah setan atau malaikat! Jika nenek moyangnya pernah diselingkuhi malaikat kelas bawah, aku tak terlalu takut. Aku punya banyak setan untuk melawan malaikat! Tapi… bagaimana kalau dia mendapat bakat itu dari Yang Mulia Beelzebub sendiri, atau Yang Mulia Lucifer?! Hidupku bisa tamat, Nak, dunia akhirat! Karierku belasan tahun di dunia tenung akan sia-sia, prestasiku didiskualifikasi, ilmuku kena moratorium, namaku dicoret dari sertifikat, lalu aku jadi budak di neraka!”

Mita terdiam. Mereka berdua terdiam. Sedangkan setan-setan di ruangan itu sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang menjilati menyan, ada yang menghirup asap dupa, ada yang sedang oral seks di pojokan.

Lalu Jahad berkata lebih pelan, “Saranku, kau tak usah urusi anak bernama Lukas itu. Biar dia jadi urusanku. Aku akan tetap menyelidiki, mengapa dia begitu sok jago menyampuri bisnisku. Ini menjadi masalah personalku dengannya.”

Mita mendengus. “Baiklah.”

Jahad tersenyum puas. “Nah! Sekarang, jika kau masih punya niat yang lain, aku tetap akan membantumu, Nak.”

Perlahan, Mita pun kembali tersenyum. Culas dan kejam. “Baiklah, Master. Aku masih butuh bantuanmu. Kali ini, aku ingin menjadikan seseorang milikku selamanya!”

Jahad tertawa terkakak meledak-ledak. “Kau ingin seseorang menjadi budak cintamu? Serahkan padaku, Nak! Siapa? Siapa orangnya? Anak gagah bernama Nathan itu?”

Mita turut tertawa panjang. “Nathan? Aku hanya memperalat dia saja, Master, untuk menghajar si Lukas itu. Dia memang gagah, tapi bukan seperti itu seleraku.”

“Lalu siapa? Katakan, Nak!”

“Master, sejak SMP, Ana selalu berhasil lebih dulu memacari lelaki yang kami perebutkan. Hingga dia menjadi sombong dan berani menghinaku! Kali ini, aku ingin dia kalah! Dia harus kalah! Aku harus menang!”

Dengan mata menyala-nyala, Mita melangkah maju, seraya menyerahkan selembar foto kepada Jahad.

Jahad kembali tertawa gemelutuk, memandangi foto itu sambil mengusap-usap dagunya. “Sudah ada fotonya. Bagus! Berarti hanya tinggal satu syarat lagi untuk membuat niatmu berhasil.”

“Apalagi yang perlu kusiapkan, Master?” tantang Mita dengan senyum berapi-api.

Jahad menyeringai. “Aku butuh darah menstruasimu, Nak, untuk mengikat jiwa anak ini padamu….”

Mita menarik sedikit wajahnya dengan raut berubah kecewa. “Menstruasi…?”

“Benar. Supaya lebih praktis, berikan saja pembalutmu.”

Beberapa detik, suasana menjadi zonk.

Mita tertunduk. Lalu dia mengumpat dengan kesal, “Sial! Mens-ku belum datang! Mungkin beberapa hari lagi, Master.”

Jahad menanggapi dengan wajah gampang. “Oh? Ya sudah. Kalau begitu kau akan mendapatkan anak ini, beberapa hari lagi….”

Jahad mengacungkan foto itu. Mita berpandang-pandangan dengan orang yang selalu dia sebut “Master”. Keduanya perlahan tersenyum. Lalu senyum itu menjadi tawa bersama-sama, panjang dan menyala-nyala. Persis sinetron! Bersamaan dengan itu, setan di pojok ruangan mengerang panjang mencapai orgasme.

Lelaki yang wajahnya ada di foto itu, adalah Reuben.
 
 
 
 
 
 
to be continued….

 
 
 

 

2 responses to “Chapter 3

  1. minae

    29 November 2016 at 16:52

    Reuben jadi sasaran berikutnya? dia punya kekuatan juga gak ya?

     
  2. rudy arino

    1 Desember 2016 at 14:52

    semoga Reuben Tidak menpan.. kan dia sukanya sama Anak SMP yg ditabraknya.. ditunggu lanjutannya KA Noel

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: