RSS

HBR #4

 
 

LOVELY / LONELY

 
 
 

“Wisma Welly”, begitu tertulis di gerbang geser bangunan berpola L itu. Ricky masuk dengan motornya, lalu menempatkan kendaraan itu di garasi kecil yang ada di ujung deretan bangunan kamar.

Wisma Welly. Meskipun namanya terkesan girly, itu adalah kompleks kos khusus laki-laki. Letaknya di sudut tikungan gang Cimanuk, di jantung kota Solo. Welly adalah nama pemilik kos-kosan itu, yang rumahnya juga satu lahan dengan bangunan itu. Jika masuk dari gerbang rumah pemiliknya—biasa dipanggil: Tante Welly—maka kamar kos terletak di belakang rumah. Sejumlah tujuh kamar berderet dengan pola huruf L, mengekor di belakang rumah besar itu. Tapi ada gerbang samping yang memang disediakan khusus untuk penghuni kos agar lebih mudah keluar masuk—itulah gerbang geser tadi.

Ricky menuju ke kamarnya, sebuah ruangan kamar dengan luas 2,5 x 3 meter. Dia lemparkan ransel ke dipan, melepas sepatu dan kaus kaki. Dia tercenung sejenak, sambil mengusap lebam di wajah. Lalu menghampiri cermin besar di lemari. Memandangi mukanya. Memandangi dirinya. Melepas kemeja seragam, lalu memandangi bayangan dirinya lagi. Dia mendesah lesu, menyadari tubuhnya mulai mengurus akhir-akhir ini.

Bobotnya sekarang kira-kira 55 kilogram. Dia pernah 60 kilogram. Sedangkan tingginya kira-kira tetap, 169 centi. Dia membusungkan dada, dan masih dapat melihat lekukan yang baik di balik singlet putih itu, meskipun memang tampak lebih kurus. Lengannya juga masih cukup padat. Jika siku ditekuk masih menghasilkan tonjolan bisep yang baik dan kokoh untuk ukuran remaja. Masih bisa diandalkan kalau mau dipakai berkelahi tangan kosong melawan tiga orang amatiran.

Akhirnya dia tersenyum juga. Mengabaikan memar di wajah yang telah mengurangi kesan anak baik-baik. Namun, bagi beberapa orang pemuja kebadungan laki-laki, memar di wajah itu bisa jadi justru memberi aura seksi. Untuk mengujinya, mungkin Ricky perlu jalan-jalan keluar dengan lebam di pipi itu, dengan masih mengenakan kaos singlet putih dan celana panjang SMA itu, dengan badan masih agak basah oleh keringat sehingga kulitnya yang cerah itu berkilat-kilat di bawah matahari. Pura-pura saja membeli apalah di warung. Lalu hitung, berapa orang yang mencuri pandang padanya selama lebih dari tiga detik, dengan sorot mata yang liar atau senyum tersipu. Pasti ada. Bahkan, beberapa di antaranya bisa jadi bukan lawan jenis.

Masalahnya, Ricky tak akan melakukan itu. Kalaupan dia bisa narsis, maka itu hanya akan dilakukannya di depan cermin di kamarnya. Dan momen narsis itu sekarang sudah selesai.

Dikeluarkannya selembar kertas kucal dari saku celana. Kertas dari seorang senior bajingan. Dibacanya lagi isi kertas itu. Lalu diremasnya lagi, dan dilemparkan ke keranjang sampah!

Sekarang dia beralih pada sebuah benda kayu berleher dan berdawai. Sebesar gitar mainan. Tapi itu bukan gitar. Itu sebuah biola. Badan biola itu diletakkan di antara leher dan pundak kiri; jemari tangan kiri menekan dawai; tangan kanan memegang penggesek. Sisi keras dalam dirinya tenggelam sejenak, mempersilakan sisi lembut memimpin si pemilik raga. Suara melodi menembus udara. Menyusup melalui setiap celah. Memainkan sendu. Menggetarkan sepi. Menyayat waktu.

Air from Suite No. 3 in D.

Johann Sebastian Bach.

 
 

 
 

Dia bermain di muka pintu kamar yang terbuka, sambil menyisirkan pandangannya ke kamar-kamar yang tampak lengang. Kamarnya berada di ujung dekat dapur. Setelah kamarnya, adalah kamar yang ditempati Dana, pelajar SMA sepantaran dirinya yang pendiam dan jarang bergaul. Setelah kamar Dana, adalah kamar Om Heru, pria 50 tahun yang bekerja sebagai penjual batik keliling. Setelah kamar Om Heru, berbelok ke kanan mengikuti pola, adalah kamar Mas Okky, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia yang lebih sering berada di sanggar daripada di kamar kosnya. Lalu adalah kamar Rindra, penyiar radio yang sibuk dan juga aktif sebagai MC di berbagai acara off air. Lalu adalah kamar Edo, pelajar SMA dari desa yang bergaya gaul dan sering tampil modis. Yang terakhir adalah kamar paling ujung dekat garasi, adalah kamar yang masih kosong.

Ricky menghentikan gesekannya ketika ponselnya berbunyi. Diraihnya benda bergetar itu dari saku celana.

“Ya,” sapa Ricky singkat.

“Gimana di kos? Kamu senang di situ?” Seseorang berbicara di seberang sana.

“Lebih baik di sini daripada di rumah,” jawab Ricky datar.

Terdengar suara menghela napas. “Baiklah, yang penting kamu senang. Ayah barusan kirim uang ke rekeningmu. Kalau masih butuh lagi, kamu bilang saja.”

“Iya,” jawab Ricky ke ayahnya.

Sambungan belum terputus, tapi keduanya saling terdiam beberapa saat lamanya.

Ya sudah, Ayah cuma ingin tahu keadaanmu saja. Jangan lupa, tetap jenguk rumah sewaktu-waktu kalau kamu longgar. Tiap akhir pekan Ayah akan usahakan untuk bisa pulang,” ujar sang ayah.

Ricky tak menyahut. Lalu ayah Ricky menutup pembicaraan. Ricky memasukkan kembali ponselnya ke saku. Dia menyimpan kembali biola di wadahnya. Setelah itu duduk melamun di beranda kamar.

“Baru pulang?” sapa seorang laki-laki sepantaran Ricky yang muncul dari dapur. Dia juga masih mengenakan seragam sekolah.

Ricky cuma mengangguk. Tersenyum ramah sedikit canggung.

“Oh, iya. Udah hampir seminggu di sini, belum kenalan,” ujar anak di muka pintu dapur itu. Dia lalu menghampiri Ricky, dan mengulurkan tangannya. Dia meyebut namanya, “Edo.”

“Ricky,” balas Ricky, menjabat tangan Edo sebentar. Sebenarnya dia sudah tahu nama Edo dari dengar-dengar sambil lalu omongan penghuni lain, tapi baru kali ini mereka bertegur sapa.

Edo, cowok berambut poni ala artis Korea—tapi berkulit coklat—itu tersenyum agak kecut menerima respons Ricky yang cuek. Lalu dia mau tahu, “Mukamu kenapa?”

“Tidak apa-apa,” jawab Ricky singkat.

“Habis berantem?”

“Iya.”

Edo terbengong, antara rasa tertarik ingin tahu dan rasa segan. Dia memutuskan tak bertanya lebih jauh setelah menyadari bahwa sepertinya Ricky anak yang tak terlalu suka basa-basi, dan sepertinya juga tidak sungkan untuk berkelahi.

“Maaf, Mas, ini benar rumahnya Bu Minah?” tiba-tiba ada yang mengalihkan perhatian. Seorang ibu bertubuh gemuk berdiri di tengah gerbang.

“Hah?” Edo ternganga tak paham. Lalu berpaling ke Ricky sambil mengangkat bahu. “Salah alamat kayaknya?”

Ricky berdiri dari duduknya dan menghampiri ibu itu. “Cari siapa?”

“Ini benar rumahnya Bu Minah?” tanya ibu itu lagi.

“Yang punya kos namanya Bu Wilhelmina,” terang Ricky agak ragu.

“Nah, iya! Bu Wii… siapa tadi? Pokoknya itu!” ibu itu menyahut seraya cekikikan sendiri. “Namanya susah dieja, Mas. Saya tahunya Bu Minah.”

“Eh, Bu Menuk! Sini, sini! Sudah saya tunggu dari tadi, lho.” Seorang perempuan berumur kepala empat, yang tampak cantik dan modis, berdiri di pintu belakang rumah besarnya menyambut si tamu.

“Nah, itu Bu Minah!” si ibu gemuk dengan sumringah menghampiri tuan rumah yang dicarinya.

“Nggak usah pakai ‘h’, dong, Bu! Kalau susah, panggil saja ‘Bu Welly’,” cetus si tuan rumah sedikit gengsi. Tante Welly. Lalu sesaat dia mengalihkan pandangannya ke Ricky, “Eh, Ricky, nanti ke sini, ya! Tante mau ngomong sama kamu.”

Ricky mengangguk, lalu kembali ke kamar kosnya. Mengambil kaos kasual dan memakainya.

“Kayaknya kamu jadi anak kesayangan Tante Welly, nih?” cetus Edo di muka pintu kamar.

“Hah?” dengus Ricky acuh tak acuh.

Edo tertawa agak segan. “Anu… sebenarnya…, kemarin sore Tante Welly mau ngasih kamu bronis. Tapi karena kamu nggak ada di kamar, akhirnya dititipkan ke aku. Dia bilang aku boleh ambil separuh. Tapi… karena lapar banget, aku habiskan…. Sorry, ya?”

Ricky terhenyak sesaat. “Ya sudah,” sahutnya kemudian.

“Kamu pemain biola, ya?” tanya Edo sambil melirik kotak biola milik Ricky.

“Cuma hobi.”

“Bisa ajari aku nggak?”

Ricky memasang wajah sangsi, dan juga sedikit meremehkan. Dalam hati sebenarnya dia tak terlalu sreg dengan orang yang sok akrab—apalagi sampai dengan gampangnya menghabiskan makanan yang bukan jatahnya. Kalaupun dia bilang “ya sudah”, bukan berarti itu tak mengurangi penilaiannya terhadap tetangga sok gaul dan sok asyik itu.

“Kamu punya biola?” cetus Ricky sambil lalu.

Edo tertawa lagi. “Mahal kaleee!”

“Kalau tak punya biola, bagaimana cara mengajarimu?” tukas Ricky.

“Bisa pinjam punyamu, ‘kan?”

“Terus aku mengajari pakai apa?”

“Kamu kasih teorinya aja!”

“Aku tidak mau,” balas Ricky singkat. Tidak sudi.

Edo cuma tertawa cengengesan.

Dengan cuek Ricky meninggalkan Edo yang masih berdiri di muka pintu kamarnya. Dia menuju ke beranda belakang rumah Tante Welly, menemui ibu kos yang tadi bilang ingin membicarakan sesuatu. Tante cantik berdarah Tionghoa itu sedang duduk santai di sofa yang ada di beranda. Bu Menuk sudah tidak ada bersamanya, sudah pulang.

“Ada apa, Tante?” tanya Ricky.

“Sini duduk,” ujar Tante Welly.

Ricky duduk agak canggung menghadapi ibu kosnya—yang kadang suka berlagak agak genit itu.

“Eh, itu kok pipimu lebam?” dengan agak kaget Tante Welly langsung menyelidik. “Kamu habis berkelahi?”

Ricky tersenyum rikuh. “Ah, biasa, Tante, ada orang reseh mancing emosi,” jawabnya rendah.

“Ya ampun! Berkelahi kok dibilang ‘biasa’?!”

“Bukan begitu maksudnya….”

“Terus?”

“Yaa… namanya orang sok jago itu ‘kan pasti ada saja, Tante. Bukan saya yang mulai, kok. Tapi karena sudah keterlaluan, ya sudah, berantem.”

Tante Welly geleng-geleng kepala. “Kok bisa gitu, sih? Anak kalem kayak kamu berkelahi? Lain kali jangan ditanggapi kalau ada yang gangguin, ya! Hindari saja.”

“Kalau tak bisa dihindari, gimana? Mau nggak mau tetap berantem, ‘kan?”

Tante Welly merengut.

“Memanggil saya, ada apa, Tante?” Ricky mengembalikan ke tujuan semula.

“Oh, iya. Kemarin Tante nitip bronis, sudah dikasih sama si Edo?” Tante Welly mengulik.

Ricky gagu sejenak. “Ehmm…, sudah, Tante.”

“Enak?” tanya Tante Welly dengan senyum lebar.

“Yaa…. Lumayan.”

“Kok cuma lumayan?” Tante Welly merengut lagi. “Itu Tante sendiri yang bikin, lho!”

“Ohh…. Iya, enak, kok. Cuma, aku nggak terlalu suka roti yang terlalu manis gitu, Tante,” jawab Ricky, mencari-cari alasan.

“Masa anak manis nggak suka manis?” juragan kos itu sekarang cemberut sedikit centil.

Ricky tambah kikuk, tak tahu di mana pentingnya memanggil dirinya kalau hanya untuk membahas roti.

“Tadi siapa, Tante?” Ricky mencari topik lain untuk menepis gelagat ibu kosnya yang mulai ganjen itu.

“Itu tadi Bu Menuk. Kemarin kenal waktu arisan ibu-ibu. Dia baru pindah dari Jogja. Dia bilang pintar bikin jamu tradisional. Terus Tante pesan satu botol. Tadi dia mengantar pesanan Tante.”

“Jamu apa, Tante?” Ricky menanyakan hal ini juga bukan dengan tujuan serius.

“Jamu buat ngenakin badan aja. Biar seger. Kamu mau coba?” Dan belum sempat Ricky menolak, “Tante ambilin, ya!” Tante Welly sudah meluncur ke dapur.

Ricky menelan ludah. Minum jamu? Itu akan menjadi pengalaman pertama dalam hidupnya! Tante Welly kembali dari dapur sambil membawa segelas jamu yang diceritakannya. Ricky menyesal sudah menyinggung soal Bu Menuk!

“Kamu sudah seminggu di sini. Betah nggak, Ricky?” tanya Tante Welly sambil menyodorkan jamu.

“Lumayan, Tante.”

“Lumayan lagi!” dengus Tante Welly jutek. “Sudah, cepat diminum jamunya!”

Dalam hati, Ricky tak ingin meminumnya. Tapi tante genit di hadapannya itu terus melihati penuh dorongan. Ricky sungkan untuk tidak kooperatif. Mau tak mau, dia pun akhirnya meminumnya.

“Ekkhhh…!” Wajah Ricky mengerut setelah meminum jamu itu.

“Gimana rasanya? Lumayan lagi?” lontar Tante Welly jahil. Lalu tertawa cekikikan.

“Pahit!”

“Hihihi…. Cuma anak kecil yang jamunya manis! Lagian tadi katanya nggak suka yang manis?” tukas Tante Welly seraya meneruskan tawanya.

Dalam hati Ricky mengumpat-umpat karena sudah dikerjai Tante Welly. Tapi, masa dia juga mau mengajak ibu kos berkelahi? Dia tak mau menghabiskan jamu itu.

Setelah ramah-tamah yang jahil dan tidak penting itu, Tante Welly kemudian mengajak bicara hal lain. “Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu pilih kos di sini? Maksud Tante, Ricky ‘kan bisa tinggal di rumah dengan ayah Ricky? Rumah Ricky juga masih di kota ini, ‘kan? Kenapa pilih kos?”

Ricky terdiam beberapa waktu. Enggan untuk menjelaskan.

“Cerita dong sama Tante,” desak Tante Welly.

“Ayah terlalu sibuk, Tante,” akhirnya Ricky bersedia menjawab. “Kakak saya, dua orang, juga sudah tidak tinggal di sini. Mereka di luar kota semua. Kalau setiap hari rumah selalu sepi, rasanya jadi nggak enak. Lebih baik kos saja sekalian. Hitung-hitung belajar mandiri, sekaligus bisa dapat teman juga.”

Tante Welly menatap Ricky dengan raut simpati. “Kenapa nggak ikut ibu Ricky saja?”

Ricky terenyak. Sesuatu menusuk batinnya. Dia menjawab seraya tersenyum pahit, “Aku belum bisa terima ayah lain, Tante.”

Tante Welly tampak tertampar. “Oh, maaf…. Tante nggak bermaksud menyinggung….”

“Nggak apa-apa, kok, Tante,” Ricky memotong. “Orang bercerai dan menikah lagi ‘kan sudah biasa terjadi di mana-mana.”

Tante Welly tersenyum kecut dan rikuh. Lalu dia menghela napas panjang. “Tante jadi ingat sama Vino, anak Tante yang bungsu itu,” gumam Tante Welly sedih. “Suami Tante meninggal sembilan tahun yang lalu, waktu Vino masih umur dua tahun. Sosok seorang ayah belum terlalu diingat oleh Vino. Sedangkan Melinda, anak Tante yang pertama, umurnya tujuh tahun waktu papanya meninggal. Melinda sudah cukup mampu mengingat sosok papanya. Vino butuh figur ayah. Tapi Melinda nggak mau sosok papanya diganti, biarpun sudah meninggal. Tante sendiri, yaahhh… penginnya sih move on, tapi gimana lagi?”

Ricky tercenung. Dia merasa terlalu muda untuk berkomentar atas keluh kesah yang didengarnya itu. Dia juga berpikir bahwa seharusnya itu adalah masalah keluarga Tante Welly yang cukup pribadi. Mengapa dicurhatkan ke bocah seusianya? Mungkin karena dilema yang mereka rasakan sebetulnya tak jauh berbeda: rasa sayang terhadap keluarga, yang didera oleh keadaan dan akhirnya menyisakan rasa sepi serta kecewa.

“Si Vino sangat butuh perhatian. Tapi dia susah akur sama kakaknya. Tante sendiri sering sibuk mengurus salon. Kalau Tante nggak kerja, nanti anak-anak juga nggak makan, tho? Jadi, tolong, kalau kamu kebetulan ada waktu, bantuin jaga Vino, ya…?” curah Tante Welly, penuh harap ke Ricky.

Sebenarnya Ricky ragu untuk menjanjikan. Tapi karena rasa simpati, dia mengangguk pelan. Tante Welly tersenyum lega.

“Vino kayaknya suka sama kamu,” seloroh Tante Welly mulai sumringah lagi. “Waktu pertama lihat kamu, dia bisik-bisik ke Tante, dia bilang, ‘Kak Ricky cakep, ya, Ma!’. Beneran, lho!”

Ricky kembali terbengong mendengar cerita Tante Welly. Mendapat pujian “cakep” dari sesama laki-laki tentu adalah sesuatu yang agak berbeda, dibandingkan jika yang memuji adalah lawan jenis. Tapi karena Vino masih sebelas tahun, mungkin pujian itu tidak menyimpan maksud lebih jauh. Ricky tak menganggap serius pujian itu.

“Vino lagi di kamar, tuh. Ada TV, PS, DVD, komplit! Kamu kalau mau main, main sajalah. Nggak apa-apa. Malah Tante senang kalau Vino dapat teman, jadi dia nggak kesepian di rumah.”

“Tapi… masa aku sampai masuk ke kamar Vino, Tante?”

“Nggak apa-apa! Kalau sama kamu Tante percaya, deh!” tandas Tante Welly. “Sini, Tante tunjukin kamarnya!”

Ricky, tanpa sempat menolak, digelandang Tante Welly menuju ke kamar anaknya. Kamar Vino. Suara musik dari dalam kamar itu menggema sampai luar. Musik dengan lagu yang kedengarannya bukan berbahasa Indonesia. Bahasa Inggris juga bukan. Bahasa Korea, sepertinya. Dan lagu itu mengalun bercampur suara anak kecil yang sumbang.

“Vino! Ada Kak Ricky, nih!” Tante Welly mengetuk kamar anaknya agak keras. Karena sepertinya yang di dalam tidak mendengar, Tante Welly langsung membukanya.

Suara musik itu berasal dari DVD player. Di kamar itu seorang anak laki-laki berumur sebelas tahun sedang berdiri memegang mik, ikut bernyanyi menghadap layar LCD besar di depannya. Tak peduli ada ibunya dan Ricky di muka pintu.

“Nih, ya kayak gini nih kerjaannya tiap hari!” seloroh Tante Welly. “Tapi menurut Tante masih positif, sih. Menyanyi itu ‘kan bakat! Ricky temani Vino, ya. Tante tinggal dulu ke dapur.”

Ricky terbengong-bengong ditinggalkan di muka pintu. Dia pun tersentak saat tiba-tiba musik berubah irama menjadi up-beat. Dentum menghentak seperti suara disko di arena dugem!

“Yeaaahhhh!” teriak Vino. Bocah sebelas tahun itu langsung berjoget atraktif di depan layar LCD. “Kak Ricky suka SuJu nggak?” serunya tanpa berpaling dari layar LCD.

“Suju???” Ricky melongo. Sama sekali tak tahu.

“Horeee…! Siwoooon…!” Vino berteriak sambil mengikuti gerakan idolanya itu: melepas baju dan melemparkannya!

Pluk! Jatuh tepat di bawah kaki Ricky.

“Kak Ricky, biar perutnya kotak-kotak diapain, sih? Perut Kak Ricky gitu juga nggak?” tanya Vino tanpa menoleh ke Ricky, masih sambil berjoget.

Tentu saja Vino tak mendapat jawaban apa-apa. Sebab Ricky sudah lebih dulu memilih diam-diam kabur dari kamar itu!

“Ricky, mau ke mana?” Tante Welly memergokinya di pintu belakang.

“Lupa belum beresin kamar, Tante!” pamit Ricky sambil ngacir.

“Ini Tante kasih lagi bronisnya!” Rupanya Tante Welly cuma bermaksud itu. Dia mengejar Ricky sampai di halaman seraya menyodorkan sekotak kecil bronis. “Nih, buat camilan!”

“Makasih banyak, Tante!” ucap Ricky seraya menerima pemberian ibu kosnya. Lalu cepat-cepat membalikkan badan lagi, pulang ke kamarnya—yang lebih aman dan jauh dari tingkah seram anak sebelas tahun!

Di kamarnya Ricky duduk lesu. Satu tangan masih memegang kardus bronis, tangan yang lain menopang kepala. Dia merasa tiba-tiba pening.

“Dapat bronis lagi?” Edo muncul lagi di muka pintu. “Mau lagi, dong!”

Ricky menyerahkan bronis itu tanpa basa-basi.

“Eh? Semua, nih?” Edo tertegun.

Ricky melambaikan tangannya, menggusah Edo supaya lekas pergi.

“Oh! Thank you!” seru Edo girang, lalu segera menghilang dari muka pintu.

Ricky mengibas-ngibaskan kepalanya, dan mengucek matanya. Kepalanya benar-benar terasa berat. Dia mulai curiga! Dia segera bergegas kembali ke rumah Tante Welly.

“Sore, Ricky,” seorang pria berkepala agak botak menyapa Ricky di dekat gerbang.

“Sore,” sahut Ricky cuek, membalas sapa tetangga kosnya yang baru pulang kerja itu.

Ricky menuju ke beranda belakang rumah Tante Welly, dan mendapati ibu kosnya itu tengah duduk santai.

“Itu tadi Om Heru sudah pulang, ya?” lontar Tante Welly basa-basi.

“Sebenarnya tadi jamu apa, sih, Tante?” tanya Ricky tanpa menggubris basa-basi Tante Welly.

“Kenapa memangnya?”

“Kok kepalaku tiba-tiba pusing begini?”

Tante Welly pelan-pelan tersenyum, makin lama makin lebar. Sorot matanya jahil memandangi Ricky yang berparas cuek tapi menggemaskan itu. Ibu kos usil itu tertawa geli. “Oh. Itu tadi namanya jamu terang bulan.”

“Jamu terang bulan?”

“Biar kalau bulannya datang, hati nggak suram. Hihihi…. Tapi diminum cowok juga nggak apa-apa, kok. Besok bangun tidur pasti badan jadi lebih seger!”

Ricky seketika terbelalak! Sedangkan tawa Tante Welly kian terpingkal.

Jamu datang bulan???

Fuuuck…!

 
 
 
bersambung….
 
 
 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: