RSS

HBR #1

 
 

COWOK BUAH BIBIR

 
 
 

Siang itu, di pekarangan belakang laboratorium yang rimbun dan jauh dari keramaian sekolah, empat orang gadis berseragam putih abu-abu sedang berkumpul santai.

“Huh! Capek banget MOS hari ini!” keluh Nera, gadis yang berambut kriwil sebahu. Dia menaruh bokongnya dengan lesu di bibir taman.

“Iya. Rempong semua tuh senior!” Siska, si tomboy yang berparas manis tapi juga badung, menyahut keluhan temannya tadi. Tak seperti Nera—dan dua temannya yang lain—yang duduk, Siska memilih berdiri saja menyandarkan tubuh semampainya ke tembok.

“Tenang girls, MOS ini cuma lima hari,” sahut Vita, gadis yang berkacamata dan berkuncir kuda.

“Lima hari. Dan kita baru dapat tiga hari!” Nike menimpal. Gadis ini adalah yang posturnya paling mungil, dan wajahnya mengoleksi beberapa jerawat.

“Bukan baru dapat tiga hari, Nike, tapi sudah dapat tiga hari!” Vita membenahi kalimat temannya itu. “Kita sudah menyelesaikan lebih dari separuh. Jadi yang semangat, dong!”

“Betul, kita sudah melewati lebih dari separuh hari-hari menyebalkan yang harus kita lalui ini,” timpal Nera. “Tapi untung ada kalian. Jadi, selesai sesi-sesi yang bikin emosi itu, kita bisa kumpul-kumpul untuk melampiaskan semua yang sudah kita tahan! Seperti sekarang!”

Nike merapatkan kedua kepalan tangannya di bawah dagu—gaya dramatis sok imut, seperti yang sering kita dapati di dalam kartun-kartun girly. “Yap, karena ada kita berempat! Kita telah membuat diri kita mampu melewatinya!” gumamnya, diplomatis-retoris-lebai.

“Padahal, di antara kita berempat, cuma aku sama Vita yang sebelumnya satu SMP. Kita berempat kenal karena bimbel di tempat yang sama. Lalu kita bertekad untuk masuk ke SMA yang sama. Sekarang, kita betul-betul satu sekolah di SMA ini. Ini cool!” Siska turut menggebu. Raut kesalnya yang tadi tampak menyebalkan bagi siapa pun yang melihat, kini berubah penuh binar-binar.

“Sayangnya, di sini cuma aku sama Vita yang sekelas,” desah Nera.

“Bukan kelas yang menyatukan kita. Melainkan …,” Vita mengulur kalimatnya, lalu, “karena jiwa kita sama!” Dia menyorak seraya mengangkat kepalan ke atas.

Nera tersenyum lebar seraya menyahut, “Betul. Dan kita adalah ….” Lalu mereka kompak melakukan tos, seraya berseru serentak: “FUJOSHIIIII…!”

Begitulah. Empat gadis heboh itu adalah sekongkol yang bersatu atas nama kegemaran yang sama. Fujoshi, sebut mereka. Mungkin kalian sudah tahu itu apa. Jika belum, maka nanti juga akan tahu sendiri setelah mengikuti sepak terjang kwartet perumpi ini.

“Jadi gimana, mata kalian sudah menangkap tampang-tampang yang cucok?” Nera memulai gunjingan dengan semangat menggebu.

“Kalau seniornya sih jelek semua,” gerutu Siska. “Tapi kalau seangkatan kita malah ada yang lumayan.”

“Siapa? Kasih tahu, dong, Sis!” Nike merengek.

“Gini, dia itu temanku waktu SD. Tapi, seingatku, dulu dia itu cupu. Aku nggak nyangka sekarang dia bisa cakep juga,” urai Siska.

“Oh, yang tadi sudah kita bahas?” sahut Nera.

“Yang kamu tunjukin ke aku tadi, Ra?” balas Vita.

Nera mengangguk.

“Lho, berarti cuma aku sendiri yang belum dikasih tahu? Ihhh, curang!” Nike mengambek.

“Nah, sekarang kan lagi mau dibahas sama kamu, Nik? Sabar dong ah!” tukas Siska judes. “Cakepnya nggak kebangetan, sih. Tapi enak saja kalau dilihati terus. Kan ada juga yang tampangnya cakep, tapi cepat bikin bosan kalau dilihat.”

“Kamu jadi teman dia waktu masih ingusan, Sis. Kalau waktu SD ya wajarlah kelihatan cupu. Berarti masih untung aku, ya, jadi teman dia waktu sudah SMP. Paling nggak dia sudah kelihatan cakepnya,” ulas Nera, mencibir Siska.

“Untung apanya? Kan cuma teman? Jadi pacar, itu baru untung!” tukas Siska seraya meliukkan bibirnya untuk membalas cibiran Nera. Lalu dia duduk berjongkok, karena capek berdiri.

“Astaga, Siska, yang benar dong duduknya! Cawetmu kelihatan!” tegur Vita.

Dengan cuek Siska merapatkan pahanya yang agak terbuka. Lalu nyerocos lagi. “Dia masih single nggak, ya?”

“Namanya siapa, sih? Dari tadi nggak disebut!” tukas Nike geregetan.

Nera menjewer kedua pipi Nike. “Namanya Ricky. RICKY!”

“Wow. Cool juga namanya, ya,” gumam Vita. “Ricky….”

“Ricky?” Siska menyahut dengan nada setengah bertanya-tanya sendiri. “Apa iya, ya, namanya itu?”

“Nah, katanya teman waktu SD? Kok lupa namanya? Dasar nggak pedulian sama teman!” tukas Nera seraya menampol pelan pipi Siska.

“Kan sudah lama! Ya lupalah!” kelit Siska cuek.

“Memang cakep juga, sih,” gumam Vita, tersenyum-senyum sendiri sambil memainkan kuncir kudanya.

“Jangan ngebayangin yang mesum, ya!” sekarang Nera menukas Vita.

“Nggak dong ah! Aku cuma menilai kalau dia itu, setelah kupikir-pikir, agak mirip dengan yang main di film Dive. Kalian tahu film itu, kan?”

Nike terbelalak menanggapi ucapan Vita. “DIVE…? Kento Hayashi…?”

“Iya, sih, mirip dia,” sahut Nera turut terawang-awang.

“Huaaaa…. Neraaaa…! Kenalin dong sama dia! Kamu kan temannya waktu SMP?” Vita yang tadinya kalem tiba-tiba alay, merengek seraya menggoyang-goyang tubuh Nera.

“Tapi aku nggak pernah sekelas sama dia!” tepis Nera.

Siska tertawa terkakak. “Dasar kamu tuh, Ra! Berarti kamu tuh sebenarnya nggak kenal dia, kan? Cuma kebetulan satu SMP saja pakai sok kenal banget!”

“Tapi setidaknya kan aku tahu muka cakepnya itu sudah lebih lama dari kalian,” balas Nera enteng.

“Lho, lebih lama aku, tho yo! Aku kan teman dia waktu SD!” tukas Siska tak terima.

“Katamu tadi waktu SD tampangnya masih cupu? Berarti belum cakep, dong! Piye, sih?!” balas Nera.

Lalu Siska menduga-duga, “Mungkin sebetulnya waktu SD si Ricky itu juga sudah cakep. Cuma, aku masih terlalu kecil buat paham cakep enggaknya seseorang.”

“Jadi, sekarang sudah paham cakep enggaknya seseorang?” cibir Nera.

“Banget.”

Di tengah semua itu, Nike meracau sendirian, “Kento Hayashiii….”

“Menurut kalian yang sudah lihat, sebetulnya apanya sih yang paling menarik dari dia?” lontar Nera ke teman-temannya.

“Belum terlalu hapal sih sama mukanya, lihat juga baru tadi,” sahut Vita. “Tapi, kalau pemain film Dive itu, aku paling suka bibir, mata sama alisnya. Kesannya culun, tapi juga nakal gitu.”

“Kentoooo!” Nike meracau lagi.

“Nggak jelas kamu, Vit. Yang kita bicarain bukan pemain film itu!” tukas Siska.

“Tapi kan tadi kita sepakat bahwa mereka mirip? Korelasinya di situ, Mama Tomboy!”

Nike meracau lagi. “Mirip Ken….”

Wis, nggak jelas juga kamu, Nik! Ngelindur terus!” Siska ganti menyemprot Nike.

“Intinya, kita semua setuju kalau dia cakep. Gitu, kan?” Nera mengambil kesimpulan. “Cuma, sial banget sih kita, nggak ada yang sekelas sama dia?”

“Sudah, soal kelas sih nggak usah galau. Mestinya kita bersyukur sudah berada di sekolah yang sama. Kalau pengin kenal lebih dekat, nanti pasti selalu ada jalan,” wejang Vita ke teman-temannya. Lalu matanya mulai mengerling, menampakkan sorot nakal, “By the way, menurut kalian, dia itu tipe Seme atau Uke?”

Gadis-gadis perumpi itu kemudian terdiam dalam imajinasi masing-masing. Mereka saling menatap bergantian, dan tersenyum malu-malu nakal.

“Menurutku, wajah macam Kento Hayashi begitu, cocoknya jadi Uke. Wajahnya itu antara innocent dan bad boy. Misterius, bikin penasaran,” gumam Vita.

Innocent? Nggak, menurutku dia nggak gitu. Menurutku justru sorot matanya itu kelihatan nakal,” sergah Siska, membayangkan yang berbeda dari Vita.

Mmhhh…. Aku rasa kalian berdua ada benarnya, sih. Secara keseluruhan tampang si Ricky itu memang cenderung lugu. Tapi, khusus untuk sorot matanya… menurutku terlihat laki banget!” sela Nera menengahi.

“Mukanya Kento memang gitu, sih….” sela Nike.

“Dia itu charming, tapi juga bad ass….” desis Nera, tersenyum-senyum sendiri sambil mengulik-ulik rambut kriwilnya.

“Tapi, kalau dipikir-pikir, boleh juga sih dia jadi Uke,” sahut Siska. “Coba bayangkan, seorang Uke yang cute, charming, tapi juga punya sisi liar! Itu sexy banget….”

“Berarti, misterius itu memang bikin cowok jadi lebih seksi, ya!” timpal Vita.

“Kalau dia Uke, terus siapa yang cocok jadi Seme-nya?” Nera melempar umpan lanjutan.

“Siapa, ya? Denny?”

What? Denny yang dulu satu bimbel sama kita? Kamu gila, Vit? Denny ember gitu anaknya! Memang lumayan cakep, sih. Tapi bikin illfeel!” tukas Siska, sewot. “Mendingan si Didot daripada si Denny.”

“Didot? Teman kita waktu SMP itu? Masa Seme-nya anak alay bau asem gitu? Di mana cucoknya?!” Vita ganti menyanggah.

“Tapi waktu ikut cosplay dia bisa dandan keren juga, kok!” balas Siska.

“Tapi begitu lepas kostum nggak bisa diumpetin lagi noraknya. Sampai kiamat aku nggak rela kalau si Didot jadi Seme-nya!”

“Gimana kalau si Edwin? Dia teman kita waktu bimbel juga itu. Dulu kan kita juga rajin ngomongin dia. Kan dia keren juga, tuh?” cetus Nera, menengahi perdebatan Vita dan Siska.

Vita mengingat-ingat. “Edwin yang mirip Jerry Yan itu? Hmmm. Boleh juga, sih.”

Giliran Siska yang nggak terima. “Jerry Yan? Kowe opo wis edan? Masa cowok yang nggak punya bulu ketek jadi Seme-nya, sih? Cucok dari mana?”

Nera dan Vita kompak tersentak.

“Kok sampai bulu ketek segala?” semprit Vita agak melengking.

“Ya iyalah! Masa cowok keteknya mulus? Anehlah!”

“Tapi yang kita maksud kan si Edwin, Sis, bukan Jerry Yan?” sergah Nera.

“Naruto juga nggak ada tuh bulu keteknya, tapi kamu tetap kedanan juga? Kenapa soal Jerry Yan jadi sewot? Sing edan sopo?” Vita mencibir lagi.

“Ya ampun Vita, Naruto kan kartun! Masa kartun mesti digambar bulu keteknya segala? Kalau Naruto itu real, pasti dia punya jugalah!” balas Siska.

“Kecuali dia cukur keteknya pakai katana!” tukas Nera sambil meraih ranting kering lalu membabatkannya ke paha Siska.

Vita bersatu dengan Nera untuk menyerang Siska. “Lha terus, kalau nanti terbukti si Ricky ternyata mulus juga, kamu bakal berubah nggak suka ke dia? Gitu?”

Siska tetap santai. “Harusnya sudah numbuh, dong. Paling enggak dia kan sudah 16 tahun?”

“Kalau ternyata dia lebih suka cukuran?”

Siska mendelik menatap Vita. “Memangnya ada buktinya?”

“Nggak, sih. Gimana bikin buktinya? Aku harus ambil foto dia waktu nggak pakai baju, gitu? Demi apa coba sampai segitunya?” kelit Vita, melengos.

Siska tertawa menang. “Gini, ya, teman-temanku yang cantik, mungkin aku rela operasi ganti kelamin jadi cowok demi menjadi pasangan Yaoi-nya Ricky. Tapi, kalau kamu beneran bisa kasih aku foto dia waktu shirtless, okelah, aku juga rela jadi pasangan Yuri-mu selama seminggu, Vit.”

“Astagaaa…!” Vita langsung shock. “Kamu mau operasi kelamin sih terserah! Diimplan pakai terong atau wortel juga suka-suka kamu. Tapi aku nggak rela cowok mana pun harus jadi pasanganmu. Entah itu Edwin, Denny, Jerry Yan, Didot sekalipun, mereka nggak semestinya jadi korban seksualitasmu yang absurd itu! Apalagi aku? Nggak sudi ya jadi pasangan lesbian cewek abal-abal pemuja bulu ketek macam kamu!”

Nera tak kalah bergidik. Rambut kriwilnya seakan-akan tampak menjadi lebih kriwil dari sebelumnya. Bahkan dia sampai berdiri dan berkacak pinggang. “Sis, nyebut! Kita memang sama-sama Fujoshi, sama-sama doyan ngejodohin cowok-cowok cakep, tapi kayaknya kamu sudah sampai ke tahap ‘sakit’!”

“Terus mau kalian apa? Dapat pacar cowok yang 100 persen straight, yang nggak terkontaminasi oleh hubungan sesama cowok sedikit pun? Lha kita semua kan di sini nyomblangin sesama cowok? Kalau sesama cowok saja kita sudi nyomblangin, kenapa mesti antipati soal ganti kelamin dan lesbian? Nggak fair, dong!” Siska membalas dengan berapi-api.

“Lho, aku rela kok kalau pacarku punya boyfriend. Yang penting boyfriend-nya bisa menerima keberadaanku di tengah-tengah mereka. Dan yang penting nanti nikahnya tetap sama aku. Adil, kan?” kelit Vita enteng.

“Serius? Wow, hidupmu indah banget, ya, Vit? Tapi kayaknya lebih mirip ‘ngimpi’ daripada beneran.”

“Lho, daripada ganti kelamin? Lebih baik saling berbagi secara adil.”

“Hidup kan pilihan,” timpal Siska enteng. “Biar orang memilih jalan hidupnya masing-masing, dong. Termasuk kalau pacarmu itu kelak lebih memilih nikah sama boyfriend-nya, dan kamu cuma mentok jadi selingkuhan, ya jangan kaget. Kamu harus terima kenyataan. Makanya jangan ngimpi kejauhan.”

Girls, sudah, sudah! Kayaknya pembicaraan kita yang sudah kejauhan!” seru Nera, tak kuat menahan lagi.

“Yang kita omongin masih dalam konteks Fujoshi, kok.”

“Iya, Sis, tapi bagiku Fujoshi adalah hiburan. Kalau jadi kusut begini, ini sudah nggak menghibur lagi. Oke? Dari tadi kita lebih banyak berantem daripada akur!”

Vita tersenyum jengah, mengangkat bahu.

Siska tertawa sengau. “Aku juga cuma becanda, kok. Masa aku mau lesbian sama Vita, sih? Aku kan pemuja laki-laki, tahap akut!”

“Pantesan kamu tomboy! Jangan-jangan ketekmu juga jambrong?” Vita masih merasa sengit ke Siska.

“Nggak, dong. Biarpun tomboy, aku masih menyadari ke-cewek-anku.”

“Sudah, berhenti!” Nera menyetop lagi. “Omongan kita ini mulai aneh! Bulu ketek, ganti kelamin, what the hell?!”

“IYA!!!” kali ini Nike menggelegar mengakhiri diamnya, membuat ketiga temannya ganti terdiam. “Selain aneh, omongan ini juga diskriminatif! Kalian nyadar nggak, sih? Dari tadi aku cuma bisa diam melihat kalian ribut! Aku tuh kesal! Soalnya cuma aku sendiri yang belum lihat si Ricky yang kalian omongin sampai meniran itu! Nggak punya perasaan!” Lalu gadis berjerawat itu tampak seperti mau menangis.

Ketiga temannya shock. Merasa kasihan.

“Oke, oke, sorry deh, Nik…. Kita lupa kalau ada kamu yang belum lihat sendiri orang yang kita omongin sampai berantem tadi,” ujar Vita, mengepuk-ngepuk Nike yang ngambek.

“Iya. Nanti kita tunjukin, deh. Sementara ini kamu bayangin Kento saja dulu, ya,” sambung Nera sambil menjewer pipi Nike dengan gemas.

“Kalian nggak punya perasaan!” rajuk Nike.

“Sudah, nggak usah drama!” tukas Siska. “Lagian, kayaknya memang lebih baik kita nggak ngendon di sini. Kapan bisa lihat si Ricky dan cowok-cowok kece lainnya kalau kita ngerumpi terus di sini?”

“Ya sudah, kayaknya jam istirahat juga sudah mau habis. Saatnya balik ke kelas, stand by biar nggak telat ikut sesi berikutnya,” cetus Nera.

“Iya, jangan ngasih kesempatan ke senior-senior sok penting itu buat menghukum kita!” dengus Vita seraya berdiri.

Keempat gadis itu akhirnya mengakhiri pergunjingan dan perdebatan mereka soal cowok yang bahkan mungkin sama sekali tak peduli dengan mereka. Dan begitulah, sekarang kalian sudah bisa menyimpulkan sendiri apakah Fujoshi itu, beserta istilah-istilah yang mereka pakai saat membicarakannya. Masih ada hal-hal lainnya dari dunia mereka yang belum terungkap, dan yang kalian perlukan untuk mengetahuinya adalah membaca bab-bab berikutnya—jika memang tertarik.

Dalam perjalanan kembali ke kelas, empat sekawan itu ketiban berita menghebohkan.

“Ada yang berantem!” seru salah seorang murid sambil berlari menghambur bersama yang lain.

Sekawan Fujoshi itu pun tersentak kaget.

“Siapa yang berkelahi?!” Nera bertanya-tanya.

“Cepaaat…! Gabung ke TKP…!” Siska yang tomboy meluncur lebih dulu, meninggalkan ketiga temannya.

Perkelahian? Sepertinya kali ini tak sekadar perang mulut antarcewek soal bulu dan operasi kelamin. Ayo kita cek!

 
 
 

bersambung….

 
 
 

 

One response to “HBR #1

  1. vargas prasastra

    26 November 2016 at 19:05

    Akhirnyaa cerita d di republish… udah gg sabar dari dulu pgen bca… semgat omm…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: