RSS

HBR #5

 
 

STRANGER

 
 
 

MOS sudah memasuki hari keempat. Selama MOS berlangsung, sering terjadi perlakuan menyebalkan dari para senior. Namun, hari ini terasa ada yang mulai berubah. Para senior tidak segalak hari-hari sebelumnya. Sikap sok mereka juga mulai berkurang. Ada dua kemungkinan yang menjadi penyebabnya.

Pertama, mungkin karena sudah memasuki hari keempat. Senior dan junior sudah banyak beradaptasi satu sama lain. Dengan sendirinya suasana mulai cair.

Kedua, mungkin karena sehari sebelumnya terjadi perlawanan dari seorang murid kelas satu bernama Ricky. Akibatnya: seorang senior dibikin KO, dan setelah itu tugasnya sebagai pendamping juga dicabut oleh pihak sekolah. Kekalahan telak di kubu senior! Sebuah pembuktian bahwa junior tidak selalu bisa diremehkan!

Apakah Ricky masih dielu-elukan sebagai pahlawan oleh teman-temannya kelas satu? Tidak juga. Semua berjalan biasa saja. Kecuali bagi beberapa orang. “Beberapa orang” ini termasuk Siska, si tomboy jadi makin terobsesi kepada Ricky—jagoannya!

Di jam istirahat pertama, Siska melancarkan agendanya. Si tomboy dari kelas X-E itu mendatangi kelas X-A. Niatnya dia mau berkenalan (ulang) dengan Ricky yang pernah menjadi teman SD-nya. Sayang, dia tak melihat Ricky di kelas. Dia malah bertemu seorang lainnya, yang pernah menjadi teman sekelasnya ketika SMP.

“Lho, Jen? Kamu di kelas ini?” sapa Siska ke Jejen, di serambi kelas X-A.

“Ih! Kok masih manggil pakai nama itu, sih? Di sini aku dipanggil Zain!” tukas Jejen, yang bernama asli Zainal.

“Halah, masih mendingan aku panggil ‘Jejen’. Dulu waktu SMP banyak yang panggil kamu ‘Jendol’!” seloroh Siska sambil meninju lengan Jejen. Lalu Siska duduk mendesal di sebelah Jejen. “Kelasmu asyik nggak, Jen?”

“Ya asyik, dong! Ada apa ke sini? Cari orang?”

Siska celingukan sesaat, mengintip ruang kelas X-A. “Temanmu ada yang namanya Ricky, ‘kan?” Siska sedikit membisik.

“Ada. Dia yang habis berkelahi kemarin, tho? Kenapa?” selidik Zain. Lalu dia tersenyum sinis. “Naksir sama dia?”

“Enak aja! Teman sekelasku yang naksir, bukan aku! Tapi dia nggak berani kenalan!” bantah Siska.

“Terus kamu mau jadi comblangnya, gitu?”

“Nggak juga. Cuma penasaran aja, kok temanku sampai tergila-gila?”

Zain cuma tertawa simpul. “Dia lagi ke kantin mungkin,” gumamnya.

Siska melenguh lesu. Dia sudah berpikir hendak menyusul ke kantin, tapi rupanya ada hal lain yang menarik perhatiannya dan membuatnya tak jadi beranjak. Siska mengamati benda yang sedang dipegang Zain. Selembar kertas agak besar berisi beberapa gambar. Semacam desain baju.

“Apa sih itu?” tanya Siska ingin tahu.

“Nanti kelasku ada rapat, buat nentuin desain kaos olahraga. Minggu depan ‘kan pelajaran olahraga sudah dimulai,” jelas Zain sambil kembali fokus ke kertasnya.

“Kaos olahraga? Coba pinjam!” Siska langsung menyambar kertas di tangan Zain. Siska terbelalak menatap gambar-gambar desain kaos itu. Dia tiba-tiba tampak begitu antusias. “Ketua kelasmu siapa, sih?”

Zain yang berkacamata tebal itu melongo. Lalu dia nyengir bangga. “Aku!”

Siska tertegun. “Serius?”

Zain menganyunkan dagunya naik-turun.

Siska terbengong sejenak. Lalu dia kembali meninju lengan Zain. “Cieee…! Waktu SMP cuma mentok jadi sekretaris, sekarang naik level jadi ketua! Cieee…!”

“Makanya, nama panggilan juga harus naik level, dong!” cetus Zain percaya diri.

“Weee…. Nggak usah gitu! ‘Jejen’ juga asyik buat panggilan, kok. Kesannya lebih akrab dan humble, gitu loh. Mentang-mentang sekarang jadi ketua kelas terus songong, nih?”

Zain merengut.

“Oh, iya, soal kaos olahraga, kayaknya kamu butuh masukan dari aku, nih!” cerocos Siska dengan pedenya. “Dari tahun ke tahun, dari kelas ke kelas, model kaos olahraga cuma gitu-gitu aja. Oblong, pakai lengan, ….”

“Memangnya yang bagus gimana?” Zain langsung memotong.

“Maksudku, kenapa nggak coba model yang beda?”

“Nah iya, yang beda yang gimana?”

Siska tersenyum senang sekaligus nakal! Lalu dia menunjuk salah satu desain kaos di gambar itu. “Ini, yang nggak pakai lengan!”

Zain tampak agak ragu. “Biarpun beda, tapi apa keren kalau nggak pakai lengan?”

“Ya kerenlah! Kelasku juga rencananya mau pakai yang tanpa lengan. Akan terlihat lebih macho!” seru Siska, meyakinkan Zain dengan opininya.

“Lho, terus yang cewek juga ikut macho, gitu?”

Wajah Siska berubah gondok. “Kamu ini sudah naik level jadi ketua kelas, tapi masih oon aja?! Kalau yang cewek ya jadi lebih seksi, dong! Kecuali buat murid-murid yang pakai hijab, khusus mereka baru dikasih yang model lengan panjang. Masa ngatur gitu aja nggak bisa?”

Zain manggut-manggut disemprot Siska.

“Percaya sama aku. Aku selalu ngikutin tren!” tandas Siska.

“Oke, deh. Makasih sarannya. Aku akan sampaikan nanti di kelas. Tapi keputusannya tetap diambil bersama, lho. Aku nggak bisa maksa orang satu kelas,” ujar Zain.

“Kamu bilang aja, zaman sekarang harus berani tampil beda. Asal masih positif! Biarpun keputusan diambil bersama, sebagai ketua kelas pasti pendapatmu tetap lebih diperhatikan sama teman-temanmu. Jadi ketua kelas harus pede, dong!” tandas Siska panjang lebar. Lebih tepatnya maksa.

Zain manggut-manggut lagi.

“Minta nomormu!” pinta Siska kemudian.

“Buat apa?”

“Ya buat kontak! Kamu udah nggak anggap aku teman?” balas Siska judes.

Zain nyengir. “Siapa tahu kamu malah mau lebih,” gumamnya.

Dalam hati Siska mengumpat. Andai dia sedang nggak butuh Zain, mungkin dia sudah menampar Ketua Kelas X-A itu! Siska menyimpan nomor ponsel Zain.

“Oke, Jen. Aku cabut dulu, ya!” ucap Siska sambil menggeloyor pergi dengan cuek, meninggalkan Zain yang masih duduk di serambi depan kelasnya.

Si tomboy itu melenggang dengan riang, seolah-olah ada hal hebat yang telah berhasil dicapainya. Dia memang belum berhasil bertemu Ricky, tapi sebuah agenda yang tak kalah serunya berhasil dia lancarkan hari ini!

Masih di jam istirahat yang sama, salah satu teman Siska sedang berada di kantin. Si rambut kriwil.             Nera sedang berdiri dengan mimik bingung, sambil memegang mangkuk soto di tangan kanan dan teh botol di tangan kiri. Dia menengok ke tiap sudut, mencari tempat duduk di kantin yang besar itu, untuk menikmati sotonya. Hampir semua kursi sudah ditempati. Tinggal beberapa saja yang masih kosong. Nera menambatkan pandangannya ke salah satu bangku. Bangku tunggal yang berbagi meja kecil dengan bangku lain yang sudah ditempati. Nera terbeliak dan berbinar-binar. Dengan memberanikan diri, dia menghampiri bangku itu. Tepatnya, menghampiri siswa laki-laki yang duduk di seberang bangku itu.

Dengan ragu dan malu-malu, Nera duduk di seberang Ricky. Berbagi meja.

“Hai,” sapa Nera agak gugup.

“Hai,” balas Ricky, menatap Nera sambil mengingat-ingat.

“Masih ingat aku?” tanya Nera dengan senyum tersipu.

Ricky mulai ingat. “Kita… kemarin satu SMP, ya?”

“Iya! Kita satu SMP!” sahut Nera langsung berbinar-binar. “Kamu ingat ternyata!”

Ricky tersenyum simpul—cukup manis untuk wajahnya yang hari itu terlihat agak bengap. Ricky kembali meneruskan makannya dengan santai. Cuek. Sebaliknya, Nera dalam hatinya berdegup-degup; serasa pujian baginya, ketika ternyata Ricky mampu mengingat bahwa mereka dulu satu SMP.

“Kok makan sendirian?” tanya Nera, bersikap akrab. “Ramai begini, tapi nggak ada yang duduk sama kamu?”

“Entahlah,” jawab Ricky singkat, sambil mengusap hidungnya yang agak basah dengan tisu.

Nera menduga-duga dalam hati: apa mungkin karena kemarin Ricky habis berkelahi dengan senior, kemudian citranya dicap “anak nakal”, “anak badung”, atau apalah citra jelek yang lainnya? Di saat Nera masih sibuk menduga-duga….

“Mungkin aku memang kelihatan nggak asyik,” tiba-tiba keluar celetukan dari mulut Ricky. Lalu dia mengulas senyum—wajah lebam yang tersenyum, yang di mata Nera justru tampak seksi.

“Masa sih kamu nggak asyik? Aku sudah duduk di sini, lho?” gumam Nera menggoda.

“Kamu kesasar barangkali,” timpal Ricky, tersenyum lagi sebelum menyuapkan nasi ke mulut.

Nera menelan ludah—mau memuji “kamu asyik”, tapi dibalas “kamu kesasar”. Sepertinya Ricky bukan perayu cewek. Dan itu justru membuatnya tampak misterius bagi Nera. Semakin seksi!

“Aku nggak merasa kesasar, kok,” balas Nera lembut. “Tapi, kalau disuruh main ke rumahmu, baru aku bisa kesasar. Soalnya aku belum tahu rumahmu.”

Si kriwil genit ini sedang melancarkan modus!

Balas Ricky, “Memangnya ada yang menyuruhmu ke rumahku?”

Nera hampir mengunyah sendok!

“Nggak ada!” sahut Nera gemas. “Memangnya rumahmu di mana, sih, Rick?”

“Eh, sudah tahu namaku, ya?”

Nera terbelalak seperti habis minum kecap. “Ya… tahulah. Kita ‘kan pernah satu SMP?”

“Tapi, seingatku kita tak pernah sekelas?”

Lama-lama Nera bisa beneran minum kecap karena diombang-ambingkan cowok “tak berperasaan” di hadapannya itu.

“Ya aku dengar-dengar aja… teman-temanmu biasa memanggilmu begitu. Terus… ya aku ingat aja!” jelas Nera kikuk.

Ricky manggut-manggut dengan wajah maklum. “Tapi… maaf kalau aku belum tahu namamu,” ucapnya.

Nera hampir menangis karena malu.

Tapi Ricky ternyata cukup berperasaan untuk menjinakkan perasaan malu itu, dengan bertanya: “Terus, namamu siapa, sih?”

Nera tertawa masam, dan memperbaiki mimik wajahnya yang tadi sempat terlihat malu. “Namaku Nera,” sebutnya lembut. Lembut tapi centil.

“Oh. Oke,” sahut Ricky simpul.

Nera mengamati Ricky yang kembali meneruskan sarapan. Ricky yang cuek itu, yang hari itu mukanya tampak agak bengap tapi tetap saja membuat Nera merasa gemas dan geregetan! Entah kenapa baru sekarang dia merasa tertarik untuk berkenalan dengan cowok cuek ini. Ada apa dengan masa SMP? Kenapa dia tidak tertarik sejak dari SMP? Karena belum puber? Karena Ricky belum semenarik sekarang? Memangnya sekarang semenarik apa? Nera tak bisa menjawabnya. Tapi itu juga bukan pertanyaan penting baginya. Rasa suka kadang memang datang di luar jadwal.

Ketika Ricky mengangkat wajahnya dan sedikit mengitarkan pandangan, tiba-tiba roman mukanya berubah. Perubahan itu juga tertangkap oleh Nera. Pandangan Ricky tengah terkesima oleh sesuatu, dan Nera segera mengikuti arah pandangan itu. Tampak beberapa anak kelas satu lainnya baru masuk ke kantin; yang paling mencolok adalah seorang di antaranya, yaitu seorang siswa laki-laki berkulit putih dan berambut coklat kehitaman. Tampaknya blasteran. Siswa yang baru datang itu duduk di sudut yang cukup jauh bersama teman-temannya. Dan ke arahnyalah pandangan Ricky sedang terpaku.

“Kayaknya Indo, ya? Aku baru lihat hari ini,” gumam Nera yang turut terpaku. “Dia baru masuk hari ini?”

Karena tak mendengar Ricky menanggapi, Nera kembali menghadapkan pandangannya ke kawan duduknya itu, dan dia pun terbengong lagi. Dia melihat Ricky masih menatap tak berkedip ke siswa Indo itu. Dan pandangan Ricky tampak mengandung sesuatu yang begitu kentara, tetapi sulit ditebak apa pastinya.

“Rick…?” panggil Nera.

Mata Ricky mengerjap. Dia segera menyadari lagi posisinya, menarik pandangannya. Namun raut yang tak tertebak masih menempel di wajahnya.

“Kenapa, Rick?” tanya Nera, merasa ada yang aneh.

Emhhh, sorry, aku balik ke kelas dulu,” balas Ricky agak kikuk. Lalu dia cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

Nera ternganga bingung menghadapi sikap Ricky yang tiba-tiba menjadi aneh, dan meninggalkan dia begitu saja. What’s going on?

Apakah ada hubungannya dengan siswa blasteran yang baru datang ke kantin itu?

Feeling Nera mengatakan “iya”!

Tapi, seperti apa hubungannya, hingga Ricky tiba-tiba bersikap begitu aneh?

Ada apa dengan Ricky?

 
 
 
 
 
 

bersambung….

 
 
 
 

 

2 responses to “HBR #5

  1. sugilallo

    7 Desember 2016 at 13:50

    Lanjutannya dong 💃💃

     
  2. Rifalius

    8 Desember 2016 at 05:48

    Hm…. Mulai dapat alurnya.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: