RSS

Kabar Terbaru:

NGOMONGIN “COWOK RASA APEL”

Saya tak terlalu ingat sejak kapan mulai menulis “Cowok Rasa Apel”. Mungkin sekitar tahun 2008 atau 2009. Itu adalah tulisan pertama Saya yang konsepnya berupa cerita panjang. Awalnya sebagai cerita bersambung, kemudian dibendel menjadi satu novel. Sebelumnya, yang Saya tulis adalah cerita-cerita pendek saja.

Jadi, jika dihitung sampai tahun ini, Saya berkutat dengan “Cowok Rasa Apel” sudah lebih dari lima tahun. Dalam kurun lima tahun itu sudah termasuk Saya menulis seri-seri kelanjutannya. Saya tak punya tolok ukur untuk menyebut apakah lima tahun berkutat dalam satu judul itu adalah waktu yang pendek ataukah panjang. Namun, yang pasti dalam lima tahun itu Saya terus belajar menyempurnakan diri dalam menulis. Saya lima tahun lalu dengan yang sekarang tentulah berbeda dalam menilai mutu sebuah tulisan, termasuk terhadap tulisan Saya sendiri. Saya pikir inilah penjelasan mengapa Saya kemudian menilai naskah “Cowok Rasa Apel” yang dulu “ternyata” masih penuh kekurangan. Dan, naskah yang penuh kekurangan itu bagaimanapun telah pernah terbit dalam bentuk buku, dalam format cetak maupun elektronik.

Saya menyadari dan memahami bahwa banyak pembaca yang berharap naskah “Cowok Rasa Apel 2” juga dicetak—atau minimal dipublikasikan ulang secara lengkap—seperti halnya yang pertama. Saya bukannya tidak mau. Bahkan Saya pun sangat mengharapkan demikian juga. Masalahnya, Saya pikir, kok tidak elok melanjutkan sebuah serial dengan bertolak dari naskah bagian pertama yang begitu banyak kekurangan. Ibaratnya, naskah pertama itu adalah pondasi. Untuk membangun ke tahap selanjutnya, Saya harus memastikan pondasi yang kuat terlebih dahulu. Saya harus perbaiki lagi—kalau tidak bisa dibilang menyempurnakan—naskah “Cowok Rasa Apel” bagian pertama sebelum Saya melanjutkan seri keduanya (dan juga ketiganya).

Itulah yang Saya lakukan belakangan ini, yang berimbas pada mampetnya kelanjutan seri ketiga. Dan juga berimbas pada versi cetak POD “Cowok Rasa Apel” di Nulisbuku yang Saya tutup sejak awal tahun ini. Sebab Saya sudah bertekad memperbaiki ulang “Cowok Rasa Apel”. Saya merasa tak etis membuat versi yang lebih mutakhir tetapi masih sembari menjual versi lama.

Bahkan kali ini Saya tak hanya sekadar memperbaiki, tetapi juga membuat target yang lebih tinggi: menawarkan naskah tersebut kepada penerbit mayor. Untuk menembus penerbit mayor, Saya sadar bahwa sepertinya tidak mungkin diterima jika yang Saya tawarkan adalah “Cowok Rasa Apel” versi yang lama itu. Saya sampai pada keyakinan tersebut setelah mempelajari banyak contoh novel dari penerbit mayor, dan mempelajari standar mereka. Pelajaran yang Saya petik adalah bahwa memang sebuah idealisme menulis tidak akan menjadi kompetitif, jika kita tidak belajar dari penulis lain. Kita hanya akan menjadi pede saja, tapi tidak sadar seberapa lemah mutu tulisan yang kita hasilkan. Pede saja tidak cukup, sebab bisa-bisa malah jadi bahan tertawaan (contohnya ya macam Jonru itu).

Apakah Saya sedang merendahkan tulisan Saya sendiri? Yah, sedikit. Yang Saya temukan sebagai kekurangan paling utama pada naskah “Cowok Rasa Apel” yang lalu adalah: penataan verbal yang tidak rapi. Itu saja, sih. Mungkin itu memang subjektif. Buktinya, toh pembaca “Cowok Rasa Apel” banyak juga yang mengikuti kelanjutannya, meskipun tata bahasanya tidak rapi. Yah, kalau pembaca kan memang biasanya cenderung toleran soal gaya bahasa. Namun, Saya sangsi penyeleksi naskah di penerbitan mayor akan toleran. Mereka tidak suka typo, tidak suka diksi yang meleset, tidak suka tanda baca yang banjir, dan sebagainya. Jadi itu yang harus Saya perbaiki.

Namun ternyata, sembari Saya membetulkan typo dan tanda baca, Saya juga rasakan bahwa naskah lama itu penuh dengan lubang logika. Bukan berarti logikanya ngawur, melainkan hanya kurang bernas saja. Jadi, akhirnya perbaikan naskah “Cowok Rasa Apel” ini tak hanya sebatas faktor bahasa dan penulisan saja, tetapi juga penguatan terhadap substansinya.

Dan akhirnya jadilah naskah “Cowok Rasa Apel” yang paling mutakhir ini. Dalam wawasan Saya, naskah ini telah menjadi lebih solid, kompleks, dan reasonable. Atmosfer cerita tetap sama. Karakter Dimas tetap tidak berubah. Dia masih Dimas seperti yang kalian kenal selama ini. Begitu pula Denis dan Erik. Namun, di naskah yang mutakhir ini mereka menyampaikan deskripsi serta pesan secara lebih tajam dan jelas kepada pembaca. Imbasnya, tebal halaman bertambah. Hampir dua kali lipat dibanding naskah yang sebelumnya! Itu saja. Selebihnya, semua masih sama, termasuk plot ceritanya.

Singkatnya, Saya menyebut versi baru ini sebagai naskah “Cowok Rasa Apel” yang lebih kompeten. Lebih pantas seandainya ditawarkan kepada penerbit mayor. Meskipun tak ada jaminan akan langsung diterima juga. Sebab setiap penerbit mayor pasti punya perhitungan yang jeli dan tak bisa lepas dari konteks nilai komersial sebuah naskah, yang mana juga akan terkait dengan jenis pembaca yang ditarget.

Sejak awal, meskipun Saya menyebut ini adalah bacaan yang “aman”, Saya sadar bahwa tema LGBT sangat segmented. Memang, ada novel-novel LGBT yang berhasil menembus penerbit mayor dan sukses di pasaran, tetapi novel-novel tersebut memasang karakter dewasa, bukan remaja. Sedangkan “Cowok Rasa Apel” memasang karakter remaja, yang mana berpeluang menjadi lebih kontroversial karena seolah-olah ingin mencekoki remaja dengan homoseksualitas. Apalagi akhir-akhir ini ranah LGBT baru gencar diserang wacana kriminalisasi. Berat!

Meski demikian, Saya tetap mencoba memasukkan naskah “Cowok Rasa Apel” ke penerbit mayor. Sebab bagaimanapun Saya tak bisa menampik bahwa diterima oleh penerbit mayor adalah sebuah prestasi yang diidamkan oleh—mungkin semua—penulis. Saya sudah menjadi penulis di forum. Saya sudah menjadi penulis di blog. Saya sudah menjadi penulis buku indie. Tentu tergagas di kepala Saya, bahwa target prestasi selanjutnya adalah menjadi penulis di penerbitan mayor. Untuk itu, usaha sudah Saya lakukan. Beneran!

Asal tahu: Saya sudah masukkan naskah “Cowok Rasa Apel” ke sebuah penerbit mayor sejak awal tahun ini. Hasilnya? Naskah Saya dicuekin sampai sekarang.

Sudah berapa penerbit mayor yang Saya tawari?

Baru satu.

Hehehe….

Terus Saya langsung nyerah, gitu?

Well, begini ya. Sejujurnya, Saya tidak patah semangat. Tetapi, selama proses menanti jawaban dari penerbit yang tak kunjung datang itu, Saya belajar pada satu fakta yang Saya rasa tak akan ditampik oleh siapa pun: butuh berbulan-bulan untuk mendapatkan jawaban dari sebuah penerbit mayor. Bisa tiga bulan, bisa sampai enam bulan.

Sialnya: kendati sudah menunggu lama, tetap tak ada jaminan bahwa jawaban yang ditunggu itu adalah “Ya, kami akan menerbitkan naskah Anda”. Itu baru menunggu kepastian dari satu penerbit saja, lho. Bayangkan jika naskah tersebut ditolak oleh lima penerbit, dengan masing-masing butuh waktu tiga bulan (ini sudah yang paling cepat), maka Saya sudah memboroskan waktu setidaknya 15 bulan. Setahun lebih hanya untuk menunggu! Andai saja etis untuk memasukkan naskah yang sama ke sebanyak-banyak penerbit, maka tak terlalu banyak waktu yang diboroskan. Intinya, Saya tidak mau mengambil risiko menunggu keputusan penerbit sampai berbulan-bulan.

Kenapa? (“Dasar penulis manja! Nggak sabaran!”—mungkin kalian membatin begitu.)

Bukan soal manja atau nggak sabaran. Melainkan soal karakter cerita yang Saya bikin ini. Memang menurut Saya ada masalah penting berkenaan dengan waktu. Jelasnya begini: andai saja naskah yang Saya tulis adalah cerita bertema Dystopian, epik historis atau fantasi, maka Saya tak akan gamang berurusan dengan waktu penantian yang begitu lama. Sebab toh cerita yang Saya buat tak terikat dengan dimensi waktu yang sama dengan pembaca. Tapi “Cowok Rasa Apel” tidak begitu. Cerita ini menggunakan garis waktu yang sinkron dengan waktu faktual yang dialami pembaca, menempatkan diri pada era tertentu yang pernah/masih faktual, dengan berbagai kekhasan sosial dan budayanya. Cerita ini dituturkan dalam frame realistik. Tahun bahkan tanggal dan bulan suatu kejadian ditulis dengan jelas dalam cerita ini. Artinya, kondisi ideal untuk membaca cerita ini adalah di era yang tak terlampau jauh terpentang dari era yang dipakai di cerita ini.

Asal tahu, garis waktu yang digunakan dalam cerita “Cowok Rasa Apel” dimulai pada tahun 2008-2009. Sedangkan sekarang sudah 2016. Masih lumayan relevan sih kalau dibaca sekarang. Tapi, kalau naskah ini terus Saya simpan demi menunggu penerbit mayor yang mau, lalu katakanlah baru ada penerbit yang bersedia menerbitkannya di tahun 2020, tuiiinggg… maka pembaca akan membaca sebuah cerita seorang remaja yang terjadi 12 tahun silam. Artinya, ketika cerita itu dibaca oleh remaja di tahun 2020, tokoh Dimas sendiri sebetulnya sudah berumur 29 tahun. Yah, Saya merasa itu akan aneh saja, sih.

Mungkin ada yang berpendapat: “Kenapa aneh? Serial Harry Potter juga begitu, kok. Kejadiannya di tahun ’90-an malah!”

Ya itu tadi seperti yang Saya bilang: Harry Potter kan genre-nya fantasi. Mau ditaruh di tahun berapa pun pembaca juga tahu bahwa itu fantasi. Sedangkan Saya tidak mengemas “Cowok Rasa Apel” seperti itu.

Saya tidak heran ketika banyak pembaca “Cowok Rasa Apel” bertanya: “Ini cerita real, ya?” Saya tidak heran. Sebab memang nuansa itulah yang ingin selalu Saya sajikan di cerita ini. Nuansa realistik. Terikat dengan suatu zaman. Terikat dengan tipikal remaja pada suatu era. Seperti halnya novel-novel “Lupus” di tahun ’80-an. Pada era itu ngebom sekali di kalangan remaja! Tapi, apakah sekarang masih ada remaja yang baca “Lupus”? Kayaknya enggak, deh. Kecuali om-om yang mau nostalgia saja, seperti Saya. (Dan tante-tante.)

Novel seperti “Lupus” akan memberi kenangan abadi bagi pembacanya. Namun ia tak akan mampu menolak menjadi tua—sama seperti pembacanya. Makanya tidak heran, ketika film “Lupus” dibuat ulang, ia gagal memberikan kesan yang berarti. Remaja masa kini nggak ada yang ngeh terhadap film itu. Padahal casting-nya pakai audisi live segala di televisi. Ujung-ujungnya hanya jadi film yang terlupakan begitu saja.

Saya tak berani mengatakan bahwa proyek semacam itu mustahil, tapi yang pasti itu tentu sulit sekali. Sebab berhadapan dengan zaman yang sudah sangat kontras perbedaannya. Apalagi zaman sekarang percepatan teknologi sangat melesat. Setiap tahun sistem operasi android ganti versi. Setiap bulan ada gadget seri terbaru. Setiap minggu ada artis gabung di Smule. Setiap hari ada aplikasi minta diperbarui. Setiap malam ada akun ngajak kenalan di Grindr. Pernah itu dibahas di “Cowok Rasa Apel”? Nggak pernah, coy! Lha wong “Cowok Rasa Apel” kejadiaannya tahun 2008! Bahkan yang seri 3 pun kejadiannya di tahun 2011!

Jadi, mengapa Saya urung meneruskan tawaran naskah ini ke penerbit mayor, bukanlah soal takut berkompetisi. Bukan takut ditolak berkali-kali. Melainkan karena Saya ingin menjaga jiwa cerita ini bagi pembaca. Saya mengerti bahwa bagaimanapun laju waktu tak bisa dicegah. Pada akhirnya kita akan sampai juga menghadapi tahun 2020, 2025 dan seterusnya. Cerita yang brilian, konon, adalah cerita yang sanggup hidup di hati pembacanya tanpa pasungan waktu. Jika kelak “Cowok Rasa Apel” bisa sebrilian itu, ya Saya tentu senang. Namun, untuk saat ini, Saya perlu mempertimbangkan langkah yang lebih realistis. Bukan yang muluk-muluk. Saya sudah terlalu lama menunda. Sudah saatnya naskah ini Saya sajikan kepada pembaca, sebelum terlambat (timing-nya).

Itulah alasan mengapa Saya akhirnya memilih mempublikasikan ulang “Cowok Rasa Apel” dalam format e-book saja. Yaitu biar cepat sampai di tangan pembaca. Tak usah menunggu lama penerbit mayor. Lagi pula toh ini zaman digital. Hampir semua orang memegang gadget yang kapabel terhadap sistem android dan ios. Jadikan saja gadget itu buku! Dan pembaca tak perlu repot-repot ke toko buku, cukup pesan sambil tiduran saja. Tapi bayarnya tetap harus ke bank atau ATM terdekat, sih. Hehe…. Tunggu lima menit setelah bayar, langsung siap dibaca. Tak perlu menunggu datangnya paket kiriman yang sering berhari-hari. Enak, tho? Yah, memang pembaca tak bisa merasakan sensasi aroma kertas buku, sih. Tapi apakah itu masalah serius?

cover

Untuk mengedarkan buku elektronik “Cowok Rasa Apel” ini Saya bekerja sama dengan SCOOP, sebuah platform yang juga telah bekerja sama dengan penerbit-penerbit terkemuka seperti Kompas-Gramedia, Tempo, Mizan, dan sebagainya. Untuk bisa membaca buku-buku yang tersedia di SCOOP, maka pembaca harus memasang terlebih dahulu aplikasi SCOOP dan membuat akun. Petunjuk cara pembelian bisa ditemukan di layar aplikasi, sangat informatif dan mudah diikuti. Pembayaran bisa dilakukan lewat transfer ATM, di samping cara-cara lainnya. Mudah sekali.

Sebagai catatan, ketika telah dibeli/diunduh, buku tersebut hanya bisa dibaca melalui SCOOP-reader. Artinya, sistem ini bisa lebih melindungi naskah dari pembajakan. Sebab tidak bisa di-copas. Tenang, sistem bacanya di SCOOP tetap enak, kok.

Ini link-nya: https://www.getscoop.com/id/buku/cowok-rasa-apel

Lebih jauh tentang SCOOP bisa lihat di sini: https://www.getscoop.com/id/faq

Jadi inilah yang Saya persiapkan selama ini, sampai menunda naskah-naskah yang lain. Butuh waktu lama karena memang tidak mudah prosesnya. Kalau hanya memperbaiki typo sih sehari juga jadi. Tapi memberi bobot yang proporsional dalam etos perbaikan mutu, tanpa mengubah jiwa cerita, itulah yang susah. Hasilnya, bisa kalian nikmati mulai dari sekarang. Dan silakan kalian nilai sendiri. Dan ini menjadi penanda komitmen Saya untuk melanjutkan proyek publikasi bagi naskah “Cowok Rasa Apel 2”. Semoga lekas menyusul, di platform yang sama.

Begitulah yang bisa Saya bagikan sampai di titik ini. Semoga para pembaca senang. Kalaupun semua usaha ini masih menyisakan kekurangan, tak usah ragu untuk mengkritik. Saya memang galak, tapi itu hanya terhadap kritikan yang ngawur saja. Bahkan kadang kegalakan Saya itu sebenarnya tak lebih dari sekadar gaya Saya dalam bercanda. Beneran!

Dan selebihnya, Saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca yang selama ini telah sabar dan ikhlas menghadapi keruwetan Saya dalam berkarya. Bahkan sampai tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun pada Saya tempo hari, berbondong-bondong di Facebook, sampai Saya males balasnya. Saya memang orangnya gitu. Tapi sumpah, beneran, Saya tetap berterima kasih sekali.

Kok jadi ngomongin kepribadian Saya sendiri, ya?

Ya sudahlah. Pokoknya, selamat menunggu lagi untuk kelanjutan proyek “Cowok Rasa Apel” berikutnya…! Hehehe…. Semoga tak selama balasan penerbit mayor. Saya usahakan pokoknya!

God Bless You.

NB: Untuk preview terbaru, bisa unduh di sini: preview-new-cra-1

 

Tag:

Sebuah cerpen

CINTA YANG JATUH DI JALAN

Warga desa menyebut hantu itu “Si Tua”. Siapakah sesungguhnya hantu itu—apakah dia dulunya orang yang pernah hidup, ataukah sejak awal memang sudah tercipta sebagai hantu—tak ada riwayat historis yang jelas. Maka ia pun lebih tepat disebut sebagai dongeng. Dari dongeng, ia pun menjadi mitos. Kau mungkin tak percaya pada dongeng ataupun mitos, tetapi kautahu bahwa pernah ada masanya ketika dongeng dan mitos menjadi sebuah kebenaran.

Ia dijuluki “Si Tua” oleh sebab dalam penampakannya selalu mewujud sebagai sesosok kakek tua. Ia disebut-sebut suka muncul di pagi buta, dan dalam kemunculannya itu ia selalu berjalan tergopoh-gopoh di sepanjang jalan yang menuju ke kali. Tak ada penjelasan mengapa hantu itu tidak terbang saja, sebab biasanya hantu diceritakan bisa terbang, malah banyak yang percaya bahwa sebetulnya yang namanya hantu pasti tidak menginjak tanah. Bahkan Si Tua ini sepertinya bukan hanya satu-satunya hantu yang menginjak tanah, tetapi ia juga satu-satunya hantu yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan tahi di mana pun di jalan yang ia lewati—mungkin itulah alasannya mengapa ia lebih baik jalan kaki saja, tidak terbang, setidaknya tahinya tak akan menjatuhi orang. Gara-gara tabiat yang aneh itu, beberapa pendongeng lain menyebut hantu itu “Si Berak Berjalan”.

Mitos berkata—entah siapa yang pertama kali berkata, mungkin saja seorang dukun pada zaman itu—bahwa siapa pun yang bisa menggendong Si Tua sampai di kali sebelum tahinya bobol di jalan, maka kelak dia akan berhasil menggapai cita-cita dalam hidupnya. Orang dewasa mana pun yang berfisik kuat, atas nama kebaikan dan budi pekerti luhur, semestinya tak akan keberatan menggendong kakek renta yang kebelet buang hajat ke kali. Namun tentunya selama kakek itu bukan hantu. Memang itulah masalahnya.

Kautahu bahwa pagi adalah waktu yang paling baik untuk membuang sampah dalam perut, atau setidaknya kebanyakan orang berpikir begitu. Orang-orang di desa itu pun berpikir sama: pagi adalah waktu yang tepat untuk buang hajat. Hanya saja, mereka tidak ke kali sepagi orang-orang dari desa lain—mereka berbeda desa, tetapi memberaki kali yang sama. Di desa yang memelihara dongeng tentang Si Tua, orang-orangnya terpaksa menunggu sampai pagi betul-betul terang, lalu barulah mereka berbondong-bondong untuk buang hajat ke kali. Alasannya jelas karena hantu itu. Bertemu saja mereka tak sudi, apalagi menggendong. Lebih tepatnya: tak berani.

Namun, dongeng pun mengenal pengecualian, bukan? Semua penghuni desa itu berharap tak pernah bertemu Si Tua, kecuali satu orang, yaitu pemuda bernama Wahid.

Wahid adalah seorang pemuda yang menjadi sebatang kara sejak umur 16 tahun, tepatnya sejak kedua orang tuanya dibantai oleh tentara Nippon; ibunya hendak diculik segerombolan tentara kate untuk dijadikan Jugun Ianfu, dan si ayah melawan, maka ujungnya suami-istri itu mendapat nasib yang sama: leher mereka ditebas dengan katana. Konon itu memang masa yang penuh krisis; konon dijajah Belanda masih lebih mendingan dibandingkan dijajah Jepang. Tentara Jepang alias Nippon itu kalau bicara kedengaran seperti mengejan, dan mereka memperlakukan orang-orang pribumi dengan perlakuan yang lebih buruk dari kotoran.

Sedemikian kejamnya tentara Jepang, sehingga, mungkin, banyak orang di masa itu berpikir bahwa masih dapat hidup saja sudah untung; mereka tak sempat memikirkan soal cita-cita, jadi untuk apa pula repot-repot mencegat dan menggendong Si Tua? Sebaliknya, orang-orang yang tetap memiliki optimisme untuk bercita-cita sebetulnya juga masih ada, hanya saja mereka terlalu terpelajar untuk percaya bahwa cara untuk menggapainya adalah dengan menggendong hantu yang suka berak. Mungkin ada juga yang percaya, tetapi tak berani menempuh cara itu. Sekali lagi, Wahid menjadi pengecualian. Bukankah tokoh utama sebaiknya memang istimewa? Wahid memiliki empat hal yang tidak dimiliki kawan-kawannya pada masa itu: cita-cita, keyakinan, keberanian, dan ketidaknalaran. Namun untuk menyatukan keempatnya butuh waktu sampai ia berusia 19 tahun.

Ketika Wahid memasuki umur 19 tahun, tentara Nippon sudah minggat dari bumi Nusantara, dan “Indonesia” sudah menjadi nama sebuah negara yang mengaku merdeka. Namun toh tidak serta-merta rakyat yang semula miskin langsung menjadi lebih makmur. Wahid masih kere, sama seperti kebanyakan orang pada masa itu. Akan tetapi, seperti yang sudah disinggung di kalimat terakhir paragraf sebelumnya, Wahid pada saat itu telah menemukan tekad untuk mewujudkan cita-citanya dan ia bukan penakut seperti orang lain yang ada di desanya. Tiap pagi buta dia menunggu munculnya si hantu di tempat yang menurutnya paling sepi di desa itu. Tekadnya, jika hantu itu muncul maka dia akan menggendongnya sampai ke kali. Itu adalah syarat agar cita-citanya tergapai.

Hantu itu muncul di hari penantian yang keempat puluh. Bukan saat pagi buta, tapi pada saat petang remang, ketika Wahid hendak buang hajat di kali—memang, pagi adalah waktu yang lebih tepat untuk berak, tetapi tak ada larangan juga untuk melakukannya di sore hari. Wahid awalnya tak mengira bahwa itu adalah hantu yang selama ini sudah dinantinya sampai bosan. Hantu itu kelihatan seperti orang tua lumrah saja, tak tampak menakutkan sama sekali sebagai hantu, bahkan wajahnya mirip dengan salah seorang tetangga sehingga Wahid tak mencurigainya sebagai hantu. Wahid membantunya turun ke tepi kali, lalu menempatkannya pada sebuah batu besar yang bisa dijadikan pijakan untuk berak. Pada saat itulah Wahid menemukan selembar cucian hanyut yang tersangkut pada batu. Dia memungut kain hanyut itu, dan rupanya itu menjadi kesempatan bagi si kakek untuk menghilang begitu saja. Seketika itu Wahid baru sadar bahwa kakek tadi adalah hantu yang telah dinantinya selama 40 hari.

Pakaian hanyut yang ditemukan Wahid menjadi pengubah nasibnya. Sudah pasti itu baju milik orang kaya; kainnya bagus, tetapi yang lebih meyakinkan adalah kancing-kancingnya terbuat dari emas. Dengan girang gembira Wahid mempereteli kancing-kancing itu, lalu menjualnya ke seorang priyayi di kota. Wahid dapat uang banyak dari penjualan barang hanyut itu. Lalu dia gunakan uang itu untuk modal berdagang kain di kota. Awalnya dia hanya menjual beberapa lembar batik secara keliling. Di tahun berikutnya dia mulai sanggup menyewa lapak, tahun berikutnya lagi dia mampu membangun kios sendiri. Dalam waktu yang terbilang singkat dia menjadi makmur.

Begitulah Wahid memenuhi nubuat mitos Si Berak Berjalan. Ada yang bilang dia seorang pemberani dan gigih; ada yang bilang dia hanyalah yatim piatu dungu yang bernasib mujur.

Namun, apakah menjadi kaya memang tujuan Wahid ketika memburu hantu itu? Tentunya siapa pun memang akan senang bila menjadi kaya. Namun, bagi Wahid, sesungguhnya kekayaan adalah cita-cita nomor dua. Baginya, ada hal yang lebih membahagiakan daripada kekayaan. Sebagian dari kita mungkin juga sepakat dengannya. Yang sedang kita bicarakan kali ini adalah: cinta.

Dengan menjadi makmur, Wahid tak hanya menolong dirinya sendiri, tetapi juga menolong orang yang selama ini dicintainya. Orang itu adalah Sahid, seorang pemuda dari desa tetangga yang kondisi hidupnya tak jauh beda dari Wahid. Sahid juga anak tunggal. Bedanya, Sahid masih memiliki ibu, sedangkan ayahnya mati saat menjadi Romusha—betul, oleh perlakuan penjajah yang suka mengejan itu. Mereka berdua kenal di pasar; ketika itu Wahid masih menjadi kuli panggul, sedangkan Sahid adalah penjual sayur ala kadar. Setelah sukses menjadi pedagang kain, Wahid menawari Sahid untuk bekerja padanya. Wahid meyakinkan bahwa upah bekerja di tempatnya akan lebih baik dibandingkan laba menjual sayur. Pada masa itu orang-orang masih gemar menanam sayuran dan tetanaman lainnya di pekarangan sendiri, sehingga tak terlalu bergantung pada pedagang sayur. Sedangkan para priyayi dan pejabat pribumi—di negara yang baru merdeka itu—sedang menemukan semangat baru dalam berbudaya, termasuk dalam berpenampilan, dan mereka menggemari batik. Dengan pertimbangan itu, Sahid pun setuju, demi nasib yang akan sedikit lebih baik.

untuk kisah lengkapnya, silakan baca di: http://ceritasolitude.blogspot.co.id/2015/12/sebuah-cerpen.html

 

Sebuah dongeng

ELANG MUDA, dan GUNUNG YANG BERSERU!

Waktu tak pernah berhenti, Kawan. Ia sambung-menyambung. Direkam oleh dongeng-dongeng tua, lukisan-lukisan di gua yang dalam, aksara-aksara di atas rontal, foto-foto dari yang hitam putih hingga yang kaya warna, lalu bergerak di layar bioskop, televisi, komputer, dan sekarang menjelma pada layar kecil di tanganmu. Cerita-cerita menyeberang ke benak kita, berkecamuk lagi di dalam hati kita, meski masanya sudah jauh di belakang sana. Begitu pula kali ini, Kawan, cerita ini hadir dan mengajakmu meloncati waktu.

Tunda dulu kantuk dan laparmu, marilah bergabung ke tahun-tahun ketika lumbung-lumbung terbakar hangus oleh kobaran revolusi. Bahkan bantal dan tikar pun ikut menjadi tajam oleh gigitan kutu pinjal pengisap darah, juga oleh bau apak keringat perjuangan. Meski demikian, cita-cita dan untaian doa tetap tak padam—hanya itu yang bisa dilambungkan tinggi-tinggi, tentu, jauh melampaui cerobong-cerobong pabrik gula yang telah diduduki serdadu asing. Dua bulan sebelumnya para serdadu dari negeri bawah laut itu memang telah menyergap lagi, mencaplok negeri yang tiga setengah tahun sebelumnya sudah memproklamirkan kemerdekaan. Penjajah tak tahu malu! Mulut rakusnya telah ketagihan untuk terus mengisap—mengisap secara lebih keji dan lebih tamak.

Kota di cerita ini adalah sebuah kota kecil di timur Surakarta: Sragen, yang jantungnya ikut porak-poranda tatkala pasukan kolonialis Belanda datang menyerbu. Ya, Belanda telah bangkit kembali setelah sempat dikebiri oleh Jepang. Hari-hari para pribumi dilalui dalam amarah, sebab rakyat sudah kenyang oleh pahit-asam tiga setengah abad penjajahan. Kenyang itu berubah menjadi muak. Namun, tak semua amarah mampu ditembakkan dalam keberanian. Sebaliknya, tak sedikit yang terpaksa menyembunyikannya di balik ketundukan; para pribumi bekerja di kantor-kantor yang sudah dikuasai Belanda, mencelupkan wajah ke dalam air ludah demi mendapat nafkah. Nyatanya, dijajah memang bukan hal yang mengejutkan lagi di negeri ini. VOC, Inggris, Jepang, sudah khatam.

Lagi pula, orang-orang pribumi—yang dalam kisah ini diwakili oleh orang-orang Jawa—memang pandai menghibur diri. Di tengah penindasan pun masih mereka temukan kesenggangan untuk pergi ke arena judi di pasar; dadu, kartu, sabung ayam dan sebagainya. Jika uang habis dan tempayan kosong, mereka masih memiliki pepatah “mangan ra mangan, kumpul”.

Baiklah, tentu tak semua pribumi suka berjudi. Ada juga yang lebih suka mengisi kesenggangan dengan berkumpul di radio umum yang didirikan di sebuah kampung bernama Cantel, satu kilometer dari pabrik gula yang ada di pusat kota. Pesawat radio adalah barang mahal pada masa itu, sehingga hadirnya radio umum itu bisa menghibur rakyat—dengan siaran dari RRI Solo, entah itu berita, kethoprak, keroncong, atau klenengan. Sayangnya, itu adalah beberapa waktu lalu. Sejak serdadu Belanda menyerang lagi, radio umum pun lumpuh, sebab kota-kota besar yang memiliki stasiun radio banyak yang jatuh ke tangan Belanda. Kalaupun ada satu-dua penduduk yang memiliki pesawat radio, kini mereka pun tak akan berani menyalakannya, sebab suaranya akan memberi tanda kepada para maling dan garong bahwa ada rumah yang cocok untuk disatroni.

Kota telah senyap. Suara-suara hiburan rakyat telah lenyap. Kehidupan kembali pada suasana angker, seperti yang ada di dalam dongeng orang-orang tua Jawa: Genderuwo yang suka menyentil kemaluan orang yang buang hajat sembarangan; Wewe yang menggondol bocah ke atas pohon; Wedon yang suka meludahi orang hingga kulit melepuh. Tanah Jawa yang penuh hantu! Ah, mungkin daerah lain juga begitu.

Namun, Kawan, sesungguhnya peluru serdadu Belanda adalah kisah yang lebih mematikan. Mereka menggondol nyawa para pejuang, merenggut masa depan anak-anak yang menjadi yatim piatu karena perang, dan meludahi harga diri perempuan-perempuan pribumi yang mereka perkosa. Hanya sebagian orang yang berani melawan, yaitu para gerilyawan yang bersembunyi di desa-desa, di hutan-hutan angker di mana jin dan hantu-hantu rupanya tak lagi menakuti. Sebaliknya, hantu-hantu itu mungkin malah melindungi, dan mungkin juga bekerja sama untuk mengusir para penjajah yang sombong itu. Konon, para dedemit lebih suka bersahabat dengan manusia Jawa yang sopan dan rajin berbagi rejeki lewat sajen-sajen di bawah pohon besar. Atau, mungkin di daerah lain juga begitu?

Di Sragen yang kecil dan angker ini terdapat beberapa markas gerilyawan. Salah satunya adalah di sebuah desa di tapak kaki Gunung Lawu bagian utara, yaitu Desa Guworejo yang jaraknya tiga kilometer dari pusat kota. Ini adalah markas gerilyawan yang dipimpin oleh Letnan Priambodo, dan dari sinilah sesungguhnya dongeng ini dimulai.

Siang itu suasana di markas seketika tegang, karena baru datang sebuah laporan dari seorang perempuan muda yang sehari-hari menjadi juru ketik di kantor pabrik gula. Ketahuilah, pabrik gula itu adalah salah satu pos terbesar tentara Belanda, dan perempuan muda tadi membocorkan sebuah informasi kepada para gerilyawan.

“Lokasinya benar-benar sudah diketahui, Pak,” terang perempuan muda itu. “Saya mendengarkan percakapan mereka bahwa seorang pengkhianat perjuangan telah membocorkan lokasi pengungsian Kiai Menda di Jenawi.”

Raut muka Letnan Priambodo merah padam, geram. “Apa lagi yang kamu dengar, Sri? Adakah rencana dari Londo-Londo itu untuk melakukan operasi ke sana?”

Juru ketik yang juga informan gerilya bernama Sri itu mengangguk. “Berita baiknya, mereka tidak akan melakukan operasi hari ini. Tapi besok pagi. Berita buruknya, saya menangkap rencana mereka untuk berkoordinasi dengan Solo.”

Tangan Letnan Priambodo menggebrak meja. “Asu! Kalau benar, nasib markas di Jenawi bisa seperti markas di Tawang Mangu dulu, dibombardir dari udara! Besok pagi? Besok pagi itu singkat, Sri!”

“Saya rasa mereka sudah menyusun rencananya sejak beberapa hari kemarin, Pak. Tapi baru hari ini saya mengetahuinya,” jelas Sri, dengan raut menyesal bercampur dongkol karena tak bisa mengetahui situasi itu lebih dini.

“Tapi kita masih punya waktu untuk menyelamatkannya, Pak,” timpal Sersan Joko, di sebelah sang Letnan.

“Masih! Secepatnya kita utus orang untuk melaporkan situasi ini ke markas batalion di Karang Pandan,” tandas Letnan Priambodo. “Tapi yang tak kalah penting, kita juga harus mengabari markas di Jenawi supaya mereka bisa mempersiapkan diri sedini mungkin. Jika ternyata situasi semakin gawat, mereka sudah siap untuk menyelamatkan Kiai Menda.”

“Saya sanggup untuk ke Jenawi, Pak!” seorang laki-laki belia menyahut lantang. Seorang remaja.

Kerut dahi Sersan Joko meragu. “Kau baru dari Wonosido kemarin. Kau tak butuh istirahat, Paksi?”

Remaja bernama Paksi itu menyahut tanpa keraguan. “Satu malam sudah lebih dari cukup untuk istirahat, Pak. Saya sudah pernah ke Jenawi, saya hapal jalannya. Saya bisa ke sana secepatnya.”

Pak Pri—panggilan sang Letnan—bangkit berdiri dan kini sorot matanya tak menampakkan keraguan. Ia mendekat ke hadapan Paksi, menepuk-nepuk pundak remaja itu. “Kiai Menda adalah salah satu kunci penting perjuangan kita. Kita juga akan mengabari markas di Batu Jamus dan Bayanan agar siaga. Tapi, tugas ke markas di Jenawi kupercayakan kepadamu. Laksanakan tugasmu dengan baik!”

“Siap, Pak!”

Paksi. Dialah lakon di dongeng ini. Dia adalah seorang remaja yang bergabung dengan barisan tentara pelajar; seorang belia bermata sedikit sipit, tapi sorotnya setajam mata elang. Kulitnya tak mewarisi gelapnya kulit Jawa, ia sedikit lebih terang. Tidak tinggi, hanya sepundak rata-rata prajurit Belanda. Dengan perawakannya yang sedang itu, ia mampu bergerak setangkas seekor rusa. Tak berlama-lama, siang itu juga Paksi berangkat menjalankan tugasnya, menuju markas gerilyawan di Jenawi.

Ia berangkat sendiri mendahului utusan yang lain, karena ingin bisa sampai ke tujuan secepatnya. Dua puluh kilometer jarak yang harus dicapainya. Hanya dengan kaki untuk menempuh, kepala untuk menyimpan pesan, dan mulut untuk menyampaikan kepada yang seharusnya. Pastinya bukan kepada serdadu Belanda, meski mereka tak pernah segan untuk menyiksa sampai mati. Paksi tak gentar, walau tanpa senjata. Tugas seorang kurir memang bukan membunuhi musuh, tetapi tetap bisa menentukan menang-kalah sebuah peperangan.

untuk kisah selengkapnya, silakan baca di: http://ceritasolitude.blogspot.co.id/2016/01/sebuah-dongeng.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2016 in Cerpen

 

Salah satu cerita remaja gay/LGBT terpopuler di Indonesia

“Rumah bukanlah tentang tempat yang diberikan kepadamu. Bukan tentang di mana kau dilahirkan. Bukan tentang di mana kau dibesarkan. Takdir menggiringmu untuk memilih. Maka kau memilih takdirmu. Rumah adalah tempat yang kau pilih, tempat di mana kau dapat merasakan bahwa takdir menjadikanmu: DIRIMU.

Kehidupan menjulang kian tinggi. Takdir memberiku pilihan: lari, atau hadapi! Aku memilih jawaban, “Ya, baiklah. Akan kupanjat dahan-dahan terjal itu, akan kusambut terpaan angin layaknya uluran tangan.”

Kini aku tinggal di sebuah rumah yang tak semua orang memilikinya, karena tak semua orang berani menemukannya. Tegak memandang kepada kehidupan. Aku merasa terhormat. Aku merasa pulang.

Tapi aku sedih karena kau tak bersamaku….”

cra-3-rumah-pohon

***

Dimas Di Mata Gue….

Dia saudaraku. Kakakku. Delapan belas tahun lalu, di saat yang sama selama sembilan bulan, aku berbagi rahim dengannya. Tidak identik, tapi banyak yang mengira begitu karena wajah kami mirip. Jelas saja mirip, bagaimanapun kami sedarah. Tapi untuk satu hal, sudah pasti aku dan dia nggak mirip:

Dia gay.

Aku bukan!

Memang aneh, cowok suka cowok. Kok, bisa gitu, ya? Tapi guys, setelah aku lihat sendiri pada dirinya, ternyata gay nggak seaneh yang kupikirkan selama ini. Bahwa ada yang bilang homo itu bisa menular, itu juga bullshit! Kurang apa coba, aku sembilan bulan berdua dengan dia di perut Mama, bukankah seharusnya aku sudah tertular? Nyatanya: No, gue nggak homo.

Lalu apa pendapatnya soal dirinya sendiri sebagai gay? Dia sendiri yang bilang, jadi gay tak otomatis menjadikannya cowok inferior, ataupun (apalagi) superior. Dia tak asal-asalan mengikuti jargon: I’m gay & I’m proud! Menjadi gay bukan soal malu atau bangga. Sebab gay bukan prestasi. Gay adalah identitas. Aku menyetujuinya.

Bertanya apakah kau bangga jadi gay, sama dengan bertanya apakah kau bangga jadi cowok. Kenapa bangga jadi cowok, memangnya jadi cewek memalukan? Oke, kau mungkin akan bilang bahwa kau bangga menjadi ‘cowok normal’. Jadi, gay itu bukan ‘cowok normal’? Hei, aku sudah melihat sendiri bahwa seorang gay sama ‘normal’nya dengan orang lain. Dalam arti, dia punya sifat-sifat yang kita juga bisa temukan pada orang lain, tapi dalam paket uniknya sendiri.

Yaaa, ada yang bilang: everybody is unique! Seunik apa saudara kembarku itu? Se’normal’ apa?

Inilah penilaianku. Dia cowok delapan belas tahun yang periang, humoris, sedikit lebay, tapi kadang cenderung penyendiri. Disiplin soal kerapian dan kebersihan, tapi bukan metroseksual. Berjiwa musikal, pintar main gitar, bersuara lumayan bagus, bisa menulis puisi. Nah, kalau dia bukan homo mungkin ceweknya sudah segudang.

Tapi daya tarik itu mungkin tak akan berlaku di mata cewek yang lebih suka faktor fisik dan maskulinitas. Kenapa? Dia nggak suka olah raga, dan nggak suka sayur. Pernah coba-coba ikut Wushu, tapi menyerah pada bulan kedua. Mengendarai motor dengan kecepatan tak bisa lebih dari 70 km/jam. Pernah belajar menyetir mobil, pada hari ketiga menabrak kandang ayam tetangga. Soal hantu? Yes, dia takut hantu. Payah, kan? Tapi ada catatan: kalau kau mau kerahkan segala jenis serangga dari yang menjijikkan sampai yang menakutkan, nggak akan mempan buat menakut-nakuti dia. Dia satu-satunya orang yang, pernah aku lihat dengan mata kepala sendiri, berani menangkap kecoa dan orong-orong dengan tangan kosong. Aku tiga tahun belajar Karate, tetap saja nggak berani! Tapi kembali lagi ke soal maskulin, apakah menangkap kecoa dengan tangan kosong adalah sebuah jurus maut di mata cewek (ataupun cowok)? Big no! Ngondek sih enggak, tapi tetap susah dibilang macho!

Tapi dia tergolong pintar. Dengan catatan: bukan untuk menghadapi angka dan rumus IPA. Dia logis cenderung nyeleneh. Dia brilian dengan caranya sendiri. Salah satunya menangkap kecoa dengan tangan kosong itu, mungkin.

Pintar bukan berarti tak pernah jadi pecundang. Dia pernah ketiban sial dalam urusan cinta. Dia jadi korban kebohongan seorang cowok bernama Erik, idola sekolah yang dia puja-puja sejak masuk SMA. Alih-alih diterima cintanya, rahasia bahwa dia gay malah diungkap ke teman-teman satu sekolah. Jadinya, dia coming out secara terpaksa. Cintanya memang kepedean, sih. Jatuh tertimpa tangga, ketiban sarang tawon pula. Ditolak sang idola, jadi sasaran bullying pula! Iya memang, setiap kejadian ada hikmahnya. Tapi jujur aja, deh… lu mau digebukin anak satu geng demi mencari hikmah?

Sad but true, homoseksual memang realita. Begitu juga homophobia. Aku berani taruhan, dia akan menang kalau berdebat. Kalau sudah bicara, dia pembicara yang tangguh. Guru BP saja puyeng berdebat dengan dia. Tapi dia nggak bisa disuruh berkelahi. Pasti keok! Pada titik itu, akulah yang maju menghajar orang-orang yang mengerjai dia. Aku nggak bohong, itu pernah kulakukan.

Ya. Aku sayang Dimas. Aku menerima dia apa adanya, normal ataupun tidak.

Aku kukuh meninggalkan Medan, meninggalkan keluarga dan teman-teman sepermainan di sana, demi melengkapi dirinya. Aku nggak ge’er, karena aku yakin Dimas memang butuh aku. Aku saudara satu-satunya. Perjalanan sembilan bulan dalam kandungan tak bisa diingkari, biarpun kami juga sudah lupa kayak gimana rasanya di dalam sana. Tentu kami nggak berantem, adu mulut, perang guling, seru-seruan di dalam perut Mama. Mungkin cuma tidur sepanjang hari di sana. Tapi, ffhhh… sulit diuraikan dalam kata-kata, tentang bagaimana aku merasa terhubung dengannya. Sebagai dua bersaudara, kami dipisahkan selama bertahun-tahun (karena suatu hal yang aku tak tertarik mengungkitnya). Ketika kami bertemu lagi, sangat terasa bahwa selama ini ada bagian yang hilang dari diriku. Kurasa, nggak cuma dia yang butuh aku. Aku juga butuh dia.

Terdengar romantis? Jangan berpikir macam-macam! Aku nggak pacaran dengan saudara kembarku! Memangnya dunia sudah kehabisan cewek?

Kenapa aku bilang aku butuh dia? Hei, aku merasa punya saudara kembar gay itu lucu! Seru…! Kita bisa mengusili sesama cowok dengan cara yang nggak biasa, karena mencomblangi cowok dengan cewek itu sudah biasa! Sebenarnya, awalnya aku cuma bermaksud mengusili Dimas yang sedang patah hati gara-gara ditolak Erik. Ternyata, keusilanku malah membawa nikmat bagi Dimas. Dia beneran mendapat boyfriend: Fandy, seorang adik kelas yang berasal dari desa, berjiwa sastra, pintar, tampan, dan segudang pujian lainnya yang selalu disebut Dimas secara bergantian (aku sampai bosan mendengarnya).

Ada manis-pahit tentang perjuangannya mendapatkan Fandy, tapi aku tak mau berpanjang-panjang menceritakannya. Soal hubungan mereka, aku cuma ingin bilang, sejauh ini Fandy bisa memberi efek yang positip. Dimas tetap se’normal’ sebelumnya. Cuma lebih bahagia, lebih bersemangat, hari demi hari sampai setahun lebih hubungan mereka berjalan. Dan itu bagian dari jasaku, sebaiknya dia selalu ingat itu!

Itulah maksudku, kenapa aku butuh dia. Kita tak bisa merasakan diri kita sebagai orang yang berarti jika kita tak berada di antara siapa-siapa. Kita selalu butuh orang lain. Dan Dimas adalah satu-satunya saudaraku. Aku merasa memiliki arti lebih saat bisa melakukan sesuatu buat dia. Aku tak menjadi saudara yang sia-sia, dan dia sendiri memberiku warna baru yang sebelumnya tak pernah kupikirkan. Ya, seru!

Aku tahu, tak semua orang bisa menerima gay. Pada Dimas aku belajar memahami, dan kesimpulanku: dia tak butuh dibenarkan, hanya butuh diberi kesempatan. Dia berhak menjalani hidup sesuai keyakinan hatinya, karena kita semua juga mau begitu. Perasaan tertolak hanya akan menyandungnya, menghalangi prestasi-prestasi positip yang sebenarnya bisa dia capai. Sebab, kalau aku harus membanggakan dia, aku akan membanggakan saudara kembarku karena dia punya prestasi. Bukan karena dia homo. Aku tak akan menghalangi jika dia memang suka cowok. Kecuali kalau dia berani towel-towel gue, gue ajak berantem!

Aku mendukung apa yang dia yakini sebagai pilihan terbaik.

Tapi…

Fffhhh…. Hidup memang nggak selalu mulus, ya? Suatu ketika, akhirnya aku mulai waswas juga terhadap Dimas. Terutama soal hubungannya dengan Fandy. Guys, semua ceritaku nanti akan dimulai dari situ.

Aku benar-benar cemas waktu itu. Beberapa bulan lalu, waktu itu aku meminjam HP milik Dimas untuk mengirim SMS. Setelahnya, iseng-iseng aku buka foto-foto di dalam memori HP-nya. Kutemukan satu buah foto yang membuatku kaget…!

Mas, serius kamu simpan foto beginian?! kutunjukkan foto itu ke Dimas.

Dia langsung merebut HP-nya dan protes. Apaan, sih? Ngapain kamu buka-buka segala?

Nah, itu dia yang bakal jadi masalah! Kamu nggak tahu kapan orang lain akan lihat foto itu. Dilihat oleh orang yang salah, kamu dapat masalah! nasihatku waktu itu.

Aku nggak pernah sembarangan meminjamkan ponsel ke orang lain.

Kamu nggak tahu kapan orang lain akan lihat foto itu! tandasku lagi. Dia nggak bodoh. Tapi suka ceroboh!

Aku cuma menciumnya, gumamnya, melihat foto itu dengan senyum tenang. Masa, sih, akan jadi masalah?

Lu nggak tahu kapan itu akan jadi masalah!

Dia malah tertawa. Kalaupun iya, nggak akan jadi masalah besar. Aku cuma menciumnya di pipi. Bukan di tempat yang lain.

Di pipi? Ya, memang. Pipi yang hampir menyerempet bibir!

Oke, aku sudah cukup memperingatkannya. Bersikap cerewet, apalagi cowok, itu memang terdengar menyebalkan. Tapi seharusnya dia mengerti, bahwa untuk hal yang satu itu aku serius menasihatinya. Akhirnya, aku cuma bisa berharap apa yang kucemaskan tak akan terjadi.

Tapi…

Hmmhhh…. Sial. Yang kucemaskan itu terjadi!

Aku Denis, saudara Dimas, ingin menceritakan apa yang telah terjadi. Guys, semua tak baik-baik saja.

***

 
Gambar

CRA #3

CRA 3 Rumah Pohon

 
37 Komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2013 in boys love, Cowok Rasa Apel, fujoshi, Gay Teenlit

 

Tag:

Cowok Rasa Apel 3

 
 
 

APA YANG MEMBUAT BUAH JATUH DARI POHONNYA?
BEBERAPA KARENA ANGIN YANG MENGHEMPAS TERLALU KENCANG.
TAPI KADANGKALA… ITU ADALAH TANDA BAHWA BUAH ITU TELAH MATANG…

 
 
 

 
 
 

APEL ITU TERJATUH LAGI…

 
 
 

 
 
 

— 2013 —

 
 
 

 
95 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Juni 2013 in Cowok Rasa Apel, Gay Teenlit

 

Tag:

Ruang Dialog Antara Penulis dan Pembaca

Ini menindaklanjuti usulan dari salah satu pembaca, Mokondo, yang menyarankan agar dibikin satu thread yang dikhususkan untuk menampung komentar-komentar yang sifatnya tidak berhubungan langsung dengan bab-bab di dalam cerita yang ada. Sebenarnya aku sendiri juga masih bingung, apa yang mau dibicarakan? Tapi melihat bahwa di bab-bab aktual khususnya di cerita Cowok Rasa Apel seringkali ada komentar yang OOT (out of topic), oke… aku rasa thread ini akan ada fungsinya juga nanti. Kita lihat saja.

Silakan, buat para pembaca yang mungkin ingin menanyakan sesuatu, atau menyampaikan saran, atau mengajak diskusi, bisa memasang pesan anda melalui kolom komentar. Apa saja. Istilahnya gado-gado, dan aku akan usahakan untuk bisa membalas. Sistem commenting tetap masih menggunakan moderasi, jadi mungkin pesan kalian tidak akan langsung muncul. Ini ditempuh supaya bisa mencegah masuknya komentar-komentar yang bersifat kasar dan bashing. Jadi, jangan coba-coba berkata kasar dan jorok di sini! Aku paling tidak suka…!😈

Oh, iya. Mungkin bisa diteruskan kalau ada request atau daftar pertanyaan seputar karakter CRA. Kemarin sudah diupload biodata Dimas dan Denis. Karakter-karakter lainnya tentu nggak ketinggalan, semua akan di-launching menjelang babak final nanti. Jadi kalau ada daftar pertanyaan (untuk karakter/tokoh siapa saja), bisa diajukan melalui thread ini.

Terima kasih.😉

 
235 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Desember 2011 in Uneg-uneg