RSS

HBR #3

 
 

SIDANG

 
 
 

“Hei! Sana-sana, balik ke kelas!” seru Pak Minto sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir murid-murid yang tampak berjejalan mengintip dari jendela. Tapi suara cempreng guru BP yang terdengar kurang berwibawa itu belum berhasil membubarkan para pengintip. Baru setelah Pak Gono yang gemuk dan berkumis lebat anjak dari kursinya sambil melotot seperti matanya mau keluar, murid-murid yang mengintip itu bubar tanpa sisa.

Dua guru BP itu lalu kembali menghadapi dua murid yang sedang disidangnya. Pak Gono—dengan bola matanya yang secara alami memang sudah seperti mau keluar dari kelopaknya—mengamati Ricky yang mukanya agak lebam akibat kena pukulan. Lalu beralih memandangi Faris yang tak berhenti memegangi perut seperti sedang terkena serangan sembelit akut. Perkelahian antara dua siswa beda angkatan itu telah dipergoki oleh guru Tata Usaha yang kebetulan sedang mengecek gudang tempat perkelahian. Keduanya lantas digelandang dan diserahkan ke BP, dan mau tak mau menjadi pusat perhatian siswa-siswa lainnya.

“Kamu bilang ini salah dia?” Pak Gono bertanya ke Faris—jari telunjuknya menunjuk Ricky.

“Tapi dia bilang kamu yang memukul duluan?” Pak Minto buru-buru menyambung.

“Awalnya saya mau beri hukuman karena dia melanggar tata tertib, Pak. Tapi dia malah menantang senior!” jelas Faris, tanpa berani memandang wajah siapa pun yang ada di ruangan itu. “Sebagai senior saya merasa diremehkan. Apa gunanya senior ditunjuk sebagai pembimbing MOS? Karena emosi, saya pukul dia. Dia berani membalas juga! Dia salah, tapi bukannya menerima hukuman malah memperparah ulahnya!”

Dua guru BP itu melongo memandangi Faris yang bersaksi seolah-olah telah menjadi korban ketidakadilan. Playing victim. Memukul junior yang sudah meremehkan senior, itu adil. Tapi kalau junior berani memukul senior sampai sakit perut, itu tidak adil. Menurut Faris.

Tak jelaske, yo, le. Senior memang ditugasi mendampingi junior selama MOS. Tapi bukan untuk memukul, dengan alasan apa pun!” tegas Pak Gono yang berlogat medok. “Kamu ndak bisa dibenarkan kalau main pukul! Memangnya MOS ujian karate?”

“Tapi dia menantang saya berkelahi, Pak! Jadi masalahnya bukan siapa yang mukul, tapi siapa yang punya niat berkelahi! Dia melanggar tata tertib, saya mau memberi hukuman, tapi dia malah ngajak berkelahi!” Faris masih tak tahu malu untuk ngeles.

“Berarti ya yang mukul duluan itu yang niatnya berkelahi! Kalau kamu ndak punya niat berkelahi, mau ditantang kayak gimana juga ndak bakal kamu mukul duluan, tho?” balik Pak Gono.

Faris tergagap. “Jadi saya yang salah, Pak?!” sergahnya, tetap tak tahu malu.

“Kalian berdua sama-sama salah!” seru Pak Minto meninggikan suaranya. Tapi kemudian dia langsung batuk-batuk, seperti salah ambil napas.

“Ndak usah kencang-kencang, Pak Minto, asma sampeyan kambuh nanti!” Pak Gono mengingatkan rekannya itu. Lalu guru berkumis lebat itu melotot lagi kepada dua siswa yang sedang disidangnya. “Memangnya dia salah apa, sampai kamu mau ngasih hukuman?” cecarnya ke Faris.

“Dia….” Faris hendak menjawab, tapi kemudian lidahnya seperti kaku, tak bisa meneruskan kalimatnya.

Sebaliknya, Ricky duduk dengan tenang dan tampak sedikit tersenyum mengamati tingkah seniornya itu. Tersenyum muak.

“Salah apa dia?” Pak Gono menekankan pertanyaannya lagi.

“Dia tidak akan bisa menjawab, Pak. Kesalahan saya sengaja dicari-cari,” akhirnya Ricky berkata pelan. “Semua teman saya satu barisan bisa jadi saksi, bahwa saya tak melakukan kesalahan.”

Dua guru itu tak terlihat terkejut ataupun merasa aneh. Seolah-olah mereka sebetulnya sudah tahu, bahwa sudah biasa senior mencari-cari kesalahan junior selama MOS. Itu tidak bisa dibenarkan, tapi telanjur lumrah.

“Biarpun kesalahanmu dicari-cari, apakah perlu kamu nantang seniormu? Tidak perlu itu! Laporkan saja ke BP, kami akan urus tanpa perlu baku hantam. Biar bagaimanapun, MOS itu program resmi sekolah dan senior-senior kalian sudah diizinkan untuk menjalankan tugasnya,” jelas Pak Minto ke Ricky.

“Tapi melecehkan junior tidak termasuk dalam tugas, kan, Pak?” balas Ricky.

“Melecehkan?” ulang Pak Gono dengan mimik mendelik—tetap saja matanya tidak berhasil menyipit.

Faris tertunduk. Wajahnya sekarang mulai memucat.

“Melecehkan bagaimana?” Pak Minto mengusut.

Ricky melirik seniornya yang kini tampak ketakutan. Dia sekali lagi tersenyum melihat seniornya itu tampak terpojok—senyum kemenangan. Senyum yang juga menyiratkan secercah belas kasihan.

“Hanya karena dia senior, lalu mau menghukum saya dengan kesalahan yang dicari-cari, saya anggap itu melecehkan harga diri saya. Dia memperlakukan seolah-olah saya hewan kecil yang bisa diinjak dengan mudah,” ucap Ricky, datar dan dingin.

Pak Minto dan Pak Gono terdiam sesaat memandangi Ricky yang sedari tadi tampak tenang. Lalu keduanya menghela napas bersamaan. Pak Minto mengangguk-angguk, sedangkan Pak Gono geleng-geleng.

“Sudah, saya tak mau berbelit-belit lagi. Saya sudah kenyang dengan kasus seperti ini. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi,” dengus Pak Minto. “Kasus berkelahi pertama, kalian dimaklumi. Sekali lagi diulangi, skorsing satu minggu. Yang ketiga kali, kalian out dari sekolah ini! Mengerti?”

“Baik, Pak. Saya cuma membela harga diri. Saya mengerti kalau berkelahi itu pelanggaran. Saya bisa terima kok aturan dari sekolah,” sahut Ricky datar.

Nah, cah bagus, jantan kowe le…!” Pak Gono berseloroh menanggapi Ricky. Tapi sedetik kemudian dia langsung cemberut lagi. “Tapi terlalu jantan juga ndak bagus. Sedikit-sedikit berkelahi! Kalau niatnya jadi gali ya ndak usah sekolah. Iya, tho?”

“Saya nanti akan bicara sama bagian Kesiswaan, sama wali kelasmu juga, biar kamu tak usah jadi pembimbing MOS lagi. Gak cocok! Disuruh membimbing kok malah main pukul!” tukas Pak Minto ke Faris.

Sedangkan Pak Gono bicara ke Ricky, “Wali kelasmu juga, nanti kami beri tahu biar kamu diawasi. Kalau diibaratkan mercon, kayaknya kamu ini tipe sumbu pendek. Baru tiga hari sudah berantem!”

Ricky terima saja keputusan para guru BP itu. Sedangkan Faris menggigit-gigit bibirnya, menahan kesal. Yang menang dan yang kalah sudah jelas dalam perseteruan itu. Setidaknya Ricky dapat pujian “jantan”. Sedangkan Faris dipecat dari tugas sebagai pembimbing MOS, plus sakit perut yang masih melilit-lilit.

Wis, wis, saiki bubar, balik maning ke kelas! Ini sudah mau jam pulang,” Pak Gono menutup sidang dengan menyuruh siswa-siswa itu kembali ke kelas. Ricky dan Faris berdiri dengan lesu, beranjak meninggalkan ruangan itu.

Di luar, Ricky mengingatkan Faris. “Masih ada tulisan ini di tanganku!” ucapnya, menunjukkan selembar kertas kucal di tangannya. “Aku punya bukti seperti apa perilakumu terhadap murid-murid kelas satu. Aku bisa beberkan. Tapi aku memilih tak menelanjangi kebusukanmu! Kuanggap kau paham maksudku.” Lalu dia berlalu.

Faris menatap perginya Ricky sambil menahan napas geram. Tak bisa bereaksi lebih dari itu. Dia benar-benar salah mengira juniornya itu sebagai cacing yang mudah diinjak. Bukan, ia ternyata seperti ular yang tangkas berkelit dan di saat yang sama mematuk dengan telak.

Di kelasnya, Ricky disambut sangat hangat. Tidak semua teman mengerubunginya, tapi beberapa tak sungkan mengelu-elukannya. Ketika waktu pulang tiba, satu teman masih bertahan duduk di samping Ricky meski yang lain sudah pulang. Bukan karena dia memang teman sebangku Ricky, tapi karena dia betul-betul merasa puas akan aksi Ricky hari itu dan masih ingin terus mengelu-elukannya.

“Kamu pahlawan bagi kelas ini, Rick!” Robi, teman sebangku Ricky itu, terus memuji dan mulai memakai pujian yang berlebihan.

Ricky tak membalas. Dia sibuk mengemasi tasnya.

“Kamu sudah kasih pelajaran ke senior belagu itu!” tandas Robi mengebu-gebu, seolah-olah ada begitu besar kekesalan yang kini telah terlepaskan. “Kamu pukul dia berapa kali?”

“Satu kali,” jawab Ricky datar.

“Ke muka?”

“Perut.”

“Perut? Ah, sayang, nggak bakal kelihatan bonyoknya. Tapi rasanya pasti sesak banget, ya? Apalagi kalau pas ulu hati!” Robi menyerocos antusias. “Kamu pernah ikut beladiri, ya?”

Ricky menggeleng. Tapi sebetulnya pernah. Saat kelas 3 SMP dia ikut boxing, selama hampir setahun, mengabaikan nasihat ayahnya yang cemas karena beladiri itu terlalu keras untuk ukuran remaja. Dia berhenti ketika menjelang ujian nasional, lalu tak pernah kembali lagi ke klub itu sampai sekarang. Biarpun tidak lama mengikuti latihan beladiri itu, kekuatan tinjunya sudah memberi perbedaan jika dibandingkan dengan tukang berkelahi amatir seperti Faris.

Ricky memandangi Robi sejenak. “Kamu lega sekarang?”

Robi menenangkan dirinya yang semula terlalu menggebu. Dia kemudian mengangguk pelan. Tersenyum lega. Ada beban yang sekarang telah terlepaskan.

“Yang kamu bilang ternyata memang benar. Si Faris itu abusing banget orangnya,” ujar Ricky, seraya membenahkan ransel ke punggungnya.

“Aku nggak bohong, kan?” gumam Robi pelan. “Apa yang dia lakukan ke kamu tadi?”

“Tak perlu kuceritakan. Intinya, tujuan dia sama seperti waktu melakukannya padamu kemarin. Dia bersenang-senang dengan cara melecehkan orang.”

“Kamu ceritakan semuanya ke BP?”

Ricky menggeleng. “Tak perlu. Nanti hanya akan membuka pengalamanmu dan yang lain, dan jadi mempermalukan kalian. Yang penting dia sudah kubuat kena batunya. Dan dia sudah diberhentikan dari tugasnya.”

“Anak kelas sebelah juga ada yang di-bully sama dia. Biar kapok dia sekarang! Dasar orang mesum! Aku yakin dia homo. Maho! Lebih baik kalau dimusnahin saja sekalian!”

Ricky beranjak meninggalkan kelasnya mendahului Robi, tapi sebelum itu dia meninggalkan komentar terakhirnya kepada teman sebangkunya yang bertubuh kecil itu. “Aku bersimpati karena kamu sudah di-bully. Tapi aku tidak setuju dengan kata-katamu barusan.”

Robi terhenyak di tempatnya. “Kalimatku yang mana?”

“Kaupikir saja sendiri,” balas Ricky, melangkah keluar.

Sekolah itu sudah sepi. Ricky melangkah sendirian membelah pekarangan sekolah, menuju ke gerbang. Dia tak tahu bahwa di balik sepinya sekolah itu sesungguhnya masih menyisakan beberapa orang lainnya, dan empat di antaranya sedang mengawasi dari balik sebuah jendela.

“Itu dia, si Ricky!” bisik Nera.

“Yang tadi habis berkelahi sama senior,” sambung Vita dengan wajah melting.

“Kalian masih berpikir kalau dia itu Uke?” lontar Nera.

“Ya! Dia adalah Uke yang tangguh dan sangat seksi! Cowok yang sangat langka!” cetus Siska menahan geregetan.

“Aaahhhh…. Ternyata beneran mirip Kent….”

“SUDAH DIAM KAMU, NIK…! Dari tadi itu terus yang disebut! Dia Ricky, bukan Kento! Ngertiii?” Siska memotong dengan sewot.

Vita membalas Siska, “Harusnya kamu bersyukur, Sis, dia dibandingin sama Kento, bukan sama Jerry Yan!”

Aaarrgghhh…. Lagi? Mau ngebahas bulu ketek?! Dasar aneh!” Nera bersungut-sungut seraya bangkit dan meninggalkan ketiga temannya yang masih mengintip di balik jendela.

Sosok Ricky tak bisa lagi ditangkap dari celah jendela. Mungkin beruntunglah dia, karena tak harus peduli pada gadis-gadis pengintip yang dipenuhi pemikiran absurd itu. Itu adalah risiko mereka yang menjadi pemuja rahasia. Tetapi, kadang hanyalah soal waktu untuk mengubahnya menjadi bukan rahasia lagi. Akankah itu terjadi?

Well, cerita ini masih akan berlanjut.

 
 
 

bersambung….

 
 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: