RSS

HBR #2

 
 

SALAH PILIH

 
 
 

Murid-murid kelas satu peserta MOS itu berbaris dalam satu sap. Kelompok cowok dipisahkan dari kelompok cewek. Di tengah lapangan yang panas itu mereka berbaris dengan raut tegang dan mulut membisu. Senior-senior tampak mondar-mandir sambil memasang muka angkuh, bertindak selayaknya atasan sedang melakukan inspeksi terhadap bawahan, dan siap menjatuhkan hukuman bagi yang dianggap “bermasalah”.

Salah satu senior yang mengatur barisan itu bernama Faris. Dia mendekati rekannya yang ikut menangani barisan itu, sesama senior, seraya berbisik-bisik, “Biar aku yang urus lagi. Oke?”

Rekannya tersenyum paham. “Mau pakai modus apa kali ini?”

“Apa saja. Mereka gampang dikerjain,” sahut Faris dengan senyum culas.

Faris yang berbadan tegap dengan potongan rambut ala tentara itu meneliti satu per satu juniornya. Memasang wajah garang. Menebarkan aura teror. Lalu dia berhenti tepat di hadapan salah satu anak—sasaran baru yang dianggapnya empuk.

“Hei, Dik, kamu tahu, topi yang kamu pakai miring?” gertak Faris. “Benahi topimu!”

Anak yang ditegur sejenak memandangi Faris dengan agak ragu. Lalu dia membalas dengan tenang, “Tidak, Kak, saya selalu memakai topi dengan benar.”

Faris terlihat agak kaget mendengar jawaban itu. “Oh, begitu? Jadi saya yang salah?” balasnya, merendahkan suara tapi menajamkan intonasi—mengintimidasi. “Saya yang salah?” dia kembali mengulang.

Mimik anak yang ditegur itu tampak terusik, tapi dia tetap tenang. Dia seolah-olah sudah tahu bahwa gertakan itu adalah “jebakan Batman”. Kalau dia membenahi topinya yang sudah benar, justru itu menjadi pengakuan bahwa sebelumnya posisi topi itu salah. Dia akan dihukum! Maka dia pilih menjawab dengan tenang, “Saya hanya merasa tidak ada yang salah pada saya.”

“Apalagi senior!” Faris kali ini membentak. “Kalian sudah diberi tahu, salah satu aturan dalam MOS adalah: senior tidak pernah salah! Jadi kalau aku bilang kamu salah, menurutmu aku yang salah?!”

“Saya tak merasa saya salah. Jadi yang pasti bukan saya yang salah,” junior itu membalas lagi tanpa merasa gentar. Bahkan terdengar cuek. Meremehkan senior.

Tiba-tiba Faris menggerakkan tangannya, menekan topi juniornya itu menjadi miring ke samping. Lalu dia berseru ke seluruh barisan, “Aku bilang topi teman kalian ini miring! Sekarang kalian lihat, yang aku bilang benar atau salah?”

Semua diam. Takut. Faris tersenyum puas melihat junior-junior yang lain masih menaruh takut padanya. Dia kembali menatap junior yang tidak takut padanya, dengan mata ditajamkan seolah-olah tatapan seperti itu akan lebih efektif untuk menakuti.

“Kamu ke ruang itu sekarang!” hardik Faris, menunjuk ke bangunan di seberang lapangan—Gudang Tata Usaha. “Cepat!”

Wajah junior yang “bermasalah” itu tampak lesu. Dia keluar dari barisan, melangkah menuju ke tempat yang ditunjuk oleh seniornya. Faris memandangi perginya dengan senyum menang, merasa berhasil menundukkan junior yang bandel itu.

Faris kembali menghampiri rekannya. “Sukses! Kamu lanjutin urus barisan kelas X-A ini, ya. Aku mau kerjain dulu bocah sok tadi!” bisiknya.

Rekannya tertawa. “Jahil kamu, Ris. Jangan keterlaluan ngerjainnya!” ucap si rekan tanpa mencegah sedikit pun.

Faris melangkah sambil bersiul-siul menuju Gudang Tata Usaha di seberang lapangan. Dia masuk ke ruangan yang tak begitu besar dan tanpa jendela itu, mendapati junior yang hendak dihukumnya tadi. Dia menutup pintu ruangan, lalu dengan enaknya duduk di atas meja. Kakinya menggantung diayun-ayunkan, lalu dengan satu kakinya menunjuk kursi yang ada tepat di depannya.

“Duduk!” dia menyuruh.

Si junior menurut, duduk di kursi yang ditunjuk Faris—dengan kaki.

“Siapa namamu?” tanya Faris dingin.

“Ricky,” jawab anak itu tenang.

“Kamu tahu, setiap kesalahan harus dihukum,” ucap Faris, melipat tangan sambil tersenyum angkuh. “Menurutmu, hukuman apa yang cocok untuk junior yang sok seperti kamu ini?”

“Saya dihukum karena saya sok?”

“Kamu sok, padahal kamu salah!” bentak Faris.

“Yang sok sekaligus salah besar adalah orang yang membuat aturan bahwa senior tidak bisa salah,” balas anak bernama Ricky itu tanpa raut takut sedikit pun.

Faris ternganga. Kaget. Lalu menghela napas pelan-pelan—siapa sangka dia akan mendapat jawaban seperti itu dari junior yang seharusnya menurut saja? Dia menatap Ricky dengan sorot mata menahan geram. “Jadi kamu mau melawan?” tekannya dengan nada pelan. “Oke, kamu bisa tetap merasa benar. Tapi apa kamu cukup kuat melawan senior? Coba pikir! Kamu cuma anak baru. Baru tiga hari di sekolah ini! Kamu belum punya banyak teman kalau dibandingkan denganku. Aku akui kamu pemberani. Pemberani tapi bodoh!”

Ricky diam. Tapi dia tak memalingkan sedikit pun tatapannya ke Faris yang sedang mengintimidasinya. Dia tak takut pada orang yang sedari tadi membawa-bawa senioritas hanya untuk mem-bully itu.

“Mungkin kepalamu memang sudah nggak ada otaknya, ya?” desis Faris, lalu disambung dengan tawa mengejek. Dia menendangkan ujung kakinya yang menggantung itu ke dengkul Ricky. Pelan tapi berulang kali, seperti sengaja mengetuk-ngetuk. Sambil bertingkah seperti itu, dia tak henti mencemooh. “Seperti kepalamu, dengkulmu kayaknya juga nggak ada isinya. Padahal aku pikir otakmu di dengkul. Kok kayaknya dengkulmu kosong juga?”

Ricky masih diam, meski mimiknya tampak makin tak nyaman oleh perlakuan Faris.          “Demen coli, ya?” ejek Faris dengan seringai menjijikkan. “Tiga hari sekali, atau tiga kali sehari?” Lalu dia tertawa sendiri. “Pantesan otakmu nggak sehat! Loyo! Goblok!”

Kemudian senior bermulut kotor itu mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya. Dia menulis sesuatu di kertas itu. Setelah selesai, dia menyodorkannya ke Ricky.

“Nih! Gini sajalah hukumanmu. Scotch jump kelilingi meja ini dua puluh kali, sambil ucapkan kalimat itu!”

Ricky membaca kalimat di kertas itu. Dan tersentaklah dia!

“Sekarang!” hardik Faris, sudah siap merekam dengan ponselnya.

Ricky bangkit berdiri. Faris tersenyum lebar, mengira juniornya itu akhirnya bersedia menurutinya. Tapi ternyata….

Ricky meremas kertas itu dalam genggamannya. “Kamu bisa berkelahi?” hardiknya ke Faris.

Faris kaget.

“Kalau bisa, kutunggu di luar!” ucap Ricky tenang sambil melangkah menuju pintu.

Wajah Faris merah padam! Dia turun dari mejanya dan dengan sigap menahan Ricky. “Kamu nantang?!” bentaknya seraya membalikkan pundak Ricky, dan….

Buk!

Satu pukulan mendarat di wajah Ricky. Murid kelas satu itu gontai. Tapi dia tak sampai terjatuh karena berhasil menguasai diri. Lalu….

Buk!

Satu pukulan telak ganti mendarat di perut Faris. Tepat di ulu hati. Murid senior itu mengerang tertahan, limbung, lalu bertekuk lutut. Dia terbungkuk di lantai mendekap perut. Roboh hanya dengan satu pukulan. Dia salah memilih korban!

Sesaat kemudian pintu terbuka dari luar, dan, “Lho, ada apa ini?” seru seorang pria berseragam guru, tampak terbelalak melihat pemandangan di ruangan itu.

Ricky tak segera menjawab. Dia butuh mengatur napas sejenak. Mengusap pipinya yang kena pukul. Barulah kemudian dia menjawab, “Kami berkelahi.”

 
 
 

bersambung….

 
 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: